← Garansi Seumur Hidup

Chapter Thirty Nine

Menginap

[POV: Kanaya] · [Hari ke-266]


Sekar yang membuka pintu, dan itu sudah salah.

Selama tujuh bulan, yang membuka pintu selalu Tante Ratih kalau Hari sedang mengantar pesanan. Sekar tidak pernah membuka pintu; Sekar berteriak dari dalam.

“Kak Kanaya.”

“Sekar. Tante mana?”

“Di kamar.”

“Belum bangun?”

“Udah bangun.” Dia memegang gagang pintu dengan dua tangan. “Tapi nggak keluar.”


Tante Ratih duduk di tepi tempat tidur dengan daster dan rambut yang belum digelung.

Itu hal pertama yang membuat perutku dingin. Rambutnya belum digelung.

Selama tujuh bulan aku belum pernah melihat perempuan itu dengan rambut tergerai, bahkan jam sembilan pagi, bahkan hari Minggu.

“Eh, Nak Kanaya.” Dia mencoba berdiri. “Maaf ya, ibu—”

“Tante duduk aja.”

“Ibu bikinin teh dulu.”

“Tante.”

“Bentar—”

“Tante Ratih.” Aku berdiri di ambang pintu kamar itu dan tidak masuk. “Boleh saya pegang tangannya?”

Dia berhenti setengah berdiri.

“Ngapain?”

“Saya mau tahu panas apa enggak,” kataku. “Kalau Tante bilang enggak, saya percaya.”

Perempuan itu menatapku dari tepi tempat tidur selama beberapa detik.

Lalu dia mengulurkan tangannya.


Panas sekali.

Aku bukan orang yang tahu apa-apa soal ini. Aku tidak pernah merawat siapa pun; kalau aku sakit, aku sakit sendirian di rumah yang lampunya menyala semua, dan Mbak Yah menaruh bubur di meja jam sembilan dan pulang jam lima.

Tapi punggung tanganku menempel di dahi orang itu dan aku tahu itu bukan hangat.

“Tante, ini panas.”

“Ibu capek doang.”

“Tante—”

“Kemarin hajatan seharian, Nak. Berdiri terus.”

“Itu Sabtu lalu, Tante.”

Tante Ratih membuka mulutnya, dan menutupnya lagi.

Dan aku berdiri di kamar itu dan menyadari bahwa aku baru saja memergokinya, dan bahwa dia tahu, dan bahwa tidak ada satu pun dari kami yang akan menyebutkannya.

“Sekar.”

“Iya, Kak.”

“Kakakmu di gang berapa?”

“Gang Anggrek. Rumah kelima.”

“Kamu bisa lari?”

“Bisa.”

“Jangan lari,” kataku. “Jalan cepet. Kalau lari nanti kamu jatuh terus aku ngurus dua orang.”


Dia sampai dalam dua belas menit.

Dia lari.

Aku tahu karena napasnya, dan karena kantong plastik di tangannya masih ada dua pesanan yang belum diantar, dan karena orang yang jalan cepat tidak sampai dari Gang Anggrek dalam dua belas menit.

“Bu.”

“Har, ibu nggak apa-apa.”

“Bu.”

“Kamu belum ngantar yang dua.”

“Bu.”

Dia berlutut di depan tempat tidur ibunya dan menempelkan punggung tangannya ke dahi perempuan itu, dan aku melihat wajahnya berubah, dan aku melihat dia menahannya.

“Berapa hari?” katanya.

“Har—”

“Berapa hari, Bu.”

Tante Ratih memandangi selimutnya.

“Tiga,” katanya.


Aku mau menuliskan apa yang terjadi berikutnya dengan sangat tepat, karena bagian ini penting untuk aku sendiri.

Aku tahu apa yang harus dilakukan.

Aku tahu dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Kepalaku menyusunnya sendiri, tanpa disuruh, seperti refleks: kompres, minum, ganti baju, cek suhu tiap dua jam, kalau lewat tiga puluh sembilan bawa ke puskesmas, puskesmas Sabtu buka sampai jam dua belas, jadi kalau mau ke situ harus berangkat sebelum jam sebelas, jadi harus diputuskan dalam empat puluh menit.

Seluruhnya. Lengkap. Dengan tenggat.

Aku berdiri di ambang pintu dengan seluruh rencana itu di kepalaku dan tidak mengucapkan satu pun.

“Har.”

“Hm?”

“Aku boleh bantu apa?”

Dia menoleh ke arahku.

Dan aku bisa melihat di wajahnya bahwa dia tahu persis apa yang baru saja aku lakukan, dan bahwa dia tahu berapa mahalnya, karena orang ini menghabiskan tujuh belas tahun mengukur berapa mahal hal-hal yang tidak kelihatan.

“Kompres,” katanya. “Baskom di bawah wastafel. Air biasa, jangan es.”

“Oke.”

“Nay.”

“Hm?”

“Makasih.”

“Buat apa?”

“Buat nanya,” katanya.


Puskesmas jam sepuluh.

Kami naik becak — Hari memesannya lewat Bu Nur, karena Bu Nur mengenal semua orang di gang ini termasuk tukang becak yang mangkal di ujung — dan Tante Ratih memprotes sepanjang jalan bahwa ini berlebihan.

Antrenya empat puluh menit.

Dan waktu petugas di meja depan melihat kartu Tante Ratih, dia berkata:

“Oh, Bu Ratih. Sama yang kemarin?”

Aku menoleh.

Hari sedang mengisi formulir. Dia tidak mengangkat kepala.

“Iya, Bu,” katanya.

Dan petugas itu mengetik sesuatu, dan antrean itu jalan terus, dan tidak ada apa-apa yang terjadi.

Aku ingat itu. Aku ingat detik itu dengan sangat jelas, karena aku sempat membuka mulut untuk bertanya dan menutupnya lagi.

Aku menutupnya karena aku sedang memegang tangan Tante Ratih dan perempuan itu sedang demam tiga puluh delapan koma enam dan bukan waktunya bertanya soal apa pun.

Itu alasan yang bagus.

Itu juga alasan yang aku pakai berkali-kali dalam empat bulan berikutnya, dan setiap kali alasannya bagus, dan setiap kali aku menutup mulutku.

Kami duduk di kursi tunggu selama empat puluh menit.

Tante Ratih tertidur di bahu anaknya di menit kesepuluh.

Dan Hari duduk di situ tanpa bergerak sama sekali — punggung tegak, dua tangan di pangkuan, kepala sedikit miring supaya bahunya turun.

Aku menghitung.

Tiga puluh menit.

Dia tidak menggeser posisi sekali pun dalam tiga puluh menit, dan waktu namanya dipanggil dia membangunkan ibunya dengan menyentuh punggung tangannya dua kali, pelan, seperti orang mengetuk pintu.

“Har.”

“Hm?”

“Tanganmu.”

“Nggak apa-apa.”

Dan aku duduk di kursi tunggu puskesmas hari Sabtu jam sebelas dan berpikir bahwa aku sudah pernah melihat ini sebelumnya, di bus, bulan Mei, dua jam empat menit — dan bahwa waktu itu aku tidur dan tidak tahu.

Sekarang aku bangun dan tahu, dan ternyata itu lebih susah ditonton daripada dialami.


Dokternya bilang infeksi. Dikasih antibiotik, penurun panas, dan surat untuk istirahat total tiga hari.

Kami pulang jam setengah satu.

Tante Ratih tidur jam dua.

Dan jam tiga sore, Hari menyerahkan kunci kamar ibunya kepadaku dan berkata, “Nay, tolong ambilin obat ibu di laci. Yang biasa. Aku lagi megang ini.”

Dia sedang memegang panci.


Lacinya di samping tempat tidur.

Aku membukanya.

Ada kotak obat plastik, yang jelas kotak obat harian: tujuh sekat, hari Senin sampai Minggu, sebagian sudah kosong.

Ada strip obat yang aku kenal — parasetamol, dan yang antibiotik dari tadi pagi.

Dan ada kantong kertas.

Bukan kantong puskesmas. Aku tahu kantong puskesmas seperti apa karena aku baru saja memegang satu tiga jam yang lalu.

Ini kantong farmasi rumah sakit, yang di pinggir kota, yang aku lewati kalau naik bus ke rumah nenekku waktu masih kecil.

Di dalamnya ada dua strip obat dengan nama yang tidak aku kenal sama sekali. Bukan nama yang bisa aku tebak. Bukan yang berakhiran -mol atau -sin.

Dan ada kertas terlipat empat.


Aku memegang kertas itu selama mungkin delapan detik.

Aku mau menuliskan seluruh isi kepalaku dalam delapan detik itu, karena aku memikirkannya berbulan-bulan sesudahnya dan aku masih belum selesai memikirkannya.

Aku bisa membukanya.

Tidak ada yang melihat. Pintunya tertutup. Hari di dapur memegang panci. Sekar di ruang tengah. Perempuan yang punya kertas itu sedang tidur di depanku dengan mulut setengah terbuka.

Delapan detik itu cukup untuk membuka, membaca, melipat kembali, dan menaruhnya persis di posisi semula.

Aku sudah pernah melakukan hal-hal yang jauh lebih rumit dari itu.

Dan aku tidak membukanya.

Bukan karena aku orang baik.

Karena di lapangan basket bulan Juni, ada orang bertanya kepadaku apakah aku akan tetap melakukan sesuatu untuk seseorang yang tidak akan pernah tahu — dan karena selama tujuh bulan setelah itu aku belajar satu hal dengan susah payah, dengan dua puluh dua hari Sabtu dan jari yang berdarah dan satu perjanjian yang aku setujui di lantai ruang tengah:

kalau kamu tidak boleh mengerjakan apa pun di belakang orang, kamu juga tidak boleh tahu apa pun di belakang orang.

Jadi aku menaruh kertas itu kembali.

Aku menutup lacinya.

Dan aku membawa obat yang diminta — parasetamol dan antibiotik, yang biasa — ke dapur.


“Har.”

“Hm?”

“Di laci ibumu ada obat yang aku nggak kenal.”

Dia sedang mengaduk sesuatu di panci. Dia tidak berhenti mengaduk.

“Yang mana?”

“Yang di kantong rumah sakit.”

“Oh.” Dia mengecilkan apinya. “Itu obat ibu.”

“Buat apa?”

“Maag sama tensi.”

“Kok dari rumah sakit?”

“Puskesmas nggak ada stoknya,” katanya. “Jadi nebus di luar.”

Aku berdiri di dapur itu memegang dua strip obat.

Dan aku menunggu — aku betul-betul menunggu, aku menghitung sampai lima di dalam kepalaku — untuk melihat apakah dia menambahkan sesuatu.

Dia tidak menambahkan apa-apa.

Dia mengaduk buburnya empat kali, mengangkatnya, dan bertanya apakah aku sudah makan.

“Belum.”

“Ya udah, ini.”

“Itu buat ibumu.”

“Ini banyak.”

“Har—”

“Nay, aku bikin buat empat orang,” katanya. “Aku nggak bisa bikin buat satu. Aku nggak pernah diajarin takarannya.”


Aku membuat bubur jam enam sore.

Yang siang buatan Hari. Yang malam giliranku, karena dia harus mengantar dua pesanan yang tertunda dari pagi, dan karena Tante Ratih harus makan sesuatu jam tujuh sebelum minum antibiotik.

Aku mengikuti instruksi Sekar.

“Berasnya seperempat gelas.”

“Gelas yang mana?”

“Yang biru.”

“Sekar, ada empat gelas biru.”

“Yang gagangnya somplak.”

Buburnya jadi jam tujuh kurang seperempat dan bentuknya seperti lem.

Tidak berlebihan. Betul-betul seperti lem: kental, berat, dan waktu aku mengangkat sendok, buburnya turun dalam satu gumpalan utuh.

“Sekar.”

“Iya, Kak.”

“Ini gimana.”

Sekar berdiri di atas kursi dan melihat ke dalam panci.

“Airnya kurang.”

“Aku ikutin takaranmu.”

“Iya, tapi Kakak masaknya kelamaan.”

“Kamu nggak bilang berapa lama!”

“Kakak nggak nanya.”

Dan aku berdiri di dapur rumah orang jam tujuh kurang dengan panci berisi lem, dan aku mulai tertawa, dan aku tidak bisa berhenti tertawa selama mungkin dua puluh detik, dan Sekar ikut tertawa walaupun jelas tidak tahu apa yang lucu.


Tante Ratih memakannya.

Semuanya.

Aku berdiri di ambang pintu kamar sambil memegang gelas air dan melihat perempuan itu menghabiskan semangkuk bubur yang teksturnya melanggar hukum alam, dengan wajah yang sama sekali tidak berubah.

“Tante.”

“Hm?”

“Itu jelek banget.”

“Iya.”

“TANTE.”

“Nak Kanaya.” Dia menaruh sendoknya. “Kamu mau ibu bohong?”

“...Enggak.”

“Ya udah.”

Dan dia menyerahkan mangkuknya, dan berkata:

“Tapi ibu habisin.”

“Kenapa?”

“Karena kamu yang bikin,” katanya, dan berbaring lagi. “Itu dua hal yang beda, Nak. Enak atau enggak itu satu urusan. Dihabisin atau enggak itu urusan lain.”


Aku menginap.

Hari yang menawarkan — dan itu penting, karena selama tujuh bulan tidak pernah sekali pun dia menawarkan apa pun kepadaku, dan sekarang sudah dua kali dalam empat bulan.

“Nay.”

“Hm?”

“Nay.”

Aku berhenti mencuci.

“Iya, Har?”

“Kalau kamu pulang sekarang, kamu sampai rumah jam sembilan.”

“Iya.”

“Terus besok pagi kamu balik ke sini.”

“...Iya.”

“Ya udah, di sini aja.”

“Har, aku—”

“Kamar Sekar ada dua kasur,” katanya. “Yang satu punya ibu waktu Sekar masih kecil. Nggak pernah dipakai.”

Aku menelepon Mbak Yah jam delapan.

Mbak Yah bilang “iya, Non”, dan bertanya apakah aku baik-baik saja, dan aku bilang iya, dan dia bertanya apakah aku sudah makan, dan aku bilang sudah.

Dan aku mematikan telepon dan menyadari bahwa itu percakapan terpanjang yang aku lakukan dengan siapa pun tentang di mana aku tidur, seumur hidupku.


Kamar Sekar kecil.

Dua kasur di lantai, satu lemari, dan tembok yang seluruhnya ditempeli gambar.

Aku melihat gambar-gambar itu sebelum tidur.

Ada gambar mesin jahit. Banyak sekali gambar mesin jahit. Ada gambar perempuan berdiri di samping mesin. Ada gambar seseorang berkacamata yang jelas Hari walaupun Sekar bersikeras itu tetangga.

Dan di pojok kanan bawah, agak tersembunyi di belakang gambar lain, ada satu gambar empat orang.

Aku memiringkan kepalaku untuk melihatnya.

Empat orang. Satu perempuan besar, satu laki-laki tinggi berkacamata, satu anak kecil, dan satu lagi perempuan dengan rambut panjang yang jelas bukan Tante Ratih.

“Sekar.”

“Hm?”

“Yang ini kapan digambarnya?”

Sekar melihat dari kasurnya.

“Bulan Desember.”

“Ini siapa?”

“Kakak nanya beneran?”

“...Enggak.”

“Ya udah.”

Dia berbalik menghadap tembok.

Lalu, sekitar dua menit kemudian, waktu aku sudah mengira dia tidur:

“Kak Kanaya.”

“Hm?”

“Ibu nggak pernah sakit.”

Aku membuka mataku.

“Semua orang pernah sakit, Sekar.”

“Ibu enggak.” Suaranya kecil di kegelapan. “Ibu nggak pernah tidur siang. Ibu bangun paling pagi. Waktu Ayah meninggal, Ibu jahit dua bulan nggak berhenti.”

“Sekar—”

“Aku nanya ke Kak Hari kemarin,” katanya. “Dia bilang nggak apa-apa.”

Aku berbaring di kasur yang tidak pernah dipakai di kamar anak sembilan tahun, memandangi langit-langit yang ada bercaknya di dua tempat.

“Kak.”

“Iya?”

“Kalau Kak Hari bilang nggak apa-apa, itu artinya apa?”

Dan aku berbaring di situ dengan mata terbuka dan tidak menjawab, karena aku tahu jawabannya, dan karena aku tidak akan mengucapkannya di kamar itu jam sepuluh malam kepada anak berumur sembilan tahun.


Aku bangun jam dua pagi.

Bukan karena mimpi. Karena ada cahaya.

Lampu ruang jahit masih menyala. Aku bisa melihat garisnya di bawah pintu kamar, kuning, tipis.

Aku keluar.

Hari duduk di depan mesin ayahnya dengan kemeja orang di bawah jarum, dan earphone di satu telinga, dan wajah yang di bawah lampu meja kelihatan jauh lebih tua dari tujuh belas.

Aku berdiri di ambang pintu.

“Har.”

Dia melepas earphone-nya.

“Kamu belum tidur?”

“Kamu juga belum.”

“Ini harus selesai Senin.”

“Ini jam dua.”

“Iya.”

Aku berjalan masuk dan duduk di kursi kecil di sudut, di kursi yang sudah aku duduki dua puluh dua hari Sabtu, dan tidak berkata apa-apa selama beberapa menit.

Mesinnya jalan. Berhenti. Jalan lagi.

“Har.”

“Hm?”

“Kamu tidur jam berapa biasanya?”

“Tergantung.”

“Har.”

“Nay, kalau aku jawab kamu bakal khawatir.”

“Aku udah khawatir.”

Dia menjalankan mesinnya sampai ujung jahitan, lalu mengangkat sepatu mesin, lalu memotong benangnya.

“Setengah dua,” katanya.

“Setiap hari?”

“Nggak setiap hari.”

“Berapa hari dalam seminggu?”

Dan dia diam agak lama, dan aku duduk di kursi kecil itu dan menunggu, dan akhirnya dia menjawab dengan jujur, karena dia selalu menjawab dengan jujur, karena itu perjanjiannya.

“Lima,” katanya.

“Har—”

“Nay.”

“Apa.”

“Nay.”

Aku menutup mulutku.

“Kamu udah nanya,” katanya. “Aku udah jawab. Perjanjiannya segitu.”

Dan dia benar.

Dia benar-benar benar, dan aku duduk di kursi kecil di ruang jahit jam dua pagi dan tidak punya satu pun hak untuk menuntut lebih dari itu, karena perjanjian itu aku yang setujui, dan karena perjanjian itu satu-satunya alasan aku boleh ada di rumah ini.

Aku tidur lagi jam tiga.

Lampunya masih menyala waktu aku masuk kamar.