Chapter Forty Seven
Yang Tidak Bisa Kutata
[POV: Kanaya] · [Empat bulan setelah]
Aku berhenti menghitung di bulan kedua.
Bukan karena aku sembuh. Karena tidak ada yang bisa dihitung.
Hitungan itu butuh dua titik: awal dan akhir. Selama sebelas hari di bulan Agustus aku punya dua-duanya, dan kami mengucapkan angkanya keras-keras setiap pagi di teras, dan itu bisa ditanggung karena setiap angka punya tempat.
Setelah tanggal tiga belas Agustus, yang ada cuma satu titik.
Dan kamu tidak bisa mengukur apa pun dengan satu titik.
Kosku di Yogyakarta di gang kecil di belakang kampus. Kamarnya tiga kali empat, ada kamar mandi dalam, ada meja belajar dan lemari dan satu jendela yang menghadap tembok rumah orang.
Aku merapikannya setiap hari.
Sprei dilipat sudutnya. Meja kosong kecuali lampu. Kursi dimasukkan penuh ke bawah meja. Tidak ada satu pun benda di permukaan mana pun yang sedang dikerjakan.
Aku baru menyadari apa yang aku bikin di bulan ketiga.
Aku membuat ulang rumahku.
Persis. Tiga kali empat, dengan sistem yang sama: tidak ada yang aus karena tidak ada yang dipakai, tidak ada yang berantakan karena tidak ada yang belum selesai.
Dan aku menyalakan lampunya dari jam lima sore sampai tidur, setiap hari, walaupun kamar tiga kali empat itu cuma punya satu lampu dan menyalakannya tidak membuktikan apa-apa kepada siapa pun.
Aku tidak ikut apa-apa di kampus.
Ini bagian yang membuat Nadine menelepon dua kali di bulan pertama.
“Nay, kamu ikut UKM?”
“Belum.”
“Himpunan?”
“Belum.”
“Kepanitiaan ospek?”
“Nad.”
“Nay, kamu ketua panitia empat acara.”
“Iya.”
“Kamu nggak ikut satu pun?”
Dan aku duduk di kamar tiga kali empat itu dengan HP di telinga dan tidak bisa menjelaskan kepada siapa pun, termasuk kepada diriku sendiri, kenapa setiap kali ada formulir kepanitiaan lewat di depan mataku, tanganku berhenti.
Aku bisa menjelaskannya sekarang.
Aku takut aku bagus.
Aku takut aku masuk kepanitiaan itu dan dalam tiga minggu aku sudah menyusun rundown dan mengurus semua orang dan menjadi orang yang dicari kalau ada yang bingung, dan dalam tiga bulan aku sudah jadi Kanaya Larasati versi kampus.
Dan aku tidak tahu apa lagi yang tersisa dari aku kalau bukan itu.
Komunikasinya menipis dengan cara yang tidak bisa aku tunjuk tanggalnya.
Bulan pertama: setiap hari.
Bulan kedua: masih setiap hari, tapi pendek. Dia bekerja dari jam tujuh sampai jam enam di konveksi, lalu mengambil borongan sendiri sampai jam sebelas, lalu Selasa dan Jumat mengantar ibunya.
Bulan ketiga: dua hari sekali.
Aku tidak marah. Aku ingin mencatat itu, karena selama empat bulan aku mengulang kalimat itu ke diriku sendiri setiap malam: aku tidak marah, aku tidak marah, dia kerja empat belas jam sehari, aku tidak marah.
Aku juga tidak berbohong.
Aku betul-betul tidak marah.
Yang aku rasakan bukan marah. Yang aku rasakan adalah sesuatu yang jauh lebih buruk dan tidak ada namanya: perasaan berdiri di pinggir sesuatu yang sedang terjadi kepada orang lain, sambil memegang seluruh perkakas yang tidak boleh aku pakai.
Aku mulai bulan Oktober.
Aku ingin menuliskan tanggalnya dengan tepat karena aku ingat tanggalnya: dua belas Oktober, malam Sabtu, jam sepuluh.
Aku buka laptop.
Aku mengetik: syarat donor ginjal hidup Indonesia.
Dan aku duduk di kamar tiga kali empat itu sampai jam empat pagi.
Ini yang aku pelajari dalam tiga minggu, dan aku menuliskannya karena aku menyusunnya jadi satu file, dengan kolom, seperti map beasiswa itu, seperti rundown acara, seperti semua yang pernah aku kerjakan seumur hidupku:
Donor hidup harus berumur minimal delapan belas tahun.
Aku delapan belas tahun tiga bulan.
Golongan darah harus kompatibel. Bu Ratih golongan O. Aku tahu itu karena aku ikut ke puskesmas bulan Maret dan aku membaca kartunya waktu Hari mengisi formulir.
Golongan darahku O.
Kemudian ada crossmatch, ada HLA, ada serangkaian tes yang aku hafal namanya dalam dua minggu.
Dan kemudian ada satu baris yang aku baca berkali-kali selama tiga minggu tanpa benar-benar membacanya:
Donor hidup diutamakan memiliki hubungan keluarga sedarah. Untuk donor tanpa hubungan keluarga, diperlukan persetujuan komite etik rumah sakit.
Aku membacanya dan aku berpikir: komite. Berarti ada prosedurnya. Berarti ada syaratnya. Berarti ada orang yang bisa ditanya.
Aku menghabiskan sebelas hari menyusun map.
Aku tes golongan darah dan tes dasar di klinik dekat kampus tanggal delapan November.
Aku bayar sendiri. Tiga ratus dua puluh ribu.
Aku duduk di ruang tunggu klinik itu selama empat puluh menit dan aku ingat aku memikirkan satu hal berulang-ulang, dan pikiran itu membuatku merasa jauh lebih baik daripada yang aku rasakan dalam empat bulan:
akhirnya ada yang bisa aku kerjakan.
Bukan menunggu. Bukan mengetik pesan yang tidak dibalas sampai jam sebelas malam. Bukan duduk di kamar tiga kali empat yang lampunya menyala dari jam lima sore.
Ada formulir. Ada prosedur. Ada tahapan yang bisa disusun urutannya.
Aku pulang dari klinik itu jam dua siang dan aku mampir beli makan dan aku makan seluruhnya, dan itu pertama kalinya dalam tiga minggu aku menghabiskan makanan.
Aku menelepon rumah sakit tanggal dua puluh satu November.
Aku sudah menyiapkan naskahnya. Aku menulisnya, aku membacanya keras-keras enam kali di kamar, aku menghapus dua kalimat yang terdengar memohon.
Yang menerima teleponku namanya Bu Retno, koordinator transplantasi.
Dia sopan sekali. Dia menjelaskan alurnya dengan sangat sabar selama sebelas menit.
Dan di menit kedua belas dia bertanya:
“Mbak ini hubungannya apa sama pasien?”
Aku sudah menyiapkan jawaban untuk itu juga.
“Saya... temen dekat keluarganya.”
Ada jeda di ujung sana.
“Mbak,” katanya, dan nadanya berubah — masih sopan, tapi berubah. “Boleh saya jelaskan sesuatu?”
“Iya, Bu.”
“Untuk donor tanpa hubungan keluarga, komite etik kami itu ketat sekali.”
“Iya, Bu, saya udah baca—”
“Mbak, saya nggak lagi ngomongin berkas.” Suaranya pelan. “Saya kerja di sini sebelas tahun. Selama sebelas tahun, komite etik kami menyetujui donor tanpa hubungan keluarga sebanyak dua kali.”
Aku memegang HP-ku dengan dua tangan.
“Dua, Bu?”
“Dua. Dan dua-duanya suami-istri.”
“Bu—”
“Dan itu bukan karena kami jahat, Mbak,” katanya. “Itu karena kalau kami longgarin, dalam enam bulan ruangan saya bakal penuh sama anak-anak muda yang jual ginjalnya buat bayar utang.”
Aku duduk di lantai kamarku.
“Aturan itu ada buat ngelindungin Mbak,” katanya. “Bukan buat ngehalangin Mbak.”
Aku bertanya satu hal lagi sebelum menutup telepon, dan aku bertanya karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang sore itu.
“Bu.”
“Iya?”
“Kalau saya tetep ngajuin, berapa lama prosesnya?”
Bu Retno tidak menjawab selama beberapa detik.
“Mbak,” katanya. “Kalau saya jawab, Mbak bakal ngerjain.”
“Iya, Bu.”
“Ya udah, saya nggak jawab.”
Aku tidak berhenti.
Aku menuliskannya begitu saja karena tidak ada cara untuk menuliskannya yang membuatku kelihatan lebih baik.
Aku tidak berhenti.
Aku mencari rumah sakit lain. Aku menelepon dua lagi. Aku membaca jurnal yang aku tidak mengerti setengahnya. Aku menyusun map kedua, lebih tebal dari yang pertama, dengan halaman depan berisi urutan pengurusan yang paling efisien.
Dan tanggal empat Desember aku menelepon rumah sakit tempat Bu Ratih cuci darah, di kota tempat mereka tinggal sekarang, dan aku menanyakan alurnya, dan untuk bisa ditanyakan aku harus menyebutkan nama pasiennya.
Aku menyebutkan nama Bu Ratih.
Aku menyebutkan tanggal lahirnya, yang aku tahu karena aku pernah melihat kartu berobatnya di puskesmas bulan Maret.
Aku menyebutkannya dengan sangat lancar, dengan suara yang tenang, dengan seluruh keahlian yang aku punya.
Dan tiga hari kemudian, rumah sakit itu menelepon Bu Ratih untuk verifikasi.
Hari menelepon tanggal delapan Desember jam sembilan malam.
Dia belum pernah menelepon lebih dulu. Empat bulan, dan tidak sekali pun.
“Nay.”
“Har.”
Dan aku tahu dari cara dia menyebut namaku, satu kali, bukan dua kali.
“Ibu ditelepon rumah sakit.”
Aku menutup mataku.
“Har—”
“Kamu daftar jadi donor.”
“Aku belum daftar. Aku baru—”
“Nay.”
“Aku baru nanya prosedurnya.”
“Kamu tes bulan November.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu tes tanggal delapan November di klinik deket kampus,” katanya. “Golongan darah, fungsi ginjal dasar, sama dua yang lain. Tiga ratus dua puluh ribu.”
Aku duduk di lantai kamar tiga kali empat itu dan tidak bisa mengeluarkan suara.
“Gimana kamu tahu?”
“Ibu nanya ke rumah sakit,” katanya. “Rumah sakit nanya ke koordinator. Koordinatornya inget.”
Dan lalu tidak ada yang bicara selama mungkin dua puluh detik.
“Har, aku bisa jelasin.”
“Aku tahu kenapa kamu ngelakuin.”
“Har—”
“Nay, aku tahu persis kenapa,” katanya, dan suaranya rata sekali, dan itu yang paling buruk. “Kamu nggak boleh ngasih uang. Jadi kamu nyari satu-satunya hal yang bukan uang.”
Aku menangis di lantai itu dan aku tidak berusaha menutupinya.
“Kamu nyari satu-satunya hal yang aku nggak bisa tolak dengan alasan utang,” katanya. “Karena ginjal itu bukan uang. Karena kalau kamu ngasih ginjal, aku nggak bisa bilang ‘nanti aku ganti’.”
“Har.”
“Kamu nemuin celah di perjanjiannya, Nay.”
Dan aku duduk di lantai itu dan mengerti — untuk pertama kalinya, dengan sangat jelas, empat bulan terlambat — bahwa dia benar.
Aku sudah menghabiskan sebelas hari menyusun map itu.
Dan tidak sekali pun, dalam sebelas hari itu, aku bertanya kepada orangnya.
“Har, aku minta maaf.”
“Aku tahu.”
“Aku beneran minta maaf, aku—”
“Nay.”
“Aku nggak mikir, aku cuma—”
“Nay.” Dia berhenti. “Kamu mikir. Kamu mikir sebelas hari.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Itu yang bikin aku nggak bisa,” katanya.
Ruangan itu — kamar tiga kali empat dengan satu jendela menghadap tembok rumah orang — sunyi sekali.
“Har, kamu marah?”
Dan dia menjawab dengan kalimat yang sudah pernah dia ucapkan kepadaku di teras rumahnya bulan Juni tahun lalu, dengan urutan yang persis sama:
“Aku nggak marah sama kamu, Nay,” katanya. “Aku juga nggak bisa ngomong sama kamu sekarang. Dua-duanya bener.”
Dia mengirim satu pesan tiga hari kemudian.
nay
aku minta satu hal
berhenti
Aku membalas dalam dua menit.
aku berhenti
Dan dia membaca pesan itu — aku melihat centangnya berubah biru jam sebelas lewat empat belas malam — dan tidak membalas apa pun.
Dan dia tidak membalas apa pun selama dua puluh tiga hari.
Aku tidak akan menceritakan dua puluh tiga hari itu berurutan karena aku tidak mengingatnya berurutan.
Yang aku ingat berupa potongan:
Aku tidak masuk kuliah tujuh hari dari dua puluh tiga hari itu. Bukan tujuh berturut-turut. Tujuh yang tersebar, yang masing-masing punya alasan sendiri yang masuk akal, dan yang kalau ditaruh di halaman yang sama jumlahnya tujuh.
Aku belajar itu dari seseorang.
Aku makan dari minimarket. Aku ingat itu karena strukku menumpuk di meja dan aku tidak membuangnya, dan di hari kedelapan belas aku menghitungnya, dan jumlahnya dua puluh sembilan.
Aku menelepon Nadine sekali dan menutup teleponnya sebelum dia mengangkat.
Aku membuka file map donor itu empat kali dan menutupnya empat kali dan tidak menghapusnya.
Dan aku merapikan kamar tiga kali empat itu setiap hari, setiap satu hari dari dua puluh tiga hari itu, dengan sudut sprei yang dilipat seperti di hotel.
Yang menghancurkan aku bukan salah satu dari itu.
Yang menghancurkan aku terjadi tanggal dua puluh sembilan Desember, jam delapan malam, di dapur bersama kos.
Anak kos sebelah kamarku namanya Ayu. Semester tiga, jurusan akuntansi, orangnya berisik dan baik dan tidak pernah tahu apa-apa tentang aku.
Dia mengetuk pintuku sambil membawa rok kerja.
“Nay, kamu bisa jahit, kan?”
Aku berdiri di ambang pintu.
“...Kok tahu?”
“Kamu punya kotak jarum di meja.” Dia mengangkat roknya. “Ini sobek di kelim, aku besok interview jam sembilan.”
Aku memandangi rok itu di tangannya.
Empat senti. Kelim bawah. Sisi kanan.
Searah serat.
Aku tahu itu dalam waktu kurang dari dua detik, dan aku tahu persis apa yang harus dikerjakan, dan aku tahu itu tiga puluh menit kerja untuk orang yang bisa.
“Boleh,” kataku.
Aku membuka kotak jarum itu untuk pertama kalinya sejak bulan Agustus.
Empat bulan.
Kotak plastik kecil seukuran telapak tangan. Jarum tiga ukuran, benang putih, benang hitam, benang biru, gunting kecil, dan satu batang korek api yang sudah patah ujungnya.
Aku memasang benangnya.
Sebelas kali.
Aku memasang benang ke lubang jarum sebelas kali dan gagal sebelas kali, dan di percobaan kedua belas aku menyadari kenapa: tanganku gemetar.
Bukan gemetar gugup.
Aku mengangkat tanganku dan melihatnya di bawah lampu meja, dan aku melihat sesuatu yang membuatku harus duduk di lantai.
Titik keras di ujung telunjuk kiri sudah hilang.
Yang di jari tengah kiri masih ada sedikit, tipis, hampir rata dengan kulit di sekitarnya.
Empat bulan.
Sembilan bulan, tiga puluh enam hari Sabtu, seratus delapan puluh empat jam, jari yang tertusuk sampai aku berhenti menghitung di angka tiga puluh empat.
Dan empat bulan tidak memegang jarum menghapus semuanya.
Aku mengerjakan rok itu sampai jam setengah dua belas.
Aku merusaknya.
Aku tidak akan memperhalus bagian ini. Aku menarik benangnya terlalu kencang di enam sentimeter pertama dan kainnya berkerut, dan aku membongkarnya, dan waktu membongkar aku menarik pendedelnya terlalu dalam dan mengenai serat kain luarnya.
Robek empat senti jadi robek tujuh senti, dengan satu lubang kecil di tengah yang tidak ada sebelumnya.
Aku mengetuk pintu Ayu jam setengah dua belas malam dan mengembalikan roknya dan minta maaf, dan Ayu bilang “nggak apa-apa, Nay, aku pakai yang lain aja”, dan wajahnya kelihatan panik selama setengah detik sebelum dia berhasil menyembunyikannya.
Aku transfer uang ke Ayu jam dua belas untuk beli rok baru.
Dia menolak dua kali dan menerima di ketiga.
Dan aku kembali ke kamarku, dan duduk di lantai, dan di situlah semuanya selesai.
Aku duduk di lantai kamar tiga kali empat itu dari jam dua belas sampai jam empat pagi.
Dan aku menghitung.
Aku menghitung untuk terakhir kalinya, dan yang aku hitung adalah ini:
Aku menyusun map beasiswa. Berhasil untuk sembilan anak.
Aku mencarikan sebelas pelanggan. Berhasil.
Aku menyusun map donor. Gagal — dan tidak gagal karena aku kurang teliti. Gagal karena aturannya memang ada supaya orang seperti aku tidak boleh berhasil.
Aku menjahit satu rok kelim empat senti. Rusak.
Aku ikut nol kepanitiaan dalam empat bulan.
Aku tidak masuk kuliah tujuh hari.
Aku punya dua puluh sembilan struk minimarket di meja.
Dan orang yang aku sayang tidak membalas pesanku selama dua puluh tiga hari, karena aku melakukan lagi hal yang sudah aku janjikan tidak akan aku lakukan lagi, dengan cara yang lebih besar dari sebelumnya, dan aku melakukannya sambil merasa jadi orang yang paling baik di dunia.
Aku duduk di lantai itu dan mengerti — jam tiga pagi, tanggal tiga puluh Desember, empat bulan setelah peron stasiun — bahwa aku tidak punya satu pun hal yang bisa aku tawarkan.
Bukan “aku belum menemukan caranya”.
Tidak ada caranya.
Ginjal ibunya tidak bisa aku benahi. Uangnya tidak boleh aku bayar. Pekerjaannya tidak bisa aku kurangi. Kotanya tidak bisa aku pindahkan. Kuliahnya tidak bisa aku kembalikan.
Bahkan menjahit — satu-satunya hal yang aku pelajari selama sembilan bulan dengan jari yang berdarah — bahkan itu pun sudah hilang dari tanganku.
Aku tidak punya apa-apa.
Dan pada jam empat pagi, dengan lampu kamar yang menyala sejak jam lima sore hari sebelumnya, aku ingat sesuatu yang dikatakan seorang laki-laki enam puluh tahun kepadaku di sebuah toko kain di gang paling ujung Pasar Lama, di bulan Agustus tahun lalu, dan yang aku anggap penolakan waktu itu.
Non, saya jualan kain empat puluh tahun. Ada satu hal yang saya pelajarin: nggak semua yang rusak itu urusan kita.
Aku duduk di lantai dan memutarnya.
Dan aku menyadari bahwa selama enam belas bulan aku mendengar kalimat itu dengan cara yang salah.
Aku mendengarnya sebagai: jangan ikut campur.
Bukan itu.
Kalau kamu membaliknya — kalau kamu memeriksa sisi dalamnya, seperti yang diajarkan perempuan lima puluh tiga tahun kepadaku di ruang jahit di Gang Melati nomor empat — bunyinya jadi begini:
Kalau kamu cuma bisa ada di tempat orang yang rusak kalau kamu megang perkakas, kamu nggak pernah beneran ada di situ.
Aku membeli tiketnya jam empat lewat dua puluh pagi.
Aku tidak membuat rencana.
Aku ingin mencatat itu, karena aku memeriksanya sendiri berkali-kali di kereta keesokan harinya, dan aku memeriksanya dengan jujur, dan hasilnya tetap sama:
Aku tidak menyusun apa-apa.
Aku tidak membawa map. Aku tidak membawa daftar. Aku tidak menyiapkan satu pun kalimat pembuka, dan aku tidak mencari tahu jam kerja konveksinya, dan aku tidak mengecek jadwal cuci darah hari Selasa dan Jumat.
Aku tidak punya satu pun hal yang bisa aku tawarkan.
Aku cuma punya alamat, yang dikirim Fikri lewat WhatsApp tanpa satu pun kata tambahan, jam empat lewat lima belas pagi, empat menit setelah aku bertanya.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata reading
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup