Chapter Fourteen
Yang Menangis Duluan
[POV: Hari] · [Hari ke-21]
“Bu Sari minta jadwal pengambilan rapor dibikin per sesi.”
Kanaya sudah berdiri di depan kelas jam setengah tujuh pagi dengan kertas jadwal dan spidol, dan tiga puluh dua nama sudah tertulis rapi di papan sebelum kebanyakan orang sempat duduk.
“Sesi satu jam delapan sampai sembilan. Sesi dua sembilan sampai sepuluh. Sesi tiga sepuluh sampai sebelas.”
“Nay, ortuku kerja.”
“Sesi tiga.”
“Nay, mamaku ada arisan.”
“Regit, arisan bisa digeser. Rapor enggak.”
“Nay, bokap gue—”
“Sesi tiga, Dimas. Semua yang orang tuanya kerja masuk sesi tiga. Aku udah ngomong sama Bu Sari, sesi tiga bisa molor sampai setengah dua belas.”
Dia menulis tiga puluh dua nama tanpa berhenti sekali pun.
Aku memperhatikan dari pojok belakang, dan aku mencatat sesuatu yang membuat perutku dingin sedikit, walaupun waktu itu aku belum tahu kenapa:
di kolom nama, dia menulis namanya sendiri paling akhir.
Dan di kolom sesi, kolom di sebelah namanya sendiri, dia mengosongkannya.
“Har, kamu sesi berapa?”
“Dua.”
“Ibumu bisa?”
“Bisa. Sabtu ibu nggak ngejar setoran.”
“Bagus.” Dia mencoret sesuatu. “Aku pindahin ke depan, ya, biar ibumu nggak nunggu lama.”
“Nay.”
“Hm?”
“Kamu sesi berapa?”
Spidolnya berhenti sepersekian detik.
“Nanti,” katanya. “Aku terakhir aja.”
Fikri, yang duduk dua meja di depan, memutar badannya setengah.
“Nay, papan tulisnya salah.”
“Mana?”
“Nama kamu nggak ada sesinya.”
“Nanti aku isi.”
“Kolomnya nanti kepenuhan.”
“Fikri.” Kanaya menutup spidolnya. “Nanti aku isi.”
Fikri mengangkat kedua tangannya dan berbalik lagi.
Lima detik kemudian dia menulis sesuatu di kertas dan menggesernya ke belakang, ke mejaku, tanpa menoleh.
Tulisannya cuma satu kata.
Cek.
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku, dan aku tidak melakukan apa-apa selama enam jam berikutnya, dan aku masih memikirkan enam jam itu sampai sekarang.
Aku mendengar teleponnya jam empat sore.
Kami sedang di ruang OSIS, mengerjakan sisa administrasi acara bakti sosial, berdua, karena panitianya yang lain sudah pulang seperti biasa.
Dia keluar ke koridor untuk mengangkat.
Ruang OSIS itu punya jendela nako yang tidak pernah bisa ditutup rapat, dan koridor di luar itu memantulkan suara, dan aku tidak berusaha mendengar.
Aku ingin mencatat itu, karena dua minggu lalu aku juga berdiri di suatu tempat dan mendengar sesuatu yang tidak seharusnya aku dengar, dan waktu itu aku juga tidak berusaha.
Rupanya itu bakatku. Berdiri di tempat yang salah, diam-diam.
“—iya, Ma. Iya. Nggak apa-apa.”
Jeda.
“Nggak, aku nggak marah. Aku cuma nanya.”
Jeda lebih panjang.
“Ya kan Mama bilang bulan ini pulang.”
Jeda.
“Iya. Iya, aku ngerti. Ya udah.”
Jeda.
“Nggak usah, Ma, aku bisa sendiri.”
Jeda.
“Bisa. Aku bisa. Aku udah tujuh belas.”
Jeda panjang sekali.
“Iya. Sehat. Makan teratur.” Suaranya masih rata. Rata sekali. “Iya. Salam buat Papa.”
Lalu bunyi telepon ditutup.
Lalu tidak ada apa-apa selama kira-kira dua menit.
Lalu dia masuk lagi, duduk, menarik kertas ke depannya, dan berkata dengan nada normal:
“Sampai mana tadi? Yang dana konsumsi, ya?”
Aku mau menjelaskan sesuatu tentang kain.
Kalau kamu menarik kain sampai batasnya, dia tidak langsung robek. Dia menipis dulu. Ada tahap di mana kainnya masih utuh, masih menahan, tapi kalau kamu angkat ke cahaya, kamu bisa lihat benangnya sudah renggang.
Kain di tahap itu terlihat baik-baik saja dari jarak satu meter.
Kanaya menyelesaikan seluruh administrasi bakti sosial sore itu dengan sempurna. Dia menghitung ulang anggaran konsumsi dua kali, menemukan selisih dua puluh ribu, dan menemukan penyebabnya dalam empat menit.
Dari jarak satu meter, dia baik-baik saja.
“Nay.”
“Hm?”
“Udah, sisanya besok.”
“Bentar lagi selesai.”
“Nay.”
“Sepuluh menit.”
“Nay.”
Dia berhenti menulis.
“Kenapa?” katanya. “Kamu buru-buru?”
“Enggak.”
“Terus?”
Aku tidak punya kalimat.
Sembilan hari lagi, dan aku sudah menghabiskan dua puluh satu hari untuk belajar bahwa aku tidak punya kalimat untuk hal-hal seperti ini.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang aku bisa.
Aku menutup map di depannya, menumpuknya rapi, dan mengembalikannya ke rak.
“Har—”
“Aku anter pulang,” kataku.
Kami tidak bicara sepanjang jalan.
Itu bukan diam yang canggung. Aku sudah cukup ahli dalam diam untuk bisa membedakan jenis-jenisnya, dan yang ini jenis di mana dua orang berjalan pelan-pelan supaya jalannya lebih lama.
Setengah jalan, dia bicara.
“Har.”
“Hm.”
“Kamu pernah nggak, ngerasa kamu tuh berguna banget buat semua orang,” katanya, “terus tiba-tiba kepikiran, kalau kamu berhenti berguna, siapa yang masih ada?”
Aku menjawab terlalu cepat.
“Pernah.”
Dia menoleh.
“Serius?”
“Iya.”
“Kamu ngerasa gitu?”
“Setiap hari.”
Kanaya berhenti sebentar, lalu jalan lagi.
“Ya ampun,” katanya pelan. “Kita berdua rusak, ya.”
“Iya.”
“Kok kamu ngiyain.”
“Kamu bener.”
“Harusnya kamu bilang ‘enggak kok, kita nggak rusak’.”
“Aku nggak bisa bohong.”
“Kamu bisa. Kamu cuma nggak mau.”
Aku tidak menjawab itu, dan aku ingat aku merasakan sesuatu yang dingin lewat di belakang leherku, dan aku ingat aku menganggapnya angin.
Rumahnya di komplek yang jalannya lebar dan pohonnya tinggi dan trotoarnya bersih.
Aku belum pernah masuk. Aku cuma pernah sampai depan.
Waktu kami sampai di depan pagar, lampu terasnya sudah menyala.
“Lampunya nyala,” kataku.
“Otomatis.”
“Oh.”
“Jam enam nyala sendiri.” Dia mencari kunci di dalam tas. “Yang di ruang tamu juga. Sama yang di ruang tengah.”
Aku melihat ke dalam lewat pagar.
Rumahnya besar. Cat luarnya bersih. Halaman rumputnya dipotong rata.
Dan seluruh lampunya menyala, di setiap ruangan, dengan sangat terang, untuk tidak seorang pun.
“Aku setel gitu dari kelas sepuluh,” katanya, masih mencari kunci. “Biar pas nyampe nggak usah nyalain satu-satu.”
“Iya.”
“Soalnya kalau gelap terus dinyalain, kerasa banget kalau—”
Dia berhenti.
Tangannya masih di dalam tas.
“—kalau nggak ada orang,” katanya.
Dan di situ kainnya robek.
Kanaya menangis dengan cara yang menurutku paling menyakitkan untuk dilihat, yaitu dengan cara orang yang sedang berusaha keras untuk tidak.
Bahunya naik dulu. Lalu napasnya jadi pendek-pendek. Lalu dia menutup mulut dengan punggung tangan — gerakan yang sama seperti waktu dia tertawa, gerakan yang selalu berhenti setengah jalan — dan kali ini dia tidak menghentikannya di tengah.
“Maaf,” katanya. “Maaf, ya. Aku nggak—”
“Nggak apa-apa.”
“Ini konyol banget.”
“Enggak.”
“Ini cuma rapor, Har. Cuma rapor. Orang lain juga banyak yang ortunya nggak bisa dateng.”
“Iya.”
“Aku bahkan yang bikin sesi tiga khusus buat—” napasnya patah. “Buat orang yang ortunya kerja. Aku yang bikin. Aku yang telepon Bu Sari.”
“Iya.”
“Terus aku sendiri nggak ada sesinya.”
Aku berdiri di depan pagar rumahnya dengan tas di punggung dan tangan yang tidak tahu harus ke mana.
Dan aku melakukan hal paling bodoh yang bisa dilakukan manusia dalam situasi itu.
Aku menawarkan solusi.
“Ibuku bisa,” kataku.
Kanaya mengangkat wajahnya.
“...Apa?”
“Ibuku. Sesi dua.” Aku bicara terlalu cepat. “Dia bisa ambil punyaku terus punyamu. Wali kan boleh siapa aja kalau ada surat—”
“Har.”
“Nanti aku bikinin suratnya. Ibu tinggal tanda tangan—”
“Hari.”
Aku berhenti.
Dia menatapku dengan mata yang basah dan hidung yang merah dan seluruh wajahnya berantakan, dan dia berkata:
“Aku nggak butuh diselesaiin.”
Aku diam.
“Aku bisa nyelesaiin sendiri. Aku selalu bisa.” Suaranya pecah di tengah. “Aku cuma pengen ada yang tahu aja.”
“Aku tahu.”
“Har, kamu nggak ngerti.”
“Aku ngerti.”
“Enggak.” Dia mengusap matanya dengan pergelangan tangan, kasar, marah. “Kamu punya ibu yang nunggu di rumah. Kamu punya adik yang nyatetin utang kamu di buku. Kamu punya— kamu pulang ke tempat yang ada orangnya, Har. Kamu nggak ngerti.”
Ada beberapa hal yang bisa aku katakan di titik itu.
Aku bisa bilang bahwa rumahku pernah punya empat orang dan sekarang tiga, dan bahwa untuk waktu yang cukup lama ruang jahit itu punya dua kursi yang salah satunya tidak pernah dipakai.
Aku bisa bilang bahwa sepi itu tidak hanya datang dari rumah kosong.
Aku tidak mengatakan satu pun.
Bukan karena tidak berani.
Karena kalau aku cerita, dia akan berhenti menangis untuk mengurus aku. Aku sudah melihat dia melakukan itu ke enam orang berbeda dalam tiga minggu.
“Iya,” kataku. “Aku nggak ngerti.”
Dan itu bohongku yang ketiga.
Aku mau menceritakan bagian berikutnya dengan jujur, termasuk bagian yang membuatku kelihatan buruk.
Aku tidak langsung memeluknya.
Aku berdiri di situ selama mungkin empat detik, dan selama empat detik itu kepalaku menghitung, karena kepalaku selalu menghitung, karena itu satu-satunya cara aku tahu di mana aku berdiri.
Yang aku hitung: sembilan hari.
Yang aku pikirkan: kalau aku melakukan ini, sembilan hari lagi akan jauh lebih mahal.
Aku sudah menganggarkan seluruh perpisahan ini sejak malam hari kelima. Aku sudah menghitung ongkosnya, dan aku sudah menyiapkan diriku untuk membayar, dan aku tahu persis berapa yang sanggup aku bayar.
Memeluk dia akan membuat angkanya berubah.
Aku tahu itu. Aku tahu itu dengan sangat jelas, di depan pagar rumah yang seluruh lampunya menyala untuk tidak seorang pun.
Dan aku tetap melangkah maju.
Aku memeluknya.
Dia lebih kecil dari yang aku kira.
Itu hal pertama yang aku sadari, dan aku merasa bodoh karena menyadari itu, karena aku sudah tahu ukurannya. Aku mengukurnya sendiri dua minggu lalu. Aku tahu lingkar pinggangnya, tinggi bahunya, panjang punggungnya sampai ke pinggang.
Angka-angka itu tidak memberitahuku apa-apa.
Tangannya naik dan mencengkeram bagian belakang seragamku — bukan memeluk, mencengkeram, seperti orang memegang pegangan di bus yang mengerem — dan dia menangis dengan suara yang akhirnya keluar, dan aku merasakan bahunya bergerak naik-turun di dadaku.
Aku menaruh satu tangan di punggungnya.
Aku tidak tahu harus bilang apa, jadi aku tidak bilang apa-apa, dan ternyata itu yang benar, dan itu satu-satunya keberuntungan yang aku punya sore itu.
Kami berdiri di situ entah berapa lama. Ada mobil lewat sekali. Ada anak kecil naik sepeda dengan lampu yang berkedip di rodanya.
Waktu tangisnya mulai reda, dia bicara ke arah seragamku, dengan suara yang teredam dan serak.
“Kamu bau kain.”
“Iya.”
“Bau kain sama minyak mesin.”
“Iya.”
“Enak.”
“...Oke.”
Dia tertawa sedikit — basah, jelek, patah — dan itu tetap tawa yang bagus.
“Har.”
“Iya.”
“Kamu nggak nanya apa-apa.”
“Hm?”
“Orang biasanya nanya.” Dia masih bicara ke arah seragamku. “‘Kenapa?’ ‘Emangnya kenapa?’ ‘Ada apa?’ Terus aku harus jelasin dari awal, terus aku harus milih mana yang boleh diceritain.”
“Aku nggak butuh tahu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu nangis,” kataku. “Itu udah cukup buat aku.”
Tangannya mencengkeram lebih erat di punggung seragamku.
“Kamu tuh dari mana, sih,” katanya.
“Gang Melati.”
“Bukan itu maksudku.”
“Aku tahu.”
Dia melepaskan duluan.
Aku ingin mencatat itu.
Selama dua puluh satu hari aku selalu melepaskan duluan, setiap kali, karena itu latihan. Sore itu aku tidak melakukannya. Aku berdiri di sana dan menunggu, dan aku sadar aku sedang menunggu, dan aku tetap menunggu.
Dia mundur setengah langkah, mengusap wajahnya dengan lengan seragam, dan menarik napas panjang.
“Aku jelek banget sekarang, ya.”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Aku nggak bisa bohong.”
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya.
Kanaya berhenti mengusap wajahnya.
“Har,” katanya. “Kamu inget nggak, aku pernah bilang aku bakal nyari contohnya?”
“...Contoh apa?”
“Yang nggak ada batesnya.” Dia mengendus sekali. “Waktu kamu jahitin label garansi tiga puluh hari itu. Aku bilang aku bakal cari contoh sesuatu yang nggak ada batesnya.”
Aku ingat.
Tentu saja aku ingat. Aku mengingat setiap kalimat yang dia ucapkan sejak hari pertama, dan aku menyimpannya di tempat yang sama dengan hal-hal yang tidak bisa dibawa pulang.
“Aku udah nemu,” katanya.
“Apa?”
“Jahitannya.”
Aku tidak mengerti selama satu detik.
“Garansinya tiga puluh hari,” katanya. “Oke, fine. Tanggal tiga puluh satu, garansinya habis, kamu nggak tanggung jawab apa-apa lagi.”
Dia menunjuk kerahnya sendiri.
“Tapi jahitannya nggak ilang tanggal tiga puluh satu, Har. Jahitannya tetep di situ. Selamanya. Sampai bajunya sendiri yang hancur.”
Ada sesuatu di dadaku yang berhenti bekerja dengan benar.
“Jadi itu contohnya,” katanya. “Garansi ada batesnya. Kerjaan enggak.”
Dia tersenyum, dengan wajah yang masih basah dan mata yang masih merah, dengan bangga, seperti anak yang akhirnya menyelesaikan PR yang susah.
“Gimana? Aku menang, kan?”
Aku hampir mengatakannya.
Aku mau menuliskannya di sini dengan tepat, karena selama berbulan-bulan setelah itu aku memutar ulang sore itu ratusan kali, dan setiap kali aku berhenti di titik yang sama.
Kalimatnya sudah ada di mulutku. Bentuknya lengkap.
Nay, aku tahu.
Aku tahu dari hari kelima. Aku dengar di depan minimarket waktu hujan. Aku tahu semuanya, dan aku tetap dateng tiap hari, dan aku minta maaf karena aku nggak berhenti.
Aku menarik napas untuk mengucapkannya.
Dan aku berhenti.
Bukan karena takut.
Aku berhenti karena aku melihat wajahnya.
Wajahnya masih basah, dan matanya masih merah, dan dia baru saja berdiri di depan rumahnya sendiri yang lampunya menyala untuk tidak seorang pun, dan dia baru saja bilang aku cuma pengen ada yang tahu aja.
Kalau aku bicara sekarang, dia harus memikul dua hal sekaligus: rumah yang kosong, dan kesalahannya sendiri.
Dan dia akan memikul yang kedua duluan. Aku tahu itu. Dia akan langsung pindah ke mode mengurus — minta maaf, menjelaskan, menyusun cara memperbaiki — dan sore ini akan berubah jadi sore tentang dia yang bersalah, bukan sore tentang dia yang sendirian.
Aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya, di depan pintu rumahku, kepada anak perempuan bersepeda dengan mata bengkak.
Aku memotong permintaan maafnya supaya dia tidak perlu mengucapkan bagian yang paling susah.
Aku melakukannya lagi.
Aku menutup mulutku, dan aku menelan seluruh kalimat itu, dan aku berkata:
“Iya. Kamu menang.”
Dia masuk ke rumahnya jam tujuh kurang.
Aku menunggu sampai pintunya tertutup, lalu berjalan pulang lewat komplek yang jalannya lebar dan pohonnya tinggi.
Sembilan hari lagi.
Malam itu ibu bertanya kenapa aku tidak makan, dan aku bilang sudah makan di jalan, dan Sekar mengumumkan dari ruang tengah bahwa itu bohong karena dompetku masih di meja.
“Har.”
“Iya, Bu.”
“Sini.”
Aku duduk di kursi kecil di seberang mesinnya.
Ibu tidak berhenti menjahit. Itu caranya bicara soal hal-hal berat: sambil bekerja, supaya kalau anaknya mau menangis, anaknya punya tempat untuk tidak dilihat.
“Sabtu ibu ambil rapor kamu sesi dua.”
“Iya.”
“Temenmu itu sesi berapa?”
Aku tidak menjawab.
Jarum ibu berhenti.
“Har.”
“Bu, boleh nggak Ibu ambil dua?”
Mesin itu diam beberapa detik.
“Boleh,” kata ibu. “Suratnya bikin, ibu tanda tangan.”
“Iya.”
“Tapi kamu tanya dulu sama orangnya.”
“Iya.”
“Har.” Ibu melanjutkan jahitannya. “Kalau orang bilang nggak butuh ditolongin, kadang bener-bener nggak butuh. Kadang cuma belum pernah ada yang maksa.”
“Aku nggak tahu yang mana.”
“Ya makanya tanya.”
Aku naik ke kamar, lalu turun lagi sepuluh menit kemudian.
Aku duduk di depan mesin ayah dan tidak menjahit apa pun.
Aku mengambil buku catatan coklat dari laci, melepas karet gelangnya, dan membukanya ke halaman yang tidak punya tanggal dan tidak punya nama barang.
Judulnya masih di sana, ditulis empat tahun lalu dengan tinta yang sudah pudar:
TIDAK BISA DIPERBAIKI
Di bawahnya cuma ada dua baris.
Yang pertama ditulis empat tahun lalu, bulan Februari, tiga hari setelah aku berdiri empat puluh menit di belakang perpustakaan. Isinya cuma namaku sendiri, jenis kerusakannya, dan tanggalnya.
Aku tidak pernah menambah apa pun ke halaman itu selama empat tahun. Itu bukan halaman untuk hal-hal yang sedih; ibuku sedih setiap hari dan namanya tidak ada di situ. Itu halaman untuk hal-hal yang aku sudah periksa dari semua sisi, sudah aku balik, sudah aku angkat ke cahaya, dan sudah aku pastikan tidak ada jalannya.
Yang kedua aku tulis malam itu, di hari kedua puluh satu, dengan tangan yang sangat rapi karena tanganku tidak pernah gemetar untuk hal-hal yang bisa dikerjakan:
Larasati, Kanaya — rumah — (—)
Aku memandanginya agak lama.
Lalu aku menambahkan satu kata kecil di sebelah kanannya, di luar kolom, dengan huruf yang lebih kecil dari yang lain:
coba.
Aku tidak menulis tanggalnya.
Aku tidak tahu bagaimana cara menulis tanggal untuk sesuatu yang belum selesai rusak.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan reading
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup