← Garansi Seumur Hidup

Chapter Twenty Four

Jari yang Tertusuk

[POV: Kanaya] · [Hari ke-61 sampai ke-96]


Sabtu pertama aku sampai jam sembilan kurang sepuluh dan berdiri di mulut Gang Melati selama sembilan menit.

Bukan karena ragu.

Karena aku tidak tahu apakah aku boleh masuk lewat gang itu.

Terdengar bodoh, aku tahu. Gang itu jalan umum. Ada anak-anak main di situ, ada ibu-ibu jemur kain, ada tukang sayur. Tidak ada yang bisa melarangku lewat.

Tapi aku sudah sembilan kali masuk gang itu sebagai orang yang ditunggu, dan hari itu aku masuk sebagai orang yang datang waktu pemiliknya tidak ada di rumah.

Bu Nur melihatku dari warungnya.

Aku menyiapkan diri untuk apa saja. Sindiran. Pertanyaan. Diam.

“Non!” Dia melambai dengan sutil. “Mampir!”

“Nanti ya, Bu.”

“Awas lho, ibu tunggu!”

Aku berjalan masuk ke gang dengan mata yang tiba-tiba panas, karena ternyata yang paling susah ditanggung bukan orang yang tahu.

Yang paling susah ditanggung adalah orang yang tidak tahu apa-apa dan tetap ramah.


“Duduk.”

Tante Ratih menaruh kursi kecil di seberang mejanya, bukan di meja sudut tempat Hari biasa bekerja.

“Aturan pertama,” katanya, sambil membuka laci. “Ibu nggak akan bilang kamu bagus.”

“Iya, Tante.”

“Kalau bagus, ibu diem. Kalau jelek, ibu bilang.”

“Iya.”

“Aturan kedua.” Dia menaruh kotak jarum, gulungan benang, dan setumpuk kain perca di meja. “Kamu nggak boleh nanya soal Hari. Sekali pun.”

Aku menelan ludah.

“Boleh saya nanya kenapa?”

“Boleh.”

“Kenapa, Tante?”

“Karena kalau kamu nanya,” katanya, “berarti kamu dateng buat itu.”

Dia menyerahkan jarum kepadaku, ujung dulu, dengan cara orang menyerahkan gunting kepada orang yang belum pernah memegang gunting.

“Aturan ketiga,” katanya. “Kalau tanganmu berdarah, ibu nggak akan berhenti.”


Aku mau menuliskan bagaimana rasanya belajar menjahit di umur tujuh belas, dan aku akan menuliskannya apa adanya, karena bagian ini tidak ada yang indah.

Rasanya seperti dihina oleh benda mati.

Aku ranking dua paralel. Aku bisa menyusun jadwal empat acara sekaligus di kepalaku. Aku bisa membaca ruangan berisi tiga puluh orang dalam lima detik dan tahu siapa yang tidak nyaman.

Dan aku tidak bisa membuat sepuluh tusukan dengan jarak yang sama.

Bukan tidak bisa dalam artian belum sempurna. Tidak bisa dalam artian: tusukan pertama tiga milimeter, kedua tujuh, ketiga dua, keempat masuk ke jalur yang salah, kelima menarik kainnya sampai berkerut seperti kulit orang tua.

“Bongkar.”

“Tante, ini tinggal—”

“Bongkar.”

Aku membongkarnya. Enam belas kali di Sabtu pertama. Aku menghitungnya, karena aku menghitung segala sesuatu, karena itu penyakitku.

Jam dua belas, Tante Ratih mengambil kain percaku, melihatnya sepuluh detik, dan menaruhnya kembali.

“Minggu depan jam sembilan,” katanya.

“Tante—”

“Apa?”

“Ini... bagus nggak?”

“Ibu udah bilang aturan pertama.”

Dia berdiri dan pergi ke dapur.

Aku duduk di ruang jahit itu sendirian selama beberapa detik dengan sepuluh tusukan paling jelek yang pernah dibuat manusia di pangkuanku, dan aku menyadari sesuatu:

dia tidak bilang jelek.


Sabtu kedua lebih buruk dari yang pertama.

Ini bukan kiasan juga. Secara terukur, hasilku lebih jelek. Tante Ratih menyuruhku membongkar dua puluh satu kali.

“Tante, kok makin jelek?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena minggu lalu kamu belum tahu apa yang salah,” katanya. “Sekarang kamu tahu, jadi kamu mikir. Kalau mikir, tanganmu kaku.”

“Terus gimana?”

“Ya diterusin sampai nggak mikir lagi.”

“Berapa lama?”

Tante Ratih mengangkat kepalanya dari mesinnya.

“Nak Kanaya, kamu nanya ‘berapa lama’ empat kali pagi ini.”

“...Maaf, Tante.”

“Nggak apa-apa. Ibu cuma ngasih tahu.” Dia kembali menjahit. “Orang yang nanya berapa lama itu lagi ngitung kapan boleh berhenti.”

Aku tidak bertanya berapa lama lagi sesudah itu.

Bukan karena aku berhenti ingin tahu. Karena aku takut ketahuan sedang menghitung.


Bulan pertama isinya begini:

Tusuk jelujur. Tusuk balik. Tusuk feston. Menjahit dua potong kain lurus, lalu dua potong kain yang salah satunya melengkung, yang ternyata jauh lebih susah dan membuatku hampir menangis di Sabtu kelima.

Kain perca yang aku pakai berganti sembilan kali karena hancur.

Jariku tertusuk — aku berhenti menghitung di angka tiga puluh empat, di Sabtu keenam, karena Tante Ratih melihatku mencatatnya di HP dan berkata, “Itu buat apa?”

“Buat tahu perkembangan.”

“Perkembangan apa?”

“Kalau makin sedikit, berarti makin bisa.”

Tante Ratih mengambil HP-ku dari meja, menaruhnya menghadap ke bawah, dan mendorongnya ke sudut yang jauh.

“Jari ketusuk itu bukan nilai, Nak,” katanya. “Itu cuma jari ketusuk.”


Sabtu ketiga, aku membawa sesuatu dari rumah.

Aku menyimpannya di laci meja belajar selama tiga bulan, di dalam amplop, dan aku tidak pernah membukanya sekali pun sejak hari kesembilan.

Kain perca putih. Sepuluh kali sepuluh senti. Empat tusukan kancing yang jaraknya rata, tusukan kelima yang meleset, dan satu titik coklat kecil yang dulu merah.

“Ini apa?”

“Punya saya, Tante.”

Tante Ratih memegangnya, memutarnya, melihat titik coklat itu.

Dia tidak bertanya apa-apa.

“Darah lama nggak bisa hilang,” katanya akhirnya. “Udah matang.”

“Iya, Tante. Saya tahu.”

“Kamu tahu dari mana?”

Aku memandangi kain itu di tangannya.

“Ada yang ngasih tahu saya,” kataku.

Tante Ratih menyerahkannya kembali.

“Ya udah,” katanya. “Latihan di situ aja kalau kamu mau.”

Jadi selama sebelas Sabtu berikutnya, aku menjahit di kain yang sama.

Bolak-balik. Jahit, bongkar, jahit, bongkar. Sampai kainnya penuh lubang bekas jarum yang kalau diangkat ke cahaya kelihatan seperti langit malam yang jelek.

Aku tidak pernah menjahit di atas titik coklat itu.

Aku selalu menyisakannya.


Sekar tahu dari Sabtu kedua.

Dia keluar dari kamarnya jam sepuluh, berdiri di ambang pintu ruang jahit sambil menggigit sedotan susu kotak, dan memandangiku selama mungkin dua puluh detik.

“Kak Kanaya.”

“Sekar.”

“Kakak ngapain.”

“Belajar jahit.”

“Kenapa?”

Aku sudah menyiapkan jawaban. Aku selalu menyiapkan jawaban.

Aku membuangnya.

“Kakak nggak tahu,” kataku. “Beneran nggak tahu.”

Sekar mengunyah sedotannya.

Lalu dia masuk, duduk di lantai di sebelah kursiku — bukan di depan, di sebelah — dan mulai menggambar di bukunya tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Dia melakukan itu setiap Sabtu selama tiga bulan.

Dan di Sabtu keempat, waktu aku menusuk jariku untuk yang keempat kalinya pagi itu, dia berdiri tanpa disuruh, pergi ke laci, dan kembali dengan kotak P3K yang isinya cuma plester besar dan minyak kayu putih.

“Ini kegedean,” kataku.

“Iya.”

“Ini plester buat lutut.”

“Iya.” Sekar menempelkannya di ujung telunjukku dengan sangat serius. “Kata Kak Hari juga gitu.”

Aku menahan napas.

“Sekar.”

“Aku nggak ngomongin dia.”

“Kamu barusan—”

“Aku ngomongin plester.” Dia kembali duduk di lantai. “Plester bukan orang.”

Anak itu sembilan tahun.


Tanganku berubah dalam dua bulan.

Ini bukan kiasan. Ada bekas nyata: dua titik keras di ujung telunjuk kiri dan jari tengah kiri, tempat jarum masuk paling sering. Kuku ibu jari kananku pecah sekali karena aku memaksa menarik benang yang tersangkut.

Dan tidak ada satu orang pun di sekolah yang menyadarinya.

Aku memeriksanya setiap hari selama seminggu penuh, dengan sengaja. Aku menaruh tanganku di meja, di tempat yang kelihatan. Aku mengangkat tangan waktu ditanya guru.

Tidak ada yang bertanya.

Dan aku ingin menuliskan yang sebenarnya terjadi di dalam kepalaku waktu aku menyadari itu, karena kalau tidak ditulis, aku akan berpura-pura aku lebih baik dari yang sebenarnya.

Aku kecewa.

Dua bulan. Jari berdarah. Setiap Sabtu.

Dan tidak ada yang tahu.

Aku pulang hari Kamis itu dan menangis di kamar mandi rumahku sendiri, dan waktu aku selesai menangis aku duduk di lantai dan menghadapi kenyataan yang sangat memalukan:

aku menangis karena tidak ada yang melihat.

Persis seperti yang ditanyakan Bagas di lapangan basket.

Aku tetap datang hari Sabtu berikutnya.

Aku tetap datang, dan aku tetap menusuk jariku, dan aku tetap tidak ada yang tahu — dan Sabtu kesembilan itu terasa berbeda dari delapan yang pertama, karena itu Sabtu pertama yang aku jalani setelah tahu persis apa yang aku cari dan tidak dapat.

Kalau ada satu hari yang aku pilih sebagai hari aku benar-benar mulai membayar, itu bukan hari aku mengaku di depan kelas.

Itu Sabtu kesembilan.

Ada satu hal kecil yang terjadi di Sabtu kesembilan yang tidak akan berarti apa-apa buat siapa pun selain aku.

Aku menyelesaikan sepuluh tusukan, dan Tante Ratih mengambilnya, dan melihatnya sepuluh detik, dan menaruhnya kembali.

Dan dia tidak menyuruhku membongkar.

Itu saja. Tidak ada pujian. Tidak ada senyum. Dia langsung menyerahkan potongan kain berikutnya.

Aku menunggu sampai dia berbalik ke mesinnya, lalu aku menunduk ke pangkuanku dan menangis selama mungkin sepuluh detik, sepelan yang aku bisa, sambil menahan napas.

Sekar melihat. Aku tahu dia melihat karena dia berhenti menggambar.

Dia tidak bilang apa-apa.

Dia cuma menggeser posisi duduknya di lantai sedikit lebih dekat ke kursiku, dan melanjutkan gambarnya.


Aku bertanya soal invisible mending di Sabtu kesebelas.

Aku sudah bisa kancing. Aku sudah bisa kelim, walaupun jelek. Aku sudah bisa menjahit sisi robek yang searah serat dengan hasil yang menurut Tante Ratih “nggak usah dibongkar”, yang dalam bahasanya berarti lulus.

“Tante.”

“Hm.”

“Yang bikin robekan hilang itu gimana?”

Tante Ratih berhenti mengayuh pedalnya.

“Kamu tanya soal apa persisnya?”

“Yang di rok saya,” kataku. “Bulan April. Yang sobek di lab, terus besoknya nggak ada bekasnya sama sekali.”

Ruang jahit itu diam.

“Saya nggak nanya soal dia, Tante,” kataku cepat-cepat. “Saya nanya soal tekniknya.”

Tante Ratih memandangiku cukup lama untuk membuatku yakin dia tahu itu bohong, dan cukup baik untuk membiarkannya.

“Namanya nambal cabut benang,” katanya. “Kamu ambil benang dari kain itu sendiri, dari kelim atau dari dalam saku, terus kamu anyam balik satu-satu di tempat yang robek. Ngikutin arah tenunannya.”

“Satu-satu?”

“Satu-satu.”

“Berapa lama?”

“Robek tiga senti yang nyerong?” Dia mengangkat bahu. “Tiga jam. Kalau tangannya bagus.”

Aku merasakan sesuatu turun di perutku.

“Tante.”

“Hm?”

“Ajarin.”

“Enggak.”

“Tante—”

“Kanaya.” Dia memakai namaku tanpa ‘Nak’ untuk pertama kalinya. “Kamu belum bisa bikin sepuluh tusuk lurus.”

“Saya bisa belajar.”

“Iya. Tiga tahun lagi.”

“Tante, saya—”

“Ibu belajar itu umur dua puluh enam,” katanya. “Dan ibu baru bisa beneran umur tiga puluh.”

Aku duduk di kursi kecil itu dengan jarum di tangan dan tidak tahu harus bilang apa.


Lalu Tante Ratih mematikan mesinnya, yang jarang sekali dia lakukan, dan berbalik menghadapku.

“Kamu tahu Hari belajar itu umur berapa?”

“...Enggak.”

“Sebelas.”

Aku mengangkat kepala.

“Sebelas, Nak. Setahun setelah bapaknya meninggal.”

Dia melipat tangannya di pangkuan.

“Ibu mau cerita satu hal, terus abis itu kita nggak usah bahas lagi,” katanya. “Kamu pikir dia belajar itu karena bakat, ya?”

“...Iya.”

“Bukan.”

Ruang jahit itu, dengan kain-kain digantung di paku sepanjang dinding dan kotak plastik berisi resleting, tiba-tiba terasa lebih kecil.

“Waktu bapaknya meninggal, ibu nggak punya apa-apa,” katanya, dengan nada yang sama seperti orang menyebutkan harga kain. “Utang rumah sakit. Sekar masih bayi. Ibu jahit sendiri, tapi pelanggan lama pergi karena mereka pikir ibu nggak sanggup.”

Aku tidak bergerak.

“Setahun itu kami nggak beli baju baru sama sekali. Sepatu Hari sol-nya lepas dua kali, ibu lem, lepas lagi.” Dia mengangkat bahu. “Seragamnya dia pakai sampai kelas dua SMP, dan anak umur sebelas itu tumbuhnya cepet.”

“Tante—”

“Ibu belum selesai.”

Aku menutup mulut.

“Robek itu nggak masalah, Nak. Robek bisa dijahit,” katanya. “Yang masalah itu kelihatan.”

Ruangan itu sunyi sekali.

“Kalau tambalannya kelihatan, anak-anak di sekolah tahu,” lanjutnya. “Kalau anak-anak tahu, mereka nanya. Kalau mereka nanya, dia harus jawab.”

Aku merasakan sesuatu naik di tenggorokanku dan aku tidak bisa menghentikannya.

“Jadi dia belajar bikin tambalan yang nggak kelihatan,” kata Tante Ratih. “Umur sebelas. Sendiri. Ibu cuma ngasih tahu caranya, sisanya dia yang ngulang-ngulang sampai bisa.”

Dia menyalakan mesinnya lagi.

“Bukan bakat, Nak,” katanya. “Itu anak yang lagi berusaha biar nggak ada yang nanya.”


Aku duduk di ruang jahit itu selama mungkin dua menit tanpa bergerak.

Dan selama dua menit itu, seluruh tiga puluh hari itu diputar ulang di kepalaku dengan warna yang berbeda.

Aku pikir aku sedang mengagumi sesuatu yang indah.

Aku pikir simpul benang merah di sisi dalam itu puitis. Aku pikir nggak semua yang ada harus keliatan itu kalimat yang bagus. Aku mengulanginya di kepalaku berkali-kali seperti orang mengulang lirik lagu.

Itu bukan puisi.

Itu anak umur sebelas tahun yang belajar menghapus bukti bahwa keluarganya sedang tidak baik-baik saja.

Dan empat tahun kemudian anak itu duduk di pojok belakang dekat jendela dengan poni menutupi mata, memakai teknik yang sama pada dirinya sendiri, dan aku datang dan menyebut itu misterius.

“Tante.”

“Hm?”

“Saya nggak bisa napas.”

Tante Ratih tidak menoleh dari mesinnya.

“Ya udah,” katanya. “Duduk aja dulu.”

Aku duduk.

Dan setelah beberapa menit, aku bertanya satu hal lagi, dan aku tahu itu melanggar aturan kedua, dan aku tetap bertanya.

“Tante.”

“Kamu mau nanya soal Har.”

“Iya.”

“Ya udah, tanya.”

Aku memegang kain perca putih dengan titik coklat itu di pangkuanku.

“Kenapa Tante ngasih tahu saya?”

Mesin itu berhenti.

Tante Ratih duduk membelakangi jendela, dan cahaya dari luar membuat wajahnya susah dibaca, dan mungkin itu memang disengaja.

“Karena kamu nyebut tekniknya ‘bikin robekan hilang’,” katanya.

“Emang bukan?”

“Bukan, Nak.” Dia melipat tangannya. “Robekannya nggak hilang. Robekannya masih di situ. Yang hilang cuma bukti kalau ada yang pernah salah.”

Aku menutup mataku.

“Dan kalau kamu belajar dari ibu selama tiga bulan terus pulang mikir kamu lagi belajar bikin sesuatu hilang,” lanjutnya, “berarti ibu ngajarin kamu hal yang salah.”

“Terus saya lagi belajar apa, Tante?”

Tante Ratih mengambil kain percaku, memutarnya, dan menunjuk deretan lubang bekas jarum yang sudah memenuhi kain itu.

“Ini,” katanya.

“Itu lubang, Tante.”

“Iya.” Dia menyerahkannya kembali. “Nggak ada satu pun jahitan di dunia ini yang nggak ninggalin lubang, Nak. Yang bisa dipilih cuma lubangnya kelihatan apa enggak.”


Sabtu keempat belas, jam dua belas kurang sepuluh, ada bunyi pagar.

Aku membeku.

Tante Ratih tidak.

“Sekar, buka.”

“IYA.”

Aku sudah setengah berdiri dengan jarum masih di tangan dan kain perca di pangkuan, dan aku tidak tahu harus ke mana, karena rumah itu kecil dan pintu belakangnya rusak sejak bulan April.

“Nak Kanaya.”

“Iya, Tante—”

“Duduk.”

“Tapi—”

“Itu tukang galon,” katanya, tanpa mengangkat kepala dari jahitannya. “Har jam satu.”

Aku duduk kembali.

Tanganku gemetar cukup keras sampai jarumnya jatuh ke lantai, dan aku memungutnya, dan aku menusuk jariku sendiri untuk yang ketiga kalinya pagi itu, dan kali ini aku tidak merasakan apa-apa selama sekitar sepuluh detik.

Tante Ratih akhirnya menoleh.

Dia melihat tanganku. Dia melihat wajahku.

Dan dia mengatakan satu-satunya kalimat tentang anaknya yang dia ucapkan kepadaku selama tiga bulan itu:

“Sabtu sore dia selalu ngecek jemuran dua kali.”

“...Ha?”

“Dulu enggak.” Dia kembali ke mesinnya. “Sekarang iya. Dia keluar, ngecek, masuk. Lima menit kemudian keluar lagi.”

Aku tidak mengerti selama satu detik.

Lalu aku mengerti, dan aku menaruh kain perca itu di meja dengan sangat hati-hati karena tanganku sudah tidak bisa dipercaya.

Jemuran itu di teras.

Terasnya menghadap gang.

Gang itu ujungnya jalan besar, dan orang yang datang ke rumah itu selalu datang dari arah situ.

Aku pulang jam dua belas lewat, lewat jalan memutar di belakang pasar, karena itu satu-satunya jalan keluar dari gang yang tidak bertemu jalan besar.

Aku sudah hafal jalan memutar itu sejak Sabtu ketiga.

Empat belas menit lebih lama. Lewat selokan besar, lewat bengkel, lewat tembok belakang SD Negeri 4 tempat aku pernah melihat seseorang menjahit rok anak kelas dua di depan enam puluh orang.

Aku berjalan pelan hari itu.

Dan sepanjang jalan aku memikirkan satu hal, yang bukan tentang teknik menjahit dan bukan tentang penebusan dan bukan tentang apa pun yang bisa aku susun jadi rencana:

kalau dia keluar mengecek jemuran dua kali setiap Sabtu sore —

dan kalau dia tetap tidak pernah bertanya ke ibunya kenapa ada dua gelas di bak cuci —

berarti ada satu orang lagi di kota ini yang sedang memilih untuk tidak menarik benang yang jelas-jelas menggantung.

Dan aku tidak tahu apakah itu artinya dia masih menyimpan sesuatu, atau artinya dia sudah benar-benar berhenti ingin tahu.

Aku sampai rumah jam dua.

Lampunya sudah menyala semua, seperti biasa, di semua ruangan.

Aku menaruh kain perca putih dengan titik coklat itu di meja kamarku, di sebelah gulungan benang merah, dan untuk pertama kalinya sejak bulan Mei aku memindahkan keduanya ke laci.

Ke tempat yang tidak kelihatan dari pintu.