Chapter Six

Obeng Warna Pink

POV: Kira

Hari Sabtu Ayah tidak pernah pergi pagi.

Bukan karena libur. Karena orang biasanya nelepon Sabtu itu siang, sesudah bangun siang, sesudah nyadar kulkasnya rusak dari semalam tapi kemarin malas ngurusin. Ayah bilang begitu. Ayah tahu jam-jam orang rusak barangnya.

Jadi Sabtu pagi itu jam kami.

Aku bangun dan Ayah sudah duduk di lantai dengan tiga barang di depannya. Rice cooker, setrika, sama radio yang sudah dua minggu di situ dan aku curiga orangnya tidak akan pernah datang mengambil.

“Ayah.”

“Hm.”

“Ajarin.”

Ayah mengangkat kepala. “Ajarin apa?”

“Itu.” Aku menunjuk solder. “Yang panas.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Tiga ratus lima puluh derajat, Ra.”

“Kira hati-hati.”

“Semua orang bilang gitu sebelum kena.” Ayah kembali memutar sekrup. “Nanti kalau sudah SMP.”

Aku duduk. Aku tidak pergi. Aku sudah tahu dari kelas dua bahwa cara menang lawan Ayah bukan merengek, tapi duduk di sebelahnya dan tidak pergi sampai Ayah merasa bersalah sendiri.

Enam menit. Rekor Ayah delapan menit.

“Ya sudah,” katanya. “Duduk sini. Jangan di situ.”


Yang pertama Ayah ajarin bukan menyolder.

Yang pertama Ayah ajarin adalah cara memegang barang orang.

“Kalau ada yang nitipin barang ke kamu,” katanya sambil menaruh rice cooker itu di depanku, “itu bukan barang. Itu kepercayaan. Orang ini nabung buat beli ini. Mungkin dua bulan. Mungkin lebih.”

“Rice cooker doang, Ayah.”

“Buat kamu doang. Buat dia, ini yang bikin anaknya makan.” Ayah membalikkannya pelan. “Jadi kalau kamu buka, kamu buka baik-baik. Sekrupnya jangan dilempar ke lantai. Nanti hilang satu, orangnya nggak akan komplain, tapi tiap kali dia pegang, dia tahu ada yang kurang.”

Aku mengangguk.

“Terus kalau rusaknya kecil?”

“Ya bilang kecil.”

“Nanti bayarnya sedikit dong.”

“Iya.”

“Kenapa Ayah nggak bilang aja rusaknya besar?”

Ayah berhenti. Menoleh ke aku. Mukanya bukan marah, tapi aku langsung tahu aku salah ngomong.

“Kira,” katanya. “Kalau Ayah bilang rusaknya besar padahal kecil, Ayah dapat berapa? Dua ratus, mungkin. Sekali.”

“Sekali doang?”

“Sekali. Karena habis itu Ayah jadi orang yang bohong, dan orang yang bohong itu cuma bisa dipakai sekali.” Ayah menggeser rice cooker itu ke arahku. “Yang bikin Ayah masih dipanggil orang sampai sekarang bukan karena Ayah pinter. Banyak yang lebih pinter dari Ayah. Karena Ayah nggak pernah bilang rusaknya lebih besar dari yang bener.”

Aku memikirkan itu.

Aku memikirkan tujuh puluh lima ribu dari rumah yang pagarnya tinggi.

“Ayah.”

“Hm.”

“Kalau gitu, orang jujur emang harus miskin ya?”

Ayah lama tidak menjawab.

Terus dia ketawa. Pendek, lewat hidung, kayak orang yang ketawa bukan karena lucu.

“Nggak,” katanya. “Cuma lebih lama.”


Yang kedua Ayah ajarin cara pegang solder.

“Kayak pegang pulpen. Jangan kayak pegang golok.”

“Kira nggak pegang kayak golok.”

“Kamu pegang kayak golok.”

Ayah membetulkan jariku satu-satu. Tangan Ayah besar dan kasar dan ada satu bekas luka melintang di ibu jari yang aku tahu ceritanya dan Ayah tidak tahu aku tahu.

Terus Ayah menaruh sesuatu di tanganku yang lain.

Obeng kecil. Yang paling kecil di kotak.

Gagangnya dililit isolasi warna pink.

Aku memandanginya lama sekali.

“Kok pink?”

“Isolasi warna item habis di toko Bu Ningrum.” Ayah kembali menunduk ke rice cooker. “Yang ada cuma pink sama kuning. Ayah ambil pink.”

“Kenapa nggak kuning?”

“Ya nggak kenapa-kenapa.”

Ayah bohong. Bohongnya jelek banget.

Aku pegang obeng itu dengan dua tangan.

“Ini punya Kira?”

“Punya kamu.”

“Beneran punya Kira?”

“Ra, itu obeng bekas. Gagangnya sudah retak. Ayah cuma lilit.”

“Iya, tapi punya Kira?”

Ayah berhenti memutar sekrup. Menghela napas. Melihat aku.

“Iya. Punya kamu.”

Aku tidak bilang apa-apa habis itu karena kalau aku ngomong suaraku akan aneh.

Isolasi listrik satu rol harganya tiga ribu lima ratus di toko Bu Ningrum. Aku tahu karena aku pernah ikut. Ayah beli warna pink berarti Ayah pilih. Kalau memang cuma sisa dua warna, Ayah tetap harus memilih satu, dan Ayah memilih yang ini, dan Ayah bilang nggak kenapa-kenapa.

Nanti malam aku tulis di buku.

Obeng pink. 3.500 (isolasinya doang).

Terus di bawahnya aku tulis lagi:

Tapi ini bukan hutang. Ini yang paling Kira suka dari semua.

Terus aku coret. Terus aku tulis lagi. Terus aku biarin dua-duanya.


Yang ketiga tidak diajarkan Ayah. Yang ketiga aku dapat sendiri.

Timahnya lengket di ujung solder dan tidak mau turun, jadi aku goyangkan, dan waktu aku goyangkan, jari telunjukku kena badan solder yang bukan gagangnya.

Aku tidak teriak.

Aku menarik tangan dan mengepalkannya dan menaruhnya di paha dan menghitung sampai lima di dalam kepala.

Tapi Ayah sudah berdiri sebelum aku sampai tiga.

“Sini.”

“Nggak apa-apa.”

“Kira, sini.”

“Kira juga nggak apa-apa.”

Kalimat itu keluar duluan dari mulutku sebelum aku sempat memilih kalimat lain, dan begitu keluar, ruangan jadi sunyi dengan cara yang aneh.

Ayah berdiri di depanku dengan tangan masih setengah terangkat.

Mukanya berubah.

Bukan kaget. Bukan marah. Aku sudah hafal semua muka Ayah dan yang ini aku belum pernah lihat, dan aku tidak suka, dan aku ingin menarik kalimat itu kembali ke dalam mulutku.

“Ayah—“

Ayah berlutut, mengambil tanganku, membukanya jari per jari, dan membawaku ke bak air.

Air mengalir ke telunjukku. Ada garis merah kecil, tidak sampai melepuh.

Ayah tidak bilang apa-apa selama dua menit. Cuma memegangi tanganku di bawah air.

Terus dia bicara, dan suaranya biasa saja, dan itu justru yang membuat dadaku sakit.

“Kamu belajar itu dari Ayah, ya.”

“Belajar apa?”

“Yang barusan.”

Aku tidak menjawab.

“Ra.” Ayah mematikan keran. “Kalau sakit, bilang sakit.”

“Nanti Ayah panik.”

“Ayah memang harus panik. Itu tugas Ayah.”

“Ayah udah banyak kerjaan.”

Ayah menunduk. Rambutnya menutupi matanya jadi aku tidak bisa lihat, dan aku pikir mungkin memang sengaja.

Waktu Ayah mengangkat kepala lagi, dia sudah senyum. Senyumnya benar, bukan yang dipasang.

“Kamu tahu kenapa Ayah kerjanya benerin barang?”

“Karena Ayah bisa.”

“Bukan.” Ayah mengambil kain lap dan mengeringkan tanganku pelan-pelan, satu jari satu jari, kayak orang membereskan sesuatu yang mahal. “Karena orang suka buru-buru bilang sudah nggak bisa. Kulkas bunyi dikit, ganti. Kipas macet, buang. Padahal yang rusak biasanya satu benda kecil di dalam, seharga lima belas ribu.”

Ayah menaruh lapnya.

“Yang rusak masih bisa diperbaiki, Ra. Cuma butuh waktu, sama tangan yang mau.”

Aku mengangguk.

“Berlaku buat semua?”

“Buat semua.”

“Buat orang juga?”

Ayah diam agak lama.

“Buat orang juga,” katanya akhirnya. “Cuma orang lebih lama.”


Malamnya kepalaku berat.

Aku pikir cuma ngantuk karena Sabtu, jadi aku tidur cepat, dan aku tidak bilang apa-apa ke Ayah karena Ayah masih menyolder radio yang orangnya tidak akan datang.

Jam berapa aku tidak tahu.

Yang aku ingat, aku bangun karena dingin, padahal selimutnya ada.

Terus aku panggil Ayah, dan suaraku keluar tapi kecil sekali.

Terus aku dengar bunyi kursi jatuh.