Chapter Forty Three
Mesin yang Hilang
[POV: Kanaya] · [Hari ke-351]
Tiga puluh sembilan hari di antara pensi dan hari itu, dan aku akan meringkasnya secepat mungkin karena aku sudah menceritakan bagian yang menyenangkan dan aku tidak sanggup menceritakannya dua kali.
Kami lulus.
Pengumumannya jam tiga sore lewat website yang tidak bisa dibuka selama empat puluh menit karena semua orang membukanya bersamaan. Regita menangis. Nadine menangis. Bagas mengangkat Fikri dan Fikri berteriak minta diturunkan.
Aku diterima di Yogyakarta. Ilmu Komunikasi.
Hari diterima di sini. Teknik Industri, kampus negeri yang jaraknya empat puluh menit naik bus dari Gang Melati.
Dan tiga hari setelah pengumuman itu dia bilang dia menunda.
“Har.”
“Setahun doang.”
“Har.”
“Aku kerja dulu setahun, terus daftar lagi tahun depan.”
“Kamu udah keterima.”
“Aku bisa daftar lagi.”
“Har, itu nggak segampang—”
“Nay.” Dia menaruh gelasnya. “Ibu belum bisa kerja penuh. Sekar masih SD. Aku nggak bisa kuliah tahun ini.”
Dan aku berdiri di ruang tengah rumah itu dan tidak bisa membantah satu pun kalimatnya, karena semuanya benar, karena setiap potongannya punya penjelasan yang bagus.
Aku menangis di bus pulang.
Dan malamnya aku mengirim pesan yang aku susun selama dua jam, dan isinya cuma:
aku nggak akan nyusun apa-apa. aku cuma mau kamu tahu aku sedih.
Dan dia membalas:
aku tahu
makasih udah nggak nyusun
Sisa tiga puluh sembilan hari itu isinya begini.
Kami masih bertemu hampir setiap hari. Kami tidak punya sekolah lagi, jadi jadwalnya berubah: dia mengantar pesanan pagi, aku datang siang, dan kami duduk di teras rumah itu sampai sore.
Dia mengerjakan lebih banyak dari sebelumnya.
Aku tahu angkanya karena Sekar mencatat, karena Sekar mencatat semuanya: dua puluh tiga pesanan di bulan itu. Bulan sebelumnya delapan belas. Bulan sebelumnya lagi empat belas.
Aku bertanya sekali.
“Har, kamu ngerjain kebanyakan.”
“Ibu belum bisa penuh.”
“Iya, tapi—”
“Nay, dua puluh tiga itu nggak banyak,” katanya. “Ibu dulu tiga puluh.”
“Ibumu tiga puluh pas umur berapa?”
Dia berhenti sebentar.
“...Tiga puluh delapan.”
“Nah.”
“Nay.”
“Apa.”
“Aku muda,” katanya. “Ini justru waktunya.”
Dan itu benar juga.
Setiap potongan punya penjelasan yang bagus, dan aku menerima semuanya, dan aku menerimanya bukan karena aku bodoh.
Aku menerimanya karena aku sudah berjanji tidak akan mengurus, dan aku sudah berjanji akan bertanya bukan menyelidiki, dan aku sudah bertanya, dan dia sudah menjawab.
Perjanjian itu aku yang setujui.
Aku baru mengerti berbulan-bulan kemudian bahwa perjanjian yang paling berbahaya di dunia bukan perjanjian yang tidak adil.
Perjanjian yang paling berbahaya adalah perjanjian yang adil, yang dibuat dengan niat baik oleh dua orang, dan yang salah satunya sudah tahu akan dilanggar.
Hari Sabtu tanggal itu aku datang jam sembilan seperti biasa.
Dua puluh dua Sabtu jadi tiga puluh empat Sabtu. Aku sudah bisa memasang resleting, membuat kelim, menjahit sisi lurus, dan satu kali — satu kali, di Sabtu ketiga puluh — membuat sepuluh tusukan jelujur dengan jarak yang benar-benar sama.
Bu Nur melambai dari warungnya.
“NON!”
“Pagi, Bu.”
“Mampir dulu.”
“Nanti pulangnya, Bu.”
Aku berjalan masuk ke gang lewat depan, seperti sudah delapan bulan terakhir, dan aku mengetuk pintu rumah keempat.
Sekar yang membuka.
“Kak Kanaya.”
“Sekar. Kak Hari mana?”
“Ngantar.”
“Tante?”
Sekar memegang gagang pintu dengan dua tangan.
“Di rumah sakit,” katanya. “Kontrol.”
“Sama siapa?”
“Sama Bude Sri.”
“Kok bukan sama Kak Hari?”
“Kak Hari harus ngantar.”
Aku berdiri di teras rumah itu dan mengangguk, dan berkata “oh, ya udah”, dan masuk.
Dan aku berjalan ke ruang jahit dan berhenti di ambang pintu.
Mejanya kosong.
Bukan berantakan. Bukan ditutup kain. Kosong.
Meja kayu di dekat jendela — yang catnya sudah hilang total di bagian tempat tangan bertumpu, yang bentuk hilangnya seperti dua telapak tangan — tidak ada di situ.
Dan di lantai, di tempat meja itu berdiri selama entah berapa tahun, ada persegi panjang yang warnanya lebih gelap dari lantai di sekelilingnya.
Dan di tembok, di belakang tempat meja itu, ada persegi panjang yang warnanya lebih terang.
Dua bekas. Berlawanan. Yang satu karena tidak pernah kena sapu, yang satu karena tidak pernah kena matahari.
Aku berdiri di ambang pintu itu selama mungkin dua puluh detik.
“Sekar.”
“Iya, Kak.”
“Mesinnya mana?”
Dia berdiri di ruang tengah dengan susu kotak di tangan.
“Dibawa servis.”
Aku menoleh.
Anak itu berumur sembilan tahun. Sepuluh, sekarang; ulang tahunnya bulan lalu dan aku ikut, dan aku membawa kue yang aku beli bukan aku buat karena aku sudah cukup mengenal diriku sendiri.
Dan dia tidak bisa berbohong. Dia tidak pernah bisa berbohong. Dia mengumumkan seluruh isi rumah dalam empat menit dan tidak punya satu pun mekanisme untuk menyembunyikan apa pun.
“Sekar.”
“Dibawa servis, Kak.”
“Ke mana?”
“Ke...” Dia melihat ke lantai. “Ke tempat servis.”
“Sekar.”
“Yang di pasar.”
“Toko Pak Hasan?”
“Iya.”
“Pak Hasan jualan kain, Sekar. Bukan servis mesin.”
Dan Sekar berdiri di ruang tengah rumahnya sendiri dengan susu kotak di tangan, dan matanya mulai basah, dan dia berkata dengan suara yang sangat kecil:
“Kak, aku nggak boleh cerita.”
Aku duduk di kursi kecil di sudut ruang jahit.
Kursi yang sudah aku duduki tiga puluh empat hari Sabtu.
Dari kursi itu, kalau kamu duduk dan menghadap ke depan, yang kamu lihat adalah meja mesin di dekat jendela dan punggung orang yang duduk di situ.
Malam itu — siang itu — yang aku lihat adalah jendela.
Cuma jendela. Terangnya masuk penuh sampai ke lantai, tidak ada yang menghalangi, dan ruangan itu jadi lebih terang dari yang pernah aku lihat dalam delapan bulan.
Aku duduk di situ sekitar sepuluh menit.
“Kak Kanaya.”
“Hm?”
Sekar berdiri di ambang pintu.
“Kakak marah?”
“Enggak.”
“Kakak nangis.”
“Iya.”
“Berarti marah.”
“Sekar.” Aku mengusap wajahku dengan lengan. “Orang bisa nangis tanpa marah.”
Dia masuk dan duduk di lantai di sebelah kursiku, seperti tiga puluh empat hari Sabtu sebelumnya, dan tidak menggambar apa-apa.
“Sekar.”
“Iya.”
“Kakak nggak akan nanya lagi,” kataku. “Kakak janji.”
“Kenapa?”
“Karena kamu udah janji sama kakakmu,” kataku, “dan kamu udah sekali ngelanggar janji itu bulan November, dan kamu nangis di ambang pintu kamarmu, dan Kakak nggak akan bikin kamu ngelakuin itu dua kali.”
Sekar tidak menjawab.
Dia menyandarkan kepalanya ke lengan kursiku, dan kami duduk di ruang jahit yang terlalu terang itu sampai jam sebelas.
Aku ke Pasar Lama jam dua belas.
Aku tidak memberi tahu siapa pun. Aku pamit ke Sekar dan bilang aku ada urusan, dan Sekar bilang “iya, Kak”, dan tidak bertanya urusan apa, dan itu yang membuatku hampir berbalik di tengah jalan.
Gang kain Pasar Lama hari Sabtu siang itu penuh.
Aku tersesat sekali. Aku sudah lewat gang itu belasan kali dan aku masih tersesat, karena setiap kali aku lewat aku selalu berjalan di belakang seseorang yang tidak pernah tersesat.
Toko Pak Hasan di ujung, di sebelah kios yang menjual kancing dalam ember.
“Cari apa, Non?”
Dia mengenaliku dalam dua detik. Aku melihatnya di wajahnya.
“Pak.”
“Non yang waktu itu.”
“Iya, Pak.”
Dan Pak Hasan menaruh pulpennya, dan melepas kacamata bacanya, dan berkata:
“Non, saya lagi ada pembeli. Bentar, ya.”
Dia melayani dua orang selama sekitar delapan menit.
Aku berdiri di depan rak kain dan menunggu, dan aku memegang satu gulungan di rak tengah — polyester campur, navy, gulungan ketiga dari kiri — dan aku memegangnya sampai Pak Hasan selesai.
“Ya, Non. Ada apa?”
“Pak, mesin jahit Bu Ratih ada di sini?”
Pak Hasan tidak menjawab selama beberapa detik.
Dia laki-laki enam puluh tahun yang menjual kain empat puluh tahun, dan aku belajar dari dua orang di Gang Melati bahwa orang seperti itu tidak pernah menjawab pertanyaan yang jawabannya akan merepotkan orang lain.
“Non ini siapanya Hari?”
“...Temennya.”
“Temen.”
“Iya, Pak.”
Pak Hasan memandangiku dari balik meja kasirnya.
“Non,” katanya. “Kalau Non temennya, tanya ke dia.”
“Saya nggak bisa, Pak.”
“Kenapa nggak bisa?”
Dan aku berdiri di toko kain di gang paling ujung Pasar Lama hari Sabtu siang dan memberikan jawaban yang paling jujur yang aku punya, yang bunyinya konyol, dan yang aku tetap ucapkan sampai habis.
“Karena kalau saya tanya, dia bakal jawab jujur,” kataku. “Dan jawaban jujurnya bakal masuk akal. Dan saya bakal percaya.”
Pak Hasan tidak berkata apa-apa.
“Saya udah percaya delapan bulan, Pak,” kataku. “Setiap kali saya tanya, dia jawab, dan jawabannya bener, dan saya percaya.”
Aku memegang tepi meja kasirnya.
“Pak, mesinnya ada di sini apa enggak?”
Dia berdiri.
Dia berjalan ke belakang toko, ke bagian yang ditutup tirai plastik yang biasanya dipakai untuk menyimpan gulungan cadangan, dan dia menyibaknya.
Aku melihatnya dari depan.
Mesin hitam. Meja kayu yang catnya hilang total di dua tempat berbentuk telapak tangan. Roda tangan yang masih licin. Pedal besi di bawahnya.
Ditutup kain, tapi tidak sepenuhnya, karena tidak ada yang benar-benar berniat menyimpannya.
“Empat hari yang lalu,” kata Pak Hasan.
Aku memegang meja kasir itu lebih erat.
“Berapa, Pak?”
“Non.”
“Berapa dia jual, Pak.”
Pak Hasan menutup tirainya lagi.
“Non, saya nggak beli mesin bekas,” katanya.
Aku mengangkat kepalaku.
“Empat puluh tahun saya jualan kain di sini,” lanjutnya. “Saya nggak pernah beli mesin bekas sekali pun. Saya nggak punya tempat, saya nggak punya pembeli, dan saya nggak ngerti mesin.”
“Terus—”
“Anak itu dateng hari Selasa,” katanya. “Bawa mesinnya pakai gerobak. Sendirian.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Dari Gang Melati ke sini itu dua kilo, Non,” kata Pak Hasan. “Mesin itu beratnya dua puluh delapan kilo sama mejanya.”
“Dia nggak minta harga.”
“...Ha?”
“Dia nggak nyebut angka.” Pak Hasan mengambil pulpennya lagi dan memutarnya. “Dia cuma naruh mesinnya di depan toko saya terus bilang, ‘Pak, saya butuh.‘”
Aku berdiri di situ dan tidak bisa bernapas dengan benar.
“Saya tanya butuh berapa,” katanya. “Dia nyebut angka.”
“Berapa, Pak?”
“Non.”
“Berapa.”
Pak Hasan menyebut angkanya.
Aku memegang meja kasir itu dengan dua tangan.
“Pak, itu—”
“Iya,” katanya. “Itu kurang.”
“Itu kurang jauh.”
“Itu kurang sekali, Non. Mesin model itu sekarang nggak ada. Kalau saya jual ke kolektor, tiga kali lipat.”
“Terus Bapak bayar berapa?”
Dan Pak Hasan menaruh pulpennya.
“Saya bayar yang dia minta,” katanya.
“Pak—”
“Non, dengar dulu.” Dia mengangkat tangannya. “Saya bayar persis yang dia minta, nggak lebih. Saya sengaja.”
“Kenapa?”
“Karena kalau saya lebihin, dia nggak akan ambil.”
Aku duduk di kursi plastik di depan toko itu selama beberapa menit.
Pak Hasan memberiku air dari termos yang jelas dipakai untuk kopinya sendiri, dan tidak berkata apa-apa, dan melayani tiga pembeli lagi sambil sesekali melirik ke arahku.
Waktu tokonya sepi lagi, dia duduk di kursi di sebelahku.
“Non.”
“Iya, Pak.”
“Saya nggak jual mesin itu.”
“Bapak bilang tadi kolektor—”
“Saya bilang kalau saya jual. Saya nggak jual.” Dia mengangkat bahu. “Mesin itu di belakang, ditutup kain. Nggak ada yang lihat kecuali saya.”
“Sampai kapan, Pak?”
Pak Hasan meniup kopinya.
“Sampai anak itu punya uangnya,” katanya.
Aku menoleh.
“Dia tahu?”
“Enggak.”
“Bapak nggak bilang?”
“Kalau saya bilang, dia bakal nolak,” katanya. “Non, saya kenal anak itu dari umur dua belas. Dia belanja di sini tiap dua minggu. Dia tahu harga semua barang di toko saya.”
Dia menaruh gelasnya di lantai.
“Kalau saya bilang saya nyimpen, itu jadi utang,” katanya. “Anak itu nggak akan sanggup punya utang. Dia bakal cari cara buat bayar sampai badannya rusak.”
Aku menutup mataku.
“Jadi saya nggak bilang,” kata Pak Hasan. “Saya cuma nggak jual.”
Aku bertanya satu hal lagi sebelum pulang, dan aku bertanya karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang siang itu.
“Pak.”
“Hm?”
“Dia bilang buat apa uangnya?”
Pak Hasan memandangi gang kain yang ramai di depan tokonya.
“Enggak,” katanya.
“Bapak nggak tanya?”
“Non,” katanya. “Ada anak umur delapan belas dateng bawa mesin jahit bapaknya pakai gerobak dua kilo, sendirian, hari Selasa jam sepuluh pagi.”
Dia mengambil gelasnya lagi.
“Kalau sampai ada yang perlu ditanya,” katanya, “berarti saya nggak ngerti apa-apa soal orang.”
Aku berdiri untuk pamit.
“Non.”
“Iya, Pak?”
Pak Hasan masih duduk di kursi plastiknya, memegang gelas kopi, memandangi gang.
“Boleh saya yang nanya satu?”
“Boleh, Pak.”
“Non mau pindah ke luar kota, ya.”
Aku berhenti.
“...Kok Bapak tahu?”
“Anak itu yang cerita.” Dia menyeruput kopinya. “Bulan lalu. Waktu beli kain buat gaunnya.”
“Dia cerita?”
“Dia nanya.”
“Nanya apa, Pak?”
Dan Pak Hasan menaruh gelasnya di lantai, dan berkata dengan nada orang yang menyebutkan harga per meter:
“Dia nanya kain apa yang paling awet kalau dicuci di kota yang airnya beda.”
Aku pulang naik bus jam dua.
Aku duduk di kursi paling belakang dan memandangi jendela selama empat puluh menit dan tidak menangis sama sekali, dan itu yang paling aneh dari seluruh hari itu.
Aku menghitung.
Itu penyakitku. Aku selalu menghitung, dan siang itu kepalaku menghitung tanpa aku suruh, dan yang dihitungnya adalah ini:
Hari Selasa. Empat hari lalu.
Hari Selasa itu aku ada di rumah itu. Aku datang sore, jam empat, membawa dua kotak makan dari kulkasku yang belum dibuka.
Kami makan berempat.
Sekar bercerita tentang temannya yang menangis karena ranking. Tante Ratih menambahkan nasi ke piring Hari tanpa bertanya. Hari mengomentari resleting jaketku yang mulai loncat dan bilang akan diperbaiki hari Sabtu.
Dan aku duduk di ruang tengah rumah itu selama dua jam empat puluh menit.
Aku tidak masuk ke ruang jahit sekali pun sore itu.
Aku ingat sekarang: dia menahanku di ruang tengah. Bukan dengan menahan. Dengan mengajakku bicara, dengan menyuruh Sekar mengambilkan sesuatu, dengan menawarkan teh yang tidak aku minta.
Dua jam empat puluh menit di rumah sekecil itu, dan aku tidak melewati ambang pintu ruang jahit sekali pun.
Itu bukan kebetulan.
Orang yang bisa mengukur badan orang hanya dengan melihat, yang menghitung berapa detik semua orang diam, yang tahu kelim rok orang lepas delapan senti dari seberang ruangan —
orang itu bisa menahan satu orang di ruang tengah selama dua jam empat puluh menit tanpa satu pun kalimat yang terdengar seperti menahan.
Aku sampai rumah jam tiga.
Lampunya menyala semua, seperti biasa, walaupun matahari masih tinggi.
Dan di ruang tengah ada empat kardus kosong yang dikirim Mama minggu lalu, untuk barang-barangku, untuk Yogyakarta, untuk tanggal yang sudah ditulis di kalender dapur dengan spidol oleh Mbak Yah.
Aku duduk di lantai di antara empat kardus itu.
Dan aku mengirim satu pesan.
har
Dia membalas dalam dua menit.
iya nay
Aku memandangi layar itu lama sekali.
Aku mengetik enam kalimat dan menghapus semuanya.
Yang pertama menuduh. Yang kedua memohon. Yang ketiga menyusun — aku menyusun solusi, otomatis, refleks, dalam waktu kurang dari sepuluh detik, dan aku menghapusnya dengan tangan yang gemetar karena aku hampir melakukannya lagi.
Yang keempat, kelima, dan keenam semuanya berisi kata “mesin”.
Yang akhirnya aku kirim:
sabtu depan aku dateng ya
iya
jam sembilan
iya nay
Dan aku menaruh HP-ku di lantai dan menarik satu kardus ke depanku dan mulai mengemasi barang-barangku untuk kota lain.
Dan jam delapan malam, waktu aku sampai di lemari bagian atas, aku menemukan tas gaun yang belum dibuka sejak malam pensi.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang reading
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup