← Garansi Seumur Hidup

Chapter Forty Four

Tanggal di Balik Kerah

[POV: Kanaya] · [Hari ke-351 sampai ke-353]


Aku tidak membukanya hari Sabtu.

Aku menemukannya jam delapan malam, di rak paling atas lemari, di tas gaun berwarna abu-abu yang diberikan bersama gaunnya karena Hari bilang kain seperti itu tidak boleh digantung telanjang.

Aku menariknya keluar. Aku menaruhnya di tempat tidur.

Aku duduk di lantai memandanginya selama mungkin empat menit.

Lalu aku berdiri, dan memasukkannya kembali ke rak paling atas, dan menutup lemarinya.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena selama berbulan-bulan sesudahnya aku mengarang versi di mana aku langsung membukanya.

Aku tidak langsung membukanya.

Aku tahu ada sesuatu di balik kerah itu sejak malam pensi. Dia sendiri yang bilang. Aku sendiri yang bilang nanti aku baca.

Empat puluh satu hari.

Dan hari Sabtu malam itu, sambil duduk di antara empat kardus kosong, aku menyadari kenapa aku belum membacanya:

karena selama ada satu hal yang belum aku buka, masih ada satu hal yang belum terjadi.


Hari Minggu aku ke rumah Nadine.

Aku mengarang alasan. Aku bilang aku butuh bantuan mengemasi.

Nadine datang, dan kami mengemasi enam kardus, dan dia bertanya kenapa aku diam terus dan aku bilang aku capek.

Jam empat sore dia berhenti melipat baju dan berkata:

“Nay.”

“Hm?”

“Kamu nggak capek.”

“Nad—”

“Aku kenal kamu dari kelas sepuluh.” Dia duduk di lantai. “Kamu kalau capek ngomongnya lebih banyak, bukan lebih sedikit.”

Aku memegang satu kaus yang sudah aku lipat tiga kali.

“Nad.”

“Iya.”

“Kalau ada orang yang nggak pernah bohong sama kamu,” kataku, “terus kamu curiga dia nyembunyiin sesuatu — kamu harus gimana?”

Nadine memikirkannya lama sekali.

“Nay, aku nggak tahu.”

“Oke.”

“Tapi aku tahu satu hal.”

“Apa?”

Dan Nadine — yang keluar dari taruhan di hari ketujuh belas dan menghabiskan setahun merasa bersalah karena dia keluar untuk dirinya sendiri — berkata:

“Orang yang nggak pernah bohong itu biasanya punya satu hal yang dia simpen mati-matian. Soalnya kalau dia nggak punya itu, dia nggak perlu jujur di semua hal yang lain.”


Aku membukanya hari Senin, jam sembilan malam.

Kamarku setengah kosong. Enam kardus sudah tertutup lakban. Dinding sudah kosong. Lemari sudah tinggal dua rak isinya.

Aku mengeluarkan tas gaun itu.

Aku membuka resletingnya — resleting yang aku tahu persis mereknya karena aku ikut membelinya di gang paling ujung Pasar Lama — dan aku mengeluarkan gaun biru tua yang kalau dimiringkan jadi agak hijau.

Aku memakainya.

Aku tidak berencana memakainya. Tanganku yang memutuskan.

Dan aku berdiri di depan cermin lemari di kamar yang setengah kosong, sendirian, jam sembilan malam hari Senin, memakai gaun yang dijahit tiga minggu oleh orang yang mengukurku dua puluh menit di ruang jahit yang sekarang tidak ada mesinnya.

Lalu aku membalik kerahnya.


Tante Ratih mengajariku satu kebiasaan yang tidak pernah dia sebut sebagai pelajaran.

Sisi luar itu buat pelanggan. Sisi dalam itu buat yang ngerjain.

Dan selama sembilan bulan aku membalik ratusan kain, dan aku membalik kerah baju di toko, dan kelim celana Sekar, dan jaket Nadine, dan seragam lamaku sendiri yang menyimpan enam simpul merah dari setahun sebelumnya.

Aku membalik kerah gaun itu di depan cermin.

Aku mau menjelaskan bagaimana caranya, karena orang biasa tidak membalik kerah gaun mereka sendiri di depan cermin, dan karena kalau tidak dijelaskan ini kelihatan seperti kebetulan.

Ini bukan kebetulan.

Gaun itu kerahnya menyatu dengan badan — bukan kerah kemeja, tidak ada bagian yang berdiri. Untuk membalik sisi dalamnya kamu harus menarik bagian belakangnya ke depan dengan dua tangan, memutar badanmu setengah, dan melihat ke cermin dari sudut yang tidak nyaman.

Aku melakukannya karena aku sudah melakukannya ke ratusan kain selama sembilan bulan.

Aku melakukannya karena ada perempuan lima puluh dua tahun yang menyerahkan jarum kepadaku, ujung dulu, di bulan Juni tahun lalu, dan berkata sisi dalam itu buat yang ngerjain.

Dan aku menemukan pita kain putih itu dalam empat detik.

Pita kain putih. Empat senti. Empat tusuk di setiap sudut, benang putih.

Huruf kapital kecil-kecil, jaraknya sama semua.

GARANSI SAMPAI 12/8

Dan di belakangnya, di sisi dalam pita itu, di tempat yang bahkan pita itu pun menutupinya — aku tahu ada apa sebelum aku mengangkatnya.

Satu simpul benang merah.


Aku duduk di lantai.

Bukan memutuskan untuk duduk. Kakiku yang memutuskan, sama seperti orang lain di ruang tengah rumahnya bulan Desember.

Dua belas Agustus.

Aku tidak perlu berpikir untuk mengenali tanggal itu. Aku tidak perlu satu detik pun.

Dua belas Agustus adalah tanggal keberangkatanku ke Yogyakarta.

Tiketnya dibeli Mama bulan lalu. Kereta pagi. Aku menerima fotonya lewat WhatsApp jam sebelas malam dengan pesan Nay, tiketnya udah ya. Mama nggak bisa nganter, Bu Endang yang nganter sampai stasiun.

Aku memberi tahu Hari dua hari setelahnya.

Aku ingat percakapannya. Aku ingat setiap kata, karena aku mengingat semua yang dia katakan, karena itu penyakitku.

“Har, tiketku udah.”

“Tanggal berapa?”

“Dua belas Agustus.”

Dan dia bilang, “Oh.”

Cuma itu. “Oh.”

Lalu dia melanjutkan menjahit.


Aku duduk di lantai kamarku yang setengah kosong dengan gaun itu masih di badanku dan kerahnya masih terbalik di tanganku.

Dan aku menghitung.

Hari ini tanggal satu Agustus.

Sebelas hari.


Dan lalu, sambil duduk di lantai itu, aku melakukan hal yang selama sembilan bulan aku latih dan tidak pernah aku pakai untuk hal seperti ini.

Aku membalik semuanya.

Bukan kain. Delapan bulan terakhir.

Satu per satu, dari sisi dalam, seperti orang memeriksa jahitan.


Bulan Februari. Ruang jahit. Dia mengukurku untuk gaun ini dan mencatat empat belas angka di buku catatan coklat, lalu menambahkan enam yang tidak diperlukan.

Lingkar kepala. Lingkar pergelangan tangan. Lingkar telapak kaki.

“Yang di kepala aku itu cuma ada selama aku ada.“

Aku ingat aku bilang kalimat itu seram. Aku ingat dia menjawab itu kalimat penjahit. Aku ingat aku menerimanya karena penjelasannya masuk akal — ibunya hafal ukuran empat ratus orang, kalau ibunya kenapa-kenapa empat ratus orang harus diukur ulang dari nol.

Penjelasan itu benar.

Penjelasan itu juga bukan tentang ibunya.


Bulan Februari, malam ketiga. Kelim gaun tiga senti, bukan dua.

“Biar bisa diturunin dua kali.“

Dan Tante Ratih bertanya dari belakang kursinya: anak kelas dua belas tinggal enam bulan lagi pakai seragam.

Dan dia menjawab iya, Bu, aku tahu, dan menjalankan mesinnya.

Kelim tiga senti itu bukan untuk enam bulan.

Kelim tiga senti itu untuk baju yang akan dipakai bertahun-tahun oleh orang yang tumbuh, dan diturunkan oleh orang yang tidak akan ada di situ waktu diturunkan.


Bulan Januari. Empat pagi dia tidak ada di gerbang.

Nganterin pesanan dulu.
Ada urusan sama TU.
Ibu minta tolong.

Semuanya benar.

Dan aku bertanya sekali, dan aku bilang “sibuk banget, ya”, dan dia bilang “kelas dua belas”, dan itu juga benar.

Dan Fikri bilang kerah seragamnya longgar dua senti dari bulan lalu.

Dan Sekar bilang ibunya ketiduran di kursi sebelas kali bulan itu, dan Sekar mencatatnya, karena kakaknya yang mengajari.


Bulan Maret. Puskesmas. Petugas di meja depan: “Oh, Bu Ratih. Sama yang kemarin?“

Aku membuka mulutku dan menutupnya lagi karena bukan waktunya.

Dan di laci kamar itu ada kantong farmasi rumah sakit di pinggir kota, dan dua strip obat dengan nama yang tidak aku kenal, dan satu kertas terlipat empat yang aku pegang delapan detik dan tidak aku buka.

Aku bangga pada diriku sendiri malam itu.

Aku benar-benar bangga. Aku duduk di kasur di kamar Sekar dan merasa aku sudah jadi orang yang lebih baik karena aku tidak membuka kertas orang.


Bulan April. Pasar Lama. Gulungan benang merek Jepang di rak paling kanan. Dia mengangkatnya, memutarnya, melihat harganya, dan menaruhnya kembali.

Dan aku memikirkan pertanyaan yang salah selama dua minggu.


Bulan Mei. Bahan gaun ini. Dua ratus empat puluh ribu.

Tante Ratih bertanya dari mana uangnya. Dia bilang nabung. Dari yang bulan lalu. Delapan belas pesanan.

Dan aku duduk di ruang jahit itu waktu percakapan itu terjadi, dan aku mendengarnya, dan aku menganggapnya normal.


Bulan Juni. Pensi. Kemeja ayahnya, lengan dipotong satu senti dari satu setengah.

“Karena aku masih tumbuh.“

Dan Tante Ratih menutup mulutnya dengan punggung tangan dan masuk ke dapur dan menyalakan keran cukup lama untuk mencuci sesuatu yang tidak ada.

Aku pikir itu karena kemeja ayahnya.


Bulan Juli, minggu pertama. Pak Hasan.

“Dia nanya kain apa yang paling awet kalau dicuci di kota yang airnya beda.“

Bulan lalu.

Waktu beli kain untuk gaun ini.


Hari Selasa, empat hari lalu. Mesin jahit ayahnya. Gerobak. Dua kilometer. Sendirian. Jam sepuluh pagi.

Dan sore harinya aku duduk di ruang tengah rumah itu selama dua jam empat puluh menit dan tidak melewati ambang pintu ruang jahit sekali pun.


Aku duduk di lantai kamarku sampai jam sebelas.

Dan yang membuatku akhirnya berdiri bukan satu pun dari semua itu.

Yang membuatku berdiri adalah ini:

setiap potongan punya penjelasan.

Setiap satu. Tidak ada satu pun yang bohong. Aku memeriksanya satu per satu di lantai kamar itu dan tidak menemukan satu pun kebohongan.

Ukuran dicatat — karena penjahit mencatat.
Kelim tiga senti — karena orang tumbuh.
Tidak ada di gerbang — karena mengantar pesanan.
Obat dari rumah sakit — karena puskesmas kehabisan stok.
Benang mahal ditaruh kembali — karena yang biasa juga bisa.
Bahan dari uang tabungan — karena delapan belas pesanan.
Lengan dipotong satu — karena masih tumbuh.

Semuanya benar.

Dan aku berdiri di kamar yang setengah kosong jam sebelas malam dan akhirnya mengerti sesuatu yang membuatku harus berpegangan ke lemari:

kalau kamu ingin menyembunyikan sesuatu dari orang yang menghitung segalanya, kamu tidak menyembunyikan potongannya.

Kamu memberi setiap potongan penjelasan yang bagus.

Lalu kamu memastikan tidak ada satu pun orang yang menaruh semuanya di halaman yang sama.


Aku menaruh semuanya di halaman yang sama malam itu.

Aku benar-benar melakukannya — aku mengambil buku catatan panitia lamaku, yang halaman belakangnya masih kosong, dan aku menulis semuanya dalam satu kolom.

Tanggal. Kejadian. Penjelasan yang diberikan.

Dua puluh tiga baris.

Dan waktu aku selesai menulis dua puluh tiga baris itu, di halaman yang sama, dengan tulisan tangan yang makin lama makin jelek, aku melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat kalau kamu menghadapinya satu per satu.

Semuanya menunjuk ke arah yang sama.

Bukan ke arah “Hari sedang kesusahan”.

Ke arah Hari sedang beres-beres.

Ukuran dicatat lengkap. Kelim disisakan. Kain dipilih yang tahan lama, untuk kota yang airnya beda. Baju dibuatkan yang tidak akan habis dalam setahun. Mesin dijual. Pesanan diborong. Semuanya, semuanya, semuanya —

itu bukan orang yang sedang bertahan.

Itu orang yang sedang menyelesaikan pekerjaan sebelum menutup toko.

Dan ada satu baris di daftar itu yang aku tulis paling akhir, dan yang membuatku menaruh pulpennya.

Baris kedua puluh tiga.

20 Mei — pensi — dia bilang “aku yang bikin” di depan sebelas orang.

Kolom penjelasan untuk baris itu kosong.

Karena tidak ada penjelasannya.

Karena orang yang sedang beres-beres tidak berdiri di tengah aula dan mengaku di depan sebelas orang. Orang yang sedang beres-beres menghilang sepelan mungkin.

Aku duduk di lantai memandangi baris kedua puluh tiga itu selama mungkin lima menit.

Dan aku menulis satu kata di kolom penjelasannya, dengan tangan yang gemetar, dan aku menulisnya karena itu satu-satunya jawaban yang muat:

hadiah.

Empat detik di tengah aula. Sebelas orang menoleh. Seluruh urutan paniknya datang lengkap dan dia berdiri di situ membiarkannya lewat.

Aku pikir itu kemenangannya.

Aku duduk di lantai kamarku jam sebelas malam dan mengerti bahwa itu bukan kemenangan.

Itu perpisahan.

Dia menghabiskan sembilan tahun menghindari empat detik itu, dan waktu dia akhirnya melakukannya, dia melakukannya di malam terakhir yang dia punya untuk melakukannya.

Dan dia melakukannya sambil aku memakai gaun yang ada tanggalnya di balik kerah.


Aku menelepon jam sebelas lewat dua puluh.

Dia mengangkat di dering ketiga.

“Nay?”

“Har.”

“Kamu belum tidur?”

Aku duduk di lantai kamarku dengan gaun biru tua yang masih menempel di badanku dan buku catatan berisi dua puluh tiga baris di pangkuanku.

“Har.”

“Iya?”

“Tanggal dua belas Agustus itu apa?”

Ada jeda.

Jedanya tidak lama. Mungkin dua detik. Mungkin kurang.

Dan aku sudah menghabiskan sepuluh bulan mengukur jeda orang, dan aku tahu persis bedanya antara jeda orang yang bingung dan jeda orang yang sudah menyiapkan jawabannya sejak lama.

“Itu tanggal kamu berangkat,” katanya.

“Aku tahu.”

“Nay—”

“Har, kenapa tanggal itu ada di kerah gaunku?”


Tidak ada suara di ujung sana selama mungkin lima detik.

Aku bisa mendengar bunyi mesin.

Bukan mesin ayahnya. Mesin ibunya, yang di ruang tengah, yang lebih ringan bunyinya, yang aku kenali karena aku duduk di ruangan itu tiga puluh empat hari Sabtu.

Bunyinya berhenti.

“Kamu baca,” katanya.

“Iya.”

“Kapan?”

“Barusan.”

“Nay—”

“Har.” Suaraku sudah rusak dan aku tidak berusaha memperbaikinya. “Kamu jahit tanggal keberangkatanku di gaun yang aku pakai tiga bulan lalu.”

“Iya.”

“Kamu nggak bantah?”

“Enggak.”

“Har.”

“Iya.”

“Kamu jahit tanggal itu sebelum aku punya tiketnya.”

Dan di ujung sana tidak ada suara sama sekali.


Aku menghitungnya di lantai kamar itu sambil telepon masih menempel di telingaku.

Gaun itu selesai dua hari sebelum pensi. Pensi tanggal dua puluh Mei.

Tiketku dibeli Mama tanggal sebelas Juli.

Lima puluh dua hari.

“Har.”

“Iya.”

“Gimana kamu tahu tanggalnya.”

“Nay—”

“GIMANA KAMU TAHU TANGGALNYA?”

Aku berteriak di kamar yang setengah kosong, sendirian, jam setengah dua belas malam, di rumah yang lampunya menyala di semua ruangan dan tidak ada satu pun orang yang mendengar.

Dan Hari Baskara menjawab dengan suara yang sama tenangnya seperti bulan Mei tahun lalu, di kelas kosong, jam empat sore.

“Kalender akademik kampusmu keluar bulan Februari,” katanya. “Ada di website. Ospek mulai tanggal lima belas. Kereta pagi dari sini nyampe sore.”

“Har—”

“Orang biasanya berangkat tiga hari sebelum.”

“Kamu ngitung.”

“Iya.”

“Kamu ngitung tanggal keberangkatanku dari kalender akademik.”

“Iya.”

“Bulan Februari.”

“Iya.”

Aku menutup mulutku dengan telapak tangan.

“Har, kita bikin gaun itu bulan Februari.”

“Iya, Nay.”

“Kamu ngukur aku di ruang jahit terus malemnya kamu buka website kampusku.”

Dia tidak menjawab.

“Har.”

“Iya.”

“Jawab.”

Dan dia menjawab, karena dia selalu menjawab, karena itu perjanjiannya, dan karena perjanjian itu satu-satunya hal yang tidak dia langgar dalam delapan bulan terakhir.

“Aku buka sebelum,” katanya.

“...Sebelum apa?”

“Sebelum ngukur,” katanya. “Aku buka bulan Januari.”


Aku duduk di lantai kamarku yang setengah kosong dan tidak bisa mengeluarkan suara selama mungkin setengah menit.

Bulan Januari.

Bulan Januari itu bulan di mana kami berjalan ke halte setiap sore selama dua puluh menit membicarakan apakah gorengan Bu Nur lebih enak dari gorengan kantin.

Bulan Januari itu bulan di mana dia memakai satu earphone dan aku memakai satu, dan aku membuatkannya playlist empat puluh satu lagu, dan dia mendengarkan semuanya dalam satu malam sambil mengerjakan dua kemeja.

Bulan Januari itu bulan di mana aku duduk di halte selama satu jam empat puluh menit dengan tangan di saku jaketnya dan membiarkan tiga bus lewat.

“Har.”

“Iya.”

“Bulan Januari kamu ngitung.”

“Iya.”

“Sambil kita—”

“Iya, Nay.”

Dan aku menutup mataku dan mengucapkan kalimat yang aku ucapkan kepadanya di kelas kosong bulan Mei tahun lalu, dengan urutan yang persis sama, dan dengan orang yang bertukar tempat.

“Sejak kapan,” kataku.

Dan Hari Baskara diam di ujung telepon selama beberapa detik, dan lalu berkata:

“Nay.”

“Sejak kapan, Har.”

“Nay.”

Dua kali.

Sistem yang aku buat sendiri, di trotoar, bulan Desember, supaya aku tahu kapan harus mendengarkan baik-baik.

Aku menutup mulutku.

“Aku nggak mau ngomongin ini lewat telepon,” katanya.

“Har—”

“Besok pagi,” katanya. “Jam sembilan. Aku tungguin.”

“Har, kamu nggak boleh—”

“Nay.” Suaranya tidak naik sedikit pun. “Aku nggak lari ke mana-mana. Aku di rumah. Aku bakal di rumah besok jam sembilan sampai kamu dateng.”

Dan telepon itu ditutup.


Aku tidak tidur sama sekali malam itu.

Aku duduk di lantai kamarku yang setengah kosong sampai matahari naik, dengan gaun biru tua yang masih menempel di badanku karena aku lupa melepasnya dan karena melepasnya berarti melipatnya dan aku tidak sanggup melipat apa pun malam itu.

Dan jam empat pagi, waktu langit sudah mulai abu-abu di pinggir, aku membalik kerah itu lagi.

GARANSI SAMPAI 12/8

Huruf kapital kecil-kecil. Jaraknya sama semua. Dua koma dua milimeter.

Dan aku memikirkan label yang satu lagi, yang dijahit di balik kerah seragamku bulan Mei tahun lalu, yang aku ketawakan di kelas jam enam dua puluh pagi.

GARANSI 30 HARI

Waktu itu aku bertanya kenapa harus ada batasnya.

Dia bilang: karena kalau ada yang rusak sebelum tiga puluh hari, berarti kerjaannya yang salah.

Dan aku bilang aku tidak suka, dan aku bilang aku akan mencari contoh sesuatu yang tidak ada batasnya, dan sembilan hari kemudian aku berdiri menangis di depan pagar rumahku sendiri dan bilang aku sudah menemukannya.

Garansinya tiga puluh hari. Tapi jahitannya nggak ilang tanggal tiga puluh satu.

Aku bangga sekali malam itu.

Aku duduk di lantai kamarku jam empat pagi dengan tanggal dua belas Agustus di tanganku dan akhirnya mengerti apa yang sebenarnya aku ucapkan di depan pagar itu.

Aku pikir aku sedang bilang: sesuatu akan tetap ada setelah tanggalnya lewat.

Yang sebenarnya aku ucapkan adalah: dia akan memasang tanggal lagi.

Dan aku yang mengajarinya.