Chapter Thirty Seven
Rumah yang Kosong
[POV: Hari] · [Hari ke-252]
“Belajar di rumahku aja.”
“Kenapa?”
“Karena di rumahmu ada Sekar.”
Aku memikirkan itu selama sekitar dua detik.
“Oke,” kataku.
Aku sudah pernah sampai depan pagar rumahnya empat kali.
Yang pertama bulan Mei, waktu dia menangis dan aku memeluknya dan pulang jalan kaki lewat komplek yang jalannya lebar dan pohonnya tinggi.
Yang kedua bulan November, waktu aku berjalan empat puluh menit dengan tujuh argumen di kepala.
Yang ketiga dan keempat mengantar pulang.
Aku belum pernah masuk.
Dan aku ingin mencatat bahwa itu bukan karena dia tidak mengajak. Dia mengajak dua kali. Aku yang menolak dua kali, dengan alasan yang bagus dua-duanya, dan aku sudah cukup mengenal diriku sendiri untuk tahu bahwa alasan yang bagus itu biasanya alasan yang kedua.
Alasan pertamanya begini: aku tidak tahu harus bagaimana di rumah orang yang punya pagar otomatis.
Pagarnya memang otomatis.
Dia menekan sesuatu di HP-nya dan pagar besi itu bergerak sendiri, dan aku berdiri di trotoar memperhatikan relnya dan berpikir bahwa rel itu pasti berbunyi kalau sudah tiga tahun tidak dilumasi, dan bahwa rel itu tidak berbunyi.
“Masuk.”
“Iya.”
“Har.”
“Hm?”
“Kamu jangan lepas sepatu di luar.”
“Kenapa?”
“Karena nanti kamu bakal ngerasa kayak tamu.”
Aku melepas sepatu di dalam, di dekat pintu, dan menaruhnya sejajar, dan Kanaya melihat itu dan tidak berkata apa-apa.
Aku mau menceritakan apa yang aku lihat di rumah itu, dan aku mau menceritakannya dengan cara yang aku tahu, karena itu satu-satunya cara aku bisa melihat apa pun.
Kalau kamu memberi aku baju, aku bisa memberitahu berapa lama dipakai.
Bukan dari nodanya. Dari ausnya.
Kerah aus duluan di orang yang sering menunduk. Siku aus duluan di orang yang menulis di meja. Bagian dalam saku aus di orang yang memasukkan tangan setiap kali gugup.
Barang menyimpan catatan pemiliknya. Semua barang. Itu bukan puisi, itu fisika.
Aku berdiri di ruang tamu rumah Kanaya Larasati selama mungkin satu menit, dan aku membacanya seperti aku membaca baju.
Dan yang tertulis di situ adalah: tidak ada yang pernah dipakai.
Sofanya tiga dudukan. Kainnya bagus — bukan kulit sintetis murah, kain beneran, tenunannya rapat.
Sandaran tangannya masih penuh.
Kalau sofa dipakai, sandaran tangannya turun. Busanya menipis di dua titik, kiri dan kanan, karena orang menaruh siku di situ. Di rumahku sofa itu sudah cekung di sebelah kanan karena ibu selalu duduk di kanan.
Sofa ini rata.
Mejanya kayu. Permukaannya masih mengkilap merata, tidak ada bagian yang lebih kusam.
Meja mesin ayah catnya sudah hilang total di bagian tempat tangan bertumpu. Bentuk hilangnya seperti dua telapak tangan. Kalau kamu tidak tahu, kamu akan bilang mejanya rusak.
Aku tahu itu bukan rusak. Itu tanda ada orang di situ selama dua puluh tahun.
Meja ini tidak punya tanda apa-apa.
Ada foto-foto di dinding koridor. Tujuh bingkai, sejajar, jaraknya sama.
Aku memperhatikan yang paling kanan cukup lama.
Semuanya foto studio. Latar belakangnya polos, semua orang menghadap kamera, semua orang tersenyum dengan senyum yang disuruh.
Tidak ada satu pun foto orang yang sedang mengerjakan sesuatu.
Di rumahku cuma ada dua foto. Yang satu foto lebaran yang diambil dengan HP tetangga. Yang satu ayah berdiri di depan toko, tidak menghadap kamera, sedang mengangkat kain ke arah cahaya, dan setengah wajahnya kena bayangan.
Ibu memasangnya di ruang tengah karena, katanya, itu satu-satunya foto yang bentuknya seperti orangnya.
Aku melihat tujuh bingkai di koridor rumah Kanaya dan mencari orang di dalamnya, dan yang aku temukan cuma orang-orang yang sedang difoto.
Dan yang paling kanan — yang paling baru, karena Kanaya di situ paling besar — dia masih memakai seragam SMP.
Empat tahun.
Dan lampunya menyala semua.
Ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, koridor, teras depan, teras belakang. Jam empat sore. Matahari masih ada.
“Har.”
“Hm?”
“Kamu ngeliatin apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Itu jawaban nomor satu.”
Aku menoleh ke arahnya.
“Rumahmu nggak ada yang aus,” kataku.
Dia tidak menjawab selama beberapa detik.
“Itu bagus, kan?” katanya akhirnya.
“Aku nggak bilang jelek.”
“Tapi nadanya.”
“Nay.” Aku menaruh tasku di lantai, bukan di sofa. “Aku cuma ngomongin barang.”
“Kamu nggak pernah cuma ngomongin barang.”
Dan dia benar, dan aku tidak membantah, dan kami berdiri di ruang tamu itu selama beberapa detik dengan enam lampu menyala di sekeliling kami.
Kami belajar di meja makan.
Dua jam. Matematika dasar, penalaran umum, satu set soal yang dicetak sekolah dan fotokopinya jelek.
Aku mengerjakan lebih cepat. Dia mengoreksi lebih teliti. Kami sudah menemukan sistem itu di bulan Januari dan sistemnya jalan.
Jam enam lampu terasnya menyala.
Aku menoleh.
“Otomatis,” katanya, tanpa mengangkat kepala dari soalnya.
“Aku tahu.”
“Kamu noleh.”
“Aku noleh karena bunyi.” Aku menaruh pulpen. “Sakelarnya bunyi ‘tek’.”
“Ada bunyinya?”
“Iya.”
“Aku nggak pernah dengar.”
“Kamu udah biasa,” kataku.
Kanaya mengangkat kepalanya dari soal.
“Har.”
“Hm?”
“Kamu tahu nggak,” katanya, “aku nggak pernah punya orang lain di rumah ini pas lampu terasnya nyala.”
Aku menaruh pulpenku.
“Mbak Yah pulang jam lima,” lanjutnya. “Mama kalau pulang, dia pulangnya malem, jadi lampunya udah nyala duluan dari tadi. Papa nggak pernah.”
“Nay—”
“Aku baru sadar barusan.” Dia kembali ke soalnya. “Gara-gara kamu noleh.”
Dapurnya bersih sekali.
Aku ke situ jam tujuh untuk mengambil air, dan aku berdiri di depan wastafel selama mungkin dua puluh detik.
Rak piringnya penuh. Ada dua belas piring, delapan mangkuk, entah berapa gelas.
Di rak pengeringnya ada dua.
Satu piring, satu gelas. Kering. Posisinya persis di tengah rak, seperti orang yang tidak perlu berbagi tempat dengan apa pun.
Kompornya empat tungku. Yang dipakai satu — yang depan kanan, ada bekas jelaga tipis di sekitarnya. Tiga yang lain bersih total.
Kulkasnya penuh.
Itu yang paling aneh. Kulkasnya penuh sekali: sayur, buah, telur, susu, dua kotak makan bertutup dengan kertas ditempel bertuliskan Rabu dan Kamis.
Dan di rak paling bawah ada empat kotak makan lain, tertutup, dengan kertas bertuliskan Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu.
Dari minggu yang lalu.
Belum dibuka.
“Nay.”
“Hm?”
“Kotak makan yang bawah.”
Dia berhenti menulis.
“Iya.”
“Itu minggu lalu.”
“Iya.”
“Kamu nggak makan?”
Kanaya menaruh pulpennya dan menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Aku makan,” katanya. “Kadang aku beli di luar. Kadang aku males manasin.”
“Kenapa males?”
“Nggak tahu.”
“Nay.”
“Har, aku nggak tahu.” Suaranya naik sedikit, lalu turun lagi. “Aku beneran nggak tahu. Aku buka kulkas, aku liat kotaknya, terus aku tutup lagi.”
Aku duduk kembali di kursiku.
“Setiap hari?”
“Nggak setiap hari.”
“Berapa sering?”
“Kamu nggak usah ngitung, Har.”
“Aku nggak ngitung,” kataku, dan itu bohong, dan kami berdua tahu itu bohong.
Dia memutar pulpennya di antara jari.
“Manasin makanan buat satu orang itu aneh,” katanya akhirnya. “Kamu manasin, kamu duduk, kamu makan, kamu cuci satu piring. Semuanya cuma satu.”
Aku tidak menjawab.
“Kalau di rumahmu,” katanya, “berapa piring?”
“Empat.”
“Nah.”
“Nay—”
“Aku nggak lagi ngeluh,” katanya cepat. “Serius. Aku beruntung banget dan aku tahu itu. Ada yang masakin, ada makanan di kulkas, ada rumah—”
“Nay.”
“Apa.”
“Nay.”
Dia berhenti.
“Kamu nggak usah bilang kamu beruntung dulu sebelum ngomong,” kataku.
Dia menunjukkan kamarnya jam delapan.
Aku tidak masuk. Aku berdiri di ambang pintu, karena aku sudah tujuh belas tahun dan aku tahu batasnya, dan karena ibuku akan mencari cara untuk mengetahui kalau aku melewatinya.
Kamarnya rapi.
Rapi dalam artian yang membuat perutku dingin: meja belajar tanpa satu pun benda di atasnya kecuali lampu, kursi yang dimasukkan penuh ke bawah meja, tempat tidur dengan sudut sprei yang dilipat seperti di hotel.
Tidak ada apa pun yang sedang dikerjakan.
Di rumahku, setiap permukaan ada barang setengah jadi. Kain yang belum dipotong, resleting yang belum dipasang, gambar Sekar yang belum diwarnai, gelas ibu yang belum dicuci karena tehnya masih setengah.
Rumah yang ada orangnya itu berantakan bukan karena orangnya malas.
Berantakan karena ada yang belum selesai.
“Kamu nggak masuk?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Nggak boleh.”
“Sama siapa?”
“Ibuku.”
“Ibumu nggak di sini.”
“Ibuku selalu di sini,” kataku, dan Kanaya tertawa sampai harus memegang kusen pintu.
Lalu dia mengambil sesuatu dari rak paling atas lemarinya.
Kardus. Sedang. Ada tulisan spidol di sisinya.
Dia menaruhnya di lantai, di ambang pintu, di sisiku — bukan di sisinya — dan duduk bersila.
“Ini apa?”
“Buka aja.”
Aku jongkok.
Isinya enam.
Seragam kelas sepuluh. Blazer OSIS. Kaus olahraga. Rok yang sobek di lab bulan April. Kemeja seragam Jumat. Jaket olahraga yang saku dalamnya bolong.
Aku tidak menyentuhnya selama beberapa detik.
“Nay.”
“Aku nemu bulan Oktober.”
“Aku tahu,” kataku. “Kamu cerita di hari ketiga puluh hari.”
“Aku nggak pernah nunjukin.”
Aku mengambil yang paling atas.
Seragam kelas sepuluh. Aku membalik kerahnya tanpa berpikir, dengan gerakan yang sudah otomatis sejak umur sebelas, dan simpul merah itu ada di jahitan bahu kiri.
Kecil sekali. Sebesar kepala jarum.
Empat September.
Aku memandanginya dan berusaha mengingat malam tanggal empat September tahun lalu.
Tidak ada.
Sama seperti tanggal sembilan belas April. Sama seperti empat puluh dua malam lain yang tercatat di buku itu.
“Har.”
“Hm.”
“Kamu nggak inget, ya.”
Aku menaruh seragam itu kembali ke kardus.
“Enggak,” kataku.
Dan Kanaya mengangguk pelan, seperti orang yang sudah tahu jawabannya dan tetap bertanya karena ingin mendengarnya sendiri.
“Aku tahu,” katanya. “Aku udah lama tahu.”
“Nay, kalau kamu mau aku bohong—”
“Aku nggak mau kamu bohong.”
Dia mengambil jaket olahraga dari kardus dan membaliknya, dan memasukkan jarinya ke lubang saku dalam yang pinggirnya dikunci melingkar supaya berhenti melebar.
“Har,” katanya. “Kamu tahu kenapa aku simpen ini?”
“Enggak.”
“Karena semuanya barang yang aku pakai tiap hari tanpa mikir.” Dia memutar jaket itu. “Aku nggak inget jaket ini pernah rusak. Aku nggak inget seragam sepuluh pernah kenapa-kenapa. Aku nggak inget apa-apa, Har, sama kayak kamu.”
Aku menoleh.
“Kita berdua nggak inget,” katanya. “Bedanya kamu nggak inget karena kamu ngerjain kebanyakan. Aku nggak inget karena aku nggak pernah ngecek.”
Aku mengambil rok yang sobek di lab bulan April.
Yang huruf L. Yang tiga senti menyerongnya membuatku membongkar dua kali karena anyamannya menarik kainnya jadi berkerut.
Aku membaliknya dan mencari di kelim, dan simpulnya ada di situ, dan di sebelahnya — kira-kira empat senti ke kanan — ada anyaman yang aku kerjakan tiga jam di bulan April.
Aku memiringkannya ke arah lampu koridor.
Dan aku melihat sesuatu yang membuatku berhenti.
“Nay.”
“Hm?”
“Ini kelihatan.”
“Apanya?”
“Tambalannya.” Aku memutar kainnya. “Setahun dipakai, dicuci berkali-kali. Warnanya jadi beda.”
Kanaya mengambil rok itu dari tanganku dan memiringkannya ke arah yang sama.
“Aku nggak lihat.”
“Di situ.”
“Har, aku—” Dia memicing. “Oh.”
“Iya.”
“Ya ampun, iya.”
“Benang yang aku cabut dari kelim itu bagian yang nggak kena matahari,” kataku. “Jadi warnanya lebih tua. Waktu masih baru nggak kelihatan. Sekarang kelihatan karena sisanya udah pudar.”
Kanaya memandangi rok itu di pangkuannya.
“Jadi lama-lama muncul.”
“Iya.”
“Har, kamu tahu ini bakal kejadian?”
Aku memikirkan jawabannya, dan aku memutuskan untuk tidak memperhalusnya.
“Tahu,” kataku.
“Terus?”
“Terus waktu itu aku mikir setahun lagi kamu udah nggak pakai rok itu.”
Koridor lantai dua itu sunyi.
“Aku masih pakai,” katanya.
“Iya.”
“Aku pakai sampai bulan Oktober.”
“Iya.”
Dia melipat rok itu dan menaruhnya kembali ke kardus, di paling atas, bukan di posisi semula.
Kami duduk di lantai koridor lantai dua sampai jam sembilan.
Dan sekitar jam setengah sembilan aku bertanya sesuatu yang aku pikirkan sejak jam empat sore.
“Nay.”
“Hm?”
“Nay.”
Dia menegakkan punggungnya.
“Iya, Har?”
“Boleh aku matiin lampunya?”
Kanaya menoleh ke arahku.
“...Yang mana?”
“Yang nggak dipakai.”
Dia tidak menjawab selama beberapa detik.
“Har, itu cuma lampu.”
“Iya.”
“Itu otomatis.”
“Ada sakelarnya.”
“Kenapa mau dimatiin?”
Dan aku mengucapkan sesuatu yang aku sendiri baru mengerti waktu keluar dari mulutku.
“Karena kalau semuanya nyala,” kataku, “nggak ada bedanya waktu ada orang.”
Dia berdiri.
Aku mengira dia marah. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu — aku sudah melangkah terlalu jauh, aku tahu, aku sedang mengomentari cara orang tinggal di rumahnya sendiri.
Dia tidak marah.
Dia turun ke bawah, dan aku menyusul, dan dia berdiri di depan panel sakelar di dekat tangga dengan tangan setengah terangkat.
“Aku nggak pernah matiin ini,” katanya.
“Nggak apa-apa.”
“Har, aku nyalain ini dari kelas sepuluh. Tiga tahun.”
“Nay, kalau nggak mau—”
“Aku mau.” Tangannya masih di udara. “Aku cuma... bentar.”
Kami berdiri di situ mungkin dua puluh detik.
Lalu dia menekan empat sakelar.
Teras belakang. Koridor atas. Ruang makan. Kamar tamu yang tidak pernah ada tamunya.
Empat ruangan mati.
Dan rumah itu — untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, kata dia, dan aku percaya — punya bagian yang gelap.
“Har.”
“Hm?”
Suaranya kecil sekali.
“Ini serem.”
“Iya.”
“Kamu nggak bilang enggak?”
“Ini emang serem,” kataku. “Rumah gelap itu emang serem.”
Dan aku berdiri di sebelahnya di dekat tangga, di rumah yang lampunya tinggal menyala di dua ruangan, dan aku menggenggam tangannya.
“Tapi ada aku,” kataku.
Kami berdiri di situ mungkin dua menit.
“Har.”
“Hm?”
“Kamu tahu nggak kenapa aku nyalain semuanya?”
“Enggak.”
“Aku pikir kamu bakal nebak.”
“Aku bisa nebak,” kataku. “Aku nggak mau nebak.”
“Kenapa?”
“Karena nebak itu ngerjain sesuatu yang harusnya kamu yang ngerjain.”
Kanaya menoleh ke arahku dalam gelap.
“Kelas sepuluh, semester satu,” katanya. “Aku pulang malem gara-gara acara. Rumahnya gelap total, Mbak Yah udah pulang, terus aku buka pintu.”
Aku tidak menyela.
“Terus aku nyalain lampu ruang tamu, terus koridor, terus ruang tengah.” Suaranya rata sekali. “Terus aku nyampe kamar dan aku sadar aku baru aja nyalain lima lampu buat satu orang.”
“Nay—”
“Jadi besoknya aku setel semuanya otomatis.” Dia mengangkat bahu di kegelapan. “Biar aku nggak pernah harus ngelakuin itu lagi.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Itu pinter,” kataku.
“Itu ngeselin.”
“Itu dua-duanya.”
Aku pulang jam setengah sepuluh.
Dia menyalakan lagi tiga lampu sebelum aku keluar. Aku melihatnya melakukan itu dan tidak berkomentar sama sekali, karena tiga dari empat itu jauh lebih baik daripada tidak ada.
Di pagar, dia bilang:
“Har.”
“Hm?”
“Besok Sabtu, ya.”
“Iya.”
“Aku bawa kotak makan yang dari minggu lalu.”
Aku berhenti.
“Nay, itu udah seminggu.”
“Yang Sabtu-Minggu masih aman.”
“Nay—”
“Aku bawa ke rumahmu,” katanya. “Kita makan berempat.”
Dan aku berjalan pulang empat puluh menit lewat komplek yang jalannya lebar dan pohonnya tinggi, dan aku memikirkan satu hal sepanjang jalan, dan aku memikirkannya dengan cara yang salah.
Aku memikirkan bahwa aku ingin dia makan di rumahku setiap hari.
Aku belum tahu, malam itu, bahwa aku sedang menyusun sesuatu.
Aku pikir aku sedang senang.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong reading
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup