← Garansi Seumur Hidup

Chapter Eight

Ukuran Bahu

[POV: Hari] · [Hari ke-9]


Aku menghabiskan seluruh jam pelajaran keempat untuk memikirkan pita ukur.

Bukan dalam artian romantis. Dalam artian teknis, panik, dan sangat rinci.

Ada tujuh ukuran yang dibutuhkan untuk membuat rok seragam: lingkar pinggang, lingkar panggul, tinggi panggul, panjang rok, lingkar bawah, tinggi duduk, dan satu lagi yang namanya tidak enak diucapkan di kelas.

Dari tujuh itu, empat mengharuskan tanganmu mengelilingi orangnya.

“Har.”

“Hm.”

“Kamu nulis ‘lingkar pinggang’ di buku fisika.”

Aku menutup bukuku.

Fikri tidak berkomentar lebih jauh, yang menurutku adalah bentuk kasih sayang tertinggi yang pernah dia tunjukkan.

Selama tiga puluh detik.

“Har.”

“Apa.”

“Kamu tahu nggak kenapa orang beli skin di game padahal nggak nambah damage?”

“Nggak.”

“Karena skin itu satu-satunya bagian dari game yang beneran punya kamu.” Dia menggulir layarnya. “Statistik bisa di-nerf. Karakter bisa dibuat jelek sama patch. Skin enggak. Skin itu tetep di akun kamu sampai server-nya mati.”

“Kenapa kamu cerita ini?”

“Nggak tahu.” Fikri mengangkat bahu. “Kamu keliatan kayak orang yang lagi mikirin sesuatu bakal diambil.”

Aku menatap papan tulis dan tidak menjawab, dan Fikri tidak menuntut jawaban, dan itu sebabnya dia satu-satunya temanku.

“Jam empat, ya,” kata Kanaya sambil membereskan tasnya waktu bel pulang. “Aku bawa bahan sendiri atau ibumu yang beliin?”

“Ibuku aja. Dia tahu yang nggak nerawang.”

“Oke.” Dia menyampirkan tas di bahu kiri, berhenti, lalu memindahkannya ke kanan.

Dia melakukannya tanpa berkata apa-apa. Aku juga tidak berkata apa-apa.

Tapi aku memperhatikannya sepanjang koridor sampai dia belok, dan tasnya tetap di bahu kanan.

Dua puluh satu hari lagi.


“Nama.”

“Sekar, dia udah kenal kamu.”

“Prosedur, Kak.”

Sekar duduk di kursi kecil di sudut ruang jahit dengan buku tulis dan pulpen, kaki bergoyang, punggung tegak. Ibu menyerahkan tugas mencatat kepadanya lima menit lalu dan itu adalah keputusan paling menyesatkan tahun ini.

“Kanaya Larasati,” kata Kanaya.

“Ka-na-ya La-ras-ta—”

“La-ras-ti.”

“La-ras-ti. Umur?”

“Tujuh belas.”

“Tinggi?”

“Seratus enam puluh dua.”

“Kak Hari seratus tujuh puluh lima,” kata Sekar, sambil menulis. “Bedanya tiga belas.”

“Sekar.”

“Itu informasi.”

“Itu bukan informasi yang diminta.”

“Aku catat aja.”

“Kamu nulis apa lagi di situ?”

“Nggak ada.”

“Sekar.”

“Cuma tanggal.”

“Tanggal apa?”

Sekar menutup bukunya dengan dua tangan dan menatapku dengan tatapan pegawai arsip yang menolak permintaan tanpa surat resmi.

“Tanggal Kak Kanaya dateng pertama kali,” katanya. “Terus tanggal hari ini. Nanti aku itung berapa hari sekali.”

Kanaya menahan tawa dengan cara yang gagal total.

Aku membuka laci, mengeluarkan pita ukur, dan menggantungkannya di leher.

Tanganku sudah dingin sejak tadi.

Ada hal yang tidak pernah aku ceritakan kepada siapa pun, termasuk ibu.

Aku bisa menaksir ukuran orang cuma dengan melihat. Bukan tebakan — meleset paling banyak satu setengah senti. Aku sudah tahu lingkar pinggang Kanaya sejak hari ketiga, waktu dia berdiri di depan jendela mengangkat roknya ke cahaya.

Artinya, secara teknis, seluruh sore ini tidak perlu terjadi.

Aku tetap menggantungkan pita ukur di leherku, dan aku menyuruhnya berdiri tegak, dan aku tidak berkata apa-apa.

Itu, mungkin, adalah kebohongan kedua yang aku lakukan kepadanya.


Aku mulai dari yang paling aman.

“Berdiri lurus. Jangan tegang.”

“Aku nggak tegang.”

“Bahumu naik.”

“Oh.” Dia menurunkannya. “Ini gara-gara kamu bilang jangan tegang.”

Aku mengukur panjang rok dulu, dari pinggang ke bawah lutut, dengan pita ukur yang jatuh lurus dan tanganku yang tidak menyentuh apa pun.

“Enam puluh dua,” kataku.

“Enam puluh dua,” ulang Sekar.

Lalu lingkar bawah. Lalu tinggi panggul.

Semuanya masih aman. Semuanya masih bisa dikerjakan dari jarak setengah meter, dengan pita ukur sebagai perantara, seperti orang mengukur meja.

Lalu tinggal empat.

“Aku... perlu ngelingkerin,” kataku.

“Ngelingkerin apa?”

“Pinggang.”

“Ya udah.”

“Iya.”

“Ya udah, Hari.”

“Iya.”

Aku tidak bergerak.

Sekar mengangkat kepalanya dari buku.

“Kak, kok nggak diukur?”

“Diukur.”

“Kok diem?”

“Nggak diem.”

“Kakak diem tujuh detik. Aku ngitung.”

“SEKAR.”


Aku mendekat.

Ini bagian yang sulit untuk diceritakan tanpa terdengar bodoh, jadi aku akan menceritakannya apa adanya.

Untuk mengukur lingkar pinggang, kamu berdiri di depan orangnya. Kamu memegang ujung pita ukur di tangan kanan, lalu kamu melingkarkan sisanya ke belakang punggungnya dengan tangan kiri, lalu tangan kananmu menangkap ujung yang datang dari sisi lain.

Selama satu setengah detik itu, kedua lenganmu ada di sekeliling orangnya.

Kamu tidak menyentuhnya. Itu penting. Kamu benar-benar tidak menyentuhnya sama sekali.

Tapi jaraknya jadi dua puluh senti, lalu lima belas, lalu cukup dekat untuk mendengar orangnya menarik napas dan menahannya.

Kanaya menahan napas.

Aku mendengarnya.

Dan karena aku mendengarnya, tanganku mulai gemetar, dan pita ukurnya meleset dan jatuh ke lantai dengan bunyi yang sangat, sangat kecil.

Kami berdua menunduk pada saat yang sama.

Kepala kami tidak berbenturan, tapi cuma karena keberuntungan, dan karena aku berhenti setengah jalan.

“Maaf,” kataku.

“Nggak apa-apa.”

“Aku ambil.”

“Aku juga.”

“Aku aja.”

“Ya udah.”

Aku memungut pita ukur itu, berdiri, dan mengetahui dengan pasti bahwa telingaku sedang berwarna merah, karena telinga adalah bagian tubuh yang paling tidak setia.

“Har.”

“Iya.”

“Tanganmu.”

“Kenapa.”

“Gemeteran.”

“...Dingin.”

“Ini bulan Mei.”

Aku tidak menjawab.

Kanaya diam sebentar. Lalu dia mengulurkan tangannya, mengambil ujung pita ukur dari tanganku, dan memutar badannya sedikit.

“Gini,” katanya. “Aku pegang yang satu, kamu tinggal narik.”

“...Boleh gitu?”

“Ini badanku, Hari. Aku yang bikin aturannya.”


“Enam puluh sembilan,” kataku.

Sekar tidak menjawab.

Aku menoleh. Kursi kecil di sudut kosong. Buku tulisnya ditinggal terbuka di lantai, pulpennya menggelinding.

Dari dapur terdengar suara ibu dan suara Sekar berdebat soal siapa yang menghabiskan kerupuk.

Ruang jahit tiba-tiba jadi sangat sepi.

“Enam puluh sembilan,” ulang Kanaya, pelan. “Aku catat di HP.”

“Iya.”

Dia mengetik. Aku menunggu.

Ada bunyi jarum jam dinding yang selama sembilan tahun tidak pernah aku sadari ada.

“Har.”

“Iya.”

“Kamu selalu segini deket sama pelanggan ibumu?”

“Aku nggak pernah ngukur pelanggan ibuku.”

Kanaya berhenti mengetik.

“Sekali pun?”

“Ibu yang ngukur. Aku yang ngerjain.”

“Terus kenapa sekarang kamu?”

“Ibu lagi ngejar kebaya.”

“Hari.”

“Iya.”

“Itu jawaban nomor berapa?”

Aku memutar pita ukur di tanganku sekali.

“Bukan nomor berapa-berapa,” kataku. “Itu bener.”

“Tapi bukan semuanya.”

“...Iya.”

Dia mengangguk pelan, seperti orang yang memutuskan untuk menyimpan struk lagi, dan menaruh HP-nya di meja dengan layar menghadap ke bawah.

“Ya udah,” katanya. “Lanjut.”

Kami tinggal tiga ukuran, dan tidak ada lagi anak umur sembilan tahun yang menghitung berapa detik aku diam.

Aku mengukur lingkar panggul.

Pita ukurnya melingkar, dan kali ini tanganku tidak jatuh, dan selama satu setengah detik itu wajahku ada di jarak yang sama dengan bahunya.

Rambutnya bau sesuatu yang bukan sampo mahal. Bau sabun biasa, dan sedikit bau hujan yang belum sepenuhnya hilang dari seragam yang dijemur di dalam ruangan.

Aku tidak bergerak lebih cepat dari yang diperlukan.

Aku juga tidak bergerak lebih lambat.

Aku ingin mencatat itu, karena itu satu-satunya hal yang bisa aku banggakan dari sore itu.

“Sembilan puluh dua.”

“Sembilan puluh dua.”

Suaranya lebih pelan dari biasanya. Kami berdua bicara dengan volume yang sebenarnya tidak diperlukan di ruangan sekosong ini, seolah ada orang tidur di sebelah.

Ukuran terakhir mengharuskan pita ukur berdiri tegak di sisi tubuh, dari pinggang ke lantai.

Aku berjongkok.

“Jangan gerak.”

“Iya.”

“Ini yang terakhir.”

“Iya.”

Dari bawah, aku bisa melihat ujung roknya, sepatunya yang bagian kanannya lebih aus, dan kelim celana olahraga yang dia pakai sebagai lapisan dalam karena dia bilang dia tidak nyaman.

Aku membaca angkanya, dan aku membacanya dua kali karena yang pertama tidak masuk ke kepalaku sama sekali.

“Selesai,” kataku.

Aku berdiri.

Dan waktu aku berdiri, kami berdua sadar bahwa jaraknya masih tiga puluh senti, dan tidak ada satu pun dari kami yang mundur duluan selama kira-kira dua detik.

Dua detik itu bukan apa-apa. Kalau kamu menghitungnya di jam dinding, dua detik itu hilang.

Aku menghitungnya.

Lalu Kanaya mundur satu langkah, menepuk roknya yang tidak berdebu, dan berkata dengan suara yang terlalu ceria untuk ruangan itu:

“Nah! Gampang, kan?”

“Iya.”

“Kamu gemeteran terus, lho.”

“Enggak.”

“Hari, aku ngerasain pita ukurnya.”


“Ajarin aku.”

“Ha?”

“Jahit.” Kanaya sudah duduk di kursi kecil bekas Sekar. “Yang gampang aja. Yang mana yang paling gampang?”

“Kancing.”

“Ya udah, kancing.”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Karena aku nggak suka ada hal yang aku nggak bisa.” Dia mengangkat bahu. “Dan aku baru sadar, aku nggak bisa satu-satunya hal yang kelihatannya paling gampang.”

Aku mengambil kain perca, jarum, benang, dan satu kancing dari kaleng.

Aku memasukkan benang ke lubang jarum, dan itu memakan waktu dua detik.

Kanaya menatapnya seperti orang melihat sulap murahan.

“Ulang.”

“Ha?”

“Ulang. Pelan-pelan.”

Aku menariknya keluar dan mengulanginya. Pelan.

“Ujung benangnya dipotong miring. Terus dipipihin.”

“Dipipihin gimana?”

“Digigit dikit.”

“Jorok.”

“Ya udah, dibasahin.”

“Sama aja.”

Dia mencoba. Sebelas kali.

Aku menghitung sebelas.

Di percobaan keempat, benangnya masuk setengah lalu berhenti. Di percobaan ketujuh, dia bilang jarumnya rusak. Di percobaan kesembilan, dia menuduh benangnya yang salah pabrik.

Di percobaan kesebelas, masuk.

“MASUK.”

“Iya.”

“HARI, MASUK.”

“Iya, aku lihat.”

“Kamu nggak seneng.”

“Aku seneng.”

“Mukamu nggak seneng.”

“Ini muka aku dari lahir,” kataku, dan aku baru sadar aku mencuri kalimat Fikri, dan aku memutuskan untuk tidak mengembalikannya.

Lalu dia mulai menjahit kancingnya, dan semuanya berjalan lancar selama kira-kira empat tusukan.

Yang kelima meleset.

“Aduh—”

Cepat sekali. Dia menarik tangannya, dan ada titik merah kecil di ujung telunjuk kirinya, sebesar kepala jarum, yang membesar pelan-pelan seperti orang yang sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Sini.”

Aku mengambil tangannya sebelum aku sempat memikirkan bahwa aku sedang mengambil tangannya.

Tangannya lebih kecil dari yang aku kira. Jari-jarinya dingin di ujung. Ada bekas tinta di sisi jari tengah, tempat pulpen bertumpu, karena dia menulis terlalu banyak dan terlalu cepat.

Aku menekan ujung telunjuknya dengan ibu jariku.

Kami berdua tidak bicara.

Aku bisa mendengar mesin ibu dari ruang tengah dan suara Sekar yang masih memperdebatkan kerupuk, dan itu semua terdengar sangat jauh.

“Nggak dalam,” kataku.

“Iya.”

“Perih doang.”

“Iya.”

“Nanti juga—”

“Hari.”

“Iya.”

“Kamu belum lepas.”

Aku melepasnya.

“Tunggu.”

Aku ke laci, mengambil kotak P3K yang isinya sebenarnya cuma plester, minyak kayu putih, dan satu perban dari zaman entah kapan.

“Ini kegedean.”

“Nggak apa-apa.”

“Ini plester buat lutut.”

“Nggak apa-apa.”

Aku menempelkannya di ujung telunjuknya, dan plester itu memang kegedean, dan ujung jarinya jadi kelihatan seperti kepala korek api.

Kanaya mengangkat tangannya, memandanginya, lalu tertawa.

“Aku kayak habis perang.”

“Kamu ketusuk jarum.”

“Aku ketusuk jarum dalam perang.”

“Nay.”

“Apa.”

“Empat tusukan pertamamu bagus.”

Dia berhenti tertawa.

“Serius?”

“Iya. Jaraknya sama.”

“Kamu nggak lagi baik-baikin aku, kan?”

“Aku nggak bisa baik-baikin orang,” kataku. “Aku nggak tahu caranya.”

Kanaya menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca, dan aku sudah cukup lama membaca orang untuk tahu bahwa ekspresi yang tidak bisa dibaca itu biasanya ekspresi yang sedang dipakai untuk menahan sesuatu.

“Kamu tuh,” katanya, “orang paling susah dibalas budi sedunia.”

“Nggak ada yang perlu dibales.”

“Nah, itu.”

“Itu apa?”

“Itu yang bikin susah.”


Ada satu titik darah kecil yang jatuh ke kain perca putih itu.

Kanaya melihatnya dan langsung meringis.

“Yah. Kotor.”

“Nggak apa-apa. Itu perca.”

“Tetep aja.”

“Bisa hilang.” Aku mengambil kainnya. “Rendem air dingin. Jangan air panas.”

“Kenapa nggak boleh panas? Bukannya panas lebih bersih?”

“Kalau kena panas, dia matang.” Aku memutar kainnya di bawah lampu. “Terus nempel selamanya.”

Kanaya diam.

“Jadi kalau salah nanganin sekali,” katanya pelan, “udah nggak bisa dibalikin.”

“Iya.”

“Walaupun niatnya bersihin.”

“Iya.”

Dia memandangi titik merah itu agak lama.

Lalu dia mengambil kainnya dari tanganku, melipatnya, dan memasukkannya ke saku roknya.

“Nay, itu perca.”

“Ini punyaku.”

“Itu kain sisa.”

“Aku yang berdarah,” katanya, sudah berdiri, sudah menyampirkan tas — di bahu kanan. “Jadi ini punyaku.”

Dia pamit ke ibu di ruang tengah. Ibu menawarinya gorengan. Sekar mengantarnya sampai pagar sambil menjelaskan sistem bunga majemuk yang, sejauh yang aku dengar, tidak akurat sama sekali.

Aku berdiri di ruang jahit sendirian.

Di meja masih ada pita ukur, tergeletak melingkar setengah, dan buku tulis Sekar yang terbuka dengan tulisan tangan anak kelas empat:

Ka-na-ya La-ras-ti. 17. 162.
Kak Hari 175. Bedanya 13.

Aku menutup buku itu.

Dua puluh satu hari.

Aku mulai menyalakan lampu meja untuk mengerjakan roknya malam itu juga, walaupun ibu bilang jadinya hari Rabu dan sekarang baru Senin.

Alasan resminya: supaya tidak menumpuk dengan kebaya.

Alasan sebenarnya jauh lebih sederhana dan jauh lebih memalukan, dan aku akan menuliskannya sekali saja supaya tidak perlu diulang.

Kalau roknya selesai hari Rabu, dia datang hari Rabu.

Kalau roknya selesai besok, dia datang besok.

Itu saja. Tidak ada perhitungan lain, tidak ada strategi, tidak ada alasan teknis. Cuma seseorang yang tahu persis berapa sisa harinya, sedang mencoba memindahkan satu hari dari kolom kanan ke kolom kiri.

Aku menggelar bahannya di meja dan mulai membuat pola.

Di kaleng bekas permen di dalam tasku, kancing Regita masih ada di tumpukan paling atas. Aku belum sempat mengembalikannya ke tempatnya.

Empat puluh empat.

Aku memotong kain pertama jam sembilan lewat, dan aku bekerja sampai jam satu, dan aku tidak sekali pun merasa capek.

Itu bagian yang seharusnya membuatku takut.