← Garansi Seumur Hidup

Chapter Twelve

Operasi Pengintaian

[POV: Kanaya] · [Hari ke-17]


“Aku butuh bukti.”

“Van, kamu bukan polisi.”

“Aku juri.” Vania menaruh HP-nya di meja kantin. “Dan juri nggak bisa nilai dari laporan pemain.”

“Aku nggak bohong.”

“Aku nggak bilang kamu bohong.” Dia tersenyum. “Aku bilang kamu pemain.”

Regita mengangkat tangan seperti anak SD.

“Aku ikut!”

“Kamu belum tahu ikut apa.”

“Aku tetap ikut.”

Dan begitulah caranya, di hari Sabtu pagi, tiga perempuan berumur tujuh belas tahun berakhir di sebuah gang selebar dua motor di belakang Pasar Lama, dengan misi yang, kalau ditulis di kertas, akan membuat siapa pun malu.

Aku tidak tahu apa-apa tentang itu sampai jam sebelas siang.


Hari Sabtu itu bukan kencan. Aku menegaskan ini karena aku sudah bosan menjelaskannya.

Ada enam pesanan yang harus diantar. Tante Ratih tidak bisa jalan jauh karena lututnya, Sekar tidak boleh keluar gang sendirian, jadi setiap dua minggu sekali Hari yang mengantar semuanya jalan kaki, satu per satu, ke enam rumah yang berbeda di tiga gang yang berbeda.

Enam bungkus. Rata-rata dua kilo. Dua jam jalan kaki.

Aku tahu itu semua karena aku bertanya, dan aku bertanya karena hari Jumat dia bilang “besok agak sibuk” dengan nada orang yang berharap tidak ditanya lebih lanjut.

“Aku ikut.”

“Ini ngangkut barang.”

“Aku punya dua tangan.”

“Nay—”

“Hari.” Aku menunjuk mukanya dengan pulpen. “Kamu udah kalah dua kali minggu ini. Hemat tenaga.”

Dia diam sebentar.

“Jam delapan,” katanya.


Rumah pertama: Bu Ningsih, kebaya, gang sebelah.

Bu Ningsih membuka pintu, melihat Hari, lalu melihat aku, lalu kembali melihat Hari dengan senyum yang lebarnya tidak wajar.

“Hariii. Ini siapa?”

“Temen sekelas, Bu.”

“Temen sekelas.”

“Iya, Bu.”

“Ibu dulu juga punya temen sekelas.” Dia menerima bungkusannya. “Sekarang jadi bapaknya anak-anak.”

“Bu—”

“Nggak apa-apa, Nak. Ibu cuma cerita.”

Rumah kedua: Pak Darto, dua celana kerja, dekat lapangan. Pak Darto tidak bicara sama sekali, cuma mengangguk, membayar, dan menutup pintu, dan aku berterima kasih kepadanya di dalam hati.

Rumah ketiga: seorang ibu yang aku lupa namanya, yang menahan kami dua puluh menit untuk menceritakan seluruh silsilah keluarganya, dan yang memberi kami dua bungkus arem-arem yang tidak bisa ditolak.

“Har,” bisikku di jalan keluar. “Ini tiap dua minggu?”

“Iya.”

“Kamu diomongin ibu-ibu tiap dua minggu?”

“Iya.”

“Terus kamu jawab apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Selalu?”

“Selalu.”

“Itu strategi yang bagus, sebenernya.”

“Iya,” katanya. “Sampai ada yang nanya dua kali.”

Di rumah keempat, Hari berhenti di depan pagar dan berkata, tanpa menoleh:

“Temenmu ada di belakang tukang es.”

Aku hampir menjatuhkan arem-arem.

“...Apa?”

“Yang rambutnya diikat dua. Dari tadi.” Dia membetulkan pegangan kantongnya. “Dari gang pertama.”

Aku menoleh.

Dan di seberang jalan, di belakang gerobak es kelapa, ada Regita — memakai topi bucket, masker, dan kacamata hitam, pada hari Sabtu, di gang perumahan, jam setengah sepuluh pagi.

Dia melambai ke arahku.

Dia melambai.

Lalu dia sadar apa yang baru saja dia lakukan, dan langsung jongkok di belakang gerobak, dan tukang esnya menoleh ke bawah dengan wajah orang yang sedang mempertimbangkan menelepon RT.

“Itu...” Aku menelan ludah. “Itu Regita.”

“Iya.”

“Kamu tahu dari tadi?”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang?”

Hari mengangkat bahu.

“Kupikir dia mau ikut,” katanya.


Ini bagian yang harus aku ceritakan pelan-pelan, karena kalau diceritakan cepat, jadinya cuma lucu.

Waktu itu aku tertawa.

Aku tertawa sampai harus berpegangan ke pagar orang, dan Hari berdiri di sebelahku dengan enam— empat bungkus di tangan dan wajah yang tidak berubah sama sekali, dan aku pikir itu karena dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Bukan.

Dia mengerti persis apa yang sedang terjadi.

Dia sudah mengerti dari gang pertama.

Dan dia tetap berjalan ke rumah keempat, dan tetap menyerahkan pesanan, dan tetap menyebut nama pelanggannya dengan sopan, dan tetap tidak berkata apa pun kepadaku.

Aku butuh dua bulan untuk menyadari hal itu, dan waktu aku menyadarinya, aku sedang duduk di lantai kamarku jam tiga pagi.


Operasi itu berlangsung empat puluh menit lagi.

Aku tahu, karena aku ikut menghitung. Setelah tahu, aku tidak bisa berhenti melihat.

Nadine berdiri di depan warung, memegang HP di depan wajahnya dengan sudut yang jelas-jelas sedang merekam, dan tidak merekam apa pun, karena layarnya menghadap ke tanah.

Vania duduk di warung Bu Nur.

Vania yang paling berani, dan itu kesalahannya, karena Vania duduk di warung Bu Nur, dan Bu Nur adalah pusat informasi Gang Melati.

“Non, nyari siapa?”

“Nggak, Bu. Nunggu temen.”

“Temennya siapa?”

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Non ini temen sekolahnya Hari, ya?”

“...Kok tahu?”

“Ya kelihatan.” Bu Nur menggoreng. “Yang tadi lewat juga temennya, kan? Yang pakai topi sama masker itu.”

Vania tidak menjawab.

“Non,” kata Bu Nur, sambil membalik bakwan, “Hari itu anaknya baik.”

“Iya, Bu.”

“Empat tahun beli gorengan di sini, nggak pernah minta bonus.”

“Iya.”

“Bapaknya meninggal, ibunya jahit sendiri, adiknya masih kecil.” Bu Nur menaruh gorengan ke tampah. “Kalau ada yang macem-macem sama dia, satu gang ini tahu, lho.”

Vania pulang tanpa membeli apa-apa.

Aku tidak melihat kejadian itu langsung. Nadine yang menceritakannya kepadaku hari Senin, dengan suara sangat pelan, di belakang perpustakaan.


Yang menutup operasi itu bukan Bu Nur.

Yang menutup operasi itu adalah anak perempuan berumur sembilan tahun yang keluar dari gang dengan sandal jepit dan buku tulis di ketiak.

“Kak Kanaya!”

“Sekar—”

“Kenapa ada yang ngikutin Kakak?”

Gang itu hening.

Regita, yang saat itu sedang berdiri di balik tiang listrik yang lebarnya sepertiga badannya, membeku.

“Yang itu,” kata Sekar, menunjuk dengan buku tulisnya. “Dari tadi. Aku catat.”

“Kamu catat?”

“Jam setengah sembilan lewat, ada tiga orang masuk gang. Yang satu topi. Yang satu HP-nya kebalik. Yang satu duduk di Bu Nur.” Sekar membuka bukunya. “Aku kira mau nyolong jemuran.”

“SEKAR.”

“Apa? Bulan lalu jemuran Bu Sri ilang.”

Regita keluar dari balik tiang dengan tangan setengah terangkat.

“Kami bukan maling.”

“Terus ngapain?”

“Kami...” Regita melihat ke arahku. Lalu ke arah Hari. Lalu ke arah tanah. “Kami jalan-jalan.”

“Pakai masker?”

“Aku... alergi.”

“Alergi apa?”

“Debu.”

“Ini gang disemen semua.”

Regita membuka mulutnya, lalu menutupnya.

“Kak Kanaya,” kata Sekar, sambil menoleh ke arahku dengan sangat tenang, “temennya Kakak kok bohongnya jelek?”

“SEKAR.”

“Aku nanya.”

“Kamu nggak nanya, kamu—”

“Aku nanya sambil ngumumin. Iya, aku tahu.”

Hari akhirnya bicara.

“Sekar, masuk.”

“Belum selesai.”

“Sekar.”

“Kak, ini kan rumah kita.”

“Sekar.”

Sekar menghela napas dengan sangat panjang, seperti orang dewasa yang lelah bekerja dengan orang bodoh, lalu menutup buku tulisnya.

“Ya udah,” katanya. “Tapi aku catat semua.”

Dia berjalan masuk sambil menyeret sandalnya.

Regita berdiri di tengah gang, masih memakai kacamata hitam, dengan wajah yang bahkan dari balik masker kelihatan ingin menghilang.

“Nay,” katanya pelan. “Maaf.”

Dan itu bagian yang paling tidak lucu dari seluruh pagi itu, karena Regita minta maaf ke aku.

Bukan ke orang yang gangnya kami masuki.

Aku ingin mencatat, demi keadilan, bahwa Regita berumur tujuh belas tahun dan dikalahkan total oleh anak kelas empat SD dalam waktu kurang dari sembilan puluh detik.

Dan aku ingin mencatat, demi kejujuran, bahwa selama sembilan puluh detik itu aku tidak sekali pun berdiri di depan Hari.


Nadine yang pertama pergi.

Dia tidak pamit. Dia cuma memasukkan HP-nya ke saku, memutar badan, dan berjalan ke arah jalan besar.

Aku menyusulnya di ujung gang.

“Nad.”

“Aku pulang.”

“Nad, berhenti.”

Dia berhenti, tapi tidak berbalik.

“Kamu tahu nggak yang tadi itu apa?” katanya.

“Regita ketahuan anak SD.”

“Bukan itu.”

Dia berbalik.

“Yang tadi itu,” katanya, “kita ngintipin orang di depan rumahnya sendiri. Di gang tempat dia tinggal. Sambil dia ngangkatin jahitan ibunya.”

Aku tidak menjawab.

“Nay, aku ikut dari awal. Aku nggak bilang aku nggak salah.” Suaranya bergetar sedikit di ujung. “Tapi tadi tuh aku berdiri di depan warung, megang HP, terus ada ibu-ibu nawarin aku gorengan gratis karena dia kira aku nunggu jemputan.”

“Nad—”

“Aku bilang makasih.” Dia mengusap mata dengan pergelangan tangan. “Aku bilang makasih ke orang yang lagi aku bohongin, Nay.”

Kami berdiri di situ agak lama.

“Aku keluar,” katanya.

“Nad.”

“Aku keluar dari taruhannya. Aku nggak akan bilang ke Vania kenapa, aku nggak akan bikin ribut, aku cuma... keluar.”

“Terus aku gimana?”

Nadine menatapku.

Dan dia bertanya satu pertanyaan yang aku putar-putar di kepalaku selama tiga belas hari berikutnya, dan setelah itu selama beberapa bulan lagi.

“Nay, kamu masih inget nggak,” katanya, “kapan terakhir kali kamu ngelakuin sesuatu ke dia yang bukan bagian dari taruhan?”


Malamnya, di grup, Vania bertanya bagaimana perkembangannya.

Vania: nay
Vania: gimana
Regita: nay maaf ya tadi
Regita: aku kepepet
Vania: regit diem dulu
Vania: nay. gimana.

Aku mengetik jawaban tiga kali dan menghapusnya tiga kali.

Yang pertama terlalu panjang. Yang kedua terdengar seperti membela diri. Yang ketiga jujur, dan itu yang paling cepat aku hapus.

Yang akhirnya aku kirim:

belum ada apa-apa. dia orangnya lambat.

Vania mengetik selama beberapa detik, lalu berhenti, lalu mengetik lagi.

Vania: oke.

Cuma itu.

Vania tidak pernah mengirim satu kata dengan titik kalau dia percaya.

Itu bohong.

Hari itu, di rumah kelima, ada anjing yang menyalak dari balik pagar dan aku mundur satu langkah tanpa sadar, dan Hari langsung pindah posisi ke sisi yang dekat pagar — bukan menarikku, bukan bilang apa-apa, cuma pindah, seolah itu hal paling biasa di dunia.

Hari itu, waktu kami duduk di trotoar makan arem-arem pemberian ibu yang tidak aku ingat namanya, dia bilang, “Kamu kalau ketawa suka nutup mulut setengah jalan terus berhenti. Kenapa?”

Dan aku bilang, “Karena kata mamaku gigiku nggak rata.”

Dan dia bilang, “Nggak apa-apa.”

Dan aku bilang, “Itu jawaban nomor satu.”

Dan dia bilang, “Bukan. Yang ini bener.”

Aku tidak menulis satu pun dari itu ke grup.

Aku menyimpannya.

Aku menyimpannya untuk diriku sendiri, dari mereka, seperti orang menyembunyikan uang dari rumahnya sendiri.

Dan ini bagian yang paling ingin aku bantah dan tidak bisa:

kalau aku sudah mulai menyembunyikan hal-hal baik dari mereka, artinya aku sudah tahu.

Aku sudah tahu, di hari ketujuh belas, bahwa yang sedang aku lakukan itu salah.

Aku cuma belum tahu bagaimana caranya berhenti tanpa kehilangan dia.

Jadi aku memilih yang paling gampang: aku tidak berhenti.

Tiga belas hari lagi.