Chapter Thirty Eight
Dapur
[POV: Kanaya] · [Hari ke-259]
“Tinggal dipanasin, ya. Yang di panci.”
“Iya, Bu.”
“Nasinya udah, tinggal tekan tombolnya.”
“Iya, Bu.”
“Sayurnya jangan dipanasin dua kali.”
“Iya, Bu.”
Tante Ratih berdiri di ambang pintu dengan kebaya dan tas kecil dan wajah orang yang tahu persis bahwa dia sedang berbicara ke tembok.
“Har.”
“Iya, Bu?”
“Ibu tanya sekali lagi.”
“Aku bakal masak, Bu.”
“Ibu tahu.”
“Ibu belum nanya.”
“Ibu udah nanya di dalam hati,” katanya, dan berjalan ke pagar. “Sekar, kalau ada apa-apa lari ke Bu Nur.”
“IYA BU.”
“Sekar.”
“Aku bawa nomor Bu Nur.”
“Bu Nur nggak punya HP, Sekar.”
“Aku bawa Bu Nur-nya.”
Aku ingin mencatat, sebelum bagian ini dimulai, bahwa aku juga tidak bisa masak.
Aku bisa memanaskan. Aku bisa merebus air. Aku bisa membuat telur ceplok yang bentuknya jelek tapi matang.
Yang tidak bisa aku lakukan adalah membuat sesuatu dari awal tanpa ada yang menyuruh, dan setelah tiga bulan belajar menjahit aku sudah cukup mengenal diriku sendiri untuk tahu bahwa masalahnya bukan keterampilan.
Masalahnya aku tidak pernah punya alasan.
Masak untuk satu orang itu, seperti memanaskan makanan untuk satu orang, adalah pekerjaan yang hasilnya tidak dilihat siapa-siapa.
Jadi hari itu ada dua orang di dapur yang sama-sama tidak bisa masak, dengan satu anak berumur sembilan tahun yang duduk di meja makan dengan buku tulis dan pulpen.
“Aku nilai,” kata Sekar.
“Sekar.”
“Satu sampai lima.”
“SEKAR.”
Hari memulai dengan mengeluarkan penggaris.
Aku tidak bercanda. Dia membuka laci, mengambil penggaris tiga puluh senti, dan menaruhnya di sebelah panci nasi.
“Har.”
“Hm?”
“Kenapa ada penggaris.”
“Buat ngukur air.”
“Kamu ngukur air nasi pakai penggaris?”
“Iya.”
“Orang pakai ruas jari.”
“Ruas jari orang beda-beda.”
“Ya makanya orang pakai ruas jarinya sendiri.”
Hari berhenti dan menoleh ke arahku dengan ekspresi orang yang baru saja diberi tahu bahwa bumi datar.
“Nay,” katanya. “Kalau ruas jari aku beda sama ruas jari ibu, dan resepnya dari ibu, berarti hasilnya beda.”
“...Oh.”
“Aku ngukur ruas jari ibu bulan lalu,” katanya, dan kembali ke pancinya. “Satu koma sembilan senti.”
Sekar menulis sesuatu di bukunya.
“Sekar, kamu nulis apa?”
“Nasi: lima,” katanya. “Belum dimasak, tapi aku udah yakin.”
Nasinya memang sempurna.
Aku mau menegaskan itu karena sisa bab ini tidak akan seperti ini.
Nasinya matang rata, tidak lembek, tidak keras di bagian bawah. Sekar mengambil tiga sendok langsung dari rice cooker dan memakannya tanpa lauk sambil bilang “ini enak banget” dengan mulut penuh.
Masalahnya dimulai di kangkung.
Sebenarnya masalahnya dimulai sebelum kangkung.
Masalahnya dimulai waktu Hari membuka kulkas dan berdiri di depannya selama satu menit penuh sambil melihat isi rak sayur, lalu berbalik dan bertanya:
“Nay, ada resepnya nggak?”
“Resep tumis kangkung?”
“Iya.”
“Har, itu nggak ada resepnya.”
“Semua ada resepnya.”
“Kamu tinggal tumis.”
“Berapa lama?”
“Sampai layu.”
“Layu itu berapa persen?”
Aku berdiri di dapur itu memegang gelas dan tidak tahu harus menjawab apa.
“Har.”
“Aku serius.”
“Aku tahu kamu serius, itu masalahnya.”
Sekar mengangkat tangannya dari meja makan.
“Kak, Ibu masukin kangkung terus diaduk empat kali terus diangkat.”
Kami berdua menoleh.
“Empat kali?” tanya Hari.
“Empat.”
“Kamu ngitung?”
“Aku ngitung semua, Kak.” Sekar menyeruput susunya. “Kakak yang ngajarin.”
Hari mengambil pulpen dan menulis “4x” di punggung tangannya.
Sekar menulis sesuatu di bukunya.
“Sekar, kamu nulis apa lagi?”
“Kak Hari nulis di tangan,” katanya. “Itu bukan penilaian, itu catatan sejarah.”
“Kangkungnya dipotong berapa senti?”
“Har, dipetik aja.”
“Dipetik itu nggak sama panjangnya.”
“Emang nggak perlu sama.”
“Nay, kalau nggak sama panjangnya, matengnya beda.”
“...Itu kangkung.”
“Iya, tapi—”
“Har, itu KANGKUNG.”
Dia memotong kangkung itu selama dua puluh delapan menit.
Aku menghitungnya. Dua puluh delapan menit, dengan pisau, di talenan, semuanya lima senti, dan yang batangnya lebih tebal dia belah dua memanjang supaya tebalnya seragam.
Hasilnya, harus aku akui, kelihatan bagus sekali.
Kangkung itu tersusun di piring seperti barang dagangan.
“Sekar, ini bagus nggak?”
“Bagus,” kata Sekar. “Tapi udah setengah jam dan aku laper.”
Lalu dia menumisnya.
Dan di situ semuanya hancur.
Aku tidak akan menjelaskan detail teknisnya karena aku juga tidak mengerti. Yang aku tahu: dia memasukkan bawangnya, lalu berhenti untuk memeriksa sesuatu di HP, lalu memasukkan kangkungnya, lalu mengaduknya dengan sangat teliti dan sangat pelan.
“Har.”
“Bentar.”
“Har, itu apinya—”
“Aku lagi ngaduk.”
“Kamu ngaduknya kayak lagi nyulam.”
“Aku ngaduk biar rata.”
“HAR, ITU HARUS CEPET.”
Kangkung yang tadi tersusun rapi seperti barang dagangan berubah menjadi sesuatu yang warnanya seperti kain yang direbus.
Hijau tua. Layu total. Berair.
Kami bertiga berdiri di depan wajan memandanginya.
“Sekar,” kata Hari.
“Satu.”
“Kamu belum coba.”
“Aku nggak mau coba.”
“Sekar.”
“Kak, itu warnanya kayak lap.”
“Sekar.”
“Lap yang bersih,” katanya. “Aku nggak jahat.”
Hari mengangkat wajan itu dan memandanginya.
“Aku ngaduk empat kali.”
“Kamu ngaduk empat kali dalam empat menit, Har.”
“Sekar bilang empat kali.”
“Sekar nggak bilang jedanya semenit!”
“Dia nggak nyebut jeda.”
“HAR, ITU BUKAN INSTRUKSI JAHIT.”
Dan dia berdiri di depan kompor dengan wajan di tangan dan wajah orang yang baru saja menemukan bahwa dunia punya sistem yang tidak dia mengerti, dan aku hampir kasihan sampai dia berkata:
“Berarti datanya kurang.”
“Datanya nggak kurang.”
“Sekar ngasih jumlah, nggak ngasih interval.”
“Har.”
“Kalau ada intervalnya, aku bisa.”
“HARI.”
Sekar, dari meja makan, tanpa mengangkat kepala dari bukunya:
“Ini kenapa Ibu nggak pernah ngajarin Kak Hari masak.”
Telur dadarnya, anehnya, sempurna.
Aku benar-benar tidak mengerti kenapa, dan aku memikirkannya berhari-hari sesudahnya, dan akhirnya aku mengerti.
Telur dadar itu pekerjaan yang butuh sabar dan api kecil dan tangan yang tidak buru-buru.
Dia menuangkannya tipis, memutar wajannya sampai rata, dan menunggu.
Dia menunggu dua menit empat puluh detik tanpa menyentuhnya sekali pun.
“Har, itu nggak dibalik?”
“Belum.”
“Nanti gosong.”
“Belum.”
“Har—”
“Nay.” Dia tidak mengangkat kepala dari wajan. “Kalau dibalik sebelum pinggirnya lepas sendiri, dia sobek.”
Dan waktu pinggirnya lepas sendiri, dia membaliknya sekali, dan telur itu jatuh utuh, dan warnanya kuning keemasan rata di seluruh permukaan seperti gambar di bungkus tepung.
Sekar menulis di bukunya.
“Telur: lima.”
“Makasih.”
“Tapi rata-ratanya masih tiga,” katanya. “Soalnya ada kangkung.”
Kami makan jam satu.
Nasi sempurna. Telur sempurna. Kangkung yang tidak bisa disebut kangkung lagi.
Aku memakan kangkungnya.
Aku mau mencatat itu karena aku bangga: aku memakan tiga sendok kangkung yang warnanya seperti lap, dan aku tidak berkomentar apa pun, dan aku menelannya semua.
“Nay.”
“Hm?”
“Nggak usah.”
“Ini enak.”
“Nay.”
“Har, ini—”
“Aku bisa lihat mukamu,” katanya. “Kamu ngunyahnya di sebelah kanan doang. Kamu selalu ngunyah kanan-kiri.”
Aku menaruh sendokku.
“KAMU MERHATIIN AKU NGUNYAH?”
“Aku merhatiin semua orang ngunyah.”
“ITU LEBIH SEREM, HAR.”
Sekar tertawa sampai tersedak dan aku harus menepuk punggungnya, dan Hari mengambil piring kangkung itu dan memindahkan seluruh isinya ke piringnya sendiri tanpa berkata apa-apa.
“Har—”
“Aku yang bikin.”
“Itu bukan hukuman.”
“Ini bukan hukuman,” katanya, dan mulai memakannya. “Ini pembukuan.”
Tante Ratih pulang jam tiga.
Dia masuk, menaruh tasnya, dan mencium bau dapur, dan berhenti di ambang pintu.
“Har.”
“Iya, Bu.”
“Kamu masak.”
“Iya, Bu.”
Dia berjalan ke dapur. Kami bertiga mengikutinya seperti terdakwa.
Dia mengangkat tutup wajan.
Dia memandangi kangkung itu selama mungkin sepuluh detik.
Lalu dia menutupnya kembali, dan berbalik, dan berkata:
“Nasinya siapa yang masak?”
“Aku, Bu.”
“Ini bagus.”
“Makasih, Bu.”
“Kangkungnya?”
“Aku juga.”
“Har.”
“Iya, Bu.”
Tante Ratih duduk di kursi dapur — pelan sekali, dengan satu tangan di sandaran — dan menghela napas panjang.
“Kamu ngaduknya pelan, ya.”
“...Iya, Bu.”
“Ibu udah nebak dari warnanya.” Dia mengambil gelas. “Kamu itu kalau ngerjain sesuatu selalu mikir makin teliti makin bagus.”
“Iya, Bu.”
“Kangkung itu nggak butuh teliti,” katanya. “Kangkung butuh cepet terus udahan.”
“Iya, Bu.”
“Nggak semua yang bagus itu yang dikerjain lama, Har.”
Dan dia meminum airnya, dan Hari berdiri di dapur dengan sendok di tangan, dan aku berdiri di sebelahnya dan menyadari — dengan sangat pelan, seperti orang yang baru melihat jahitan di bawah cahaya — bahwa Tante Ratih tidak sedang membicarakan kangkung.
Sekar menyerahkan penilaiannya jam empat, ditulis rapi, dengan garis-garis yang dibuat memakai penggaris yang tadi dipakai mengukur air nasi.
PENILAIAN MASAK — KAK HARI
Nasi: 5
Telur: 5
Kangkung: 1
Kebersihan dapur: 2 (ada bawang di lantai)
Kecepatan: 1 (dua jam)
Rata-rata: 2,8
Catatan: Kak Kanaya tidak masak apa-apa jadi tidak dinilai.
“SEKAR.”
“Kakak nggak masak.”
“Aku motong bawang!”
“Kakak motong satu bawang terus nangis terus berhenti.”
“ITU BAWANG MERAH, SEKAR.”
“Aku cuma nulis datanya.”
Kami mencuci piring berdua jam setengah lima.
Dia mencuci, aku membilas, karena kami mencoba sebaliknya di menit pertama dan dia mengambil alih dalam empat puluh detik karena menurutnya aku “nggak nyabunin bagian bawahnya”.
“Har.”
“Hm?”
“Kamu tahu nggak yang tadi Tante bilang?”
“Yang mana?”
“Yang nggak semua yang bagus itu dikerjain lama.”
Dia membilas satu piring dan menyerahkannya.
“Iya.”
“Kamu ngerti?”
“Ngerti.”
“Kamu ngerti yang bagian kangkungnya, atau yang bagian satunya?”
Hari berhenti menggosok.
Air kerannya jalan. Dari ruang tengah ada suara Sekar berdebat dengan TV.
“Nay.”
“Hm?”
“Nay.”
Aku menaruh piring yang sedang aku pegang.
“Iya, Har?”
Dan dia berdiri di depan wastafel dapur rumahnya sendiri, jam setengah lima sore hari Sabtu, dengan tangan penuh sabun.
“Aku nggak tahu caranya ngerjain sesuatu setengah-setengah,” katanya. “Aku pernah nyoba. Aku nggak bisa.”
“Har—”
“Kalau aku ngerjain, aku ngerjain sampai selesai. Kalau aku nggak ngerjain, aku nggak nyentuh sama sekali.” Dia kembali menggosok. “Nggak ada tengahnya.”
“Itu nggak selalu jelek.”
“Iya,” katanya. “Tapi kangkungnya jadi kayak lap.”
Aku tertawa, dan dia tersenyum sedikit, dan kami menyelesaikan cucian jam lima kurang.
Di ruang tengah, Tante Ratih sudah tertidur di kursi dengan TV menyala.
Hari mengambil kain dari jemuran dan menyampirkannya di bahu ibunya, pelan sekali, dan mematikan TV, dan mengambil gelas dari meja.
“Har.”
“Hm?”
“Tante capek banget, ya.”
“Hajatan dari pagi,” katanya, dan membawa gelas itu ke dapur.
Dan aku berdiri di ruang tengah rumah itu jam lima kurang, memandangi perempuan lima puluh dua tahun yang tertidur di kursi dengan kain di bahunya, dan aku berpikir bahwa hari itu hari Sabtu yang menyenangkan.
Aku benar.
Itu memang hari Sabtu yang menyenangkan.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur reading
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup