Chapter Forty

Rumah yang Tidak Bocor

POV: Adam

Yang mengubah semuanya bukan kerja lebih keras.

Aku sudah bekerja sekeras yang bisa dilakukan manusia selama sembilan tahun dan hasilnya tetap dua juta sebulan. Kerja keras itu batasnya ada, dan aku sudah lama menyentuhnya.

Yang mengubah semuanya adalah kalimat Bu Ningrum di bulan September.

“Dam, ini mesin cuci siapa?”

“Punya Bu Har. Ditinggal.”

“Ditinggal?”

“Sudah empat bulan. Orangnya bilang nggak usah dibenerin, sudah beli baru. Suruh saya buang.”

Bu Ningrum berdiri di depan mesin cuci itu dan menendang kakinya pelan.

“Rusaknya apa?”

“Modul kontrol. Sudah saya ganti.”

“Sudah kamu ganti?”

“Iya. Iseng. Sekarang jalan.”

“Jadi sekarang mesin cuci ini bagus?”

“Bagus.”

Bu Ningrum menoleh ke aku dengan tatapan yang aku kenal dan tidak sukai.

“Adam.”

“Iya, Bu.”

“Ini mesin cuci bagus, ada di kios kamu, gratis, dan kamu mau buang.”

Aku berdiri di situ dengan lap di tangan selama beberapa detik.

“...Oh.”

“YA ALLAH.”


Aku menjualnya delapan ratus ribu.

Modalnya modul kontrol seratus sembilan puluh, plus dua jam waktuku. Yang beli anak kos di belakang pasar, dan aku memberinya kertas kecil bertuliskan garansi satu bulan, ditandatangani, dengan nomorku di bawah.

Delapan ratus ribu.

Aku mengerjakan enam belas kipas untuk mendapat uang sebanyak itu.


Sejak itu aku mengubah cara kerjanya.

Aku mengumumkan ke seluruh pelanggan: barang rusak yang tidak mau diambil, jangan dibuang, kasih ke saya. Gratis. Saya yang angkut.

Dalam dua bulan gudang belakang kios penuh.

Aku memperbaikinya di malam hari, setelah kios tutup, sesudah Sarno pulang. Yang bisa diperbaiki dijual dengan garansi tertulis. Yang tidak bisa, kuambil sparepart-nya yang masih hidup dan kucatat di kotak.

Tamara yang membuat sistem garansinya.

“Nomor seri,” katanya. “Tiap barang dikasih nomor. Ditulis di kertas garansi sama di buku. Kalau balik lagi, kamu tahu ini barang yang mana, kapan dijual, ganti apa.”

“Repot.”

“Mas.”

“Iya, aku bikin.”

“Dan nomornya jangan mulai dari satu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau nomornya satu, orang tahu kamu baru mulai.” Dia menulis di kertas. “Mulai dari 1047.”

“Kenapa 1047?”

“Karena kelihatannya kayak angka yang jujur.”

Perempuan itu mengajar anak SD dan aku tidak pernah tahu dari mana dia belajar hal semacam itu.


Bulan Januari aku membayar lunas utang ke Bu Ningrum.

Aku membawa uangnya ke tokonya, satu juta, dalam amplop, dan menaruhnya di meja.

Bu Ningrum melihatnya. Lalu melihat aku. Lalu mengambil amplop itu, membukanya, menghitung, dan memasukkannya ke laci tanpa berkata apa-apa.

“Bu.”

“Apa.”

“Nggak mau bilang sesuatu?”

“Nggak.”

“Bu Ningrum.”

“Kamu mau saya bilang apa?” Dia menutup lacinya keras-keras. “Mau saya nangis? Mau saya peluk kamu?”

“Nggak juga.”

“Nah.” Dia berbalik ke rak. “Pergi. Toko saya bukan tempat orang cari haru.”

Aku sudah di pintu waktu dia bicara lagi.

“Dam.”

“Iya, Bu.”

“Yang bagi hasil sama Pak Haji sudah habis, kan? November kemarin.”

“Sudah.”

“Bagus.” Dia masih membelakangi. “Karena orang itu kemarin ke sini nanya apa dia bisa ‘menambah kepemilikan saham’.”


Rumahnya ketemu bulan Februari.

Bukan rumah bagus. Aku mau jelas soal itu.

Tipe tiga puluh enam, di ujung gang, dua kamar, dinding belakangnya berbatasan dengan kebun kosong. Catnya sudah kusam. Kusen jendelanya perlu diganti dua. Kamar mandinya kecil tapi pintunya bisa ditutup tanpa diangkat.

Sewa satu juta enam ratus sebulan.

Dua ratus meter dari kios. Empat ratus meter dari sekolah.

Aku mengambilnya hari itu juga.


Yang tidak kuduga: aku sedih waktu mengosongkan rumah petak nomor tujuh.

Aku pikir aku akan lega. Aku sudah membayangkan hari itu selama sembilan tahun.

Yang terjadi, aku menghabiskan sore terakhir di sana sendirian, duduk di lantai ruang depan yang sudah kosong, memandangi noda cokelat selebar piring di langit-langit.

Aku bahkan naik dan menyentuhnya.

Sudah kering. Sudah lama tidak bocor sebenarnya — bocornya sudah kutambal tiga kali dan yang ketiga akhirnya bertahan, tapi embernya tidak pernah kuangkat.

Aku duduk di lantai itu sampai magrib.

Di rumah ini anak itu belajar berjalan. Di rumah ini dia demam empat puluh satu. Di rumah ini dia menaruh ember di titik yang benar sebelum aku pulang, dengan lap di dasarnya supaya bunyinya tidak keras, sejak umur enam tahun.

Rumah baruku tidak bocor sama sekali.

Dan aku, seperti orang bodoh, duduk di lantai kontrakan kosong dan menyadari bahwa aku akan merindukan bocor itu, karena bocor itu adalah satu-satunya alasan anakku pernah harus menjagaku.


Pak Haji Tarmiji datang waktu aku mengembalikan kunci.

“Jadi pindah, ya.”

“Iya, Pak Haji.”

“Sembilan tahun.”

“Sembilan tahun.”

Beliau berdiri di ambang pintu memandangi ruangan kosong itu.

“Anak kamu lahir waktu kamu masih di sini.”

“Iya.”

“Bininya kamu pergi juga waktu kamu di sini.”

“Iya, Pak Haji.”

“Dan kamu nggak pernah telat bayar sewa sekali pun.” Beliau menoleh. “Sembilan tahun, Dam. Nggak pernah sekali pun.”

“Pernah, Pak Haji. Tiga kali.”

“Telat tiga hari itu nggak dihitung telat.”

Beliau menepuk pundakku sekali, keras, seperti orang menepuk barang.

“Ya sudah. Sana.”


Kamar itu aku kerjakan sendiri.

Tiga minggu, malam hari, setelah kios tutup.

Aku mengamplas dindingnya. Aku mengecatnya — putih, karena aku tidak tahu anak umur sebelas tahun suka warna apa sekarang, dan karena aku takut salah pilih dan dia terlalu sopan untuk bilang.

Kasurnya seratus dua puluh kali dua ratus. Aku membelinya bekas dari kos-kosan yang tutup, tapi kasurnya baru — pemilik kosnya baru beli enam bulan sebelum bangkrut.

Meja belajar aku bikin sendiri dari kayu bekas kusen. Lampunya lampu yang bisa ditekuk; aku membeli itu baru, satu-satunya barang yang kubeli baru di ruangan itu.

Jendelanya menghadap kebun kosong. Kalau pagi ada matahari sampai jam sepuluh.

Aku berdiri di ambang pintu kamar itu waktu semuanya selesai.

Tiga kali empat meter. Kosong.

Lalu aku mengambil sesuatu dari kotak peralatan.

Obeng kecil, yang paling kecil, yang gagangnya sudah retak. Aku sudah menyisihkannya dua bulan lalu waktu membeli set baru.

Rol isolasi warna pink itu masih ada di laci. Sisa dua tahun lalu. Masih cukup untuk satu gagang.

Aku melilitnya di teras rumah baru itu jam sebelas malam, dan aku memerlukan waktu jauh lebih lama dari yang seharusnya, karena aku terus mengulang supaya rapi.

Lalu aku menaruhnya di atas meja belajar di kamar tiga kali empat itu, di tengah, di tempat yang langsung kelihatan dari pintu.

Dan aku menutup pintunya.


Tamara datang hari Minggu untuk melihat.

Dia berjalan mengelilingi rumah itu, membuka setiap pintu, menekan setiap sakelar, dan berhenti paling lama di kamar mandi.

“Pintunya bisa ditutup.”

“Iya.”

“Nggak usah diangkat.”

“Nggak.”

“Ya Allah, Mas.” Dia menoleh dengan wajah yang setengah tertawa setengah tidak. “Aku dua tahun nahan-nahan di rumah kamu.”

“Kamu nggak pernah bilang.”

“Ya gengsi.”

Lalu dia sampai ke kamar yang satu lagi.

Dia berdiri di ambangnya lama sekali dan tidak masuk.

“Mas.”

“Hm.”

“Kapan kita nikah?”

Aku berdiri di belakangnya di lorong.

“Kamu yang bilang habis rumahnya jadi.”

“Rumahnya sudah jadi.”

“Iya.”

“Terus?”

Aku tidak menjawab.

Dia berbalik.

“Mas Adam.”

“Aku belum kasih tahu dia.”

Wajahnya berubah.

“Kamu belum kasih tahu Kirana kamu pindah rumah?”

“Belum.”

“Sudah berapa lama kamu di sini?”

“Tiga minggu.”

“MAS.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak kasih tahu anak kamu kalau kamu pindah rumah selama tiga minggu?”

“Aku nggak tahu cara bilangnya,” kataku.

“Kamu bilang aja ‘Ra, Ayah pindah rumah’!”

“Terus dia nanya rumahnya gimana.” Aku menatap pintu kamar yang tertutup itu. “Terus aku cerita. Terus dia nanya ada berapa kamar.”

Tamara berhenti.

“Terus aku harus jawab dua,” kataku. “Dan dia bakal tanya yang satu buat siapa.”

Lorong itu sunyi.

“Dan aku nggak bisa jawab itu, Tam.” Aku menggosok wajahku. “Karena kalau aku bilang buat dia, dia bakal nanya kapan. Dan aku nggak punya jawabannya. Dan aku sudah janji sama diriku sendiri aku nggak akan bohong lagi ke anak itu.”

Tamara memandangiku lama sekali di lorong rumah tipe tiga puluh enam yang cat kamarnya masih bau.

Lalu dia membuka pintu kamar itu, masuk, dan berdiri di tengah ruangan tiga kali empat meter yang kosong kecuali kasur, meja, kursi, dan satu obeng kecil bergagang pink di atas meja.

“Mas.”

“Hm.”

“Foto.”

“Apa?”

“Kamar ini. Foto.” Dia sudah mengeluarkan ponselnya. “Jangan dikirim. Simpan aja.”

“Buat apa?”

“Buat nanti,” katanya. “Kalau suatu hari kamu berdiri di depan ibunya dan kamu harus ngomong, kamu nggak akan sanggup nyusun kalimat. Aku kenal kamu.”

Dia memotret ruangan itu, satu kali, dari ambang pintu.

“Jadi kamu tunjukin ini aja.”