← Garansi Seumur Hidup

Chapter Forty

Ukur Ulang

[POV: Hari] · [Hari ke-289]


“Aku sewa aja.”

“Berapa?”

“Tiga ratus.”

Aku menaruh pulpenku.

“Tiga ratus buat semalam?”

“Iya.”

“Nay, itu—”

“Har, aku tahu.” Dia menutup bukunya. “Semua orang sewa. Nadine sewa. Regita sewa dua karena dia mau ganti di tengah acara.”

“Regita mau ganti di tengah acara?”

“Regita mau ganti dua kali, terus dilarang Bu Sari.”

Aku memikirkan angka itu selama beberapa detik.

Tiga ratus ribu itu bahan gaun yang bagus, plus resleting jepang, plus benang, plus furing, dan masih sisa untuk makan berdua di warung Bu Nur selama sebulan.

“Aku bikinin,” kataku.

Kanaya berhenti.

“Har.”

“Aku bikinin.”

“Kamu belum pernah bikin gaun.”

“Aku pernah.”

“Kapan?”

“Kelas satu SMP. Kebaya wisuda anak Bu Ningsih.”

“Itu kebaya.”

“Sama aja.”

“HAR, ITU NGGAK SAMA.”


Aku mau menjelaskan kenapa aku bersikeras, karena kalau tidak dijelaskan, ini kelihatan seperti orang yang sombong.

Bukan karena aku yakin bisa.

Aku tidak yakin. Aku belum pernah membuat gaun. Aku pernah membantu ibu tiga kali, dan membantu itu artinya memotong furing dan memasang resleting, dan yang paling susah dari gaun bukan itu.

Aku bersikeras karena satu alasan yang sangat kecil, dan aku menyadarinya malam sebelumnya, jam satu, di depan mesin.

Kalau dia menyewa, dia akan memakai gaun yang dipakai orang lain bulan lalu dan orang lain lagi bulan depan.

Dan setelah acaranya selesai, gaun itu dikembalikan.

Aku tidak bisa menjelaskannya lebih baik dari itu waktu itu, dan aku juga tidak mencoba.

“Nay.”

“Hm?”

“Nay.”

Dia menegakkan punggungnya.

“Iya, Har?”

“Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan maksa,” kataku. “Tapi aku mau kamu nolaknya karena kamu emang nggak mau, bukan karena kamu nggak enak.”

Kanaya menatapku cukup lama.

“Kamu curang,” katanya.

“Kenapa curang?”

“Karena kamu tahu persis kalimat apa yang nggak bisa aku lawan.”


Bahannya kami beli hari Minggu di Pasar Lama.

Toko Pak Hasan, gang paling ujung, di sebelah kios yang menjual kancing dalam ember.

“Har! Bikin apa?”

“Gaun, Pak.”

Pak Hasan mengangkat kacamata bacanya.

“Kamu bikin gaun?”

“Iya, Pak.”

“Sendiri?”

“Iya, Pak.”

Dia melihat ke arah Kanaya, lalu ke arahku, lalu ke arah Kanaya lagi, dan aku tahu persis apa yang sedang dia pikirkan dan aku memutuskan untuk tidak mengoreksinya.

“Ya sudah,” katanya. “Sini.”

Dia membawa kami ke rak paling belakang, yang tidak pernah aku datangi seumur hidup karena harganya per meter lebih mahal dari seluruh isi tas sekolahku.

“Pak, saya nggak—”

“Saya nggak nawarin,” katanya. “Saya cuma nunjukin.”

Dia menarik satu gulungan.

Kain itu warnanya biru tua yang kalau dimiringkan jadi agak hijau. Tenunannya rapat sekali. Waktu aku memegangnya, kainnya jatuh dari tanganku seperti air.

Aku tahu itu terdengar berlebihan. Aku tidak berlebihan. Kain yang bagus itu memang jatuh berbeda, dan kalau kamu sudah memegang kain murah selama sembilan tahun, kamu bisa merasakan bedanya di ujung jari sebelum otakmu ikut.

“Berapa, Pak?”

Pak Hasan menyebut angkanya.

Aku mengembalikan gulungan itu ke rak.

“Har—”

“Yang ini bagus juga, Pak.” Aku menunjuk rak tengah. “Yang polyester campur, yang navy.”

“Har.”

“Nay, ini juga bagus.”

“Har.”

Aku tidak menoleh.

Pak Hasan menaruh gulungan yang mahal itu kembali dan mengambil yang aku tunjuk, dan mengukurnya, dan tidak berkomentar sama sekali, dan aku berterima kasih kepadanya di dalam hati selama sisa hari itu.


“Har.”

Di jalan pulang. Di gang kain, dengan kantong berisi tiga setengah meter kain navy dan satu resleting jepang.

“Hm?”

“Aku punya uang.”

“Aku juga.”

“Aku punya lebih banyak.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa—”

“Nay.” Aku memindahkan kantong ke tangan satunya. “Kalau kamu yang beli bahannya, itu kamu nyewa. Cuma tukangnya aku.”

Dia diam beberapa langkah.

“Itu logika yang jelek,” katanya.

“Iya.”

“Kamu tahu itu jelek?”

“Iya.”

“Terus kenapa tetep?”

Dan aku menjawabnya sambil berjalan di gang kain Pasar Lama hari Minggu jam sepuluh, tanpa menoleh, karena kalau aku menoleh aku tidak akan sanggup menyelesaikan kalimatnya.

“Karena aku belum pernah bisa ngasih kamu apa-apa yang nggak diminta,” kataku.


Aku mengukurnya hari Selasa sore.

Ruang jahit. Jam empat. Ibu di dapur, sudah sembuh dari yang bulan lalu, sudah menjahit lagi enam jam sehari walaupun aku memprotes dua kali dan kalah dua kali.

Sekar di kursi kecil dengan buku tulis.

“Nama.”

“Sekar.”

“Prosedur.”

“Kamu udah dua kali.”

“Ini ketiga,” katanya. “Berarti udah tradisi.”


Mengukur untuk gaun itu bukan mengukur untuk rok.

Rok butuh tujuh angka.

Gaun butuh empat belas, dan sepuluh di antaranya di bagian badan.

Aku mau menuliskan bagian ini dengan hati-hati, dan aku akan menuliskannya apa adanya, karena kalau aku menghaluskannya berarti aku sedang berbohong tentang apa yang terjadi di ruangan itu.

Bulan Mei, di ruangan yang sama, aku menjatuhkan pita ukur.

Bulan Februari, di ruangan yang sama, tanganku tidak jatuh sekali pun.

Yang berubah bukan bahwa aku sudah terbiasa.

Yang berubah adalah aku tidak lagi menganggap setiap sentuhan sebagai sesuatu yang harus dihemat.

“Angkat tangan sebahu.”

“Gini?”

“Turun dikit.”

Aku mengukur lebar punggung. Ujung jariku menyentuh tulang belikatnya untuk menandai titiknya, dan aku menekan pelan supaya pitanya tidak melenceng, dan tidak ada satu pun dari kami yang berhenti bernapas.

“Empat puluh koma lima.”

“Empat puluh koma lima,” ulang Sekar.

Lingkar dada. Aku melingkarkan pitanya dari belakang ke depan, dan tanganku lewat di bawah lengannya, dan dia mengangkat lengannya sedikit tanpa aku minta karena dia sudah tahu urutannya.

“Delapan puluh empat.”

Panjang punggung sampai pinggang. Aku menekan satu jari di tengkuknya untuk menandai titik awal.

Rambutnya harus disingkirkan untuk itu, dan dia menyingkirkannya sendiri, dan aku berterima kasih di dalam hati karena kalau aku yang menyingkirkannya aku tidak yakin tanganku akan tetap berguna.

Kulit di tengkuk itu hangat.

Aku menaruh ujung telunjukku di tulang leher yang paling menonjol — itu titik standarnya, semua penjahit memakai titik itu — dan menahannya selama pita ukurnya turun.

Empat detik.

“Tiga puluh delapan.”

“Tiga puluh delapan,” ulang Sekar.

Lingkar pinggang. Tujuh puluh satu; naik satu setengah dari bulan Februari lalu, dan aku menyebutkan itu, dan Kanaya bilang “kamu nggak usah ngomong” dan aku bilang “itu bagus” dan dia bilang “kenapa bagus” dan aku bilang “karena kamu makan”.

Dia tidak menjawab itu.

Lingkar panggul. Tinggi panggul. Panjang gaun dari bahu ke lantai, yang harus diukur sambil dia berdiri tegak dan aku berjongkok, dan yang membuat Sekar berkomentar “Kak Hari kayak lagi ngelamar” dan diusir dari ruangan selama tiga menit.

“Har.”

“Hm?”

“Tanganmu dingin.”

“Iya.”

“Kamu nggak gemeteran.”

“Enggak.”

“Tapi dingin.”

“Tanganku selalu dingin,” kataku. “Bulan Mei kamu kira aku gemeteran gara-gara kamu.”

“...Emangnya enggak?”

“Setengahnya iya.”

Sekar, dari kursi kecil, tanpa mengangkat kepala:

“Aku nggak nulis yang barusan.”

“Bagus.”

“Aku inget di kepala.”


Ibu memanggil Sekar jam setengah lima untuk mengangkat jemuran.

Dan ruang jahit itu jadi sepi, persis seperti bulan Mei, dengan perbedaan bahwa kali ini tidak ada satu pun dari kami yang berpura-pura tidak menyadarinya.

Tinggal empat ukuran.

“Yang terakhir ini agak lama,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena garis lehernya harus kamu yang nentuin.”

“Maksudnya?”

Aku mengambil pita ukur dan memegangnya di depan tulang selangkanya, tidak menyentuh, sekitar dua senti dari kulit.

“Sini, atau sini.” Aku menggeser tanganku turun sedikit. “Atau sini.”

Kanaya melihat ke bawah, ke arah tanganku.

“Har.”

“Hm?”

“Kamu bisa nyentuh.”

Aku menurunkan pitanya.

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Aku lagi nanya dulu,” kataku.

Dan dia berdiri di tengah ruang jahit itu dan menatapku, dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya yang membuatku harus melihat ke arah lain.

“Yang tengah,” katanya. “Yang kedua.”

Aku menandainya dengan kapur jahit, di kain contoh yang sudah aku pasang di bahunya, dan waktu aku menandainya jariku menyentuh tulang selangkanya selama mungkin dua detik.

Tidak ada yang bicara.

Mesin ibu terdengar dari ruang tengah. Sekar berteriak sesuatu tentang jemuran.

“Selesai,” kataku.

“Har.”

“Hm?”

“Kamu selesai jam berapa tadi?”

“Ha?”

“Ukurannya. Yang tadi.” Suaranya agak serak. “Berapa lama?”

Aku melihat jam dinding.

“Dua puluh dua menit.”

“Bulan Mei berapa?”

“Empat puluh satu.”

Kanaya menutup wajahnya dengan telapak tangan dan tertawa dengan suara yang aneh sekali.

“KAMU INGET?”

“Aku ngitung semuanya.”

“HARI.”


Aku mencatatnya malam itu.

Empat belas angka, di buku catatan coklat, di halaman kosong sebelum halaman MASIH DIKERJAKAN, dengan huruf kecil-kecil yang jaraknya sama semua.

Lalu aku menambahkan enam lagi.

Lingkar leher. Lingkar kepala. Panjang lengan dari bahu ke pergelangan. Lingkar pergelangan tangan. Panjang kaki dari pinggang ke lantai. Lingkar telapak kaki.

Tidak satu pun dari enam itu diperlukan untuk gaun tanpa lengan.

Kanaya melihatnya waktu lewat.

“Har.”

“Hm?”

“Lingkar kepala?”

“Iya.”

“Buat apa?”

“Sekalian.”

“Gaunnya nggak ada tudungnya.”

“Iya.”

“Terus kenapa diukur?”

Aku menutup pulpennya dan melingkarkan karet gelang di buku itu, dua putaran.

“Kalau udah dipanggil ke sini,” kataku, “sekalian aja semuanya. Biar nggak usah ngukur lagi.”

Kanaya berdiri di ambang pintu ruang jahit dengan gelas di tangan.

“Har, kamu bisa ngukur aku kapan aja.”

“Iya.”

“Aku ke sini tiap Sabtu.”

“Iya.”

“Kamu ngomong kayak orang yang mau ngerjain pesanan dari luar kota.”

Dan aku tertawa — pendek, lewat hidung — dan bilang “iya, ya”, dan memasukkan buku itu ke laci.

“Har.”

“Hm?”

“Kenapa nggak diinget aja?”

Aku menutup lacinya.

“Kamu bisa inget ukuran Pak Darto dari dua tahun lalu,” lanjutnya. “Kamu inget punyaku dari bulan Mei, terus Februari, terus sekarang. Kamu bahkan inget berapa menit aku diukur bulan Mei.”

“Empat puluh satu.”

“NAH.”

“Nay—”

“Aku nggak lagi maksa kamu jawab,” katanya cepat. “Aku cuma nggak ngerti.”

Dan aku berdiri di ruang jahit itu dengan tangan masih di gagang laci dan memberikan jawaban yang benar seluruhnya, yang tidak ada satu pun kata bohong di dalamnya, dan yang aku susun kalimatnya dengan sangat hati-hati.

“Karena yang di kepala aku itu cuma ada selama aku ada,” kataku.

Kanaya menatapku.

“Har, itu kalimatnya serem.”

“Itu kalimat penjahit.”

“Itu kalimat serem.”

“Nay, ibuku hafal ukuran empat ratus orang,” kataku. “Kalau ibuku besok kenapa-kenapa, empat ratus orang itu harus diukur ulang dari nol.”

Dia berdiri di situ beberapa detik.

“Oh,” katanya.

“Iya.”

“Jadi kamu nyatet buat arsip.”

“Iya.”

“Bukan buat—”

“Nay.” Aku menaruh tanganku di meja. “Aku penjahit. Penjahit itu nyatet.”

Dan dia bilang “iya, ya” dengan nada orang yang menerima jawaban yang masuk akal, dan mengambil gelasnya, dan pergi ke dapur.

Dan Kanaya berdiri di ambang pintu itu satu setengah detik lebih lama dari yang perlu sebelum berbalik, dan aku menghitungnya, dan aku tidak tahu kenapa aku menghitungnya.


Aku mengerjakan gaun itu tiga minggu.

Tiga minggu, sebelas malam, dan aku membongkar bagian dadanya empat kali karena kain navy itu bergerak waktu dijahit dan aku belum pernah mengerjakan bahan yang bergerak.

Ibu bertanya soal uangnya di malam kedua.

“Har.”

“Iya, Bu.”

“Bahannya berapa?”

“Aku yang bayar.”

“Ibu nanya berapa.”

Aku menyelesaikan jahitan sampai ujung sebelum menjawab.

“Dua ratus empat puluh,” kataku.

Mesin ibu berhenti.

“Dari mana?”

“Ada.”

“Har.”

“Aku nabung, Bu.”

“Nabung dari apa?”

“Dari yang bulan lalu.”

Ibu tidak melanjutkan pertanyaannya, dan aku bersyukur untuk itu, dan aku bersyukur dengan cara yang seharusnya membuatku curiga pada diriku sendiri.

Karena “dari yang bulan lalu” itu benar.

Bulan lalu aku mengerjakan delapan belas pesanan. Delapan belas, dalam empat minggu, di luar pesanan ibu.

Yang tidak aku sebutkan adalah bahwa aku mengerjakan delapan belas pesanan itu bukan untuk membeli kain.

Dan yang juga tidak aku sebutkan adalah bahwa uang untuk kain itu berasal dari bagian yang tersisa, dan bahwa tersisanya karena satu hal di bulan itu tidak jadi dibayar, dan bahwa yang tidak jadi dibayar itu bukan urusan siapa-siapa selain aku.

Ibu membantu dua kali dan aku menolak tiga kali.

“Har.”

“Aku bisa, Bu.”

“Ibu tahu kamu bisa.”

“Terus?”

“Ibu cuma mau lihat,” katanya, dan menarik kursi, dan duduk di seberangku sambil memegang teh.

Dia duduk di situ selama satu setengah jam malam itu tanpa menyentuh apa pun.

“Har.”

“Iya, Bu.”

“Jahitanmu udah lebih bagus dari ibu.”

Aku berhenti mengayuh.

“Nggak, Bu.”

“Ibu bukan lagi muji.” Dia meniup tehnya. “Ibu lagi ngomong fakta. Ibu tangannya udah nggak stabil dua tahun ini.”

“Bu—”

“Nggak apa-apa. Semua orang gitu.” Dia mengangkat bahu. “Ibu cuma mau bilang, kalau nanti ada pesanan yang susah, kamu yang ngerjain. Jangan ibu.”

“Iya, Bu.”

“Har.”

“Iya?”

“Ibu serius.”

Dan aku menoleh, dan ibuku duduk di kursi kecil di seberang mesin dengan gelas teh di dua tangan, dan lampu meja menyala di antara kami.

“Iya, Bu,” kataku. “Aku serius juga.”


Gaun itu selesai hari Kamis, dua hari sebelum pensi.

Aku menggantungnya di gantungan kayu di ruang jahit dan berdiri agak jauh untuk melihatnya, dan aku berdiri di situ mungkin sepuluh menit.

Warnanya biru tua yang kalau kena lampu jadi agak hijau. Bukan yang mahal dari rak belakang; yang polyester campur dari rak tengah. Tapi aku sudah mencuci dan menyetrikanya dua kali dan memberinya furing yang benar, dan kalau kamu tidak menyentuhnya kamu tidak akan tahu bedanya.

Sekar berdiri di sebelahku memandanginya.

“Kak.”

“Hm?”

“Ini bagus banget.”

“Iya.”

“Kakak bikin ini tiga minggu.”

“Iya.”

Dia berdiri di situ dengan susu kotak di tangan.

“Kak.”

“Apa.”

“Nanti kalau aku SMA, aku dibikinin juga?”

Dan aku berdiri di ruang jahit rumahku sendiri jam sebelas malam hari Kamis dengan gaun tergantung di depanku, dan aku menjawab adikku tanpa berpikir sama sekali, dengan nada paling biasa di dunia:

“Nanti tanya Ibu, ya.”

Sekar mengangguk dan pergi tidur.

Aku berdiri di situ beberapa detik lagi.

Lalu aku melakukan satu hal terakhir sebelum mematikan lampu.

Aku memotong pita kain putih sepanjang empat senti dari sisa gulungan di kotak paling bawah — yang biasa ibu pakai untuk label nama seragam anak SD — dan aku mengambil spidol kain dari laci.

Aku duduk memegang spidol itu lama sekali.

Bukan selama waktu di bulan Mei. Bulan Mei aku duduk mungkin dua puluh menit dan menulis empat kata dan menjahitnya di balik kerah seragam orang yang belum tahu namaku dengan benar.

Malam itu aku duduk sekitar delapan menit.

Lalu aku menulis, dengan huruf kapital kecil-kecil, jaraknya sama semua.

Aku menjahitnya di balik kerah bagian dalam, di sisi kiri, empat tusuk di setiap sudut, benang putih.

Dan satu simpul merah di belakangnya, di sisi dalam, di tempat yang bahkan pita itu pun menutupinya.

Lalu aku mematikan lampu meja, dan naik ke kamar, dan aku tidak memikirkan kalimat itu lagi sama sekali.