Chapter Thirty Two

Permintaan yang Masuk Akal

POV: Adam

Aku tahu dari Tamara, dua hari setelah kejadiannya.

Bukan dari sekolah. Bukan dari Vanya. Dari perempuan yang datang ke kios hari Jumat sore dan berdiri di depan meja kerjaku dan tidak duduk di kursinya sendiri, yang mana adalah tanda pertama bahwa ada yang salah.

“Mas.”

“Hm.”

“Kirana mukul temannya hari Rabu.”

Obengku berhenti.

Aku mendengarkan semuanya. Reza, kalimat tentang bapak yang ganti, Dimas yang berdiri dan membela dengan cara yang salah, dorongan itu, siku yang menabrak meja.

“Sikunya gimana?”

“Lecet. Sudah diplester. Anaknya nggak apa-apa, malah dia yang minta jangan dibesar-besarin.”

“Kirana?”

“Nggak apa-apa.” Tamara menaruh tasnya di kursi. “Dia minta maaf sendiri jam satu. Nggak disuruh.”

Aku meletakkan obeng dan menyeka tangan dengan lap, pelan-pelan, karena kalau tidak, tanganku akan melakukan sesuatu yang bodoh.

“Kenapa saya baru tahu hari Jumat?”

Dan di situ Tamara diam terlalu lama.


Dia menceritakan kolom wali murid dengan cara yang paling hati-hati yang bisa dilakukan orang.

Aku mendengarkan sampai selesai.

“Itu formalitas,” kataku.

“Iya.”

“Wajar. Anaknya tinggal di sana.”

“Iya.”

“Kalau ada apa-apa, yang bisa datang dalam sepuluh menit ya mereka. Saya dua belas kilometer.”

“Iya, Mas.”

“Kalau saya yang di posisi mereka, saya juga ganti.”

Tamara duduk di kursinya akhirnya.

“Kamu sudah selesai?” tanyanya.

“Selesai apa?”

“Selesai jelasin ke aku kenapa kamu nggak boleh sedih.”

Aku tidak menjawab.

Aku mengambil obeng lagi dan melanjutkan membuka penutup mesin cuci yang sudah tidak perlu dibuka lagi karena aku sudah selesai dengannya dua puluh menit sebelum dia datang.


Vanya menelepon hari Minggu, satu jam sebelum jadwal.

“Mas, sebelum aku panggil Kirana, aku mau ngomong sebentar. Boleh?”

“Boleh.”

“Ini bukan soal yang di sekolah.”

“Oh.”

“Ya, sebagian soal itu.” Dia menarik napas. “Aku sudah mikir seminggu. Aku sudah tanya ke orang. Aku nggak asal ngomong.”

Aku duduk di lantai kios.

“Ngomong aja, Van.”

“Aku minta teleponnya dikurangin.”

Ada bunyi kipas di kios. Ada bunyi motor di jalan depan. Ada bunyi Sarno di belakang yang sedang mencuci komponen dan bernyanyi salah lirik.

“Dikurangin jadi berapa?”

“Dua minggu sekali.”


Yang paling sulit dari percakapan itu adalah dia benar.

Kalau dia menyerangku, aku bisa bertahan. Kalau dia bilang aku ayah yang tidak becus, aku punya kalimatnya. Aku sudah menyiapkan kalimat itu selama delapan tahun.

Dia tidak melakukan itu. Dia membacakan data.

“Aku catat, Mas. Sejak Oktober.” Suaranya rata. “Setiap habis telepon Minggu, dia diam sampai Selasa. Nggak marah, nggak nangis, cuma diam. Mbak Ratih yang pertama sadar, bukan aku.”

“Van—“

“Habis kamu ke sini bulan lalu, dia nggak makan malam dua hari. Bilangnya kenyang.”

Aku menutup mata.

“Dan yang di sekolah itu— “ Dia berhenti. “Hari Rabu, Mas. Kamu ke sini hari Minggu.”

“Itu bukan gara-gara saya.”

“Bukan gara-gara kamu,” katanya cepat. “Aku nggak bilang gara-gara kamu. Aku bilang dia belum selesai pindah, dan tiap kali dia hampir selesai, dia ditarik balik.”

“Ditarik balik sama bapaknya.”

“Mas, jangan gitu.”

“Saya cuma nyebutin ulang.”

“Aku nggak bilang gitu.”

“Tapi itu yang benar, kan?”

Vanya diam.

Dan diamnya adalah jawabannya, dan itu sudah ketiga kalinya dalam enam bulan perempuan ini menjawabku dengan tidak menjawab.


“Berapa lama?” tanyaku.

“Tiga bulan. Habis itu kita lihat lagi.”

“Nengoknya?”

“Tetap sebulan sekali.” Cepat sekali dia menjawab itu, seperti orang yang sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan itu. “Itu aku nggak kurangi. Sumpah, Mas. Yang itu nggak akan aku sentuh.”

“Van.”

“Iya.”

“Kalau saya bilang nggak?”

Ada jeda panjang.

“Ya nggak apa-apa,” katanya. “Aku nggak akan maksa. Aku nggak punya hak maksa.”

Dan itu — itu yang membuatku menyerah, bukan argumennya.

Kalau dia memaksa, aku bisa melawan. Kalau dia mengancam, aku punya alasan untuk keras kepala.

Dia memberiku pilihan, dan begitu diberi pilihan, aku harus memilih dengan jujur.

Dan jawaban jujurnya adalah: kalau aku bertahan di sembilan belas menit setiap Minggu, siapa yang untung?

“Ya sudah,” kataku.

“Mas—“

“Dua minggu sekali.”

“Kamu yakin?”

“Nggak.” Aku menatap lantai semen kios itu. “Tapi kamu tinggal sama dia dan saya nggak. Yang lihat mukanya tiap pagi kamu.”

Vanya tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

“Makasih, Mas.”

“Jangan bilang makasih.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu bilang makasih, artinya saya barusan ngasih sesuatu.” Aku memindahkan ponsel ke telinga satunya. “Panggil dia.”


Sembilan belas menit hari itu jadi dua puluh empat.

Aku tidak memberitahunya. Aku memutuskan itu sebelum dia mengangkat telepon: kalau ini yang terakhir sampai dua minggu lagi, dia tidak perlu tahu bahwa ini yang terakhir sampai dua minggu lagi.

Aku bertanya tentang Dimas.

“Ayah tahu?”

“Bu Tam cerita.”

Hening.

“Ayah marah?”

“Nggak.”

“Kira mukul orang, Ayah.”

“Iya.”

“Ayah nggak pernah mukul orang.”

“Ayah pernah.”

“Beneran?”

“Umur enam belas.” Aku menyandarkan punggung ke dinding kios. “Sama anak bengkel sebelah. Gara-gara dia bilang bapak Ayah pelit.”

“Bapaknya Ayah pelit?”

“Iya.”

Anakku tertawa. Bunyinya keluar dari ponsel dan memantul di dinding kios enam kali empat meter itu dan Sarno di belakang berhenti bernyanyi.

“Terus Ayah menang?”

“Nggak. Ayah kalah. Bibirnya sobek.”

“Ya ampun.”

“Terus Ayah dimarahin, terus Ayah disuruh minta maaf, dan Ayah nggak mau minta maaf sampai tiga hari.”

“Kira minta maaf hari itu juga.”

“Ayah tahu.”

“Kok tahu?”

“Karena kamu lebih baik dari Ayah,” kataku. “Sejak dulu.”


Yang tidak kuceritakan padanya, dan tidak akan pernah kuceritakan:

Malam itu setelah menutup telepon, aku membuka kalender di dinding kios — kalender gratis dari toko sparepart, gambarnya pemandangan Bali yang tidak ada hubungannya dengan apa pun — dan aku menghitung.

Dua minggu sekali. Dua puluh empat menit.

Berarti empat puluh delapan menit sebulan.

Berarti sembilan jam enam belas menit setahun.

Aku pernah menghabiskan waktu lebih lama dari itu untuk membetulkan satu mesin cuci.


Tamara datang jam delapan malam dan aku menceritakan semuanya karena aku sudah belajar bahwa tidak menceritakan sesuatu kepada perempuan itu selalu jadi lebih mahal.

Dia mendengarkan sampai selesai.

Lalu dia berdiri.

“Kamu setuju.”

“Iya.”

“Kamu setuju.”

“Tam—“

“Kamu setuju dikurangin jadi dua minggu sekali, dan alasannya karena datamu kalah sama datanya.”

“Alasannya karena dia benar.”

“DIA NGGAK BENAR.”

Sarno, yang sedang mengunci pintu belakang, memutuskan untuk tidak jadi mengunci pintu belakang dan keluar lewat pintu belakang.

“Tam, pelan-pelan.”

“Aku nggak mau pelan-pelan.” Dia melempar tasnya ke kursi. “Anak itu diam sampai Selasa bukan karena kamu telepon, Mas. Anak itu diam sampai Selasa karena teleponnya cuma sembilan belas menit.”

“Kamu nggak tahu itu.”

“Kamu juga nggak tahu.”

“Ya makanya—“

“Ya makanya kamu harusnya nanya!” Dia berbalik. “Kamu nanya ke dia. Kamu nanya ke aku. Kamu nanya ke siapa pun. Kamu nggak nanya siapa-siapa, kamu langsung bilang iya, karena kamu selalu langsung bilang iya.”

“Saya bilang iya karena saya nggak punya pilihan lain.”

“Kamu punya.”

“Punya apa?” Aku berdiri juga sekarang. “Punya apa, Tam?”

Dan dia berhenti.

Karena tidak ada.

Dan kami berdua tahu tidak ada, dan mengetahui itu bersama-sama di dalam kios enam kali empat meter jam delapan malam ternyata jauh lebih buruk daripada bertengkar.