Chapter Thirty Six
Yang Dulu Kutambal
[POV: Hari] · [Hari ke-245]
Yang memulainya bukan Kanaya.
Aku ingin menegaskan itu, karena selama dua minggu berikutnya ada tiga orang yang menuduhnya, dan tiga-tiganya salah, dan dia tidak membantah sekali pun karena membantah akan membuatnya kelihatan seperti sedang mengurus sesuatu.
Yang memulainya Regita.
Bukan sengaja. Regita tidak pernah sengaja.
Dia menceritakan soal benang merah di rok Kanaya ke tiga orang di kantin, dengan versinya sendiri, dengan volume Regita, dan salah satu dari tiga orang itu punya kakak kelas sebelas IPS yang punya teman bernama Rania.
Dan Rania pulang ke rumah hari Kamis dan membalik kelim rok seragamnya yang lama.
Dia menghampiriku hari Jumat pagi, di koridor, sebelum bel.
Aku tidak mengenalinya.
Itu bagian yang harus aku ceritakan duluan, karena itu bagian yang paling buruk dan aku tidak mau menaruhnya di belakang supaya kelihatan lebih manis.
Aku tidak tahu siapa dia.
“Kak Hari?”
“Iya?”
Dan dia berdiri di depanku memegang rok seragam yang dilipat di dua tangan, dan matanya sudah merah sebelum dia mulai bicara, dan aku berdiri di koridor jam setengah tujuh pagi tidak punya ide sama sekali sedang berhadapan dengan siapa.
“Aku Rania.”
“...Oh.”
“Kelas sebelas IPS dua. Dulu sepuluh IPS dua.”
“Iya.”
Aku bilang “iya” seperti orang yang ingat.
Aku tidak ingat.
Dia menceritakannya sambil menangis, dan dia menceritakannya berurutan, dan aku berdiri di situ mendengarkan sambil mencari di kepalaku dan tidak menemukan apa-apa.
Sembilan belas April tahun lalu.
Dia kelas sepuluh. Baru dua bulan. Belum punya teman karena SMP-nya di luar kota dan semua orang di kelasnya sudah saling kenal sejak MPLS.
Roknya robek di jahitan belakang waktu duduk di lantai aula pas persiapan lomba. Kecil — mungkin empat senti — tapi di tempat yang tidak bisa disembunyikan kalau berdiri.
Dia di kamar mandi satu jam.
Dia bilang begitu: satu jam.
Lalu dia mengikat jaketnya di pinggang dan pulang naik angkot dan duduk di sudut belakang dan tidak menoleh ke siapa pun, dan sampai rumah dia menaruh roknya di keranjang cucian dan berpikir dia harus minta uang ke ibunya untuk beli baru, dan ibunya baru saja membayar uang gedung dua bulan lalu.
Besoknya roknya ada di tempat yang sama.
Tidak robek.
“Aku pikir aku salah inget,” katanya. “Aku pikir aku panik terus salah lihat.”
“Rania—”
“Aku nanya ke ibuku. Ibuku bilang nggak pernah megang.”
Koridor itu mulai ramai. Ada anak-anak lewat.
“Aku mikirin itu setahun, Kak,” katanya. “Setahun. Aku pikir aku gila.”
Aku berdiri di koridor dengan tas di bahu dan tidak tahu harus meletakkan tanganku di mana.
“Rania.”
“Iya, Kak?”
“Maaf, ya.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Kakak kenapa minta maaf?”
Dan aku tidak bisa menjawab, karena jawabannya adalah karena aku tidak ingat kamu, dan itu jawaban yang tidak boleh diberikan kepada orang yang sedang menangis di koridor jam setengah tujuh pagi.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Dia mengusap matanya dengan pergelangan tangan.
“Kak.”
“Hm?”
“Aku boleh nanya satu hal?”
“Boleh.”
“Waktu itu Kakak tahu aku siapa?”
Bel berbunyi.
Aku berdiri di koridor yang mulai kosong dengan seorang anak kelas sebelas di depanku memegang rok seragam lama yang dilipat di dua tangan.
“Enggak,” kataku.
Dan Rania mengangguk, dan tersenyum, dan berkata sesuatu yang membuatku tidak bisa masuk kelas selama sepuluh menit berikutnya:
“Bagus,” katanya. “Berarti bukan karena aku.”
Aku memeriksanya malam itu.
Aku pulang, aku membuka laci, aku melepas karet gelangnya, dan aku mencarinya.
Halaman dua puluh satu.
Rania 10 IPS 2 — rok, sobek kecil — 19/4
Itu saja.
Enam kata dan satu tanggal, di antara Bu Ningsih — kebaya, resleting — 14/3 dan Pak Darto — celana kerja, kelim — 2/4.
Aku duduk di depan mesin ayah dengan buku itu terbuka dan berusaha mengingat malam tanggal sembilan belas April tahun lalu.
Tidak ada.
Aku bisa mengingat semua hal yang tidak penting. Aku bisa mengingat lingkar pinggang Pak Darto dari dua tahun lalu. Aku bisa mengingat bahwa jarak tusukan di label garansi itu dua koma dua milimeter.
Malam itu tidak ada.
Kemungkinan besar aku mengerjakannya dua jam, mungkin lebih kalau robeknya menyerong. Kemungkinan besar aku selesai jam sebelas atau dua belas. Kemungkinan besar aku menaruhnya kembali jam enam lima belas dan duduk di pojok belakang selama empat puluh menit supaya tidak melewati pintu dua kali.
Kemungkinan besar itu malam biasa.
Dan satu orang menghabiskan satu tahun berpikir dia gila karena malam biasa itu.
Wabahnya jalan dalam sepuluh hari.
Aku memakai kata “wabah” bukan untuk lucu-lucuan.
Hari Senin, empat orang membalik kelim seragamnya di kelas, terang-terangan, di jam istirahat.
Hari Rabu, ada anak kelas sepuluh yang aku tidak kenal berdiri di depan mejaku dan mengangkat blazernya dan bertanya “Kak, ini punya Kakak, ya?” dengan nada orang yang menemukan uang di jalan.
Hari Jumat, jumlahnya sembilan.
Dan hari Senin berikutnya, seseorang membuat unggahan di akun sekolah dengan foto sebuah kelim dan tulisan yang membuatku ingin pindah kota.
Sekar tahu hari Selasa.
Aku tidak tahu dari mana. Aku curiga Bu Nur, karena semua informasi di Gang Melati akhirnya lewat wajan Bu Nur.
“KAK HARI TERKENAL.”
“Sekar.”
“Ibu, Kak Hari terkenal!”
“Sekar, itu bukan terkenal.”
“Kata Bu Nur satu sekolah ngomongin.”
“Itu beda sama terkenal.”
Sekar duduk di lantai ruang jahit dengan buku tulisnya dan pulpen, dengan wajah orang yang baru saja mendapat tugas negara.
“Kak, aku catet ya. Berapa orang?”
“Sekar.”
“Berapa, Kak.”
“Aku nggak ngitung.”
Dan dia berhenti menulis, dan mengangkat kepalanya, dan menatapku dengan tatapan yang tidak seharusnya dimiliki anak sembilan tahun.
“Kakak selalu ngitung,” katanya.
Aku memasang benang ke jarum mesin.
“Empat puluh tiga,” kataku.
Sekar menuliskannya dengan sangat serius, dan menggarisbawahinya dua kali, dan tidak bertanya apa-apa lagi.
Aku tidak menikmatinya.
Aku sudah memikirkan cara mengatakan ini tanpa terdengar seperti orang yang pura-pura rendah hati, dan tidak ada. Jadi aku akan mengatakannya apa adanya dan menerima risikonya.
Aku tidak menikmatinya sedikit pun, dan bukan karena aku baik.
Ada tiga alasan.
Yang pertama: setiap kali seseorang berterima kasih, aku harus punya wajah. Aku harus memutuskan bagaimana berdiri, bagaimana menjawab, apakah tersenyum. Selama empat tahun aku tidak pernah harus memutuskan itu, dan sepuluh hari itu aku memutuskannya empat puluh tiga kali.
Aku menghitungnya. Empat puluh tiga.
Yang kedua: mereka semua berterima kasih untuk hal yang sama. Aku mendengar kalimat yang hampir persis sama empat puluh tiga kali, dan di sekitar kalimat kedua puluh aku sadar aku sudah punya jawaban yang aku ulang, dan begitu jawabannya diulang, jawabannya jadi bohong.
Yang ketiga, dan ini yang paling susah:
setiap orang yang berterima kasih sedang menceritakan hari terburuk mereka.
Itu isinya, kalau kamu dengarkan sampai selesai. Bukan “makasih ya udah benerin”. Isinya “waktu itu aku lagi begini, dan aku nangis di kamar mandi, dan aku nggak punya siapa-siapa, terus besoknya ada yang—”
Empat puluh tiga hari terburuk.
Dalam sepuluh hari.
Dan aku berdiri di koridor sekolah menerima semuanya dengan wajah yang harus aku putuskan setiap kali, dan tidak ada satu pun tempat untuk menaruhnya.
“Nay.”
“Hm?”
“Nay.”
Kami di tembok belakang kantin. Dia berhenti mengunyah.
“Iya, Har?”
“Bu Sari mau ngomong di upacara.”
Kanaya menaruh rotinya.
“Ngomong apa?”
“Nggak tahu persis. Katanya ‘apresiasi’.” Aku memegang gelas es tehku terlalu erat. “Sama OSIS mau bikin sesuatu.”
“Bikin apa?”
“Nggak tahu, Nay. Aku nggak nanya. Aku keluar dari ruang guru.”
Dia diam beberapa detik.
“Kamu nggak mau.”
“Aku nggak mau.”
“Kenapa?”
Dan aku mengucapkan sesuatu yang aku sendiri baru mengerti waktu keluar dari mulutku.
“Karena kalau diumumin di upacara,” kataku, “artinya empat puluh tiga orang itu ceritanya jadi cerita aku.”
Kanaya menoleh.
“Rania nangis satu jam di kamar mandi,” kataku. “Itu ceritanya. Bukan cerita soal ada anak baik yang benerin rok.”
“Har—”
“Kalau naik ke podium, yang diinget orang bukan Rania.” Aku menatap tanah. “Yang diinget aku.”
Lalu aku melakukan sesuatu yang aku sesali sampai sekarang, walaupun akhirnya jadi bagus.
“Nay.”
“Hm?”
“Kamu bisa nggak—”
Dan aku berhenti.
Karena aku mendengar bentuk kalimatku sendiri sebelum sampai ke ujung.
Kanaya sudah tahu. Aku bisa melihat dari cara dia menaruh rotinya di pangkuan dan menegakkan punggungnya sedikit, seperti orang yang bersiap menahan sesuatu.
“Aku nggak bisa, Har.”
“Aku belum ngomong.”
“Kamu mau minta aku ngomong ke Bu Sari.”
Aku tidak menjawab.
“Atau ke OSIS. Atau dua-duanya.” Suaranya pelan, tanpa marah sedikit pun. “Aku masih kenal semua orangnya. Aku bisa selesain ini dalam dua hari dan nggak akan ada yang tahu kamu yang minta.”
“Nay—”
“Aku bisa banget, Har.” Dia mengangkat wajahnya. “Itu masalahnya.”
Angin lewat di belakang kantin. Ada anak-anak berteriak dari lapangan.
“Kamu yang bikin aturannya,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku nggak lagi ngehukum kamu.”
“Aku tahu.”
“Aku beneran mau bantu. Aku bahkan udah kepikiran urutannya tadi malem waktu kamu cerita Bu Sari manggil kamu.” Dia tertawa, dan tawanya jelek. “Aku kepikiran urutannya, Har. Otomatis. Kayak refleks.”
“Terus kenapa nggak?”
Dan Kanaya Larasati duduk di tembok belakang kantin dan mengatakan hal yang paling sulit yang bisa dia katakan kepada siapa pun:
“Karena aku nggak mau balik jadi orang yang nyelesaiin masalah kamu tanpa kamu ada di ruangannya.”
Aku menghadap Bu Sari hari Rabu sore.
Aku menyiapkan kalimatnya tiga malam. Aku menulisnya empat kali di kertas dan membuang tiga, persis seperti surat kuasa rapor bulan Juni.
Yang tersisa cuma satu paragraf, dan aku menghafalnya, dan waktu aku berdiri di depan meja Bu Sari aku melupakan seluruhnya.
“Bu.”
“Duduk, Har.”
Aku duduk.
“Bu, saya nggak mau diumumin di upacara.”
Bu Sari melepas kacamatanya, melipatnya, menaruhnya di meja.
“Kenapa?”
Dan aku mengucapkan yang tersisa di kepalaku, dan bunyinya berantakan, dan aku tetap mengucapkannya sampai habis.
“Karena yang saya benerin itu ada empat puluh tiga,” kataku. “Dan mereka semua punya hari waktu itu. Rania nangis di kamar mandi satu jam. Ada anak kelas sepuluh yang cerita ke saya dia nggak masuk sekolah dua hari.”
“Iya.”
“Kalau diumumin, hari mereka jadi bahan cerita saya, Bu.” Aku memegang lututku. “Saya nggak berhak.”
Bu Sari tidak menjawab selama beberapa saat.
“Hari.”
“Iya, Bu?”
“Ibu udah sebelas tahun jadi wali kelas,” katanya. “Kamu tahu berapa anak yang pernah nolak diapresiasi?”
“...Nggak tahu, Bu.”
“Nol.”
Aku menunduk.
“Dan ibu nggak akan bilang itu bagus,” lanjutnya. “Karena ibu curiga sebagian alasannya bukan yang barusan kamu bilang.”
Aku tidak menjawab.
“Iya, kan?”
“...Iya, Bu.”
“Bagian yang mana?”
Aku memandangi gelas berisi pulpen yang sebagian besar tidak ada tutupnya.
“Saya nggak tahan berdiri di depan orang, Bu,” kataku.
“Nah.” Bu Sari memakai kacamatanya lagi. “Itu jujur.”
Dan lalu aku melakukan hal yang tidak aku rencanakan.
“Bu.”
“Hm?”
“Boleh saya minta sesuatu?”
Bu Sari mengangkat kepalanya.
“Minta apa?”
“Meja lab kimia yang nomor tiga,” kataku. “Yang deket jendela. Ada baut di sudut bawahnya yang nonjol setengah senti.”
“...Baut?”
“Sudah dari saya kelas sepuluh, Bu. Karatan.” Aku menegakkan punggung. “Itu udah nyobek empat rok.”
Bu Sari menatapku.
“Empat?”
“Empat yang saya tahu, Bu. Yang sampai ke saya.”
Ruang guru itu diam. Ada kipas berputar. Ada guru lain di ujung ruangan yang berhenti mengoreksi.
“Kamu tahu bautnya?” tanya Bu Sari.
“Saya tahu semua yang nonjol di sekolah ini, Bu,” kataku. “Ada tujuh.”
Bautnya dipotong hari Senin berikutnya.
Pak Warno yang mengerjakannya, dengan gerinda, jam tujuh pagi, sebelum upacara. Tiga puluh detik. Lalu diamplas, lalu dicat.
Tidak ada pengumuman di upacara.
Tidak ada apresiasi, tidak ada podium, tidak ada satu pun kalimat tentang siapa pun.
Kanaya berdiri di barisannya dan aku berdiri di barisanku dan kami tidak saling melihat sama sekali, karena barisan kelas dua belas itu panjang dan aku nomor urut dua puluh sembilan.
Dan waktu upacara selesai, ada anak kelas sepuluh yang aku tidak kenal lewat di depan lab dan menendang sudut meja nomor tiga tanpa sengaja, dan tidak terjadi apa-apa, dan dia jalan terus.
Aku melihat itu dari koridor.
Enam sisanya aku laporkan minggu itu juga, satu per satu, ke Pak Warno langsung, dengan kertas berisi lokasi dan ukuran.
Pak Warno bertanya kenapa aku hafal.
Aku bilang nggak apa-apa.
Malamnya Kanaya menelepon.
Kami tidak pernah menelepon. Kami mengetik, karena mengetik itu murah dan karena aku tidak bisa bicara di telepon tanpa terdengar seperti orang yang sedang ditanya polisi.
“Har.”
“Nay.”
“Bautnya dipotong.”
“Iya.”
“Aku lihat pas praktikum tadi.” Ada bunyi kertas di ujung sana. “Aku nyentuh sudutnya. Halus.”
“Iya.”
Dia diam beberapa detik.
“Har, kamu tahu nggak,” katanya, “rok yang disobek baut itu punyaku.”
“Aku tahu.”
“Bulan April.”
“Sembilan belas April yang Rania. Punyamu tanggal berapa aku lupa.” Aku memindahkan HP ke telinga satunya. “Tapi bukan yang itu bautnya. Punyamu meja empat.”
“Ada dua?”
“Ada tujuh, Nay.”
“YA AMPUN.”
“Aku udah laporin semuanya.”
Dia tidak menjawab selama beberapa saat, dan aku bisa mendengar TV menyala di rumahnya, di ruangan besar yang lampunya menyala di semua sudut.
“Har.”
“Hm?”
“Kamu tahu bautnya dari kelas sepuluh.”
“Iya.”
“Dua tahun.”
“Iya.”
“Kenapa baru sekarang ngomong?”
Dan aku duduk di ruang jahit dengan lampu meja menyala dan kain di bawah jarum dan tidak bisa menjawabnya selama beberapa detik.
“Karena dua tahun aku mikir tugas aku benerin roknya,” kataku akhirnya.
“Terus sekarang?”
“Sekarang aku baru kepikiran bautnya bisa dipotong.”
Ada bunyi seperti orang menarik napas terlalu cepat di ujung sana.
“Nay?”
“Aku nggak nangis.”
“Kamu nangis.”
“Aku bocor dikit,” katanya. “Har, itu beda.”
Aku menyelesaikan celana pesanan itu jam sebelas dan mematikan lampu meja.
Dan sebelum tidur aku membuka buku catatan coklat itu, ke halaman kosong di belakang, di bawah judul yang aku tulis bulan Desember.
MASIH DIKERJAKAN
Aku menambahkan satu baris.
SMA 3 — baut meja lab, 7 buah — 245
Bukan tanggal.
Aku menulis angka dua ratus empat puluh lima, dan aku tidak tahu kenapa aku menulisnya begitu, dan aku baru sadar sekitar satu menit kemudian bahwa itu bukan tanggal.
Itu hitungan hari.
Dan aku sudah berhenti menghitung sejak bulan Desember, dan malam itu, tanpa aku suruh, tanganku menghitung lagi.
Aku memandangi angka itu agak lama.
Lalu aku menutup bukunya, dan melingkarkan karet gelangnya dua kali, dan tidur.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal reading
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup