Chapter Thirty Six

Kira Jadi Siapa

POV: Kira

Yang bilang namanya Kak Alya, kelas enam, yang jaga koperasi waktu istirahat.

Dia tidak sedang bicara ke aku. Dia sedang bicara ke temannya, sambil menghitung buku tulis, dan aku kebetulan berdiri di depan meja koperasi mau beli penghapus.

“Eh, tau nggak. Bu Tam mau nikah.”

“Serius?”

“Serius. Mama gue yang cerita. Ada di grup.”

“Sama siapa?”

“Nggak tau. Katanya bukan guru.”

Aku berdiri di situ dengan uang dua ribu di tangan.

“Kata Mama gue sih orangnya dari sini juga.” Kak Alya menumpuk buku. “Yang punya bengkel apa gitu. Yang benerin AC ruang guru dulu.”

Temannya bilang, “Ooh, yang bapaknya—“

Dan dia berhenti.

Karena dia melihat aku.


Aku tidak ingat bagaimana aku sampai ke kelas.

Aku ingat aku masih memegang uang dua ribu waktu duduk, dan aku ingat penghapusnya tidak jadi kubeli, dan aku ingat Bu Tam masuk jam sebelas untuk pelajaran IPS dan menerangkan tentang kegiatan ekonomi masyarakat pesisir selama enam puluh menit.

Aku melihat Bu Tam sepanjang enam puluh menit itu.

Bu Tam berdiri di depan kelas dengan spidol dan menerangkan dan sesekali bercanda dan anak-anak tertawa.

Bu Tam yang datang ke rumah kami dan dipaksa memegang senter.

Bu Tam yang menunggu di klinik jam satu pagi.

Bu Tam yang bilang, di ruang guru, waktu aku tanya apakah ayahku makan: sekarang makan, karena Ibu bawain.

Aku tanya “Bu Tam masih ke sana?” dan Bu Tam jawab “masih”. Aku tanya “sering?” dan Bu Tam jawab “seminggu dua kali, kadang tiga.”

Bu Tam tidak bohong satu kali pun.

Bu Tam cuma tidak bilang bagian yang paling penting, dan aku baru sadar hari itu bahwa itu bukan hal yang berbeda.


Aku tidak menangis di sekolah.

Aku menangis di kamar mandi rumah, jam empat, dengan keran menyala, seperti biasa.

Terus jam lima aku turun dan makan seperti biasa dan bilang sekolah baik-baik saja seperti biasa.

Terus jam delapan, waktu perempuan itu lewat depan kamarku, aku memanggil.

“Bu.”

Dia berhenti. Dia kelihatan kaget. Empat bulan aku tidak pernah memanggilnya duluan.

“Iya, Nak?”

“Ayah mau nikah?”

Dan mukanya — mukanya berubah dengan cara yang langsung memberitahuku semuanya.

“Kamu tahu dari mana?”

“Ibu juga tahu?”

“Kirana—“

“Ibu juga tahu.”

Dia masuk dan menutup pintu dan duduk di ujung kasurku.

“Ibu baru tahu tiga minggu lalu,” katanya pelan. “Dari mamanya temanmu. Bukan dari ayahmu.”

“Tiga minggu.”

“Ibu nunggu ayahmu yang kasih tahu, Nak. Itu haknya dia.”

Aku memandangi karpet.

“Semua orang tahu,” kataku.

“Kirana—“

“Ibu tahu. Kak Alya tahu. Mamanya Kak Alya tahu. Grup WA tahu.” Suaraku naik dan aku tidak bisa menahannya. “Kira nggak tahu.”


Ayah menelepon jam delapan lewat dua puluh.

Perempuan itu yang mengangkat, di depanku, dan aku dengar dia bilang “Mas, dia sudah tahu” dan tidak ada suara dari seberang selama beberapa detik.

Terus dia menyerahkan ponselnya ke aku.

Aku tidak mengambil.

“Kirana.”

“Nggak mau.”

“Nak—“

“Kira nggak mau.”

Dia menaruh ponsel itu di kasur, layarnya menyala, dan aku bisa melihat namanya di situ.

Ponsel itu di kasur selama mungkin dua menit dengan panggilan masih tersambung.

Aku tahu Ayah masih di sana. Ayah tidak menutup. Ayah menunggu.

Aku ambil.

“Ra—“

“Kenapa Ayah nggak bilang?”

“Ayah—“

“Sudah berapa lama?”

Diam.

“Ayah.”

“Delapan bulan.”


Delapan bulan.

Aku menghitung mundur di kepalaku, karena aku selalu menghitung, karena aku tidak bisa berhenti.

Delapan bulan lalu itu aku masih di rumah. Aku masih tidur di kasur yang sama. Kipas masih ngik tiga putaran.

Delapan bulan lalu itu aku bikin surat panggilan palsu dan aku gambar capnya tiga kali sampai berhasil, dan Ayah keluar rumah jam sebelas malam sesudah menyetrika.

Aku ingat aku menulis di buku: KESIMPULAN: udah bukan sementara.

Aku senang waktu itu.

Aku senang sekali sampai aku tidak bisa tidur.

“Ayah.”

“Iya.”

“Malam Ayah nyetrika jam sebelas itu.”

Diam lama sekali.

“Iya,” kata Ayah.

“Berarti waktu itu.”

“Iya, Ra.”

“Kira yang bikin suratnya.”

“Iya.”

“Kira yang nyuruh Ayah pergi.”

“Ra—“

“Terus Ayah nggak bilang apa-apa ke Kira selama delapan bulan.”


Ayah tidak membela diri.

Itu yang paling tidak enak. Kalau Ayah membela diri, aku bisa marah lebih lama.

“Ayah salah,” kata Ayah.

“Iya.”

“Ayah nggak punya alasan yang bagus.”

“Iya.”

“Ayah mau kasih alasan yang jelek. Boleh?”

Aku tidak menjawab.

“Waktu itu Ayah bilang ke Bu Tam, jangan kasih tahu Kirana dulu,” kata Ayah. “Sampai Ayah yakin. Karena Ayah takut kalau ini nggak jadi apa-apa, yang patah bukan Ayah.”

“Terus?”

“Terus dua minggu habis itu kamu pergi.” Suara Ayah berubah. “Dan sesudah itu Ayah nggak pernah nemu waktu yang benar. Tiap Minggu cuma sembilan belas menit, Ra. Ayah nggak sanggup pakai sembilan belas menit buat itu.”

Aku memegang ponsel dengan dua tangan.

“Terus sekarang Ayah mau nikah.”

“Iya.”

“Terus Bu Tam pindah ke rumah Ayah.”

“Iya.”

“Terus nanti Ayah punya anak lagi.”

“Ra.”

“Ayah bakal punya anak lagi, kan.”

“Kirana—“

“KIRA JADI SIAPA?”


Aku berteriak.

Aku belum pernah berteriak ke Ayah seumur hidupku. Sekali pun. Sepuluh tahun.

“Kira jadi siapa, Ayah?” Aku menangis dan aku tidak peduli lagi ada perempuan itu di kamar. “Kira nggak tinggal di sana! Kamar Kira nggak ada! Kira dateng sebulan sekali!”

“Ra—“

“Nanti Bu Tam yang di rumah! Nanti Bu Tam yang masak! Nanti Bu Tam yang taruh ember kalau bocor!”

Aku tidak bisa bernapas dengan benar.

“Itu kerjaan Kira, Ayah.”

Sunyi.

“Delapan tahun itu kerjaan Kira.”


Ayah tidak bicara lama sekali.

Terus Ayah bilang, dan suaranya sudah tidak benar, dan aku belum pernah dengar suara Ayah begitu, dan aku langsung menyesal seumur hidup.

“Iya.”

“Ayah—“

“Iya, Ra. Itu kerjaan kamu.” Ayah menarik napas dan bunyinya tidak stabil. “Dan itu yang paling Ayah sesalin dari seluruh hidup Ayah.”

“Bukan gitu maksud Kira—“

“Ayah tahu bukan gitu maksud kamu.” Ayah berhenti. “Tapi Ayah tetap harus bilang. Umur enam kamu sudah tahu taruh ember di titik yang benar. Umur tujuh kamu sudah tahu Ayah belum makan dari bau baju. Itu bukan kerjaan kamu, Ra. Itu Ayah yang gagal, terus kamu yang nutupin.”

Aku menangis tanpa suara sekarang.

“Ayah nggak nikah biar ada yang gantiin kamu,” kata Ayah. “Nggak ada yang bisa gantiin kamu. Nggak ada.”

“Terus kenapa Ayah nikah?”

“Biar nggak ada anak umur sepuluh tahun lagi yang harus ngerjain itu.”


Aku menutup telepon setelah itu.

Bukan karena marah. Karena aku tidak sanggup bicara lagi.

Aku duduk di karpet dan perempuan itu masih di ujung kasur dan tidak menyentuhku, dan aku bersyukur untuk itu, karena kalau dia menyentuhku aku akan pecah lebih parah.

Terus dia bilang satu kalimat, pelan sekali.

“Ibu juga pernah mikir gitu.”

Aku mengangkat wajah.

“Waktu Ibu nikah lagi.” Dia melihat ke lantai. “Ibu mikir, kalau Ibu punya keluarga baru, kamu jadi siapa.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Dan Ibu nggak nyelesaiin pikiran itu, Nak,” katanya. “Ibu diamkan. Delapan tahun.”

Dia berdiri.

“Ayahmu nyelesaiin dalam dua puluh menit,” katanya. “Itu bedanya dia sama Ibu.”

Dia keluar dan menutup pintu.


Ayah menelepon lagi besoknya. Aku tidak angkat.

Lusa. Tidak angkat.

Hari keempat perempuan itu masuk kamar dan bilang, “Nak, ayahmu telepon.”

“Bilang Kira lagi mandi.”

“Kamu nggak lagi mandi.”

“Bilang aja gitu, Bu.”

Dia berdiri di pintu beberapa saat.

“Kirana.”

“Iya.”

“Kamu marah sama ayahmu?”

Dan aku menjawab jujur, karena aku terlalu capek untuk bohong yang sopan.

“Nggak, Bu.”

“Terus kenapa nggak diangkat?”

Aku memeluk lututku.

“Karena kalau Kira ngomong sama Ayah sekarang,” kataku, “Kira bakal nangis lagi, terus Ayah bakal denger, terus Ayah bakal sedih semalaman, terus besok Ayah salah pasang kapasitor.”