Chapter Forty Three

Satu Hari

POV: Tamara

Butuh tiga minggu untuk memaksa laki-laki itu libur satu hari.

“Hari Minggu.”

“Minggu kios buka.”

“Tutup.”

“Tam, Minggu itu paling ramai. Orang baru sadar barangnya rusak hari Minggu.”

“Mas Adam.” Aku menaruh buku kas di meja. “Kamu belum libur satu hari pun sejak kios buka. Aku cek. Dua puluh tiga bulan.”

“Aku libur Lebaran.”

“Kamu libur Lebaran satu hari terus besoknya kamu benerin kulkas Bu Haji.”

“Itu karena—“

“Karena isinya rendang, iya, aku hafal alasannya.” Aku menyilangkan tangan. “Hari Minggu. Tutup. Tempel kertas.”

“Tam—“

“Aku sudah bikin kertasnya.”

Aku mengeluarkannya dari tas. Kertas HVS, dicetak di sekolah, huruf besar:

MINGGU INI TUTUP. BUKA LAGI SENIN.

Dia memandanginya.

“Kamu sudah cetak.”

“Sepuluh lembar.”

“Kenapa sepuluh?”

“Karena aku niat pakai ini sepuluh kali sampai kamu terbiasa.”


Kami berangkat jam enam pagi naik motor.

Bukan ke mana-mana yang mahal. Pantai di selatan, yang tiketnya lima belas ribu per orang, yang pasirnya lebih banyak batunya, yang ombaknya terlalu besar untuk berenang jadi orang cuma duduk-duduk saja.

Dua jam perjalanan.

Aku memeluk pinggangnya sepanjang jalan dan menempelkan pipiku ke punggungnya, dan waktu kami sampai, punggung kemejanya ada bekas dan aku memutuskan untuk tidak memberitahunya.

Kami menggelar tikar sewaan lima ribu di bawah pohon.

Dan selama empat puluh menit pertama, laki-laki itu tidak tahu harus melakukan apa dengan tubuhnya.


Aku serius.

Dia duduk. Berdiri. Duduk lagi. Melihat ke arah warung. Melihat ke arah parkiran. Mengecek motornya dari kejauhan dua kali.

“Mas.”

“Hm.”

“Duduk.”

“Aku duduk.”

“Kamu duduk kayak orang nunggu antrean.”

Dia menghela napas dan menyandarkan tangan ke belakang.

Sepuluh detik.

“Itu kipas di warung bunyinya nggak bener.”

“Mas Adam.”

“Dengerin. Bunyinya kayak ada yang—“

“MAS.”

“Ya sudah, ya sudah.”

Dia bertahan dua belas menit.

Waktu aku ke kamar mandi dan kembali, laki-laki itu sudah di belakang warung dengan obeng di tangan dan ibu pemilik warung berdiri di sebelahnya sambil memegang senter.

Aku berdiri di situ dengan dua es kelapa di tangan dan tertawa sampai orang lain menoleh.


Yang tidak kuduga: setelah kipas itu selesai, dia berubah.

Seperti orang yang baru bisa menaruh sesuatu.

Dia kembali ke tikar, duduk, dan untuk pertama kalinya sejak berangkat, tubuhnya tidak kaku.

“Sudah?” tanyaku.

“Sudah.”

“Rusaknya apa?”

“Kabel di dalam tombolnya kendur. Lima menit.”

“Dibayar?”

“Nggak mau ambil.”

“Mas.”

“Aku dikasih es kelapa dua.”

“Aku sudah beli dua.”

“Sekarang jadi empat.”

Kami duduk di bawah pohon itu dengan empat es kelapa dan tidak ada yang menyuruh kami pulang.


Aku menggodanya sepanjang hari itu.

Aku mau mencatat itu dengan jujur, karena aku sudah dewasa dan aku tidak akan berpura-pura itu tidak disengaja.

“Mas.”

“Hm.”

“Bulan depan kita nikah.”

“Iya.”

“Berarti bulan depan aku pindah ke rumah kamu.”

“Iya.”

“Ke kamar yang kanan.”

Dia menoleh.

“Tam.”

“Apa? Aku cuma nyebutin denah.”

“Kamu nggak lagi nyebutin denah.”

“Aku lagi nyebutin denah, Mas Adam.” Aku menyandarkan dagu ke lutut. “Kamu sendiri yang gambar. Aku hafal ukurannya. Yang kanan tiga setengah kali tiga.”

Telinganya sudah merah dan matahari belum jam sebelas.

“Aku juga sudah mikirin,” lanjutku, “hari pertama kamu bangun dan aku ada di situ, kamu bakal ngapain.”

“Tam.”

“Menurut aku kamu bakal langsung bangun terus ke dapur terus pura-pura nyari sesuatu.”

“...Nggak.”

“Iya.”

“Nggak.”

“Mas, kamu nahan batuk empat puluh menit di angkot.”

Dia melempar sedotan ke arahku dan meleset sejauh dua meter, yang membuktikan sesuatu tentang kondisi tangannya siang itu.


Jam dua kami masuk warung karena panas.

Warungnya kosong. Ibu pemiliknya di belakang. Kipas yang baru diperbaiki itu berputar di atas kami dan tidak berbunyi apa-apa.

Aku duduk di sebelahnya, bukan di depannya.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu inget nggak, di gerbang sekolah malam itu, aku bilang apa?”

“Yang mana?”

“Yang kayak nyium tembok.”

“Aku inget seumur hidup.”

“Terus di kios aku tarik.”

“Iya.”

Aku memiringkan kepala ke arahnya.

“Aku mau evaluasi lagi.”

“Tam—“

“Ini warung kosong, ibunya di belakang, dan aku guru, aku bisa evaluasi kapan aja.”

“Ada orang lewat di luar.”

“Yang lewat itu kambing.”

Dan laki-laki itu tertawa — beneran tertawa, dari perut, di dalam warung pinggir pantai — dan aku memanfaatkannya seperti orang yang sama sekali tidak punya harga diri.


Aku tidak akan menceritakan bagian tengahnya.

Aku cuma akan mencatat bahwa dua jam kemudian kami sudah tidak di warung, dan kami sudah di tikar, dan matahari sudah miring, dan pantai itu sudah hampir kosong karena orang pulang sebelum magrib.

Dan bahwa ada satu titik di sore itu di mana aku sadar kami berdua sudah melewati sesuatu yang tidak kami rencanakan untuk dilewati.

Dan bahwa dia yang berhenti.

Lagi.

“Tam.”

“Hm.”

“Nggak.”

Aku menempelkan keningku ke bahunya dan menutup mata dan menunggu napasku sendiri.

“Mas.”

“Iya.”

“Aku dua puluh sembilan tahun.”

“Aku tahu.”

“Aku bukan anak SMA yang perlu dijagain.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa?”

Dan dia menjawabnya, dan jawabannya adalah alasan kenapa aku menikahi orang ini.


“Karena satu bulan lagi kamu jadi istri saya.”

Dia bicara sambil menatap laut, bukan aku.

“Dan seumur hidup kamu nanti, kalau kamu inget-inget lagi soal aku, aku nggak mau yang paling awal muncul itu sore ini di tikar sewaan lima ribu.”

“Mas—“

“Aku mau yang muncul duluan itu yang bulan depan.” Dia menoleh. “Yang ada penghulunya. Yang ada bapak kamu di situ. Yang halal.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku sudah pernah punya keluarga yang mulainya berantakan, Tam.” Suaranya turun. “Bukan salah dia, bukan salah aku. Kami cuma masih terlalu muda dan semuanya buru-buru dan nggak ada yang mikirin apa-apa.”

“Mas, itu beda—“

“Iya, beda.” Dia mengangguk. “Makanya yang ini aku mau lakuin dengan benar dari awal sampai akhir. Sekali seumur hidup aku pengen ada satu hal yang aku nggak buru-buru.”

Aku memegang wajahnya dengan dua tangan.

“Kamu tahu nggak apa yang paling nyebelin dari kamu?”

“Apa?”

“Tiap kali kamu nolak aku, aku malah makin sayang.” Aku menggeleng. “Itu curang, Mas. Itu nggak adil sama sekali.”


Kami pulang setelah magrib.

Di jalan, di lampu merah, dia bicara ke depan tanpa menoleh.

“Tam.”

“Hm.”

“Aku cinta sama kamu.”

Aku menempelkan keningku ke punggungnya.

“Aku juga,” kataku. “Dari lama.”

“Dari kapan?”

“Dari kamu masuk ruang guru sambil nyembunyiin tangan ke bawah meja.”

Lampu hijau. Dia tidak jalan.

Mobil di belakang membunyikan klakson.

“Mas, jalan.”

“Iya.”

“Mas.”

“Iya, iya.”

Dan kami jalan, dan aku tertawa di dalam helm sepanjang dua kilometer berikutnya.


Sampai rumahnya jam delapan.

Rumah tipe tiga puluh enam itu gelap. Dia menyalakan lampu teras, membuka pintu, dan langsung ke belakang untuk mengambil air.

Ponselnya ditinggal di meja ruang depan.

Layarnya menyala waktu aku lewat.

Aku tidak bermaksud melihat. Layarnya memang menyala.

VANYA — 6 panggilan tak terjawab

Aku berdiri di ruang depan rumah itu dengan tas masih di bahu.

“Mas.”

“Hm?”

“Ponsel kamu.”

Dia keluar dari dapur sambil mengelap tangan, mengambilnya, dan berhenti.

Aku melihat wajahnya berubah pelan-pelan, satu tingkat, lalu satu tingkat lagi.

“Enam,” katanya.

“Dari jam berapa?”

“Yang pertama jam dua siang.” Dia menggeser layar. “Yang terakhir jam tujuh empat puluh.”

“Kirana?”

“Aku nggak tahu.”

Dia menekan tombol panggil dan mengangkat ponsel ke telinga, dan aku berdiri di ruang depan itu dan tidak bergerak sama sekali.

Diangkat pada dering pertama.

Aku bisa mendengar suara perempuan di seberang. Tidak jelas kata-katanya. Cuma nadanya.

Dan nadanya bukan nada orang yang panik.

Nada orang yang sudah menangis dan sudah selesai menangis dan sekarang sedang berusaha bicara dengan rapi.

“Van, pelan-pelan,” kata Adam. “Kirana kenapa?”

Jeda.

“Nggak apa-apa gimana? Kamu telepon enam kali.”

Jeda lebih panjang.

Aku melihat bahunya turun sedikit.

“Ya sudah,” katanya. “Kapan?”

Jeda.

“Besok aku buka kios. Sore bisa.”

Jeda.

“Van.”

Jeda.

“Van, kamu mau ngomong apa sih.”

Dan di seberang sana, cukup keras sampai aku bisa mendengarnya dari tiga meter di ruang depan rumah tipe tiga puluh enam itu, perempuan itu berkata:

“Aku nggak bisa lewat telepon, Mas.”