← Garansi Seumur Hidup

Chapter Sixteen

Empat Hari Sebelum

[POV: Hari] · [Hari ke-26]


Bakti sosialnya di SD Negeri 4, dua kilometer dari sekolah, hari Sabtu jam delapan pagi.

Kanaya sudah berdiri di lapangan sejak jam tujuh dengan map, peluit, dan wajah orang yang tidur empat jam.

“Konsumsi belum dateng.”

“Udah, Nay, di belakang.”

“Yang mana yang belakang.”

“Yang deket—”

“Regit, tunjuk pakai tangan, jangan pakai kata ‘yang deket’.”

Aku ditugaskan mengangkat kardus.

Itu tugas terbaik yang pernah aku dapat dalam hidupku. Mengangkat kardus itu pekerjaan yang tidak perlu bicara, tidak perlu berdiri di depan, dan punya ukuran keberhasilan yang sangat jelas: kardusnya pindah atau tidak.

“Har, itu berat.”

“Nggak apa-apa.”

“Itu tiga kardus sekaligus.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu bisa bilang selain ‘nggak apa-apa’?”

“Bisa.”

“Contoh.”

“Iya.”

Kanaya menunjuk mukaku dengan spidol dan tidak menemukan kata-kata, yang menurutku adalah kemenangan pertamaku dalam dua puluh enam hari.


Acaranya lancar sampai jam sepuluh, dan hancur jam sepuluh lewat lima.

Ada dua anak SD yang berebut bola, jatuh, dan salah satunya — anak perempuan, kelas dua, rambut dikuncir dua — menangis bukan karena lututnya berdarah.

Dia menangis karena roknya sobek.

Sobeknya panjang, di sisi kanan, dari pinggang sampai setengah paha, jenis sobek yang tidak bisa disembunyikan dengan cara apa pun.

Dan dia berdiri di tengah lapangan dengan enam puluh anak lain dan dua puluh anak SMA di sekelilingnya, memegang roknya dengan dua tangan, menangis dengan cara yang paling tidak bisa aku tahan di dunia ini: diam-diam, sambil berusaha berhenti.

Aku sudah berjalan ke arahnya sebelum aku memutuskan apa-apa.

“Har—”

Aku jongkok di depannya.

“Namanya siapa?”

“...Nabila.”

“Nabila, Kakak bisa benerin. Tapi Kakak butuh sepuluh menit sama tempat duduk. Mau?”

Dia mengangguk, masih menangis.

Aku melepas jaket olahragaku dan mengikatnya di pinggangnya sendiri — bukan di pinggangku, di pinggangnya, supaya dia bisa berjalan sendiri ke pinggir lapangan tanpa ada yang perlu menggandengnya seperti orang sakit.

Lalu aku mengeluarkan kotak kecil dari tas.

Jarum, benang putih, benang hitam, benang biru, gunting kecil. Aku selalu bawa. Aku sudah bawa itu sejak kelas sepuluh, dan selama dua tahun kotak itu cuma keluar di tempat-tempat yang tidak ada orangnya.

Aku menjahitnya di bangku beton pinggir lapangan, di depan enam puluh anak SD, dua puluh anak SMA, empat guru, dan satu ibu kantin yang berhenti menggoreng untuk menonton.


Aku ingin menceritakan bagaimana rasanya, karena ini penting untuk bagian yang datang belakangan.

Rasanya buruk sekali.

Tanganku bekerja seperti biasa — tanganku tidak peduli ada berapa orang — tapi tengkukku panas dan telingaku berdenyut dan aku bisa merasakan setiap pasang mata di lapangan itu seperti orang menekan punggungku dengan jari.

Aku menghitung untuk bertahan. Itu satu-satunya caraku.

Tujuh belas tusuk untuk bagian yang searah serat.

Dua puluh empat untuk yang menyerong.

Tiga menit untuk merapikan kelimnya supaya tidak menggantung.

Nabila berhenti menangis di tusukan kesembilan, karena anak kecil selalu berhenti menangis kalau ada orang yang mengerjakan sesuatu di dekat mereka dengan tenang. Di tusukan kedua puluh dia sudah bertanya kenapa benangnya bisa masuk ke lubang sekecil itu.

Di tusukan ketiga puluh dia bertanya apakah aku ini tukang jahit.

“Bukan.”

“Terus kenapa bisa?”

“Diajarin ibu.”

“Ibu Kakak tukang jahit?”

“Iya.”

“Kakak nanti jadi tukang jahit juga?”

Aku berhenti sebentar, cuma sepersekian detik, dan melanjutkan.

“Nggak tahu,” kataku.

“Kenapa nggak tahu?”

“Karena kata orang harus sekolah dulu.”

“Terus kalau udah sekolah?”

“Ya nanti dipikir.”

Nabila menendang-nendangkan kakinya di bangku beton.

“Kalau aku, aku mau jadi dokter hewan,” katanya. “Tapi kata Bapak kucing nggak bisa bayar.”

Aku menggigit benangnya sampai putus supaya tidak perlu tertawa di depan anak yang baru selesai menangis.

Waktu selesai, dia berdiri, memutar badannya, dan melihat ke sisi kanan roknya.

“Kok nggak ada?”

“Nggak ada apanya?”

“Sobeknya.”

“Ya udah dibenerin.”

“Tapi nggak ada.”

Dia memutar badannya lagi. Dan lagi. Lalu dia berlari ke arah temannya sambil berteriak sesuatu yang tidak jelas, dan enam puluh anak SD berteriak balik, dan bakti sosial itu berlanjut seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku membereskan kotak jahitku dengan tangan yang baru mulai gemetar sekarang, setelah semuanya selesai, yang memang selalu begitu urutannya.

Waktu aku mengangkat kepala, Kanaya berdiri sekitar empat meter dari situ.

Dia memegang map-nya di depan dada dengan dua tangan.

Dan dia tidak tersenyum. Itu bagian yang aku ingat. Semua orang tersenyum — Bagas bertepuk tangan seperti orang gila, Regita berteriak “GILA”, Nadine mengambil foto — dan Kanaya tidak tersenyum sama sekali.

Dia cuma berdiri di situ, melihat, dengan wajah orang yang sedang menghitung sesuatu yang tidak dia inginkan hasilnya.


Vania menghampiriku waktu aku sedang mengangkat kardus terakhir ke mobil pick-up.

“Hari.”

“Iya?”

“Kamu bawa jarum ke bakti sosial.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Kalau-kalau.”

Dia berdiri di situ dengan tangan bersedekap, memandangi lapangan yang sudah mulai kosong.

“Aku mau tanya satu hal,” katanya. “Dan aku mau kamu jawab jujur, karena aku nggak akan nanya dua kali.”

“...Oke.”

“Kamu tahu, ya.”

Angin lewat di lapangan. Ada bendera kecil sisa acara yang belum dicabut, bergoyang di tiang bambunya.

Aku memasukkan kardus terakhir ke bak.

“Tahu apa?” kataku.

Vania menatapku cukup lama.

Lalu dia tertawa — pendek, satu embusan lewat hidung, tanpa senyum.

“Oke,” katanya. “Bagus.”

“Bagus apanya?”

“Nggak apa-apa.” Dia berbalik. “Aku suka orang yang mainnya rapi.”

Dia berjalan ke angkot.

Aku berdiri di belakang pick-up dengan tangan di tepi bak, dan aku menghitung sesuatu yang selama dua puluh enam hari tidak pernah aku hitung: bukan sisa hari, bukan jumlah orang yang menoleh.

Aku menghitung berapa orang di sekolah itu yang tahu.

Angkanya, sejauh yang bisa aku pastikan, adalah lima.

Dan sekarang, mungkin, enam.


Kami pulang jam empat.

Semua orang naik angkot yang disewa sekolah. Kami berdua jalan kaki, karena Kanaya bilang dia mau jalan, dan aku tidak bertanya kenapa.

Dua kilometer.

Sepanjang kilometer pertama dia hampir tidak bicara.

“Nay.”

“Hm.”

“Kamu capek.”

“Enggak.”

“Itu jawaban nomor—” Aku berhenti. “Maaf. Itu punyaku.”

“Pakai aja,” katanya. “Aku juga nyolong ‘nggak apa-apa’ kamu minggu lalu.”

Kami jalan lagi.

“Har.”

“Iya.”

“Kamu selalu bawa jarum di tas?”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Kelas sepuluh.”

“Kenapa?”

Aku memindahkan tas ke bahu satunya.

“Karena kalau ada yang sobek di sekolah,” kataku, “biasanya orangnya nangis di kamar mandi terus nggak masuk kelas satu jam.”

Kanaya berhenti jalan.

Aku jalan tiga langkah lagi sebelum sadar, lalu berbalik.

“Kenapa?”

“Kamu tuh,” katanya, dan suaranya aneh, “bawa jarum di tas selama dua tahun buat orang yang nangis di kamar mandi.”

“Ya... iya.”

“Buat orang yang kamu nggak kenal.”

“Iya.”

“Yang nggak tahu kamu ada.”

Aku tidak menjawab itu.

Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, sekali, kasar.

“Har, aku minta tolong.”

“Iya?”

“Jangan baik-baik banget dulu hari ini.”

“...Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” katanya. “Ya udah, ayo.”

Kami jalan lagi. Kilometer kedua lewat pinggir sawah yang tinggal setengah, karena sisanya sudah dipagar seng dan dipasangi papan nama perumahan.

“Har.”

“Iya.”

“Kalau aku minta kamu janji satu hal, kamu janji nggak?”

“Tergantung.”

“Kamu nggak boleh ‘tergantung’. Kamu harus ‘iya’ atau ‘enggak’.”

“Ya berarti aku harus tahu dulu.”

Kanaya menghela napas.

“Ya udah,” katanya. “Nanti aja.”

“Nay.”

“Nggak apa-apa. Beneran.” Dia menendang batu kecil di trotoar. “Aku lagi ngomong sendiri aja.”

Kami sampai di mulut Gang Melati jam setengah enam.


Kami sampai di mulut Gang Melati jam setengah enam.

Ini tempat yang sama.

Aku memikirkan itu waktu kami berhenti — bahwa dua puluh satu hari lalu aku berdiri di titik ini dengan payung orang lain di tangan dan berbohong soal gang yang sempit, dan bahwa gang ini muat dua motor berpapasan, dan bahwa aku sudah menghitung sisa hariku sejak malam sebelumnya.

Dua puluh satu hari lalu sisanya dua puluh lima.

Sekarang empat.

“Har.”

“Iya.”

“Aku boleh nanya sesuatu yang aneh?”

“Boleh.”

“Kalau ada orang yang ngelakuin sesuatu yang salah ke kamu,” katanya, “tapi selama ngelakuin itu dia jadi orang yang lebih bener daripada sebelumnya— itu tetep salah, kan?”

Aku berdiri di mulut gang dengan kardus kosong yang belum sempat aku buang di tangan kiri.

Ada tiga detik lagi. Jenis yang sama.

“Iya,” kataku. “Tetep salah.”

Kanaya mengangguk pelan.

“Iya,” katanya. “Aku juga mikir gitu.”

Lalu dia melangkah maju.


Aku akan menceritakan bagian ini dengan tepat, karena aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak berbohong di bagian mana pun, termasuk bagian yang bagus.

Dia melangkah maju satu langkah, memegang bagian depan seragamku dengan tangan kanan — bukan pipiku, bukan tanganku, seragamku, seperti orang yang butuh pegangan — dan menciumku.

Yang pertama aku rasakan bukan apa-apa.

Betul-betul bukan apa-apa. Ada jeda sekitar setengah detik di mana kepalaku berhenti total, seperti mesin yang benangnya putus dan jarumnya masih naik-turun tanpa menjahit apa-apa.

Lalu aku menutup mata.

Dan lalu aku mulai menghitung.

Aku benci diriku sendiri untuk bagian ini, dan aku sudah membencinya selama bertahun-tahun, dan aku tetap akan menuliskannya.

Aku menghitung.

Empat.

Bibirnya kering di tengah dan agak asin di sudut, karena dia menangis dua kali hari itu dan tidak mengaku sekali pun.

Empat hari.

Tangannya masih mencengkeram seragamku, dan buku-buku jarinya menekan tulang dadaku, dan aku bisa merasakan dia bergetar sedikit — bukan gugup. Capek. Dia capek sekali.

Empat hari, dan ini yang kesebelas—

Dan di situ aku berhenti menghitung.

Bukan karena aku memutuskan berhenti. Aku tidak memutuskan apa pun.

Angkanya cuma hilang.

Untuk pertama kalinya sejak malam hari kelima, aku berdiri di suatu tempat dan tidak tahu sisa berapa, dan tidak mengecek, dan tidak peduli.

Aku mengangkat tangan kananku dan menaruhnya di belakang lehernya.

Kardus kosong itu jatuh ke aspal.


Kami berdiri di situ agak lama setelahnya, lebih dekat dari yang seharusnya untuk mulut gang yang bisa dilewati siapa saja.

Dahinya di daguku. Napasnya belum teratur.

“Har.”

“Hm.”

“Kamu nggak nanya kenapa.”

“Enggak.”

“Kamu nggak pernah nanya kenapa.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memikirkannya sambil melihat ke ujung gang, ke arah rumahku, ke jemuran kain yang belum diangkat.

“Karena kalau aku nanya,” kataku, “kamu harus jawab.”

Kanaya menarik napas yang bunyinya patah di tengah.

“Kamu tuh nyebelin banget, tahu nggak.”

“Iya.”

“Kamu selalu ngasih orang jalan keluar.”

“Iya.”

“Aku nggak mau dikasih jalan keluar.”

“Oke.”

“Har—”

“Oke,” kataku lagi.

Dia mengangkat wajahnya dan menatapku, dan matanya merah di bagian bawah, dan aku baru sadar bahwa dia sudah setengah menangis sejak sebelum menciumku, dan aku tidak sadar sama sekali.

Aku, yang bisa mendengar kancing longgar dari tiga meja jauhnya.

“Aku bakal cerita,” katanya. “Nanti.”

“Iya.”

“Serius. Aku bakal cerita semuanya.”

“Iya.”

“Kamu bilang ‘iya’ dengan nada orang yang nggak percaya.”

“Aku percaya,” kataku, dan itu benar, dan itu justru bagian yang paling buruk.

Dia mundur setengah langkah, mengusap matanya, lalu tiba-tiba berubah nada — cepat sekali, seperti orang yang mengganti saluran.

“Har.”

“Iya?”

“Tanggal delapan.”

“Kenapa?”

“Ulang tahunku.” Dia membetulkan tali tasnya. Bahu kanan. “Bulan depan. Tanggal delapan.”

Aku menghitung sebelum aku sempat menahan diri.

Tanggal delapan itu sembilan hari setelah tanggal tiga puluh.

“Oh,” kataku.

“Kamu harus dateng.”

“Iya.”

“Bukan ‘iya’ yang itu.”

“...Iya.”

“Har, aku serius.” Dia menunjukku dengan telunjuk. “Aku nggak pernah ngerayain di rumah. Nggak pernah sekali pun. Tahun ini aku mau, dan aku mau ngundang orang yang aku pilih sendiri, bukan yang dipilihin.”

“Berapa orang?”

“Nggak tahu. Empat? Lima?” Dia menghitung dengan jari. “Kamu, Nadine, Fikri kalau mau, Bagas kalau nggak berisik. Sekar.”

“Sekar bakal minta bunga.”

“Aku bayar.”

“Dua setengah persen.”

“Aku bayar, Har.”

Dia tertawa, dan tawanya bagus, dan dia berdiri di mulut Gang Melati merencanakan sesuatu yang letaknya sembilan hari di seberang garis.

Aku bilang iya.

Aku bilang iya, dan aku melihat wajahnya waktu aku bilang iya, dan aku tahu persis apa yang sedang aku lakukan.

Itu bohongku yang keempat, dan yang pertama yang benar-benar aku niatkan.


Sekar membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk, yang artinya dia sudah berdiri di balik pintu entah berapa lama.

“Kak.”

“Apa.”

“Kardusnya mana?”

“...Jatuh.”

“Jatuh di mana?”

“Di depan.”

“Kok nggak diambil?”

“Sekar.”

Dia menyipitkan mata, memandangi wajahku dengan sangat teliti, lalu berbalik dan berjalan ke ruang tengah sambil berteriak dengan volume yang tidak perlu:

“IBU. KAK HARI ANEH.”


Malam itu aku membuka laci meja dan mengeluarkan kertas krem yang sudah aku potong empat hari lalu.

Aku menulisnya sekali jadi.

Itu jarang. Aku menulis surat kuasa rapor empat kali. Aku menulis catatan pesanan dua kali kalau angkanya penting.

Yang ini sekali jadi, karena kalimatnya sudah aku susun di bus, dua jam empat menit, sambil menahan bahu turun tiga senti, dan sudah aku ulang di kepala setiap malam sejak itu sampai bentuknya betul.

Ibu lewat di belakangku waktu aku sedang menulis, membawa gelas, dan berhenti.

“Nulis apa?”

“Tugas.”

“Pakai kertas bungkus ibu?”

Aku menutup kertas itu dengan lengan, dan itu gerakan paling bodoh yang bisa dilakukan orang di depan ibunya sendiri, karena menutupi sesuatu itu jauh lebih jelas daripada membiarkannya.

Ibu tidak bertanya lagi.

Dia menaruh gelas teh di sudut meja, jauh dari kertas, di tempat yang tidak akan tumpah kalau sikuku bergerak.

“Har.”

“Iya, Bu.”

“Kalau nulis surat,” katanya, “jangan ditulis pas lagi seneng.”

“Kenapa?”

“Karena yang ditulis pas seneng itu isinya janji.” Dia berjalan ke pintu. “Yang ditulis pas tenang isinya yang bener.”

“Aku lagi tenang, Bu.”

Ibu berhenti di ambang pintu, dan tidak berbalik.

“Ibu tahu,” katanya. “Itu yang bikin ibu nggak enak.”

Aku tidak akan menuliskan isinya di sini.

Aku akan menuliskan tiga hal saja tentang surat itu.

Yang pertama: aku memakai pulpen yang tutupnya ada bekas gigitan di dua tempat.

Yang kedua: di kalimat terakhir aku berhenti agak lama, karena ada dua versi, dan versi yang lebih jujur juga versi yang lebih memaksa. Aku memilih yang tidak memaksa. Aku selalu memilih yang tidak memaksa; itu bukan kebaikan, itu cuma bentuk lain dari melepas duluan.

Yang ketiga: aku tidak menulis tanggal di suratnya.

Aku melipatnya jadi tiga, memasukkannya ke amplop kecil, dan menaruhnya di kantong dalam tasku — bagian yang resletingnya rusak sejak kelas sepuluh dan tidak pernah aku perbaiki, karena itu satu-satunya bagian dari tas itu yang tidak pernah aku buka.

Lalu aku duduk memandangi kalender bunga di dinding.

Empat hari.

Ada bagian dari diriku yang berdiri di mulut gang tadi dan berhenti menghitung, dan bagian itu masih hidup, dan bagian itu sedang mengajukan pertanyaan yang tidak boleh diajukan.

Bagaimana kalau dia benar-benar cerita duluan?

Bagaimana kalau dia cerita besok, atau lusa, sebelum tanggalnya — dan kalau dia cerita duluan, artinya bukan taruhannya yang selesai. Artinya dia yang memilih.

Aku memadamkan lampu meja sebelum pertanyaan itu selesai.

Tapi aku tidak bisa memadamkannya di kepala, dan aku berbaring di kasur sampai lewat tengah malam sambil melakukan hal yang sudah aku larang untuk diriku sendiri selama dua puluh satu hari.

Aku berharap.

Dan aku ingin mencatat, sejelas-jelasnya, bahwa itu keputusanku sendiri.

Tidak ada yang menyuruhku. Tidak ada yang menipuku pada bagian itu. Kanaya berbohong soal banyak hal, tapi tidak soal yang satu ini; harapan itu aku yang bikin sendiri, malam itu, di kamar yang bau kain, empat hari sebelum semuanya selesai.

Kalau nanti ada yang bertanya bagian mana yang paling sakit, jawabannya bukan hari ketiga puluh.

Jawabannya malam ini.

Karena hari ketiga puluh cuma mengambil sesuatu yang memang bukan punyaku.

Malam ini aku yang membuat sesuatu yang tidak ada, dari bahan yang tidak ada, dan menaruhnya di dalam dada sendiri, dan besok paginya aku bangun sebagai orang yang punya sesuatu untuk kehilangan.

Empat tahun aku menjaga supaya itu tidak terjadi.

Empat malam sebelum tanggalnya, aku merusaknya sendiri, dalam waktu kurang dari dua jam, tanpa ada yang menyentuhku.

Aku tidur jam satu.

Di tas, di kantong dalam yang resletingnya rusak, ada satu amplop kecil berisi kertas krem yang tidak ada tanggalnya.

Amplop itu ada di sana selama empat hari berikutnya.

Aku membawanya ke sekolah setiap pagi.

Aku tidak mengeluarkannya sekali pun.