Chapter Thirty Five
Saku Jaket yang Sama
[POV: Kanaya] · [Hari ke-238]
Busnya tidak datang selama lima puluh dua menit.
Aku tahu angkanya karena aku menghitung, dan aku menghitung karena tidak ada hal lain yang bisa dihitung di halte itu, dan karena orang yang duduk di sebelahku juga menghitung dan kami sempat berdebat empat menit soal apakah hitungannya dimulai dari jam datang atau jam jadwal.
“Jam jadwal.”
“Nay, jadwalnya bohong.”
“Tetep jadwal.”
“Kalau jadwalnya bohong, itu bukan patokan.”
“Kalau kita ngitung dari jam kita dateng, artinya kita ngukur kesabaran kita sendiri,” kataku. “Aku nggak mau ngukur itu.”
Hari memikirkan itu selama beberapa detik.
“Oke,” katanya. “Jam jadwal.”
Jam enam pagi hari Minggu itu dingin.
Bukan dingin yang serius. Dingin versi kota ini, yang artinya dua puluh dua derajat dan ada angin, dan orang-orang berjalan sambil menyilangkan tangan di dada seolah sedang di gunung.
Aku lupa bawa jaket.
Aku mau langsung mengakui bahwa aku tidak lupa.
Aku mengeceknya sebelum keluar rumah, aku melihat jaketku tergantung di belakang pintu, dan aku memutuskan untuk tidak mengambilnya dalam waktu kurang dari dua detik, dan aku tidak akan menjelaskan alasannya karena alasannya memalukan dan aku sudah cukup banyak mengaku di cerita ini.
Hari melihatnya dalam empat detik setelah sampai.
“Kamu nggak bawa jaket.”
“Enggak.”
“Ini dingin.”
“Nggak dingin banget.”
“Bibirmu—”
“Har.”
“Iya?”
“Kamu mau ngomong ‘bibirmu pucat’?”
“...Iya.”
“Kamu nggak boleh ngomong gitu.”
“Kenapa?”
“Karena itu kalimat sinetron.”
Dia melepas jaketnya.
“Nggak usah,” kataku.
“Pakai.”
“Har, nanti kamu yang dingin.”
“Aku nggak dingin.”
“Kamu pakai kaus tipis.”
“Aku jalan kaki dari Gang Melati,” katanya. “Empat puluh dua menit. Aku nggak dingin sampai besok.”
Ini yang terjadi, dan aku mau menuliskannya dengan tepat karena bagian ini yang paling sering aku ingat dari seluruh bulan itu.
Kami berdebat empat menit soal jaket.
Dia bilang pakai. Aku bilang nggak usah. Dia bilang aku nggak dingin. Aku bilang aku juga nggak dingin. Dia bilang kalau kamu nggak dingin kenapa tanganmu masuk lengan.
Aku bilang itu kebiasaan.
Dia bilang itu bukan kebiasaan, itu termoregulasi.
Aku bilang sejak kapan kamu tahu kata termoregulasi.
Dia bilang biologi kelas sebelas.
Aku bilang kamu nilai biologinya tujuh puluh dua.
Dia bilang iya, tapi soal itu keluar.
Dan lalu, entah bagaimana, negosiasinya berakhir di titik yang tidak diusulkan oleh siapa pun:
dia memakai jaketnya sendiri, dan aku memasukkan tangan kananku ke saku kirinya.
Kami duduk di halte selama empat puluh menit berikutnya dengan posisi itu.
Bahu menempel, karena kalau tidak menempel tanganku ketarik.
Dan saku jaket itu tidak cukup besar untuk dua tangan.
Aku mau menegaskan bagian teknisnya: saku jaket olahraga sekolah itu lebarnya mungkin lima belas senti. Dua tangan orang dewasa muda tidak muat berdampingan di dalamnya tanpa saling menekan.
Jadi jarinya di antara jariku, bukan karena romantis, tapi karena geometri.
Aku memutuskan untuk tidak memberitahunya bahwa aku sudah menghitung itu sebelum memasukkan tanganku.
Ada bapak-bapak di ujung halte yang duduk di situ sejak sebelum kami datang.
Dia tidak menunggu bus. Aku yakin karena tiga bus lewat dan dia tidak bergerak sekali pun. Dia cuma duduk di situ dengan tas kresek di pangkuan dan memandangi jalan.
Jam enam lewat sepuluh dia menoleh ke arah kami.
Aku langsung menarik tanganku dari saku.
“Nay.”
“Kenapa?”
“Bapaknya nggak liat kamu.”
“Dia noleh.”
“Dia noleh ke arah kucing.” Hari memiringkan kepalanya. “Kucingnya di belakang kamu.”
Aku menoleh.
Ada kucing di belakangku.
“Har.”
“Hm?”
“Aku panik gara-gara kucing.”
“Iya.”
“Kamu bisa bilang enggak.”
“Aku nggak bisa bohong,” katanya, dan aku memasukkan tanganku lagi ke sakunya, kali ini lebih cepat, sambil bilang “diem”.
“Har.”
“Hm.”
“Tanganku kasar.”
“Iya.”
“KAMU LANGSUNG NGIYAIN.”
“Kamu yang bilang.”
“Ya tapi kamu harusnya bilang enggak.”
“Aku nggak bisa bohong.”
“HARI.”
Dia menggeser jarinya sedikit, dan menekan satu titik di ujung telunjuk kiriku dengan ibu jarinya, dan itu bukan gerakan romantis sama sekali; itu gerakan orang yang sedang memeriksa kain.
“Ini yang paling keras,” katanya.
“Iya.”
“Telunjuk kiri.”
“Iya.”
“Punyaku juga.”
Dia mengeluarkan tangannya dari saku dan memutar telapaknya.
Aku belum pernah melihat tangannya dari dekat dalam cahaya. Aku sudah memegangnya berkali-kali dan aku belum pernah benar-benar melihatnya.
Ada dua titik keras di ujung telunjuk kiri dan jari tengah kiri, sama seperti punyaku, cuma jauh lebih tebal.
Ada bekas melintang di sisi ibu jari kanan, tipis, warnanya lebih terang.
“Ini apa?”
“Pendedel.”
“Kapan?”
“Kelas satu SMP.”
“Kamu nggak ke rumah sakit?”
“Ibu jahit,” katanya.
Aku menoleh.
“...Ibumu jahit tangan kamu?”
“Dua tusuk.”
“HARI.”
“Nggak dalem.”
“ITU TANGAN.”
“Nay, ibuku njahit tiga puluh tahun.” Dia memasukkan tangannya kembali ke saku. “Menurutmu siapa yang lebih rapi, ibuku atau perawat puskesmas yang lagi ngantre dua puluh orang?”
Aku tidak punya jawaban untuk itu, dan aku benci bahwa aku tidak punya jawaban untuk itu.
Ada kucing di halte itu.
Kucing kampung, kuping sobek sebelah, warnanya seperti kain yang sudah dicuci terlalu sering. Dia datang jam enam lewat dua puluh, duduk di ujung bangku, dan tidur.
“Har.”
“Hm?”
“Kucingnya kupingnya sobek.”
“Iya.”
“Kamu nggak bisa benerin, kan?”
Dia melihat kucing itu selama beberapa detik.
“Enggak,” katanya. “Itu udah sembuh.”
“Sembuh?”
“Pinggirnya udah nutup. Kalau masih basah, warnanya beda.” Dia mengangkat bahu. “Itu sobek lama.”
“Kamu tahu bedanya sobek lama sama baru cuma dari lihat kuping kucing.”
“Iya.”
“Har, kamu tuh—”
“Nay.”
“Apa.”
“Kamu tahu bedanya orang yang lagi mau nolak ajakan sama orang yang lagi mikirin cara nolaknya,” katanya. “Cuma dari cara dia narik napas.”
Aku menutup mulutku.
“Kita berdua punya satu hal yang kita liat sampai nggak bisa dimatiin,” katanya. “Punyaku kain. Punyamu orang.”
Bus lewat di seberang jalan. Bukan yang kami tunggu.
“Punyamu lebih berguna,” kataku.
“Punyamu lebih capek,” katanya.
Busnya datang jam tujuh kurang tiga.
Kami tidak naik.
Ini bagian yang paling aneh, dan aku sampai sekarang tidak bisa menjelaskan kenapa itu terjadi.
Bus itu berhenti. Pintunya terbuka. Keneknya berteriak “Pasar! Pasar!“. Dan kami berdua duduk di bangku halte itu dengan satu tangan di saku yang sama, dan tidak ada satu pun dari kami yang bergerak.
Bus itu menunggu tiga detik.
Lalu pergi.
“Har.”
“Hm?”
“Itu busnya.”
“Iya.”
“Kita nggak naik.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia memikirkan itu dengan sangat serius, dengan cara orang yang benar-benar mencari jawaban dan bukan sedang bercanda.
“Nggak tahu,” katanya akhirnya.
“Aku juga nggak tahu.”
“Kainnya bisa besok.”
“Toko Pak Hasan Senin buka?”
“Buka.”
“Ya udah.”
Dan kami duduk di halte itu selama satu jam empat puluh menit lagi, tanpa naik bus apa pun, sampai matahari naik cukup tinggi untuk membuat bangku halte itu panas dan kucingnya pindah ke bawah.
Selama satu jam empat puluh menit itu kami membicarakan hal-hal berikut, dan aku mencatatnya karena aku tidak bisa berhenti mencatat:
Apakah Sekar sebaiknya diberi honor bulanan supaya berhenti menagih bunga.
Kenapa halte ini atapnya dibuat miring ke arah bangku sehingga air hujan jatuh persis ke tempat orang duduk.
Apakah orang yang bikin halte ini pernah duduk di halte ini.
Apa yang terjadi kalau kami tidak pulang sama sekali hari ini.
Yang terakhir itu aku yang mengucapkan, dan aku mengucapkannya setengah bercanda, dan Hari menjawabnya dengan sangat serius.
“Ibu bakal nyariin,” katanya. “Terus Sekar bakal bikin tabel.”
“Aku bercanda.”
“Aku tahu.”
“Kamu jawabnya serius.”
“Aku selalu serius.” Dia memindahkan bahunya sedikit karena tanganku ketarik. “Itu kelemahan aku.”
“Itu bukan kelemahan.”
“Kata Fikri itu kelemahan.”
“Fikri bilang semuanya kelemahan.”
“Iya,” katanya. “Kecuali gacha.”
Kami akhirnya ke Pasar Lama jam sembilan, naik bus berikutnya, karena Hari bilang kalau tidak jadi beli benang nomor 60 hari itu, dia harus mengubah urutan tiga pesanan.
Toko Pak Hasan ramai hari Minggu.
Aku berdiri di gang kain dengan tangan di saku jaketku sendiri — dia menyerahkannya di bus dan aku tidak menolak lagi — dan aku memperhatikan dia belanja.
Dia membawa kertas kecil. Tulisan ibunya.
Benang nomor 60 hitam, empat. Benang putih, enam. Resleting dua puluh senti, tiga. Karet pinggang satu meter.
Dia mengambil semuanya, lalu berhenti di rak paling kanan.
Ada gulungan benang di situ yang warnanya beda dari yang lain. Lebih halus. Merek Jepang, kalau aku baca labelnya benar.
Dia mengangkatnya. Memutarnya. Melihat harganya.
Lalu menaruhnya kembali.
“Har.”
“Hm?”
“Itu apa?”
“Bukan apa-apa.” Dia sudah jalan ke kasir. “Yang biasa juga bisa.”
Dan aku berjalan di belakangnya di gang kain Pasar Lama hari Minggu jam sembilan lewat, dan aku tidak berkata apa-apa, karena aku sudah berjanji tidak mengerjakan apa pun di belakangnya, dan karena membelikan gulungan benang tanpa diminta itu persis bentuk pelanggaran yang paling gampang aku lakukan tanpa sadar.
Jadi aku diam.
Aku memikirkan gulungan benang itu tiga kali dalam dua minggu berikutnya, dan setiap kali aku memikirkannya aku bangga pada diriku sendiri karena tidak membelinya.
Aku baru mengerti jauh kemudian bahwa kebanggaan itu ditempatkan di tempat yang salah.
Yang seharusnya aku tanyakan bukan boleh atau tidak boleh membelikannya.
Yang seharusnya aku tanyakan: sejak kapan dia mulai menaruh barang kembali ke rak.
Kami pulang jam sebelas.
Di halte, sebelum bus datang, dia mengeluarkan sesuatu dari kantong belanjaannya.
Satu gulungan benang merah.
“Ini apa?”
“Buat kamu.”
“Har, aku udah punya.”
“Punyamu belum dibuka.”
Aku memegang gulungan itu.
“Kamu tahu?”
“Aku lihat di kamarmu bulan lalu,” katanya. “Kertas segelnya masih ada.”
“Aku belum berani pakai.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa ngasih lagi?”
Dan Hari Baskara berdiri di halte hari Minggu jam sebelas siang dan berkata:
“Biar yang satu boleh dipakai.”
Aku pulang membawa dua gulungan benang merah dan satu tangan yang masih hangat di sisi kanan.
Malam itu aku membuka yang baru, memotong sepuluh senti, dan mengunci satu jahitan latihan di kain perca yang sudah penuh lubang.
Simpulnya jelek. Kegedean. Kelihatan dari luar bahkan sebelum aku membaliknya.
Aku memfotonya dan mengirimkannya.
jelek banget ya
Balasannya datang empat menit kemudian.
iya
Lalu:
tapi kekuncinya bener
Lalu, dua menit setelahnya, waktu aku sudah menaruh HP-ku:
nay
nay
Aku duduk di lantai kamar dan menunggu, karena aku tahu sistemnya, karena dia sendiri yang aku ajari.
makasih ya
Aku mengetik lima balasan dan menghapus semuanya.
Yang aku kirim akhirnya:
buat apa
Balasannya cuma satu kata, dan datangnya cepat sekali, seperti orang yang sudah tahu jawabannya sebelum aku bertanya.
semuanya
Aku menaruh HP-ku di dada dan berbaring di lantai kamar seperti anak SMP.
Dan aku memikirkan gulungan benang merah yang dia taruh kembali ke rak di Toko Pak Hasan, dan aku memikirkannya selama mungkin dua menit, dan lalu aku memikirkan hal lain, karena hari itu hari Minggu yang menyenangkan dan tidak ada satu pun alasan untuk memikirkan rak.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama reading
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup