← Garansi Seumur Hidup

Chapter Five

Satu Payung

[POV: Hari] · [Hari ke-5]


Hujannya turun jam dua kurang sepuluh, dan turunnya bukan pelan-pelan.

Satu menit atap masih kering, menit berikutnya seluruh sekolah terdengar seperti ada yang menumpahkan kerikil di seng.

Aku berdiri di ujung koridor dekat tangga, di tempat yang cipratannya paling sedikit, dan mulai menghitung. Kalau aku berlari, dua puluh menit jadi dua belas. Bukumu basah tapi seragammu bisa dijemur. Kalau aku menunggu, hujan seperti ini biasanya reda dalam empat puluh menit, tapi kadang enggak, dan kadang malah tambah besar.

“Har! Bareng, yuk!”

Bagas berteriak dari bawah tangga sambil memakai jas hujan yang jelas dibeli oleh orang tua yang peduli.

“Aku dijemput. Muat kok bertiga.”

“Nggak usah.”

“Serius. Nggak ngerepotin.”

“Aku— rumahku searah pasar.”

“Pasar mana?”

“Pasar lama.”

“Oh.” Bagas berpikir dua detik. “Ya udah nanti kita muter.”

Itu masalahnya dengan Bagas. Kamu tidak bisa menolak dia dengan alasan, karena dia akan menyelesaikan alasanmu.

“Rumahku gangnya nggak bisa dimasukin mobil,” kataku.

“Turun di mulut gang aja.”

“Nanti aku basah juga.”

“Ya tapi lebih dikit.”

Aku kehabisan bahan.

Ada orang yang menolak kebaikan karena tidak butuh. Ada juga yang menolak karena kalau menerima, dia harus menjadi orang yang ditolong, dan menjadi orang yang ditolong itu ada harganya: nanti di kelas dia akan menyapaku lebih keras, dan orang akan bertanya sejak kapan, dan aku harus punya jawaban.

Aku tidak pernah punya jawaban.

“Bagas.”

Kanaya muncul dari arah ruang OSIS, tas di bahu kiri, payung lipat biru tua di tangan.

“Mobilmu udah dateng?”

“Bentar lagi.”

“Ajak Dimas sama Rio, mereka nggak bawa apa-apa.”

“Kamu?”

“Aku jalan.”

“Hujan gini?”

“Aku bawa payung.” Dia mengangkat payungnya. “Lagian aku searah sama Hari.”

Bagas menoleh ke arahku, lalu ke arah Kanaya, lalu ke arahku lagi. Dan aku bersumpah aku bisa melihat sesuatu bergerak di wajahnya — sesuatu yang kalah, tapi kalah dengan cara yang sportif, yang justru membuatnya lebih buruk.

“Oh,” katanya. “Oke!”

Lalu dia mengacungkan jempol ke arahku.

Dua kali.


Payung lipat itu tidak dibuat untuk dua orang.

Ini bukan pendapat. Ini ukuran. Diameter payung lipat standar delapan puluh senti; kalau dua orang berjalan bersebelahan dengan jarak wajar, lebar yang harus ditutupi minimal seratus. Ada dua puluh senti yang tidak akan pernah tertutup, dan seseorang harus basah.

Kami keluar gerbang, dan dalam empat langkah pertama aku sudah tahu siapa yang basah.

Bahu kiriku.

Karena payungnya miring.

“Nay, kamu kena.”

“Enggak, kok.”

“Kena.”

“Dikit.”

Aku mengambil gagangnya — atau lebih tepatnya, tanganku bergerak ke arah gagang itu dan berhenti dua senti sebelum sampai, karena di tengah gerakan itu aku sadar bahwa untuk memegang gagang yang sama aku harus menyentuh jarinya.

Kanaya melihat tanganku yang menggantung di udara.

Lalu dia menggeser genggamannya ke bawah, memberi ruang di bagian atas.

“Kamu lebih tinggi,” katanya. “Kamu aja yang pegang.”

Aku memegang gagangnya. Bagian atas. Bagian yang hangat.

Kami jalan lagi.

Dua puluh senti itu sekarang jatuh ke bahu kananku dan aku tidak memberitahunya.


“Kamu tahu nggak,” katanya di tikungan pertama, “aku baru sadar kamu jalan cepet banget.”

“Maaf.”

“Bukan protes.” Dia menyesuaikan langkahnya. “Cuma nggak nyangka. Kamu di kelas gerakannya pelan-pelan.”

“Di kelas beda.”

“Kenapa beda?”

“Kalau di kelas gerak cepet, orang noleh.”

Kanaya diam beberapa langkah.

“Kamu mikirin itu?”

“...Iya.”

“Sering?”

“Selalu.”

Air mengalir di selokan sebelah kanan kami, coklat dan penuh. Ada anak kecil di teras rumah orang, menendang genangan, diteriaki ibunya, dan tetap menendang genangan.

“Aku kebalikannya,” katanya. “Aku mikirin gimana caranya orang noleh ke arah yang bener.”

“Bedanya apa?”

“Bedanya kamu ngilangin diri sendiri, aku ngatur orang lain.” Dia tertawa pendek. “Dua-duanya capek, sih.”

“Kamu capek?”

“Aku nggak apa-apa.”

Aku menoleh.

“Itu bukan jawaban,” kataku. “Aku nanya capek atau enggak, bukan apa-apa atau enggak.”

Kanaya berhenti jalan.

Setengah detik. Cuma setengah detik, dan hujan mengisi seluruh setengah detik itu.

Lalu dia tertawa — yang setengah lewat hidung, yang agak jelek, yang bagus itu.

“Nah,” katanya. “Kena aku.”

Kami jalan lagi.

“Capek,” katanya akhirnya. “Tapi capeknya enak. Kalau aku nggak ngurusin apa-apa, rumahku sepi banget.”

“Sepi gimana?”

“Ya sepi.” Payungnya bergerak sedikit. “Papa di Surabaya. Mama di Semarang, kadang pulang dua minggu sekali, kadang enggak. Ada Mbak Yah, tapi jam lima pulang.”

“Jadi kamu sendirian dari jam lima?”

“Iya.”

“Sampai?”

“Sampai besok pagi.” Dia bilang itu dengan nada yang sama seperti orang menyebutkan nomor rumah. “Makanya aku sering ambil kepanitiaan yang pulangnya sore.”

Aku memikirkan rumahku. Ruang depan yang bau kain dan minyak mesin. Sekar yang menyeret bantalnya. Ibu yang berteriak dari dapur menanyakan sesuatu yang tidak penting sama sekali.

Aku selalu menganggap rumahku terlalu berisik.

“Berisik itu enak,” kataku.

“Ha?”

“Nggak apa-apa.”

“Hari.”

“Hm.”

“Kamu tuh kalau ngomong sesuatu yang bagus, terus langsung ditarik lagi.” Dia menoleh ke arahku, dan payungnya ikut miring, dan bahunya kena lagi. “Kenapa gitu?”

Aku tidak menjawab.

Karena jawabannya adalah: karena kalau aku bicara terlalu banyak, orang jadi punya cukup bahan untuk memutuskan sesuatu tentangku, dan sejauh ini keputusan itu tidak pernah bagus.

Tapi aku tidak mengatakan itu.

Aku cuma memiringkan payungnya kembali ke arahnya, tiga sentimeter, dan berharap dia tidak sadar.

Dia sadar.

Dia tidak bilang apa-apa.

Tapi tiga langkah kemudian dia menggeser badannya lebih dekat, sehingga dua puluh senti yang tidak tertutup itu pindah ke belakang kami berdua, dan lengan kami bersentuhan dari siku sampai bahu.

Bahan seragam basah itu tipis sekali. Itu fakta teknis. Aku menjahit dengan bahan itu setiap minggu dan aku tahu persis berapa gramasenya.

Aku tetap tidak siap.

“Gini aja,” katanya, seperti sedang menyelesaikan soal matematika. “Kena dua-duanya dikit, daripada satu orang basah semua.”

“...Iya.”

“Kamu kaku banget jalannya.”

“Enggak.”

“Kaku. Kayak orang bawa nampan.”

“Aku nggak—”

“Hari.”

“Iya.”

“Aku nggak akan gigit.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa?”

Aku ingin menjawab: karena kalau aku bergerak terlalu banyak, sesuatu akan bergeser, dan sesuatu yang bergeser biasanya tidak kembali ke tempat semula.

“Nggak apa-apa,” kataku.

“Itu jawaban nomor satu.”

“...Iya.”

“Nah, nomor tiga.”

Kami melewati tukang bakso yang menutup gerobaknya dengan terpal, dan seekor kucing yang duduk di bawah motor dengan wajah orang yang sedang menyesali seluruh keputusan hidupnya.

“Har.”

“Hm.”

“Kalau ada orang yang tiba-tiba baik banget sama kamu,” katanya, “kamu curiga nggak?”

Payungnya di tanganku. Gagangnya licin.

“Curiga,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena biasanya ada sebabnya.”

“Sebab kan nggak selalu jelek.”

“Iya.” Aku melihat lurus ke depan. “Tapi sebab yang bagus biasanya nggak buru-buru.”

Kanaya tidak menjawab selama sekitar dua belas langkah. Aku menghitungnya.

“Kamu ini,” katanya akhirnya, pelan, “susah banget dibaiki.”

“Maaf.”

“Bukan salah kamu.”

Dan dia bilang itu dengan nada yang, kalau aku lebih pintar, seharusnya sudah cukup jadi peringatan.


Hujan bertambah besar di dekat perempatan, dan kami berteduh di depan minimarket, di bawah kanopi bersama tiga orang lain dan satu motor yang parkir setengah masuk.

“Aku beli minum,” katanya. “Kamu mau?”

“Nggak usah.”

“Aku beliin, ya.”

“Nay—”

Dia sudah masuk.

Aku berdiri di ujung kanopi, di sebelah lemari es krim yang bunyinya berdengung, dan menekan bahuku yang basah supaya airnya keluar sedikit dari kain.

Lalu aku mendengar Regita.

Dia tidak di dalam. Dia di sisi kanan bangunan, di jalur samping tempat orang parkir motor, berteduh bersama Nadine. Dari tempatku berdiri, mereka tidak kelihatan. Tapi dinding samping minimarket itu rata dan tinggi, dan hujan yang deras itu lucu — dia menutupi suara jauh dan justru mendorong suara dekat.

“—serius, Nad. Aku nggak nyangka bakal segampang ini.”

“Jangan keras-keras.”

“Ini hujan, nggak ada yang denger.” Regita tertawa. “Hari kelima, lho. Kelima. Sisa dua puluh lima hari dan dia udah nemenin Nay bikin kartu peserta sampe setengah lima.”

Ada bunyi plastik. Seseorang membuka bungkus sesuatu.

“Menurutmu bakal nembak duluan nggak?”

“Nad, dia bakal nembak duluan sebelum minggu ketiga. Aku berani taruhan.”

“Kamu emang lagi taruhan.”

“Ya berarti aku taruhan lagi.”

Ada bunyi plastik. Seseorang membuka bungkus sesuatu.

“Tapi harus ada buktinya, kan?”

“Ya harus. Kata Vania nggak sah kalau cuma cerita.” Regita menyedot minumannya. “Harus jelas. Kalau bisa yang tertulis. Surat, chat, apa kek. Yang bisa dilihat.”

“Kejam banget, sih.”

“Bukan aku yang bikin aturan.”

“Terus tanggalnya beneran nggak bisa diundur?”

“Nggak bisa. Tiga puluh hari dari hari pertama, titik. Vania udah nulis tanggalnya di catatan HP-nya kayak orang mau nagih utang.”

Aku berdiri sangat, sangat diam.

Jadi begitu bunyi kalimat yang kemarin dipotong di kantin.

Ada perasaan aneh waktu sebuah kalimat yang menggantung akhirnya selesai. Bukan lega. Lebih seperti waktu kamu akhirnya menemukan benang mana yang salah setelah membalik seluruh kain — kamu tahu sekarang, dan pengetahuan itu tidak membuat apa pun jadi lebih baik.

Lemari es krimnya berdengung. Ada ibu-ibu keluar dari pintu geser sambil membawa dua kantong. Motor yang parkir setengah masuk itu distarter, gagal, distarter lagi.

“Nad, kamu kenapa sih dari tadi diem?”

“Nggak papa.”

“Kamu nggak setuju dari awal, ya.”

“Aku cuma—” Nadine menghela napas. “Kasihan aja.”

“Ya makanya Nay yang ambil, kan. Kalau Vania yang ambil, mampus tuh anak. Kamu tahu sendiri Vania kayak apa kalau lagi pengen ngebuktiin sesuatu.”

“Iya.”

“Nay itu justru baik. Dia ambil biar nggak ada yang keterlaluan.”

“Regit.”

“Apa?”

“Bohong tiga puluh hari itu juga keterlaluan.”

Regita tidak menjawab itu.

Hujan berisik sekali.

Aku mendengar pintu geser terbuka di sebelah kiriku.


“Aku beliin yang manisnya setengah,” kata Kanaya. “Tapi mereka nggak punya, jadi aku beli yang tawar sama gula sachetnya kupisah. Kamu bisa atur sendiri.”

Dia menyodorkan botol dan satu sachet gula.

Aku punya waktu kira-kira tiga detik.

Tiga detik itu, kalau kamu belum pernah mengalaminya, ternyata sangat lapang. Kamu bisa memasukkan banyak hal ke dalam tiga detik.

Aku bisa mengembalikan botolnya. Aku bisa bilang aku pulang sendiri. Aku bisa mengucapkan satu kalimat — aku dengar semuanya — dan seluruh urusan ini selesai hari ini juga, hari kelima, dan aku bisa kembali ke pojok belakang dekat jendela di mana tidak ada yang bisa menjatuhkan apa pun ke arahku karena tidak ada yang tahu aku ada.

Itu pilihan yang benar. Aku tahu itu pilihan yang benar bahkan sambil berdiri di sana.

Yang aku pikirkan justru bukan itu.

Yang aku pikirkan adalah belakang perpustakaan, kelas sembilan, empat puluh menit.

Selama empat tahun aku mengingat kejadian itu sebagai kejadian yang buruk. Tapi malam kemarin, di depan mesin jahit yang kosong, aku menghitungnya lagi dengan benar, dan angkanya ternyata begini:

Dua menit buruk.

Tiga puluh delapan menit di mana aku berdiri di belakang perpustakaan dengan seragam yang aku setrika sendiri, dan percaya bahwa ada orang di dunia ini yang menungguku.

Tiga puluh delapan menit itu tetap terjadi. Tidak ada yang bisa mengambilnya kembali. Bahkan orang-orang yang menertawakanku pun tidak bisa; mereka pikir mereka merusak empat puluh menit, padahal mereka cuma merusak dua.

Dan sekarang seseorang menyodorkan botol air dan satu sachet gula yang sengaja dipisah, dan di belakangku ada suara yang bilang sisa dua puluh lima hari.

Dua puluh lima hari itu tiga puluh enam ribu menit.

Aku pernah hidup dari tiga puluh delapan.

“Hari?”

“...Ya.”

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku mengambil botolnya.

“Makasih,” kataku.


Sisa jalan pulang kami habiskan dengan bicara soal hal-hal yang tidak penting.

Dia cerita soal Mbak Yah yang selalu memasak terlalu banyak untuk satu orang. Aku cerita soal Sekar yang punya buku catatan berisi daftar utang seluruh anggota keluarga, termasuk utang ibu sebesar dua ribu dari bulan Maret.

Kanaya tertawa keras di bagian itu, sampai payungnya goyang dan air dari ujungnya jatuh ke sepatunya sendiri, dan dia mengumpat pelan dengan kata yang jelas bukan kata yang biasa dia pakai di depan kelas.

“Adikmu umur berapa?”

“Sembilan.”

“Serem banget sembilan tahun udah punya pembukuan.”

“Dia bikin kolom bunga.”

“BUNGA?”

“Dua persen. Katanya per minggu.”

“Hari, itu rentenir.”

“Ibuku bilang gitu juga.”

“Terus ibumu bayar?”

“Ibuku bayar.” Aku memindahkan payung ke tangan satunya. “Ibuku bilang lebih murah bayar daripada didebat.”

Kanaya tertawa lagi, dan tawanya ketahuan bentuknya di bawah kanopi rumah orang: bahunya naik dulu, baru suaranya keluar, dan tangannya selalu naik setengah jalan ke mulut lalu berhenti karena dia ingat dia sedang memegang sesuatu.

Aku menghafalkan itu.

Aku benar-benar menghafalkannya, dengan sengaja, seperti orang menghafal ukuran badan pelanggan yang tidak akan datang lagi.

Aku ingin memberitahumu bahwa aku menikmatinya dengan pahit, atau dengan getir, atau dengan salah satu kata yang biasa dipakai orang untuk membuat kesedihan terdengar bermartabat.

Tapi tidak.

Aku menikmatinya biasa saja. Utuh. Penuh. Seperti orang yang tidak tahu apa-apa.

Itu bagian yang paling menakutkan dari diriku sendiri: aku ternyata sangat, sangat bisa.

Kami berhenti di mulut gang.

“Rumahmu yang mana?”

“Yang keempat. Yang ada kain jemuran di depan.”

“Aku anter sampe depan.”

“Nggak usah.”

“Kenapa?”

“Gangnya sempit. Payungnya nggak muat.”

Itu bohong. Gang Melati muat dua motor berpapasan. Tapi kalau dia sampai depan rumah, ibu akan keluar, dan kalau ibu keluar, ibu akan mengukur badannya dalam waktu kurang dari satu menit, dan Sekar akan memanggilnya sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

“Ya udah.” Kanaya menyerahkan payungnya. “Bawa aja.”

“Ha?”

“Bawa. Kamu masih ada empat rumah lagi.”

“Kamu gimana?”

“Aku dijemput dari sini. Aku udah chat Mbak Yah tadi di minimarket.” Dia mengangkat HP-nya. “Besok balikin.”

Aku memegang payung itu dengan dua tangan seperti orang menerima piala yang salah alamat.

“Hari.”

“Iya.”

“Besok bawa payung sendiri, ya. Katanya masih hujan seminggu.”

“Payungku rusak.”

“Ya udah beli.”

“...Bisa dibenerin, sebenernya.”

Kanaya menatapku beberapa saat, dengan air menetes dari ujung rambutnya yang tadi kena dua puluh senti yang tidak tertutup.

“Kamu tuh,” katanya, “beneran nggak pernah mau beli baru, ya.”

Lalu dia pergi ke halte kecil di seberang, dan melambai sekali, dan aku berdiri di mulut gang sambil memegang payung orang lain.


Di rumah, aku duduk di depan mesin ayah dan membuka payung hitamku yang patah dua jeruji.

Aku memperbaikinya sampai jam sebelas. Jeruji yang patah diikat kawat halus dan dibalut lakban kain, kainnya yang lepas dari ujung aku jahit ulang satu per satu.

Selesai, payung itu masih jelek. Tapi bisa dipakai.

“Belum tidur?”

Ibu berdiri di pintu dapur dengan gelas teh, rambutnya sudah digelung asal-asalan.

“Bentar lagi.”

“Payung siapa yang biru?”

“Pinjaman.”

“Pinjaman siapa?”

“Anak sekelas.”

“Yang bahunya turun sebelah kiri itu?”

Aku menoleh.

“Ibu tahu dari mana?”

“Dari rok yang kamu kerjain kemarin malam.” Ibu meniup tehnya. “Kelim kanannya lebih pendek satu senti dari kiri. Itu bukan salah potong. Itu badannya.”

Aku tidak menjawab.

“Har.”

“Iya.”

“Ibu nggak akan tanya-tanya.” Dia berbalik ke dapur. “Tapi kalau kamu ngerjain sesuatu yang kamu sendiri udah tahu ujungnya, kamu jangan bilang ke Ibu kalau nanti sakit.”

Pintu dapur ditutup.

Aku duduk di situ agak lama.

Lalu aku mengambil kalender kecil yang ditempel di dinding sebelah mesin — kalender promosi toko kain, gambarnya bunga, tahunnya benar.

Aku menghitung.

Hari ini hari kelima. Sisa dua puluh lima.

Aku tidak melingkari tanggalnya. Kalau aku melingkari, ibu akan tanya, atau Sekar akan tanya, dan aku belum punya kalimat untuk siapa pun.

Aku cuma memandanginya cukup lama sampai aku hafal letak kotaknya.

Ada satu hal yang aku putuskan malam itu, dan aku memutuskannya dengan sadar, dalam keadaan tidak marah, tidak mabuk, tidak bodoh.

Aku tidak akan bertanya.

Aku tidak akan memancing, tidak akan menguji, tidak akan memberi kesempatan siapa pun untuk mengaku, karena kalau ada yang mengaku, semuanya berhenti hari ini.

Dua puluh lima hari.

Aku sudah pernah hidup dari tiga puluh delapan menit.

Aku matikan lampu meja, dan aku menaruh payung biru tua milik Kanaya di sebelah payung hitamku yang sudah bisa dipakai lagi, supaya besok pagi aku punya alasan untuk membawa dua-duanya.