← Garansi Seumur Hidup

Chapter Thirty One

Panggilan Baru

[POV: Hari] · [Hari ke-195]


Hari Senin pagi aku berdiri di gerbang jam enam lima belas dan menyadari bahwa aku tidak punya prosedur untuk ini.

Aku punya prosedur untuk hampir semua hal. Cara masuk kelas supaya tidak ada yang menoleh. Cara menolak tawaran tanpa membuat orang tersinggung. Cara berdiri di kantin selama dua puluh menit tanpa terlihat sedang tidak punya teman.

Aku tidak punya prosedur untuk berjalan masuk ke sekolah bersama seseorang yang hari Sabtu lalu duduk di lantai ruang tengah rumahku.

“Pagi.”

“Pagi.”

Kami berdiri di gerbang.

“Har.”

“Hm.”

“Kamu jalannya jangan satu setengah meter.”

“Ini normal.”

“Ini jarak orang antre.”

“Nay—”

“Satu meter.”

“Itu banyak banget.”

“HARI, ITU SETENGAH METER LEBIH DEKET.”


Kelas tahu dalam empat menit.

Aku tidak mengumumkan apa-apa. Kanaya juga tidak. Kami masuk dengan jarak satu meter — aku menghitungnya, dan itu memang jarak yang wajar, dan aku tetap merasa seperti berjalan telanjang.

Yang mengumumkan adalah Regita.

“YA AMPUN.”

“Regit—”

“YA AMPUN.”

“Regita, kamu belum tahu apa-apa.”

“AKU TAHU DARI MUKA KALIAN.”

Dia berdiri di atas kursinya. Di atas kursi. Jam setengah tujuh pagi.

“AKU TAHU DARI MUKA KAK HARI—”

“Aku bukan kakakmu.”

“—YANG BIASANYA KAYAK PAPAN TULIS SEKARANG KAYAK PAPAN TULIS YANG ABIS DIHAPUS.”

Fikri, dari mejanya, tanpa mengangkat kepala:

“Itu deskripsi terbaik yang pernah gue denger.”


Nadine tidak berteriak.

Dia menghampiri meja Kanaya jam istirahat pertama, duduk di kursi kosong di depannya, dan berkata satu hal yang aku dengar dari mejaku di dekat pintu karena kelas kebetulan sedang sepi:

“Nay.”

“Hm?”

“Kamu bilang ke dia soal yang bulan September?”

“Yang mana?”

“Yang kamu nangis di kamar mandi rumahmu.”

Kanaya diam sebentar.

“Udah,” katanya. “Hari ketiga puluh hari.”

“Semuanya?”

“Semuanya, Nad. Termasuk bagian yang jelek.”

Nadine mengangguk pelan.

“Bagus,” katanya. “Soalnya kalau kamu simpen satu aja, nanti kamu bakal nyimpen dua.”

Aku menunduk ke bukuku dan pura-pura tidak mendengar, dan aku memikirkan kalimat itu sepanjang jam pelajaran ketiga.


Bagas datang ke mejaku jam sepuluh, di jam kosong.

Aku sudah menyiapkan diri sejak hari Sabtu malam. Aku menyiapkan tiga kalimat, dan ketiganya jelek, dan aku tahu ketiganya jelek, dan aku tetap menghafalnya karena tidak ada yang lebih baik.

Dia berdiri di depan mejaku dengan bola basket di tangan.

“Har.”

“Bagas, aku—”

“Aku duluan.”

Aku menutup mulut.

“Aku suka Kanaya dari kelas sepuluh semester dua,” katanya. “Aku bilang ke dia bulan Juni. Ditolak. Jelas banget, nggak digantung.”

“Gas—”

“Aku belum selesai.” Dia memantulkan bolanya sekali. “Aku cerita sekarang biar kamu denger dari aku, bukan dari orang lain terus jadi aneh.”

Kelas itu ribut seperti biasa. Tidak ada yang memperhatikan kami.

“Aku nggak marah sama kamu,” katanya. “Dan aku nggak akan pura-pura aku nggak apa-apa, karena aku nggak apa-apa nanti, bukan sekarang.”

“Iya.”

“Jadi kalau aku agak jaga jarak dua-tiga bulan, itu bukan karena aku benci.”

“Iya, Gas.”

“Itu karena aku lagi ngerjain sesuatu.”

Dia sudah setengah berbalik waktu aku memanggilnya.

“Bagas.”

“Hm?”

Aku memegang pulpenku terlalu erat.

“Kancing blazer kamu bulan April,” kataku.

Bagas berhenti.

“Aku tahu,” katanya.

“Aku tahu kamu tahu.”

“Aku nggak bilang makasih.”

“Iya. Aku merhatiin.”

Dia berdiri membelakangi aku selama beberapa detik.

“Aku nyimpen,” katanya. “Aku bakal bilang makasih pas aku udah bisa ngelakuin sesuatu yang setara.”

“Gas, itu dua kancing.”

“Har.” Dia menoleh. “Itu bukan dua kancing.”

Dan dia pergi ke lapangan, dan aku duduk di mejaku dekat pintu, dan aku tidak bisa mengerjakan apa pun selama sisa jam kosong itu.


Vania menghentikanku di koridor hari Selasa.

“Selamat.”

“...Makasih.”

“Aku nggak lagi baik.”

“Aku tahu.”

“Bagus.” Dia menyandarkan bahunya ke tembok. “Aku cuma mau ngomong satu hal terus abis itu kita nggak usah ngobrol lagi selama sisa SMA.”

“Oke.”

“Kalau dia ngelakuin itu lagi, kamu jangan diem tiga puluh hari.”

Aku menoleh.

“Aku serius.” Wajahnya sama sekali tidak lucu. “Kamu diem tiga puluh hari karena kamu pikir itu murah hati. Itu bukan murah hati, Har. Itu kamu ngasih orang izin buat terus.”

“Nay udah—”

“Aku tahu dia udah.” Vania berdiri tegak. “Aku ngomongin kamu.”

Dia berjalan pergi.

Dan aku berdiri di koridor memikirkan bahwa satu-satunya orang di sekolah ini yang mengatakan hal paling benar kepadaku dalam enam bulan terakhir adalah orang yang memulai semuanya.


Masalahnya muncul hari Rabu.

“Har.”

“Hm?”

“Kamu manggil aku apa?”

Aku mengangkat kepala dari bukuku.

“Nay.”

“Itu dari dulu.”

“Iya.”

“Har.”

“Iya?”

“Aku manggil kamu ‘Har’ dari dulu juga.”

“Iya.”

Kanaya menaruh pulpennya dan menghadap ke arahku dengan cara yang aku kenali dari enam bulan menonton dia memimpin rapat panitia.

“Jadi nggak ada yang berubah,” katanya.

“Kita duduk lebih deket.”

“HARI.”


Aku mau menjelaskan kenapa ini jadi masalah besar selama tiga hari, karena kalau tidak dijelaskan, ini kelihatan konyol.

Ini memang konyol.

Tapi begini: aku tidak punya satu pun kata sayang di dalam mulutku.

Bukan malu. Bukan gengsi. Betul-betul tidak ada.

Di rumahku, orang tidak memanggil orang dengan kata-kata seperti itu. Ibu memanggilku “Har”. Ayah memanggilku “Har”. Sekar memanggilku “Kak Hari” kalau sedang butuh sesuatu dan “Kak” kalau tidak.

Kalau ibu sayang, ibu menambah nasi ke piringmu tanpa bertanya.

Itu bahasanya. Itu satu-satunya bahasa yang aku punya.

Dan sekarang ada orang yang duduk di sebelahku dan ingin dipanggil sesuatu, dan aku membuka mulut dan yang keluar cuma “Nay”, dan aku bisa melihat wajahnya yang berusaha keras untuk tidak kelihatan kecewa, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia kecewa terang-terangan.

Aku bertanya ke Sekar hari Rabu malam.

Itu kesalahan.

“Sekar.”

“Hm?”

“Orang manggil pacarnya apa?”

Sekar menjatuhkan susu kotaknya.

“KAK—”

“Pelan-pelan.”

“KAK HARI PUNYA—”

“Sekar, pelan.”

“IBU—”

“SEKAR.”

Dia menutup mulutnya dengan dua tangan, matanya berbinar, dan dia duduk di lantai ruang jahit dengan kecepatan orang yang sadar dia baru saja dapat tugas paling penting seumur hidupnya.

“Oke,” katanya. “Oke oke oke. Aku punya beberapa.”

“Sekar—”

“Sayang.”

“Enggak.”

“Beb.”

“Sekar.”

“Yang.”

“Itu bukan kata.”

“Itu kata, Kak. Itu di TV.”

“Sekar, itu potongan kata.”

“Ya tapi orang pakai.” Dia menghitung dengan jari. “Terus ada ‘bunda’.”

Aku menaruh jarum.

“Sekar, itu buat ibu.”

“Kata Bude Sri ada yang pakai.”

“Bude Sri nonton apa sih.”

Ibu, dari ruang tengah, tanpa menoleh dari mesinnya:

“Har, panggil aja namanya.”

“Bu—”

“Bapakmu manggil ibu ‘Ratih’ sampai hari terakhir,” katanya. “Nggak pernah lain.”

“Nggak pernah, Bu?”

Mesin itu berhenti sebentar.

“Sekali,” katanya. “Waktu ibu ngelahirin kamu.”

“Manggil apa?”

Ibu menjalankan mesinnya lagi.

“Nggak usah tahu,” katanya. “Nanti kamu tiru.”


“Gue punya solusi.”

“Fik, kamu nggak tahu masalahnya.”

“Gue tahu semuanya, Har. Gue duduk tiga meter dari kalian dan kalian berdua nggak bisa bisik-bisik.”

Fikri menaruh HP-nya di meja, menghadap ke bawah, yang berarti serius.

“Di game,” katanya, “kalau lo dapet karakter, lo bisa ganti namanya.”

“Fik—”

“Tunggu. Ini ada poinnya.” Dia mengangkat satu jari. “Tapi orang jarang ganti. Tau kenapa?”

“Kenapa.”

“Karena nama defaultnya udah keburu jadi nama dia di kepala lo.” Dia mengambil HP-nya lagi. “Lo manggil dia ‘Nay’ dari hari pertama. Gue manggil dia ‘Nay’. Semua orang manggil dia ‘Nay’.”

“Terus?”

“Terus masalahnya bukan namanya, Har.”

“Terus apa?”

Fikri menggulir layarnya.

“Masalahnya lo pengen ngasih dia sesuatu yang cuma dia yang punya,” katanya, “dan lo pikir itu harus berupa kata.”


Aku memikirkan itu sepanjang hari Kamis.

Dan hari Jumat pagi, di kelas, Kanaya meminjam HP-ku untuk mengecek jadwal try out karena HP-nya lowbat.

Aku menyerahkannya tanpa berpikir.

Dan dua menit kemudian dia berhenti bergerak.

“Har.”

“Hm?”

“Aku disimpen apa di HP kamu?”

Aku merasakan seluruh darah di tubuhku pindah ke tempat lain.

“Nay, itu—”

“Hari.”

Dia memutar layarnya ke arahku.

Kanaya L 11 IPA 3 — seragam, bahu — 12/5


“Aku bisa jelasin.”

“Jelasin.”

“Aku nyimpen kontak pakai format buku catatan.”

“...Semua orang?”

“Semua orang.”

Dia mengambil HP-ku lagi dan menggulir daftar kontaknya, dan aku duduk di mejaku sambil ingin sekali menjadi orang lain.

Bu Ningsih — kebaya, resleting — 14/3
Pak Darto — celana kerja, kelim — 2/4
Fikri — (—) — 12/7
Bagas M — kancing blazer, 2 — 30/4

“Fikri kolomnya kosong.”

“Fikri nggak pernah rusak apa-apa.”

“Terus kenapa disimpen?”

“Karena dia temenku.”

Kanaya menaruh HP itu di meja dengan sangat pelan.

“Har.”

“Iya.”

“Ini disimpen bulan Mei.”

“Iya.”

“Tanggal dua belas Mei.”

“Iya.”

“Itu tanggal kamu jahitin label garansi.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu nyimpen nomorku hari itu,” katanya. “Kamu nyimpen nomorku pas kamu udah tahu semuanya.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku mengatakan yang sebenarnya, karena aku sudah berjanji tidak ada lagi yang dikerjakan diam-diam, dan ternyata perjanjian itu juga berlaku untuk kalimat.

“Karena aku pikir bulan depan aku nggak akan punya alasan buat nyimpen,” kataku. “Jadi aku simpen selagi masih ada.”


Dia tidak bicara selama sisa jam pelajaran.

Aku pikir aku merusak sesuatu.

Waktu bel istirahat, dia mengambil HP-ku lagi tanpa bertanya, mengetik selama mungkin satu menit, lalu menaruhnya kembali di mejaku dengan layar menghadap ke atas.

Kanaya L — (—) — mulai 12/5

Kolom barangnya kosong.

Dan tanggalnya diganti jadi mulai.

“Aku nggak ganti nama,” katanya. “Namanya udah bener.”

“Nay—”

“Aku cuma ngosongin kolomnya.” Dia menyampirkan tasnya. “Karena aku bukan barang rusak yang kamu benerin, Har. Aku juga bukan pekerjaan yang selesai.”

“Terus kamu apa?”

Kanaya berhenti di sebelah mejaku.

“Aku yang belum selesai,” katanya. “Sama kayak kamu.”


Aku menunjukkannya ke Fikri di kantin.

Dia melihat layarnya sekitar tiga detik.

“Nah.”

“Apanya nah.”

“Itu yang gue maksud kemarin.” Dia mengembalikan HP-ku. “Lo nggak butuh kata baru, Har. Lo udah punya satu format yang cuma lo yang punya, dan dia masuk ke situ.”

“Fik, itu format buku pesanan.”

“Iya.”

“Itu nggak romantis.”

Fikri menyedot es tehnya.

“Har, lo nyimpen dia di daftar yang isinya orang-orang yang lo kerjain diem-diem selama dua tahun tanpa dibayar,” katanya. “Itu daftar paling romantis yang pernah gue liat, dan lo bikin itu pake nada suara orang nyatet stok.”

Aku tidak punya jawaban.

“Lagian,” lanjutnya, “gue di situ kolomnya kosong dari Juli.”

“Iya.”

“Berarti gue lebih dulu.”

“Fik.”

“Gue senior.”


Sore itu kami jalan ke halte.

Satu meter. Aku menghitungnya sekali, lalu berhenti menghitung, lalu menyadari sekitar seratus meter kemudian bahwa jaraknya sudah bukan satu meter.

“Har.”

“Hm.”

“Kamu tetep manggil aku Nay, ya.”

“Iya.”

“Selamanya.”

“Iya.”

“Aku juga tetep manggil kamu Har.”

“Oke.”

Dia diam beberapa langkah.

“Har.”

“Hm?”

“Kamu tahu nggak kenapa aku nggak mau kamu manggil aku ‘sayang’?”

“Karena aneh.”

“Bukan.” Dia menendang batu kecil di trotoar. “Karena kalau kamu manggil aku ‘sayang’, kamu manggil aku pakai kata yang dipakai jutaan orang.”

“Terus?”

“Terus ‘Nay’ itu dipakai sepuluh orang,” katanya. “Dan cuma satu yang nyimpen nomorku sambil mikir bulan depan nggak akan punya alasan.”

Aku memindahkan tas ke bahu satunya dan tidak menjawab, karena kalau aku menjawab suaraku akan aneh.

“Tapi ada satu yang aku mau,” katanya.

“Apa?”

“Kalau kamu lagi mau bilang sesuatu yang susah,” katanya, “kamu bilang namaku dua kali.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Biar aku tahu harus dengerin baik-baik.” Dia mengangkat bahu. “Kamu kan nggak bisa ngomong panjang. Ya udah, sistemnya gitu aja.”

Aku memikirkan itu sampai halte.

“Nay.”

“Hm?”

“Nay.”

Dia berhenti.

“Iya, Har?”

Dan aku berdiri di halte jam empat sore, hari Jumat, dengan tas di bahu dan orang di sebelahku, dan aku mengucapkan sesuatu yang sudah aku pikirkan sejak hari Sabtu dan tidak tahu bagaimana mengucapkannya.

“Aku seneng,” kataku.

Cuma itu.

Dua kata, dan aku bahkan tidak bisa menyambungnya dengan objek, karena kalimat itu akan jadi terlalu panjang untuk mulutku.

Kanaya menatapku beberapa detik.

Lalu dia menggenggam tanganku di halte umum, di depan enam orang yang menunggu bus, dan berkata:

“Sistemnya jalan.”