← Garansi Seumur Hidup

Chapter Seven

Rumah yang Berisik

[POV: Hari] · [Hari ke-8]


“Aku mau pesen rok.”

“Ha?”

“Rok seragam.” Kanaya menutup map-nya. “Ibumu terima pesanan, kan?”

“Terima.”

“Ya udah.”

“Tapi—”

“Hari, dengerin dulu.” Dia mengangkat satu jari. “Aku tetep harus beli rok baru. Itu udah pasti, kamu setuju nggak setuju. Pertanyaannya cuma aku beli di toko atau aku pesen ke orang.”

“Di toko lebih cepet.”

“Di toko seratus dua puluh dan bahunya nggak pernah bener.”

“Rok nggak ada bahunya.”

“HARI.”

Regita menoleh dari meja belakang. Aku menunduk ke bukuku.

“Intinya,” bisik Kanaya, lebih pelan, “aku pesen, aku bayar harga normal, dan kamu nggak bisa nolak karena itu bukan buat kamu, itu buat ibumu.”

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya.

Ada perasaan aneh waktu kamu dikalahkan oleh orang yang jelas-jelas menyiapkan argumennya di rumah.

“Sore ini?” tanyanya.

“...Sore ini.”

Dua puluh dua hari lagi.


Aku mencoba tiga strategi di sepanjang jalan, dan ketiganya gagal sebelum sampai di mulut gang.

Strategi satu: minta dia menunggu di depan dan aku yang memanggil ibu keluar. Gagal karena tidak masuk akal.

Strategi dua: masuk lewat pintu samping supaya melewati dapur, bukan ruang depan. Gagal karena pintu sampingnya rusak sejak bulan April.

Strategi tiga: berdoa.

“Ini rumahmu?”

“Iya.”

“Yang jemurannya banyak itu?”

“Itu kain orang.”

“Banyak banget.”

“Lagi musim seragam.”

Kanaya berdiri di depan pagar besi rendah kami, memandangi kain-kain yang tergantung di tali sepanjang teras, dan aku melihat rumahku sendiri dari sudut pandang orang lain untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.

Catnya mengelupas di dua tempat. Terasnya sempit. Ada ember biru.

“Bagus,” katanya.

“Nggak usah gitu.”

“Aku serius. Ini kayak rumah beneran.”

“Rumahmu juga rumah beneran.”

“Rumahku itu,” katanya, “kayak display.”

“Display gimana?”

“Ya rapi.” Dia menunjuk teras kami dengan dagu. “Rumahku nggak ada ember biru. Nggak ada jemuran. Nggak ada apa-apa yang lagi dikerjain.”

“Itu bagus, kan?”

“Bagus buat difoto.”

Dia bilang itu dengan nada ringan, jenis nada yang dipakai orang untuk melempar sesuatu yang berat supaya kelihatan tidak berat, dan aku sudah cukup sering memakai nada itu sendiri untuk mengenalinya dari jarak dua meter.

Aku mau bilang sesuatu.

Aku tidak tahu apa.

Pintu terbuka sebelum aku sempat menjawab.


“KAK HARI BAWA CEWEK.”

Sekar berdiri di ambang pintu dengan susu kotak di tangan dan mulut yang, secara teknis, adalah sistem pengeras suara terbaik di Gang Melati.

“Sekar—”

“IBU. KAK HARI BAWA CEWEK.”

“Sekar, ini temen sekelas—”

“IBU. TEMEN SEKELAS.”

“SEKAR.”

Kanaya sudah jongkok. Entah kapan. Perempuan ini bergerak lebih cepat dari bencana.

“Halo,” katanya. “Aku Kanaya.”

Sekar memandanginya dari atas ke bawah dengan kecepatan seorang penilai barang gadai.

“Kakak ipar?”

“SEKAR.”

“Apa? Aku nanya doang.”

“Kamu nggak nanya, kamu ngumumin.”

“Ya kan aku nanya sambil ngumumin.”

Kanaya tertawa sampai harus memegang lututnya sendiri.

“Namamu siapa?” tanyanya.

“Sekar. Umur sembilan. Kelas empat.” Sekar menyedot susunya. “Kakak punya utang nggak?”

“Belum.”

“Bagus. Soalnya di rumah ini bunganya dua persen seminggu.”

“Sekar, jangan—”

“Kak Hari utang lima ribu dari bulan Juni,” lanjut Sekar, tanpa jeda, ke arah Kanaya, “terus Ibu utang dua ribu dari bulan Maret tapi Ibu bilang itu bukan utang itu hadiah padahal aku ada catatannya, terus Kak Hari sering nggak makan siang biar uangnya buat beli benang yang bagus padahal benang yang murah juga bisa katanya sih tapi katanya beda—”

“Sekar.”

“—terus Kak Hari suka begadang sampai jam dua terus paginya bilang nggak apa-apa padahal matanya merah—”

“SEKAR.”

“—terus kemarin dia senyum-senyum sendiri di depan mesin dua kali.”

Ruang depan hening.

Kanaya masih jongkok. Dia menoleh ke arahku dengan sangat, sangat pelan.

“Dua kali?” tanyanya.

Aku memutuskan bahwa lantai keramik di kaki tangga adalah objek yang sangat menarik dan layak dipelajari.

“Sekar,” kataku, “kamu nggak ada PR?”

“Udah selesai.”

“Nggak mungkin.”

“Aku ngerjainnya pas Kakak belum pulang.” Sekar berdiri dan menepuk celananya. “Kak, Kakak ipar mau minum apa?”

“Namanya Kanaya.”

“Kak Kanaya mau minum apa?”

“Apa aja,” kata Kanaya.

“Di sini adanya teh sama air putih.”

“Teh.”

“Manisnya?”

“Sedang.”

Sekar menoleh ke arahku dengan tatapan penuh arti yang seharusnya tidak dimiliki anak umur sembilan tahun.

“Kak Hari setengah,” katanya. “Kak Hari selalu setengah.”

Lalu dia berlari ke dapur sambil berteriak, “IBU, ADA TAMU YANG TEHNYA SEDANG.”

Kanaya berdiri, membersihkan lututnya, dan melihat ke arahku dengan senyum yang lebar sekali.

“Aku suka adikmu.”

“Semua orang bilang gitu di lima menit pertama.”

“Terus?”

“Terus dia mulai nagih.”


“Berdiri.”

“Ha?”

“Berdiri, Nak. Tegak. Tangannya turun.”

Ibu sudah memegang pita ukur sebelum sempat memperkenalkan diri, yang menurut Sekar adalah refleks, dan menurutku adalah penyakit.

“Bu, dia baru dateng—”

“Ibu cuma lihat.”

“Ibu lagi megang meteran.”

“Ibu bisa lihat sambil megang meteran.”

Kanaya berdiri tegak di tengah ruang jahit dengan ekspresi orang yang tidak tahu prosedur ini ada.

Ibu mengukur bahunya. Lalu mundur setengah langkah, memiringkan kepala, dan berkata:

“Yang kiri turun.”

“Iya, Bu.”

“Tas kamu selalu di kiri.”

Kanaya membuka mulut.

Lalu dia menoleh ke arahku, dan aku tahu persis apa yang sedang berputar di kepalanya, dan aku sangat ingin ruang jahit ini punya pintu belakang.

“Ibu tahu dari mana?” tanya Kanaya, pelan.

“Kelihatan.” Ibu menggulung pita ukurnya. “Anak ibu juga bisa lihat gitu. Dari kecil.”

“Oh.”

“Dia lebih jago dari ibu, sebenernya.” Ibu berjalan ke mesinnya. “Cuma nggak pernah mau ngaku.”

“Bu.”

“Apa? Ibu bohong?”

“Bukan gitu.”

“Ya udah.” Ibu mengibaskan tangannya. “Nak Kanaya, badanmu bagus buat rok lipit. Pinggangmu tinggi.”

“Oh. Makasih, Tante?”

“Itu bukan pujian, itu ukuran.”

“Oh.”

“Tapi ya bagus juga, sih.”

Sekar muncul dari balik pintu dapur dengan nampan berisi dua gelas dan wajah orang yang sudah menyusun berita utama.

“Ibu, Kak Kanaya bilang rumahnya kayak display.”

“Sekar.”

“Aku nguping doang.”

“Itu namanya nguping, Sekar.”

“Ya makanya aku bilang aku nguping.”

Ibu tertawa — pendek, sekali, lalu berhenti seperti orang yang sadar sedang ada tamu.

“Bu.”

“Ibu bikin teh dulu.”

Dan begitu saja ibuku pergi ke dapur, meninggalkan aku sendirian di ruang jahit bersama seseorang yang sekarang tahu terlalu banyak.


Kanaya tidak langsung bertanya.

Itu bagian yang paling menakutkan dari dia. Orang lain akan langsung bertanya. Kanaya menyimpannya dulu, seperti orang menyimpan struk.

Dia malah berjalan pelan mengelilingi ruangan, melihat kain-kain yang digantung, kotak-kotak plastik, kaleng-kaleng biskuit berisi resleting.

“Ini semua punya ibumu?”

“Iya.”

“Yang ini?”

Dia berhenti di depan mesin di dekat jendela.

Mesin itu hitam, berat, dengan meja kayu yang catnya sudah hilang di bagian tempat tangan biasa bertumpu. Roda tangannya masih licin. Di bawahnya ada pedal besi yang lebih tua dari aku.

“Itu punya ayah,” kataku.

“Ayahmu juga penjahit?”

“Dulu.”

Kanaya tidak bertanya lebih jauh, dan aku berterima kasih untuk itu dengan cara yang tidak bisa aku ucapkan.

“Boleh dipegang?”

“Boleh.”

Dia menyentuh roda tangannya, memutarnya sekali. Jarumnya turun, lalu naik lagi.

“Nggak dipakai?”

“Dipakai.”

“Sama ibumu?”

“Sama aku.”

“Kenapa nggak yang baru? Yang di sana kelihatannya lebih gampang.”

“Yang itu lebih pelan,” kataku. “Kalau pelan, kamu bisa berhenti tepat di tempat kamu mau berhenti.”

Kanaya memutar roda itu sekali lagi, pelan, sampai jarumnya turun setengah jalan dan berhenti.

Lalu dia melihat buku di atas meja mesin.


Buku tulis biasa. Sampulnya coklat, sudutnya sudah membulat, dan ada karet gelang melingkar di tengahnya karena punggungnya sudah lepas dari halaman.

“Ini apa?”

“Catatan.”

“Catatan apa?”

Dia sudah membukanya sebelum aku sempat menjawab, dan aku tidak menghentikannya, karena menghentikan orang membuka buku itu jauh lebih mencurigakan daripada membiarkannya.

Isinya membosankan. Aku tahu persis semembosankan apa, karena aku yang menulisnya.

Bu Ningsih — kebaya, resleting — 14/3
Pak Darto — celana kerja, kelim — 2/4
Rania 10 IPS 2 — rok, sobek kecil — 19/4
Bagas M — kancing blazer, 2 buah — 30/4

Halaman demi halaman. Tanggal, nama, barang.

“Ini... orang-orang sekolah?”

“Sebagian.”

“Bagas?”

“Blazernya lepas kancing pas lomba.”

“Dia tahu?”

“Enggak.”

Kanaya membalik halaman lebih cepat.

“Hari, ini ada ratusan.”

“Nggak ratusan.”

“Aku hitung nanti.”

“Jangan.”

“Kenapa dicatat kalau nggak ada yang tahu?”

Aku memandangi punggung bukunya yang sudah lepas.

“Biar nggak dobel,” kataku.

“Dobel gimana?”

“Kalau orang yang sama rusak lagi di tempat yang sama, berarti bukan kainnya yang salah. Berarti caranya dia pakai.” Aku mengangkat bahu. “Jadi harus dikerjain beda.”

Kanaya menatapku agak lama.

“Kamu ngelakuin ini buat orang yang bahkan nggak tahu kamu ada.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena bisa.”

“Itu bukan alasan.”

“Itu alasan.”

“Itu alasan buat bisa,” katanya. “Bukan alasan buat mau.”

Dia sampai di bagian belakang, tempat halaman-halamannya masih kosong.

Dan di antara halaman terakhir yang terisi dan halaman kosong pertama, ada satu halaman yang tidak seperti yang lain. Halaman itu tidak punya tanggal dan tidak punya barang. Cuma ada judul yang aku tulis empat tahun lalu dengan pulpen yang tintanya sudah memudar, dan beberapa baris di bawahnya.

Tangannya berhenti di halaman itu.

Aku menutup bukunya.

Bukan kasar. Cuma cepat.

“Berdebu,” kataku.

Kanaya menatapku.

Ada tiga detik lagi di sana, jenis yang sama seperti di depan minimarket, di mana banyak hal bisa dimasukkan.

“Oke,” katanya akhirnya.

Dan dia melepaskan bukunya.

Aku melingkarkan karet gelangnya kembali, dua kali putaran, dan menaruhnya di laci.


“Roknya jadi hari Rabu, ya,” kata ibu dari dapur sambil membawa dua gelas teh. “Tapi ibu nggak sempat ngukur sekarang, ini kebaya dua harus selesai Kamis.”

“Nggak apa-apa, Tante. Kapan aja.”

“Har.”

“Iya, Bu.”

“Besok kamu yang ukur.”

Aku hampir menumpahkan tehku ke kain orang.

“Bu—”

“Kenapa? Kamu bisa.”

“Bisa, tapi—”

“Tapi apa?”

Ada banyak jawaban untuk itu. Semuanya tidak bisa diucapkan di depan ibu, di depan Sekar, dan terutama di depan orangnya langsung, yang sekarang sedang minum teh dengan wajah yang terlalu tenang.

“Nggak apa-apa,” kataku.

“Nah.” Ibu duduk di mesinnya. “Jam empat, ya, Nak. Setelah sekolah.”

“Siap, Tante.”

Sekar muncul dari balik pintu dapur sambil mengangkat buku tulisnya.

“Kak, aku catat, ya. Kakak ipar—”

“KANAYA. Namanya Kanaya.”

“Iya, iya.” Sekar menulis dengan sangat serius. “Ka-na-ya. Rok. Rabu.”

Dia menghitung sesuatu di jarinya, lalu mengangkat wajah dengan senyum yang membuat bulu kudukku berdiri.

“Kak,” katanya, “ini utang atau hadiah?”