Chapter Thirty Two
Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
[POV: Kanaya] · [Hari ke-201]
Aku menyusunnya hari Kamis malam.
Aku mau langsung mengakui bahwa aku menyusunnya di aplikasi yang sama yang aku pakai untuk rundown bakti sosial, dengan kolom yang sama, karena aku tidak punya aplikasi lain dan karena otakku tidak punya bentuk lain.
MINGGU — 09.00–16.00
Jam · Kegiatan · Lokasi · Catatan
- 09.00 · Ketemu · Halte depan komplek · —
- 09.20 · Sarapan · Bubur Pak Kasno · Buka 06.00
- 10.15 · Toko buku · Gramedia lantai 2 · Ada diskon
- 12.00 · Makan siang · Mie ayam Jl. Kenanga · Sabar antre
- 13.30 · Taman kota · — · Ada bangku di sisi timur
- 15.30 · Pulang · — · —
Ada kolom keempat.
Kolom keempat itu isinya rencana cadangan.
Aku menghapusnya jam sebelas malam karena aku sadar aku sedang menyusun rencana cadangan untuk jalan-jalan hari Minggu, dan aku duduk di lantai kamar dan tertawa sendirian selama mungkin dua puluh detik, dan lalu aku menuliskannya lagi jam sebelas lewat sepuluh karena aku tidak sanggup.
Sekar menelepon jam delapan malam hari Sabtu.
“Kak Kanaya.”
“Sekar.”
“Besok jam berapa?”
“Jam sembilan.”
“Di mana?”
“Sekar.”
“Aku cuma nanya.”
“Kamu nggak cuma nanya.”
“Kak, aku harus tau.” Suaranya sangat serius. “Kalau Kak Hari pulang jam berapa, aku bisa tau ini berhasil apa enggak.”
“SEKAR.”
“Aku bikin tabel.”
“Kamu bikin apa?”
“Tabel.” Ada bunyi kertas. “Kolomnya: tanggal, jam berangkat, jam pulang, muka Kak Hari.”
“Muka Kak Hari kolomnya isinya apa?”
“Angka satu sampai lima.”
Aku menutup mataku dengan telapak tangan.
“Sekar, siapa yang ngajarin kamu bikin tabel?”
“Ibu.”
“Bohong.”
“Kak Hari.”
“Nah.”
“Tapi dia nggak tau aku pake buat ini.”
Hari sampai di halte jam delapan lewat dua puluh.
Aku sampai jam sembilan kurang sepuluh dan dia sudah duduk di situ.
“Har.”
“Pagi.”
“Jam sembilan.”
“Iya.”
“Ini jam sembilan kurang sepuluh.”
“Aku jalan kaki.”
“Dari Gang Melati?”
“Iya.”
“ITU EMPAT PULUH MENIT.”
“Empat puluh dua,” katanya. “Aku bangun jam tujuh.”
Aku duduk di sebelahnya di halte dan tidak tahu harus marah atau tidak.
“Kamu bisa naik angkot.”
“Bisa.”
“Terus?”
“Terus lima ribu.”
“Har.”
“Aku bercanda.” Dia memindahkan tasnya. “Setengahnya bercanda.”
Bubur Pak Kasno tutup.
Bukan tutup sementara. Ada kertas ditempel di rolling door: LIBUR, BUKA KEMBALI TGL 5.
Aku berdiri di depan rolling door itu selama mungkin lima belas detik.
“Nay.”
“Bentar.”
“Nay, ini—”
“Aku telepon kemarin,” kataku. “Aku telepon kemarin sore dan ada yang angkat dan bilang buka.”
“Mungkin yang angkat bukan yang jualan.”
“Har, aku telepon buat mastiin.”
“Iya.”
“Aku nggak pernah nggak mastiin.”
Dan aku mendengar suaraku sendiri, dan aku mendengar bahwa suaraku bergetar, dan aku berdiri di depan bubur yang tutup pada jam sembilan lewat dua puluh hari Minggu dan menyadari bahwa aku hampir menangis karena bubur.
“Nay.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Itu jawaban nomor satu.”
Aku menoleh ke arahnya.
Dan Hari Baskara berdiri di depan rolling door itu dengan tangan di saku dan wajah yang sama sekali tidak panik, dan berkata:
“Ada bubur di gang sebelah. Yang gerobak. Tapi rasanya nggak enak.”
“Terus kenapa kita ke situ?”
“Nggak tahu,” katanya. “Kamu keliatan butuh bubur.”
Buburnya memang tidak enak.
Kuahnya terlalu encer, kerupuknya lembek, dan bapaknya menuangkan kecap manis tanpa bertanya. Kami makan berdua di bangku plastik di pinggir gang dengan motor lewat setiap dua puluh detik.
“Har.”
“Hm?”
“Ini jelek banget.”
“Iya.”
“Kamu tahu ini jelek terus tetep ngajak.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia menyendok buburnya.
“Karena yang enak itu tutup,” katanya, “dan kamu berdiri di depan rolling door kayak orang yang lagi mikirin gimana caranya minta maaf ke aku soal bubur.”
Aku menaruh sendokku.
“Aku nggak—”
“Nay.”
“...Iya, aku emang gitu.”
Gramedia sedang renovasi.
Lantai dua ditutup dengan terpal biru dan ada papan bertulisan MOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANANNYA.
Aku berdiri di depan papan itu jam sepuluh lewat dua puluh dan mengeluarkan HP-ku dan membuka rundown, dan aku melihat kolom keempat — kolom rencana cadangan yang aku hapus dan aku tulis lagi jam sebelas malam — dan rencana cadangan untuk toko buku adalah toko buku lain di mal seberang.
Mal seberang itu dua puluh lima menit naik angkot.
Aku sedang menghitung apakah masih muat sebelum jam dua belas waktu Hari bicara.
“Nay.”
“Bentar, aku lagi—”
“Nay, Nay.”
Aku berhenti.
Dua kali.
Sistemnya jalan.
Dia berdiri di depan terpal biru dengan tangan di saku.
“Boleh nggak, hari ini kita nggak usah tahu mau ke mana?” katanya.
Aku mau mencatat apa yang terjadi di dalam kepalaku, karena itu bukan hal yang manis.
Yang aku rasakan bukan lega.
Yang aku rasakan adalah panik.
Panik yang sangat spesifik, jenis yang datang waktu kamu berdiri di ruangan yang seharusnya kamu atur dan tiba-tiba tidak ada yang perlu diatur.
Kalau aku tidak menyusun hari ini, apa yang aku lakukan hari ini?
Kalau aku tidak berguna hari ini, kenapa dia mau jalan sama aku hari ini?
Aku berdiri di depan terpal biru itu selama mungkin sepuluh detik dengan HP di tangan dan pertanyaan yang bunyinya sangat memalukan di kepalaku.
“Nay.”
“Iya?”
“Kamu boleh bilang enggak,” katanya. “Serius. Kalau kamu lebih enak ada jadwalnya, ya udah, kita ikutin jadwalnya. Aku nggak lagi ngetes kamu.”
Dan itu yang membuatku bisa menjawab.
Karena selama enam bulan aku hidup dengan perasaan bahwa setiap hal yang aku lakukan sedang dinilai — oleh dia, oleh kelas, oleh diriku sendiri jam dua pagi.
Dan orang ini berdiri di depan terpal biru dan mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak sedang menilai apa-apa.
“Oke,” kataku.
“Oke yang mana?”
“Oke kita nggak usah tahu.”
Kami tidak tahu ke mana sampai jam dua siang.
Ini yang terjadi, dan aku menuliskannya berurutan karena aku tidak bisa berhenti menuliskan hal berurutan:
Kami jalan kaki ke arah selatan tanpa alasan. Kami berhenti di depan toko yang jualan ikan hias dan berdiri di situ dua puluh menit karena Hari menemukan satu akuarium yang filternya dipasang terbalik dan tidak bisa berhenti membicarakannya.
Kami masuk ke toko kelontong dan membeli dua es krim yang rasanya tidak jelas.
“Ini rasa apa?”
“Nggak tahu.”
“Di bungkusnya nggak ada tulisannya?”
“Ada.” Dia memutar bungkusnya. “Tulisannya ‘rasa buah’.”
“Buah apa?”
“Buah.”
Kami duduk di depan toko kelontong itu selama dua belas menit memperdebatkan buah apa, dan kesimpulannya tidak ada, dan aku ingat bahwa aku tertawa sampai es krimku menetes ke tanganku.
Kami duduk di tangga depan masjid yang sedang tutup dan menghitung berapa motor yang lewat dengan lampu sein menyala tanpa belok. Empat belas dalam sepuluh menit.
“Har.”
“Hm?”
“Ini ngapain, ya, kita.”
“Nggak tahu.”
“Kamu nggak bosen?”
Dia memikirkannya.
“Enggak,” katanya. “Kamu?”
Dan aku duduk di tangga masjid yang tutup, jam sebelas siang hari Minggu, menghitung motor bersama orang yang tiga bulan lalu tidak mau bertemu denganku, dan aku menyadari bahwa aku sudah tidak melihat jam sejak jam setengah sebelas.
Empat puluh menit.
Aku tidak melihat jam selama empat puluh menit, dan aku baru sadar waktu memikirkannya, dan aku tidak memberitahunya karena kalau aku memberitahunya aku akan mulai menghitungnya lagi.
Jam setengah dua belas hujan.
Bukan gerimis. Hujan yang seperti seseorang menumpahkan kerikil di seng.
Kami berteduh di emperan toko bangunan yang tutup.
Dan di situ aku mengeluarkan HP-ku untuk mengecek jam, dan kertas rundown yang aku cetak semalam — karena iya, aku mencetaknya, aku mencetak rundown untuk jalan-jalan hari Minggu — jatuh dari tasku ke genangan.
Aku memungutnya.
Tintanya sudah lari. Kolom jam dan kolom kegiatan sudah bercampur jadi satu blok abu-abu.
Hari melihatnya.
“Kamu nyetak?”
“...Iya.”
“Kamu nyetak rundown.”
“HARI.”
“Aku nggak ngetawain.”
“Kamu ketawa.”
“Aku senyum.”
“Itu ketawa versi kamu.”
Dan dia benar-benar tertawa — pendek, lewat hidung, hampir tidak ada suaranya, dan itu pertama kalinya aku mendengarnya tertawa seperti itu sejak bulan Mei.
Aku memegang kertas basah itu dengan dua tangan.
“Aku buang, ya,” kataku.
“Nay.”
“Aku buang.”
“Kamu nggak harus.”
“Aku tahu.” Aku melipatnya. “Aku mau.”
Dan aku memasukkannya ke saku, bukan ke tempat sampah, karena aku belum sanggup, dan Hari melihat itu dan tidak berkomentar sama sekali.
“Har.”
“Hm.”
“Kamu bawa apa aja di tas?”
Dia membukanya.
Aku hampir tertawa.
Kotak jarum. Gunting kecil. Satu gulung benang putih, satu hitam. Kantong plastik yang dilipat rapi — empat lembar. Plester. Minyak kayu putih. Payung lipat. Botol air. Dan satu jaket olahraga yang jelas bukan ukurannya.
“Har, ini jaket apa?”
“Jaketmu.”
“Ini di rumahmu dari bulan November.”
“Iya.”
“Kamu bawa buat apa?”
“Kalau hujan.”
Aku memandangi seluruh isi tas itu di emperan toko bangunan, sambil hujan turun sepuluh senti dari kakiku.
“Har.”
“Hm?”
“Kamu juga nyusun.”
Dia berhenti.
“Enggak.”
“Kamu nyusun.” Aku menunjuk tasnya. “Kamu cuma nyusun barang, bukan jam.”
Dan aku melihat wajahnya waktu dia menyadari itu, dan aku melihat dia membuka mulut untuk membantah, dan aku melihat dia menutupnya lagi.
“...Oh,” katanya.
“Iya, ‘oh’.”
“Aku nggak sadar.”
“Aku tahu kamu nggak sadar.” Aku mengambil jaketku dari tasnya. “Har, kita berdua sama-sama nggak bisa dateng ke sesuatu tanpa persiapan.”
“Bedanya?”
“Bedanya kalau punyaku gagal, semua orang lihat.” Aku memakai jaketku. “Kalau punya kamu gagal, nggak ada yang tahu kamu pernah nyiapin.”
Hujan turun di depan emperan itu.
“Nay.”
“Hm?”
“Nay.”
Aku menoleh.
“Aku belum pernah punya hari yang nggak ada acaranya,” katanya.
“...Ha?”
“Seumur hidup.” Dia memandangi hujan. “Selalu ada. Sekolah, pesanan, antar jahitan, cuci, jemur. Kalau nggak ada, aku bikin. Ibu suka bilang aku nggak bisa duduk.”
“Har.”
“Hari ini nggak ada apa-apa,” katanya. “Dari jam sepuluh dua puluh sampai sekarang, aku nggak ngerjain satu pun hal yang harus.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
“Rasanya gimana?” tanyaku akhirnya.
Dia memikirkannya cukup lama untuk membuatku yakin dia benar-benar memikirkannya.
“Serem,” katanya. “Terus enak.”
Hujan itu turun sekitar empat puluh menit.
Kami duduk di emperan toko bangunan yang tutup, di atas tumpukan karung semen kosong, dengan jarak yang sudah bukan satu meter sejak entah kapan.
“Har.”
“Hm.”
“Boleh sandaran?”
“Boleh.”
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Yang kiri.
Dan aku merasakan sesuatu yang aneh: bahunya turun.
Tiga senti. Pelan sekali, hampir tidak kelihatan, gerakan yang jelas sudah dilatih.
“Har.”
“Hm?”
“Kamu nurunin bahu.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu ngelakuin itu di bus, ya,” kataku. “Bulan Mei.”
“...Iya.”
“Dua jam.”
“Dua jam empat menit.”
Aku menutup mataku.
“Har, kamu nggak usah.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku serius, itu nanti pegel.”
“Nay.” Dia memindahkan tasnya ke sisi lain supaya tidak menekan lenganku. “Ini satu-satunya hal yang aku bisa kerjain hari ini.”
Dan aku tidak membantah lagi, karena aku mengerti persis apa yang dia maksud, karena aku juga tidak bisa duduk di suatu tempat tanpa mengerjakan sesuatu.
Kami duduk di situ sampai hujannya reda.
Aku menghitung dua kali selama empat puluh menit itu.
Turun dari sebelas kali per sepuluh menit.
Kami sampai halte jam setengah empat, basah dari lutut ke bawah, dengan satu payung lipat yang dipakai berdua dan gagal total sebagai payung.
Rundownku bilang jam 15.30 pulang.
Kami pulang jam 15.30.
Itu satu-satunya baris di seluruh kertas itu yang jadi kenyataan, dan aku menyebutkannya di halte, dan Hari bilang “berarti akurasinya enam belas persen”, dan aku memukul lengannya, dan dia bilang “aku ngitung”, dan aku bilang “AKU TAHU KAMU NGITUNG”.
Bus datang.
“Har.”
“Hm?”
“Minggu depan lagi?”
“Iya.”
“Aku nggak bikin rundown.”
“Bikin aja.”
Aku menoleh.
“Kamu serius?”
“Bikin,” katanya. “Terus bawa. Terus nggak usah diikutin.”
“Itu buat apa?”
Dan Hari Baskara berdiri di halte hari Minggu jam setengah empat sore, basah sampai lutut, dan berkata:
“Biar kamu tetep bawa sesuatu,” katanya. “Cuma nggak dipakai.”
Aku naik bus dengan kertas rundown yang tintanya sudah lari, dilipat empat, di saku jaket yang saku dalamnya bolong dan pinggirnya dikunci supaya berhenti melebar.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi reading
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup