Chapter Twenty Four

Tangan yang Mau

POV: Tamara

Aku tahu dari Bu Ningrum, dan Bu Ningrum tidak bermaksud mengadu.

Aku ke sana beli lampu — aku selalu beli lampu, aku punya enam lampu cadangan di kos sekarang, dan Bu Ningrum tidak pernah berkomentar karena Bu Ningrum bukan orang yang menolak uang.

“Bu, ini yang lima belas watt masih ada?”

“Ada.” Dia mengambilnya tanpa melihat rak. “Kamu ini rumahnya berapa lantai sih.”

“Satu kamar, Bu.”

“Terus lampunya kenapa mati terus?”

“Kualitas tokonya jelek kali.”

“Astaghfirullah.” Dia menaruh lampu itu keras-keras. “Untung kamu gurunya anak orang, kalau bukan sudah saya usir.”

Lalu, sambil menghitung kembalian, tanpa nada khusus apa pun:

“Sayang ya kiosnya.”

“Kios apa?”

“Yang sebelah. Yang bekas fotokopi.” Dia menunjuk dengan dagu. “Kosong dua bulan. Yang punya nawarin ke Adam duluan karena kasihan, sewanya cuma satu juta dua sebulan, tiga bulan pertama boleh nyicil.”

Aku berhenti memasukkan lampu ke tas.

“Terus?”

“Ya ditolak.”

“Ditolak?”

“Kemarin.” Bu Ningrum mengangkat bahu. “Bilangnya belum sanggup. Ya sudah, saya nggak maksa. Saya bukan ibunya.”


Aku ke gang Melati jam enam sore.

Dia sedang membuka setrika di lantai. Ada tiga barang lain di sekitarnya. Kotak peralatan terbuka.

“Bu Tamara. Ada—“

“Kios.”

Obengnya berhenti.

“Kios sebelah toko Bu Ningrum,” kataku. “Satu juta dua. Tiga bulan pertama nyicil.”

“Bu Ningrum cerita.”

“Bu Ningrum jualan lampu, Pak. Ceritanya bonus.”

Dia meletakkan setrika itu.

“Saya sudah pikirkan.”

“Terus?”

“Belum sanggup.”

“Berapa yang Bapak punya sekarang?”

“Bu—“

“Berapa.”

Dia diam.

“Pak Adam, saya nggak nanya buat ngasih.” Aku menaruh tas di kursi plastik. “Saya nanya karena saya mau tahu Bapak nolak pakai angka atau pakai perasaan.”


Angkanya satu juta delapan.

Dia menyebutkannya setelah tiga menit, dan menyebutkannya dengan cara orang yang menyebutkan hasil rontgen.

“Satu juta delapan,” ulangku. “Sewa bulan pertama satu juta dua. Sisa enam ratus.”

“Sisa enam ratus buat hidup sebulan, Bu. Sama beli sparepart. Sama listrik.”

“Terus di kios itu Bapak dapat berapa sebulan?”

“Saya nggak tahu.”

“Kira-kira.”

“Saya nggak tahu, Bu.” Suaranya naik sedikit. “Itu yang bikin saya nggak bisa. Saya nggak tahu.”

“Sekarang Bapak dapat berapa?”

“Dua juta. Dua setengah kalau ramai.”

“Dan itu Bapak tahu?”

“Iya.”

“Karena sudah delapan tahun?”

“Iya.”

Aku mengangguk pelan.

“Jadi Bapak nolak kios yang bikin orang tahu di mana nyari Bapak,” kataku, “supaya Bapak bisa tetap dapat dua juta yang sudah pasti.”

“Bu Tamara—“

“Saya belum salah, kan?”

Dia tidak menjawab.


“Bapak tahu kenapa saya marah?”

“Ibu belum marah.”

“Saya sedang menaikkan intonasi secara terukur.” Aku berdiri. “Saya marah bukan karena Bapak takut. Takut itu wajar. Saya juga takut. Saya takut tiap kali rapat wali murid.”

“Terus?”

“Saya marah karena Bapak nyebutnya ‘belum sanggup’. Padahal yang benar ‘saya nggak berani’.” Aku menatapnya. “Dan dua itu beda, Pak, karena yang satu bisa diusahakan dan yang satu cuma bisa didiamkan.”

“Ibu nggak ngerti.”

“Ya makanya jelasin.”

“Kalau saya gagal— “ Dia berhenti. Mengambil napas. “Kalau saya gagal, Bu, saya nggak bisa bangun lagi. Saya nggak punya cadangan. Saya nggak punya orang tua yang bisa dipinjemin. Saya nggak punya tabungan. Kalau satu juta delapan ini habis dan kiosnya sepi, bulan depan saya nggak punya modal beli sparepart, dan kalau nggak punya sparepart saya nggak bisa kerja sama sekali.”

“Saya ngerti.”

“Ibu bilang ngerti tapi Ibu tetap—“

“Saya ngerti, dan Bapak tetap harus.”

“Kenapa?”

Dan di situ aku kehilangan seluruh sisa kesabaranku.


“Karena anak Bapak mau pulang!”

Dia terdiam.

“Anak Bapak mau pulang, Pak Adam. Dia nggak bilang, dan dia nggak akan pernah bilang, karena dia anak Bapak dan anak Bapak nggak minta apa-apa seumur hidupnya.” Suaraku sudah pecah dan aku tidak peduli. “Tapi dia nanya ke saya di ruang guru apakah bapaknya makan. Sepuluh tahun. Dari dua belas kilometer.”

“Bu—“

“Dan kalau suatu hari dia beneran boleh pulang, dia pulang ke mana?” Aku menunjuk ke sekeliling. “Ke sini? Ke satu kamar? Ke ember di bawah bocor yang Bapak nggak berani angkat?”

“Itu nggak—“

“Bapak nunggu, Pak.” Aku maju. “Dua bulan ini Bapak nggak bikin apa-apa. Bapak cuma kerja, makan yang saya bawain, tidur, terus hari Minggu nunggu telepon.”

“Saya kerja tiap hari—“

“Bapak kerja biar capek. Itu beda sama bangun sesuatu.”

Dia berdiri.

“Terus Ibu mau saya ngapain?”

“Saya mau Bapak bikin tempat!” Aku setengah berteriak sekarang, di ruang depan rumah petak, dengan tetangga yang aku yakin mendengar semuanya. “Bikin tempat buat dia pulang! Kalau nggak ada tempatnya, dia nggak akan pulang, dan sepuluh tahun lagi dia dua puluh dan dia panggil Bapak ‘Ayah’ sekali sebulan lewat telepon dan itu udah!”

“BU TAMARA.”

Kami berdua berdiri di ruangan itu dengan napas yang tidak beraturan.

Kipas di kamar berbunyi ngik.


“Bapak inget nggak,” kataku, lebih pelan, “waktu saya pertama kali ke sini?”

Dia tidak menjawab.

“Bapak lagi benerin kipas orang. Saya pegangin senter. Bapak omelin saya soal arah kiri.”

“Iya.”

“Terus Bapak jelasin soal kawat email sama bushing sama kapasitor kembung, dan Bapak jelasin itu kayak orang cerita soal sesuatu yang dia sayang.” Aku menyeka mataku dengan punggung tangan. “Saya pulang malam itu dan saya nggak bisa tidur, Pak, dan waktu itu saya belum ngerti kenapa.”

“Bu—“

“Sekarang saya ngerti.” Aku menatapnya. “Karena Bapak satu-satunya orang yang saya kenal yang percaya bahwa barang yang orang lain sudah buang itu masih ada isinya.”

Dia menunduk.

“Anak Bapak yang cerita ke saya,” lanjutku. “Waktu dia bikin karangan dulu. Kalimat Bapak dia tulis di situ.”

“Kalimat apa?”

“Yang rusak masih bisa diperbaiki.” Aku tidak melepaskan pandanganku dari wajahnya. “Cuma butuh waktu, sama tangan yang mau.”

Ruangan itu sunyi sekali.

“Bapak ngomong itu ke anak umur sepuluh tahun, dan anak itu percaya, dan dia bawa kalimat itu ke rumah orang lain di kota lain.”

“Bu Tamara—“

“Sekarang tangan Bapak mana?”


Dia duduk di lantai.

Bukan duduk seperti orang beristirahat. Duduk seperti orang yang kakinya menyerah lebih dulu dari kepalanya.

Aku duduk di kursi plastik.

Kami tidak bicara selama mungkin dua menit.

“Bu.”

“Iya.”

“Ibu ngomong begitu ke saya kenapa?”

Aku menatap punggungnya.

“Karena aku sayang kamu.”

Kepalanya terangkat.

Aku mendengar kalimat itu keluar dari mulutku sendiri dan aku tahu persis apa yang barusan berubah — bukan isinya, isinya sudah dia tahu sejak parkiran itu. Yang berubah kata keduanya.

“Ibu—“

“Aku,” kataku. “Aku sayang kamu. Bukan saya. Bukan Ibu. Dan bukan ‘Bapak’.”

“Bu Tamara.”

“Berhenti manggil saya Bu Tamara di dalam rumah, Mas.” Aku menyeka wajahku sekali lagi. “Di sekolah terserah. Di sini jangan.”

Dia menatapku lama sekali dari lantai.

“Itu bukan alasan buat kamu boleh nyerah,” kataku. “Aku nggak ngomong sekasar tadi ke orang yang aku nggak peduli. Ke orang yang aku nggak peduli, aku sopan.”

Dan laki-laki itu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan, dan sama sekali tidak sanggup memilih salah satu.


Aku pulang jam sembilan.

Di ambang pintu aku berhenti, karena aku sudah belajar dari pengalaman bahwa laki-laki ini butuh satu kalimat terakhir yang tidak berbentuk perintah.

“Mas.”

Dia mengangkat wajah dari lantai.

Itu pertama kalinya aku memanggilnya begitu, dan aku melihat efeknya di wajahnya, dan aku memasukkannya ke dalam ingatan untuk dipakai lagi nanti.

“Aku nggak nyuruh kamu ambil kios itu,” kataku. “Aku nggak berhak nyuruh apa-apa.”

“Tam—“

“Aku cuma minta satu.” Aku memakai tasku. “Sebelum kamu bilang nggak sanggup lagi, hitung dulu. Beneran hitung. Pakai kertas. Angka-angkanya semua.”

“Sudah saya hitung.”

“Kamu hitung di kepala.”

Dia diam.

“Nah,” kataku. “Di kepala itu bukan ngitung, Mas. Di kepala itu ngerasa.”


Aku sudah setengah jalan ke ujung gang waktu aku menoleh sekali.

Dari luar, lewat jendela yang gordennya cuma setengah, aku bisa melihat ruang depan rumah petak nomor tujuh.

Laki-laki itu masih duduk di lantai.

Tapi setrika yang tadi dia buka sudah digeser ke samping, dan di depannya sekarang ada kertas nota bekas dan pulpen, dan dia sedang menulis sesuatu, berhenti, mencoret, dan menulis lagi.

Aku berdiri di ujung gang itu lebih lama dari yang wajar untuk perempuan yang katanya sudah pulang.