Chapter Seventeen
Hari Terbaik
[POV: Hari] · [Hari ke-29]
Kalau kamu bertanya kepadaku sekarang, bertahun-tahun setelah semuanya, hari apa yang paling aku ingat — jawabannya bukan hari kelima, bukan hari kedua puluh enam, dan bukan hari ketiga puluh.
Jawabannya hari Minggu biasa di akhir bulan Mei, yang tidak ada apa-apanya, yang isinya cuma puding kemanisan dan satu kancing yang dijahit dengan benar.
Aku tidak tahu itu waktu menjalaninya. Itu bagian yang penting. Aku tidak berdiri di teras rumahku sambil berpikir simpan ini baik-baik.
Aku cuma menjalaninya, seperti orang bodoh yang punya banyak waktu.
Dia datang jam delapan pagi hari Minggu tanpa memberi tahu siapa pun, dengan dua kantong plastik dan wajah orang yang sudah menyiapkan pembelaan.
“Sebelum kamu ngomong apa-apa,” katanya, “ini bukan buat kamu. Ini buat Sekar.”
“Isinya apa?”
“Bahan buat bikin sesuatu.”
“Bikin apa?”
“Nggak tahu.” Dia masuk melewatiku. “Aku beli aja.”
Sekar sudah berteriak dari ruang tengah sebelum pintu tertutup.
“IBU. KAKAK IPAR DATENG.”
“Sekar!”
“Kak Kanaya datang!”
“Kamu udah teriak yang salah duluan.”
“Ya kan aku ralat.”
Isi kantong pertama ternyata bahan puding.
Isi kantong kedua ternyata bahan puding juga, karena Kanaya tidak tahu berapa banyak yang dibutuhkan dan memutuskan bahwa dua kali lipat itu aman.
“Ini buat berapa orang, Nak?”
“Empat, Tante.”
Ibu memandangi delapan bungkus agar-agar di meja dapur.
“Ini buat empat puluh.”
“...Oh.”
“Nggak apa-apa.” Ibu mulai mengeluarkan panci. “Nanti sisanya dibagi ke tetangga. Bu Nur pasti seneng.”
“Aku nggak enak, Tante.”
“Nak Kanaya.”
“Iya?”
“Di gang ini, yang bikin nggak enak itu kalau kamu nggak bagi-bagi.”
Aku diusir dari dapur jam sembilan.
Alasan resminya: kata ibu, dapur sudah penuh. Alasan sebenarnya: aku memindahkan tiga barang ke tempat yang menurutku lebih logis, dan ibuku tidak tahan.
“Har, keluar.”
“Aku cuma mindahin talenannya, Bu.”
“Talenan ibu di situ dari tahun dua ribu tujuh belas.”
“Itu ngalangin jalan ke wastafel.”
“Ibu tahu.”
“Terus kenapa nggak dipindah?”
“Karena ibu suka.” Dia menunjuk pintu dengan sendok sayur. “Keluar.”
Kanaya berdiri di belakang ibu sambil memegang bungkus agar-agar, menahan tawa dengan mulut tertutup rapat, dan gagal.
“Nak Kanaya juga jangan ketawa.”
“Iya, Tante.”
“Kamu sama aja. Tadi ibu lihat kamu majuin kompor gasnya.”
“Itu miring, Tante.”
“Ya biarin miring.”
Jadi aku duduk di ruang jahit dan mengerjakan dua kemeja, sambil mendengar hal-hal berikut dari dapur:
Sekar menuduh Kanaya memasukkan gula terlalu banyak.
Kanaya membela diri dengan mengatakan bahwa takarannya tertulis di bungkus.
Sekar membalas bahwa bungkus itu dibuat oleh pabrik yang ingin gulanya cepat habis.
Ibu tertawa sampai batuk.
Lalu ada bunyi sesuatu tumpah, lalu suara Kanaya bilang “aduh”, lalu suara Sekar berteriak “AKU CATET”.
Aku menjahit lengan kemeja dan menyadari, di tengah jahitan, bahwa aku sedang tersenyum sendirian di ruangan kosong seperti orang bodoh.
Aku membiarkannya.
Pudingnya jadi jam sebelas dan rasanya terlalu manis.
Semua orang bilang enak.
Sekar bilang enak sambil mengambil tiga potong. Ibu bilang enak sambil mengambil satu dan tidak menghabiskannya. Aku bilang enak dan menghabiskannya, karena aku memang menghabiskan semua yang ditaruh di depanku, itu bukan pujian.
Kanaya memakan satu suap, berhenti, dan berkata:
“Ini kemanisan banget, ya.”
“Enggak,” kata Sekar.
“Sekar, kamu makan tiga.”
“Iya, soalnya kemanisan. Jadi harus banyak biar netral.”
“Itu bukan cara kerja manis, Sekar.”
“Kakak bukan anak kimia.”
“Aku IPA.”
“Tapi Kakak nggak tahu.”
Ibu menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Siangnya aku mengajarinya menjahit kancing lagi.
Ini percobaan keempat sejak hari kesembilan. Tiga yang pertama berakhir dengan: satu kancing yang terpasang miring, satu jari tertusuk, dan satu insiden di mana benangnya entah bagaimana terjahit ke roknya sendiri.
Kali ini berbeda.
“Jangan ditarik kenceng-kenceng.”
“Aku nggak narik.”
“Kamu narik. Benangnya jadi ngerut.”
“Kalau nggak kenceng nanti copot.”
“Kancing itu harus goyang, Nay.”
“HA?”
“Harus ada jaraknya sama kain. Kalau nempel banget, nanti nggak bisa masuk ke lubangnya, terus benangnya putus dua minggu.” Aku mengambil batang korek api dari kaleng dan menaruhnya di atas kancing. “Jahit di atas ini. Nanti dicabut.”
Kanaya memandangi batang korek api itu seperti orang yang baru saja diberi tahu rahasia negara.
“Ini kenapa nggak ada yang ngasih tahu dari dulu.”
“Karena orang nggak nanya.”
“Aku juga nggak nanya.”
“Kamu di sini.”
Dia diam sebentar.
“Iya,” katanya. “Aku di sini.”
Dia menjahit kancing itu dalam tujuh menit. Enam tusukan, jarak rata, benang tidak berkerut. Waktu batang koreknya dicabut, kancingnya bergoyang persis seharusnya.
“Har.”
“Hm.”
“Ini bagus nggak?”
Aku memutar kainnya, melihat sisi dalamnya, menekan kancingnya dengan ibu jari.
“Bagus,” kataku.
“Bagus beneran atau bagus buat pemula?”
“Bagus beneran.”
Kanaya menaruh kain itu di meja, menegakkan punggung, dan berkata dengan suara paling puas yang pernah aku dengar dari siapa pun:
“Aku bisa satu hal.”
“Kamu bisa banyak hal.”
“Enggak.” Dia menggeleng, masih memandangi kancing itu. “Aku bisa ngatur banyak hal. Beda.”
“Bedanya apa?”
“Ngatur itu nyuruh orang lain ngerjain.” Dia menyentuh kancingnya dengan ujung jari, menggoyangkannya sekali. “Ini aku yang ngerjain. Tangan aku. Ini beda banget rasanya.”
Aku membereskan jarum ke kotaknya.
“Har.”
“Hm.”
“Berapa lama biar bisa kayak kamu?”
“Nggak tahu.”
“Kira-kira.”
“Aku mulai umur delapan.”
“Ya berarti aku telat sembilan tahun.”
“Iya.”
“Kamu nggak nyemangatin sedikit gitu?”
“Kamu nanya berapa lama,” kataku. “Aku jawab.”
Kanaya melempar kain perca ke arahku dan aku menangkapnya dengan satu tangan, dan dia bilang itu tidak adil, dan aku bilang itu latihan.
Lalu dia mengambil kancing kedua dari kaleng, dan batang korek kedua, dan mulai lagi tanpa disuruh.
Yang kedua selesai dalam lima menit.
Sorenya hujan, tapi hujan yang biasa, bukan yang seperti hari kelima.
Kami duduk di teras. Ibu mengangkat jemuran dengan bantuan Sekar yang lebih banyak menghalangi daripada membantu. Ada bau tanah dan bau gorengan dari warung Bu Nur di ujung gang.
Kanaya duduk di lantai teras dengan punggung bersandar ke tembok, memegang gelas teh, kakinya diluruskan.
“Har.”
“Hm.”
“Rumahmu berisik banget.”
“Iya.”
“Aku suka.”
“Iya.”
Dia menyeruput tehnya.
“Kamu tahu nggak,” katanya, “aku baru sadar aku belum pernah diem di satu tempat selama lima jam tanpa ngerjain apa-apa.”
“Kamu ngerjain puding.”
“Puding itu bukan kerjaan, itu bencana.”
Ada anak-anak lewat di gang, main hujan-hujanan, diteriaki dari dalam rumah, dan tetap main.
“Har.”
“Iya.”
“Boleh nggak aku sandaran?”
“...Boleh.”
Dia bergeser dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
Bahu yang sama. Yang kiri.
Dan kali ini aku tidak perlu menurunkannya tiga senti, karena kami duduk di lantai dan tingginya sudah pas dengan sendirinya, dan aku ingat aku memikirkan itu dengan sangat serius: bahwa duduk di lantai teras rumah sendiri itu ternyata menyelesaikan masalah teknis yang selama dua jam di bus tidak bisa aku selesaikan.
Kami tidak bicara sekitar dua puluh menit.
Aku tidak menghitung dua puluh menit itu. Aku tahu angkanya belakangan, dari bunyi azan.
Yang aku ingat dari dua puluh menit itu cuma tiga hal.
Yang pertama: ada semut merah lewat di lantai teras, dan Kanaya memindahkannya dengan daun supaya tidak terinjak, dan tidak berkata apa-apa soal itu, dan tidak sadar aku melihat.
Yang kedua: Sekar keluar sekali, melihat kami, lalu masuk lagi tanpa berkomentar — yang untuk Sekar adalah bentuk restu paling tinggi yang bisa diberikan.
Yang ketiga: pada satu titik Kanaya berkata, tanpa mengangkat kepalanya dari bahuku, dengan suara setengah tidur:
“Har.”
“Hm.”
“Kalau nanti ada apa-apa,” katanya, “kamu inget hari ini, ya.”
“Apa-apa apa?”
“Nggak tahu.” Dia menguap. “Apa aja.”
“Oke.”
“Janji?”
“Janji.”
Dan aku bilang itu dengan gampang sekali, seperti orang yang menjanjikan sesuatu yang memang tidak butuh usaha, karena aku memang tidak akan pernah lupa hari itu bahkan kalau aku berusaha keras.
Dia tidur sekitar sepuluh menit setelahnya.
Aku tidak bergerak, tentu saja.
Tapi kali ini bukan karena aku menahan sesuatu. Kali ini karena memang tidak ada yang perlu dikerjakan, dan itu ternyata perasaan yang sama sekali berbeda, dan aku baru tahu bedanya sore itu.
Ibu memaksa dia makan malam.
Itu bukan tawaran. Ibu tidak pernah menawarkan makan; ibu mengumumkan bahwa piring sudah ditaruh.
Kami makan di lantai ruang tengah, berempat, dengan alas koran, karena mejanya penuh kain pesanan yang harus selesai Selasa.
Sekar menceritakan seluruh kejadian di sekolahnya minggu ini tanpa jeda selama sebelas menit. Ibu menceritakan pelanggan yang minta kebaya dikecilkan tiga kali lalu minta dibesarkan lagi. Kanaya tertawa sampai harus menaruh sendoknya dua kali.
Pada satu titik, ibu bertanya, “Nak Kanaya, kamu besok sekolah bawa bekal?”
“Enggak, Tante. Jajan aja.”
“Ya udah, besok bawa.”
“Tante, nggak usah repot—”
“Ibu masak buat empat orang tiap hari,” kata ibu, sambil mengambil nasi. “Yang makan tiga.”
Ruang tengah itu hening sekitar dua detik.
Lalu Sekar berkata, “Kak Kanaya, itu artinya iya.”
“Aku tahu,” kata Kanaya. Suaranya agak serak. “Iya, Tante. Makasih.”
Setelah makan, Sekar mengeluarkan buku tulisnya dan mengumumkan bahwa dia perlu memperbarui catatan.
“Kak Kanaya. Total kunjungan: sembilan.”
“Sembilan?”
“Sembilan.” Sekar membalik halaman. “Rata-rata tiga hari sekali. Tapi minggu ini empat kali, jadi trennya naik.”
“Sekar, kamu belajar ‘tren’ dari mana?”
“TV.”
“TV apa?”
“Yang bapak-bapak ngomongin grafik.”
Ibu menutup mata dengan tangan lagi.
“Terus,” lanjut Sekar, “kalau naik terus, bulan depan Kak Kanaya ke sini dua hari sekali. Terus bulan depannya tiap hari.”
“Sekar.”
“Terus terus—”
“Sekar, masuk.”
“Aku cuma bilang datanya.”
Kanaya tertawa sampai matanya berair, dan menepuk kepala Sekar, dan berkata, “Kamu itu kalau gede jadi orang paling kaya di rumah ini.”
“Aku udah paling kaya.”
“Sekar.”
“Apa? Kak Hari utang lima ribu.”
Aku mengantarnya ke halte jam tujuh.
Hujan sudah berhenti. Jalanan basah dan memantulkan lampu warung.
Bu Nur melambai dari balik wajannya.
“Non, mampir!”
“Besok ya, Bu!”
“Awas lho, ibu tunggu!”
“Iya, Bu!”
Kanaya melambai balik dengan dua tangan, seperti anak kecil, dan aku berjalan di sebelahnya sambil membawa kantong berisi puding sisa yang dipaksakan ibu untuk dia bawa pulang.
“Har.”
“Hm.”
Dia berhenti, membuka tasnya, dan mengeluarkan kotak pensil abu-abu itu.
Yang resletingnya loncat di gigi ketiga dari ujung. Yang sudah aku lihat setiap hari selama dua puluh sembilan hari. Yang pernah aku bilang bisa diperbaiki, di hari ketiga, di kelas kosong jam enam dua puluh.
“Benerin,” katanya.
Aku mengambilnya.
“Kamu bilang bisa,” lanjutnya. “Hari ketiga. Kamu bilang giginya nggak ada yang copot, cuma rumahnya melar.”
“Kamu inget?”
“Aku inget semua yang kamu bilang,” katanya, dan dia bilang itu dengan enteng, seperti orang menyebutkan cuaca. “Itu penyakitku, inget udah dibilang.”
Aku memutar-mutar kotak pensil itu di tangan.
“Ini nggak butuh diganti resletingnya,” kataku. “Cuma dijepit pakai tang. Lima menit.”
“Ya udah, lima menit.”
“Kamu nggak butuh kotak pensil besok?”
“Aku ada yang lain di rumah.” Dia mengangkat bahu. “Tapi yang ini aku pakai dari kelas sepuluh.”
“Kenapa nggak beli baru?”
Kanaya menatapku.
Lalu dia tertawa — bahu naik dulu, baru suara, tangan naik setengah jalan lalu berhenti.
“Kamu nanya itu?” katanya. “Kamu? Yang payungnya dilakban?”
“...Oke.”
“Beli baru, katanya.”
“Oke, Nay.”
“Delapan belas ribu, katanya.”
“Ya udah, ya udah.”
Bus datang.
Dia naik satu anak tangga, lalu berbalik.
“Har.”
“Iya.”
“Makasih ya, hari ini.”
“Aku nggak ngapa-ngapain.”
“Kamu di rumah kamu sendiri,” katanya. “Itu udah ngapa-ngapain.”
Pintu bus menutup.
Aku berdiri di halte dengan kotak pensil abu-abu di tangan sampai lampu belakangnya hilang di tikungan.
Malam itu aku memperbaiki resletingnya dalam empat menit, bukan lima.
Aku menjepit rumah resletingnya dengan tang kecil, dua sisi, sedikit sekali — kalau kelebihan, resletingnya macet total dan harus diganti. Lalu aku menariknya naik-turun dua puluh kali untuk memastikan.
Naik. Turun. Naik. Turun.
Tidak loncat sekali pun.
Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak perlu.
Aku mencuci kotak pensil itu dengan sikat gigi bekas dan sabun cair, di bak belakang, karena warna abu-abunya sudah kusam di bagian yang sering dipegang dan aku tahu itu bisa dibersihkan.
Lalu aku menjemurnya di dekat jendela ruang jahit, di bawah lampu, supaya kering sebelum pagi.
Dan lalu — dan ini bagian yang paling tidak bisa aku jelaskan sampai sekarang — aku memotong pita kain putih sepanjang tiga senti, dan aku menulis sesuatu di situ dengan spidol kain, dan aku menjahitkannya di bagian dalam kotak pensil itu, di lipatan bawah, di tempat yang tidak akan kelihatan kecuali kamu membalik seluruh isinya keluar.
Aku tidak menulis “garansi” kali ini.
Aku juga tidak menulis nama.
Aku menulis tiga huruf yang bukan singkatan apa-apa, yang cuma akan berarti sesuatu untuk satu orang di dunia ini, kalau orang itu suatu saat membalik kotak pensilnya dan menemukan alasan untuk bertanya.
Lalu aku mengunci jahitannya dengan satu simpul benang merah, dan menaruh kotak itu di dalam tasku, di sebelah amplop kecil berisi kertas krem.
Ibu mematikan lampu ruang tengah jam sepuluh.
“Har, tidur.”
“Iya, Bu.”
“Besok sekolah.”
“Iya.”
Aku duduk di ruang jahit sendirian sekitar lima menit lagi.
Rumah itu berbunyi seperti biasa: kulkas, kipas, Sekar yang membalik badan di kasur, gerimis kecil yang datang lagi di atap seng.
Aku memikirkan puding yang kemanisan, dan kancing yang bergoyang persis seharusnya, dan bahu yang tidak perlu diturunkan tiga senti, dan piring keempat yang selama empat tahun tidak pernah ada yang duduk di depannya.
Aku memikirkan semuanya tanpa mengurutkan, tanpa menomori, tanpa mencatat.
Buku catatan coklat itu ada di laci, sepuluh senti dari tanganku, dengan karet gelang melingkar dua kali di tengahnya.
Aku tidak membukanya.
Aku ingin mencatat itu, karena selama dua puluh dua hari terakhir aku membukanya hampir setiap malam. Aku menambahkan nomor sebelas, dua belas, tiga belas. Aku menghitung, mencatat, membukukan, mengunci.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak.
Bukan karena aku lupa.
Karena hari itu tidak terasa seperti sesuatu yang harus dibukukan. Hari itu terasa seperti hari Minggu. Yang biasa. Yang akan ada lagi minggu depan, dan minggu depannya, dan minggu depannya lagi.
Itu satu-satunya kesalahan pembukuan yang pernah aku lakukan seumur hidup.
Lalu aku mematikan lampu meja, dan waktu tanganku sudah di saklar, mataku lewat di kalender bunga yang tergantung di dinding sebelah mesin ayah.
Satu.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik reading
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup