Chapter Nine
Gunting Kain
[POV: Kanaya] · [Hari ke-12]
Aku mau meluruskan sesuatu sebelum ada yang salah paham tentang aku.
Aku tahu apa yang aku lakukan.
Bukan “aku terbawa suasana”. Bukan “awalnya nggak serius terus jadi serius”. Aku ingat persis ruangannya — kantin lantai dua, hari Kamis, jam istirahat kedua, dan Vania sedang mengaduk es kopinya dengan sedotan sambil bilang kalimat itu dengan nada paling ringan di dunia.
“Tiga puluh hari. Siapa aja. Bebas milih.”
Dan aku ingat aku melihat ke arah pojok belakang kelas lewat pintu yang terbuka, ke meja dekat jendela, ke anak yang duduk di sana dengan poni menutupi mata dan seragam yang selalu terlalu rapi untuk orang yang tidak pernah diajak bicara.
Dan aku ingat aku berpikir: jangan dia.
Lalu aku ingat aku berkata, “Aku ambil.”
Bukan karena aku mau. Karena Vania sudah melihat ke arah yang sama, dan Vania kalau sudah ingin membuktikan sesuatu tidak pernah berhenti di garis yang wajar.
Jadi aku mengambilnya duluan.
Aku menyebutnya menyelamatkan. Aku menyebutnya begitu selama sebelas hari.
“Hari kedua belas,” kata Vania.
“Aku bisa hitung.”
“Aku cuma ngingetin.”
“Van, aku ketua panitia empat acara. Aku nggak akan lupa tanggal.”
Kami duduk di tembok rendah depan perpustakaan. Regita membuka bungkus roti dengan suara yang tidak perlu sekeras itu. Nadine memegang botol minumnya dengan dua tangan dan tidak minum sama sekali.
“Terus gimana?” tanya Regita. “Udah ada tanda-tanda?”
“Tanda-tanda apa?”
“Ya... itu. Gugup. Salah tingkah. Nggak berani nengok.”
“Regit, dia gitu ke semua orang.”
“Ya berarti belum, dong.”
Vania menyandarkan punggungnya ke pilar.
“Nay, aku boleh jujur?”
“Kapan kamu nggak.”
“Menurutku kamu nggak lagi ngerjain dia.” Dia mengaduk esnya. “Menurutku kamu lagi ngerawat dia.”
“Bedanya apa?”
“Bedanya yang satu ada ujungnya.”
Aku tidak menjawab itu.
“Aku cuma nggak mau kamu jadi orang yang setengah-setengah,” lanjut Vania. “Kalau mau berhenti, berhenti. Nggak ada yang maksa. Tapi nanti taruhannya balik ke aku, dan aku nggak akan main sesopan kamu.”
“Aku nggak berhenti.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Aku menjawab terlalu cepat. Aku sadar itu satu detik setelah suaraku keluar, dan aku sadar Nadine juga menyadarinya, karena Nadine akhirnya minum dari botolnya.
“Kalau gitu,” kata Vania, “buktiin sesuatu minggu ini.”
“Buktiin apa?”
“Bikin dia kelihatan.” Dia mengangkat bahu. “Selama dia nggak kelihatan, nggak ada yang bisa nilai apa-apa. Aku nggak bisa tahu dia suka kamu atau enggak kalau bahkan mukanya aja nggak ada yang pernah lihat.”
Regita tertawa. “Bener juga.”
Nadine menaruh botolnya.
“Van,” katanya pelan. “Itu jahat.”
“Kenapa jahat? Aku nyuruh dia dandan, bukan nyuruh dia telanjang.”
“Kamu nyuruh orang berubah biar bisa dinilai.”
“Nad.” Vania tersenyum. “Semua orang di sekolah ini udah dinilai dari kelas sepuluh. Dia doang yang belum, dan itu bukan karena dia beruntung.”
Aku memandangi lantai.
Dan inilah bagian yang paling ingin aku hapus dari ingatanku, dan tidak bisa:
aku tidak membela dia.
Aku bahkan tidak berkata jangan.
Aku cuma bilang, “Oke.”
Nadine mengejarku di koridor setelahnya.
“Nay.”
“Aku telat rapat.”
“Nay, berhenti.”
Aku berhenti, karena Nadine hampir tidak pernah menyuruh siapa pun berhenti.
“Kamu bisa bilang enggak,” katanya.
“Aku udah bilang oke.”
“Kamu bisa narik.”
“Terus Vania yang ambil.”
“Ya biarin.”
Aku menoleh ke arahnya.
“Nad, kamu tahu apa yang Vania lakuin ke Rania tahun lalu.”
Nadine diam.
“Aku nggak akan biarin itu kejadian lagi,” kataku. “Jadi aku yang pegang.”
“Nay.” Nadine menggeser tali tasnya. “Kamu tahu nggak, dari luar itu kelihatan bukan kayak kamu ngelindungin dia.”
“Kelihatan kayak apa?”
“Kelihatan kayak kamu nggak mau ngelepas.”
Aku tidak menjawab, dan aku berjalan pergi, dan aku menghabiskan seluruh rapat panitia sore itu dengan menyusun bantahan yang tidak pernah aku ucapkan ke siapa-siapa.
Bantahannya bagus, kok. Aku masih ingat sebagian.
Sayangnya tidak ada satu pun yang menjawab kalimat Nadine.
Ada satu aturan yang aku buat untuk diriku sendiri di hari pertama, dan aku memegangnya dengan sangat serius, seperti orang memegang tali yang sebenarnya sudah putus di ujung sana.
Aturannya: aku tidak akan pernah membuat dia malu.
Semua yang lain boleh. Bohong boleh, karena bohongku tidak melukai siapa-siapa selama tidak ada yang tahu. Tiga puluh hari boleh, karena tiga puluh hari itu akan lewat dan semua orang akan lupa.
Tapi tidak boleh ada satu momen pun di mana ada orang menertawakannya.
Aku memegang aturan itu, dan aku merasa cukup baik karenanya, dan itulah kenapa aku bisa tidur dengan nyenyak selama sebelas malam.
Kalau kamu ingin tahu bentuk paling murah dari kebaikan, itu dia: aturan yang kamu buat sendiri, dengan standar yang kamu tetapkan sendiri, lalu kamu patuhi dengan bangga.
Malam sebelumnya aku sampai rumah jam tujuh lewat.
Mbak Yah sudah pulang. Lampu teras menyala otomatis, lampu ruang tamu menyala otomatis, dan AC-nya menyala otomatis karena aku pernah menyetelnya begitu supaya ruangannya tidak terasa seperti baru dibuka.
Di meja makan ada dua tempat makan tertutup dan satu tulisan di kertas: Mbak masak rendang, tinggal panasin, Non.
Aku makan sambil berdiri.
Aku mengirim pesan ke Mama: Ma, aku ambil kepanitiaan lagi, jadi pulang sore terus ya.
Centang dua. Belum dibaca.
Lalu aku duduk di ruang tengah dengan lampu menyala semua, dan aku menyalakan TV bukan untuk ditonton, dan aku memikirkan ruang jahit yang bau kain dan minyak mesin, dan seorang anak umur sembilan tahun yang berteriak dari dapur soal kerupuk.
Aku sudah bilang aku tahu apa yang aku lakukan.
Aku belum bilang bahwa aku juga tidak ingin berhenti.
Itu dua hal yang berbeda, dan yang kedua jauh lebih memalukan.
“Aku mau minta tolong,” kataku sore itu, di ruang jahit rumahnya, sambil memegang rok baru yang sudah jadi dua hari lebih cepat dari yang dijanjikan.
Roknya sempurna. Itu bukan basa-basi. Aku sudah punya empat rok seragam seumur hidupku dan tidak ada satu pun yang pinggangnya tidak melintir setelah dipakai duduk dua jam.
“Minta tolong apa?”
Hari sedang membereskan sisa benang di meja. Dia tidak melihat ke arahku. Dia hampir tidak pernah melihat ke arah siapa pun.
“Ponimu.”
Tangannya berhenti.
Aku sudah menyiapkan seluruh argumennya. Aku menyiapkannya semalaman, seperti aku menyiapkan proposal acara: alasan utama, alasan pendukung, antisipasi penolakan, jalan keluar kalau dia marah.
Aku bahkan menyiapkan kalimat pembuka yang tidak menyinggung.
Aku tidak sempat memakai satu pun.
“Potong aja,” katanya.
Aku berkedip.
“...Ha?”
“Ponimu— maksudku, poniku.” Dia meletakkan gulungan benang ke kaleng. “Potong aja.”
“Kamu belum denger alasannya.”
“Nggak apa-apa.”
“Hari, aku belum bilang apa-apa.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu bahkan nggak nanya kenapa.”
Dia mengangkat bahu, dan bahunya naik dengan cara yang aneh — bukan seperti orang yang menyerah, lebih seperti orang yang sudah selesai berpikir jauh sebelum ditanya.
“Emang harus dipotong,” katanya. “Udah kepanjangan.”
Aku ingat aku merasa lega.
Aku ingat aku merasa lega dan sedikit tersanjung, karena aku pikir dia percaya padaku.
Aku butuh delapan belas hari lagi untuk mengerti bahwa dia bukan sedang mempercayaiku.
Dia sedang mempermudahku.
“Pakai yang ini.”
Tante Ratih menyerahkan gunting dari laci — gunting kain, besar, berat, gagangnya oranye dan sudah kusam.
“Tante, ini buat kain.”
“Justru.” Dia mengibaskan tangannya. “Gunting rambut yang murah itu nggarik. Gunting kain nggak. Sekali tarik, putus.”
“Aku belum pernah motong rambut orang.”
“Ya belajar.”
“Kalau jelek?”
“Ya tumbuh.”
Lalu dia pergi ke dapur seperti orang yang baru saja menyerahkan senjata api kepada anak kecil, dan Sekar mengambil posisi jongkok di seberang dengan buku tulisnya.
“Aku catat, ya.”
“Nyatat apa, Sekar?”
“Tanggal Kak Hari kelihatan mukanya.”
“Sekar,” kata Hari.
“Ini penting buat sejarah.”
“Sekar.”
“Ya udah, aku diem.” Dia menutup bukunya. “Tapi aku nggak pergi.”
“Sekar.”
“Ibuuu, Kak Hari ngusir aku—”
“SEKAR MASUK, BANTU IBU.”
Sekar pergi sambil menyeret sandalnya sekeras mungkin supaya kami tahu dia tidak setuju.
Lalu ruang jahit itu jadi sepi.
Aku menaruh kursi di tengah ruangan, di bawah lampu.
“Duduk.”
“Iya.”
“Jangan gerak.”
“Iya.”
“Kalau aku salah potong, kamu nggak boleh marah.”
“Aku nggak akan marah.”
“Kamu belum lihat hasilnya.”
“Aku tetep nggak akan marah.”
Aku berdiri di depannya.
Ini bagian yang aku ingat paling detail, dan aku benci bahwa aku mengingatnya sedetail ini.
Aku ingat rambutnya lebih halus dari yang aku kira. Aku ingat aku harus menyisirnya ke depan dulu dengan jari, dan jariku menyentuh keningnya, dan dia tidak bergerak sama sekali — bukan diam yang nyaman, diam yang dilatih, seperti orang yang sudah lama sekali tidak disentuh dan sedang berusaha agar tidak ketahuan bahwa itu penting.
Aku ingat bunyi guntingnya. Berat, tunggal, seperti bunyi kain yang dipotong. Tante Ratih benar; sekali tarik, putus.
Potongan pertama jatuh ke pahanya.
Lalu potongan kedua.
Dan di potongan ketiga, aku melihat matanya.
Aku harus berhenti.
Aku benar-benar berhenti, dengan gunting masih di udara, selama mungkin tiga detik.
Karena selama sebelas hari aku bicara dengan orang ini setiap hari, duduk di sebelahnya, jalan pulang bareng, minum es teh di tembok belakang kantin — dan aku baru sadar aku belum pernah, sekali pun, melihat wajahnya.
Aku sudah tahu dia tinggi. Aku sudah tahu tangannya bagus, karena aku melihat tangannya bekerja setiap hari. Aku sudah tahu suaranya, dan aku sudah tahu bahwa dia lebih lucu daripada yang dia izinkan orang tahu.
Aku tidak siap dengan matanya.
Bukan karena bagus. Ya, bagus. Tapi bukan itu.
Karena matanya jernih dan langsung dan sama sekali tidak cocok dengan seluruh cara dia berdiri di dunia. Orang yang punya mata seperti itu seharusnya duduk di depan, bicara keras, ditertawakan bersama-sama, bukan di pojok belakang dekat jendela.
Dan aku sadar, sambil berdiri di ruang jahit yang bau kain dan minyak mesin, bahwa dia menyembunyikannya dengan sengaja.
Selama bertahun-tahun. Dengan sangat rapi. Dengan disiplin yang sama seperti dia menjahit.
Ada orang yang membuat dia memutuskan bahwa lebih aman kalau wajahnya tidak kelihatan.
Dan aku sedang berdiri di ruangan yang sama dengan orang itu, memegang gunting, mengerjakan hal yang dimulai dari kalimat Vania di tembok depan perpustakaan.
“Nay?”
“...Ha?”
“Guntingnya.”
“Oh.” Aku menurunkannya. “Maaf.”
“Jelek, ya?”
“Enggak.”
“Nggak apa-apa kalau jelek.”
“HARI.”
Dia diam.
“Jangan bilang gitu,” kataku, dan suaraku keluar lebih keras dari yang aku rencanakan, dan aku tidak tahu kenapa. “Jangan bilang ‘nggak apa-apa kalau jelek’.”
“...Kenapa?”
“Karena kamu selalu nyiapin tempat buat dirimu sendiri di bagian yang paling jelek.” Aku menaruh gunting itu di meja karena tanganku mulai tidak stabil. “Setiap kali. Kamu selalu duluan bilang nggak apa-apa, biar kalau ada orang mau ngejek, kamu udah ngejek diri sendiri duluan.”
Ruang jahit itu sunyi sekali.
Hari duduk di kursi dengan potongan rambut di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia mengangkat kepala dan menatapku lurus-lurus.
“Iya,” katanya.
Cuma itu.
Bukan membantah. Bukan menjelaskan.
Cuma mengakui, dengan tenang, seperti orang menyebutkan berapa lingkar pinggangnya.
“Kamu nggak marah?” tanyaku.
“Kenapa marah?”
“Aku baru aja ngomongin kamu.”
“Kamu ngomongin yang bener.”
“Orang biasanya marah kalau yang bener.”
“Aku enggak.”
“Kenapa?”
Hari memandangi potongan rambut di pangkuannya, mengumpulkannya jadi satu dengan telapak tangan, dan menaruhnya di atas kertas koran yang sudah aku gelar di lantai.
“Karena kalau aku marah,” katanya, “kamu bakal ngerasa bersalah.”
Aku berdiri di situ dengan gunting kain di tangan dan tidak tahu harus bilang apa.
Waktu itu aku pikir itu kalimat paling manis yang pernah aku dengar.
Sekarang aku tahu itu kalimat paling menakutkan yang pernah dikatakan siapa pun kepadaku, dan aku menerimanya sambil tersenyum.
Aku menyelesaikan potongannya dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.
Waktu selesai, aku mengambil cermin kecil dari meja mesin dan menyerahkannya. Dia melihat sebentar, lalu menaruhnya menghadap ke bawah.
“Makasih.”
“Kamu belum lihat.”
“Udah.”
“Dua detik doang.”
“Cukup.”
Dan di situ, di antara “cukup” dan langkahku ke pintu, ada satu ruang kosong yang aku ingat setiap hari sampai sekarang.
Karena di ruang kosong itu, aku hampir mengatakannya.
Aku sudah menyusun kalimatnya. Dia ada di mulutku, utuh, lengkap: Har, aku harus ngomong sesuatu. Ini semua ada awalnya, dan awalnya jelek, dan aku mau kamu denger dari aku.
Aku bahkan sudah menarik napas.
Yang menghentikanku bukan takut.
Yang menghentikanku adalah pikiran yang terdengar sangat masuk akal, dan sampai hari ini aku masih belum bisa memutuskan apakah itu benar atau cuma cara paling licik untuk tidak melakukan hal yang sulit:
Kalau aku bilang sekarang, taruhannya balik ke Vania.
Kalau balik ke Vania, dia bakal dihancurin dengan cara yang jauh lebih kejam, dan aku nggak akan ada di situ buat nahan.
Jadi aku harus tetap di sini. Justru karena aku sayang.
Kamu lihat betapa rapinya itu?
Aku menyusun alasan untuk terus berbohong, dan aku menyusunnya dari bahan yang paling bagus yang aku punya.
“Har.”
“Iya.”
“Besok orang-orang bakal ngeliatin kamu.”
“...Iya.”
“Kamu takut?”
“Iya.”
Dia menjawabnya cepat sekali. Tanpa jeda, tanpa “nggak apa-apa”, tanpa satu pun perisai yang biasa dia pakai.
Dan itu membuatku sadar bahwa dia sudah memikirkan besok jauh lebih lama daripada aku.
“Kalau kamu nggak mau, aku bisa—”
“Udah dipotong, Nay.”
“Bisa aku tutupin pakai topi.”
“Sekolah nggak boleh pakai topi.”
“Ya aku urus.”
“Nay.” Dia tersenyum. Kecil, dan cuma sebentar, tapi itu senyum pertama yang aku lihat di wajah yang lengkap. “Udah, nggak apa-apa.”
“Itu jawaban nomor satu.”
“Iya.”
Aku mengambil tasku. Aku menyampirkannya di bahu kanan, karena sudah dua minggu ini aku memindahkannya ke kanan dan aku belum pernah menjelaskan kepada siapa pun kenapa.
“Aku janji,” kataku, “aku nggak akan bikin kamu malu.”
Dia mengangguk sekali.
“Iya,” katanya.
Sekar mengantarku sampai pagar sambil membawa buku tulisnya.
“Kak Kanaya.”
“Hm?”
“Kakak bakal dateng lagi?”
“Insya Allah.”
“Berapa hari sekali?”
“Nggak tahu.”
“Kalau aku catat, nanti ketahuan polanya.” Dia menulis sesuatu. “Kata Kak Hari, kalau sesuatu rusak di tempat yang sama terus, berarti bukan barangnya yang salah.”
“Terus apa yang salah?”
Sekar mengangkat wajahnya.
“Cara makainya,” katanya.
Aku pulang jalan kaki sampai halte, dan aku memikirkan kalimat anak umur sembilan tahun itu jauh lebih lama daripada yang pantas.
Aku pulang dengan perasaan yang aku kira namanya lega.
Delapan belas hari lagi.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain reading
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup