Chapter Two
Pinjam Pulpen
[POV: Hari] · [Hari ke-2]
Ada dua puluh menit di sekolah ini yang benar-benar milikku: dari jam enam lima belas sampai bel pertama.
Penjaga sekolah sudah membuka pintu, tapi anak-anak belum datang. Koridor masih dingin. Lantai masih basah bekas pel. Di jam itu aku bisa masuk kelas, menaruh sesuatu di kursi orang, dan keluar lagi tanpa satu pun mata di punggungku.
Jaket Regita sudah tersampir rapi di sandaran kursinya. Aku bahkan menaruhnya dengan cara yang sama seperti waktu ditinggalkan kemarin — lengan kiri jatuh ke depan, resleting setengah turun.
Aku baru mundur dua langkah waktu pintu kelas terbuka.
“Pagi banget.”
Aku hampir menjatuhkan tasku sendiri.
Kanaya berdiri di ambang pintu dengan map yang sama seperti kemarin, ditambah satu tumpuk kertas fotokopi yang masih hangat.
“...Pagi,” kataku.
“Kamu selalu sepagi ini?”
“Kadang.”
“Aku juga.” Dia masuk, menaruh kertas-kertas itu di meja guru, mulai memisahkannya jadi tiga tumpukan. “Kalau siang nggak sempat. Kalau siang aku dicariin orang terus.”
Aku berdiri di tengah kelas seperti orang yang sedang menunggu instruksi untuk hidup.
Dia melirik ke arah kursi Regita, lalu ke arahku.
“Kamu lagi ngapain?”
Ini pertanyaan yang jawabannya ada tiga:
Satu, jujur. Aku menjahit kancing jaket temanmu semalaman.
Dua, bohong, yang berarti aku harus mengarang, dan aku tidak pernah bisa mengarang lebih cepat dari dua detik.
Tiga—
“Ngambil pulpen,” kataku.
“Di kursi Regita?”
“...Jatuh.”
Kanaya diam sebentar. Lalu dia mengangguk pelan, seperti orang yang memutuskan untuk tidak menarik benang yang kelihatan menggantung.
“Oh,” katanya. “Ketemu?”
“Ketemu.”
“Bagus.” Dia kembali ke tumpukan kertasnya. “Hari, bantuin sebentar, dong. Yang ini bagi ke meja barisan jendela, ya. Satu-satu.”
Dan begitulah caranya aku menghabiskan tujuh menit pertama hari kedua dengan berjalan bolak-balik di kelas kosong bersama orang yang bahkan tidak tahu bahwa aku tahu ukuran bahunya.
“Kamu naruhnya rapi banget,” katanya dari barisan sebelah.
“Ha?”
“Kertasnya. Semua sudutnya sejajar sama sudut meja.” Dia berhenti dan benar-benar melihat barisanku, satu meja ke meja. “Kamu ngukur?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Kelihatan aja.”
“Kelihatan gimana?”
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa kertas yang miring itu bunyinya berisik di mata. Jadi aku cuma mengangkat bahu, dan bahu adalah bahasa yang sangat terbatas.
Kanaya menaruh tumpukannya, lalu menegakkan punggung dan memutar bahu kirinya sekali — pelan, seperti orang yang sudah biasa melakukannya tanpa sadar.
Aku melihat kerah seragamnya naik setengah senti di sisi itu.
Itu bukan kesalahan penjahitnya. Itu karena tas.
“Tas kamu selalu di bahu kiri, ya,” kataku.
Dia menoleh.
Aku langsung menyesal, dan penyesalan itu datang dengan sangat cepat, seperti orang yang sadar sudah melangkah ke luar jendela.
“Iya,” katanya. “Kok tahu?”
“...Nggak tahu.”
“Kamu itu,” katanya sambil kembali membagi kertas, “bilang ‘nggak tahu’ terus, padahal barusan tahu.”
Bel berbunyi sebelum aku sempat merusak keadaan lebih jauh.
Pelajaran ketiga, Bu Sari mendikte satu setengah halaman tanpa jeda.
Aku menulis dengan tangan yang sudah terlatih. Ibu mengajariku menjahit sejak umur delapan, dan salah satu efek sampingnya adalah tanganku tidak pernah lelah lebih dulu daripada kepalaku.
Di sebelahku, pulpen Kanaya mati di tengah kata.
Aku tahu persis kapan. Ada bunyinya — goresan yang berubah dari basah jadi kering, lalu bunyi pulpen yang diputar-putar di kertas kosong, lalu dikocok dua kali.
“Ssst. Nadine.” Dia setengah berbisik ke depan. “Pinjam pulpen.”
Nadine menggeleng tanpa menoleh.
“Regit.”
“Nggak bawa, Nay.”
“Kamu nggak pernah bawa apa-apa.”
“Aku bawa diri.”
Bu Sari mendikte terus. Kanaya menoleh ke kanan, ke kiri, dan aku tahu — aku tahu — bahwa arah berikutnya adalah aku, dan tubuhku bergerak sebelum kepalaku sempat mengeluarkan surat izin.
Aku sudah menyodorkan pulpen ke atas mejanya sebelum dia sempat bicara.
Dia berhenti sedetik.
“Makasih.”
Dia mengambilnya. Jarinya tidak menyentuh jariku — jaraknya mungkin setengah sentimeter, mungkin kurang — tapi rambutnya jatuh ke depan waktu dia menunduk, dan ujungnya menyapu punggung tanganku.
Aku tidak bergerak.
Aku benar-benar tidak bergerak, dalam artian yang sangat harfiah: paru-paruku memutuskan untuk mengambil cuti tanpa pemberitahuan.
Dua detik. Tiga. Empat.
“Hari.”
“Ha?”
“Kamu nggak nulis?”
Aku menunduk ke bukuku. Kalimat terakhir yang tertulis di sana berhenti di tengah kata, persis seperti punya dia tadi.
Aku mengeluarkan pulpen cadangan dari kotak pensil.
Aku selalu bawa tiga. Bukan karena aku orang yang siap. Aku bawa tiga karena kalau satu habis di tengah pelajaran, aku harus mengangkat tangan dan meminta, dan meminta artinya bicara, dan bicara artinya semua kepala menoleh.
Tiga pulpen itu, kalau dipikir-pikir, adalah seluruh sistem pertahananku dalam bentuk paling murah.
Menjelang akhir jam, Kanaya menggeser bukunya sedikit ke arahku.
“Nomor tiga tadi apa? Aku ketinggalan.”
Aku memiringkan bukuku.
Dia membaca. Lalu berhenti membaca, dan malah memperhatikan hurufnya.
“Tulisan kamu bagus.”
“Nggak.”
“Bagus. Kecil-kecil tapi jaraknya sama semua.” Dia menyipit. “Kayak dijahit.”
Ada sesuatu yang jatuh ke dalam perutku dan tidak mendarat.
“Kebetulan,” kataku.
“Iya, ya.” Dia menyalin nomor tiga, mengembalikan posisi bukunya, dan tidak bertanya lagi.
Delapan sentimeter. Kadang tujuh.
Aku sedang membereskan nampan waktu suara Regita lewat di belakangku, dua meja dari tempatku berdiri, dengan volume orang yang tidak pernah tahu bahwa volumenya ada.
“—terus kalau sampai tanggalnya nggak—”
“Regit.”
Cuma itu. Satu kata, dari Vania, dan kalimat Regita berhenti seperti mesin jahit yang dicabut kakinya dari pedal.
Aku tidak menoleh.
Ada aturan yang aku pelajari dari kain: kalau kamu menemukan tarikan aneh, jangan langsung ditarik. Kain yang ditarik di tempat yang salah bisa rusak permanen. Kamu harus dibalik dulu, dilihat dari dalam, baru ketahuan benang mana yang sebenarnya bermasalah.
Jadi aku menaruh nampanku, dan aku menyimpan potongan kalimat itu di tempat aku menyimpan semua hal yang belum jelas.
Tanggalnya.
Tanggal apa.
“Kamu kenapa?”
Fikri menaruh HP-nya menghadap ke bawah. Di kantin. Ini kejadian langka. Terakhir kali Fikri menaruh HP menghadap ke bawah adalah waktu ada kucing masuk ke ruang guru.
“Nggak apa-apa,” kataku.
“Har. Kamu udah nyodok es teh pakai sedotan itu selama satu menit dua puluh detik. Esnya udah menang.”
Aku berhenti.
“Kanaya pinjam pulpen,” kataku akhirnya.
Fikri menatapku.
“Terus?”
“Terus itu.”
“Itu?”
“Itu.”
Fikri menyandarkan punggung dengan wajah orang yang baru saja menerima kabar duka.
“Har.” Dia menghela napas. “Aku mau jelasin sesuatu ke kamu, dan aku mau kamu dengerin baik-baik, karena ini demi kesehatan mentalmu.”
“Nggak usah.”
“Ini soal rate.”
“Fik—”
“Di game, kalau kamu dapet interaksi kecil dari karakter bintang lima, itu bukan tanda kamu bakal dapet karakternya.” Dia mengangkat sedotannya seperti dosen mengangkat spidol. “Itu namanya teaser. Sistem sengaja ngasih kamu sesuatu yang kecil biar kamu mikir kamu lagi hoki. Padahal rate-nya nggak berubah sedikit pun. Nol koma enam persen. Selamanya.”
“Dia cuma pinjam pulpen.”
“Itu teaser, Har.”
“Itu pulpen.”
“Itu,” kata Fikri, “yang paling berbahaya dari teaser.”
Aku minum es tehku. Es tehnya sudah jadi air.
“Terus aku harus gimana?”
“Jangan pity.” Fikri mengambil HP-nya lagi, urusannya sudah selesai. “Orang kalah bukan karena rate-nya kecil. Orang kalah karena mikir udah kepalang tanggung.”
“Aku belum ngeluarin apa-apa.”
“Kamu udah ngeluarin pulpen.”
“Itu pulpen dua ribu.”
“Har.” Fikri mengangkat wajahnya sedikit, cukup untuk membuatku sadar dia serius. “Yang mahal itu bukan pulpennya.”
Kami diam sebentar. Di meja sebelah ada anak kelas sepuluh yang berdebat soal siapa yang harus bayar gorengan.
“Fik.”
“Hm.”
“Kamu pernah nggak, dapet yang bintang lima?”
“Pernah. Dua kali.”
“Terus?”
“Terus seneng banget.” Dia menggeser layarnya. “Terus tiga hari kemudian biasa aja lagi, terus aku pull lagi buat yang berikutnya.”
“Jadi nggak ada bagusnya.”
“Ada.” Fikri menguap. “Tiga harinya itu.”
Kadang aku curiga Fikri sebenarnya sangat pintar dan cuma menyamar jadi orang yang tidak peduli, sama seperti aku menyamar jadi orang yang tidak ada.
“HAR!”
Bagas menepuk bahuku dari belakang dengan tenaga yang bisa merobohkan pagar.
“Aku denger kamu bantuin Kanaya bagi-bagi soal tadi pagi!”
“...Cuma naruh kertas.”
“Itu keren.” Dia duduk di seberangku tanpa diundang, matanya berbinar. “Serius. Anak-anak lain kalau disuruh pagi-pagi pasti ngeluh. Kamu enggak. Kamu tuh tipe yang nggak banyak omong tapi ngelakuin.”
“Aku... nggak apa-apa.”
“NAH.” Bagas menunjuk mukaku. “Itu!”
Dia pergi sambil mengacungkan jempol dua kali.
Fikri tidak mengangkat kepalanya dari layar.
“Dia bakal jadi masalah,” katanya.
“Bagas orangnya baik.”
“Iya. Itu masalahnya.”
“Kenapa masalah?”
“Karena kalau dia jahat, kamu boleh benci dia.” Fikri menggeser layarnya. “Kalau dia baik, kamu cuma boleh ngerasa kecil.”
Aku memandangi meja.
Sebenarnya Fikri salah, tapi salahnya di bagian yang tidak penting. Aku tidak merasa kecil karena Bagas. Aku merasa kecil karena setiap kali Bagas memuji sesuatu tentangku, aku tahu dia sedang memuji versi diriku yang cuma ada karena aku diam.
Diam itu bisa dibaca macam-macam. Bisa dibaca tenang. Bisa dibaca dalam. Bisa dibaca dewasa.
Padahal diam cuma diam.
“Fik.”
“Hm.”
“Kalau orang salah nilai kamu terlalu bagus, itu untung apa rugi?”
Fikri berpikir sebentar, yang untuk ukuran Fikri berarti dua detik penuh.
“Untung,” katanya. “Sampai ketahuan.”
Bel pulang.
Kanaya membereskan mejanya dengan kecepatan orang yang punya tiga tempat untuk didatangi sekaligus. Map, buku, kertas fotokopi sisa, semuanya masuk tas dalam sebelas detik.
Termasuk pulpenku.
Aku melihatnya masuk. Dia mengangkat pulpen itu, memutarnya sekali di antara jari — kebiasaan orang yang berpikir sambil tangannya bergerak — lalu memasukkannya ke kotak pensilnya sendiri. Kotak pensilnya warna abu-abu, resletingnya sudah mulai loncat di ujung, dan itu satu-satunya barang miliknya yang tidak rapi.
Dia menutup resletingnya. Menyampirkan tas.
Lalu berhenti.
“Eh.” Dia menoleh. “Pulpen kamu.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku bawa pulang, ya?”
“...Iya.”
“Besok aku balikin.”
Dia bilang itu sambil sudah setengah berjalan ke pintu, dengan nada orang yang mengucapkan hal paling biasa di dunia, karena memang itu hal paling biasa di dunia.
Lalu dia keluar, dan kelas jadi kosong, dan aku masih duduk di sana.
Aku mengeluarkan kotak pensilku dan menghitung isinya.
Dua.
Besok pagi aku bisa berangkat lebih cepat lima menit, mampir ke warung fotokopi depan gang, dan beli satu supaya jumlahnya kembali tiga. Itu solusi paling masuk akal. Itu bahkan bukan solusi, itu cuma matematika.
Aku tidak melakukannya.
Aku menutup kotak pensilku dengan dua pulpen di dalamnya, dan berjalan pulang dengan perasaan aneh di tulang rusuk, seperti ada kancing yang tinggal disangga satu helai benang dan aku tidak tahu itu punya siapa.
Di rumah, Sekar sedang menggambar di lantai ruang jahit.
“Kak, jaketnya udah balik?”
“Udah.”
“Dia bilang makasih?”
“Dia nggak tahu.”
Sekar berhenti mewarnai. Dia menoleh ke atas dengan alis berkerut, ekspresi orang dewasa kecil yang sedang menemukan cacat serius dalam sistem akuntansi.
“Kak. Itu rugi banget.”
“Nggak rugi. Kancingnya emang punya aku.”
“Tapi benangnya punya Kakak. Terus waktunya punya Kakak. Terus melek sampai malemnya juga punya Kakak.”
“Sekar.”
“Ibuuu,” teriak Sekar ke dalam, “Kakak gratisan lagiii—”
“BUKAN GRATISAN.”
Ibu keluar dari ruang jahit sambil membawa gunting di tangan kiri, yang di rumah ini setara dengan hakim membawa palu.
“Har.”
“Iya, Bu.”
“Kalau ngerjain punya orang, ibu nggak larang.” Dia menaruh gunting di meja. “Tapi kamu jangan sampai capek buat orang yang bahkan nggak tahu kamu capek.”
“Aku nggak capek.”
“Kamu tidur jam berapa semalam?”
“...Nggak apa-apa.”
Ibu menatapku beberapa saat lebih lama dari yang nyaman. Ibuku punya kebiasaan menatap orang seperti sedang mengukur, dan menurutku itu bukan kebiasaan yang bisa dimatikan setelah dua puluh tahun jadi penjahit.
“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Makan dulu.”
“Iya.”
“Har.”
“Iya, Bu.”
“Kamu jangan senyum-senyum sendiri di depan mesin. Ibu lihat dari tadi.”
“Aku nggak senyum.”
“Ibu punya dua mata dan satu cermin di depan mesin.”
Aku masuk ke kamar sebelum keadaan memburuk.
Malam itu aku tidak bisa tidur cepat.
Aku berbaring di kasur, memikirkan resleting kotak pensil abu-abu yang sudah mulai loncat di ujung, dan cara memperbaikinya tanpa harus mengganti seluruh resletingnya.
Sebenarnya gampang. Butuh tang kecil dan tiga menit.
Aku sudah membayangkan seluruh prosesnya sebelum aku sadar apa yang sedang aku lakukan.
Hari kedua.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen reading
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup