← Garansi Seumur Hidup

Chapter Thirty Four

Gerbang Jam Setengah Tujuh

[POV: Hari] · [Hari ke-231]


Negosiasinya berlangsung empat hari.

“Jam enam lima belas.”

“Har, itu subuh.”

“Itu bukan subuh. Subuh jam setengah lima.”

“Kamu tahu maksudku.”

“Aku selalu jam enam lima belas.”

“Aku tahu. Aku juga sering.” Dia mengangkat satu jari. “Tapi ‘sering’ itu artinya nggak tiap hari, dan kalau kamu bikin jam enam lima belas jadi aturan, aku bakal telat terus, terus aku bakal ngerasa bersalah tiap pagi selama enam bulan.”

“Jam enam dua puluh.”

“HARI.”

“Dua puluh lima.”

“Kamu nawar kayak orang beli ikan.”

Kami sepakat jam setengah tujuh di hari keempat, dan aku tetap sampai jam enam lima belas setiap pagi, dan aku duduk di tembok rendah dekat gerbang selama lima belas menit sambil pura-pura membaca sesuatu.

Dia tahu.

Dia tahu dari minggu pertama, karena Bu Nur cerita ke Sekar dan Sekar cerita ke semua orang.

Dia tidak pernah menyebutnya sekali pun.

Itu, kalau kamu bertanya, adalah hal paling baik yang pernah dilakukan siapa pun kepadaku.


Rutinitasnya begini.

Jam setengah tujuh, gerbang.

Jam setengah tujuh lewat sepuluh, kelas. Aku duduk di dekat pintu, dia duduk di barisan tengah, karena kami sudah mencoba pindah bersebelahan di minggu pertama dan Bu Sari bilang “jangan bikin ibu jadi orang jahat, ya” dengan senyum yang tidak bisa dibantah.

Istirahat pertama, tembok belakang kantin.

Istirahat kedua, dia biasanya ditarik orang untuk sesuatu, karena walaupun dia sudah tidak jadi panitia apa pun, orang tetap datang kepadanya untuk bertanya, dan dia tetap menjawab, dan aku sudah berhenti memprotes itu karena aku mengerti sekarang: itu bukan dia mengurus. Itu cuma dia yang tahu.

Pulang jam dua. Jalan ke halte. Dua puluh menit.

Itu bagian yang paling penting dari seluruh hari dan tidak ada satu pun yang terjadi di situ.

Aku mau menjelaskan itu, karena kalau tidak dijelaskan, dua puluh menit itu terdengar seperti tidak ada isinya.

Yang kami bicarakan di dua puluh menit itu, kalau ditulis, isinya kira-kira begini:

Apakah gorengan Bu Nur lebih enak dari gorengan kantin (iya, dan tidak ada yang membantah).

Kenapa anjing di rumah nomor tujuh selalu menyalak ke arah tiang listrik dan tidak pernah ke arah orang.

Apakah Sekar sebaiknya diberi jabatan resmi di rumah supaya berhenti membuat tabel sendiri.

Apakah tulisan tangan Bu Sari di rapor itu ditulis dengan sengaja supaya tidak terbaca.

Tidak satu pun penting.

Dan aku sudah tujuh belas tahun dan aku baru tahu bulan itu bahwa ada jenis percakapan yang gunanya bukan menyampaikan apa-apa.


Masalah earphone muncul di minggu kedua.

“Har, dengerin ini.”

“Aku nggak bawa earphone.”

“Pakai punyaku.”

“Itu satu.”

“Ya makanya.” Dia menyerahkan yang kanan. “Satu-satu.”

Aku memasangnya.

Dan aku menghabiskan tiga puluh detik pertama lagu itu bukan mendengarkan lagunya, tapi menghitung: kabel earphone-nya delapan puluh senti, dibagi dua jadi empat puluh, dan itu berarti jarak maksimal antara kepalaku dan kepalanya adalah empat puluh senti, dan itu berarti kami harus berjalan lebih pelan dan lebih dekat dari biasanya, dan aku yakin dia sudah menghitung itu sebelum menyerahkan earphone-nya.

“Har.”

“Hm?”

“Kamu nggak dengerin.”

“Aku dengerin.”

“Ini lagunya udah ganti dari tadi.”


Yang membuatnya jadi masalah adalah tiga hari kemudian.

“Sekarang giliran kamu.”

“Ha?”

“Puter lagu kamu.”

Aku memegang HP-ku dan tidak bergerak.

“Har?”

“Aku nggak punya.”

“Nggak punya apa?”

“Lagu.”

Kanaya berhenti jalan.

“Satu pun?”

“Aku nggak pernah download.”

“Kamu dengerin apa kalau lagi kerja?”

“Mesin.”

“HARI.”

“Itu ada bunyinya, Nay. Mesin jahit itu bunyinya beda-beda tergantung tebel kainnya.”

“Kamu dengerin mesin jahit.”

“Iya.”

Dia berdiri di trotoar selama beberapa detik dengan ekspresi orang yang baru saja menemukan pelanggaran hak asasi manusia.

“Ya udah,” katanya. “Aku bikinin.”

“Nggak usah.”

“Har, ini bukan ngurusin kamu, ini darurat.”

“Itu ngurusin.”

“Ini bukan.” Dia sudah mengeluarkan HP-nya. “Perjanjiannya kamu boleh nolak. Kamu mau nolak?”

Aku memikirkannya.

“Enggak.”

“NAH.”

“Tapi jangan yang sedih.”

“Kenapa?”

“Kalau sedih, tanganku pelan.”

Kanaya berhenti mengetik.

“Har, kamu milih lagu berdasarkan kecepatan tangan?”

“Iya.”

“Itu bukan cara orang milih lagu.”

“Itu cara aku.”

“Kamu pengen lagu yang cepet?”

“Nggak juga,” kataku. “Yang penting ritmenya rata. Kalau ritmenya berubah-ubah, jahitannya ikut.”

Dia menatapku selama beberapa detik.

“Ya ampun,” katanya. “Kamu tuh mesin ya.”

“Aku bercanda.”

“Kamu nggak bercanda.”

“Setengahnya bercanda.”


Playlist itu isinya empat puluh satu lagu.

Aku tahu jumlahnya karena aku menghitung, dan aku menghitungnya di malam yang sama, dan aku mendengarkan semuanya berurutan sampai jam satu sambil menyelesaikan dua kemeja.

Yang ketujuh belas jelek sekali.

Aku memberitahunya besok paginya.

“Yang nomor tujuh belas jelek.”

“KAMU DENGERIN SEMUA?”

“Iya.”

“Semalem?”

“Iya.”

“Har, itu empat puluh satu lagu.”

“Dua jam empat puluh tiga menit,” kataku. “Aku ngerjain dua kemeja.”

Dan Kanaya berdiri di gerbang jam setengah tujuh pagi dan menutup wajahnya dengan dua tangan dan tidak mengatakan apa pun selama sekitar sepuluh detik.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” katanya, dari balik tangannya.

“Itu jawaban nomor satu.”

“IYA AKU TAHU.”


Ada satu file di HP-ku yang bukan lagu.

Aku tidak menyebutkannya waktu dia bertanya, dan aku memikirkan itu selama seminggu, dan aku memutuskan sesuatu hari Rabu.

“Nay.”

“Hm?”

“Nay.”

Dia berhenti mengunyah rotinya.

“Iya, Har?”

Kami duduk di tembok belakang kantin. Aku menyerahkan HP-ku dengan layar menghadap ke atas.

“Ini apa?”

“Video.”

“Empat puluh detik.”

“Iya.”

Dia memutarnya.

Gambarnya jelek. Diambil dengan HP tahun dua ribu berapa, gelap di pinggir, dan pegangannya goyang karena yang memegang berumur sepuluh tahun.

Yang kelihatan cuma meja mesin, kain hitam, dan sepasang tangan.

Tidak ada wajah. Tangannya masuk dari sisi kanan frame, memutar roda tangan, menurunkan sepatu mesin, dan menjalankan jahitan sepanjang mungkin dua puluh senti.

Bunyi mesinnya rata. Tidak ada suara orang.

Di detik ketiga puluh delapan ada suara anak kecil dari belakang kamera yang bertanya sesuatu yang tidak jelas.

Dan tangan itu berhenti, dan mengangkat satu jari, dan menunjuk ke satu titik di kain.

Video selesai.


Kanaya tidak mengembalikan HP-ku selama beberapa saat.

“Har.”

“Iya.”

“Ini ayahmu?”

“Iya.”

“Kamu yang megang kameranya?”

“Iya.”

“Umur berapa?”

“Sepuluh.”

Dia memutarnya lagi. Aku tahu karena aku mendengar bunyi mesinnya dari sini.

“Kamu nanya apa di detik tiga puluh delapan?”

“Aku nanya kenapa jahitannya berhenti di situ.”

“Terus dia jawab apa?”

“Dia nggak jawab,” kataku. “Dia nunjuk.”

“Nunjuk apa?”

Aku mengambil HP-ku dan memutarnya sampai detik tiga puluh sembilan dan menahannya di situ.

“Situ,” kataku. “Itu tempat kain dalemnya ketemu kain luar. Kalau jahitannya lewat, nanti kelihatan dari depan.”

Kanaya memandangi layar itu.

“Jadi dia lagi ngajarin kamu.”

“Iya.”

“Di video empat puluh detik.”

“Iya.”

“Har.”

“Hm.”

“Ini satu-satunya?”

Aku mengunci HP-ku dan memasukkannya ke saku.

“Iya,” kataku. “Kami nggak punya kamera. Itu HP tetangga yang dipinjem buat lebaran.”

“Kamu minjem HP orang buat ngerekam tangan ayahmu?”

“Aku minjem buat foto lebaran,” kataku. “Sisanya kepake.”

“Har.”

“Aku umur sepuluh, Nay. Aku nggak mikir apa-apa. Aku cuma pengen ngerekam mesinnya jalan.”

“Kamu ngerekam mesinnya?”

“Iya.”

Kanaya menatapku dengan cara yang membuatku ingin melihat ke arah lain.

“Kamu ngerekam mesinnya,” ulangnya, “dan tangannya kebetulan masuk.”

“Iya.”

“Har, kamu ngerekamnya empat puluh detik. Empat puluh detik itu lama banget buat anak umur sepuluh.”

“Iya.”

“Kamu tahu nggak—” Dia berhenti. “Kamu tahu nggak kalau kamu ngerekam mesinnya doang, kamu bakal berhenti di detik kelima?”

Aku tidak menjawab.

Karena dia benar, dan karena aku sudah memikirkan itu sendiri sekitar empat tahun lalu, dan karena tidak ada gunanya mengucapkan sesuatu yang sudah dimengerti dua orang di tembok belakang kantin.

Dia mengembalikan roti setengahnya ke bungkus dan tidak melanjutkan makan.

“Har.”

“Hm?”

“Kamu dengerin ini kalau lagi kerja, ya.”

“...Kadang.”

“Berapa sering?”

Aku tidak menjawab.

“Har.”

“Nggak setiap malam.”

“Berapa sering?”

Dan aku menjawabnya, karena aku sudah berjanji, dan karena ternyata perjanjian tidak-ada-yang-diem-diem itu jauh lebih mahal dari yang aku kira waktu mengusulkannya.

“Kalau ada yang harus selesai subuh,” kataku.

Kanaya menutup mulutnya dengan punggung tangan.

“Nay.”

“Aku nggak nangis.”

“Kamu nangis.”

“Aku bocor dikit.” Dia mengusap matanya dengan lengan seragam. “Ini beda.”


Sekarang bagian yang aku tidak ceritakan waktu itu.

Ada empat pagi di bulan itu di mana aku tidak ada di gerbang.

Yang pertama hari Selasa minggu kedua. Aku mengirim pesan jam enam kurang: nganterin pesanan dulu, langsung ke sekolah.

Yang kedua hari Kamis minggu ketiga. Ada urusan sama TU, duluan aja.

Yang ketiga dan keempat di minggu keempat, dua hari berturut-turut. Ibu minta tolong.

Semuanya benar.

Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah berjanji dan aku tidak melanggar janji itu sekali pun di bulan-bulan itu: aku tidak berbohong satu kali pun.

Aku cuma tidak menyebutkan urutannya.

Yang aku antar pagi itu memang pesanan. Yang aku urus di TU memang urusan TU. Yang ibu minta tolong memang ibu yang minta.

Cuma di antara ketiga hal itu ada satu tempat yang aku datangi, dan tempat itu buka jam tujuh, dan antreannya panjang kalau datang lewat dari setengah delapan.

Kanaya bertanya sekali.

“Har, kamu tiga kali nggak di gerbang bulan ini.”

“Empat.”

“Empat?”

“Kamu lupa yang Kamis.”

“Oh iya.” Dia mengangguk. “Sibuk banget, ya.”

“Kelas dua belas,” kataku.

Dan itu juga benar.

Fikri bertanya juga, dengan caranya sendiri, yang artinya dia tidak bertanya.

“Har.”

“Hm.”

“Lo kurusan.”

“Enggak.”

“Kerah seragam lo longgar dua senti dari bulan lalu.”

Aku mengangkat kepala.

“Kamu ngukur kerah orang sekarang?”

“Enggak.” Dia menggulir layarnya. “Gue cuma inget bentuknya.”

“Fik.”

“Gue nggak nanya apa-apa,” katanya. “Gue cuma ngasih data.”

Dan dia memasang earphone-nya, dan tidak melanjutkan, dan aku duduk di mejaku dekat pintu selama sisa jam pelajaran itu tanpa menulis apa pun di bukuku.

Dan Kanaya percaya, karena tidak ada alasan untuk tidak percaya, karena orang yang tidak pernah berbohong itu punya satu keuntungan yang sangat besar dan sangat jahat:

kalau suatu hari dia diam soal sesuatu, tidak ada yang mengecek.


Aku pulang jam dua hari Jumat itu dan ibu sedang menjahit.

“Bu.”

“Hm?”

“Hasilnya kapan?”

Ibu tidak berhenti mengayuh.

“Dua minggu,” katanya.

“Dua minggu itu lama.”

“Ya emang lama.”

“Bu—”

“Har.” Mesin itu berhenti. “Ibu udah bilang jangan dibesar-besarin.”

“Aku nggak—”

“Ibu capek karena pesanan banyak.” Dia menjalankan mesinnya lagi. “Sebelas pelanggan baru, Har. Ibu lima puluh dua tahun. Ya capek.”

“Iya, Bu.”

“Ya udah.”

Sekar masuk membawa dua gelas teh dan menaruh satu di sudut mejaku, jauh dari kain, di tempat yang tidak akan tumpah kalau sikuku bergerak.

Dia belajar itu dari ibu. Ibu belajar itu dari ayah.

“Kak.”

“Hm.”

“Ibu ke dokter tadi pagi, ya?”

Aku memasang benang ke jarum.

“Cek biasa.”

“Kok Kakak ikut?”

“Nemenin.”

“Kakak sekolah.”

“Aku telat dikit.”

Sekar berdiri di sebelah kursiku sambil memegang gelasnya sendiri dengan dua tangan.

“Kak.”

“Sekar, tidur.”

“Ibu sering ketiduran di kursi sekarang.”

Aku berhenti.

“Sejak kapan?”

“Sejak lama.” Dia menyeruput tehnya. “Aku catet.”

“Kamu catet?”

“Aku catet semua, Kak. Kakak yang ngajarin.”

Aku menoleh ke arah adikku, sembilan tahun, memegang gelas teh dengan dua tangan di ruang jahit jam sembilan malam.

“Berapa kali?”

“Bulan ini sebelas.”

Aku menjalankan mesin.

“Ya udah,” kataku. “Tidur, Sekar.”

“Kak—”

“Tidur.”

Dia pergi.

Aku masuk ke ruang jahit dan menyalakan lampu meja dan mengerjakan tiga celana sampai jam sebelas.

Dan aku memutar video empat puluh detik itu dua kali malam itu, dengan volume paling kecil, sambil menjahit.

Aku tidak menghitung apa pun.

Aku ingat itu dengan jelas, karena malam itu aku menyadarinya sendiri: aku duduk di depan mesin sampai jam sebelas dan tidak sekali pun mengecek jam, tidak menghitung sisa pesanan, tidak menghitung apa pun.

Dan aku ingat aku berpikir, sambil mematikan lampu meja, bahwa ternyata begini rasanya.