← Garansi Seumur Hidup

Chapter Twenty Two

Pertanyaan Bagas

[POV: Kanaya] · [Hari ke-54]


Ada satu hal yang tidak pernah diceritakan orang tentang kehilangan reputasi di sekolah: yang paling melelahkan bukan penghinaannya.

Yang paling melelahkan adalah kesopanannya.

Tidak ada yang meneriakiku di koridor. Tidak ada yang menulis apa pun di mejaku. Dua bulan lalu aku akan menyebut itu keberuntungan.

Yang terjadi jauh lebih halus: percakapan yang berhenti setengah detik lebih cepat waktu aku lewat. Undangan yang tidak sampai. Orang yang tetap ramah, tetap menyapa, tetap tersenyum — dan tidak pernah lagi menanyakan pendapatku tentang apa pun.

Selama dua tahun aku adalah orang yang ditanya.

Sekarang aku orang yang disapa.

Aku bertahan tiga minggu di posisi itu, dan aku bertahan dengan cara yang paling aku kuasai: aku sibuk. Aku belajar. Aku mengerjakan semua tugas dua hari lebih awal. Aku menghabiskan jam kosong di perpustakaan karena perpustakaan adalah satu-satunya ruangan di sekolah ini yang memang seharusnya sepi.

Hari Kamis sore, Bagas menghentikanku di depan perpustakaan.

“Nay, aku mau ngomong. Sepuluh menit. Di lapangan basket.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

“Gas, aku—”

“Aku udah nyiapin ini tiga minggu,” katanya. “Kalau nggak sekarang, aku bakal nyiapin tiga minggu lagi.”

Jadi aku ke lapangan basket.


Jam empat sore. Lapangan kosong. Ring yang sebelah utara jaringnya sudah bolong sejak zaman kakak kelas.

Bagas berdiri di garis tiga angka sambil memegang bola yang dia tidak pantulkan sekali pun, yang buatku adalah tanda paling jelas bahwa dia gugup, karena Bagas Mahardika tidak bisa memegang bola tanpa memantulkannya.

“Aku suka kamu.”

Tidak ada pembukaan. Tidak ada basa-basi.

“Dari kelas sepuluh semester dua,” lanjutnya. “Waktu kamu benerin jadwal try out gara-gara ada yang bentrok sama lomba, terus kamu ngerjain itu tiga hari sampai malem dan nggak ada yang tahu.”

“Gas—”

“Aku belum selesai.” Dia menarik napas. “Aku tahu waktunya jelek. Aku tahu ini bulan paling jelek buat ngomong beginian. Aku mikirin itu tiga minggu.”

“Terus kenapa tetep ngomong?”

“Karena kalau aku nunggu waktu yang bagus,” katanya, “aku bakal nunggu sampai kamu udah baikan sama dia. Terus aku bakal ngerasa aku orang yang sabar dan baik, padahal aku cuma pengecut.”

Aku berdiri di lapangan basket sore itu dan menyadari sesuatu yang membuatku merasa jauh lebih kecil dari yang seharusnya:

Bagas jauh lebih jujur daripada aku, dan selalu begitu, sejak dulu.


“Gas.”

“Iya.”

“Aku nggak bisa.”

“Aku tahu.”

“Aku bahkan nggak bisa mikirin ini sekarang.”

“Aku tahu.”

“Dan aku nggak akan bilang ‘nanti’ atau ‘siapa tahu suatu saat’, karena itu jahat.” Aku memaksa diriku untuk melihat wajahnya. “Jawabannya enggak, Gas. Bukan sekarang-enggak. Enggak.”

Bagas mengangguk.

Lalu dia memantulkan bolanya sekali — akhirnya — dan bunyi itu memantul di lapangan kosong.

“Oke,” katanya.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Enggak.”

Aku berkedip.

“Aku nggak apa-apa nanti,” katanya. “Sekarang aku nggak apa-apa banget. Tapi aku lebih milih ini daripada nggak tahu.”

“Gas, kamu tuh—”

“Jangan bilang aku baik.”

Aku berhenti.

“Semua orang bilang aku baik,” katanya. “Terus abis itu mereka milih orang lain. Aku udah kenal urutannya.”

“Bagas.”

“Nggak apa-apa, Nay. Serius.” Dia memantulkan bolanya lagi. “Aku cuma lagi nggak mau denger kata itu hari ini.”

Kami diam beberapa detik.

“Kamu marah sama Hari?” tanyaku.

Bagas menghentikan bolanya dengan telapak tangan.

“Enggak.”

“Sedikit pun?”

“Nay, gimana caranya aku marah sama dia.” Dia mengangkat bahu. “Kalau dia menang karena dia lebih ganteng, aku bisa marah. Kalau dia menang karena bapaknya kaya, aku bisa marah.”

“Terus?”

“Dia menang karena dia nungguin orang di belakang perpus empat puluh menit waktu kelas sembilan,” katanya. “Terus tetep jadi orang baik.”

Dia melempar bolanya ke arah ring dan meleset.

“Aku nggak bisa ngalahin itu, Nay. Nggak ada yang bisa.”

“Nay.”

“Iya?”

Dan di situ dia mengubah nadanya, dan aku tidak siap sama sekali.


“Boleh aku nanya sesuatu?”

“Boleh.”

“Aku nanya bukan buat nyakitin kamu. Sumpah.” Dia memutar bola di tangannya. “Aku nanya karena aku beneran nggak ngerti, dan aku udah mikirin ini tiga minggu, dan aku nggak bisa nanya ke siapa-siapa.”

“Tanya aja.”

“Kamu masih ngejar dia, kan?”

“...Iya.”

“Kenapa?”

Aku sudah punya jawabannya. Aku sudah menyusunnya berhari-hari, di ruang tamu, di lantai kamar, di jam tiga sampai jam tujuh yang sekarang kosong.

“Karena aku salah sama dia,” kataku. “Dan aku mau benerin.”

Bagas berhenti memutar bolanya.

“Nah,” katanya. “Itu.”

“Itu apa?”

“Nay, dengerin dulu, ya, aku nggak pinter ngomong.” Dia menggaruk kepalanya. “Kamu bilang ‘aku mau benerin’.”

“Iya.”

“Benerin apa?”

“Ya... keadaannya.”

“Keadaan siapa?”

Aku membuka mulut.

Dan aku tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena aku sudah tahu jawabannya sebelum sampai ke lidah, dan jawabannya bukan keadaan dia.


Bagas duduk di lantai lapangan dengan bola di pangkuan.

“Aku pernah ngerusakin motor bokap,” katanya. “Kelas sembilan. Aku bawa keluar diem-diem, aku nyerempet pagar, spakbornya penyok.”

“Gas—”

“Sabar, ini nyambung.”

Aku duduk di sebelahnya, dua meter, dengan tas di pangkuan.

“Terus aku panik,” lanjutnya. “Aku beli spakbor baru pakai tabungan aku, aku pasang sendiri sampai jam dua pagi, aku ngeluarin semua uang aku. Aku nggak tidur.”

“Terus?”

“Terus paginya bokap lihat, terus dia diem, terus dia bilang: ‘kamu benerin motornya, atau kamu benerin perasaan kamu sendiri?‘”

Lapangan itu sepi. Ada suara bola dari lapangan sebelah.

“Aku nggak ngerti waktu itu,” kata Bagas. “Aku umur lima belas, aku mikir bokap gue nggak masuk akal, gue kan udah beliin spakbor.”

“Terus kapan ngertinya?”

“Waktu dia nanya, ‘kalau motornya nggak bisa dibenerin, kamu bakal ngapain?‘” Bagas mengangkat bahu. “Dan aku nggak punya jawaban. Karena semua yang aku lakuin itu tujuannya biar spakbornya balik kayak semula. Nggak ada satu pun yang tujuannya bokap.”

Aku memegang tali tasku terlalu erat.

“Nay, aku mau nanya,” katanya, dan dia menoleh ke arahku, dan wajahnya sama sekali tidak sedang menyerang.

“Tanya.”

“Kalau Hari pindah sekolah minggu depan,” katanya, “terus kamu nggak akan pernah ketemu dia lagi seumur hidup—”

Aku menahan napas.

“—kamu masih mau ngelakuin sesuatu buat dia?”


Aku tidak bisa menjawab.

Bukan karena aku tidak tahu jawabannya. Aku tahu jawabannya. Jawabannya iya, dan aku sangat ingin mengucapkannya, dan aku sangat ingin mengucapkannya dengan cepat.

Dan justru karena aku sangat ingin mengucapkannya dengan cepat, aku tidak bisa mempercayainya.

Aku duduk di lantai lapangan basket dan melakukan hal yang paling aku benci di dunia ini, yaitu memeriksa niatku sendiri dengan jujur.

Selama tiga minggu terakhir, semua yang aku lakukan punya penonton.

Pengakuan di depan kelas: tiga puluh satu orang.

Mengundurkan diri dari panitia: Bu Sari, surat, arsip.

Datang ke Gang Melati: dia ada di rumah, dia bisa lihat, dia bisa tahu.

Bahkan gulungan benang merah di meja kamarku — aku menaruhnya di tempat yang kelihatan dari pintu.

Untuk siapa? Rumahku kosong. Tidak ada yang masuk kamarku. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan melihat gulungan benang itu selain aku.

Dan aku tetap menaruhnya di tempat yang kelihatan dari pintu.

“Aku nggak tahu, Gas,” kataku akhirnya.

Bagas mengangguk pelan.

“Itu jawaban yang bagus,” katanya.

“Itu jawaban yang jelek.”

“Enggak.” Dia berdiri dan menepuk celananya. “Kalau kamu bilang ‘iya’ langsung, aku nggak akan percaya. Kamu terlalu pinter ngomong buat aku percaya jawaban cepet.”


Dia sudah setengah jalan ke pinggir lapangan waktu aku memanggilnya.

“Gas.”

“Iya?”

“Kenapa kamu ngomong ini ke aku?”

Aku benar-benar ingin tahu. Aku baru saja menolaknya. Secara hitung-hitungan, orang yang baru ditolak tidak seharusnya memberi peta ke orang yang menolaknya.

Bagas memantulkan bolanya dua kali.

“Karena Hari benerin kancing blazer aku bulan April,” katanya.

Aku mengangkat kepala.

“Dua kancing. Lepas pas lomba. Aku taruh di loker, besoknya udah ada lagi.” Dia memandangi ring yang jaringnya bolong. “Aku pikir itu pak satpam. Aku beneran mikir gitu selama dua bulan.”

“Bagas—”

“Aku baru tahu dua minggu lalu, waktu ada anak kelas sepuluh cerita soal buku catatan.” Dia tersenyum, tapi senyumnya jelek. “Ternyata namaku ada di situ, Nay. Sama tanggalnya.”

Dia melempar bola ke ring. Masuk.

“Jadi aku nggak lagi ngebantuin kamu,” katanya. “Aku lagi ngebayar dua kancing.”

“Gas.”

“Hm?”

“Kamu udah bilang makasih ke dia?”

Bagas mengambil bolanya dari bawah ring dan berdiri di situ agak lama, membelakangi aku.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku bilang makasih, dia bakal bilang nggak apa-apa.” Suaranya berubah. “Terus aku bakal ngerasa enteng. Terus urusannya selesai buat aku, dan nggak selesai buat dia.”

Dia melempar bola dan meleset lagi.

“Jadi aku simpen dulu,” katanya. “Aku bakal bilang makasih pas aku udah bisa ngelakuin sesuatu yang setara.”

“Gas, itu bisa lama banget.”

“Iya.”

“Bisa bertahun-tahun.”

“Iya.” Bagas mengambil tasnya. “Ya udah, bertahun-tahun.”


Aku pulang jalan kaki.

Empat puluh menit, lewat komplek yang jalannya lebar dan pohonnya tinggi, dan aku sampai rumah waktu lampunya sudah menyala semua.

Aku naik ke kamar dan duduk di lantai dan mengambil gulungan benang merah dari mejaku.

Sepuluh ribu. Benang merah biasa.

Aku memutar-mutarnya di tangan selama mungkin setengah jam, dan aku memikirkan pertanyaan Bagas dari semua sisi, seperti orang membalik kain di bawah lampu.

Kalau dia pindah sekolah minggu depan dan kamu nggak akan pernah ketemu dia lagi — kamu masih mau ngelakuin sesuatu buat dia?

Dan aku mengerti sesuatu jam sembilan malam itu, dan begitu aku mengerti, aku tidak bisa tidak mengerti lagi.

Selama tiga minggu aku mencoba memperbaiki keadaan dengan satu-satunya keahlian yang aku punya: menata.

Aku menata pengakuan. Aku menata konsekuensi. Aku menata jadwal datang ke rumahnya. Aku bahkan menata cara aku hancur.

Dan menata itu selalu, selalu punya satu ciri: hasilnya harus kelihatan.

Kamu tidak bisa menata sesuatu tanpa ada yang melihat hasilnya. Itu bukan sifat aku; itu sifat pekerjaannya. Rundown yang tidak ada acaranya bukan rundown. Jadwal yang tidak ada yang ikut bukan jadwal.

Sedangkan orang yang aku hancurkan itu punya keahlian yang persis kebalikannya.

Dia menjahit sesuatu supaya tidak ada yang tahu itu pernah rusak.

Dia mengunci pekerjaannya dengan simpul di sisi dalam, di tempat yang tidak akan pernah dilihat siapa pun, dan waktu aku tanya kenapa, dia bilang: nggak semua yang ada harus keliatan.

Selama tiga puluh hari aku duduk di sebelah orang itu dan mengagumi hal itu.

Dan waktu giliranku membayar, aku membayarnya di depan tiga puluh satu orang.

Aku duduk di lantai kamarku dan memikirkan satu hal lagi yang bahkan lebih memalukan.

Waktu Hari mengembalikan kotak pensilku di kelas kosong sore itu, dia sudah mencucinya. Dengan sikat gigi bekas dan sabun cair. Empat menit, bukan lima.

Dia tidak menyebutkannya sampai aku yang bertanya.

Kalau aku yang melakukannya — kalau aku yang mencuci kotak pensil orang sampai bersih jam sepuluh malam — aku akan memastikan dia tahu. Tidak dengan mengatakannya; aku terlalu halus untuk itu. Aku akan menyerahkannya sambil bilang “ini agak kotor tadi, jadi aku bersihin dikit”, dengan nada yang enteng, supaya dia mengerti tanpa aku terlihat minta dihargai.

Aku tahu persis kalimatnya. Aku bahkan tahu nada suaranya.

Itu yang paling menakutkan: aku bisa menyusun kalimat itu dalam dua detik, tanpa berpikir, dari kebiasaan.

Ada orang yang menyembunyikan pekerjaannya di balik lipatan kelim.

Dan ada orang yang menyembunyikan tagihannya di dalam kalimat yang terdengar rendah hati.

Kami dua-duanya menyembunyikan sesuatu.

Cuma isinya beda.


Aku turun ke dapur jam sepuluh malam dan membuka kulkas dan menutupnya lagi tanpa mengambil apa-apa.

Rumahnya terang. Semua lampunya menyala. Mbak Yah sudah pulang jam lima.

Aku berdiri di dapur yang bersih sekali, di rumah yang bersih sekali, di mana tidak ada satu pun benda yang sedang dikerjakan.

Dan aku mulai membuat daftar di kepalaku, karena aku memang tidak bisa berhenti membuat daftar, tapi kali ini daftarnya berbeda.

Apa yang bisa aku lakukan untuk orang yang tidak mau bertemu denganku?

Bukan: apa yang bisa aku lakukan supaya dia mau bertemu denganku.

Yang pertama. Yang benar-benar pertama.

Dan jawabannya sangat pendek, karena ternyata kalau kamu buang semua yang ada penontonnya, yang tersisa tinggal sedikit sekali.

Aku tidak bisa minta maaf lagi. Sudah. Ditolak, dengan sopan, dua kali.

Aku tidak bisa menjelaskan. Dia tidak mau dengar, dan dia benar.

Aku tidak bisa memberi apa-apa. Semua yang aku beri akan jadi utang, dan orang itu sudah menghabiskan seluruh hidupnya menghindari utang.

Yang tersisa cuma satu hal, dan hal itu bahkan tidak menyentuh dia sama sekali.

Aku bisa jadi orang yang bisa mengerjakan sesuatu yang tidak kelihatan.

Bukan supaya dia tahu.

Justru supaya dia tidak tahu.


Aku menelepon nomor Tante Ratih jam setengah sebelas malam.

Aku tahu itu jam yang tidak sopan. Aku menelepon juga, karena kalau aku menunggu sampai besok pagi aku akan menyusun kalimat, dan kalau aku menyusun kalimat, aku akan mengaturnya, dan kalau aku mengaturnya, aku akan mengulang seluruh kesalahan yang sama.

Dia mengangkat di dering keempat.

“Halo?”

“Tante.” Suaraku sudah rusak di kata pertama. “Ini Kanaya.”

Ada jeda. Ada bunyi mesin jahit yang berhenti di latar belakang.

“Iya, Nak.”

“Tante.” Aku menutup mataku. “Ajarin saya jahit.”

Hening.

Cukup lama sampai aku sempat mendengar bunyi kipas di rumah itu, dan bunyi TV yang kecil sekali, dan satu suara anak kecil yang bertanya siapa yang menelepon.

“Kenapa tiba-tiba?” tanya Tante Ratih.

Aku sudah menyiapkan tiga jawaban di sepanjang jalan pulang tadi. Semuanya bagus. Semuanya masuk akal.

Aku membuang ketiganya.

“Karena itu satu-satunya hal yang bisa saya lakuin yang nggak ada gunanya buat saya,” kataku.

Hening lagi.

“Tante, kalau Tante nggak mau, saya ngerti. Saya nggak—”

“Nak Kanaya.”

“Iya, Tante?”

“Ada syaratnya.”

Aku menahan napas.

“Satu, ibu nggak akan cerita ke Hari.” Suaranya rata, seperti orang membacakan harga. “Dan kamu juga nggak boleh cerita. Kalau kamu cerita, berhenti.”

“Iya, Tante.”

“Dua, kamu dateng hari Sabtu jam sembilan. Har hari Sabtu nganterin pesanan sampai jam satu.”

“Iya.”

“Tiga.” Ada jeda. “Ini yang paling penting, jadi ibu mau kamu dengerin baik-baik.”

“Iya, Tante.”

“Kalau kamu belajar ini biar suatu saat dia tahu,” kata Tante Ratih, “nggak usah dateng.”

Aku duduk di lantai dapur rumahku yang bersih sekali, dengan HP menempel di telinga, dan aku menjawab dengan satu-satunya kalimat jujur yang aku punya malam itu:

“Saya nggak tahu, Tante. Tapi saya bakal dateng hari Sabtu.”

Tante Ratih menghela napas.

“Ya udah,” katanya. “Bawa jari yang banyak.”