Chapter Four
Bunyi yang Salah
[POV: Hari] · [Hari ke-4]
“Nggak mungkin.”
Kanaya membentangkan roknya di depan jendela untuk yang keempat kali, memutarnya, dan mengangkatnya lebih tinggi supaya kena cahaya.
“Nay, itu emang roknya yang lain kali,” kata Nadine.
“Aku cuma punya dua. Yang satu di rumah.”
“Ya berarti kamu kebawa yang di rumah.”
“Aku nggak pulang dulu kemarin, Nad. Aku dari lab langsung rapat, terus langsung pulang.”
Kanaya membalik kainnya. Menjalankan ibu jarinya sepanjang bagian yang kemarin robek. Pelan sekali, seperti orang yang mencari retak di gelas.
Aku menunduk ke buku dan menulis nomor satu sampai nomor sepuluh di halaman kosong, karena tanganku butuh pekerjaan.
“Nggak ada,” katanya. “Nggak ada apa-apa. Nggak ada jahitan, nggak ada bekas, nggak ada—”
“Jin,” kata Regita dari meja belakang.
“Regit.”
“Serius. Sekolah ini kan bekas rumah sakit—”
“Itu hoaks yang dibikin kakak kelas buat nakutin anak baru,” kata Vania, tanpa mengangkat kepala dari HP-nya. “Nay, kamu tidur jam berapa kemarin?”
“Jam satu.”
“Nah.”
“Van, aku inget robeknya. Aku bahkan inget bentuknya. Kayak huruf L.”
Pulpenku berhenti di angka tujuh.
Kalau kamu bertanya kenapa aku tidak bicara saat itu — kenapa aku tidak angkat tangan dan bilang itu aku, kemarin, tiga jam, tanganku sampai kram di jari tengah — jawabannya bukan karena aku takut ditertawakan.
Jawabannya karena kalau aku bicara, ceritanya berubah pemilik.
Sekarang ini adalah cerita tentang rok yang sembuh sendiri, dan itu miliknya. Kalau aku bicara, ini jadi cerita tentang aku, dan setiap orang di ruangan ini harus memutuskan bagaimana perasaan mereka tentang itu.
Aku belum pernah menang di ruangan yang harus memutuskan bagaimana perasaan mereka tentang aku.
“Ya udah, aku cari tahu,” kata Kanaya akhirnya, melipat roknya dengan gerakan tegas. “Nggak mungkin nggak ada yang tahu.”
“Cari tahu gimana?” tanya Nadine.
“Kelas ini isinya tiga puluh dua orang. Yang kemarin masih di sekolah setelah jam empat ada sembilan. Aku tanya satu-satu.”
“Nay.”
“Apa?”
“Kamu tuh kadang serem.”
“Aku cuma nggak suka ada yang aku nggak tahu.”
Bagas menoleh dari mejanya. “Butuh bantuan, Nay? Aku bisa tanyain anak basket. Kemarin kami latihan sampai setengah lima.”
“Boleh. Makasih, Gas.”
“Siap!” Bagas mengacungkan jempol, lalu — entah kenapa, entah dengan logika apa — memutar jempolnya ke arahku. “Har, kamu kemarin masih di sekolah nggak?”
Seluruh kepala di barisan depan menoleh.
Ada momen di mana tubuhmu memutuskan sesuatu sebelum kepalamu sempat ikut rapat.
“Pulang,” kataku.
“Jam berapa?”
“Habis bel.”
“Oke!” Bagas kembali ke mejanya. “Berarti bukan kamu.”
“Bukan,” kataku.
Dan itu bohong pertamaku kepada Kanaya Larasati, walaupun waktu itu aku belum menganggapnya bohong. Aku menganggapnya menutup lipatan.
Dia bilang itu sambil menoleh ke seluruh kelas, menyapu satu per satu, dan tatapannya lewat di atasku seperti angin lewat di atas rumput.
Aku sempat merasa aman selama kurang lebih empat jam.
Jam enam lima belas keesokan— bukan, hari itu juga, jam istirahat pertama.
Aku sedang berdiri di belakang kantin, di tempat yang tidak punya nama dan tidak punya fungsi selain menjadi tempat untuk tidak ada di mana-mana, waktu ada yang menyodorkan es teh ke arahku.
“Yang manisnya setengah, kan?”
Aku menatap gelasnya. Lalu menatap Kanaya.
“...Iya.”
“Nah.” Dia duduk di tepi tembok rendah di sebelahku, tanpa menunggu diajak, dan membuka es tehnya sendiri. “Kemarin aku lihat kamu nyisihin gula sachet-nya.”
“Kamu lihat?”
“Aku lihat banyak hal.” Dia menyedot. “Itu bukan kelebihan, itu penyakit.”
Aku memegang gelas itu tanpa meminumnya.
Ini bagian yang harus aku jelaskan pelan-pelan, karena kalau diucapkan cepat bunyinya seperti orang yang tidak tahu diri.
Aku senang.
Aku sangat, sangat senang. Ada tembok rendah di belakang kantin dan ada seseorang duduk di ujung yang lain, dan gelas di tanganku hangat di bagian bawah karena esnya sudah mulai kalah, dan untuk pertama kalinya dalam entah berapa lama, waktu istirahat terasa terlalu pendek, bukan terlalu panjang.
Tapi di bawah semua itu ada bunyi.
Bunyi yang tidak pada tempatnya.
“Kamu tinggal di daerah mana?” tanyanya.
“Gang Melati. Belakang pasar.”
“Jauh?”
“Dua puluh menit jalan kaki.”
“Kamu jalan kaki tiap hari?”
“Iya.”
“Nggak capek?”
“Udah biasa.”
“Itu bukan jawaban.” Dia menoleh. “Aku nanya capek atau enggak, bukan biasa atau enggak.”
Aku diam.
Tidak ada yang pernah menangkap perbedaan itu sebelumnya.
“Capek,” kataku akhirnya. “Kalau pulangnya bawa kerjaan.”
“Kerjaan apa?”
Dan di situ bunyinya jadi jelas.
Bukan karena pertanyaannya. Pertanyaannya wajar. Semua pertanyaannya wajar.
Yang tidak wajar adalah kecepatannya. Empat hari. Empat hari dari orang yang tidak tahu namaku ke orang yang tahu aku menyisihkan gula sachet.
Kain punya kecepatan. Kalau kamu menarik benang terlalu cepat di satu titik, kainnya berkerut. Persahabatan juga punya kecepatan, dan yang ini berkerut.
“Bantuin ibuku,” kataku. “Jahit.”
“Ibumu penjahit?”
“Iya.”
“Berarti kamu bisa jahit, dong?”
Aku meminum es teh itu supaya tidak perlu langsung menjawab.
“Dikit,” kataku.
Sepulang sekolah dia menahanku di pintu kelas.
“Hari. Sepuluh menit doang.”
“Ha?”
“Nempelin nomor di kartu peserta.” Dia sudah menaruh dua tumpuk kertas di meja depan sebelum aku sempat menyusun penolakan. “Ada dua ratus. Kalau sendirian aku pulang jam enam.”
“Yang lain?”
“Regita ada les. Nadine dijemput. Vania—” dia berhenti sebentar, “—Vania nggak suka kerjaan yang nggak ada orangnya.”
Aku menaruh tasku.
Sepuluh menit itu jadi lima puluh menit.
Bukan karena kerjanya lama. Karena kami mengerjakannya dengan sistem yang salah selama dua puluh menit pertama, sampai aku tidak tahan dan memindahkan tumpukannya.
“Jangan satu-satu. Susun sepuluh, geser miring, terus tempel dari bawah ke atas.”
“Kenapa dari bawah?”
“Biar tangan kamu nggak nutupin nomor berikutnya.”
Kanaya mencobanya. Sepuluh kartu selesai dalam waktu yang tadi dipakai untuk empat.
Dia menatap tumpukan itu, lalu menatapku, dengan ekspresi orang yang baru saja dirampok.
“Kamu tuh dari tadi tahu?”
“...Iya.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi?”
“Kamu lagi ngerjain.”
“Terus?”
“Kalau orang lagi ngerjain sesuatu terus dibilangin caranya salah, biasanya dia nggak seneng.”
Kanaya meletakkan spidolnya.
“Hari.”
“Iya.”
“Bilangin aja. Aku nggak akan marah.”
“...Oke.”
“Janji?”
“Iya.”
“Kamu bilang ‘iya’ dengan nada orang yang nggak akan ngelakuin.”
“...Iya.”
Dia tertawa. Bukan tawa yang disiapkan, bukan tawa yang dipakai di depan kelas. Tawa yang keluar setengah lewat hidung, pendek, agak jelek.
Aku memutuskan bahwa itu adalah tawa yang paling bagus yang pernah aku dengar, dan aku memutuskan itu dengan sadar dan dengan penuh tanggung jawab.
Jam setengah lima kami selesai.
Dia merapikan tasnya, menyampirkannya di bahu kiri — selalu kiri — lalu berhenti di ambang pintu.
“Makasih, ya. Beneran.”
“Nggak apa-apa.”
“Besok bisa lagi?”
“Bisa.”
“Oke.”
Lalu setengah detik itu datang.
Dia sudah selesai bicara. Badannya sudah setengah berbalik. Dan di antara kalimat terakhirnya dan langkah pertamanya, matanya bergerak — cepat, hampir tidak ada — ke arah meja belakang sebelah kanan.
Meja itu kosong. Semua orang sudah pulang.
Dia tetap melihat ke sana.
Lalu dia pergi.
Aku berdiri di kelas yang kosong selama mungkin dua menit, memegang tas yang belum aku sampirkan, sambil merasakan sesuatu yang persis seperti waktu kamu menjahit satu jam penuh lalu membalik kainnya dan sadar seluruh jalurmu masuk ke lipatan yang salah.
“Har.”
“Hm.”
“Aku mau nanya sesuatu dan aku mau kamu nggak marah.”
Fikri menaruh HP-nya menghadap ke bawah untuk kedua kalinya dalam tiga hari. Aku mulai curiga ada yang salah dengan alam semesta.
“Kenapa?”
“Kanaya deketin kamu.”
“Dia cuma pindah duduk.”
“Har, dia beliin kamu es teh.”
“Itu—”
“Dan dia tahu manisnya setengah.”
Aku memutar-mutar sedotan di gelas.
“Terus?”
Fikri menggaruk belakang lehernya. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia kelihatan seperti orang yang sedang memilih kata.
“Nggak apa-apa,” katanya akhirnya. “Bagus, kok.”
“Fik.”
“Serius. Bagus.”
“Kamu nggak pernah bilang sesuatu bagus.”
“Ya sekarang aku bilang.” Dia mengambil HP-nya lagi. “Cuma... Har. Kalau tiba-tiba ada event yang hadiahnya kegedean buat effort yang segitu doang, biasanya bukan berarti kamu lagi hoki.”
“Terus artinya apa?”
“Artinya ada yang lagi dites.”
Layarnya menyala. Bintang-bintang berputar lagi.
“Bukan kamu yang dites, biasanya,” tambahnya. “Kamu cuma servernya.”
Aku menatap gelas es teh yang sudah kosong.
“Fik.”
“Hm.”
“Kalau kamu tahu ada event yang aneh, kamu ikut nggak?”
“Ikut.”
“Kenapa?”
“Karena hadiahnya tetep beneran.” Fikri menggulir layarnya. “Item-nya masuk ke inventory. Nggak peduli event-nya dibikin buat mancing duit atau enggak, barangnya tetep punya kamu.”
“Terus kalau event-nya selesai?”
“Ya selesai.”
“Barangnya ilang?”
Fikri berhenti menggulir.
“Enggak,” katanya. “Barangnya nggak ilang. Cuma nggak nambah lagi.”
Kami tidak bicara apa-apa lagi sampai bel.
Aku ingin mencatat bahwa waktu itu aku belum tahu apa-apa. Aku cuma mendengar bunyi. Tapi ada bagian dari diriku yang sudah mulai berhitung, dan aku ingin sekali bisa kembali ke tembok belakang kantin itu dan menyuruh diriku sendiri berhenti berhitung.
Pulang sekolah, aku menghitung tiga hal.
Hal pertama: dalam empat hari, Kanaya menghampiriku enam kali. Enam. Aku menghitungnya karena aku menghitung segala sesuatu — jumlah kancing, jumlah pulpen, jarak siku. Enam kali dalam empat hari itu bukan pertemanan. Itu jadwal.
Hal kedua: setiap kali dia selesai bicara denganku, ada jeda kecil sebelum dia berjalan pergi. Setengah detik. Dan di setengah detik itu, matanya bergerak ke meja belakang sebelah kanan.
Sekali bisa kebetulan. Enam kali adalah kebiasaan. Dan kebiasaan selalu punya penyebab.
Hal ketiga — dan ini yang paling keras bunyinya —
Tidak ada yang bertanya.
Itu yang aneh.
Kalau anak paling populer di kelas tiba-tiba pindah duduk ke sebelah orang paling tidak kelihatan, seharusnya ada yang bertanya. Seharusnya ada yang menggoda. Seharusnya, minimal, ada satu anak cowok yang meneriakkan sesuatu yang tidak lucu dari seberang kelas.
Tidak ada.
Kelas ini menerima kejadian itu dengan tenang, seperti orang yang sudah membaca sinopsisnya.
Ruangan tidak bertanya kalau ruangan sudah punya jawabannya.
Malam itu aku tidak menjahit apa-apa.
Aku duduk di depan mesin ayah dengan lampu meja menyala dan tidak ada satu pun kain di atasnya, yang menurut ibuku adalah tanda paling buruk.
Karena aku sedang mengingat sesuatu yang sudah lama sekali tidak aku izinkan naik ke permukaan.
Kelas sembilan. Bulan Februari. Kertas lipat warna biru muda di dalam laci mejaku, ditulis dengan tulisan tangan yang bagus sekali, huruf-hurufnya bulat dan rapi.
Nanti pulang sekolah ke belakang perpus ya. Aku tunggu.
Aku ingat aku membacanya empat kali. Aku ingat aku memasukkannya ke saku dan mengeluarkannya lagi di kamar mandi untuk memastikan namanya benar. Aku ingat aku pulang lebih cepat malam sebelumnya untuk menyetrika seragamku sendiri, karena aku pikir itu penting.
Aku ingat aku menunggu empat puluh menit.
Aku tidak akan menceritakan bagian setelah itu. Bukan karena terlalu berat. Karena terlalu kecil. Kalau diceritakan, orang akan bilang cuma gitu doang?
Iya. Cuma gitu doang.
Yang aku ingat paling jelas justru bukan tawanya. Yang aku ingat adalah bunyi sandal yang berhenti di ujung koridor, lalu berbalik, lalu menjauh — dan aku, yang masih berdiri di sana selama beberapa detik setelahnya, masih berpikir bahwa mungkin mereka cuma pindah tempat.
Empat puluh menit itu terbagi dua. Tiga puluh delapan menit pertama aku menunggu dengan bahagia.
Itu bagian yang tidak pernah aku ceritakan ke siapa-siapa. Bukan dua menit terakhirnya. Tiga puluh delapan menit itu.
Dan tetap saja, sejak hari itu, poniku tidak pernah aku potong lagi lebih pendek dari alis.
Yang aku pelajari dari kejadian itu bukan bahwa orang jahat. Anak-anak kelas sembilan itu tidak jahat; mereka cuma bosan. Yang aku pelajari adalah bahwa aku tidak bisa membedakan.
Aku bisa membedakan kancing yang mau lepas dari kancing yang sehat dari tiga meja jauhnya. Aku bisa mendengar kain menyerah setengah detik sebelum robek.
Tapi aku tidak bisa membedakan orang yang baik padaku dari orang yang sedang mengerjakan sesuatu padaku.
Jadi aku membuat aturan. Aturannya sederhana: jangan pernah cukup dekat untuk perlu membedakan.
Empat tahun aturan itu berjalan lancar.
“Kak.”
Sekar bersandar di kusen pintu, memeluk bantalnya seperti biasa.
“Kok nggak ngapa-ngapain?”
“Lagi mikir.”
“Mikirin apa?”
“Bunyi.”
“Bunyi apa?”
Aku mematikan lampu meja.
“Nggak tahu,” kataku. “Itu masalahnya.”
Sekar menguap, lalu berkata dengan nada orang yang menyampaikan ramalan cuaca, “Kata Ibu besok hujan gede.”
“Ya.”
“Kakak bawa payung, ya.”
“Payungnya rusak.”
“Yang item?”
“Yang item patah dua jeruji, terus kainnya lepas dari ujungnya.”
“Kakak kan bisa benerin.”
“Bisa.”
“Ya udah benerin.”
“Besok aja.”
Sekar menatapku agak lama untuk anak umur sembilan tahun, dengan bantal masih menempel di pipinya.
“Kak,” katanya. “Kakak selalu benerin punya orang duluan.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu, jadi aku menyuruhnya tidur, dan dia pergi sambil menyeret bantalnya di lantai supaya aku tahu dia tidak senang.
Aku berbaring di kasur lama sekali sebelum tidur.
Aku terus mengulang potongan kalimat Regita di kantin kemarin, memutarnya dari berbagai arah seperti kain yang dibalik di bawah lampu.
—kalau sampai tanggalnya nggak—
Tanggal apa.
Aku sudah pernah mendengar bunyi ini.
Hari keempat.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah reading
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup