← Garansi Seumur Hidup

Chapter Ten

Yang Selama Ini Disembunyikan

[POV: Hari] · [Hari ke-13]


Aku menghitung dua puluh tiga orang sebelum sampai ke kelas.

Dua puluh tiga orang yang menoleh lebih lama dari setengah detik. Aku tidak menghitung yang cuma lewat; aku menghitung yang berhenti, yang menoleh lagi, yang menyenggol temannya.

Jarak dari gerbang ke kelas seratus dua puluh meter.

Dua puluh tiga orang dalam seratus dua puluh meter adalah angka yang, kalau kamu terbiasa hidup di angka nol, terasa seperti seseorang menyalakan lampu sorot di wajahmu dan bertanya kenapa kamu menyipit.

Aku bertahan sampai pintu kelas.

Yang paling aneh bukan yang di sekolah.

Yang paling aneh terjadi di Gang Melati, jam setengah tujuh, waktu Bu Nur yang jualan gorengan memanggilku dengan nama yang salah.

“Mas, gorengannya—” Dia berhenti. “Har?”

“Iya, Bu.”

“Ya ampun.” Dia menepuk tangannya sendiri sekali. “Ibu kira anak kos yang baru.”

“Ini saya, Bu.”

“Ganteng kamu.”

“Nggak, Bu.”

“Nurut sama ibu-ibu, Nak. Kalau ibu-ibu bilang ganteng, itu udah keputusan.”

Aku membeli dua bakwan yang tidak aku butuhkan supaya percakapan itu punya ujung, dan aku berjalan ke sekolah sambil memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipikirkan sepanjang itu:

selama empat tahun, Bu Nur menjual gorengan kepadaku hampir setiap pagi.

Dan dia tidak pernah tahu bentuk wajahku.

Di pintu kelas, Fikri menghalangi jalanku.

“Maaf, ini kelas sebelas IPA tiga.”

“Fik.”

“Kamu nyari siapa?”

“Fikri.”

“Kamu—” Dia menyipit. Lalu matanya membesar sedikit, yang untuk Fikri setara dengan orang lain berteriak. “HAR?”

“Iya.”

“HAR.”

“Iya.”

“Ini kamu?”

“Fik, aku pakai tas yang sama, sepatu yang sama, dan aku ngomong pakai suara yang sama.”

“Iya tapi—” Dia mundur selangkah, melihatku dari atas ke bawah dengan wajah orang yang baru saja membuka kotak dan menemukan isinya salah. “Kamu ganteng.”

“Nggak usah gitu.”

“Har, ini bukan pujian. Ini keluhan.” Dia masuk kelas mendahuluiku. “Aku duduk sebelah kamu dua tahun. Kamu utang penjelasan.”


Aku mau menjelaskan sesuatu tentang dilihat.

Orang mengira anak yang tidak kelihatan itu ingin kelihatan. Itu masuk akal, dan itu salah.

Tidak kelihatan itu bukan hukuman. Itu tempat tinggal.

Kalau kamu tidak kelihatan, kamu tidak perlu punya reaksi. Kamu tidak perlu menyiapkan wajah untuk lorong, wajah untuk kantin, wajah untuk waktu guru memanggil namamu. Kamu tidak perlu memutuskan apa-apa. Kamu cuma perlu ada, dan itu murah sekali.

Begitu kamu kelihatan, semua orang berhak punya pendapat, dan kamu harus membayar sewa untuk wajahmu setiap hari.

Aku sudah menghitung ongkosnya semalam, sambil menyapu potongan rambutku sendiri dari lantai ruang jahit.

Aku memutuskan bahwa ongkosnya sepadan, karena tujuh belas hari itu tidak lama.

Aku memutuskannya dengan tenang.

Aku tidak siap dengan kenyataan bahwa memutuskan sesuatu dengan tenang tidak membuatnya lebih gampang dijalani.


“HAR!”

Aku tahu itu Bagas dari getaran lantainya.

“YA AMPUN.”

“Bagas—”

“Kamu— tunggu.” Dia memegang bahuku dengan dua tangan dan memutarku ke arah jendela seperti orang memeriksa kain di bawah cahaya. “Serius, ya. Ini serius. Kamu tuh dari dulu kayak gini?”

“Aku dari dulu punya muka.”

“Ya tapi kenapa ditutupin!”

“Nggak sengaja.”

“Empat tahun nggak sengaja?”

“Iya.”

Bagas menatapku beberapa detik.

Lalu, dan aku bersumpah aku tidak mengarang bagian ini, matanya berkaca-kaca sedikit.

“Har, aku seneng banget.”

“Bagas.”

“Enggak, serius.” Dia menepuk bahuku. “Aku sering mikirin kamu, tahu nggak. Kamu tuh selalu ngerjain apa-apa sendiri di pojok. Aku pengen ngajak tapi aku takut kamu risih.”

Aku tidak bisa menjawab itu.

Karena kalau dia menyombong, aku punya jawaban. Kalau dia mengejek, aku punya seluruh sistem.

Tapi dia mengaku bahwa selama dua tahun dia memikirkan aku, dan tidak melakukan apa-apa karena takut menggangguku, dan itu ternyata membuatku ingin duduk di lantai.

“Makasih,” kataku.

“Nah!” Bagas mengacungkan jempol. “Itu!”

“Gas.”

“Ya?”

“Kamu nggak ganggu, kok.”

Bagas berkedip.

“Dari dulu,” kataku. “Nggak pernah ganggu.”

Dia tidak menjawab selama dua detik penuh, yang untuk Bagas adalah keheningan terpanjang dalam sejarah.

Lalu dia kembali ke mejanya sambil mengusap mukanya sekali dengan lengan seragam, dan aku pura-pura tidak melihat, karena itu satu-satunya hal sopan yang bisa aku lakukan.

“Har, aku nggak akan ngelarang kamu jadi ganteng,” lanjut Fikri sambil menaruh tasnya. “Aku cuma mau kamu tahu konsekuensinya.”

“Konsekuensi apa.”

“Sekarang kalau kamu diem, orang nggak akan mikir kamu aneh. Orang bakal mikir kamu misterius.” Dia duduk. “Itu jauh lebih berbahaya.”

“Kenapa berbahaya?”

“Karena orang aneh dibiarin. Orang misterius diselidiki.”

Kanaya masuk lima menit kemudian.

Aku tahu persis kapan dia masuk, karena kelas berubah bunyinya — ada satu titik di mana empat orang berhenti bicara bersamaan, yang tidak pernah terjadi kecuali ada yang menjatuhkan sesuatu.

Dia berjalan ke mejanya. Menaruh tas. Duduk.

Lalu menoleh ke arahku.

Dan tidak berkata apa-apa selama kira-kira tiga detik.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak apa-apa.”

“Itu jawaban nomor satu.”

“Iya,” katanya. “Aku pinjem sebentar.”

Dia membuka bukunya dan mulai menulis, dan telinganya merah, dan aku memutuskan untuk tidak menyebutkan itu selama sisa hidupku.


Sisa paginya berjalan seperti ini:

Ada tiga anak perempuan dari kelas sebelah yang lewat depan pintu dua kali. Ada satu anak kelas sepuluh yang bertanya ke Fikri apakah aku murid baru. Ada Regita yang berteriak “YA ALLAH” dari meja belakang lalu tertawa lima belas detik penuh.

Dan ada satu kalimat yang aku dengar dari koridor, dari orang yang tidak aku kenal, yang diucapkan dengan nada paling biasa di dunia:

“Itu yang pacarnya Kanaya, kan?”

Aku tidak menoleh.

Aku duduk di mejaku dan membuka buku dan menulis tanggal di pojok kanan atas, dan tanganku menulis tanggalnya dengan sangat rapi karena tanganku tidak pernah gemetar untuk hal-hal yang bisa dikerjakan.

Aku tidak membantah.

Itu penting, dan aku ingin mencatatnya di sini supaya nanti tidak ada yang bisa bilang aku korban murni.

Aku mendengarnya, dan aku tidak membantah, dan sebagian kecil dari diriku — bagian yang seharusnya sudah aku matikan sejak kelas sembilan — merasa hangat.


“Hari.”

Aku mengangkat kepala.

Vania Alessandra berdiri di sebelah mejaku.

Ini kejadian pertama dalam dua tahun. Aku bisa mengatakan itu dengan pasti, karena hal-hal yang belum pernah terjadi itu mudah dihitung.

“Iya?”

“Boleh nanya?”

“...Boleh.”

“Kamu potong rambut karena Kanaya?”

Kelas tidak berhenti. Itu bagian yang penting. Vania bertanya dengan volume normal, tidak keras, tidak berbisik, dan tidak ada satu pun orang di ruangan ini yang merasa sedang terjadi sesuatu.

Aku menaruh pulpenku.

“Karena kepanjangan,” kataku.

“Udah kepanjangan dari dulu.”

“Iya.”

“Terus kenapa baru sekarang?”

Ada beberapa cara untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya bukan pertanyaan. Aku memilih yang paling murah.

“Ada yang nawarin gunting,” kataku.

Vania menatapku.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya — bukan kemenangan, bukan geli. Sesuatu yang lebih mirip orang yang sedang mengangkat kain ke arah cahaya dan menemukan jahitan yang tidak dia buat.

“Kamu lucu, ya,” katanya akhirnya.

“Nggak.”

“Enggak, aku serius.” Dia berbalik. “Kamu nggak segampang kelihatannya.”

Lalu dia kembali ke mejanya.

Aku duduk diam sekitar semenit.

Selama tiga belas hari aku pikir aku yang mengamati mereka.

Sore itu, waktu Kanaya pergi ke ruang OSIS, Nadine berhenti di sebelah mejaku sambil pura-pura mencari sesuatu di tasnya.

“Hari.”

“Iya?”

“Kamu... nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Bukan itu maksudku.” Dia menutup tasnya, lalu membukanya lagi, yang jelas cuma supaya tangannya punya kerjaan. “Maksudku kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita ke orang.”

“Cerita apa?”

“Apa aja.”

“Nadine.”

“Iya?”

Aku memandangi mejaku. Serat kayunya masih berjalan miring dari kiri atas ke kanan bawah. R + D masih ada.

“Kalau kamu nggak setuju sama sesuatu,” kataku, “kamu bisa nggak ikut.”

Nadine berhenti bergerak.

“Aku nggak ngerti maksudmu.”

“Nggak apa-apa.”

Dia pergi tanpa mengambil apa pun dari tasnya, dan aku tetap di mejaku, dan aku tahu aku baru saja melanggar aturanku sendiri untuk pertama kalinya.

Aturannya: jangan memancing. Jangan memberi kesempatan siapa pun untuk mengaku.

Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya.

Mungkin karena Nadine memegang botol minumnya dengan dua tangan setiap kali dia tidak nyaman, dan aku sudah menghitung berapa kali itu terjadi minggu ini, dan angkanya sembilan.


Yang aku tidak siapkan bukan tatapan orang.

Yang aku tidak siapkan adalah jam terakhir.

Pak Yudha membagi kelas jadi kelompok berlima untuk presentasi minggu depan, dan biasanya proses ini punya bentuk tetap: semua orang berdiri, semua orang bergerak, dan aku duduk di pojok belakang sampai ada kelompok yang kurang satu orang dan gurunya menunjuk aku.

Itu bukan penderitaan. Itu prosedur. Aku sudah menjalaninya belasan kali.

Hari itu, empat menit sebelum prosedur itu sempat berjalan, ada tangan yang menarik lengan seragamku.

“Hari sama kita.”

Kanaya. Lalu Nadine mengangguk. Lalu Bagas — entah dari mana — sudah menyeret kursinya.

“Boleh gabung nggak?”

“Kamu udah ada kelompok, Gas.”

“Ya udah aku pindah.”

“Kamu nggak bisa pindah gitu aja.”

“Bisa. Aku udah pindah.”

Dan begitu saja aku duduk di meja tengah, dengan empat orang, di ruangan yang berisik.

Ada yang berdebat soal siapa yang bikin PPT. Ada yang menuduh Bagas selalu bilang “aku bisa” untuk hal yang tidak bisa. Nadine menulis pembagian tugas di kertas dengan tulisan tangan yang kecil-kecil. Kanaya menyabotase pembagian itu dua kali karena menurut dia bagian Bagas kebanyakan.

“Aku bisa, kok.”

“Gas, minggu lalu kamu bilang bisa bikin poster, terus posternya kamu bikin di aplikasi edit foto.”

“Itu tetep poster.”

“Itu tetep foto.”

“Har.” Bagas menoleh ke arahku, mencari sekutu. “Menurutmu itu poster, kan?”

Semua kepala di meja itu menoleh ke arahku.

Dan inilah bagian yang aneh: aku tidak panik.

Aku menunggu paniknya datang — aku sudah hafal urutannya, mulai dari tengkuk, lalu telinga, lalu tangan — dan paniknya tidak datang.

“Itu foto,” kataku.

“HAR.”

“Tapi resolusinya bagus.”

Nadine tertawa lewat hidung. Kanaya menggebrak meja pelan sambil bilang nah kan. Bagas mengaku kalah dengan cara paling dramatis yang pernah aku lihat, yaitu menjatuhkan kepalanya ke meja.

Dan pada satu titik, seseorang melempar lelucon yang tidak lucu, dan aku ikut tertawa, dan tidak ada satu pun orang di meja itu yang berhenti dan menoleh ke arahku dengan wajah kaget karena aku bersuara.

Aku ingin menuliskan ini dengan hati-hati.

Bukan Kanaya yang membuatku sakit nanti.

Yang membuatku sakit adalah sore itu, di meja tengah, jam dua belas lewat, waktu aku tertawa untuk lelucon yang tidak lucu dan tidak ada yang menoleh.

Karena di detik itu, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku lupa menghitung.


Aku sadar di jalan pulang.

Aku sudah lewat pasar lama, sudah belok ke Gang Melati, sudah hampir sampai rumah, dan aku baru sadar bahwa sepanjang hari itu aku tidak sekali pun mengecek sisa harinya.

Aku berhenti di depan warung Bu Nur.

Tujuh belas.

Angkanya masih di sana. Tentu saja masih di sana. Angka tidak pergi cuma karena kamu tidak melihatnya.

Tapi ada sesuatu yang berubah bentuk hari itu, dan aku tidak sanggup berpura-pura bahwa aku tidak tahu apa.

Selama dua belas hari, aku menjalani semua ini sebagai orang yang sedang meminjam.

Hari ke tiga belas, untuk pertama kalinya, aku memikirkan hari ketiga puluh satu.

Cuma sebentar. Tiga detik, mungkin. Bentuk pikirannya bahkan tidak jelas — bukan rencana, bukan harapan yang bisa diucapkan. Cuma satu gambar yang lewat: meja tengah, empat orang, hari Senin yang lain.

Aku memotongnya sebelum selesai.

Aku memotongnya seperti memotong benang: cepat, dekat ke simpul, tanpa disisakan.

Karena aturannya cuma satu dan aku sudah membuatnya sendiri di malam hari kelima: jangan berharap, cukup hitung.

Kalau kamu menghitung, kamu selamat. Kamu tahu kapan berhenti, kamu tahu berapa banyak yang boleh kamu ambil, dan waktu tanggalnya datang kamu tinggal berdiri dan pulang.

Harapan itu beda. Harapan tidak bisa dihitung, dan yang tidak bisa dihitung tidak bisa dianggarkan, dan yang tidak dianggarkan itu yang membunuh.

Aku sampai rumah dan mengerjakan dua celana pesanan sampai jam sebelas.

“Kak.”

Sekar berdiri di ambang pintu, memandangi wajahku, dengan ekspresi yang belum pernah aku lihat di wajahnya.

“Kenapa?”

“Kakak mirip Ayah.”

Aku berhenti mengayuh pedal.

“Ha?”

“Yang di foto ruang tengah.” Dia menunjuk ke belakang dengan ibu jari. “Yang lagi berdiri di depan toko. Itu mata Kakak.”

“Sekar.”

“Ibu juga bilang gitu tadi. Pas Kakak baru masuk.”

“Ibu bilang apa?”

“Ibu nggak bilang apa-apa.” Sekar mengangkat bahu. “Ibu cuma masuk kamar terus lama.”

Dia pergi.

Aku duduk di depan mesin ayah dengan celana orang di bawah jarum dan tidak bergerak selama beberapa menit.

Selama empat tahun aku pikir aku menutupi wajahku dari orang lain.

Aku tidak pernah sekalipun berpikir bahwa ada satu orang di rumah ini yang setiap hari harus melihat wajah suaminya berjalan keluar-masuk dapur, dan bahwa mungkin dia juga diam-diam berterima kasih pada poni itu.

Aku tidak melihat kalender bunga di dinding sama sekali malam itu.

Aku tidak melihatnya dengan sangat, sangat sengaja.