← Garansi Seumur Hidup

Chapter Thirty

Yang Pertama Sungguhan

[POV: Hari] · [Hari ke-192]


“Boleh pinjem pulpen?”

Aku berhenti melipat kain.

“Buat apa?”

“Boleh apa enggak dulu.”

“Nay.”

“Har.” Dia masih duduk di lantai dengan buku itu di pangkuan. “Boleh apa enggak.”

Aku berjalan ke ruang jahit dan mengambil pulpen dari gelas di meja mesin. Yang biru. Yang tutupnya ada bekas gigitan di dua tempat, karena aku tidak pernah menggantinya, karena aku tidak punya alasan yang bagus untuk itu dan tidak pernah mencari.

Aku menyerahkannya.

Dan aku menyerahkannya sambil tahu — dengan sangat jelas, dalam kondisi sadar penuh — bahwa aku sedang menyerahkan sesuatu yang lebih dari pulpen, karena tidak ada yang minta pinjam pulpen sambil memegang buku yang terbuka di halaman itu.

Kanaya mengambilnya.

Lalu dia membuka bukunya, menaruhnya di lantai, meratakan halamannya dengan telapak tangan.

Dan dia menaruh ujung pulpen di baris pertama.

Bukan baris kedua.

Baris pertama.

Baskara, Hari — percaya — 14/2


“Nay.”

“Hm.”

“Itu bukan nama kamu.”

“Aku tahu.”

“Nay.”

“Kamu udah bilang boleh.”

Dia tidak mencoretnya langsung. Dia duduk di lantai ruang tengah rumahku dengan pulpen di tangan dan tidak bergerak selama beberapa detik, dan aku berdiri di situ dengan kain jemuran di tangan dan tidak melakukan apa-apa untuk menghentikannya.

Aku ingin mencatat itu.

Aku tidak menghentikannya.

Aku punya waktu. Ada sekitar sepuluh detik di mana aku bisa mengambil buku itu, atau mengambil pulpennya, atau bilang jangan, dan tidak ada satu pun yang akan menganggapku berlebihan.

Aku berdiri diam.

Dan Kanaya menarik satu garis di atas namaku.


Bukan garis lurus.

Itu hal pertama yang aku lihat, dan aku benci bahwa itu hal pertama yang aku lihat.

Garisnya miring. Ujungnya turun. Dan di tengah ada bagian yang tintanya menipis karena tangannya bergetar.

Aku menghabiskan seluruh hidupku membuat garis yang lurus. Aku memakai penggaris untuk mencoret satu kata di bulan Agustus. Aku bisa membuat sepuluh tusukan dengan jarak dua koma dua milimeter di bawah lampu meja jam sebelas malam tanpa satu pun orang yang akan memeriksanya.

Dan seseorang baru saja mencoret namaku dengan garis paling jelek yang pernah aku lihat di buku itu.

“Nay.”

“Aku belum selesai.”

Dia menulis sesuatu di sebelah kanannya, di luar kolom, dengan huruf yang lebih kecil.

Lalu dia menutup pulpennya dan menyerahkan bukunya kepadaku.


Baskara, Hari — ~~percaya~~ — 14/2

Dan di sebelah kanan, di luar kolom:

ada yang nungguin.


Aku duduk di lantai.

Bukan memutuskan untuk duduk. Kakiku yang memutuskan.

“Har—”

“Bentar.”

“Kamu—”

“Bentar, Nay.”

Aku duduk di lantai ruang tengah rumahku sendiri dengan buku catatan pesanan di pangkuan dan kain jemuran yang sudah jatuh ke lantai di sebelahku, dan aku membaca tiga kata itu berkali-kali sampai bentuknya berhenti jadi kata dan jadi cuma tinta.

“Aku mau ngomong sesuatu,” katanya. “Terus abis itu kamu boleh nyuruh aku pulang.”

Aku mengangguk. Aku belum sanggup bersuara.

“Aku nggak lagi bilang aku nungguin kamu,” katanya. “Itu bukan maksudnya.”

“...Terus?”

“Yang kamu tulis di situ itu bukan ‘nggak ada yang sayang sama aku’.” Suaranya sangat pelan. “Yang kamu tulis itu percaya. Barangnya percaya. Yang rusak itu kemampuan kamu buat percaya kalau ada orang yang nungguin.”

Aku memandangi tiga kata di halaman itu.

“Dan aku bukan mau bilang aku orangnya,” lanjutnya. “Aku nggak berhak. Aku orang terakhir di dunia yang berhak.”

“Nay—”

“Aku cuma mau bilang barangnya salah tulis.” Dia mengusap wajahnya dengan lengan. “Bukan percaya yang rusak, Har. Yang rusak itu satu hari di bulan Februari waktu kamu umur empat belas.”

Ruang tengah itu sunyi sekali. Dari dapur ada bunyi ibu mencuci sesuatu, terlalu lama, dengan air yang sebenarnya tidak perlu dinyalakan selama itu.

“Kamu nulis nama kamu di halaman yang nggak bisa diperbaiki,” katanya, “waktu kamu umur empat belas, dan kamu percaya itu selama empat tahun, dan nggak ada satu orang pun yang pernah ngecek.”

“Nay.”

“Aku ngecek, Har.”

“Gimana caranya kamu ngecek?”

Dan dia menjawabnya dengan sesuatu yang membuatku harus menaruh kain jemuran di lantai karena tanganku sudah tidak berguna:

“Dua puluh dua Sabtu,” katanya. “Terus tiga puluh hari. Terus hari ketiga puluh satu.”

“Itu bukan ngecek.”

“Itu persis ngecek.” Dia menunjuk halaman itu. “Kalau kamu mau tahu kain masih kuat apa enggak, kamu tarik pelan-pelan terus lihat dia nyerah apa enggak. Ibumu yang ngajarin.”

“Nay—”

“Aku narik selama enam bulan, Har.” Suaranya mulai patah. “Aku narik pelan-pelan tiap minggu dan kamu nggak nyerah sekali pun.”

Aku memandangi tiga kata di sebelah kanan namaku.

“Kamu tuh,” katanya, “orang paling kuat yang pernah aku kenal, dan kamu nulis diri kamu di halaman barang rusak waktu umur empat belas, dan kamu nggak pernah baca ulang.”


Aku mau menuliskan apa yang terjadi di dalam kepalaku, karena kalau tidak, sisa bab ini akan kelihatan seperti orang yang berubah pikiran begitu saja.

Aku tidak berubah pikiran.

Yang terjadi lebih mirip seperti waktu kamu membongkar jahitan lama dan menemukan bahwa masalahnya bukan di tempat yang kamu kira.

Selama empat tahun aku pikir aku sedang mencatat fakta.

Aku umur empat belas, aku berdiri empat puluh menit, dan aku pulang dan menulis di kolom: nama, barang, tanggal. Rapi. Terukur. Seperti pesanan.

Aku pikir itu kejujuran.

Ternyata itu diagnosis.

Dan aku membuatnya sendiri, umur empat belas, tiga hari setelah kejadiannya, waktu aku belum bisa melihat apa pun dengan benar — dan sejak itu aku tidak pernah sekali pun membukanya kembali untuk memeriksa.

Aku menjahit ratusan baju orang. Aku memeriksa setiap jahitan tiga kali. Aku membongkar pekerjaanku sendiri kalau ada satu tusuk yang jaraknya meleset setengah milimeter.

Dan satu-satunya diagnosis yang tidak pernah aku periksa ulang selama empat tahun adalah tentang diriku sendiri.


“Har.”

“Hm.”

“Kamu marah?”

“Enggak.”

“Har, aku nyoret buku kamu—”

“Nay.”

“Aku tahu itu bukan hak aku, aku—”

“Nay.” Aku mengangkat kepala. “Aku mau minta sesuatu.”

Dia berhenti.

Dan aku melihat wajahnya berubah, dan aku sadar kenapa: dalam enam bulan, ini permintaan keduaku.

“Apa?” katanya.

Dan aku mengucapkannya, dan aku mengucapkannya dengan sangat jelek, karena aku belum pernah mengucapkan hal seperti itu seumur hidupku dan tidak ada satu pun latihan yang bisa dipakai.

“Aku nggak mau kamu ngerjain apa-apa lagi buat aku,” kataku. “Nggak ada. Selamanya. Kalau kamu mau bantu, kamu bilang dulu, terus aku boleh bilang enggak.”

“Iya.”

“Dan aku juga.”

“...Apa?”

“Aku juga nggak akan ngerjain apa-apa buat kamu diem-diem.” Aku memegang tepi buku itu. “Kelim rok bulan Agustus itu— itu jelek, Nay. Itu jelek banget dan aku tahu waktu ngerjain.”

“Har—”

“Aku nggak mau jadi orang yang begitu.”

Kanaya duduk di lantai di seberangku dengan pulpen biru yang tutupnya ada bekas gigitan di dua tempat.

“Oke,” katanya.

“Itu aja?”

“Itu perjanjian paling gampang yang pernah aku setujuin seumur hidup,” katanya, dan suaranya pecah di tengah, dan dia tertawa sambil mengusap matanya. “Har, aku dua puluh dua Sabtu ngumpet di rumah orang. Kamu pikir aku nggak capek?”


Dan lalu aku mengucapkan bagian keduanya, yang jauh lebih susah, dan yang sudah aku susun kalimatnya sejak jam berapa aku tidak tahu.

“Nay.”

“Hm?”

“Aku nggak mau nunggu tanggal.”

Dia menoleh.

“Aku nggak mau ada tanggalnya,” kataku. “Nggak ada tiga puluh hari. Nggak ada tanggal aku mutusin. Aku nggak mau megang tanggal apa pun tentang kamu.”

“Har, itu—”

“Aku tahu itu artinya apa.”

Ruangan itu diam.

“Terus artinya apa?” tanyanya, sangat pelan.

Dan aku duduk di lantai ruang tengah rumahku, dengan buku catatan pesanan di pangkuan, hari Sabtu, jam setengah dua siang, dan aku mengatakannya keras-keras untuk pertama kalinya seumur hidupku.

“Artinya aku suka sama kamu,” kataku, “dan aku nggak punya rencana buat berhenti, dan aku nggak tahu harus gimana karena aku belum pernah nggak punya tanggal.”


Kanaya menutup mulutnya dengan dua tangan.

Lalu dia menurunkannya.

Lalu dia bilang, dengan suara yang benar-benar hancur:

“Aku juga.”

“Nay—”

“Aku udah dari lama, Har. Aku udah dari lama banget, dan aku nggak berani bilang selama enam bulan karena aku ngerasa aku nggak berhak, dan sekarang kamu bilang duluan dan itu nggak adil—”

“Nay.”

“—kamu selalu duluan, kamu selalu duluan di semua hal, kamu bahkan duluan di bagian yang harusnya—”

“Nay.”

“Apa.”

Aku menaruh buku itu di lantai.

“Kamu boleh ngomong pelan-pelan,” kataku. “Kita nggak lagi ngejar apa-apa.”

Dan dia menatapku, dan wajahnya berantakan total, dan dia bilang:

“Ya ampun.”

“Kenapa?”

“Nggak ada tanggalnya.”

“Iya.”

“Har, nggak ada tanggalnya.”

“Iya,” kataku. “Aku tahu.”


Aku mau menceritakan bagian ini dengan jujur, termasuk bagian yang membuatku kelihatan bodoh.

Aku tidak tahu harus bagaimana.

Betul-betul tidak tahu. Di bulan Mei, di mulut Gang Melati, dia yang melangkah maju dan aku cuma perlu tidak bergerak.

Kali ini tidak ada yang melangkah.

Kami duduk di lantai ruang tengah dengan jarak sekitar satu meter, dan buku catatan di antara kami, dan kain jemuran yang tadi jatuh masih tergeletak di sebelah kiriku, dan tidak ada satu pun dari kami yang tahu prosedurnya.

“Har.”

“Hm.”

“Ini kita—”

“Iya.”

“Aku belum selesai nanya.”

“Iya, tetep iya.”

Kanaya tertawa lewat hidung, pendek, agak jelek.

Dan aku melakukan satu hal yang sudah aku pikirkan selama enam bulan tanpa pernah aku izinkan selesai di kepala.

Aku mengulurkan tangan dan menyingkirkan rambut yang jatuh ke depan wajahnya, ke belakang telinganya, pelan sekali, seperti orang yang memegang kain yang seratnya sudah tipis.

Jariku menyentuh pipinya.

Basah.

“Har.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.”

“Oke.”

“Har.”

“Hm?”

“Deket,” katanya.


Dan aku mendekat, dan dia mendekat, dan yang kedua ini sama sekali tidak seperti yang pertama.

Yang pertama di mulut gang, sore hari, dengan kardus kosong di tanganku dan hitungan mundur di kepalaku dan bibir yang asin di sudut karena dia menangis dua kali hari itu dan tidak mengaku sekali pun.

Yang kedua di lantai ruang tengah rumahku sendiri, jam setengah dua siang, dengan buku catatan pesanan di antara kami dan bau kain dan minyak mesin dan bunyi ibuku mencuci sesuatu terlalu lama di dapur.

Yang pertama dia yang memegang seragamku, seperti orang yang butuh pegangan.

Yang kedua tanganku di rahangnya dan tangannya di pergelangan tanganku — bukan menahan, cuma memegang, seperti orang yang memastikan sesuatu tidak dilepas duluan.

Dan dia benar untuk memastikan, karena aku sudah melepas duluan tiga puluh kali di bulan Mei, setiap kali, sebagai latihan.

Aku tidak melepas duluan.

Aku ingin menuliskan itu dengan tepat, karena itu satu-satunya hal dari seluruh hari itu yang aku putuskan dengan sadar.

Empat tahun aku berlatih supaya tidak pernah harus merasakan bagaimana rasanya dilepaskan.

Dan aku berhenti berlatih di lantai ruang tengah rumahku sendiri, hari Sabtu, jam setengah dua siang, tanpa memberi tahu siapa-siapa.

Yang pertama aku hitung.

Yang kedua aku tidak.

Aku ingin menuliskan bahwa itu keputusan besar, bahwa aku memutuskan untuk berhenti menghitung, bahwa ada momen di mana aku melepas sesuatu.

Tidak ada.

Aku cuma lupa.

Dan aku baru sadar aku lupa sekitar dua jam kemudian, waktu aku sedang berdiri di dapur mengisi gelas, dan aku berhenti dengan gelas setengah penuh dan berdiri di situ selama mungkin satu menit.

Tujuh belas tahun.

Dan itu satu-satunya hal di seluruh hidupku yang tidak aku hitung.


“IBU.”

Kami berdua melompat.

“IBU. IBU. IBUUU—”

“SEKAR ASTAGHFIRULLAH—”

“IBU, KAK HARI SAMA KAK KANAYA—”

Aku belum pernah bergerak secepat itu seumur hidupku. Aku bangkit, dan Kanaya bangkit, dan buku catatan itu jatuh, dan kain jemuran yang tadi sudah jatuh sekarang jatuh lagi karena entah bagaimana aku menginjaknya.

Sekar berdiri di ambang pintu kamarnya dengan mulut terbuka selebar mungkin dan mata yang berbinar dengan cara yang sangat, sangat mengkhawatirkan.

“Sekar—”

“AKU LIHAT.”

“Sekar, masuk—”

“AKU LIHAT SEMUANYA.”

“Kamu harusnya tidur siang.”

“INI JAM SETENGAH DUA.”

Ibu muncul dari dapur sambil mengelap tangan dengan lap piring.

Dia melihat kami berdua berdiri di ruang tengah dengan wajah yang aku yakin bisa dibaca dari jarak dua puluh meter.

Dia melihat buku catatan yang jatuh di lantai.

Lalu dia melihat lap piring di tangannya, dan melipatnya, dan berkata:

“Ibu masak nasi goreng, ya.”

“Bu—”

“Nak Kanaya makan di sini.”

“Tante, saya—”

“Ibu nggak nanya,” katanya, dan berjalan kembali ke dapur.

Sekar sudah duduk di lantai dengan buku tulisnya terbuka.

“Sekar, jangan dicatet.”

“Kak, ini sejarah.”

“Sekar.”

“Aku catet jamnya doang.”

“SEKAR.”


Kami makan nasi goreng di lantai ruang tengah, berempat, dengan alas koran, karena mejanya penuh kain pesanan yang harus selesai Selasa.

Persis seperti bulan Mei.

Bedanya cuma satu, dan bedanya kecil sekali, dan aku memperhatikannya sepanjang makan.

Ibu menaruh empat piring.

Bukan mengambil piring keempat dari lemari sambil berkomentar. Bukan menjelaskan. Dia cuma menaruh empat piring di atas koran seperti orang yang memang selalu menaruh empat piring.

“Nak Kanaya.”

“Iya, Tante?”

“Sabtu depan jam sembilan.”

“...Iya, Tante.”

“Bawa jari yang banyak.”

Sekar tersedak. Kanaya menepuk punggungnya.

“Kak Hari.”

“Hm?”

“Kakak nggak ngitung.”

Aku menoleh ke arah adikku.

“Apa?”

“Kalau makan, Kakak selalu ngitung sisa di piring orang.” Dia menyendok nasinya. “Terus Kakak berhenti duluan kalau piring Kakak masih lebih penuh. Tadi enggak.”

Ruang tengah itu hening.

Aku tidak tahu Sekar tahu itu.

Aku bahkan tidak tahu aku melakukannya, sampai dia mengucapkannya — dan begitu dia mengucapkannya aku langsung tahu itu benar, dan aku tahu sejak kapan, dan aku tahu kenapa.

Setahun setelah ayah meninggal, waktu lauk di meja tidak selalu cukup untuk tiga orang.

Ibu berhenti mengunyah.

“Sekar,” katanya pelan.

“Aku salah ngomong lagi, ya.”

“Enggak, Nak.” Ibu menaruh sendoknya. “Kamu bener.”

Dan dia mengambil nasi goreng dari wajan dan menambahkannya ke piringku, banyak sekali, tanpa bertanya, dan tidak ada satu pun dari kami yang berkomentar.


Aku mengantarnya ke halte jam empat sore.

Kami jalan pelan, dan kami tidak bergandengan sampai lewat warung Bu Nur, dan begitu lewat warung Bu Nur kami tidak bergandengan juga karena Bu Nur berteriak “NON MAMPIR!” dan kami berdua mampir dan menghabiskan dua puluh menit di sana makan gorengan yang tidak kami pesan.

“Har.”

“Hm.”

“Bu Nur bilang aku sering lewat.”

“Iya.”

“Kamu tahu?”

“Aku tahu dari bulan September.”

Kanaya berhenti jalan.

“...Apa?”

“Bu Nur bilang ‘temenmu yang tinggi itu rajin ya sekarang’.” Aku memindahkan kantong gorengan ke tangan satunya. “Aku nggak nanya siapa.”

“Kenapa nggak nanya?”

“Karena aku nggak mau tahu,” kataku. “Aku lagi seneng dan aku nggak mau tahu kenapa.”

Dia menatapku agak lama.

“Har, itu jelek banget.”

“Iya.”

“Kamu ngomel empat puluh menit di depan pagar rumahku terus ternyata kamu—”

“Iya.”

“Ya ampun.”

“Nay.”

“Apa.”

“Kita berdua jelek,” kataku. “Itu kayaknya intinya.”

Dan Kanaya Larasati tertawa di trotoar depan gang, jam empat sore, dengan cara yang selalu sama: bahu naik dulu, baru suara, tangan naik setengah jalan lalu berhenti.

Dan kali ini tangannya tidak berhenti setengah jalan, karena tangan itu sedang memegang tanganku.


Malam itu aku duduk di depan mesin ayah dan membuka buku catatan coklat itu.

Halaman yang tidak punya kolom tanggal.

TIDAK BISA DIPERBAIKI

Namaku dicoret dengan garis miring yang ujungnya turun, dan di sebelah kanannya ada tiga kata dengan huruf yang lebih kecil.

Aku tidak menghapus apa pun.

Aku membalik ke halaman kosong berikutnya, dan aku menulis judul baru di paling atas, dengan huruf kapital, dengan tangan yang untuk pertama kalinya dalam hidupku tidak sepenuhnya rapi:

MASIH DIKERJAKAN

Lalu aku menulis satu baris di bawahnya.

Baskara, Hari — (—) — mulai 8/12

Tidak ada barangnya. Kolomnya kosong.

Aku belum tahu apa yang sedang dikerjakan. Aku cuma tahu itu belum selesai, dan aku tahu — untuk pertama kalinya sejak umur sebelas — bahwa “belum selesai” itu bukan kegagalan.

Itu cuma status.

Aku melingkarkan karet gelangnya dua kali dan menaruhnya di laci, dan aku mematikan lampu meja, dan waktu tanganku sudah di saklar, mataku lewat di kalender bunga di dinding.

Aku tidak menyentuhnya.

Tidak ada yang perlu dihitung.