← Garansi Seumur Hidup

Chapter Twenty Three

Meja yang Kosong

[POV: Hari] · [Hari ke-58]


Meja belakang sebelah kanan itu bubar dengan cara yang sama seperti kain yang lepas jahitannya: bukan sekaligus, tapi satu tusuk per hari sampai tidak ada yang menahan apa-apa lagi.

Vania duduk sendiri sekarang.

Bukan diasingkan. Dia sendiri yang membuatnya begitu. Dia datang, duduk, mengerjakan, pulang. Kakinya tidak lagi menyilang di lorong seperti lorong itu bagian dari mejanya.

Hari Selasa ada yang menawarinya gabung ke meja depan.

“Van, sini aja.”

“Nggak usah.”

“Sendirian mulu.”

“Aku suka.”

Anak itu pergi, dan Vania kembali ke bukunya, dan dari tempat dudukku aku bisa melihat bahwa dia tidak sedang membaca apa-apa. Halaman yang sama selama dua puluh menit.

Aku tahu karena aku menghitung.

Regita mengambang.

Itu istilah yang paling tepat. Regita duduk di meja yang berbeda setiap dua hari, ikut tertawa di setiap kelompok, dan tidak benar-benar dimiliki oleh satu pun.

Dan Nadine pindah.


“Har.”

“Iya?”

“Kursi ini kosong?”

Nadine berdiri di sebelah kursi kosong di sebelahku dengan tas di dua tangan seperti orang yang mengantre di kelurahan.

Kursi yang kosong sejak hari ketiga puluh satu.

“...Kosong.”

“Boleh?”

“Boleh.”

Dia duduk.

Dan aku duduk di sebelahnya selama enam jam sehari selama sebelas hari berikutnya, dan aku ingin mencatat bahwa Nadine adalah orang yang sangat baik dan sangat tidak bersalah dan sama sekali tidak melakukan satu pun kesalahan selama sebelas hari itu.

Masalahnya cuma satu: kursi itu punya bentuk.

Kursi itu punya jarak dua belas sentimeter ke sikuku. Kadang delapan.

Dan setiap kali Nadine bergeser untuk menulis, jaraknya jadi tujuh belas, karena Nadine badannya lebih kecil dan cara duduknya lebih rapat, dan aku tahu angka itu dalam dua hari karena aku menghitung segala sesuatu dan aku tidak bisa berhenti bahkan waktu aku sangat ingin.


“Har.”

“Hm.”

“Kamu nggak apa-apa aku duduk di sini?”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu bilang gitu ke semua orang.”

Aku berhenti menulis.

“Iya,” kataku. “Maaf.”

“Nggak usah minta maaf.” Nadine memutar pulpennya. “Aku pindah ke sini bukan biar kamu nggak sendirian, ya.”

“Oke.”

“Aku pindah karena aku juga sendirian.”

Aku menoleh.

Dan Nadine tertawa sedikit, dengan wajah yang sama sekali tidak lucu.

“Enak, ya,” katanya. “Kalau alasannya jujur, jadi nggak canggung.”

“Iya.”

“Kenapa nggak semua orang gitu aja?”

“Nggak tahu,” kataku. “Susah.”


Fikri tidak pindah.

Fikri tetap di tengah, dengan HP-nya, dengan earphone-nya, dan setiap hari jam istirahat dia jalan ke belakang dan duduk di meja depanku dengan gaya orang yang sedang mengunjungi tahanan.

“Har.”

“Hm.”

“Info penting.”

“Apa.”

“Gue dapet bintang lima.”

“Selamat.”

“Lo nggak seneng.”

“Aku seneng.”

“Muka lo nggak seneng.”

“Ini muka aku dari lahir.”

“ITU KALIMAT GUE.”

“Kamu nggak pakai lagi.”

“Har, itu identitas gue.”

Nadine tertawa dari sebelahku, dan Fikri melihat ke arahnya dengan ekspresi kaget seperti orang yang baru sadar ada furnitur baru di ruangan.

“Oh,” katanya. “Iya. Lo di sini.”

“Aku udah di sini seminggu, Fik.”

“Gue nggak merhatiin.”

“Fikri, kita satu kelas dua tahun.”

“Iya.” Dia kembali ke layarnya. “Gue nggak merhatiin.”

“Fik,” kataku.

“Hm.”

“Kamu merhatiin.”

Fikri menggulir layarnya.

“Iya,” katanya. “Gue merhatiin.”

“Terus kenapa bilang enggak?”

“Karena kalau gue bilang gue merhatiin, gue harus ngomongin kenapa kursinya kosong.” Dia menguap. “Dan gue nggak mau ngomongin itu di jam istirahat, Har, gue lagi makan.”

Nadine berhenti tertawa.

“Fikri.”

“Apa.”

“Kamu tuh kadang jahat banget.”

“Gue jujur.”

“Itu beda tipis.”

“Nggak beda tipis.” Fikri memasukkan HP-nya ke saku, yang berarti dia serius. “Yang beda tipis itu ‘baik’ sama ‘nggak mau ribut’.”

Dia berdiri dan kembali ke mejanya.

Nadine menatap punggungnya, lalu menatapku.

“Dia ngomongin kamu, ya,” katanya.

“Iya.”

“Kamu nggak marah?”

“Aku nggak pernah marah,” kataku. “Itu masalahnya.”


Regita meledak hari Rabu.

Aku memakai kata “meledak” karena tidak ada kata lain yang cukup.

Kami sedang di jam kosong. Ada yang mengusulkan main tebak-tebakan kelas, salah satu jenis kegiatan yang selalu dimulai dengan antusias dan selalu berakhir dengan dua orang berdebat soal aturan.

Giliran Regita.

“Oke, oke. Aku kasih clue.” Dia berdiri di depan. “Ini... hal yang terjadi di kelas ini. Bulan lalu. Yang bikin heboh banget—”

Seluruh kelas berhenti bergerak.

Aku sedang menulis tanggal di pojok kanan atas bukuku.

Aku menyelesaikan tanggalnya. Aku tidak berhenti di tengah.

“—YA AMPUN.” Regita menutup mulutnya dengan dua tangan. “MAKSUDKU BUKAN ITU.”

“Regit—”

“Aku maksudnya yang tikus masuk ke ruang guru!”

“Regit, itu bulan Maret.”

“YA MAKANYA.”

“Kamu bilang bulan lalu.”

“AKU SALAH NGOMONG.”

Dia berdiri di depan kelas dengan wajah merah total, dan tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang tahu harus melakukan apa, dan keheningannya berlangsung sekitar empat detik yang terasa seperti empat menit.

Lalu Fikri berkata, dari tengah, tanpa mengangkat kepala dari HP-nya:

“Tikusnya masih buron, ya?”

Kelas itu tertawa.

Bukan tawa besar. Tawa lega. Jenis yang keluar waktu semua orang di ruangan ingin sekali membicarakan hal lain dan akhirnya ada yang menyediakan pintunya.

Regita duduk sambil menutup wajahnya dengan buku.

Dan aku menulis nomor satu sampai nomor sepuluh di halaman kosong bukuku, karena tanganku butuh pekerjaan.


Regita menghampiriku sepulang sekolah di parkiran, masih dengan wajah orang yang ingin ditelan bumi.

“Hari, aku—”

“Nggak apa-apa.”

“Aku nggak—”

“Regita, nggak apa-apa. Beneran.”

“Kamu selalu bilang gitu!” Suaranya naik, dan matanya sudah basah, dan dia sendiri kelihatan kaget dengan volumenya. “Kamu selalu bilang nggak apa-apa dan itu bikin aku pengen mati!”

Parkiran itu sepi.

Aku berdiri memegang tali tasku.

“Aku minta maaf tiga kali,” katanya. “Tiga kali, Har. Kamu bilang nggak apa-apa tiga kali. Terus aku pulang, terus aku masih ngerasa jelek, terus besoknya aku dateng lagi.”

“Regit—”

“Aku pengen kamu marah,” katanya. “Aku pengen kamu bilang aku jahat. Aku bakal ngerasa jauh lebih enak.”

Dan di situ aku berhenti.

Karena itu, sejauh yang aku tahu, adalah kalimat paling jujur yang pernah dikatakan siapa pun kepadaku di sekolah itu.

Dia mengaku bahwa dia ingin aku memarahinya supaya dia merasa lebih enak.

“Regit.”

“Apa.”

“Kamu tahu kenapa aku nggak marah?”

“Karena kamu terlalu baik.”

“Bukan.” Aku memindahkan tas ke bahu satunya. “Karena kalau aku marah, urusannya selesai.”

Regita mengangkat kepalanya.

“Terus aku harus gimana?” tanyanya.

Aku memikirkan itu agak lama, di parkiran, jam tiga sore.

“Nggak tahu,” kataku. “Aku juga lagi bingung.”

“Kamu bingung?”

“Iya.”

“Kamu kan yang bener.”

“Regit.” Aku memandangi aspal. “Orang yang bener juga bisa nggak tahu harus ngapain.”

Regita mengusap matanya dengan pergelangan tangan.

“Har.”

“Hm.”

“Boleh aku bilang satu hal terus abis itu aku pergi?”

“Boleh.”

“Waktu di depan minimarket itu.” Suaranya kecil sekali. “Yang hujan. Aku ngomong keras-keras karena aku pikir nggak ada yang denger.”

Aku tidak bergerak.

“Aku nggak tahu kamu di situ, Har. Aku beneran nggak tahu.”

“Aku tahu.”

“Tapi itu nggak ngebedain apa-apa, kan?” Dia tertawa dengan cara yang jelek. “Aku tetep ngomong gitu. Aku tetep ketawa. Yang beda cuma ada yang denger atau enggak.”

Dia pergi sebelum aku sempat menjawab, dan itu bagus, karena aku tidak punya jawaban.

Dan sepanjang jalan pulang aku memikirkan satu hal:

selama empat tahun aku hidup dengan aturan bahwa yang penting adalah tidak ada yang melihat.

Regita baru saja menunjukkan sisi lain dari aturan yang sama, dan sisi itu jelek sekali.


Aku menghadap Bu Sari hari Kamis.

“Bu, saya boleh pindah tempat duduk?”

Bu Sari mengangkat kepala dari tumpukan kertas.

“Kamu?”

“Iya, Bu.”

“Kamu duduk di pojok belakang itu dari kelas sepuluh.”

“Iya, Bu.”

“Setiap rolling kamu selalu bilang tetap di situ.”

“Iya, Bu.”

Dia melepas kacamatanya, melipatnya, dan menaruhnya di meja.

“Kenapa?”

Ada beberapa jawaban.

Jawaban yang benar: karena cahayanya bagus untuk melihat jahitan, dan itu satu-satunya alasan aku memilih pojok itu selama dua tahun, dan sekarang aku tidak bisa duduk di sana tanpa melihat kursi di sebelah kanan.

Jawaban yang benar kedua: karena dari pojok belakang, kamu bisa melihat seluruh ruangan. Kamu bisa melihat siapa yang duduk di barisan tengah. Kamu bisa melihat kapan dia mengikat rambutnya, kapan dia berhenti menulis, kapan bahunya turun.

Dan aku tidak bisa berhenti melihat.

“Nggak apa-apa, Bu,” kataku. “Cuma pengen ganti.”

Bu Sari menatapku dari balik meja selama beberapa detik.

“Yang deket pintu kosong,” katanya. “Silakan.”


Meja dekat pintu itu cahayanya jelek.

Sinarnya datang dari belakang, jadi kalau aku memiringkan kain, bayangan tanganku sendiri jatuh di atasnya. Untuk pekerjaan halus, itu mustahil.

Aku duduk di situ hari Jumat.

Nadine tidak ikut pindah, dan aku bersyukur untuk itu, dan aku bersyukur dengan cara yang membuatku merasa jahat.

Kanaya melihat aku pindah.

Aku tahu karena aku sempat menoleh sekali — satu kali, sepersekian detik, sebelum aku sempat menahan diri — dan dia sedang berdiri di dekat mejanya dengan tas setengah tersampir, memandangi pojok belakang dekat jendela yang sekarang kosong sepenuhnya.

Dua kursi kosong.

Sebelah-sebelahan.

Dia berdiri di situ sekitar tiga detik, lalu duduk di barisan tengah dan membuka bukunya.

Dan seluruh ruangan itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ada di belakang punggungku.

Aku tidak tahu siapa yang masuk. Aku tidak tahu siapa yang berdiri. Aku tidak tahu kalau ada yang berhenti menulis di barisan tengah.

Rasanya buruk sekali selama tiga hari.

Lalu rasanya buruk dengan cara yang lebih pelan.


Aku pulang hari Sabtu jam satu, setelah mengantar enam pesanan.

Ibu di dapur. Sekar di lantai ruang tengah dengan buku barunya.

Ada dua gelas di bak cuci.

Aku melihatnya waktu mengambil air. Dua gelas, bekas teh, keduanya sudah dibilas sebagian.

Kami tiga orang di rumah ini. Ibu minum teh dari gelas belimbing yang sama setiap hari. Sekar tidak minum teh; Sekar minum susu kotak dan menolak semua bentuk cairan lain dengan alasan yang berubah-ubah.

“Bu.”

“Hm?”

“Ada tamu?”

Jeda.

Jedanya cuma satu detik. Mungkin kurang.

“Bu Ningsih,” kata ibu, dari dapur, tanpa menoleh. “Nanya kebayanya.”

“Oh.”

Aku menaruh gelas air ke meja.

Sekar menulis sesuatu di bukunya dengan sangat serius, dengan bahu yang terlalu tegak, dengan wajah anak yang sedang berkonsentrasi untuk tidak mengangkat kepala.

Aku berdiri di ruang tengah rumahku sendiri selama mungkin lima detik.

Lalu aku masuk ke ruang jahit, menyalakan lampu meja, dan mulai mengerjakan celana pesanan yang harus selesai Senin.

Ada satu hal yang aku pikirkan sambil memasang benang, dan aku memutuskan untuk tidak menariknya, karena aku sudah tahu apa yang terjadi kalau kamu menarik benang aneh di tempat yang salah.

Bu Ningsih mengambil kebayanya tiga minggu lalu.

Aku yang mengantarnya.