← Garansi Seumur Hidup

Chapter Fifty

Seumur Hidup

[POV: Hari] · [Hari ke-…]


Aku menjahitnya malam-malam, seperti biasa, karena tangan yang mengerjakan sesuatu itu satu-satunya bentuk doa yang aku bisa.

Enam tahun dari hari pertama.

Aku menuliskan angkanya di awal karena aku sudah berhenti berpura-pura bahwa aku bisa memulai apa pun tanpa angka, dan karena Kanaya bilang aku boleh, dan karena orang yang berhak menyuruhku berhenti sudah lama tidak menyuruhku berhenti.

Ini yang terjadi dalam enam tahun.


Ibu.

Donor datang bulan Oktober tahun keempat.

Bukan keajaiban. Antrean.

Nomor urutnya naik dari seribu sekian ke delapan ratus sekian ke empat ratus sekian, dan pada satu hari Selasa jam sebelas siang, rumah sakit menelepon dan bilang ada donor jenazah yang cocok dan ibu harus datang dalam empat jam.

Kami sampai dalam dua jam empat puluh menit.

Operasinya lima jam. Aku duduk di kursi keempat dari ujung, dekat jendela, di lorong lantai dua yang sudah aku hafal seratus tujuh puluh delapan kali.

Kanaya duduk di kursi kelima.

Sekar tidur di kursi keenam dengan kepala di pangkuan Kanaya.

Dan aku ingin mencatat satu hal tentang lima jam itu: aku tidak menghitung ubin.

Aku menghitung sesuatu yang lain, yang jauh lebih berguna, yang aku hitung berulang-ulang sampai jam sebelas malam:

tiga.

Ada tiga orang di lorong itu, dan aku salah satunya.


Ibu tidak sembuh.

Aku menuliskan itu dengan sengaja, dan aku menuliskannya karena aku sudah berjanji ke adikku di kamar yang temboknya sudah kosong, di rumah yang tinggal lima hari lagi jadi rumah kami.

Ginjal cangkok itu bukan ginjal yang tumbuh kembali.

Ibu minum obat penekan imun setiap hari, seumur hidup, dan kalau berhenti tiga hari ginjalnya ditolak badannya sendiri. Kontrol sebulan sekali. Tidak boleh sakit, tidak boleh capek berlebihan, tidak boleh makan sembarangan.

Dan kalau ada yang bertanya kepada ibuku bagaimana kabarnya, ibuku menjawab: “Alhamdulillah, tinggal minum obat.”

Itu tambalannya.

Kelihatan, warnanya beda, jahitannya kelihatan dari luar.

Dan bajunya masih bisa dipakai.


Aku.

Aku masuk kuliah umur dua puluh, dua tahun lebih lambat dari seharusnya.

Teknik Industri, kampus negeri di kota ini, kelas malam untuk semester satu sampai empat karena aku masih bekerja pagi.

Aku lulus umur dua puluh empat, semester kesembilan, dengan nilai yang oleh Kanaya disebut “cukup” dan oleh Sekar disebut “di bawah rata-rata keluarga”.

Skripsiku tentang penataan alur kerja di konveksi kecil.

Aku memilih judulnya sendiri dan pembimbingku bertanya kenapa dan aku bilang karena saya sudah mengerjakannya empat tahun tanpa tahu ada namanya.


Konveksi.

Kami membukanya tahun ketiga.

Empat mesin. Satu ruangan sewa di lantai dua ruko, dua puluh menit dari kontrakan. Nama usahanya ditulis Sekar di kertas dan ditempel di pintu selama enam bulan sebelum kami mampu bikin plang.

Sekarang ada sebelas orang.

Sembilan penjahit, satu tukang potong, satu yang mengurus semuanya yang bukan kain.

Ibu memegang kualitas. Dia duduk di kursi di dekat pintu dan memeriksa setiap potong sebelum keluar, empat jam sehari, lima hari seminggu, dan tidak ada satu pun dari sebelas orang itu yang berani menyerahkan barang yang jahitannya berkerut.

Dua dari sembilan penjahit itu ibu-ibu yang suaminya pasien cuci darah di rumah sakit yang sama.

Itu bukan kebetulan.

Itu satu-satunya sistem yang pernah aku rancang seumur hidup, dan aku merancangnya tanpa rundown, dan aku merancangnya karena aku pernah duduk di kursi keempat dari ujung selama tiga ratus lima puluh enam jam dan melihat siapa saja yang duduk di sana.


Kanaya.

Dia lulus tepat waktu, empat tahun, dan sekarang bekerja di yayasan yang mengurus beasiswa pendidikan.

Pekerjaannya membosankan.

Aku menuliskan itu karena dia sendiri yang bilang, berkali-kali, dengan bangga: pekerjaannya membosankan, isinya berkas dan alur dan menelepon kelurahan dan menyusun panduan yang tidak ada yang membacanya kecuali orang yang benar-benar butuh.

Tahun lalu yayasan itu mengubah format berkasnya berdasarkan sesuatu yang dia susun.

Jumlah pendaftar dari sekolah-sekolah di daerah naik empat puluh satu persen.

Empat puluh satu persen dari sesuatu yang jumlahnya kecil sekali tetap jumlahnya kecil. Aku menghitungnya. Sekitar tiga ratus anak.

Tiga ratus anak yang tidak akan pernah tahu namanya.

Dan waktu aku menyebutkan angka itu kepadanya di lantai ruang depan kontrakan kami, dia diam sekitar sepuluh detik, lalu bilang:

“Har.”

“Hm?”

“Aku nggak ngecek angkanya.”

“Aku tahu.”

“Aku beneran nggak ngecek.” Dia menutup matanya. “Aku nggak tahu berapa sampai barusan.”


Yang lain.

Fikri kerja di Jakarta, di perusahaan yang aku tidak pernah berhasil mengerti isinya. Dia mengirim pesan rata-rata sekali dalam dua bulan, isinya rata-rata empat kata, dan dia datang setiap kali ada sesuatu yang penting tanpa pernah mengumumkan bahwa dia datang.

Bagas menikah duluan, umur dua puluh tiga, dengan orang yang dia kenal di tempat kerja. Dia mengundang kami dan menempatkan kami di meja depan dan memperkenalkan aku ke bapaknya sebagai “temen gue yang paling keras kepala se-Indonesia.”

Nadine kuliah kedokteran gigi dan sekarang koas dan selalu kelihatan capek dan selalu menelepon Kanaya setiap Minggu malam tanpa gagal sekali pun dalam enam tahun.

Regita punya usaha rias. Dia merias empat puluh orang per bulan dan menceritakan seluruh isi hidup empat puluh orang itu kepada siapa pun yang mau mendengarkan.

Vania menyelesaikan kuliahnya di Bandung dan tidak pernah membalas satu pun pesan selama empat tahun.

Di tahun kelima dia membalas satu.

Isinya: aku udah nggak mikirin itu tiap hari lagi.

Kanaya membacanya sepuluh kali dan tidak membalas, karena membalas akan membuat Vania jadi orang yang sudah dimaafkan, dan Vania tidak pernah mau jadi itu.


Sekar.

Enam belas tahun. Kelas sebelas.

Dia masih mencatat semuanya.

Buku tulisnya sekarang buku yang keempat, dan isinya sistem yang tidak dijelaskan kepada siapa pun, dan dia menolak keras setiap permintaan untuk membukanya.

Dua tahun lalu dia bilang mau jadi dokter hewan.

Setahun lalu dia bilang mau jadi akuntan.

Bulan lalu dia bilang mau jadi dua-duanya “biar kucingnya bisa bayar”.

Dia belum bisa menjahit.

Aku menawarkan tiga kali dan dia menolak tiga kali, dan waktu aku bertanya kenapa, dia bilang:

“Kak, di rumah ini udah ada dua orang yang bisa jahit dan nol orang yang bisa ngitung pajak.”


Aku mengerjakan kebayanya lima minggu.

Lima minggu, dua puluh tiga malam, dan aku membongkar bagian dadanya tujuh kali karena kain kebaya itu bergerak lebih parah dari kain gaun dan karena aku belum pernah mengerjakan bordir yang harus ketemu di jahitan sisi.

Ibu membantu.

Dia memegang kualitas, seperti di konveksi, dan dia menyuruhku membongkar empat dari tujuh kali itu.

“Har.”

“Iya, Bu.”

“Bordirnya meleset dua mili.”

“Bu, itu dua mili.”

Dan ibuku duduk di kursi di dekat jendela — kursi biasa, bukan kursi mesin, karena tangannya sudah lama tidak stabil dan dia sudah lama berhenti berpura-pura — dan berkata:

“Dua mili itu beda antara pas sama hampir.”


Aku mengukurnya bulan Februari.

Ruang depan kontrakan yang sekarang bukan kontrakan lagi, karena kami membeli rumah kecil di gang sebelah tahun kelima, dengan cicilan dua belas tahun yang angkanya aku hafal.

Sekar mencatat.

“Nama.”

“Sekar, dia udah tinggal di rumah ini tiap akhir pekan selama dua tahun.”

“Prosedur, Kak.”

“Kamu enam belas tahun.”

“Prosedur nggak punya umur.”

Kanaya berdiri di tengah ruangan sambil menahan tawa.

“Kanaya Larasati,” katanya.

“Umur?”

“Dua puluh empat.”

“Tinggi?”

“Seratus enam puluh tiga setengah.”

Sekar berhenti menulis.

“Sama kayak enam tahun lalu,” katanya.

“Sekar.”

“Aku cuma bilang datanya.”


Empat belas ukuran.

Aku mengerjakannya dalam delapan belas menit, dan waktu selesai Kanaya bertanya berapa lama, dan aku menyebutkan angkanya, dan dia berkata:

“Turun.”

“Iya.”

“Bulan Mei enam tahun lalu berapa?”

“Empat puluh satu.”

“Terus Februari lima tahun lalu?”

“Dua puluh dua.”

“Terus sekarang delapan belas.”

“Iya.”

Dia berdiri di tengah ruang depan rumah kecil di gang sebelah itu dan berkata:

“Har, kamu makin cepet tiap kali.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku menggulung pita ukurku dan menaruhnya di meja.

“Karena yang bikin lama itu bukan ngukurnya,” kataku.


Aku menyelesaikan kebayanya hari Rabu, tiga hari sebelum.

Dan malam itu aku melakukan hal yang butuh enam tahun untuk aku lakukan.

Aku memotong pita kain putih sepanjang empat senti dari gulungan di kotak paling bawah — yang biasa ibu pakai untuk label nama seragam anak SD, gulungan yang sama, yang kami bawa dari Gang Melati dalam kardus nomor sembilan — dan aku mengambil spidol kain.

Aku duduk memegang spidol itu selama sekitar dua menit.

Dua menit.

Bulan Mei tahun pertama aku duduk dua puluh menit dan menulis empat kata dan tidak berani menyebut nama.

Bulan Februari tahun kedua aku duduk delapan menit dan menulis satu tanggal.

Malam Rabu itu dua menit, dan aku tahu persis apa yang akan aku tulis sejak lima minggu sebelumnya, dan aku duduk dua menit bukan karena bingung.

Aku duduk dua menit karena aku ingin duduk dua menit.

Lalu aku menulis, dengan huruf kapital kecil-kecil, jaraknya sama semua, dua koma dua milimeter.

SEUMUR HIDUP

Tidak ada angka.

Tidak ada tanggal. Tidak ada garis miring. Tidak ada satu pun karakter di pita itu selain sepuluh huruf dan satu spasi.

Aku menjahitnya di balik kerah bagian dalam, sisi kiri. Empat tusuk di setiap sudut, benang putih.

Dan satu simpul benang merah.

Di luar.


Aku memberikannya hari Kamis malam.

“Har, ini belum boleh dilihat.”

“Kata siapa?”

“Kata semua orang.”

“Nay.”

“Regita bilang pamali.”

“Regita juga bilang sekolah kita bekas rumah sakit.”

Dan Kanaya tertawa — bahu naik dulu, baru suara — dan mengambil kotak itu.

“Nay.”

“Hm?”

“Nay.”

Dia menegakkan punggungnya, seperti selalu, selama enam tahun, sejak trotoar di bulan Desember.

“Iya, Har?”

Dan aku berdiri di ruang depan rumah kecil di gang sebelah, dengan kotak kebaya di tangannya, dan berkata:

“Baliknya sekarang aja.”


Dia membukanya di lantai.

Kebaya itu putih tulang, bordirnya di dada dan lengan, dan bahannya adalah bahan yang aku pilih di rak paling belakang Toko Pak Hasan — yang harganya per meter lebih mahal dari seluruh isi tas sekolahku dulu, yang aku pegang enam tahun lalu dan aku kembalikan ke rak.

Aku membelinya bulan Januari.

Pak Hasan tidak memberi diskon sama sekali.

Dia menyebut harganya, dan aku membayarnya, dan laki-laki enam puluh delapan tahun itu menghitung uangnya dua kali dan memasukkannya ke laci dan berkata “makasih” seperti kepada pembeli mana pun.

Aku hampir menangis di kasir.


Kanaya mengangkat kebaya itu dan membalik kerahnya dengan dua tangan, memutar badannya setengah, melihat dari sudut yang tidak nyaman.

Gerakan yang sudah dia lakukan ke ratusan kain selama enam tahun.

Dan dia berhenti.

SEUMUR HIDUP

Dia memandanginya lama sekali.

“Har.”

“Hm?”

“Nggak ada angkanya.”

“Enggak.”

“Har, kamu selalu naruh angka.”

“Iya.”

“Setiap label kamu selalu ada angkanya.” Suaranya sudah rusak. “Tiga puluh hari. Dua belas garis miring delapan. Selalu ada.”

Aku duduk di lantai di seberangnya.

“Nay.”

“Hm?”

“Kamu inget kamu pernah nanya kenapa harus ada batesnya?”

Dia menutup mulutnya dengan punggung tangan.

“Jam enam dua puluh pagi,” kataku. “Di kelas. Kamu ketawa dulu, terus kamu berhenti ketawa, terus kamu nanya kenapa harus ada batesnya.”

“Har—”

“Aku jawab semua ada.”

“Iya.”

“Dan kamu bilang nggak semua.” Aku memandangi pita empat senti itu di tangannya. “Terus kamu bilang nanti kamu bakal nyariin contohnya.”

Kanaya mengangkat wajahnya, dan wajahnya berantakan total, dan dia berkata:

“Aku nemu contohnya sembilan hari kemudian.”

“Iya.”

“Di depan pagar rumahku.”

“Iya.”

“Aku bilang jahitannya nggak ilang tanggal tiga puluh satu.”

“Iya,” kataku. “Kamu bener.”

Dan aku menunjuk pita itu.

“Nay, aku enam tahun mikirin itu,” kataku. “Dan kamu bener, tapi kamu setengah bener.”

“Setengah gimana?”

“Jahitannya emang nggak ilang,” kataku. “Tapi jahitan doang itu bukan janji. Jahitan itu cuma bekas.”

Aku menelan ludah.

“Yang aku nggak bisa selama enam tahun itu bukan jahitannya,” kataku. “Yang aku nggak bisa itu nulis garansi tanpa tanggal.”


Kami menikah hari Minggu.

Di gedung serbaguna kelurahan, yang disewa dua ratus lima puluh ribu untuk enam jam, dengan dekorasi yang dikerjakan Regita dan tiga orang temannya selama satu setengah hari.

Ada seratus empat puluh dua orang.

Sekar yang menghitung, dan aku tidak mengecek angkanya, dan aku ingin mencatat itu karena aku akan menuliskannya lagi nanti.

Yang datang dari kota lama: Bu Nur, Bu Sri dan suaminya, Bu Ningsih, Pak Darto, Bude Sri, dan enam orang lain dari Gang Melati yang menyewa satu mobil bersama-sama dan berangkat jam dua pagi.

Bu Nur menangis di pintu masuk sebelum acaranya mulai.

“Bu.”

“Ibu nggak nangis.”

“Bu Nur—”

“Ini debu.”

“Ini di dalam gedung, Bu.”

“Ya makanya,” katanya. “Debunya nggak keluar-keluar.”

Dia membawa gorengan.

Empat kardus. Untuk acara yang katering nasinya sudah dipesan lengkap.

Aku menerimanya, dan aku menaruhnya di meja depan, dan gorengan itu habis dalam empat puluh menit sementara katering resminya sisa dua nampan.


Pak Hasan datang.

Aku tidak mengundangnya dengan undangan. Aku mengundangnya langsung, di tokonya, waktu membeli bahan kebaya di bulan Januari, dan dia bilang “iya, insya Allah” dengan nada orang yang tidak akan datang.

Dia datang jam sembilan pagi dengan kemeja batik dan sepatu yang jelas dibeli untuk keperluan ini.

Dan dia membawa sesuatu yang dibungkus kain.

“Pak, ini apa?”

“Buka nanti.”

“Pak—”

“Har.” Dia menaruhnya di mejaku. “Saya jualan kain empat puluh enam tahun. Saya nggak pernah dateng ke kawinan orang bawa kain.”

Aku membukanya malam itu.

Isinya foto.

Foto laki-laki berdiri di depan Toko Pak Hasan, memegang gulungan kain, tidak menghadap kamera, sedang mengangkat kain itu ke arah cahaya.

Setengah wajahnya kena bayangan.

Di belakangnya ada tulisan tangan Pak Hasan: Baskara, 1998. Beli drill hitam 3 meter. Nggak nawar.


Sekar.

Dia berdiri di panggung jam sebelas siang dengan mikrofon yang tidak diminta siapa pun untuk dia pegang.

“Aku mau ngomong bentar.”

“Sekar—”

“KAK HARI, AKU UDAH DI PANGGUNG.”

Seratus empat puluh dua orang tertawa.

Dan adikku yang berumur enam belas tahun berdiri di panggung gedung serbaguna kelurahan dengan buku tulis di tangan — buku tulis, di atas panggung, di depan seratus empat puluh dua orang — dan berkata:

“Aku nyatet dari umur sembilan tahun.”

Ruangan itu diam.

“Aku nyatet Kak Kanaya dateng ke rumah berapa kali. Aku nyatet jam berapa dateng, jam berapa pulang. Aku nyatet berapa kali jarinya ketusuk.”

Dia membalik halaman.

“Terus aku coret semuanya bulan November tahun itu,” katanya. “Terus aku bikin buku baru.”

Aku merasakan sesuatu naik ke tenggorokanku dan aku tidak berusaha menahannya.

“Terus aku coret lagi,” katanya. “Terus bikin lagi.”

Dia mengangkat bukunya.

“Ini yang keempat,” katanya. “Dan di buku ini aku cuma nyatet satu angka, dan aku nyatetnya tiap hari selama enam tahun, dan nggak ada satu orang pun yang tahu.”

Dan Sekar Baskara menoleh ke arahku, di panggung, di depan seratus empat puluh dua orang.

“Kak Hari,” katanya. “Kakak selalu ngitung mundur.”

Ruangan itu betul-betul sunyi.

“Jadi aku ngitung maju,” katanya. “Dari hari Kak Kanaya pertama masuk rumah kita.”

Dia membuka halaman terakhir.

“Dua ribu dua ratus tiga puluh sembilan hari,” katanya.


Aku tidak mengeceknya.

Aku ingin menuliskan itu di sini, di paling akhir, karena itu satu-satunya hal dari seluruh cerita ini yang aku ingin ditulis dengan benar.

Aku tidak mengeceknya.

Kepalaku mulai. Tentu saja kepalaku mulai — hari kedelapan, ditambah enam tahun, dikurangi tahun kabisat, ditambah — dan angkanya sudah setengah jalan di dalam kepalaku sebelum Sekar selesai bicara.

Dan aku menghentikannya.

Bukan dengan susah payah. Bukan dengan disiplin. Aku cuma... berhenti, dengan cara yang sama seperti orang melepaskan gagang pintu.

Dua puluh empat tahun.

Dan itu pertama kalinya seumur hidupku aku menerima hitungan orang lain tanpa memeriksanya.


Kanaya menemukanku di belakang gedung jam satu siang.

Aku berdiri di dekat pintu dapur, di tempat yang tidak ada orangnya, di tempat yang cipratannya paling sedikit — karena sembilan tahun itu tidak hilang dan tidak akan pernah hilang dan aku sudah berhenti berpura-pura akan hilang.

“Har.”

“Nay.”

“Kamu ngumpet.”

“Aku istirahat.”

“Kamu ngumpet, Har.”

“...Iya.”

Dan dia berdiri di sebelahku di dekat pintu dapur gedung serbaguna kelurahan, memakai kebaya putih tulang yang aku kerjakan lima minggu, dengan seratus empat puluh dua orang di ruangan sebelah.

“Aku juga,” katanya.

Aku menoleh.

“Kamu?”

“Har, aku ngurusin acara empat tahun di SMA,” katanya. “Aku selalu di belakang panggung. Ini pertama kalinya acaranya tentang aku.”

“Rasanya gimana?”

Dia memikirkannya dengan serius.

“Serem,” katanya. “Terus enak.”

Dan aku tertawa — pendek, lewat hidung, hampir tidak ada suaranya — dan kami berdiri di situ selama mungkin empat menit tanpa mengatakan apa pun.


“Har.”

“Hm?”

“Kamu nggak ngecek angkanya Sekar.”

“Enggak.”

“Aku ngeliatin kamu.”

“Aku tahu.”

“Har, kamu—”

“Nay.”

Dia berhenti.

“Nay.”

Dan dia menegakkan punggungnya, di belakang gedung serbaguna kelurahan, jam satu siang, memakai kebaya dengan simpul benang merah di luar kerahnya.

“Iya, Har?”

Dan aku mengucapkan sesuatu yang aku susun selama enam tahun dan yang panjangnya cuma sembilan kata.

“Aku nggak tahu ini bakal berapa lama,” kataku.

Kanaya menutup mulutnya dengan punggung tangan.

“Dan aku nggak akan nyari tahu,” kataku.


Malam itu, di rumah kecil di gang sebelah, aku membuka laci.

Buku catatan coklat. Sampulnya sudah membulat di keempat sudutnya sekarang. Punggungnya masih lepas dari halaman. Karet gelang melingkar dua kali di tengahnya, karet yang keempat, karena tiga yang sebelumnya putus.

Aku membukanya ke halaman yang tidak punya kolom tanggal.

TIDAK BISA DIPERBAIKI

Tiga baris.

Baris pertama: namaku sendiri, ditulis umur empat belas dengan tinta yang sudah hampir hilang, dicoret dengan garis miring yang ujungnya turun dan tintanya menipis di tengah, dengan tiga kata di sebelah kanannya.

Baris kedua: Larasati, Kanaya — rumah — (—), dengan satu kata di luar kolom yang aku coret pakai penggaris di bulan Agustus tahun pertama.

Baris ketiga: Baskara, Ratih — ginjal — mulai 29/1, tulisan tangan ibuku, yang dia tulis di ruang jahit yang sudah kosong tiga hari sebelum kami pindah.

Aku tidak menghapus satu pun.

Aku tidak mencoret yang ketiga walaupun ibu sudah dapat donor. Aku tidak menulis ulang yang kedua walaupun kata coba itu sudah lama tidak relevan. Aku tidak merapikan coretan di baris pertama walaupun garisnya jelek.

Halaman itu tetap seperti apa adanya.

Dan aku menutupnya, dan membuka ke bagian belakang, ke halaman yang aku tulis di ruang jahit di Gang Melati nomor empat pada hari ketika seseorang mencoret namaku dengan garis paling jelek di seluruh buku ini.

MASIH DIKERJAKAN

Aku menambahkan satu baris.

Baskara, Kanaya — (—) — mulai hari ini

Kolom barangnya kosong.

Kolom tanggalnya tidak berisi angka.


Aku melingkarkan karet gelangnya dua kali dan menaruhnya di laci.

Di sebelahnya ada kaleng bekas permen. Isinya sekarang seratus tiga belas kancing dari orang-orang yang tidak tahu kancingnya hilang; aku tidak berhenti memungut, dan aku sudah berhenti berpura-pura akan berhenti.

Di atas laci ada kotak jahit plastik seukuran telapak tangan, yang isinya jarum tiga ukuran, benang, gunting kecil, satu batang korek api yang patah ujungnya, dan satu potongan pita kain sepanjang satu koma delapan senti bertuliskan dua belas garis miring delapan.

Di tembok, di ketinggian mata, ada papan kayu delapan puluh senti dengan cat yang hilang di dua tempat berbentuk telapak tangan.

Dan di lemari, dilipat di rak kedua, ada kain perca putih sepuluh kali sepuluh senti, penuh lubang bekas jarum sampai seratnya hampir menyerah, dengan empat kancing berjarak rata dan tusukan kelima yang meleset dan satu titik coklat kecil yang dulu merah.

Aku mematikan lampu meja.


“Har.”

“Hm?”

“Kamu belum tidur.”

“Bentar.”

“Har, ini jam satu.”

“Iya.”

Dan Kanaya berdiri di ambang pintu ruang depan rumah kecil di gang sebelah, dan aku duduk di depan mesin yang bukan mesin ayahku, dan tidak ada satu pun kain di bawah jarumnya.

“Kamu ngerjain apa?”

“Nggak ada.”

“Terus ngapain duduk di situ?”

Dan aku duduk di depan mesin itu jam satu pagi di hari pertama dari sesuatu yang tidak ada angkanya, dan aku menjawab dengan jujur, karena itu perjanjiannya, dan karena aku tidak akan berbohong satu kali pun lagi seumur hidupku kepada orang itu.

“Aku lagi ngerasain,” kataku.

“Ngerasain apa?”

“Nggak ngitung,” kataku.

Dan Kanaya Larasati berjalan masuk, dan duduk di lantai di sebelah kursiku, seperti tiga puluh enam hari Sabtu dan seratus delapan puluh empat jam dan dua ribu dua ratus tiga puluh sembilan hari, dan menyandarkan kepalanya ke lututku.

“Gimana rasanya?” katanya.

Aku menaruh tanganku di kepalanya.

“Serem,” kataku. “Terus enak.”


TAMAT