← Garansi Seumur Hidup

Chapter Twenty

Harga Masuk

[POV: Kanaya] · [Hari ke-32 sampai ke-39]


Tidak ada yang memecatku.

Itu bagian yang tidak aku antisipasi.

Aku sudah menyiapkan diri untuk dipanggil ke ruang BK, untuk dicabut dari kepanitiaan, untuk surat peringatan, untuk orang tua dipanggil — walaupun bagian terakhir itu lucu, karena orang tuaku tidak bisa dipanggil bahkan untuk mengambil rapor.

Bu Sari tidak memanggilku sama sekali.

Yang terjadi jauh lebih pelan dari itu.

Hari Selasa, rapat panitia class meeting dimajukan setengah jam dan aku baru tahu waktu masuk ruang OSIS dan ruangannya sudah kosong.

Hari Rabu, grup panitia sepi. Aku mengecek: ada grup baru. Tidak ada yang mengeluarkanku dari grup lama; grup lama cuma... berhenti.

Hari Kamis, aku mengangkat tangan di rapat untuk mengusulkan pemindahan jadwal, dan usulanku dicatat, dan diabaikan, dengan sangat sopan.

Hari Jumat aku mengundurkan diri.

Aku menulis suratnya dalam sebelas menit karena aku sudah tahu formatnya. Aku yang membuat template-nya dua semester lalu.

Bu Sari membacanya, lalu melepas kacamatanya, lalu melipatnya, dan menaruhnya di meja.

“Kamu yakin?”

“Iya, Bu.”

“Ibu nggak minta kamu berhenti.”

“Saya tahu, Bu.”

“Terus kenapa?”

Aku memandangi meja Bu Sari. Ada tumpukan rapor, ada kalender meja, ada gelas berisi pulpen yang sebagian besar tidak ada tutupnya.

“Karena kalau saya bertahan,” kataku, “orang harus ngerjain acara sambil canggung sama saya. Terus mereka yang repot, bukan saya.”

Bu Sari mengangguk pelan.

“Kanaya.”

“Iya, Bu?”

“Itu masih ngurusin orang.”


Bagas menghampiriku hari Rabu.

Aku tidak menyangka. Sejak hari Senin dia belum bicara denganku sekali pun, dan aku sudah menerima itu sebagai keadaan permanen.

“Nay.”

“Gas.”

Dia berdiri di depan mejaku dengan tangan di saku dan wajah orang yang sudah menghafal kalimatnya di rumah.

“Aku minta maaf soal yang Senin.”

“Kamu nggak salah apa-apa.”

“Aku keluar kelas pas kamu lagi ngomong.” Dia menggaruk belakang lehernya. “Itu nggak sopan. Kamu lagi ngaku, terus aku bikin jadi soal aku.”

Aku menatapnya.

“Bagas.”

“Iya?”

“Kamu ini kenapa sih.”

“Apanya?”

“Kamu minta maaf ke orang yang bohongin temen kamu.”

Bagas berpikir sebentar — benar-benar berpikir, dengan alis berkerut, seperti orang yang diberi soal.

“Ya kan dua-duanya bisa bener,” katanya akhirnya. “Kamu salah sama Hari. Aku salah sama kamu.”

Lalu dia pergi ke lapangan.

Dan aku duduk di mejaku sambil berpikir bahwa kalau ada keadilan di dunia ini, seharusnya Bagas yang duduk di sebelah Hari dari hari pertama.


Aku tidak sadar seberapa banyak waktu yang aku punya sampai semuanya dicabut.

Ini terdengar bodoh, dan aku tahu itu, tapi aku tidak tahu harus pulang jam berapa.

Selama dua tahun jadwalku selalu sama: sekolah sampai jam dua, kepanitiaan sampai jam empat atau lima, kadang sampai enam. Aku sampai rumah waktu rumah itu sudah gelap dan lampunya sudah menyala sendiri, dan aku langsung mandi dan tidur.

Minggu itu aku sampai rumah jam setengah tiga.

Rumahnya terang benderang. Semua lampunya menyala, di semua ruangan, seperti biasa.

Cuma sekarang matahari juga masih ada.

Dan ternyata rumah yang lampunya menyala di siang bolong itu jauh lebih menyeramkan daripada rumah gelap, karena rumah gelap masih bisa dibilang belum ada yang pulang.

Aku duduk di ruang tamu dari jam setengah tiga sampai jam tujuh.

Aku tidak mengerjakan apa-apa.

Aku sudah biasa mengisi ruangan dengan suara. Aku menyalakan TV, aku menelepon orang, aku mengetik di grup. Minggu itu tidak ada grup yang bisa aku ketik.

Jadi aku belajar sesuatu yang seharusnya sudah aku pelajari dari dulu:

selama dua tahun aku bukan mengurusi acara sekolah.

Aku sedang menghindari jam tiga sampai jam tujuh.


Vania menghampiriku hari Kamis di parkiran.

“Nay.”

“Van.”

Kami berdiri di situ sebentar. Aku sudah menyiapkan beberapa kalimat pembuka dan tidak satu pun terasa benar.

“Aku nggak minta maaf ke kamu,” katanya. “Kamu juga jangan minta maaf ke aku.”

“Oke.”

“Aku cuma mau bilang aku nggak akan ngajak kamu ngobrol lagi.”

Aku mengangguk.

“Bukan karena aku benci kamu,” lanjutnya. “Bukan karena aku ngerasa lebih bener. Aku yang bikin taruhannya, aku tahu.”

“Terus kenapa?”

Vania melihat ke arah lapangan.

“Karena tiap kali aku lihat kamu, aku inget kalau aku bisa nyuruh orang ngelakuin sesuatu yang mereka sendiri tahu salah,” katanya. “Cuma dengan ngomong sekali di kantin. Sambil ngaduk es kopi.”

“Van—”

“Itu bikin aku takut sama diri aku sendiri, Nay.” Dia menyampirkan tasnya. “Dan aku nggak mau diingetin tiap hari.”

Dia berjalan ke arah gerbang.

Lalu berhenti.

“Nay.”

“Iya?”

“Anak itu tahu dari hari kelima,” katanya, tanpa berbalik. “Berarti dia lebih pinter dari kita berdua digabung, dan dia tetep milih dateng.”

“Aku tahu.”

“Aku belum selesai.” Suaranya berubah. “Aku nyusun syaratnya biar dia keliatan bego, Nay. Itu tujuannya. Aku pengen ada bukti tertulis biar ada barangnya, biar bisa ditunjukin, biar dia jadi lelucon yang ada arsipnya.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Dan dia jalan ke depan kelas dan ngasih arsipnya sendiri,” kata Vania. “Sambil tahu.”

Dia berjalan pergi, dan itu percakapan terakhir kami selama lima bulan.


Aku ke Gang Melati hari Sabtu.

Aku tidak membawa apa-apa. Nadine benar; aku selalu datang membawa sesuatu yang sudah aku siapkan, dan minggu itu aku memaksa diriku berangkat dengan tangan kosong, dan sepanjang jalan aku merasa seperti orang yang lupa memakai sepatu.

Aku mengetuk jam sepuluh pagi.

Tante Ratih yang membuka.

“Eh, Nak Kanaya.”

Dan itu yang paling tidak aku siapkan: dia bilang eh, seperti orang yang senang, selama setengah detik pertama.

Lalu setengah detik itu lewat, dan wajahnya menyesuaikan diri, dan dia berkata dengan nada yang jauh lebih rata:

“Masuk.”


Ruang jahitnya sama.

Kain-kain di paku sepanjang dinding, kotak plastik berisi resleting, kaleng biskuit, mesin hitam di dekat jendela dengan meja kayu yang catnya sudah hilang di bagian tempat tangan bertumpu.

Kalender bunga masih di dinding.

Aku tidak bisa melihat ke arah itu, jadi aku melihat ke lantai.

“Duduk.”

“Tante, saya—”

“Duduk dulu, Nak. Ibu bikin teh.”

“Tante nggak usah—”

“Nak Kanaya.” Dia sudah di ambang pintu dapur. “Ibu tetep bikin teh. Bukan buat kamu. Buat ibu sendiri, biar ada yang dikerjain tangan ibu pas ngomong.”


Dia menaruh dua gelas di meja kecil dan duduk di kursi seberangku.

“Kamu udah dengar semuanya dari dia?” tanyaku.

“Sebagian.”

“Dari Sekar?”

“Dari kamu.”

Aku mengangkat kepala.

“Kamu masuk ke rumah ini sembilan kali,” kata Tante Ratih. “Ibu ngukur badan kamu di hari kedelapan. Ibu duduk di kursi tamu sekolah pakai kebaya buat kamu.”

Aku merasakan sesuatu naik dari perut ke tenggorokan.

“Ibu bukan nyalahin kamu buat itu,” lanjutnya. “Ibu yang nawarin diri. Nggak ada yang nyuruh.”

“Tante—”

“Ibu cuma mau kamu tahu ibu nggak nanya-nanya waktu itu, Nak.” Dia memegang gelasnya dengan dua tangan. “Ibu tahu ada yang nggak beres dari minggu pertama. Anak ibu itu dari kelas sembilan nggak pernah bawa temen pulang. Terus tiba-tiba tiga hari sekali.”

“Kenapa Tante diem?”

Tante Ratih memandangi tehnya cukup lama.

“Karena ibu seneng,” katanya.

Ruangan itu berhenti bergerak.

“Ibu tahu ada yang aneh, dan ibu seneng, jadi ibu diemin.” Dia mengangkat wajahnya. “Jadi jangan pikir cuma kamu yang salah di rumah ini, Nak.”

Aku mengusap mataku dengan lengan.

“Tante marah sama saya?”

“Enggak.”

“Kenapa enggak?”

Tante Ratih menaruh gelasnya.

“Karena ibu udah lima puluh dua tahun, Nak, dan ibu udah pernah ngelakuin hal-hal yang lebih jelek dari kamu waktu ibu tujuh belas.” Dia mengangkat bahu. “Yang bikin ibu nggak bisa tidur bukan kamu.”

“Terus apa?”

“Anak ibu.”

Ruang jahit itu sunyi.

“Har tahu dari hari kelima,” katanya. “Kamu tahu apa artinya buat ibu?”

“...Enggak, Tante.”

“Artinya dua puluh lima hari dia pulang ke rumah ini, makan di meja ini, ketawa sama adiknya, terus tidur.” Dia melipat tangannya di pangkuan. “Dan ibu nggak tahu apa-apa.”

Suaranya masih rata. Itu yang membuatnya lebih buruk.

“Ibu ngelahirin anak itu, Nak. Ibu ngajarin dia masang benang waktu umurnya delapan.” Dia memandangi mesin hitam di dekat jendela. “Dan dia bisa ngerahasiain itu dari ibu selama dua puluh lima hari, di rumah sekecil ini.”

Aku tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali.

“Ibu nggak bisa marah sama kamu, Nak Kanaya,” katanya akhirnya. “Ibu lagi sibuk mikirin sejak kapan anak ibu belajar diem sebagus itu.”


Sekar tidak keluar dari kamarnya.

Itu yang paling aku ingat dari pagi itu. Bukan Tante Ratih, bukan tehnya, bukan apa pun yang diucapkan.

Selama sembilan kunjungan, Sekar selalu keluar sebelum aku sempat duduk. Dia menyeret bantalnya, dia membawa buku tulisnya, dia mengumumkan kedatanganku ke seluruh gang.

Hari itu pintunya tertutup.

Aku menunggu sampai jam sebelas kurang.

Waktu aku berdiri untuk pamit, pintu itu terbuka sedikit.

Sekar berdiri di sana dengan piyama dan rambut belum disisir.

“Sekar—”

“Aku udah nyoret,” katanya.

“...Apa?”

“Di bukuku.” Suaranya kecil sekali. “Yang catatan kunjungan Kak Kanaya. Aku udah coret semua.”

“Sekar.”

“Aku bikin tren naik.” Dia memegang gagang pintu dengan dua tangan. “Aku hitung kalau naik terus, bulan depan Kakak ke sini dua hari sekali. Aku bilang gitu di depan Kak Hari. Aku bilang di depan Ibu.”

Aku tidak bisa mengeluarkan suara.

“Aku bego, ya,” katanya.

Dan itu — bukan tangis Bagas, bukan Vania di parkiran, bukan diriku muntah di kamar mandi sekolah — itu titik terendahnya.

Karena anak umur sembilan tahun berdiri di ambang pintu kamarnya dan meminta maaf karena sudah percaya.

“Sekar,” kataku. “Kakak yang bego.”

Dia menutup pintunya.


Hari keluar waktu aku sudah di teras.

Aku mendengar pintu dan aku berbalik terlalu cepat, dan gelas teh yang aku pegang — aku bahkan tidak sadar aku masih memegangnya — hampir tumpah.

Dia berdiri di ambang pintu.

Wajahnya biasa saja. Itu yang paling buruk. Bukan pucat, bukan lelah, bukan mata bengkak.

Cuma biasa saja.

“Har.”

“Iya.”

“Aku—” Semua kalimat yang aku siapkan hilang. “Aku nggak bawa apa-apa.”

“Oke.”

“Aku serius. Aku nggak bawa rundown, aku nggak bawa penjelasan, aku nggak bawa—” Napasku patah. “Aku cuma dateng.”

Dia mengangguk.

“Aku ngaku di depan kelas hari Senin,” kataku.

“Aku denger.”

“Aku nggak cerita biar kamu tahu aku udah—”

“Nay.” Dia menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.”

Dan di situ aku mengerti.


Aku pernah membaca sesuatu tentang orang yang mati kedinginan: katanya di tahap terakhir mereka justru merasa panas, dan melepas jaketnya sendiri.

Aku memikirkan itu waktu berdiri di teras rumahnya.

Karena “nggak apa-apa” itu, selama tiga puluh hari, adalah kalimat paling hangat yang pernah diucapkan siapa pun kepadaku. Itu kalimat yang dia pakai waktu aku menjatuhkan pita ukur. Waktu aku salah potong poninya. Waktu aku menangis di depan pagar rumahku sendiri.

Kalimat yang sama.

Nada yang sama.

Dan sekarang kalimat itu adalah tembok.

“Har, kamu boleh marah.”

“Aku nggak marah.”

“Kamu boleh maki aku.”

“Aku nggak mau maki kamu.”

“HAR—”

“Nay.” Dia bersandar ke kusen pintu. “Aku bukan nggak marah karena aku baik. Aku bukan nggak marah karena aku maafin kamu.”

“Terus?”

Dia memandangi jemuran kain di teras. Ada yang sudah kering dan belum diangkat.

“Kamu inget yang aku bilang soal darah di kain?” katanya.

Aku merasakan lantai teras bergerak.

“Rendem air dingin. Jangan air panas.” Suaranya masih tenang. “Karena kalau kena panas, dia matang. Terus nempel selamanya.”

“Har—”

“Kamu yang jawab waktu itu,” katanya. “Kamu bilang, jadi kalau salah nanganin sekali, udah nggak bisa dibalikin. Walaupun niatnya bersihin.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Aku nggak marah sama kamu, Nay,” katanya. “Aku juga nggak bisa ketemu kamu. Dua-duanya bener.”


Aku bertanya satu hal sebelum pergi.

Aku bertanya karena aku memang orang seperti itu, karena bahkan di teras rumah orang yang aku hancurkan, otakku tetap mencari kolom yang bisa diisi.

“Aku harus ngapain?”

Dan Hari Baskara memberikan jawaban yang paling jujur dan paling kejam yang pernah aku terima seumur hidup:

“Nggak ada.”

“Har—”

“Nggak ada yang harus kamu lakuin.” Dia sudah setengah masuk. “Nggak ada tugas. Nggak ada syarat. Kamu nggak lagi ngerjain apa-apa, Nay.”

“Terus aku gimana?”

“Nggak tahu,” katanya. “Itu bukan urusan aku lagi.”

Pintu ditutup.

Pelan sekali. Tidak dibanting. Dia bahkan menahannya di detik terakhir supaya bunyinya tidak keras, dan bagian itu — bagian menahan pintu supaya tidak keras — yang membuatku duduk di trotoar depan gang selama empat puluh menit.


Aku pulang jam satu.

Dan malam itu, di kamar, aku melakukan hitung-hitungan yang harus aku lakukan, karena kalau aku tidak menghitungnya aku akan terus berpura-pura bahwa aku sudah membayar sesuatu.

Aku kehilangan kepanitiaan. Aku kehilangan Vania. Aku kehilangan tempat dudukku di meja kantin, dan grup, dan seluruh sistem yang membuatku tidak perlu pulang jam tiga.

Aku menuliskannya di kertas. Semuanya.

Lalu aku menuliskan satu baris lagi di bawahnya:

Yang dia dapet dari semua ini: —

Kolom itu kosong.

Semua yang aku bayar minggu itu, aku bayarkan ke sekolah. Ke reputasi. Ke diriku sendiri.

Tidak ada satu pun yang sampai ke Gang Melati nomor empat.

Aku duduk di lantai kamarku dengan kertas itu di pangkuan dan akhirnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi minggu ini.

Aku belum menebus apa-apa.

Aku baru bayar tiket masuk.