← Garansi Seumur Hidup

Chapter Three

Benang Merah

[POV: Hari] · [Hari ke-3]


Pulpennya kembali sebelum aku sempat duduk.

“Nih. Makasih, ya.”

Kanaya menaruhnya di mejaku, ujungnya sejajar dengan tepi meja, yang menurutku dia lakukan dengan sengaja.

Aku mengambilnya. Tutupnya ada bekas gigitan kecil di dua tempat.

“Aku gigit-gigit,” katanya, tanpa nada malu sedikit pun. “Maaf. Kalau lagi mikir aku suka gitu.”

“Nggak apa-apa.”

“Kalau jijik bilang.”

“Nggak.”

“Kamu itu,” dia menarik kursinya, “kalau ditanya jawabannya cuma tiga: nggak apa-apa, nggak tahu, sama nggak.”

“...Iya.”

“Nah, empat.”

Aku menaruh pulpen itu ke kotak pensilku dan menutup resletingnya, dan untuk beberapa detik yang cukup memalukan untuk dikenang, aku memikirkan bahwa jumlahnya sekarang tiga lagi.

“Kotak pensil kamu resletingnya loncat,” kataku.

Aku tidak berencana mengatakan itu. Kalimat itu keluar sendiri, seperti kancing yang jatuh.

Kanaya menunduk ke kotak pensil abu-abunya. Menariknya sekali. Resletingnya nyangkut di gigi ketiga dari ujung, persis seperti kemarin.

“Iya. Udah dari bulan lalu.”

“Itu bisa dibenerin.”

“Bisa?”

“Giginya nggak ada yang copot. Cuma rumahnya melar.” Aku berhenti, sadar aku sudah bicara empat kalimat berturut-turut untuk pertama kalinya dalam tiga hari. “...Kayaknya.”

Dia memandangku beberapa saat.

“Kamu tuh sebenernya tahu banyak, ya.”

“Nggak.”

“Nah. Balik lagi ke tiga.”


Praktikum kimia hari itu berantakan bahkan sebelum dimulai.

Ada dua kelompok yang tertukar bahan, satu orang lupa bawa jas lab, dan Pak Hendra menghabiskan sepuluh menit pertama untuk menjelaskan aturan yang sudah dijelaskan minggu lalu.

Kanaya, seperti biasa, berakhir mengurus semuanya tanpa ada yang menyuruh.

Dia yang membagi ulang kelompok. Dia yang mengambilkan jas lab cadangan dari ruang sebelah. Dia yang berdiri di antara meja tiga dan meja empat waktu Dimas hampir menyenggol rak berisi tabung reaksi, dan menahannya dengan satu tangan sambil masih memegang buku prosedur di tangan yang lain.

“Dimas, tanganmu.”

“Ya ampun. Sori, Nay.”

“Nggak apa-apa. Geser aja.”

Semua orang menganggap itu biasa. Menurutku itu tidak biasa. Kalau kamu memperhatikan cukup lama, kamu akan sadar bahwa di setiap ruangan yang tidak berantakan, selalu ada satu orang yang capek.

Bunyinya terjadi waktu Kanaya memutar badan untuk kembali ke mejanya.

Sriiik.

Pendek. Kering. Bunyi kain yang menyerah.

Ada baut di sudut bawah meja lab — kepalanya menonjol keluar sekitar setengah senti, karat, dan sudah begitu sejak aku kelas sepuluh. Rok Kanaya tersangkut di sana dan robek waktu dia melangkah.

Ruangan langsung berubah bunyinya.

Ada yang menahan napas. Ada yang tertawa kecil di barisan belakang, tawa refleks, jenis yang tidak sempat dipikirkan dulu. Ada yang langsung menoleh, dan ada yang langsung pura-pura tidak menoleh, dan yang kedua itu jauh lebih terasa.

Robekannya di sisi kiri belakang, sekitar sepuluh senti di bawah pinggang. Bentuknya seperti huruf L yang tidak selesai: tujuh senti mengikuti arah serat kain, lalu membelok tiga senti melawan serat.

Yang melawan serat itu masalahnya. Yang searah serat masih bisa dirapatkan. Yang melawan serat berarti benangnya putus, dan benang yang putus tidak bisa dikembalikan — cuma bisa diganti.

Aku menyadari semua itu dalam waktu kurang dari dua detik, dan itu membuatku merasa seperti orang paling tidak berguna di ruangan ini.

Kanaya tidak menjerit. Dia bahkan tidak berhenti berjalan.

Dia meraih jaket olahraganya dari sandaran kursi, mengikatnya di pinggang dengan satu gerakan, lalu melanjutkan kalimat yang tadi terpotong.

“—jadi kelompok empat pakai bahan yang di rak bawah, ya. Yang atas punya kelompok satu.”

“Nay,” kata Nadine pelan. “Kamu—”

“Nanti,” kata Kanaya. “Praktikum dulu.”

Dari meja belakang, Vania menopang dagu dengan punggung tangannya.

“Kuat, ya,” katanya, cukup keras untuk terdengar, dengan senyum yang sulit dibaca. “Kalau aku udah nangis.”

“Kamu emang gampang nangis, Van,” kata Regita.

“Aku nggak gampang nangis.”

“Kemarin nangis gara-gara filter.”

“Regit.”

Dan begitu saja, perhatian ruangan pindah, dan Kanaya bisa bernapas.

Aku ingin mencatat satu hal: Vania melakukan itu dengan sengaja. Aku tidak tahu apakah itu bentuk baik hati atau bentuk kepemilikan, tapi dia melakukannya dengan sengaja.

Bagas datang dari meja seberang dengan jaketnya sudah setengah dilepas.

“Nay, pakai punyaku aja. Punyaku lebih panjang.”

“Aku udah pakai punyaku, Gas.”

“Punyamu tipis.”

“Ini lab, bukan naik gunung.”

“Ya tapi—”

“Bagas.” Kanaya tersenyum, dan senyum itu rapi sekali, seperti pintu yang ditutup pelan-pelan. “Makasih. Beneran. Tapi kalau aku pakai jaket kamu, satu sekolah bakal ngomongin itu sampai hari Jumat.”

Bagas berkedip. “Oh.”

“Iya.”

“...Bener juga.”

Dia kembali ke mejanya, dan wajahnya tetap ramah, dan aku yakin dia tidak sadar sama sekali bahwa dia baru saja ditolak dengan sangat sopan di depan sembilan orang.

Aku memutar-mutar pensil di tanganku.

Bagas menawarkan hal yang benar. Itu yang mengganggu. Kalau dia menawarkan hal yang salah, aku bisa merasa lebih pintar. Tapi dia menawarkan hal yang benar dengan cara yang terlalu terang, dan Kanaya menolaknya bukan karena tawarannya jelek, melainkan karena tawarannya kelihatan.

Dan aku duduk di pojok belakang dengan tangan yang tahu persis harus mengerjakan apa, dan mulut yang tidak akan pernah menawarkan apa pun.

Aku tidak yakin itu membuatku lebih baik dari Bagas. Aku cuma yakin itu membuatku lebih aman.


Bel pulang, kelas kosong dalam empat menit. Rekor.

Aku sedang menunggu koridor sepi seperti biasa waktu Kanaya kembali ke kelas dengan celana olahraga dan kantong plastik hitam di tangan.

Nadine ikut di belakangnya.

“Dijahit aja, Nay.”

“Nggak bisa. Robeknya nyerong.”

“Emang kenapa kalau nyerong?”

“Nggak tahu, tapi tukang jahit depan komplekku selalu bilang gitu kalau nggak mau ngerjain.” Kanaya melempar kantong itu ke atas mejanya. “Ya udah, beli baru aja.”

“Berapa emang?”

“Seratus dua puluh. Belum jahit nama.”

Nadine meringis.

“Nggak apa-apa,” kata Kanaya, dengan nada yang sudah aku kenal betul karena aku memakainya empat kali sehari. “Sisa dua minggu ini pakai yang lama, nanti minta pas awal bulan.”

“Bilang aja ke mamamu.”

“Mama lagi banyak urusan.”

“Nay.”

“Aku nggak apa-apa, Nad.”

Ada jeda pendek. Nadine tidak mendorong lebih jauh, dan menurutku itu keputusan yang tepat, walaupun bukan keputusan yang benar.

Lalu Kanaya melirik jam dinding dan wajahnya berubah.

“Ya ampun, rapat panitia.”

“Sekarang?”

“Sepuluh menit lalu.” Dia menyambar map-nya dan setengah berlari ke pintu. “Nad, ayo—”

Mereka keluar.

Kantong plastik hitam itu masih di atas meja.

Aku duduk di pojok belakang selama tujuh menit tanpa bergerak, sambil melakukan hal yang selalu aku lakukan sebelum melakukan hal yang tidak seharusnya: mencari alasan untuk tidak melakukannya.

Alasan satu: itu bukan urusanku.
Alasan dua: kalau ketahuan, aku harus menjelaskan, dan aku tidak punya penjelasan yang tidak terdengar aneh.
Alasan tiga: robek yang melawan serat itu susah. Bisa gagal. Kalau gagal, roknya jadi lebih rusak daripada sebelumnya.

Alasan ketiga itu yang paling kuat, dan justru alasan ketiga itu yang membuatku berdiri.

Karena kalau susah, artinya memang cuma aku yang bisa.

Dan itu, ternyata, adalah bentuk kesombongan yang paling murah yang pernah aku punya.


“Yang mana?”

Ibu memutar lampu meja ke arahku tanpa diminta.

“Ini.” Aku membentangkan kainnya di atas alas. “Yang tiga senti ini nyerong.”

“Hm.” Ibu mendekat, memicingkan mata di balik kacamata bacanya, lalu menyentuh tepi robekan dengan ibu jari. “Bahannya masih bagus. Baru?”

“Setahun.”

“Ada sisa kainnya?”

“Nggak ada.”

“Kelim bawahnya?”

“Ada dua senti.”

Ibu mengangguk sekali. Itu artinya: kerjakan.

Ini bagian yang tidak pernah aku ceritakan ke siapa pun, karena kalau diceritakan bunyinya membosankan.

Kalau kamu tidak punya kain tambalan, kamu ambil benangnya dari kain itu sendiri. Dari kelim, dari bagian dalam saku, dari tempat yang tidak akan dilihat orang selama sisa umur baju itu. Kamu tarik satu per satu, pelan, supaya tidak putus.

Lalu kamu anyam kembali di tempat yang robek. Satu benang, satu jalur. Mengikuti arah tenunannya. Atas-bawah-atas-bawah, persis seperti yang dilakukan mesin waktu kain itu dibuat pertama kali.

Kalau kamu benar, robekannya tidak ditutupi. Robekannya hilang.

Aku mulai jam delapan lewat. Ibu masih di mesinnya sampai jam sepuluh, lalu mematikan lampunya, lalu berhenti di belakangku sebentar.

“Har.”

“Iya.”

“Jangan buru-buru.”

“Iya.”

“Dan jangan sampai jam dua.”

Aku sampai jam satu lewat empat puluh.

Robekan yang searah serat selesai duluan. Yang melawan serat butuh tiga jam, dan dua kali harus kubongkar ulang karena anyamannya menarik kainnya jadi berkerut.

Waktu selesai, aku balik ke sisi luar, dan aku memiringkannya ke bawah lampu dengan sudut yang paling jahat.

Tidak ada.

Kalau kamu tahu persis di mana harus mencari, kamu mungkin bisa merasakan bedanya dengan ujung jari. Mungkin. Kalau kamu tahu.

Lalu aku mengambil gulungan benang merah dari kotak paling bawah.

Itu kebiasaan ayah. Setiap pekerjaan yang selesai dikunci dengan satu simpul benang merah di sisi dalam, di tempat yang tidak akan pernah kelihatan dari luar. Waktu aku kecil aku pernah tanya kenapa harus merah, kenapa harus disembunyikan kalau tidak ada yang lihat.

Ayah bilang, “Justru itu.”

“Justru apa?”

“Kalau ada orang nemu baju ini sepuluh tahun lagi,” katanya waktu itu, sambil mengangkat kain ke arah lampu, “dia nggak akan tahu siapa yang benerin. Tapi kalau dia balik kelimnya, dia tahu ada yang pernah benerin.”

“Terus gunanya apa, Yah?”

“Nggak ada gunanya.”

“Terus kenapa dilakuin?”

Ayah menaruh kainnya, dan aku ingat dia butuh waktu agak lama untuk menjawab, seperti orang yang sedang mencari kata yang cukup kecil untuk muat di kepala anak umur delapan.

“Biar ada,” katanya akhirnya. “Nggak semua yang ada harus kelihatan.”

Aku tidak mengerti sampai bertahun-tahun kemudian, dan aku baru benar-benar mengerti malam itu, jam satu lewat empat puluh, di ruang depan rumah kami.

Pintu berderit.

“Kak.”

Sekar berdiri di ambang, memeluk bantal, matanya setengah tertutup.

“Kenapa belum tidur?”

“Kakak juga.”

“Aku lagi kerja.”

Sekar menyeret kakinya sampai ke sebelahku, melihat rok yang terlipat di meja, lalu melihat gulungan benang merah.

“Itu punya cewek yang kemarin?”

“...Beda orang.”

“Kak, itu bohong.”

“Tidur, Sekar.”

Dia tidak beranjak. Dia malah bersandar ke lenganku, hangat dan berat seperti karung beras kecil.

“Kak, kalau dia nanya siapa yang benerin, Kakak jawab apa?”

“Dia nggak akan nanya.”

“Kalau nanya?”

Aku mematikan lampu meja.

“Ya udah, tidur.”

Aku mengunci jahitanku di balik lipatan kelim. Satu simpul. Kecil sekali, sebesar kepala jarum.

Lalu aku melipat rok itu, memasukkannya kembali ke kantong plastik hitam yang sama, dan melipat mulut kantongnya dua kali ke arah dalam — persis seperti waktu Kanaya melemparnya ke meja.


Jam lima lewat lima puluh, koridor masih basah bekas pel.

Aku menaruh kantong plastik itu di atas mejanya, di posisi yang sama, dengan sudut yang sama.

Lalu aku berhenti.

Ada satu hal yang belum aku putuskan sepanjang malam, dan sekarang aku berdiri di kelas kosong jam enam kurang sepuluh untuk memutuskannya: apakah aku menaruh kantongnya terbuka atau tertutup.

Kalau tertutup, dia mungkin tidak akan membukanya sampai di rumah. Mungkin dia langsung buang. Tiga jam kerjaku masuk tempat sampah dan tidak ada yang tahu, dan sejujurnya itu bukan skenario terburuk.

Kalau terbuka, dia akan lihat. Dan kalau dia lihat, dia akan bertanya.

Aku berdiri di sana lebih lama dari yang pantas untuk keputusan sekecil itu.

Lalu aku melipat mulut kantongnya dua kali ke arah dalam, persis seperti semula.

Tertutup.

Kalau memang harus ketahuan, biar ketahuan karena dia yang mencari, bukan karena aku yang menunjukkan.

Aku duduk di pojok belakang, mengeluarkan buku, dan pura-pura mengerjakan sesuatu selama empat puluh menit, karena kalau aku pergi lalu masuk lagi bersama anak-anak lain, aku harus melewati pintu dua kali, dan orang yang melewati pintu dua kali itu diingat.

Bel pertama masih lama.

Hari ketiga sebenarnya sudah selesai berjam-jam yang lalu.

Aku cuma belum mau menyudahinya.