Chapter Eleven
Alasan Praktis
[POV: Hari] · [Hari ke-15]
“Aku ikut.”
“Ini ke pasar.”
“Aku tahu pasar itu apa, Hari.”
“Pasar Lama itu bukan pasar yang ada eskalatornya.”
“Aku tahu pasar itu apa.”
Kami sudah setengah jalan ke gerbang. Aku memegang daftar belanja tulisan ibu di saku — tiga meter drill hitam, satu gulung benang jahit nomor 60, resleting jepang dua puluh senti empat buah, karet pinggang satu meter — dan aku sudah menghitung bahwa perjalanan ini butuh empat puluh menit, dan bahwa empat puluh menit itu bukan waktu yang pantas untuk dihabiskan orang seperti dia di tempat seperti itu.
“Kenapa mau ikut?”
“Aku belum pernah.”
“Nggak ada yang menarik.”
“Hari.” Kanaya berhenti jalan. “Aku belum pernah ke pasar kain. Aku belum pernah ke pasar apa pun, sebenernya. Kalau aku bilang aku pengen lihat, kamu bakal nolak berapa kali lagi?”
Aku memikirkan itu sebentar.
“Sekali lagi,” kataku.
“Ya udah, sekarang.”
“...Nggak.”
“NAH.”
Lima belas hari. Sisa lima belas.
Angka itu bagus, sebenarnya. Genap. Setengah.
Aku memikirkannya di sepanjang jalan ke halte, dan aku memikirkannya dengan cara yang salah, karena aku memikirkannya sebagai masih ada dan bukan sebagai tinggal.
Pasar Lama jam empat sore itu seperti isi mesin cuci.
Gang-gangnya selebar satu setengah meter, dan setengahnya dipakai untuk barang dagangan yang meluber keluar toko. Ada motor yang tetap masuk walaupun jelas tidak muat. Ada tiga toko yang menyetel dangdut dengan lagu berbeda dalam radius sepuluh meter.
Kanaya berhenti di mulut gang dengan mata sedikit membesar.
“Ini... rame banget.”
“Iya.”
“Kamu ke sini tiap minggu?”
“Dua minggu sekali.”
“Sendirian?”
“Iya.”
Dia menoleh ke arahku dengan ekspresi yang tidak aku mengerti waktu itu, dan baru aku mengerti berbulan-bulan kemudian.
“Ya udah,” katanya. “Ayo.”
Kami masuk. Dua belas langkah kemudian, dia sudah hilang.
Aku menemukannya berdiri terjepit di antara gerobak dan rak sandal, dengan wajah orang yang sedang menghitung kemungkinan mati muda.
“Nay.”
“Aku nggak bisa gerak.”
“Tunggu.”
Aku menariknya keluar dari sela itu, dan setelah dia keluar, aku tidak melepaskan tangannya.
Itu terjadi begitu saja. Aku tidak memutuskan apa-apa. Aku menariknya keluar, lalu kami harus jalan lagi, dan jalan lagi berarti gang selebar satu setengah meter, dan aku cuma... tidak melepaskan.
Empat langkah.
Lima.
“Har.”
“Iya?”
“Tanganku.”
“Oh.” Aku melepasnya. “Maaf.”
“Bukan gitu maksudku.”
“...Ha?”
Kanaya melihat ke gang di depan kami, yang sekarang diisi rombongan ibu-ibu dan satu gerobak es, lalu melihat ke tanganku.
“Nanti aku ilang lagi,” katanya.
“Iya.”
“Jadi.”
“Iya.”
“Jadi ya udah.”
“...Iya.”
Aku memegang tangannya lagi.
Dan supaya jelas: itu alasan praktis. Betul-betul praktis. Gangnya sempit, orangnya banyak, dan orang yang tidak biasa di pasar memang gampang hilang.
Aku mengulang alasan itu di kepalaku kira-kira dua puluh kali sepanjang gang kain, dan alasannya tetap valid setiap kali, dan aku tetap merasa seperti orang yang sedang mencuri.
Tangannya lebih kecil dari tanganku, dan lebih dingin di ujung jari, dan ada sesuatu yang aneh terjadi setiap kali kami harus berhenti untuk memberi jalan: dia menggeser jarinya sedikit, mencari posisi yang lebih enak, lalu diam lagi.
Empat kali.
Aku menghitung empat kali.
“Har.”
“Iya?”
“Kamu jalan kayak orang yang lagi bawa telur.”
“Aku bawa kain.”
“Kamu tahu maksudku.”
“Iya.”
“Santai aja.”
“Iya.”
“Kamu bilang iya tapi bahunya makin naik.”
Aku menurunkan bahuku.
Lima langkah kemudian bahuku naik lagi, dan Kanaya menepuknya sekali dengan punggung tangan yang bebas, dan aku menghabiskan sisa gang kain itu dengan mencoba mengingat kapan terakhir kali ada orang menepuk bahuku karena alasan yang bukan kasihan.
Toko Pak Hasan ada di ujung, di sebelah kios yang menjual kancing dalam ember.
“Har! Ibumu apa kabar?”
“Baik, Pak.”
“Ini—” Pak Hasan melihat ke arah Kanaya, lalu ke arah tangan kami, lalu ke arahku, dengan kecepatan yang mengkhawatirkan untuk laki-laki enam puluh tahun.
“Temen sekelas,” kataku.
“Oh.” Dia mengangguk sangat lambat. “Temen sekelas.”
“Iya.”
“Temen sekelas yang tanganmu—”
“Drill hitam tiga meter, Pak.”
Pak Hasan tertawa sampai batuk.
Kanaya berjalan menyusuri rak sambil menyentuh ujung-ujung kain dengan punggung jari, satu per satu, seperti orang menyapa antrean.
“Ini kenapa beda-beda rasanya?”
“Beda benang. Beda tenunan.”
“Yang ini kasar.”
“Itu belum dicuci.”
“Yang ini kayak... dingin.”
“Itu ada campuran polyester-nya.”
“Kamu bisa bedain sambil merem?”
“Bisa.”
“Bohong.”
Aku memejamkan mata dan mengulurkan tangan. Dia menaruh satu potongan kain di telapakku.
“Katun, tapi campuran. Enam puluh empat puluh.” Aku membuka mata. “Buat kemeja seragam SD.”
Kanaya berdiri diam memegang kain itu.
“Kamu tuh,” katanya, “harusnya nggak duduk di pojok.”
Aku membayar belanjaan.
“Har,” kata Pak Hasan sambil menghitung kembalian, “ibumu masih pakai yang hitam?”
“Masih.”
“Kapan diservis terakhir?”
“Dua tahun lalu.”
“Bawa ke saya kapan-kapan. Rodanya udah lama itu.” Dia menyerahkan uang receh. “Sayang kalau rusak. Nggak ada lagi yang bikin model gitu.”
“Iya, Pak.”
Di jalan keluar, Kanaya bertanya, “Mesin yang di rumahmu itu mahal?”
“Sekarang nggak ada harganya.”
“Kok gitu?”
“Nggak ada yang mau beli mesin berat.” Aku menggeser kantong ke bahu. “Orang maunya yang ringan.”
“Terus kenapa kamu masih pakai?”
Aku memikirkannya sampai simpang berikutnya.
“Karena itu satu-satunya barang di rumah yang masih persis kayak waktu dia masih ada,” kataku.
Kanaya tidak menjawab. Tapi tangannya di tanganku bergerak sekali, mencari posisi yang lebih enak.
Kelima.
Kami keluar dari gang kain jam setengah lima, dan di depan tukang bakso di simpang, ada seseorang yang menyebut namaku.
“Hari?”
Aku berhenti.
Rambutnya sekarang panjang dan dia memakai seragam sekolah yang berbeda dari kami, tapi wajahnya tidak berubah sama sekali, dan aku mengenalinya dalam waktu kurang dari satu detik, karena wajah itu adalah salah satu dari sedikit hal yang tidak pernah butuh usaha untuk aku ingat.
“Tiara,” kataku.
“Ya ampun, beneran kamu!” Dia mendekat. “Kamu— kamu beda banget.”
“Rambut doang.”
“Bukan rambut doang.” Dia tertawa, agak canggung. “Kamu sekolah di mana sekarang?”
“SMA Tiga.”
“Aku di Empat.” Dia melihat ke arah Kanaya, lalu ke arahku. “Ini—”
“Kanaya,” kata Kanaya. Dia mengulurkan tangan, tersenyum dengan senyum yang dia pakai di depan kelas.
“Tiara. Temen SMP-nya Hari.”
“Oh, seru.”
“Iya.”
Ada jeda kecil.
Lalu Tiara berkata, dengan suara yang lebih pelan, “Har, aku... maaf ya, yang dulu.”
“Nggak apa-apa.”
“Serius, aku sering kepikiran.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku waktu itu bego banget.”
“Beneran nggak apa-apa,” kataku. “Aku udah lupa.”
Tiara menghela napas — dan ini bagian yang penting, ini bagian yang seharusnya kamu perhatikan — dia menghela napas dengan cara orang yang baru saja meletakkan sesuatu yang berat.
“Makasih ya, Har.” Dia tersenyum, dan senyumnya lega, dan tulus. “Kamu baik banget.”
“Iya.”
“Aku duluan, ya!”
Dia pergi.
“Har.”
“Hm.”
“Kamu nggak lupa.”
Aku memindahkan kantong belanjaan ke tangan satunya.
“Nggak,” kataku.
Kanaya tidak bertanya lebih lanjut. Kami jalan sekitar dua puluh meter tanpa bicara, lewat penjual buah, lewat orang yang menjual kaus kaki di atas terpal.
“Kenapa kamu bilang lupa?” tanyanya akhirnya.
Aku memikirkan bagaimana menjelaskannya.
Kalau kamu penasaran apa yang sebenarnya terjadi, ini bagian yang bisa aku ceritakan: surat itu bukan tulisan Tiara.
Yang menulis anak lain. Tiara cuma disuruh menaruhnya di laciku, karena Tiara yang paling tidak mencurigakan, karena Tiara memang orang baik.
Dan Tiara datang ke rumahku tiga hari setelahnya. Sendirian, naik sepeda, dengan mata bengkak.
Aku ingat aku membuka pintu, dan dia belum sempat mengucapkan satu kalimat penuh, dan aku sudah bilang nggak apa-apa.
Aku bilang itu sebelum dia selesai minta maaf.
Aku bahkan mempercepatnya. Aku memotong permintaan maafnya supaya dia tidak perlu mengucapkan bagian yang paling susah.
Ada satu hal yang aku pelajari hari itu, dan aku tidak pernah mengucapkannya keras-keras kepada siapa pun, jadi kalimatnya belum pernah diuji.
“Karena dia butuh,” kataku.
“Butuh apa?”
“Butuh dimaafin.”
“Ya kan emang harusnya minta maaf.”
“Iya. Tapi minta maaf itu bukan buat orang yang disakitin.” Aku melihat lurus ke depan. “Minta maaf itu buat orang yang nyakitin. Biar dia bisa jalan lagi.”
Kanaya melambat.
“Terus yang disakitin dapet apa?”
“Nggak dapet apa-apa.”
“Itu nggak adil.”
“Iya.”
“Terus kenapa kamu kasih?”
Dan ini jawaban yang aku berikan, di simpang Pasar Lama, jam lima kurang, sambil memegang tiga meter drill hitam dan tangan seseorang:
“Karena kalau aku nggak kasih, dia bakal ngerasa jelek.” Aku mengangkat bahu. “Dan aku nggak tahan lihat orang ngerasa jelek gara-gara aku.”
Kanaya berhenti jalan.
Dia berhenti total, di tengah trotoar, sampai ada bapak-bapak yang harus memutar untuk lewat.
“Nay?”
“...Nggak apa-apa.”
“Itu jawaban nomor satu.”
“Iya,” katanya. “Aku pinjem lagi.”
Kami jalan lagi. Tiga puluh langkah. Empat puluh.
“Har.”
“Hm.”
“Kalau ada orang yang nyakitin kamu terus dia nggak minta maaf,” katanya, “kamu marah nggak?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau dia nggak minta maaf, artinya dia nggak ngerasa salah.” Aku memindahkan kantong ke tangan satunya lagi. “Marah sama orang yang nggak ngerasa salah itu buang-buang tenaga.”
“Terus kalau dia ngerasa salah tapi diem aja?”
Aku menoleh ke arahnya.
Dia sedang melihat lurus ke depan, ke arah halte, dengan wajah yang sangat tenang.
“Berarti dia lagi mikirin caranya,” kataku.
“Terus kamu tungguin?”
“Iya.”
“Sampai kapan?”
Kami sampai di halte.
“Sampai dia siap,” kataku.
Tangannya masih di tanganku. Aku merasakannya menegang sedikit, lalu lemas lagi.
Lalu dia menggenggam lebih erat, dan tidak melepaskan.
Aku yang melepaskan duluan.
Aku selalu yang melepaskan duluan. Itu bukan kebetulan dan itu bukan sopan santun. Aku melakukannya karena kalau kamu yang melepas duluan, kamu tidak pernah harus merasakan bagaimana rasanya dilepaskan.
Itu latihan.
Aku sudah berlatih selama lima belas hari.
Kanaya mampir sebentar ke rumah karena Sekar menghadangnya di mulut gang dan menyeretnya masuk dengan kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki anak seberat dua puluh delapan kilo.
“Kak Kanaya harus lihat gambaranku.”
“Sekar, dia buru-buru.”
“Dua menit.”
“Sekar.”
“Satu setengah.”
Ibu menawarkan teh. Kanaya menolak, lalu menerima. Sekar memamerkan gambar seorang perempuan berdiri di samping mesin jahit, dengan satu figur lain di belakangnya yang jelas-jelas memakai kacamata.
“Sekar.”
“Itu bukan Kakak.”
“Itu jelas aku.”
“Itu tetangga.”
Kanaya tertawa dan menerima gambar itu seperti orang menerima piagam.
Dan waktu dia berdiri untuk pamit, matanya berhenti di dinding sebelah mesin ayah.
Kalender promosi toko kain. Gambarnya bunga. Kertasnya sudah agak melengkung di sudut karena lembap.
“Har.”
“Iya?”
“Ini kenapa?”
Dia menunjuk satu kotak tanggal.
Kotak itu tidak dilingkari. Tidak ditandai apa pun. Tapi kertasnya di situ sudah menipis dan sedikit kusam, warnanya beda dari kotak-kotak di sekitarnya, seperti bagian kain yang paling sering dipegang.
Aku sudah menyiapkan jawaban untuk hampir semua hal.
Aku tidak menyiapkan yang ini.
“Bocor,” kataku. “Atapnya bocor di situ.”
Kanaya melihat ke atas.
Langit-langit ruang jahit kami memang bercak di beberapa tempat, karena rumah ini tua dan bulan Februari selalu keras. Tapi tidak ada satu pun bercak di atas kalender itu.
Dia melihat ke atas cukup lama untuk tahu.
Lalu dia menurunkan pandangannya, dan berkata, “Oh.”
Cuma itu.
Dia tidak menarik benangnya.
Dan aku ingat aku berpikir, sambil mengantarnya ke pagar: dia juga sedang menyimpan struk.
“Har.”
“Iya.”
“Makasih ya, hari ini.”
“Aku yang belanja.”
“Bukan itu.” Dia membetulkan tali tasnya. Bahu kanan. “Makasih udah bawa aku ke tempat yang beneran.”
“Itu cuma pasar.”
“Aku tahu.” Dia sudah setengah berbalik. “Makanya.”
Aku berdiri di pagar sampai dia belok di ujung gang.
Ibu memanggil dari dalam untuk menanyakan resletingnya nomor berapa, dan Sekar berteriak dari kamar mandi menuduh seseorang mengambil handuknya, dan di dalam rumah ada bunyi mesin dan bunyi wajan dan bunyi orang.
Lima belas hari lagi.
Malam itu aku membalik kalender bunga itu menghadap tembok, lalu memutarnya kembali sepuluh menit kemudian, karena ternyata tidak melihat angkanya jauh lebih buruk daripada melihatnya.
Dan sebelum tidur, aku melakukan sesuatu yang tidak aku catat di buku mana pun.
Aku menghitung ulang.
Bukan sisa harinya. Itu sudah hafal.
Aku menghitung berapa hal yang sudah aku ambil: satu payung, satu pulpen bekas gigitan, satu tawa yang bentuknya bahu-dulu-baru-suara, satu meja tengah dengan empat orang, satu tangan di gang kain, lima kali dia menggeser jarinya mencari posisi yang lebih enak.
Enam.
Enam benda yang tidak bisa diambil kembali oleh siapa pun, bahkan oleh orang yang memberikannya tanpa sengaja.
Aku tidur dengan angka enam di kepala, dan dengan perasaan yang harusnya tidak boleh ada namanya di rumah ini.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis reading
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup