Chapter Thirty Three
Simpul di Luar
[POV: Hari] · [Hari ke-214]
“Roknya kependekan.”
Ibu mengucapkannya hari Sabtu jam sepuluh, sambil lewat di belakang kursi Kanaya, tanpa berhenti berjalan.
“Ha?”
“Rokmu, Nak. Kependekan dua senti.”
Kanaya menunduk ke roknya sendiri.
“Ini masih—”
“Kependekan dua senti,” kata ibu, dari dapur sekarang. “Ibu ngukur kamu bulan Mei. Kamu naik satu setengah senti sejak itu.”
“Tante ngukur saya sekali.”
“Iya.”
“Bulan Mei.”
“Iya.”
“Tante inget?”
Dari dapur terdengar bunyi panci.
“Nak Kanaya,” kata ibu, “kalau ibu lupa ukuran orang, ibu udah bangkrut dari tahun dua ribu tujuh.”
Aku mengukurnya hari itu juga.
Ini bagian yang harus aku ceritakan pelan-pelan, karena orang akan mengira ini adegan yang sama seperti bulan Mei.
Bukan.
Bulan Mei aku berdiri di ruangan ini dengan pita ukur di leher dan tangan yang dingin sejak sebelum dia datang, dan aku menjatuhkan pita ukurnya, dan Sekar menghitung tujuh detik aku diam.
Sabtu itu aku mengambil pita ukur dari laci dan bilang “berdiri” dan mengukur panjang rok dalam empat detik.
“Enam puluh tiga koma lima.”
“Har.”
“Hm?”
“Kamu nggak gemeteran.”
“Enggak.”
“Kamu gemeteran bulan Mei.”
“Iya.”
“Aku agak kecewa,” katanya.
Aku menaruh pita ukur di bahuku.
“Nay.”
“Hm?”
“Nay.”
Dia berhenti bercanda.
“Iya, Har?”
“Aku gemeteran bulan Mei bukan karena kamu,” kataku. “Aku gemeteran karena aku pikir itu satu-satunya kali.”
Ruang jahit itu diam sekitar tiga detik.
“Oh,” katanya.
Dan telinganya merah, dan aku pura-pura tidak melihat, karena aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa telinga adalah bagian tubuh yang paling tidak setia.
Aku melanjutkan.
Lingkar pinggang. Aku melingkarkan pita ukurnya dan tanganku tidak jatuh dan aku tidak berhenti bernapas, dan dia juga tidak menahan napas, dan seluruh adegan itu selesai dalam sembilan detik.
“Enam puluh sembilan koma lima.”
“Naik setengah.”
“Iya.”
“Kamu inget yang bulan Mei?”
“Enam puluh sembilan.”
Dia diam sebentar.
“Har, itu delapan bulan lalu.”
“Iya.”
“Kamu inget angka orang dari delapan bulan lalu.”
“Iya.”
“Kamu inget punya Bu Ningsih?”
“Delapan puluh empat.”
“Pak Darto?”
“Pak Darto celana. Lingkar pinggang sembilan puluh satu, panjang sisi seratus lima.”
“HARI.”
“Kamu yang nanya.”
Sekar mencatat lagi.
Aku tidak menyuruhnya. Dia mengambil buku tulisnya dan kursi kecil dan duduk di sudut seperti orang yang memang punya jabatan resmi.
“Nama.”
“Sekar, dia udah—”
“Prosedur, Kak.”
“Kamu bilang gitu bulan Mei.”
“Iya, soalnya prosedur nggak berubah.”
Kanaya menahan tawa. Aku menghela napas.
“Kanaya Larasati,” katanya.
“Umur?”
“Tujuh belas.”
“Tinggi?”
“Seratus enam puluh tiga setengah.”
Sekar berhenti menulis.
“Naik,” katanya.
“Iya.”
“Bulan Mei seratus enam puluh dua.”
“Sekar, kamu masih nyimpen yang bulan Mei?”
“Aku nyimpen semua.” Dia membalik halaman ke depan. “Kak Hari juga seratus tujuh puluh lima. Nggak naik.”
“Sekar.”
“Nggak naik dari bulan Mei, Kak.”
“SEKAR.”
“Aku cuma bilang datanya.”
Aku mencatat ukurannya malam itu.
Bukan di buku tulis Sekar. Di buku catatan coklat, di halaman kosong di bagian belakang, sebelum halaman MASIH DIKERJAKAN.
Tujuh angka. Lingkar pinggang, lingkar panggul, tinggi panggul, panjang rok, lingkar bawah, tinggi duduk, dan satu lagi.
Aku menulisnya dengan huruf kecil-kecil, jaraknya sama semua.
Kanaya melihatnya waktu dia lewat mengambil gelas.
“Kamu nyatet?”
“Iya.”
“Kamu nggak pernah nyatet ukuran orang.”
Aku berhenti menulis.
“Kok tahu?”
“Aku pernah baca bukumu, Har.” Dia menyandarkan bahunya ke kusen pintu. “Isinya nama, barang, tanggal. Nggak ada satu pun angka ukuran.”
“Iya.”
“Terus kenapa punyaku dicatet?”
Aku menutup pulpennya.
“Biar nggak lupa,” kataku.
Kanaya menaikkan satu alis.
“Har, kamu tahu ukuran badan orang cuma dari lihat.”
“Nggak selalu bener.”
“Meleset paling banyak satu setengah senti. Kamu yang bilang.”
“Iya.”
“Dan kamu barusan nyebut ukuran Pak Darto dari dua tahun lalu tanpa mikir.”
“Iya.”
“Terus?”
Aku memasang benang ke jarum mesin, dan aku memasangnya lebih lama dari yang perlu.
“Orang bisa lupa,” kataku.
“Kamu enggak.”
“Semua orang bisa.”
Kanaya menyandarkan bahunya ke kusen pintu dan memandangiku agak lama, dengan gelas kosong di tangan.
“Har.”
“Hm?”
“Kamu nyatetnya di buku yang mana?”
“Yang coklat.”
“Yang ada halaman itu?”
“Iya.”
“Di halaman mana?”
“Sebelum yang baru.”
Dia mengangguk pelan.
Dan aku ingat — aku ingat sekali — bahwa dia berdiri di ambang pintu itu satu setengah detik lebih lama dari yang perlu, dan bahwa mulutnya terbuka sedikit seperti orang yang mau bertanya lagi, dan bahwa dia menutupnya.
“Ya udah,” katanya.
Dan dia mengambil gelasnya, dan pergi ke dapur.
Dan aku menyelesaikan tujuh angka itu, dan aku menutup bukunya, dan aku melingkarkan karet gelangnya dua kali.
Aku mengerjakan roknya empat malam.
Itu terlalu lama untuk satu rok seragam. Rok seragam standar itu, kalau polanya sudah ada dan bahannya sudah dipotong, selesai dalam satu malam.
Aku mengerjakannya empat malam karena aku membongkar lipitnya dua kali.
Ibu lewat di malam ketiga dan berhenti.
“Har.”
“Iya, Bu.”
“Itu lipitnya udah bener dari kemarin.”
“Belum.”
“Har.”
“Belum, Bu.”
Ibu berdiri di belakangku sekitar sepuluh detik.
“Kamu bikin kelimnya tiga senti.”
“Iya.”
“Standar dua.”
“Iya.”
“Buat apa tiga?”
Aku merapikan lipit yang sudah rapi.
“Biar bisa diturunin dua kali,” kataku.
Ibu tidak menjawab selama beberapa saat.
“Har.”
“Iya, Bu.”
“Anak SMA kelas dua belas itu tinggal enam bulan lagi pakai seragam.”
Aku menjalankan mesin.
“Iya, Bu,” kataku. “Aku tahu.”
Ibu berdiri di belakangku sampai jahitanku sampai ujung, lalu berjalan ke dapur.
“Ya udah,” katanya. “Jangan sampai jam dua.”
Aku sampai jam satu lewat empat puluh.
Malam keempat, jam satu, aku duduk memandangi rok yang sudah tergantung di gantungan kayu.
Kelim bawahnya tiga senti — lebih dari standar, supaya kalau dia tumbuh lagi masih bisa diturunkan dua kali.
Pinggangnya pas. Lipitnya jatuh lurus.
Dan aku mengambil gulungan benang merah dari kotak paling bawah.
Aku mau menjelaskan kenapa ini butuh dua puluh menit untuk diputuskan, karena kalau tidak dijelaskan, ini kelihatan seperti gerakan kecil.
Simpul merah itu di sisi dalam.
Selalu. Setiap kali. Sejak umur sebelas, sejak ayah mengangkat kain ke arah lampu dan bilang nggak semua yang ada harus keliatan.
Aku sudah menghitung berapa kali aku melakukannya dan aku berhenti menghitung di angka empat ratus.
Empat ratus simpul di sisi dalam kain orang, di seluruh kota ini, di baju-baju yang pemiliknya tidak pernah membalik kelimnya sekali pun.
Dan aku duduk di depan mesin ayah jam satu pagi dengan gulungan benang di tangan, dan aku memikirkan hal yang selama ini tidak pernah aku izinkan selesai:
kenapa harus disembunyikan.
Ayah bilang biar ada.
Ibu bilang itu anak yang lagi berusaha biar nggak ada yang nanya — dan aku mendengar kalimat itu dari Kanaya bulan November, karena ibuku menceritakannya kepada Kanaya dan tidak pernah kepadaku.
Dua alasan yang berbeda untuk satu kebiasaan yang sama.
Yang pertama alasan ayah. Yang kedua alasan aku.
Dan aku duduk di situ jam satu pagi dan menyadari bahwa aku sudah tujuh belas tahun, dan bahwa tidak ada satu pun orang yang akan bertanya kenapa rok itu ada simpul merahnya, karena orang yang akan memakainya sudah tahu siapa yang mengerjakannya.
Aku menjahitnya di luar.
Di kelim bawah, di sisi kanan, dua senti dari jahitan sisi. Satu simpul kecil, sebesar kepala jarum, benang merah, di permukaan kain.
Kalau kamu tidak tahu, kamu akan mengira itu benang nyangkut.
Kalau kamu tahu, kamu akan tahu.
Aku memandanginya sekitar lima menit dan hampir mencabutnya tiga kali.
Aku tidak mencabutnya.
Aku memberikannya hari Minggu.
“Ini apa?”
“Rok.”
“Har, ini—” Dia mengeluarkannya dari kantong kertas. “Ini baru.”
“Yang lama kependekan dua senti.”
“Kamu bikin baru?”
“Iya.”
“Har, itu bahan sama waktu—”
“Nay.” Aku sudah menyiapkan kalimat ini selama empat malam. “Aku nggak ngerjain ini diem-diem. Kamu tahu aku ngerjain. Kamu lihat aku ngukur, kamu lihat aku nyatet, kamu lewat ruang jahit tiga kali pas aku lagi motong.”
Dia menutup mulutnya.
“Jadi ini nggak ngelanggar perjanjian,” kataku.
“...Kamu mikirin itu?”
“Empat malam.”
Kanaya duduk di lantai teras rumahku dengan rok itu di pangkuan dan tertawa dengan cara yang basah di ujungnya.
“Kamu tuh,” katanya. “Kamu tuh ya.”
“Aku bayar bahannya pakai uang beasiswa,” tambahku, karena aku sudah menyiapkan itu juga. “Bukan uang ibu.”
“HARI.”
“Aku cuma ngasih tahu.”
“Aku nggak nanya!”
“Nanti kamu nanya.”
Dan dia berhenti, karena aku benar, dan kami berdua tahu aku benar.
Dia menemukannya empat menit kemudian.
Aku tahu waktunya karena aku menghitung. Aku duduk di kursi teras dan pura-pura membetulkan engsel pintu yang sebenarnya tidak rusak, dan aku menghitung.
“Har.”
“Hm?”
“Ada benang.”
“Oh ya?”
“Di kelim.” Dia memutar roknya. “Merah. Di luar.”
Aku meletakkan obeng.
“Har, ini nyangkut apa—”
“Bukan nyangkut.”
Kanaya berhenti memutar roknya.
Dia memegang simpul kecil itu dengan ibu jari dan telunjuk, dan dia memegangnya agak lama, dan aku bisa melihat dari cara bahunya turun bahwa dia mengerti sebelum aku menjelaskan.
“Har.”
“Iya.”
“Ini di luar.”
“Iya.”
“Simpul merah itu di dalam.”
“Iya.”
“Selalu di dalam.” Suaranya sudah rusak. “Kamu bilang ke aku bulan Mei. Kamu bilang ayahmu bilang nggak semua yang ada harus keliatan.”
Aku memandangi lantai teras.
“Iya,” kataku. “Ayahku bener.”
“Terus kenapa—”
“Karena itu alasan ayahku,” kataku. “Aku pakai alasan itu selama enam tahun, tapi itu bukan alasan aku.”
Kanaya menatapku.
“Alasan aku,” kataku, “aku nggak mau ada yang nanya.”
Teras itu sunyi. Ada anak-anak main di gang. Ada bunyi mesin ibu dari dalam.
“Dan aku udah capek,” kataku.
Dia tidak bilang apa-apa selama mungkin setengah menit.
Lalu dia berdiri, dan duduk lagi, di kursi di sebelahku, dengan rok itu masih di tangannya.
“Har.”
“Hm.”
“Aku boleh nanya sesuatu yang mungkin bikin kamu nggak enak?”
“Boleh.”
“Simpul yang di enam bajuku.” Dia memegang tepi roknya. “Yang setahun lalu. Semuanya di dalam.”
“Iya.”
“Kalau aku nggak belajar jahit,” katanya, “aku nggak akan pernah tahu.”
“Iya.”
“Selamanya.”
“Iya.”
“Har, itu—” Suaranya berhenti. “Itu artinya kamu ngerjain enam kali buat orang yang kamu udah pastiin nggak akan pernah tahu.”
Aku tidak menjawab, karena tidak ada yang perlu dijawab.
“Kenapa?” katanya.
Dan aku memberikan jawaban yang paling jujur yang aku punya, yang bukan jawaban yang bagus, dan yang aku sudah tahu bunyinya jelek sebelum aku mengucapkannya.
“Karena kalau kamu tahu,” kataku, “kamu harus mikirin aku.”
“Har—”
“Dan waktu itu aku belum sanggup jadi orang yang dipikirin.”
Kanaya menaruh rok itu di pangkuannya dan memandangi gang selama beberapa saat.
“Har.”
“Hm.”
“Sekarang sanggup?”
Aku memikirkan itu dengan serius, karena dia bertanya dengan serius, dan karena aku sudah berjanji tidak ada lagi yang dikerjakan diam-diam — termasuk jawaban.
“Lagi belajar,” kataku.
“Itu jawaban jujur.”
“Iya.”
“Bagus.” Dia berdiri dan menepuk roknya. “Aku juga.”
“Belajar apa?”
“Belajar nggak ngerjain apa-apa.” Dia mengangkat rok itu. “Har, kamu tahu ini rok pertama yang aku punya yang aku nggak ngurusin apa pun tentang dia?”
“Maksudnya?”
“Aku nggak milih bahannya. Nggak nentuin panjangnya. Nggak nanya berapa harganya.” Dia melipatnya. “Aku cuma berdiri diem dan diukur.”
“Itu bikin nggak nyaman?”
“Iya,” katanya. “Banget.”
Dan dia tertawa, dan tawanya bagus, dan dia memasukkan rok itu ke kantong kertas dengan sangat hati-hati, seperti orang yang membawa sesuatu yang tidak dia bayar dan sudah berhenti mencoba membayarnya.
Dia memakai rok itu hari Senin.
Aku memperhatikan sekali — cuma sekali, dari mejaku di dekat pintu, waktu dia berdiri untuk mengumpulkan tugas.
Kelim bawah, sisi kanan, dua senti dari jahitan sisi.
Merah.
Kelihatan.
Regita bertanya jam istirahat pertama, karena tentu saja Regita yang bertanya.
“Nay, roknya ada benangnya.”
“Iya.”
“Nyangkut?”
“Bukan.”
“Terus?”
Dan Kanaya Larasati menoleh ke arah mejaku di dekat pintu, dari seberang ruangan, di depan tiga puluh satu orang.
“Itu tanda tangan,” katanya.
Regita tidak mengerti. Aku bisa melihat dari wajahnya bahwa dia tidak mengerti sama sekali, dan bahwa dia memutuskan untuk tidak bertanya lagi karena ada hal lain yang lebih menarik di kantin.
Fikri mengerti.
Dia tidak berkata apa-apa sepanjang hari. Tapi sepulang sekolah, di parkiran, dia berjalan di sebelahku sekitar dua puluh meter tanpa membuka HP-nya.
“Har.”
“Hm.”
“Benang merah itu.”
“Iya.”
“Lo yang biasanya naruh di dalem.”
Aku berhenti jalan.
“Kamu tahu?”
“Har.” Fikri menoleh. “Gue duduk sebelah lo dua tahun. Lo pernah benerin resleting tas gue kelas sepuluh terus lo bilang itu emang dari sononya.”
“Fik—”
“Gue balik tasnya malemnya.” Dia mengangkat bahu. “Ada benang merah.”
Kami jalan lagi.
“Kenapa nggak pernah ngomong?”
“Karena lo bakal berhenti,” katanya. “Orang kayak lo kalau ketahuan langsung berhenti.”
Dia memasang earphone-nya.
“Yang di rok itu bagus,” tambahnya. “Serius.”
“Kenapa bagus?”
Fikri sudah setengah jalan ke gerbang.
“Karena akhirnya ada satu yang lo nggak sembunyiin,” katanya. “Gue nunggu dua tahun.”
Aku menunduk ke bukuku.
Dan aku duduk di mejaku dekat pintu, membelakangi seluruh ruangan, dengan wajah yang aku yakin kelihatan seperti papan tulis yang habis dihapus.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar reading
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup