Chapter Twenty Five

Rapat Umum Pemegang Saham

POV: Adam

Kertasnya habis tujuh lembar.

Aku menghitung sampai jam dua pagi, lalu tidur tiga jam, lalu menghitung lagi dari jam lima sampai jam tujuh.

Hasilnya: aku kurang satu juta enam ratus.

Bukan kurang untuk sewa. Sewanya sanggup. Kurangnya di bagian yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya karena selama delapan tahun aku bekerja dengan cara membawa tas ke rumah orang: etalase, meja kerja, stok sparepart yang harus ada supaya orang tidak disuruh menunggu, plang, listrik, dan uang untuk bertahan dua bulan pertama kalau sepi.

Satu juta enam ratus.

Aku menatap angka itu sampai matahari naik, dan yang paling menyebalkan adalah aku tahu Tamara benar. Di kepala, angka itu terasa seperti tembok. Di kertas, angka itu cuma satu juta enam ratus.


Aku ke toko Bu Ningrum jam sembilan.

“Bu.”

“Beli apa?”

“Nggak beli.”

Dia mengangkat wajah dari buku catatannya.

“Bu, saya mau ambil kios yang sebelah.”

Bu Ningrum menutup bukunya.

“Kamu diomelin guru itu, ya?”

“Bu—“

“Dia ke sini kemarin. Beli lampu.” Bu Ningrum menyandarkan punggungnya. “Perempuan itu sudah beli dua puluh delapan lampu dari saya dalam empat bulan, Dam. Dua puluh delapan. Saya sudah lama tahu dia bukan datang buat lampu, tapi saya diam karena saya pedagang, bukan penasihat rohani.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Kurang berapa?”

“Satu enam.”

“Saya kasih satu juta.”

“Bu—“

“Bukan kasih. Pinjam.” Dia sudah membuka laci. “Bunga nol. Bayar kalau sudah ada. Kalau kamu bilang nggak mau, saya nggak akan jual sparepart ke kamu lagi seumur hidup dan kamu harus ambil ke Sukabumi.”

“Itu pemerasan.”

“Itu strategi dagang.”


Yang enam ratus datang dari arah yang tidak kuduga.

Pak Haji Tarmiji muncul di kios sore itu — kiosnya bahkan belum resmi jadi kiosku, aku baru melihat-lihat — sambil membawa map plastik dan wajah orang yang datang ke sidang.

“Assalamualaikum. Saya dengar akan ada usaha baru.”

“Baru mau, Pak Haji.”

“Saya mau investasi.”

Aku menoleh.

“Investasi?”

“Iya.” Dia duduk di lantai kios yang masih berdebu, tanpa dialas, dengan sarung. “Saya sudah nonton acara di TV. Sekarang zamannya orang nggak usah kerja, tinggal taruh uang di usaha orang, nanti dapat bagi hasil. Namanya— “ Dia membuka mapnya. “Namanya penanam modal.”

“Pak Haji punya berapa?”

“Empat ratus.”

“Kurangnya masih dua ratus.”

“Nah.” Dia mengangkat telunjuk. “Ini bagian penting. Saya mau bagi hasil tiga puluh persen.”

“Tiga puluh persen dari apa, Pak Haji?”

“Dari untung.”

“Untungnya belum ada.”

“Ya makanya saya investasi sekarang, biar nanti ada.”

Aku duduk di lantai berdebu itu di depannya.

“Pak Haji.”

“Iya.”

“Empat ratus dari modal dua juta dua itu delapan belas persen.”

“Hah?”

“Delapan belas persen, Pak Haji. Bukan tiga puluh.”

“Kok bisa?”

“Karena itu matematika.”

Pak Haji Tarmiji melihat mapnya. Lalu melihat aku. Lalu melihat mapnya lagi.

“Di TV nggak dijelasin bagian itu.”


Sarno datang jam lima, karena Sarno selalu tahu kalau ada yang sedang terjadi, dan Sarno selalu datang tepat waktu untuk hal yang salah.

“Dam! Katanya buka kios!”

“Iya.”

“Wih. Bagus.” Dia berdiri di tengah ruangan, memutar badan sekali. “Saya juga mau investasi.”

“Kamu punya berapa?”

“Nggak punya.”

“Sarno.”

“Tapi saya punya tenaga.”

“Kamu punya tenaga.”

“Iya. Saya bisa jadi pegawai.” Dia mengangkat dua tangan. “Bagi hasil lima puluh persen.”

Pak Haji Tarmiji, yang masih duduk di lantai dengan mapnya, langsung menoleh.

“Lho! Saya empat ratus ribu cuma delapan belas persen, kamu nol rupiah minta lima puluh?”

“Bapak nggak ngerti struktur perusahaan modern.”

“Kamu yang nggak ngerti!”

“Pak Haji, ini namanya ekuitas karyawan—“

“Kamu itu kemarin minjem uang saya tiga ratus ribu buat beli motor bekas terus motornya dijual lagi buat bayar utang!”

“Itu restrukturisasi.”

Aku duduk di lantai berdebu kios bekas fotokopi itu, di antara pemilik toko sparepart yang memerasku dengan ancaman logistik, pemilik kontrakan yang belajar investasi dari televisi, dan teman yang mengaku punya ekuitas karyawan, dan untuk pertama kalinya sejak mobil itu belok di ujung gang, aku tertawa sampai harus memegang perut.


Kesepakatan akhirnya begini, dan aku menuliskannya di kertas dan semua orang menandatangani karena Pak Haji bersikeras “harus ada hitam di atas putih”:

Bu Ningrum pinjam satu juta, bunga nol, dibayar kalau ada. Bukan penanam modal. Dia menolak keras disebut penanam modal karena “kalau kamu bangkrut saya nggak mau ikut-ikutan malu”.

Pak Haji Tarmiji empat ratus ribu, bagi hasil lima persen selama satu tahun, setelah negosiasi turun dari tiga puluh dengan cara aku menjelaskan pembagian pecahan selama dua puluh menit menggunakan gorengan sebagai alat peraga.

Dua ratus sisanya dari aku, dengan cara menjual dua barang: kompresor kecil yang kubeli bekas empat tahun lalu dan cuma kupakai enam kali, dan jam tangan.

Jam tangannya tidak mahal. Seratus dua puluh ribu, dibeli tahun 2019.

Yang bikin agak lama adalah bahwa itu satu-satunya barang yang pernah kubeli untuk diriku sendiri dalam delapan tahun, dan aku baru menyadari itu waktu melepasnya dari pergelangan.

Sarno mendapat posisi sebagai “pegawai magang tidak digaji dengan komisi per unit”, yang dia terima dengan bangga setelah aku menjelaskan bahwa itu artinya dia dibayar per barang yang selesai.

“Berarti kalau saya benerin sepuluh, saya dapat sepuluh?”

“Kalau kamu benerin sepuluh dan sepuluh-sepuluhnya nggak balik lagi, iya.”

“Yang balik lagi gimana?”

“Kamu benerin lagi. Gratis.”

Wajahnya berubah.

“Ini kontrak yang tidak adil.”

“Ini yang bikin orang balik lagi ke kita, Sar.”


Yang menyerahkan kuncinya orang tua, umur tujuh puluhan, pemilik ruko.

“Dulu ini fotokopi,” katanya sambil membuka gembok. “Anak saya. Dua tahun, terus tutup, terus dia kerja di Jakarta.”

“Kenapa tutup, Pak?”

“Ya nggak ada yang fotokopi lagi. Sekarang semua di HP.”

Dia mendorong pintu rolling door-nya. Bunyinya keras sekali di sore yang sepi.

Di dalam: enam kali empat meter. Lantai semen. Satu stopkontak yang kabelnya sudah menghitam dan harus kuganti sebelum apa pun dinyalakan. Satu jendela belakang yang kacanya retak. Debu setinggi mata kaki di sudut-sudut.

“Sewanya satu juta dua, Pak Adam. Tiga bulan pertama boleh separo dulu.”

“Kenapa Bapak nawarin ke saya duluan?”

Orang tua itu menyerahkan kunci ke tanganku.

“Kamu yang benerin mesin cuci saya waktu istri saya sakit,” katanya. “Dua tahun lalu. Malam-malam. Kamu nggak mau dibayar lebih.”

Aku memegang kunci itu.

“Saya nggak inget, Pak.”

“Ya saya inget.”


Aku sendirian di kios itu setelah semua orang pulang.

Aku berdiri di tengah ruangan enam kali empat, memandangi lantai semen dan kabel hitam dan kaca retak, dan menghitung ulang di kepala berapa yang sudah tidak bisa kutarik kembali.

Dua juta dua ratus ribu. Utang satu juta empat ratus di antaranya.

Lalu aku mengeluarkan ponsel.

Sudah.

Balasannya masuk empat detik kemudian. Empat detik.

SUDAH APA

Sudah saya ambil kiosnya.

MAS.

Iya.

Titik-titik “sedang mengetik” muncul dan hilang enam kali.

Lalu:

Aku ke sana sekarang.

Ini udah jam tujuh malam.

AKU KE SANA SEKARANG.

Aku menaruh ponsel di saku dan berdiri di tengah kios kosong itu, dan aku melihat ke sudut belakang, ke tempat yang paling jauh dari pintu dan paling dekat jendela.

Ruangnya cukup untuk satu meja kecil.

Aku belum bilang ke siapa pun, termasuk ke perempuan yang sedang menyalakan motornya di seberang kota, kenapa aku memilih kios yang ini dan bukan yang lebih murah di Jalan Merdeka.

Yang ini lebih dekat ke sekolah.

Dua ratus meter. Anak kelas empat bisa jalan kaki.