Chapter Forty Six
Hari Ke-11
[POV: Hari] · [Hari ke-355 sampai ke-366]
Aturannya dibuat hari Selasa, di teras, jam empat sore, dan yang membuatnya bukan aku.
“Har.”
“Hm?”
“Aku mau bikin aturan.”
“Oke.”
“Kamu belum denger.”
“Aku tetep oke.”
Kanaya duduk di lantai teras dengan punggung ke tembok, seperti dua tahun lalu waktu hujan yang biasa, waktu dia bilang rumahku berisik dan dia suka.
“Aturannya satu,” katanya. “Kita ngitung keras-keras.”
Aku menoleh.
“Tiap pagi,” lanjutnya. “Satu orang bilang angkanya, satu orang jawab. Nggak boleh pura-pura lupa.”
“Nay—”
“Aku serius, Har.”
“Kenapa?”
Dan Kanaya Larasati menyandarkan kepalanya ke tembok teras rumahku dan berkata:
“Karena kamu udah ngitung mundur seumur hidup sendirian,” katanya. “Dan menurutku itu bukan masalah ngitungnya.”
“Terus?”
“Masalahnya kamu ngitung sendirian.”
Jadi kami menghitungnya keras-keras.
Hari Rabu pagi, di teras, jam tujuh:
“Sepuluh.”
“Sepuluh.”
Dan itu saja. Tidak ada yang menangis. Kami sarapan.
Aku tidak akan berbohong dan bilang itu tidak sakit.
Aku akan bilang sesuatu yang lebih aneh: itu sakit dengan cara yang berbeda dari yang aku kenal.
Selama tiga puluh hari di bulan Mei tahun lalu, aku menghitung mundur di dalam kepalaku, di malam hari, di depan kalender bunga, dengan ibu jari di kertas yang menipis.
Sebelas hari di bulan Agustus itu aku menghitung mundur keras-keras, di teras, di depan orangnya, dengan orang yang menjawab.
Angkanya sama.
Yang berbeda: waktu kamu mengucapkan angkanya keras-keras dan ada yang menjawab, angka itu berhenti jadi rahasia dan mulai jadi jadwal.
Dan jadwal itu bisa diisi.
Sepuluh.
Kami mengemasi.
Rumah kami kecil, dan aku sudah mengira dua hari cukup, dan aku salah karena aku tidak memperhitungkan bahwa ibuku menjahit tiga puluh tahun di rumah itu.
Kain di paku sepanjang dinding: seratus dua puluh tiga potong.
Aku menghitungnya. Kanaya menuliskannya. Sekar mengklasifikasikannya berdasarkan sistem yang tidak dijelaskan kepada siapa pun.
“Sekar, ini kenapa dipisah?”
“Yang ini yang wanginya enak.”
“...Itu bukan kategori.”
“Itu kategori, Kak.”
Kotak-kotak plastik berisi resleting: sembilan.
Kaleng biskuit berisi kancing: empat, ditambah kaleng bekas permen di tasku yang isinya empat puluh empat kancing dari orang-orang yang tidak tahu kancingnya hilang.
Aku menaruh kaleng itu di kardus.
Kanaya melihat, dan tidak berkata apa-apa, dan mengambilnya keluar lagi dan menaruhnya di tas ranselku.
“Nay—”
“Itu bukan barang pindahan,” katanya. “Itu barang bawaan.”
Sembilan.
Bu Nur tahu hari Kamis.
Bukan dari kami. Dari tukang gerobak yang mengangkut kardus, yang bercerita ke tukang sayur, yang bercerita ke Bu Nur sebelum jam delapan pagi.
Jam sepuluh, ada tujuh orang di teras rumah kami.
Aku tidak mengarang. Tujuh: Bu Nur, Bu Sri, Bu Ningsih, Pak Darto, dua ibu-ibu dari gang sebelah yang aku tahu wajahnya tapi tidak tahu namanya, dan satu bapak-bapak yang ternyata suami Bu Sri dan yang belum pernah aku lihat seumur hidup.
Mereka tidak mengucapkan selamat tinggal.
Mereka membawa barang.
Bu Nur membawa satu kardus gorengan yang cukup untuk dua puluh orang. Bu Ningsih membawa amplop yang ibu tolak tiga kali dan akhirnya diterima karena Bu Ningsih mengancam menangis di teras. Pak Darto membawa dua lakban dan tidak berkata apa-apa selama satu jam sambil membantu mengikat kardus.
Dan waktu semuanya sudah pulang, ibu duduk di teras yang kosong dan menangis untuk pertama kalinya sejak ayah meninggal.
Aku duduk di sebelahnya.
Kanaya duduk di sisi lain.
Dan Sekar berdiri di depan kami bertiga sambil memegang buku tulisnya dan berkata, dengan suara yang sangat serius:
“Ibu, aku catet tujuh orang.”
“...Iya, Nak.”
“Nanti kalau kita balik, aku tandain siapa yang masih ada.”
Delapan.
Aku memberikan kotak jarumku hari Jumat.
Kotak plastik kecil, seukuran telapak tangan, yang aku bawa di tas sejak kelas sepuluh. Isinya: jarum tiga ukuran, benang putih, benang hitam, benang biru, gunting kecil, dan satu batang korek api yang sudah patah ujungnya.
“Har, ini punya kamu.”
“Iya.”
“Kamu bawa ini dari kelas sepuluh.”
“Iya.”
“Kamu bakal butuh.”
“Aku bisa beli lagi,” kataku. “Di sana ada toko.”
“Har—”
“Nay.” Aku menaruhnya di tangannya. “Kotak ini isinya nggak ada yang mahal. Seluruhnya nggak sampai dua puluh ribu.”
“Terus kenapa dikasihin?”
Dan aku menjawabnya di ruang jahit yang sudah kosong, dengan kardus di seluruh lantai, jam delapan malam.
“Karena kamu bakal jadi orang baru di kota yang kamu nggak kenal,” kataku. “Dan suatu hari nanti bakal ada yang nangis di kamar mandi gara-gara roknya sobek.”
Kanaya memegang kotak itu dengan dua tangan.
“Har, aku belum bisa nambal cabut benang.”
“Nggak usah,” kataku. “Yang nangis di kamar mandi itu nggak butuh nambal cabut benang. Dia butuh roknya nggak sobek lagi sebelum bel.”
Dia memberiku sesuatu malam itu juga.
Kain perca putih. Sepuluh kali sepuluh senti.
Penuh lubang bekas jarum sampai seratnya sendiri hampir menyerah. Empat kancing dengan jarak yang rata dan tusukan kelima yang meleset. Sepuluh tusukan jelujur di sudut kiri atas dengan jarak tiga koma satu milimeter.
Dan satu titik coklat kecil yang dulu merah.
“Nay, ini punya kamu.”
“Iya.”
“Kamu bilang bulan Mei tahun lalu. Kamu bilang ‘aku yang berdarah jadi ini punyaku’.”
“Iya,” katanya. “Aku ganti aturannya.”
Aku memegang kain itu.
“Kenapa?”
“Karena kamu bakal jadi orang baru di kota yang kamu nggak kenal,” katanya, “dan suatu hari nanti kamu bakal mikir kamu nggak ngerjain apa-apa yang berguna selama delapan belas tahun.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Terus kamu balik kain ini,” katanya, “dan kamu lihat ada orang yang ketusuk jarum empat puluh kali cuma biar bisa duduk di ruangan yang sama sama kamu.”
Tujuh.
Fikri, Bagas, Nadine, Regita.
Kami tidak menyebutnya perpisahan. Kami bilang “makan bareng”, di warung soto dekat sekolah, hari Sabtu jam tujuh malam.
Regita menangis di menit kedelapan.
“Regit.”
“AKU NGGAK NANGIS.”
“Regita, kamu nangis di atas sotomu.”
“ITU UAP.”
Bagas membayar semuanya diam-diam sebelum kami sadar, dan waktu ketahuan dia bilang “ini bukan apa-apa” dengan wajah orang yang jelas sudah menyiapkan kalimat itu sejak di rumah.
Fikri tidak bicara sampai jam sembilan.
Dan waktu semua orang sudah keluar warung, dia menahan lenganku.
“Har.”
“Hm?”
“Alamat lo.”
“Ha?”
“Alamat kontrakan lo di sana.” Dia mengeluarkan HP-nya. “Sebutin.”
“Fik, aku belum tahu persis—”
“Kalau udah tahu, kirim.”
“Buat apa?”
Dan Fikri memasukkan HP-nya ke saku, yang berarti serius.
“Har, gue main gacha lima tahun,” katanya. “Gue tahu satu hal soal karakter yang keluar dari party.”
“Apa.”
“Mereka nggak ilang,” katanya. “Mereka cuma nggak di layar.”
Dia memakai earphone-nya.
“Kirim alamatnya,” katanya. “Gue nggak akan nulis surat, gue males. Tapi gue mau tahu di mana lo.”
Lima.
Sekar hari Senin.
Aku sudah menyiapkan diri untuk ini selama sebelas hari, dan aku menyiapkannya dengan sangat serius, dan seluruh persiapanku tidak berguna sama sekali.
“Kak.”
“Hm?”
“Aku nggak mau pindah sekolah.”
“Sekar—”
“Aku udah punya temen empat orang.”
Dia duduk di lantai kamarnya yang sudah kosong temboknya, dengan gambar-gambar yang sudah dilepas dan ditumpuk di kardus, dan dia tidak menangis sama sekali, dan itu yang paling buruk.
“Sekar.”
“Aku nggak marah, Kak.”
“Kamu boleh marah.”
“Aku nggak marah sama Kakak.” Dia memeluk lututnya. “Aku marah sama ginjal.”
Aku duduk di lantai di sebelahnya.
“Kak.”
“Iya?”
“Aku boleh nanya satu?”
“Boleh.”
“Kalau nanti Ibu sembuh, kita balik ke sini?”
Dan aku duduk di lantai kamar adikku yang berumur sepuluh tahun, di rumah yang tinggal lima hari lagi jadi rumah kami, dan aku memutuskan sesuatu dalam waktu kurang dari dua detik.
Aku memutuskan untuk tidak berbohong.
“Ibu nggak akan sembuh, Sekar,” kataku.
Sekar mengangkat kepalanya.
“Ginjalnya nggak bisa balik,” kataku. “Yang bisa itu cuci darah, terus mungkin nanti ada donor, terus kalau ada donor Ibu bisa hidup lama banget. Tapi sembuh yang kayak flu itu nggak ada.”
Adikku memandangiku selama mungkin sepuluh detik.
“Oh,” katanya.
“Sekar—”
“Nggak apa-apa, Kak.” Dia mengusap matanya sekali dengan pergelangan tangan, gerakan yang persis sama dengan gerakanku, gerakan yang mungkin dia contoh dariku bertahun-tahun lalu. “Aku cuma pengen tahu yang bener.”
“Kamu marah sama aku?”
“Enggak.” Dia menyandarkan kepalanya ke lenganku. “Semua orang bohongin aku, Kak. Bude Sri bilang Ibu cuma capek. Bu Nur bilang nanti juga baikan.”
Dia menguap.
“Kakak yang pertama nggak bohong,” katanya.
Empat.
Kanaya bertanya soal uang.
Aku sudah menunggu pertanyaan itu sejak hari kesebelas, dan aku sudah menyiapkan tiga jawaban, dan ternyata semuanya tidak berguna karena dia tidak bertanya dengan cara yang aku duga.
“Har.”
“Hm?”
“Aku mau nanya sesuatu dan aku mau kamu jawab jujur, terus abis itu aku nggak akan bahas lagi.”
“Oke.”
“Kalau aku nawarin bantu bayar,” katanya, “kamu bakal nolak?”
“Iya.”
“Selalu?”
“Selalu.”
“Kenapa?”
Aku menaruh lakban yang sedang aku pegang.
“Karena kalau kamu bayarin,” kataku, “tiap kali ibu cuci darah, aku bakal mikirin kamu.”
“Har, itu—”
“Dua kali seminggu, Nay. Seumur hidup.” Aku memandangi kardus di lantai. “Aku nggak sanggup punya utang yang tagihannya dateng dua kali seminggu selamanya.”
Kanaya duduk di lantai di antara kardus-kardus itu.
“Oke,” katanya.
“Nay—”
“Aku bilang oke, Har.”
“Kamu nggak marah?”
“Aku marah banget,” katanya. “Tapi aku udah nanya, dan kamu udah jawab, dan perjanjiannya segitu.”
Dan dia melanjutkan melipat kain, dan aku melanjutkan melakban kardus, dan tidak ada satu pun dari kami yang membahasnya lagi selama sisa sebelas hari itu.
Aku ingin mencatat bahwa aku lega.
Aku ingin mencatat juga bahwa lega itu bertahan sekitar empat bulan.
Tiga.
Aku menyerahkan buku catatan coklat itu ke ibu.
Bukan ke Kanaya. Ke ibu.
“Har, ini punya kamu.”
“Ini arsip, Bu.”
“Ini buku kamu dari umur empat belas.”
“Bu.” Aku menaruhnya di atas kardus. “Di dalamnya ada ukuran empat ratus dua puluh orang.”
Ibu membukanya.
Dia membalik halamannya, satu per satu, dan berhenti agak lama di beberapa tempat, dan aku tahu persis halaman mana yang membuatnya berhenti.
“Har.”
“Iya, Bu.”
“Yang ini.” Dia menunjuk. “Yang judulnya.”
Halaman yang tidak punya kolom tanggal.
TIDAK BISA DIPERBAIKI
Tiga baris. Yang pertama namaku sendiri, dicoret dengan garis miring yang ujungnya turun dan tintanya menipis di tengah, dengan tiga kata di sebelah kanannya. Yang kedua nama Kanaya, dengan satu kata yang aku coret pakai penggaris bulan Agustus tahun lalu.
“Bu, itu—”
“Ibu nggak nanya,” katanya, dan menutup bukunya.
Lalu dia membukanya lagi, ke bagian belakang, ke halaman yang aku tulis bulan Desember.
MASIH DIKERJAKAN
Dua baris.
Baskara, Hari — (—) — mulai 8/12
SMA 3 — baut meja lab, 7 buah — 245
Ibu mengambil pulpen dari gelas di meja.
“Bu?”
Dan ibuku menulis satu baris di bawahnya, dengan tulisan tangan yang tidak sebagus tulisanku, dengan tangan yang sudah tidak stabil dua tahun ini:
Baskara, Ratih — ginjal — mulai 29/1
“Nah,” katanya, dan menutup bukunya, dan memasukkannya ke tasnya sendiri. “Sekarang ada dua.”
Dua.
Sabtu terakhir.
Tidak ada mesin. Tidak ada kain. Ruang jahit itu tinggal empat dinding dan satu jendela dan dua persegi panjang di lantai dan tembok.
Kami duduk di lantai.
“Har.”
“Hm?”
“Sabtu ke berapa?”
Aku sudah tahu angkanya sejak bangun tidur.
“Tiga puluh enam,” kataku.
Kanaya menyandarkan kepalanya ke tembok.
“Aku nggak pernah nanya,” katanya, “berapa jam total.”
“Seratus delapan puluh empat.”
“HARI.”
“Kamu yang nanya.”
“AKU NANYA RETORIS.”
“Kamu nanya jumlah.”
Dan dia memukul lenganku, dan aku bilang aduh walaupun tidak sakit, dan kami duduk di ruangan kosong itu sampai jam dua siang tanpa mengerjakan apa pun.
Itu satu-satunya hari Sabtu dalam empat belas bulan di mana tidak ada satu pun dari kami yang memegang jarum.
Satu.
Dua belas Agustus.
Kereta jam tujuh empat puluh.
Aku mengantarnya ke stasiun.
Dia yang memaksa, dan aku menolak dua kali, dan aku kalah karena dia mengucapkan satu kalimat yang tidak bisa aku lawan:
“Har, kamu udah ngatur semuanya biar aku nggak lihat kamu pergi,” katanya. “Kasih aku satu yang aku yang atur.”
Stasiun jam tujuh pagi itu penuh.
Bu Endang mengantarnya dengan mobil dan menurunkan koper di depan dan pamit karena harus ke suatu tempat, dan tinggal kami berdua di peron dengan dua koper dan satu tas ransel.
Kami tidak bicara banyak.
Aku sudah menyiapkan enam kalimat semalam. Aku menyiapkannya sungguh-sungguh, berbaring di kasur di kamar yang sudah kosong, dan aku menghafalnya seperti orang menghafal untuk lisan.
Aku tidak memakai satu pun.
Yang kami bicarakan di dua puluh menit terakhir itu, kalau ditulis, isinya begini:
Apakah kursi keretanya menghadap depan atau belakang (menghadap belakang, dan dia mengeluh).
Berapa lama perjalanannya (tujuh jam empat puluh menit, dan aku menyebutkan angkanya, dan dia bilang “kamu ngecek?“, dan aku bilang “iya”).
Apakah dia sudah membawa obat mabuk (belum, dan aku membelikannya di kios stasiun, dan dia protes, dan aku bilang ini enam ribu, dan dia diam).
Apakah kotak jarum yang aku berikan ada di tas kabin atau di koper (di tas kabin, katanya, “soalnya kalau di koper, kalau ada yang butuh aku nggak bisa ambil”).
Tidak satu pun penting.
Dan aku berdiri di peron stasiun jam setengah delapan pagi dan menyadari bahwa aku sudah tahu ini dari bulan Januari tahun lalu, dari dua puluh menit jalan kaki ke halte setiap sore:
ada jenis percakapan yang gunanya bukan menyampaikan apa-apa.
Gunanya cuma supaya dua orang masih ada di ruangan yang sama.
“Har.”
“Hm?”
“Berapa?”
“Satu.”
“Satu,” ulangnya.
Dan itu terakhir kalinya kami mengucapkan angkanya keras-keras.
Keretanya datang jam tujuh tiga puluh lima.
“Nay.”
“Hm?”
“Nay.”
Dia berhenti mengangkat kopernya.
“Iya, Har?”
Dan aku berdiri di peron stasiun jam setengah delapan pagi dengan koper orang di tanganku, dan aku mengucapkan satu-satunya kalimat yang aku susun semalam dan tidak aku hafal, karena kalimat itu datang jam tiga pagi dan aku tidak menuliskannya karena aku takut kalau ditulis dia akan berubah.
“Aku nggak nyesel satu pun,” kataku.
Kanaya menutup mulutnya dengan punggung tangan.
“Bukan tiga puluh hari,” kataku. “Bukan tujuh bulan. Nggak ada satu pun.”
“Har—”
“Aku cuma mau kamu bawa itu,” kataku. “Sisanya terserah kamu.”
Dan dia memelukku di peron stasiun di depan entah berapa orang, dan aku tidak melepas duluan, dan dia juga tidak.
Yang melepas kami adalah petugas yang meniup peluit.
Nol.
Tiga belas Agustus.
Kami berangkat jam enam pagi naik travel yang disewa Pak Darto dengan harga yang aku yakin sudah dia bayari sebagian dan tidak akan pernah dia akui.
Yang mengantar di mulut gang: Bu Nur, Bu Sri, Bu Ningsih, Pak Darto, dan empat anak SD teman Sekar yang bangun jam setengah enam untuk berdiri di gang.
Bu Nur menangis dan bilang dia tidak menangis.
Sekar membagikan gambar ke empat temannya, satu-satu, yang dia buat semalam, dan berkata “nanti aku kirim lewat Ibu” walaupun tidak ada satu pun dari mereka yang punya HP.
Ibu masuk mobil terakhir.
Dan sebelum masuk, dia berdiri di depan pagar besi rendah rumah kami selama mungkin dua puluh detik, memandangi teras yang jemurannya sudah tidak ada, dan tidak berkata apa-apa sama sekali.
Aku tidak menghitung dua puluh detik itu.
Aku ingin mencatat itu, karena itu satu-satunya hal dari pagi itu yang aku pilih dengan sadar.
Mobilnya keluar gang jam enam lewat sepuluh.
Aku duduk di kursi belakang di sebelah Sekar, dengan tas ransel di pangkuan, dan di dalam tas ransel itu ada kaleng bekas permen berisi empat puluh empat kancing dan satu kain perca putih dengan titik coklat kecil.
Aku tidak menoleh ke belakang.
Bukan karena aku kuat. Karena aku sudah menghitung semua versinya semalam dan yang itu aku tidak sanggup.
Dan waktu mobil itu sudah lewat pasar lama dan masuk jalan besar, Sekar menarik lengan bajuku.
“Kak.”
“Hm?”
“Kakak lupa ngitung.”
Aku menoleh ke arah adikku.
“Ngitung apa?”
“Pagi ini,” katanya. “Kita belum ngitung.”
Dan aku duduk di kursi belakang mobil travel yang keluar dari kota itu jam enam lewat sepuluh pagi, dan aku sadar bahwa Sekar berdiri di teras selama sebelas hari terakhir mendengarkan kami menghitung setiap pagi, dan tidak ada satu pun dari kami yang tahu dia mendengarkan.
“Nol,” kataku.
Sekar memikirkan itu.
“Terus besok berapa?”
Dan aku duduk di situ dengan tas di pangkuan dan tidak punya jawabannya.
Karena besok bukan minus satu.
Besok bukan apa-apa. Besok adalah hari pertama dari sesuatu yang tidak punya angka sama sekali, dan aku sudah delapan belas tahun dan aku belum pernah sekali pun berdiri di depan sesuatu seperti itu tanpa membuat tanggalnya sendiri.
“Nggak tahu, Sekar,” kataku.
Dan adikku menyandarkan kepalanya ke lenganku dan tidur sebelum mobil itu keluar dari kota.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11 reading
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup