Chapter Six
Garansi 30 Hari
[POV: Hari] · [Hari ke-6]
“Itu payung apa korban kecelakaan?”
Kanaya memegang payung hitamku dengan dua jari, memutarnya, dan menatap jeruji yang dibalut lakban kain warna abu-abu.
“Bisa dipakai,” kataku.
“Hari, ini ada kawatnya.”
“Kawat itu yang bikin bisa dipakai.”
“Kamu tuh—” Dia membukanya. Payung itu terbuka dengan bunyi yang tidak enak, tapi terbuka. “Oh. Beneran bisa.”
“Kan.”
“Tapi jelek.”
“Iya.”
“Kenapa nggak beli aja sih?”
“Delapan belas ribu.”
“Ya delapan belas ribu—”
“Delapan belas ribu itu dua hari uang jajan,” kataku, dan aku langsung menyesal, karena kalimat itu keluar terlalu cepat dan terlalu jujur, dan sekarang menggantung di antara kami seperti kancing yang jatuh di lantai keramik.
Kanaya tidak bilang apa-apa selama sedetik.
Lalu dia menutup payungku, menyerahkannya kembali, dan berkata, “Ya udah, tapi kalau kena angin gede itu bakal ngelipet ke atas, ya.”
“Aku tahu.”
“Terus kamu bakal benerin lagi?”
“Iya.”
“Terus rusak lagi?”
“Iya.”
“Terus kamu benerin lagi?”
“Iya.”
Kanaya menggeleng pelan sambil duduk. Aku menaruh payung birunya di atas mejanya, terlipat rapi, dengan pengikat velcro-nya sudah aku pasang ulang karena semalam aku sadar velcro-nya sudah tipis dan tidak menggigit lagi.
Aku tidak menyebutkan bagian itu.
Dua puluh empat hari lagi.
Aku mau menjelaskan sesuatu, dan aku mau menjelaskannya sekarang, sebelum kejadian hari itu terdengar seperti keberanian.
Selama empat tahun aku tidak pernah menawarkan apa pun kepada siapa pun.
Bukan karena aku pelit. Karena menawarkan itu berisiko. Kalau kamu menawarkan sesuatu, ada kemungkinan ditolak, dan penolakan itu terjadi di depan orang, dan penolakan yang terjadi di depan orang akan diingat lebih lama daripada seluruh hal baik yang pernah kamu lakukan.
Jadi aku selalu memilih jalur yang lain: kerjakan diam-diam, kembalikan diam-diam, tidak ada yang perlu menolak apa pun.
Yang berubah pagi itu bukan keberanianku.
Yang berubah adalah aku sudah tahu tanggalnya.
Kalau kamu tahu sebuah pintu akan ditutup tanggal sekian, kamu berhenti menghitung risiko dengan cara yang sama. Risiko itu untuk orang yang punya masa depan panjang di ruangan yang sama.
Aku punya dua puluh empat hari.
“Nay.”
“Hm?”
“Bahumu.”
Dia menoleh. “Kenapa?”
“Yang kiri. Ketarik.”
“Oh, iya.” Dia menariknya dengan dua jari, kebiasaan yang sudah aku hafal. “Ini emang dari dulu. Nanti sore aku bawa ke tukang jahit depan komplek.”
“Dia bakal ngecilin sisi kanannya.”
Kanaya berhenti.
“Kok tahu?”
“Karena itu yang paling gampang.” Aku menatap mejaku. “Terus lengan kananmu jadi kesempitan, terus tiga bulan lagi sobek di ketiak.”
“...Itu yang kejadian tahun lalu.”
“Iya.”
“Hari.”
“Iya.”
“Kamu tuh sebenernya bisa jahit sampai mana, sih?”
Ini pertanyaan yang selama empat tahun selalu aku jawab dengan dikit.
Aku menghitung sesuatu di kepalaku — bukan risikonya, tapi sisa harinya — dan menjawab:
“Sampai selesai.”
Dia membawakan seragam cadangannya sore itu, dilipat di dalam kantong kertas, dan menyerahkannya seperti orang menyerahkan dokumen penting.
“Beneran nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Aku bayar, ya.”
“Nggak usah.”
“Hari.”
“Nggak usah.”
“Kalau kamu nggak mau dibayar, aku jadi nggak enak minta tolong lagi.” Dia menyilangkan tangan. “Dan aku bakal minta tolong lagi. Aku orangnya gitu.”
Aku memandangi kantong kertas itu.
“Ya udah,” kataku. “Bayarnya nanti.”
“Nanti kapan?”
“Nanti.”
Kanaya menyipitkan mata seperti orang yang tahu dia baru saja dikalahkan tapi belum menemukan di bagian mana.
“Kamu bawa apa?”
Fikri melirik kantong kertas di pangkuanku sepanjang jalan menuju gerbang.
“Seragam.”
“Punya siapa?”
“Kanaya.”
Fikri berhenti jalan.
“Har.”
“Bukan kayak yang kamu pikir.”
“Aku belum mikir apa-apa.”
“Muka kamu udah mikir.”
“Ini muka aku dari lahir.” Fikri jalan lagi. “Terus kamu mau diapain?”
“Dibenerin bahunya.”
“Terus?”
“Terus dibalikin.”
“Terus?”
“Terus nggak ada.”
Fikri mengangguk-angguk pelan, dengan ekspresi orang yang sedang membaca deskripsi item dan menemukan tulisan cannot be sold, cannot be traded.
“Har, aku nggak akan ngelarang.”
“Aku nggak nanya.”
“Aku cuma mau bilang satu hal.” Dia memasukkan HP-nya ke saku, yang untuk Fikri setara dengan mengambil sumpah. “Kalau kamu ngerjain sesuatu yang effort-nya kegedean, kamu bakal ngerasa berhak. Itu bukan salah kamu. Otak emang kayak gitu.”
“Aku nggak ngerasa berhak.”
“Belum.”
Bagas menyusul dari belakang dan menepuk bahuku dengan tenaga yang sama seperti hari-hari sebelumnya, karena Bagas tidak punya pengaturan volume.
“HAR! Katanya kamu bisa jahit?”
Aku hampir menjatuhkan kantong kertasnya.
“Siapa yang bilang?”
“Kanaya. Tadi di ruang OSIS.” Bagas berjalan mundur di depanku, senang sekali. “Itu keren banget, tahu nggak. Serius. Cowok bisa jahit itu langka.”
“Cuma dikit.”
“Kanaya bilang kamu bisa sampai selesai.”
Ada sesuatu yang jatuh dan mendarat di suatu tempat di dalam dadaku.
“...Dia bilang gitu?”
“Iya!” Bagas mengacungkan jempol, dua kali, lalu berlari ke arah lapangan. “Ajarin aku kapan-kapan, ya!”
Fikri menatap punggung Bagas yang menjauh.
“Dia beneran nggak tahu apa-apa, ya,” katanya pelan.
“Tahu apa?”
Fikri melirikku sebentar.
“Nggak,” katanya. “Nggak apa-apa.”
Yang harus diperbaiki bukan kampuh bahunya. Itu yang orang salah kira.
Kalau bahu kiri seseorang lebih rendah — karena kebiasaan, karena tas, karena tubuh manusia memang tidak pernah simetris — masalahnya bukan di jahitan bahu. Masalahnya di lubang lengan. Kainnya menarik dari sana, naik ke atas, dan berakhir di kerah.
Jadi aku membongkar lengan kirinya.
Seluruhnya. Dari ketiak, memutar ke atas, sampai ke pundak. Lalu aku memasangnya kembali dengan puntiran satu setengah senti ke belakang, dan menurunkan titik puncaknya delapan milimeter.
Ibu berhenti di belakangku sekali, melihat, dan berkata, “Turunin lagi dua mili.”
“Dua mili doang?”
“Dua mili itu beda antara pas sama hampir.”
Aku menurunkannya dua mili.
“Har.”
“Iya.”
“Ini seragam anak orang.”
“Iya.”
“Kamu bongkar lengannya sampai habis.”
“Iya.”
Ibu menaruh gunting benangnya di meja dan duduk di kursi kecil di seberangku, yang jarang sekali dia lakukan, karena ibuku itu jenis orang yang bicara sambil tetap bekerja.
“Kalau yang punya nanya berapa,” katanya, “kamu jawab apa?”
“Nggak usah bayar.”
“Har.”
“Aku nggak enak.”
“Kamu bongkar lengan, puntir satu setengah senti, turunin puncak, setrika uap.” Ibu menghitung dengan jarinya. “Di tempat orang itu enam puluh ribu. Dan nggak akan sebagus ini.”
“Ya udah nanti aku bilang enam puluh.”
“Kamu nggak akan bilang.”
Aku tidak menjawab.
Ibu menghela napas, lalu berdiri lagi.
“Ibu nggak pernah larang kamu ngerjain punya orang,” katanya sambil kembali ke mesinnya. “Tapi kalau kamu ngasih sesuatu yang nggak bisa dibales, orang itu jadi punya utang yang dia nggak minta. Terus lama-lama dia capek sendiri.”
“Ini cuma jahitan, Bu.”
“Iya,” kata ibu. “Sekarang.”
Jam sepuluh lewat, semuanya selesai. Aku menyetrikanya dengan kain lembab supaya bekas jahitan lamanya hilang, menggantungnya di gantungan kayu, dan berdiri agak jauh untuk melihatnya.
Bahunya jatuh lurus.
Dan seharusnya di situ aku berhenti.
Aku tidak berhenti.
Aku duduk lagi, membuka kotak paling bawah, dan mengeluarkan sisa pita kain putih yang biasa ibu pakai untuk label nama pesanan seragam anak SD.
Ibu punya alat kecil untuk menulis di pita itu — spidol kain yang tintanya tidak luntur kena air. Kalau kamu pernah punya seragam yang ada tulisan nama di balik kerahnya, itu bikinan orang seperti ibuku.
Aku memotong pita itu sepanjang empat senti.
Aku duduk memegang spidol lama sekali.
Sekar masuk membawa gelas, melihat pita putih di tanganku, dan langsung mengambil posisi jongkok di seberang meja seperti wartawan.
“Kak, itu buat nama?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Bukan apa-apa.”
“Kak, aku umur sembilan, bukan tiga.”
“Tidur, Sekar.”
“Ini baru jam sembilan.” Dia menopang dagu. “Kak, itu punya cewek yang kemarin nganterin Kakak pulang, ya?”
Aku menaruh spidolnya.
“Dari mana kamu tahu?”
“Bu Nur yang jual gorengan cerita ke Ibu, terus Ibu cerita ke Bude Sri, terus Bude Sri cerita ke aku.” Sekar menghitung dengan jari. “Terus aku cerita ke Ibu lagi, biar Ibu tahu aku tahu.”
“Gang ini kenapa sih.”
“Gangnya nggak apa-apa, Kak. Kakaknya aja yang aneh.”
Dia pergi sambil membawa gelasnya, dan aku ditinggal sendirian dengan pita kain empat senti.
Aku ingin mencatat, untuk kejujuran, bahwa aku tahu persis apa yang sedang aku lakukan. Aku bukan orang yang sedang khilaf. Aku sudah menghitung semuanya sejak semalam di depan kalender bunga itu, dan aku melakukannya justru karena sudah dihitung.
Kalau sesuatu punya tanggal berakhir, kamu punya dua pilihan.
Kamu bisa pura-pura tidak tahu, dan nanti waktu tanggalnya datang kamu akan merasa dicuri.
Atau kamu bisa menulisnya.
Menuliskannya membuatnya jadi kesepakatan. Dan kesepakatan itu tidak mencuri. Kesepakatan itu cuma selesai.
Aku menulis dengan huruf kapital kecil-kecil, sejajar, dengan jarak yang sama — tulisan tangan yang, menurut seseorang, mirip jahitan.
GARANSI 30 HARI
Lalu aku menjahitnya di balik kerah, di sisi dalam, di tempat yang cuma kelihatan kalau kerahnya dibalik.
Empat tusuk di setiap sudut. Benang putih.
Dan satu simpul merah di belakangnya, di tempat yang bahkan pita itu pun menutupinya.
“Kamu ngapain sih senyum-senyum sendiri?”
Kanaya membalik kerahnya di depan kelas, jam enam dua puluh, dengan seragam yang sudah dia pakai dan sudah dia putar-putar di depan kaca jendela selama dua menit penuh sambil bilang ini kok enak banget sebanyak empat kali.
“Aku nggak senyum.”
“Kamu senyum. Ini apa?” Dia menarik kerahnya ke depan, memicing. “Ga-ran-si... tiga puluh hari?”
“...Iya.”
“HARI.”
“Kenapa?”
“Kamu ngasih garansi?” Dia tertawa — bahunya naik dulu, baru suaranya. “Kayak servis HP?”
“Ibuku selalu ngasih label.”
“Ibu kamu nulis ‘garansi tiga puluh hari’ di baju orang?”
“...Enggak.”
“NAH.”
“Ibuku nulis nama pemiliknya.”
“Terus kenapa punyaku beda?”
Aku sudah menyiapkan tiga jawaban semalam. Aku menyiapkannya sungguh-sungguh, berbaring di kasur, seperti orang menghafal untuk lisan bahasa Inggris.
Yang keluar adalah jawaban keempat, yang tidak aku siapkan.
“Karena kalau ada yang rusak sebelum tiga puluh hari,” kataku, “berarti kerjaanku yang salah. Bukan kamu.”
Kanaya berhenti tertawa.
Dia memegang pita itu dengan ibu jari dan telunjuk, dan dia memegangnya agak lama.
“Terus kalau lewat tiga puluh hari?”
“Ya lewat.”
“Terus rusak?”
“Ya berarti bukan salah siapa-siapa.”
Ada bunyi kursi digeser di barisan depan. Ada anak yang lewat di koridor sambil menyeret sepatunya. Kelas mulai terisi.
“Aku nggak suka,” kata Kanaya.
“Kenapa?”
“Kenapa harus ada batesnya?”
Aku mengeluarkan buku dari tas dan menaruhnya di meja, sejajar dengan tepi.
“Semua ada,” kataku.
“Nggak semua.”
“Contoh?”
Dia membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
“Ya nanti aku pikirin,” katanya. “Nanti aku bilang.”
“Oke.”
“Serius, aku bakal bilang.”
“Iya.”
“Kamu bilang ‘iya’ dengan nada—”
“Iya.”
Dia menendang kaki kursiku pelan dari samping, dan itu adalah sentuhan pertama yang benar-benar disengaja di antara kami, dan sentuhan itu terjadi lewat kaki kursi.
“Nay.” Nadine berhenti di sebelah meja kami sambil membawa botol minum. “Seragammu kok beda?”
“Ini yang lama, kok.”
“Beda.”
“Ini seragam yang sama, Nad.”
“Bahunya beda.” Nadine memiringkan kepala. “Kamu biasanya kayak—” dia menarik bahunya sendiri ke atas, meniru.
“Aku emang gitu?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak kelas sepuluh?”
Kanaya berdiri, memutar bahunya sekali, dua kali, seperti orang yang baru bangun tidur di kasur orang lain.
“Ya ampun,” katanya. “Enteng banget.”
Dari meja belakang, Vania mengangkat kepalanya dari HP.
“Dijahit di mana, Nay?”
Kelas tidak sedang memperhatikan. Tidak ada yang berhenti bicara. Pertanyaan itu dilempar dengan nada paling biasa di dunia.
Aku menatap bukuku.
“Tukang jahit langganan,” kata Kanaya.
“Depan komplekmu?”
“Iya.”
“Bagus juga.”
“Iya, bagus.”
Vania kembali ke HP-nya.
Dan Kanaya duduk kembali tanpa melihat ke arahku sama sekali, dan menarik kursinya masuk, dan meletakkan kedua tangannya di meja dengan sangat rapi.
Aku tidak tahu apakah dia baru saja melindungi aku, atau melindungi dirinya sendiri, atau melindungi sesuatu yang belum punya nama.
Aku cuma tahu dia berbohong dengan sangat lancar, dan bahwa itu tidak mengejutkanku sedikit pun.
Bel berbunyi.
Dua puluh empat hari.
Sepanjang jam pertama, dia beberapa kali mengangkat tangan ke kerahnya. Bukan menarik. Cuma menyentuh, lalu turun lagi, seperti orang yang mengecek apakah anting-antingnya masih ada.
Aku menghitung berapa kali.
Tujuh.
Dan aku tahu persis bahwa aku sedang membuat pekerjaan yang jauh lebih sulit untuk diriku sendiri nanti, dan aku tetap menghitungnya sampai tujuh, dan aku ingin sekali menghitungnya sampai delapan.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari reading
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup