← Garansi Seumur Hidup

Chapter Forty Two

Pensi

[POV: Hari] · [Hari ke-312]


Ibu mengeluarkannya dari lemari jam empat sore.

“Har.”

“Iya, Bu.”

“Sini.”

Dia menaruhnya di atas tempat tidur. Kemeja lengan panjang, warna putih tulang, kancingnya kancing kerang yang sudah agak kuning di dua tempat.

Aku tahu kemeja itu.

Kemeja itu ada di lemari ibu selama sembilan tahun dan tidak pernah dikeluarkan sekali pun, dan aku tidak pernah bertanya, dan ibu tidak pernah menyebutnya.

“Bu.”

“Coba.”

“Bu, ini—”

“Coba dulu.”

Aku memakainya.

Bahunya kelebaran dua senti. Lengannya kepanjangan satu setengah. Badannya longgar di pinggang karena ayahku lebih lebar dariku dan aku sudah tahu itu sebelum memasangnya.

Ibu berdiri di belakangku di depan cermin lemari.

“Bahunya turunin dua,” katanya. “Lengan potong satu setengah, kelim ulang. Sisi masukin tiga senti kiri kanan.”

“Bu.”

“Kamu bisa selesai dua jam.”

“Bu, ini punya Ayah.”

Dan ibuku berdiri di belakangku di depan cermin dan berkata, dengan nada orang menyebutkan harga kain:

“Ya makanya.”


Aku mengerjakannya dua jam sepuluh menit.

Dan aku ingin mencatat sesuatu tentang dua jam itu, karena itu dua jam paling aneh dalam hidupku.

Membongkar jahitan orang lain itu seperti membaca tulisan tangan orang.

Kamu bisa tahu bagaimana orangnya mengerjakan. Kamu bisa tahu dia buru-buru atau tidak, dia memakai mesin yang mana, dia menyisakan berapa senti untuk perbaikan nanti.

Aku membongkar jahitan sisi kemeja itu dan menemukan kampuh empat senti.

Empat.

Standarnya satu setengah. Dua kalau penjahitnya baik hati.

Empat senti itu artinya kemeja itu dibuat oleh orang yang sengaja menyisakan kain supaya bisa dibesarkan dua kali kalau pemiliknya gemuk, atau dikecilkan kalau dijahitkan untuk orang lain.

Aku duduk di depan mesin ayahku dengan kemeja ayahku di tangan dan sisa kain empat senti yang dia tinggalkan sembilan tahun lalu, dan aku mengerjakannya sampai selesai tanpa berhenti sekali pun.

Ibu masuk jam enam.

Aku sudah memakainya.

Dia berdiri di ambang pintu ruang jahit dan tidak berkata apa-apa selama mungkin dua puluh detik.

“Bu.”

“Kepanjangan lengannya berapa tadi?”

“Satu setengah.”

“Kamu potong berapa?”

“Satu.”

Ibu mengangguk pelan.

“Kenapa satu?”

“Karena aku masih tumbuh,” kataku.

Dan ibuku berdiri di ambang pintu ruang jahit dan menutup mulutnya dengan punggung tangan, dan berbalik, dan masuk ke dapur, dan menyalakan keran cukup lama untuk mencuci sesuatu yang tidak ada.


Sekar mengantarku sampai pagar.

“Kak.”

“Hm?”

“Kakak ganteng.”

“Sekar.”

“Aku serius.”

“Iya, makasih.”

“Aku bikin catetan.”

“Sekar—”

“Bukan penilaian.” Dia mengangkat bukunya. “Ini cuma tanggal. Aku catet tanggal Kak Hari pakai baju Ayah.”

Aku berdiri di pagar dengan kemeja itu dan tidak bisa menjawab selama beberapa detik.

“Sekar.”

“Iya?”

“Nanti kalau ada yang nanya bajuku dari mana,” kataku, “aku bilang apa?”

Adikku berumur sembilan tahun memikirkan itu dengan sangat serius.

“Bilang punya Ayah,” katanya.

“Nggak usah bilang aku yang ngecilin?”

“Ya bilang dua-duanya, Kak.” Dia mengangkat bahu. “Itu kan dua-duanya bener.”


Aku menjemputnya jam setengah tujuh.

Aku sudah berdiri di depan pagar rumahnya selama empat menit sebelum memencet bel, karena aku sampai kecepatan, karena aku selalu sampai kecepatan.

Nadine yang membuka.

“Har! Bentar ya!”

“Iya.”

“Bentar banget.”

“Iya.”

“Har.”

“Hm?”

Nadine berdiri di ambang pintu dengan gaun hijau dan sepatu yang jelas belum nyaman.

“Kamu bikin gaunnya sendiri, ya.”

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Tiga minggu.”

Dia mengangguk, dan masuk lagi, dan aku berdiri di ruang tamu rumah yang lampunya menyala di semua ruangan.

Lalu ada bunyi di tangga.


Aku mau menceritakan bagian ini dengan jujur, dan bagian yang jujur adalah:

aku sudah tahu bentuknya.

Aku yang membuatnya. Aku memegang kain itu selama tiga minggu. Aku tahu lebar punggungnya empat puluh koma lima. Aku tahu garis lehernya turun berapa senti karena dia sendiri yang memilih di antara tiga pilihan.

Aku sudah melihat gaun itu tergantung di gantungan kayu selama dua hari.

Yang tidak aku hitung adalah bahwa gaun itu tidak ada apa-apanya di gantungan.

Kain yang bagus itu tidak bekerja waktu digantung. Dia bekerja waktu ada yang bergerak di dalamnya. Itu sebabnya orang mengukur badan dan bukan mengukur meja.

Kanaya turun tangga, dan kainnya bergerak, dan aku berdiri di ruang tamu itu dan lupa seluruh isi kepalaku.

“Har.”

“...”

“Har.”

“Iya.”

“Kamu nggak ngomong apa-apa.”

“Iya.”

“Har, kamu nggak ngomong apa-apa dari tadi.”

“Aku udah bilang semalem,” kataku. “Aku bilang aku bakal nggak bisa ngomong apa-apa.”

Dan Kanaya berdiri di anak tangga ketiga dari bawah dan menutup wajahnya dengan dua tangan.

“KAMU CURANG.”

“Aku udah ngasih tahu duluan.”

“ITU YANG BIKIN CURANG.”


Nadine memotret kami di depan pagar.

Empat puluh satu foto.

Aku tahu jumlahnya karena Nadine mengirim semuanya jam sebelas malam dan aku menghitungnya jam satu.

Di foto ketujuh belas aku sedang membetulkan sesuatu di bahunya — furingnya naik sedikit, yang memang selalu terjadi di jahitan baru sebelum dipakai beberapa kali — dan Nadine memotretnya tanpa bilang, dan itu satu-satunya foto dari empat puluh satu yang aku simpan sampai sekarang.


Acaranya di aula.

Aku sudah masuk aula itu ratusan kali. Aku sudah mengangkat kursi lipat dari gudang ke aula itu — dua puluh delapan kursi, sendirian, delapan yang terakhir aku angkat karena ada anak kelas sepuluh yang berdiri di situ dengan blazer robek di ketiak dan tidak bisa mengangkat tangannya di atas bahu.

Malam itu aulanya dipasangi lampu dan kain.

Dan begitu kami masuk, ruangan itu berubah bunyinya.

Aku sudah pernah mengalami ini. Bulan Mei tahun lalu, hari ketiga belas, dua puluh tiga orang menoleh dalam seratus dua puluh meter.

Kali ini aku tidak menghitung.

Aku mau menekankan bagian itu, karena itu bagian yang paling penting dari seluruh malam.

Aku tidak menghitung.


“NAY! Ya ampun.”

“Nay, itu beli di mana?”

“Nay, ini sewa di tempat mana? Aku sewa juga besok kalau ada acara—”

“Nay, seriusan, itu bahannya bagus banget—”

Kanaya berdiri di tengah mereka dan tidak menjawab.

Aku memperhatikan itu dari samping, dan aku mengerti apa yang sedang dia lakukan, dan aku merasakan sesuatu di tenggorokanku.

Dia tidak menjawab karena dia menunggu.

Dia menunggu tiga detik, empat detik, lima — dan itu waktu yang sangat panjang untuk orang yang selama dua tahun mengisi setiap keheningan di ruangan mana pun — dan dia berdiri di situ tanpa mengatakan apa-apa.

Dia memberiku ruang.

Dan aku bisa saja tidak memakainya. Itu mudah sekali. Aku tinggal diam empat detik lagi dan Kanaya akan menjawab sendiri, dengan kalimat yang bagus, dan malam itu akan berjalan terus.

“Aku yang bikin,” kataku.


Ruangan itu berhenti.

Bukan seluruh aula. Cuma lingkaran kecil di sekitar kami — mungkin sembilan orang, mungkin sebelas.

Sebelas orang.

Aku tidak menghitungnya waktu itu. Aku menghitungnya sekarang, sambil menulis, dan aku baru sadar sekarang bahwa angkanya sama dengan jumlah orang di kelas hari itu.

Sebelas orang menoleh ke arahku.

Dan yang terjadi di dalam badanku adalah ini: tengkukku panas, telingaku berdenyut, dan tanganku dingin sampai ke pergelangan.

Semuanya datang. Seluruh urutannya, persis seperti biasa, tanpa ada satu pun yang dilewat.

Dan aku berdiri di situ dan membiarkannya lewat.

Itu saja. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak menegakkan punggung, aku tidak menyiapkan wajah, aku tidak mencari pintu.

Aku berdiri di tengah aula dengan kemeja ayahku yang lengannya aku potong satu senti, dan aku membiarkan sebelas orang melihat aku selama empat detik penuh, dan setelah empat detik itu lewat aku masih ada di situ.

Ternyata itu saja.

Sembilan tahun aku menghindari empat detik itu.


“BOHONG.”

“Regita.”

“NGGAK MUNGKIN. Har, itu bahannya—”

“Polyester campur, dari Toko Pak Hasan, dua ratus empat puluh,” kataku. “Rak tengah, gulungan ketiga dari kiri.”

Regita menutup mulutnya dengan dua tangan.

“Kamu bikin sendiri?”

“Iya.”

“Dari nol?”

“Dari pola.”

“Berapa lama?”

“Tiga minggu.”

Dan ada anak perempuan dari kelas sebelah — yang aku tidak kenal, yang tidak pernah aku ajak bicara — yang bertanya dengan suara kecil:

“Kak, boleh aku pesen buat wisuda?”

Aku membuka mulutku.

Dan aku menutupnya lagi, dan aku berpikir selama sekitar dua detik, dan aku memberikan jawaban yang tiga bulan lalu tidak akan pernah bisa aku berikan.

“Boleh,” kataku. “Tapi ibuku yang lebih cepet. Aku lambat.”


Bagas jadi MC.

Tentu saja Bagas jadi MC. Bagas Mahardika berdiri di panggung dengan mikrofon dan setelan yang jelas dibeli oleh orang tua yang peduli, dan dia membuka acara dengan tenaga yang bisa merobohkan pagar.

Dan di menit kedua puluh tiga, waktu dia membacakan daftar “apresiasi” untuk panitia dan penampil dan seluruh orang yang harus disebut namanya—

dia tidak menyebut namaku.

Aku sudah menyiapkan diri sejak jam tujuh. Aku sudah memikirkan seluruh skenarionya sepanjang minggu: kalau dipanggil, aku berdiri, aku melambai, aku duduk. Tiga langkah. Aku sudah melatihnya di kepalaku sembilan kali.

Namaku tidak disebut.

Dan begitu daftarnya selesai, aku sadar bahwa Bagas melewatinya dengan sengaja, karena tidak ada satu pun orang di sekolah ini yang lebih tahu apa yang terjadi sepuluh hari di bulan Maret itu selain Bagas Mahardika, yang berdiri di lapangan basket bulan Juni dan bilang dia sedang mengerjakan sesuatu.


Dia menghampiriku di belakang aula jam sembilan.

“Har.”

“Gas.”

“Aku nggak nyebut nama kamu.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak marah?”

“Aku mau nyalamin kamu.”

Bagas tertawa, dan tawanya lega sekali, dan dia menepuk bahuku dengan tenaga yang lebih pelan dari biasanya, yang membuatku sadar bahwa dia juga sudah belajar sesuatu tahun ini.

“Har.”

“Hm?”

“Makasih ya.”

Aku menoleh.

“Buat apa?”

“Dua kancing blazer,” katanya. “Tiga puluh April tahun lalu.”

“Gas—”

“Aku bilang aku bakal nunggu sampai aku bisa ngelakuin sesuatu yang setara.” Dia mengangkat bahu. “Aku nggak tahu ini setara apa enggak. Tapi ini yang paling deket yang aku bisa.”

Dan aku berdiri di belakang aula dengan kemeja ayahku dan tidak tahu harus bilang apa.

“Gas.”

“Hm?”

“Itu setara.”

“Beneran?”

“Dua kancing itu sepuluh menit,” kataku. “Kamu ngerjain daftar itu tiga hari, terus kamu ngapus satu nama, terus kamu nggak bilang siapa-siapa.”

Bagas menggaruk belakang lehernya.

“Empat hari,” katanya. “Aku bikin ulang dua kali.”


Musiknya melambat jam setengah sepuluh.

Aku sudah tahu itu akan terjadi. Semua orang tahu. Itu ada di rundown yang dicetak dan ditempel di dinding belakang panggung, yang aku baca tiga kali, yang aku hafal.

21.30 — Sesi bebas (musik lambat)

“Har.”

“Aku nggak bisa.”

“Aku belum ngomong.”

“Aku tahu kamu mau ngomong apa.”

“Har.”

“Nay, aku nggak bisa. Aku beneran nggak bisa.”

Dan Kanaya berdiri di depanku di tepi aula dengan gaun biru tua yang kalau kena lampu jadi agak hijau, dan berkata:

“Aku juga nggak bisa.”

“...Ha?”

“Aku nggak pernah dansa seumur hidup, Har.” Dia mengangkat bahu. “Aku ketua panitia empat acara. Aku selalu di belakang panggung ngurusin sound.”

Aku memandanginya.

“Terus gimana?”

“Ya kita berdiri aja,” katanya. “Sambil goyang dikit.”

“Itu dansa?”

“Itu delapan puluh persen dansa, Har.”

“Berapa persen sisanya?”

“Sisanya orang yang bisa muter.” Dia mengulurkan tangannya. “Kita nggak muter.”

“Nay.”

“Kita nggak muter, Har.”

“Oke.”

“Kalau kamu nyoba muter, aku jatuh, terus gaunnya sobek, terus kamu harus benerin, terus kamu nggak tidur tiga hari.”

Aku memikirkan itu dengan serius.

“Bener juga,” kataku.


Kami berdiri di tepi lantai aula, bukan di tengah, karena aku menolak tiga kali dan menang satu kali.

Tangan kananku di punggungnya. Tangan kirinya di bahuku.

Dan aku menyadari sesuatu dalam sepuluh detik pertama yang membuatku hampir tertawa:

aku tahu persis di mana harus menaruh tanganku.

Bukan karena aku bisa dansa. Karena aku sudah mengukur punggung itu tiga minggu lalu, dan titik yang paling stabil untuk telapak tangan adalah tepat di bawah tulang belikat, di mana kampuh sisinya bertemu, dan aku tahu itu karena aku yang menjahitnya.

“Har.”

“Hm?”

“Kamu ngitung?”

“Enggak.”

“Kamu bohong.”

“Aku nggak ngitung, Nay.” Aku menggeser tanganku setengah senti. “Aku lagi ngerasain jahitannya.”

“YA AMPUN.”

“Ini kerjaanku.”

“Har, kita lagi dansa.”

“Iya,” kataku. “Sambil aku ngecek furingnya.”

Dan dia tertawa di bahuku — bahu naik dulu, baru suara — dan seluruh lantai aula itu bergerak pelan di sekeliling kami dan tidak ada satu pun orang yang menoleh ke arah kami karena semua orang sedang sibuk dengan pasangannya sendiri.


Dia membetulkan kerahku di tengah lagu.

Bukan kerah gaunnya. Kerahku. Kemeja ayahku, yang bahunya aku turunkan dua senti dan sisinya aku masukkan tiga.

“Har.”

“Hm?”

“Ini punya ayahmu.”

“Iya.”

“Ibumu yang ngasih?”

“Iya.”

Dia meratakan kerah itu dengan dua jari, pelan sekali, dan tangannya berhenti di belakang leherku.

“Kampuhnya empat senti,” kataku.

“Ha?”

“Yang di sisi. Ayahku nyisain empat senti.”

“Itu banyak?”

“Itu banyak banget.”

“Kenapa banyak?”

Dan aku menjawabnya sambil berdiri di tepi lantai aula jam setengah sepuluh malam, sambil bergoyang pelan dengan cara yang delapan puluh persen dansa.

“Karena orang yang nyisain empat senti itu lagi mikirin baju itu bakal dipakai orang lain,” kataku.

Kanaya berhenti bergerak selama sekitar dua detik.

Lalu tangannya di belakang leherku menekan sedikit, dan dia menempelkan dahinya ke bahuku, dan tidak mengatakan apa pun sampai lagunya selesai.


Waktu lagunya selesai, dia menegakkan badan dan menarik kerah gaunnya sendiri.

“Har, ini ada apa?”

“Apanya?”

“Di kerah. Ada yang nempel.”

Dia meraba bagian dalam kerahnya.

“Label,” kataku.

“Kamu ngasih label?”

“Iya.”

“Isinya apa?”

Bagas berteriak sesuatu dari panggung. Ada anak-anak yang tertawa keras di dekat pintu. Musiknya berganti jadi yang cepat, dan setengah aula itu bergerak sekaligus ke tengah lantai, dan Regita menarik lengan Kanaya sambil berteriak bahwa ini lagunya.

“Nanti aku baca,” kata Kanaya.

“Iya.”

“Har, aku baca di rumah, ya.”

“Iya, Nay.”

Dan Regita menariknya ke tengah, dan aku berdiri di tepi lantai aula memandanginya, dan itu terakhir kalinya salah satu dari kami menyebut label itu selama empat puluh satu hari.


Mamanya datang jam sepuluh kurang sepuluh.

Aku yang melihat duluan, karena aku berdiri di dekat pintu, karena aku selalu berdiri di dekat pintu.

Perempuan yang berdiri di pintu aula itu masih memakai pakaian kantor. Kartu identitas masih tergantung di lehernya, dilepas setengah, seperti orang yang melepasnya di mobil dan lupa menyelesaikannya.

Dia mencari.

Aku memperhatikan matanya menyapu ruangan itu selama mungkin dua belas detik.

Lalu aku berjalan ke tengah lantai, di antara orang-orang yang sedang menari, dan aku menepuk bahu Kanaya sekali.

“Nay.”

“Hm?”

Aku menunjuk pintu dengan dagu.

Dan aku melihat wajah orang itu berubah dengan cara yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, dan aku mundur tiga langkah dan berdiri di tepi lantai dan tidak mengikutinya.


Mereka bicara dua puluh menit.

Aku tidak mendengar satu kata pun. Aku berdiri di dekat meja konsumsi dan makan dua risoles yang tidak aku inginkan dan berbicara dengan Fikri tentang sesuatu yang tidak aku ingat sama sekali.

“Har.”

“Hm?”

“Lo ngeliatin pintu terus.”

“Enggak.”

“Lo ngeliatin pintu delapan kali dalam empat menit.”

“Kamu ngitung?”

Fikri menggulir layarnya.

“Gue belajar dari lo.”

Perempuan itu pulang jam setengah sebelas.

Kanaya kembali ke aula dengan mata yang merah di bagian bawah dan wajah yang sama sekali tidak sedih.

“Har.”

“Hm?”

“Dia dateng.”

“Iya.”

“Dua puluh menit doang.”

“Iya.”

“Dia harus balik ke Semarang subuh.”

“Iya.”

Dan dia berdiri di sebelahku di dekat meja konsumsi dan berkata, dengan suara yang sangat rata:

“Aku nggak nangis, Har.”

“Aku tahu.”

“Aku beneran nggak—”

“Nay.” Aku menyerahkan risoles yang tidak aku inginkan itu kepadanya. “Kamu boleh nggak nangis. Kamu juga boleh nangis. Dua-duanya nggak apa-apa.”

Dia mengambil risolesnya.

“Dua puluh menit itu dikit banget,” katanya.

“Iya.”

“Tapi dia dateng.”

“Iya.”

“Har, itu dua-duanya bener, kan?”

Dan aku berdiri di dekat meja konsumsi di aula sekolahku jam setengah sebelas malam, dengan kemeja ayahku yang lengannya aku potong satu senti karena aku masih tumbuh, dan berkata:

“Iya. Dua-duanya bener.”


Kami pulang jam sebelas.

Sebelum keluar aula, aku berdiri sebentar di pintu dan menoleh ke belakang.

Aku tidak tahu kenapa. Aku bukan orang yang menoleh ke belakang; menoleh ke belakang itu kebiasaan orang yang punya banyak hal untuk dilihat, dan aku menghabiskan sembilan tahun memastikan tidak punya apa-apa untuk dilihat di ruangan mana pun.

Malam itu aku menoleh.

Aulanya sudah setengah kosong. Panitia sedang menurunkan kain dari dinding. Bagas berdiri di panggung memegang mikrofon yang sudah dimatikan sambil berbicara dengan dua anak kelas sebelas. Fikri duduk di kursi lipat di pinggir dengan HP-nya. Regita berteriak dari arah meja konsumsi soal risoles.

Dan aku berdiri di pintu aula sekolah, dan aku memikirkan sesuatu yang sangat sederhana:

aku tahu nama semua orang di ruangan ini.

Itu saja. Bukan mereka tahu namaku — itu urusan lain, dan itu baru terjadi bulan Maret, dan itu tidak sepenting yang orang kira.

Aku tahu nama mereka.

Dan aku sudah tahu nama mereka dari kelas sepuluh, dari pojok belakang dekat jendela, dari buku catatan coklat yang berisi nama, barang, tanggal.

Sembilan tahun aku pikir tidak kelihatan itu artinya tidak ada di ruangan.

Ternyata bukan. Aku ada di ruangan itu selama tiga tahun. Aku cuma tidak pernah berdiri di tengahnya.

“Har?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” kataku.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal orang itu, “nggak apa-apa” yang aku ucapkan benar-benar berarti nggak apa-apa.

Aku mengantarnya sampai pagar, seperti biasa, dan aku menolak diantar pulang naik mobil Bagas, seperti biasa, dan aku berjalan kaki empat puluh menit lewat komplek yang jalannya lebar dan pohonnya tinggi.

Aku sampai rumah jam dua belas kurang.

Ibu masih menyala lampunya.

“Har.”

“Iya, Bu.”

“Gimana?”

Aku berdiri di ruang tengah dengan kemeja ayahku dan sepatu yang sudah aku lepas di dekat pintu, sejajar.

“Ada yang nanya gaunnya dari mana,” kataku.

“Terus?”

“Aku bilang aku yang bikin.”

Ibu menaruh jahitannya.

“Di depan orang?”

“Sebelas orang.”

Dia tidak menjawab selama beberapa detik.

Lalu dia berkata, “Ya udah, tidur,” dan menyalakan mesinnya lagi, dan aku naik ke kamar.

Dan aku mendengar mesin itu berhenti sekitar tiga puluh detik kemudian, dan tidak jalan lagi selama beberapa menit, dan aku berbaring di kasur dan pura-pura tidak mendengar apa-apa.