← Garansi Seumur Hidup

Chapter Twenty Nine

Halaman yang Dicoret

[POV: Kanaya] · [Hari ke-192]


Dia mengatakannya di gerbang, hari Kamis, jam enam lima belas, dengan cara orang menyebutkan nomor rumah.

“Sabtu jam sembilan.”

Aku berhenti jalan.

“...Apa?”

“Kalau mau.”

“Har—”

“Ibu bilang tanganmu lumayan,” katanya, sudah setengah berjalan masuk. “Tapi kamu nggak pernah diajarin pasang resleting.”

Dan dia masuk ke kelas.

Aku berdiri di gerbang sekolah selama mungkin dua puluh detik dengan tas di bahu kanan dan wajah yang aku yakin kelihatan sangat bodoh, dan aku menyadari sesuatu:

itu permintaan pertama yang dia ajukan kepadaku sejak bulan Mei.

Enam bulan.

Dalam enam bulan, orang itu tidak pernah sekali pun meminta apa pun dariku. Bukan air, bukan pulpen, bukan tolong ambilkan. Aku memeriksanya di kepala sepanjang jalan ke kelas dan tidak menemukan satu pun.

Dan permintaan pertamanya berbunyi seperti pemberitahuan cuaca.


Sabtu jam sembilan kurang lima aku berdiri di mulut Gang Melati.

Aku tidak masuk lewat jalan memutar di belakang pasar.

Itu kedengarannya kecil. Buat aku itu memakan waktu tiga menit penuh untuk diputuskan, berdiri di simpang, dengan dua jalan di depan mata.

Jalan memutar itu empat belas menit lebih lama, dan aku sudah memakainya dua puluh dua kali, dan aku hafal setiap tikungannya.

Jalan yang biasa lewat depan warung Bu Nur.

Aku lewat depan warung Bu Nur.

“NON!”

“Pagi, Bu.”

“Mampir!”

“Nanti pulangnya, Bu.”

“Awas lho, ibu tunggu!”

Dan aku berjalan masuk ke gang itu jam sembilan pagi hari Sabtu, lewat jalan depan, dengan orang di dalam rumah keempat yang tahu aku datang.


Hari membuka pintu.

Itu juga pertama kalinya.

“Masuk.”

“Har.”

“Hm?”

“Kamu nggak nganterin pesanan?”

“Udah.” Dia berjalan ke ruang jahit. “Aku berangkat jam enam.”

Aku berdiri di ruang tamu rumah itu memikirkan bahwa orang ini bangun jam lima dan mengantar enam pesanan ke tiga gang berbeda sebelum jam sembilan supaya tidak ada yang perlu mengatur jadwal siapa pun.

“Har.”

“Hm.”

“Makasih.”

“Buat apa?”

“Buat berangkat jam enam.”

Dia tidak menjawab, dan punggungnya tidak berhenti berjalan, tapi aku melihat bahunya naik setengah senti dan turun lagi.


Tante Ratih tidak ada.

“Ibu ke pasar,” kata Hari. “Sama Sekar.”

“Oh.”

“Balik jam dua belas.”

“Oh.”

Dan kami berdiri di ruang jahit yang sama, dengan kain-kain digantung di paku sepanjang dinding, dengan mesin hitam di dekat jendela, jam sembilan lewat, berdua.

Untuk pertama kalinya sejak sore itu di kelas kosong.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk di kursi kecil di sudut.

Dia menaruh sesuatu di meja: resleting jepang dua puluh senti, potongan kain, kapur jahit, dan gunting.

“Resleting itu ada dua cara,” katanya. “Yang gampang dan yang bener.”

“Kamu bakal ngajarin yang mana?”

“Yang bener.”

“Kenapa nggak yang gampang?”

Dan Hari Baskara berdiri di ruang jahit rumahnya sendiri dan berkata, dengan wajah yang sama sekali tidak sedang bercanda:

“Karena kamu udah nyoba yang gampang selama enam bulan dan hasilnya jelek.”

Aku menganga.

“Har.”

“Aku ngomongin resleting.”

“Kamu nggak ngomongin resleting.”

“Aku ngomongin resleting,” katanya, dan dia mengambil kapur jahit, dan telinganya merah.


Dua jam pertama isinya resleting.

Aku merusak tiga. Yang pertama karena aku menjahit terlalu dekat ke gigi dan resletingnya macet total. Yang kedua karena aku memasangnya terbalik. Yang ketiga karena aku panik waktu dia mendekat untuk melihat dan aku menarik kainnya sampai melintir.

Dia tidak menyuruhku membongkar seperti Tante Ratih.

Dia membongkarnya sendiri, cepat, dengan pendedel, sambil menjelaskan di mana salahnya.

“Har.”

“Hm?”

“Ibumu selalu nyuruh aku yang bongkar.”

“Iya.”

“Kamu nggak.”

Dia berhenti sebentar.

“Ibu bener,” katanya. “Aku yang salah.”

“Kenapa kamu tetep bongkarin?”

Dan dia menjawab dengan sangat cepat, terlalu cepat, seperti orang yang sudah tahu jawabannya sejak lama dan sudah lama tidak nyaman dengan jawabannya sendiri:

“Karena aku nggak tahan lihat orang ngerjain sesuatu dua kali.”

“Itu bukan alasan yang bagus.”

“Aku tahu.”

Kami berdua diam.

Lalu dia menyerahkan pendedel itu kepadaku, gagang dulu, dan berkata, “Ya udah. Bongkar sendiri.”

Aku membongkarnya sendiri. Dua puluh menit.

Dia duduk di kursi seberang selama dua puluh menit itu dan tidak sekali pun mengambil alih, dan aku tahu persis berapa mahal itu untuknya, dan aku tidak mengatakan apa pun karena mengatakannya akan merusaknya.

Di menit kedelapan, tanganku berhenti sendiri.

“Har.”

“Hm.”

“Aku boleh nanya satu hal yang nggak ada hubungannya sama resleting?”

“Boleh.”

“Kenapa kamu ngajak aku Sabtu?”

Pendedel di tanganku sudah berhenti dari tadi. Aku menaruhnya.

Hari memandangi meja.

“Karena kamu udah dateng dua puluh dua kali ke rumah ini,” katanya, “dan nggak satu pun dari itu aku yang ngundang.”

“Terus?”

“Terus itu salah.” Dia menggeser gulungan benang di meja satu senti ke kiri, gerakan yang jelas cuma untuk memberi tangannya pekerjaan. “Kamu dateng ke rumahku dua puluh dua kali sambil ngerasa kayak maling. Itu salah, dan aku yang bikin gitu.”

“Har, aku yang—”

“Nay.” Dia mengangkat kepala. “Aku nggak lagi maafin kamu.”

“Aku tahu.”

“Aku serius. Aku belum.”

“Aku tahu,” kataku. “Aku nggak nagih.”

Dan dia menatapku sedikit lebih lama dari yang perlu, lalu menunjuk resleting yang setengah terbongkar di tanganku.

“Yang di ujung itu masih ada tiga tusuk,” katanya.


Sekar dan Tante Ratih pulang jam dua belas kurang.

“KAK KANAYA.”

“Sekar.”

“Kakak dateng lewat depan!”

“...Iya.”

“Bu Nur cerita.” Dia melempar tasnya ke lantai. “Bu Nur bilang Kakak lewat depan warung terus bilang nanti pulangnya mampir.”

“Sekar, biarin dulu—”

“Kak, itu berarti Kakak nggak sembunyi lagi.”

Ruang jahit itu hening.

Sekar berdiri di tengah ruangan dengan wajah anak sembilan tahun yang baru saja mengumumkan sesuatu dan sedang menunggu tepuk tangan, dan pelan-pelan sadar bahwa dia baru saja menyebut sesuatu yang selama empat bulan tidak pernah disebut di ruangan itu.

Dia melihat ke arah kakaknya.

Hari sedang memasang benang ke jarum mesin.

“Iya,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Nggak apa-apa, Sekar.”

Dan Sekar meledak.

Bukan menangis. Meledak. Dia berlari ke kamarnya, membanting sesuatu di dalam, dan kembali empat puluh detik kemudian dengan buku tulis di dua tangan.

“KAK KANAYA, AKU BIKIN YANG BARU.”

“Sekar—”

“Ini catatan yang baru.” Dia membukanya di lantai. “Aku mulai dari bulan Juli. Semua Sabtu aku catet. Aku catet jam berapa Kakak dateng, jam berapa pulang, berapa kali ketusuk—”

“Sekar.”

“Ini yang tanggal delapan November aku coret,” lanjutnya, sambil menunjuk, “soalnya itu hari aku bocor.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Sekar, sini,” kata Hari.

“Kenapa?”

“Sini dulu.”

Dia jongkok dan berkata sesuatu ke telinga adiknya, pelan, dan Sekar mengangguk-angguk, dan lalu Sekar melihat ke arahku dan berkata dengan suara yang jauh lebih pelan dari sebelumnya:

“Kak Kanaya, maaf ya.”

“Kamu nggak salah apa-apa, Sekar.”

“Kata Kak Hari kalau aku ngomongin hitungan terus, orang jadi ngerasa dihitung.”

Aku menoleh ke arah Hari.

Dia sudah kembali ke mesinnya.


Tante Ratih membawa gorengan dari pasar dan menyuruh kami makan di ruang tengah, dan waktu aku bilang aku sudah kenyang, dia menaruh piring di depanku dan berkata “Ibu nggak nanya”, persis seperti bulan Juni.

Sekitar jam satu, Hari keluar untuk mengangkat jemuran.

Dan Sekar mengambil sesuatu dari laci meja jahit.

“Kak Kanaya.”

“Hm?”

“Ini.”

Dia menaruh buku tulis coklat itu di pangkuanku.

Sampulnya sudah membulat di sudut. Punggungnya masih lepas dari halaman. Karet gelang melingkar dua kali di tengahnya.

“Sekar.” Suaraku hilang. “Ini punya kakakmu.”

“Iya.”

“Kamu nggak boleh—”

“Kak Hari yang nyuruh.”

Aku mengangkat kepala.

Sekar menunjuk ke arah teras dengan ibu jarinya, ke arah punggung seseorang yang sedang mengangkat kain jemuran dengan sangat lambat untuk pekerjaan yang biasanya selesai dalam dua menit.

“Tadi,” katanya. “Pas dia bisikin aku.”


Aku membukanya dengan tangan yang tidak bisa aku andalkan.

Isinya membosankan. Aku sudah tahu itu dari bulan Mei.

Bu Ningsih — kebaya, resleting — 14/3
Pak Darto — celana kerja, kelim — 2/4
Rania 10 IPS 2 — rok, sobek kecil — 19/4
Bagas M — kancing blazer, 2 buah — 30/4

Halaman demi halaman. Nama, barang, tanggal. Tulisan kecil-kecil, jaraknya sama semua.

Aku membaliknya perlahan.

Dan di bulan September tahun lalu, di halaman kesembilan belas, aku menemukan namaku.

Kanaya L 11 IPA 3 — seragam, bahu — 4/9

Empat September.

Aku memegang halaman itu dan mencoba mengingat apa yang terjadi tanggal empat September tahun lalu dan tidak bisa mengingat apa pun sama sekali.

Itu hari biasa.

Untuk aku, itu hari biasa.

Aku duduk di lantai ruang tengah dan mencoba menghitung berapa hari biasa yang sudah aku lewati sejak kelas sepuluh, dan angkanya sekitar lima ratus, dan di suatu tempat di antara lima ratus hari biasa itu ada satu malam di mana ada orang duduk di depan mesin jahit sampai larut untuk sesuatu yang tidak akan pernah dia sebutkan.

Dan aku tidak tahu yang mana.

Itu yang paling aneh. Aku tidak bisa mempersempitnya. Bisa malam apa saja. Bisa malam waktu aku sedang menyusun rundown, atau malam waktu aku sedang menonton TV di ruang tengah yang kosong, atau malam waktu aku mengirim pesan ke Mama dan cuma dicentang dua.

Aku membalik terus. November: blazer. Januari: kaus olahraga. Maret: jaket, saku dalam. April: rok, sobek L.

Dan di bulan Mei, di halaman yang lebih baru, satu baris lagi yang bukan barang:

Kanaya L — label, kerah — 12/5

Label.

Dia mencatat label garansi tiga puluh hari itu sebagai pekerjaan.

Dengan tanggal. Di baris yang sama dengan kebaya Bu Ningsih dan celana kerja Pak Darto.


Lalu aku sampai di halaman yang tidak seperti yang lain.

Halaman yang tidak punya kolom tanggal di sebelah kanan. Yang tulisannya di paling atas dibuat dengan pulpen yang tintanya sudah pudar, dengan huruf kapital, oleh tangan yang lebih kecil dan kurang rapi daripada seluruh halaman lain di buku itu.

TIDAK BISA DIPERBAIKI

Tiga baris di bawahnya.

Yang pertama:

Baskara, Hari — percaya — 14/2


Aku membaca baris itu mungkin dua puluh kali.

Empat belas Februari.

Anak umur empat belas tahun pulang dari belakang perpustakaan setelah menunggu empat puluh menit, dan tiga hari kemudian dia duduk di depan mesin jahit ayahnya, dan dia membuat satu halaman baru di buku catatan pesanan.

Dan dia menulis namanya sendiri di situ.

Dengan format yang sama seperti kebaya orang: nama, barang, tanggal.

Barangnya percaya.

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di lantai ruang tengah itu dengan buku terbuka di pangkuan.

Yang aku pikirkan bukan anak yang menunggu empat puluh menit.

Yang aku pikirkan adalah anak yang, tiga hari sesudahnya, duduk sendirian dan memutuskan bahwa cara paling masuk akal untuk menghadapi ini adalah dengan mencatatnya seperti pesanan.

Nama. Barang. Tanggal.

Karena itu satu-satunya bahasa yang dia punya untuk hal-hal yang rusak.

Dan karena kalau kamu menulisnya di kolom, kamu tidak perlu menuliskannya dengan kalimat.

Aku tahu Sekar pergi di suatu titik. Aku tahu Tante Ratih lewat sekali dan tidak berhenti.

Aku tahu bahwa di teras, sepuluh meter dari situ, ada orang yang mengangkat jemuran selama dua puluh menit untuk pekerjaan yang biasanya selesai dalam dua.


Baris kedua ditulis dengan tinta yang lebih baru.

Larasati, Kanaya — rumah — (—)

Tidak ada tanggalnya. Kolomnya kosong, dengan satu garis pendek di dalam kurung.

Aku tahu tanggalnya.

Aku tahu persis tanggalnya, karena itu malam aku berdiri di depan pagar rumahku sendiri yang lampunya menyala untuk tidak seorang pun, dan aku menangis di dadanya, dan dia bilang aku nggak butuh tahu, kamu nangis, itu udah cukup buat aku.

Hari kedua puluh satu.

Dia pulang dari sana dan membuka halaman ini dan menulis namaku di bawah namanya sendiri.

Di halaman yang judulnya TIDAK BISA DIPERBAIKI.


Dan di sebelah kanan namaku, di luar kolom, dengan huruf yang lebih kecil dari yang lain, ada satu kata.

Dicoret.

Satu garis. Lurus sempurna. Sekali tarik, dengan penggaris.

Aku memiringkan bukunya ke arah jendela.

coba.


Aku tidak sadar dia sudah masuk sampai lantainya berbunyi.

Hari berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan tumpukan kain jemuran di tangan.

Aku tidak menutup bukunya.

Itu penting, dan aku ingin menuliskannya: aku tidak menutup bukunya, dan aku tidak buru-buru mengelap mataku, dan aku tidak melakukan satu pun hal yang biasa aku lakukan untuk membuat sebuah momen jadi lebih rapi.

Aku duduk di lantai dengan buku terbuka dan wajah yang berantakan dan membiarkannya melihat.

“Kamu udah nyampe halaman itu,” katanya.

“Iya.”

Dia menaruh kain jemuran di kursi.

“Aku nulis yang atas umur empat belas,” katanya. “Aku nggak inget kenapa aku nulisnya di buku pesanan. Kayaknya karena itu satu-satunya buku di rumah ini yang isinya barang rusak.”

“Har.”

“Yang bawah tanggal dua puluh satu Mei.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Aku hafal tanggalnya,” kataku. “Aku hafal semua tanggal.”

Dia berdiri di situ agak lama.

“Kata yang dicoret itu,” katanya akhirnya, “aku coret bulan Agustus.”

“Kenapa?”

“Karena Fikri bilang aku lagi ngehukum kamu pakai cara yang nggak ada lawannya,” katanya. “Dan dia bener.”

“Har, kamu benerin kelim rokku bulan Agustus.”

Dia berhenti melipat.

“Kamu tahu?”

“Aku tahu dua bulan kemudian.” Aku memandangi halaman itu. “Waktu aku udah bisa ngeliat jahitan. Kelimnya diturunin lima mili.”

“Itu—”

“Aku tahu itu bukan kebetulan, Har.”

Dia melipat satu kain lagi, sangat rapi, dengan sudut yang bertemu persis.

“Aku coret kata itu malemnya,” katanya. “Habis benerin rokmu.”

Ruang tengah itu sunyi.

“Jadi kamu benerin rokku,” kataku pelan, “terus pulang, terus nyoret kata ‘coba’ pakai penggaris.”

“Iya.”

“Di malem yang sama.”

“Iya.”

Aku memegang tepi halaman itu dengan dua jari.

“Har.”

“Hm.”

“Halaman ini pernah ada yang keluar nggak?”

Dia tidak menjawab selama beberapa detik.

“Maksudnya?”

“Nama yang udah ditulis di sini,” kataku. “Pernah ada yang ternyata bisa diperbaiki?”

Hari Baskara berdiri di ruang tengah rumahnya, dengan jemuran di kursi di sebelahnya, jam satu lewat, hari Sabtu.

“Belum pernah,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena aku nggak pernah nulis nama di situ sebelum aku yakin.”

Dan dia mengambil kain dari kursi dan mulai melipatnya, satu per satu, dengan lipatan yang sama rapinya seperti seluruh hal lain yang pernah dia kerjakan.

Aku menutup buku itu di pangkuanku dan menaruh telapak tanganku di sampulnya.

Ada satu hal yang aku pelajari dari Tante Ratih selama dua puluh dua hari Sabtu, dan aku memikirkannya di lantai ruang tengah itu, dan aku memikirkannya dengan sangat jelas.

Robekannya nggak hilang. Yang hilang cuma bukti kalau ada yang pernah salah.

Kalau begitu, kebalikannya juga berlaku.

Coretan itu tidak menghilangkan kata coba.

Kata itu masih ada di sana. Aku bisa membacanya. Aku membacanya barusan.

Yang dicoret cuma buktinya bahwa seseorang pernah berani menulisnya.

“Har.”

“Hm?”

“Boleh pinjem pulpen?”