Chapter Five

Gang Melati III Nomor Tujuh

POV: Adam

Ada dua motor di depan rumah waktu aku pulang.

Yang satu punyaku, yang kutinggal karena paginya aku jalan kaki ke blok B. Yang satu lagi matic hitam, bersih, spionnya masih dua-duanya.

Aku berdiri di mulut gang lebih lama dari yang perlu.

Dari dalam terdengar suara Kira. Bukan suara Kira yang biasa. Suara Kira yang satu oktaf lebih tinggi, yang cepat, yang bicara tanpa jeda — suara yang terakhir kudengar waktu dia dapat sepatu baru dua tahun lalu.

Aku membuka pintu.

Ruang depan sudah dirapikan. Bangkai dispenser yang biasanya menghuni meja sudah dipindah ke sudut dan ditutupi kain sarung. Lantai basah bekas dipel. Kursi plastik yang biasanya jadi tempat naik Kira di depan kompor sekarang ada di tengah ruangan, dilap sampai mengkilap, dan di atasnya duduk wali kelas anakku dengan segelas teh di tangan.

“Ayah!” Kira menghambur. “Ada Bu Tamara!”

“Iya. Ayah lihat.”

“Bu Tamara ke rumah kita!”

“Iya, Ra.”

“Ke rumah kita.”

Kira mengucapkan kata itu tiga kali dengan penekanan berbeda-beda, seolah kalau diulang cukup sering, aku akan mengerti betapa mustahilnya peristiwa ini.

Tamara berdiri. Dia masih pakai seragam dinas, kerudungnya sudah agak berantakan di sisi kanan, dan wajahnya menunjukkan sesuatu yang aku tidak bisa langsung baca.

“Maaf, Pak. Nggak sempat kasih kabar.”

“Nggak apa-apa.” Aku melepas tas. “Ada apa, ya?”

“Kunjungan rumah. Koordinasi SPP.”

“Tadi pagi sudah.”

“Tadi pagi belum lengkap.”

Aku menatapnya. Dia menatapku balik, dan tidak berkedip, dan minum tehnya.

Bohong. Jelas sekali.

Tapi anakku sedang berdiri di antara kami dengan wajah seperti orang yang baru menang undian, jadi aku menaruh tas dan bilang, “Ya sudah. Silakan.”


Hujan mulai jam lima kurang.

Tidak deras. Yang jenis mengetuk-ngetuk seng saja. Aku sedang membuka kaus kerja waktu mendengar bunyi plastik diseret di ruang depan, lalu bunyi ember diletakkan, lalu bunyi kain digelar di dalam ember.

Waktu aku keluar, Kira sudah kembali duduk di lantai dan melanjutkan ceritanya tentang Dimas.

Aku melihat ke Tamara.

Perempuan itu tidak melihat ke Kira. Dia melihat ke ember. Lalu ke langit-langit, ke noda cokelat selebar piring itu. Lalu ke ember lagi.

Dia tidak bertanya apa-apa. Wajahnya juga tidak berubah. Cuma tangannya yang memegang gelas berhenti bergerak beberapa saat, dan waktu dia bicara lagi, suaranya sedikit lebih keras dari sebelumnya, seperti orang yang sengaja mengisi ruangan supaya tidak ada yang mendengarkan bunyi tetesan.

“Kirana, PR-mu sudah?”

“Sudah, Bu.”

“Yang halaman tiga puluh enam?”

“...Belum, Bu.”

“Sana.”

“Tapi ada Bu Tamara—“

“Justru karena ada Ibu di sini kamu nggak bisa bohong soal PR. Sana.”

Kira mengeluh dengan seluruh tubuhnya dan pergi ke kamar sambil menyeret tas. Di ambang pintu dia menoleh, memandangi kami berdua bergantian, lalu tersenyum dengan cara yang tidak kusukai sama sekali, lalu menghilang.

Anak itu sepuluh tahun. Aku bersumpah dia sepuluh tahun.


Aku duduk di lantai dan menarik kipas ke pangkuanku.

“Bapak mau kerja sekarang?”

“Ini punya orang. Diambil besok pagi.”

“Saya ganggu, ya.”

“Nggak.” Aku membuka empat sekrup di rumah motor dan menaruhnya di tutup gelas supaya tidak hilang. “Saya bisa dengar sambil kerja.”

“Saya belum ngomong apa-apa.”

“Ibu datang jauh-jauh sore-sore bawa alasan SPP yang tadi pagi sudah selesai.” Aku menarik rotor keluar. “Berarti ada yang mau diomongin.”

Tamara diam sebentar.

“Bapak selalu segini terus terang?”

“Kalau lagi pegang obeng, iya.”

Dari sudut mataku aku melihat dia meletakkan gelasnya di lantai dan menggeser kursinya lebih dekat, dan hal berikutnya yang terjadi adalah pertanyaan yang tidak kuduga.

“Itu kenapa?”

“Yang mana?”

“Yang di dalam kabelnya kok item begitu.”

Aku mengangkat gulungan kumparan itu ke arahnya.

“Ini yang bikin muter. Kalau kepanasan terus, lapisan email-nya rusak, terus kabelnya nempel satu sama lain, terus arusnya lewat jalan pintas. Yang begini biasanya bau dulu sebelum mati.”

“Bau apa?”

“Bau gosong tapi manis.” Aku memutar rotor dengan jari. “Kalau ada yang bilang kipasnya bau tapi masih jalan, itu artinya tinggal beberapa minggu.”

“Kok Bapak tahu manis?”

“Karena saya sudah mencium itu ribuan kali, Bu.”

Dia diam. Aku melanjutkan.

Bushing depan kering. Bushing belakang kering. Kapasitor masih bagus, tidak kembung. Kabelnya yang bermasalah cuma di satu titik, dekat lubang keluar, tempat orang biasa menggulung kabel terlalu kencang waktu menyimpan.

“Ini rusak bukan karena kipasnya,” kataku. “Rusak karena cara nyimpennya.”

“Berarti nanti rusak lagi.”

“Iya. Makanya saya kasih tahu orangnya.”

“Terus dia dengerin?”

“Nggak.”

“Terus Bapak tetep kasih tahu?”

“Iya.”

Tamara tertawa lewat hidung. Cuma satu kali, pendek.

“Bapak ini capek nggak sih jadi orang.”


Jam enam, lampu mulai kurang.

Bola lampu di ruang depan cuma satu, sepuluh watt, dan aku sudah tahu dari dulu bahwa itu tidak cukup untuk kerja detail. Biasanya aku pakai senter kepala. Tapi karet senter kepalanya putus minggu lalu dan aku belum sempat.

Aku mengambil senter biasa dari tas, menyalakannya, menaruhnya di lantai bersandar ke kaki kursi, dan mulai menyolder.

Sinarnya jatuh ke tempat yang salah.

Aku menggeser senternya. Sinarnya jatuh ke tempat yang salah dengan cara yang berbeda.

“Sini.” Tamara mengulurkan tangan. “Saya pegangin.”

“Nggak usah, Bu.”

“Bapak mau nyolder sambil megang senter sambil megang kabel? Bapak punya tangan berapa?”

Dia sudah mengambil senter itu dari lantai sebelum aku menjawab.

Lalu selama empat puluh menit berikutnya, wali kelas anakku duduk di kursi plastik di ruang depan rumah petak sambil memegangi senter dan diomeli.

“Ke kiri.”

“Sudah kiri.”

“Kiri saya, Bu, bukan kiri Ibu.”

“Ya bilang dong.”

“Sekarang kejauhan.”

“Ya Allah.” Dia memajukan tangannya. “Ini kalau saya jadi murid Bapak, saya sudah nangis.”

“Murid saya nggak ada.”

“Anak Bapak ada.”

“Anak saya lebih pinter megang senter dari Ibu.”

Tamara berhenti. Menoleh ke arahku dengan tatapan yang bahkan dalam gelap masih terasa panas.

“Pak Adam.”

“Kenapa.”

“Bapak baru saja ngeledek guru.”

“Saya cuma menyampaikan data.”

Dari kamar terdengar bunyi tawa yang cepat-cepat ditahan, lalu bunyi kertas dibalik dengan berisik sekali, seperti orang yang ingin membuktikan bahwa dia benar-benar sedang mengerjakan PR halaman tiga puluh enam.


Kipasnya jadi sebelum jam tujuh. Aku menyambungkan ke stopkontak dan menyalakannya di kecepatan satu.

Halus. Tidak ada bunyi.

Tamara menyandarkan punggungnya, menatap kipas itu berputar seperti orang menonton sesuatu yang lebih besar dari kipas.

“Empat puluh menit,” katanya.

“Kalau ada barangnya, iya.”

“Bapak tarik berapa?”

“Lima puluh.”

“Lima puluh.”

“Iya.”

“Yang tadi Bapak jelasin ke saya soal email kawat sama bushing itu, itu ilmu, Pak. Orang bayar kuliah buat tahu segitu.”

“Orang bayar kuliah buat sertifikatnya.” Aku merapikan obeng ke dalam kotak. “Yang saya punya cuma tangan.”

Hujan sudah berhenti sejak tadi. Ember di sudut sudah tidak berbunyi lagi.

Dan di kamar, di balik pintu yang setengah terbuka, kipas tua itu masih berputar seperti biasa.

Ngik. Satu, dua, tiga. Ngik.

Tamara menoleh ke arah bunyi itu.

“Itu kenapa?”

“Bushing.”

“Yang tadi Bapak baru betulin di kipas orang.”

“Iya.”

“Yang katanya empat puluh menit.”

“Iya.”

Dia menatapku. Aku merapikan sisa timah ke dalam kaleng bekas.

“Bapak bisa benerin kipas satu kampung,” katanya pelan, “tapi kipas di kamar sendiri dibiarin bunyi delapan tahun.”

“Belum sempat.”

“Bohong.”

Aku menutup kotak peralatan dan tidak menjawab, karena tidak ada jawaban yang bisa kuberikan yang tidak akan membuka pintu yang tidak ingin kubuka malam ini, atau malam mana pun, kepada siapa pun.

Kalau kipas itu diam, aku tidak akan tahu apakah anakku masih bernapas tanpa membuka mata.

Aku pernah kehilangan satu orang di rumah ini tanpa mendengar dia pergi.


Tamara berdiri jam setengah delapan dan mengambil kunci motornya, dan aku sudah setengah lega.

Lalu dia berhenti di ambang pintu, membuka tasnya, dan mengeluarkan pulpen.

“Tangan.”

“Apa?”

“Tangan Bapak. Yang kanan.”

Aku mengulurkan tangan sebelum otakku sempat bertanya kenapa, dan dia menariknya sedikit lebih dekat ke lampu, dan menulis sebelas angka di punggung tanganku, di antara garis-garis hitam yang tidak mau hilang itu.

“Ini nomor saya.”

“Bu—“

“Bukan buat SPP.” Dia menutup pulpennya. “Klinik dua puluh empat jam yang paling deket dari sini itu di Jalan Kartini, dan Bapak nggak tahu, karena Bapak nggak pernah bawa anak Bapak ke sana. Saya tahu, karena kos saya di belakangnya.”

Dia memasukkan pulpen ke tas dan memakai helmnya.

“Kalau Kirana kenapa-kenapa malam-malam, jangan mikir dulu. Telepon.”

“Saya nggak akan—“

“Saya nggak nanya Bapak akan atau nggak akan, Pak Adam.” Kaca helmnya turun. “Saya cuma naruh nomor. Terserah Bapak mau dipakai atau nggak.”

Motornya sudah di ujung gang waktu aku sadar aku belum bilang terima kasih.

Aku masuk, mengunci pintu, dan mencuci tangan di bak.

Sabun colek, air, gosok.

Angkanya tidak hilang.