Chapter Eighteen
Sejak Hari Kelima
[POV: Hari → Kanaya] · [Hari ke-30]
Aku bangun jam lima, seperti biasa.
Aku menyetrika seragamku sendiri, seperti biasa. Kerah dulu, lalu bahu, lalu lengan, lalu badan. Ibu bilang urutan itu tidak penting. Ibu salah; kalau kamu menyetrika badan duluan, kerahnya akan kusut lagi waktu kamu menyetrika bahu.
Sekar keluar kamar jam setengah enam dan bertanya kenapa aku menyetrika dua kali.
“Nggak dua kali.”
“Aku lihat dari tadi.”
“Ini yang pertama.”
“Kak, aku bangun dari jam lima seperempat.”
Aku mematikan setrika.
“Kamu bangun jam segitu ngapain?”
“Nggak bisa tidur.” Dia duduk di anak tangga. “Kak.”
“Apa.”
“Hari ini kenapa?”
Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan ke anak umur sembilan tahun.
Ada juga hal-hal yang sebenarnya bisa, dan kamu tetap tidak menjelaskannya, dan alasannya bukan karena dia terlalu kecil.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Sekar tidak menjawab.
Dia cuma duduk di anak tangga sampai aku selesai, lalu berdiri, lalu masuk ke kamarnya lagi tanpa mengucapkan apa-apa, dan itu adalah hal paling tidak biasa yang pernah dia lakukan seumur hidupnya.
Aku memasukkan tiga benda ke tas pagi itu.
Yang pertama: amplop kecil berisi kertas krem, yang sudah ada di kantong dalam sejak empat hari lalu.
Yang kedua: kotak pensil abu-abu, resletingnya sudah naik-turun dua puluh kali tanpa loncat, warnanya sudah kembali seperti abu-abu dan bukan seperti debu.
Yang ketiga: satu gulungan benang merah. Yang biasa. Yang sepuluh ribu di Toko Pak Hasan. Yang isinya cukup untuk mengunci mungkin dua ratus jahitan.
Aku berdiri di ruang jahit sekitar satu menit sambil memandangi kalender bunga di dinding.
Ada satu kotak di kalender itu yang kertasnya sudah menipis, warnanya beda dari kotak-kotak di sekitarnya, karena selama dua puluh lima malam berturut-turut ada orang yang menyentuhnya dengan ibu jari sebelum mematikan lampu.
Hari ini kotak itu.
Aku tidak menyentuhnya pagi itu.
Tidak ada gunanya. Kamu tidak perlu menghitung sisa hari kalau sisanya nol.
Aku mau menjelaskan satu hal sebelum menceritakan sisanya, dan aku mau menjelaskannya sekarang, sebelum ada yang menganggap aku korban.
Tidak ada yang memaksaku.
Itu penting. Tolong dibaca dua kali.
Tidak ada satu pun orang di sekolah itu yang menyuruhku melakukan apa yang aku lakukan hari itu. Tidak ada ancaman, tidak ada jebakan, tidak ada orang yang menarik tanganku ke depan kelas.
Aku bisa saja diam.
Kalau aku diam, tanggal tiga puluh akan lewat, tidak ada bukti tertulis, tidak ada yang bisa dinilai, dan taruhannya batal.
Dan yang kalah bukan aku.
Yang kalah adalah orang yang berdiri di depan tiga orang temannya sendiri selama tiga puluh hari, yang mengambil taruhan itu supaya bukan Vania yang mengambilnya, yang sudah mulai menyembunyikan hal-hal baik dari grup sejak hari ketujuh belas.
Aku sudah menghitungnya semalam. Aku menghitung semuanya semalam, di ruang jahit, dengan lampu meja menyala dan tidak ada kain di bawah jarum.
Kalau aku diam, aku selamat dan dia yang menanggung.
Kalau aku bicara, dia menang dan aku pulang.
Aku sudah pernah menghitung yang seperti ini sebelumnya. Aku sudah pernah membayar yang seperti ini sebelumnya.
Perbedaannya cuma satu: kali ini aku tahu harganya sebelum membeli.
Dia mencoba bicara denganku empat kali hari itu.
Yang pertama jam setengah tujuh, di kelas kosong, waktu cuma ada kami berdua dan lantai masih basah bekas pel.
“Har.”
“Hm.”
“Aku mau ngomong.”
“Bentar, ya, aku ambil air.”
Yang kedua jam sembilan, di koridor, waktu dia menahan lengan seragamku.
“Har, sepuluh menit doang.”
“Bu Sari nyariin aku.”
“Bu Sari lagi rapat.”
“Aku ada urusan sama Fikri.”
Yang ketiga jam dua belas, di kantin, waktu dia duduk di depanku dan menaruh kedua tangannya di meja seperti orang yang sudah menyiapkan seluruh kalimatnya sejak semalam.
“Hari.”
“Iya?”
“Aku harus cerita sesuatu, dan aku mau kamu—”
“Nay.”
“Apa?”
“Nanti.”
“Har, ini penting.”
“Aku tahu,” kataku. “Nanti aja.”
Yang keempat jam dua kurang, waktu bel pulang belum bunyi, dan dia menulis sesuatu di kertas dan menggesernya ke mejaku.
Sepulang sekolah. Halte. Please.
Aku membacanya.
Aku melipatnya dua kali, memasukkannya ke saku, dan menulis di kertasku sendiri:
Iya.
Dan aku tahu persis, waktu menulis huruf itu, bahwa aku sedang berbohong untuk kelima kalinya.
Kalau kamu bertanya kenapa aku tidak membiarkannya bicara — kenapa aku tidak berhenti, duduk, dan mendengarkan orang yang jelas-jelas sedang berusaha mengaku dengan susah payah —
jawabannya tidak mulia sama sekali.
Kalau dia mengaku duluan, semuanya berhenti dalam bentuk yang salah.
Dia akan menangis, dan aku akan bilang nggak apa-apa, dan kami akan berdiri di halte sebagai dua orang yang punya rahasia bersama, dan tiga puluh hari itu akan berakhir sebagai sesuatu yang gagal.
Aku tidak mau tiga puluh hariku berakhir sebagai sesuatu yang gagal.
Aku sudah membukukannya. Sebelas nomor. Semuanya lunas.
Aku cuma perlu menutup bukunya dengan benar.
Mereka berkumpul di kelas jam setengah tiga.
Bukan rapat, bukan apa-apa. Cuma sisa orang yang belum pulang: Vania, Regita, Nadine, Bagas, Dimas, dua anak yang aku tidak hafal namanya, Fikri di pojok dengan HP-nya, dan Kanaya yang sedang memasukkan buku ke tas dengan gerakan orang yang terburu-buru mau ke halte.
Sebelas orang.
Aku menghitungnya dari pintu.
Aku berdiri di pintu kelas selama mungkin empat detik, dan selama empat detik itu ada bagian dari diriku — bagian yang lahir empat malam lalu di kamar yang bau kain, bagian yang tidak seharusnya ada — yang berteriak sangat keras supaya aku berbalik dan pergi ke halte.
Aku ingin mencatat bahwa bagian itu benar.
Bagian itu satu-satunya yang benar di seluruh ruangan itu, dan aku mengabaikannya.
Aku masuk.
“Nay.”
Dia mengangkat kepala. “Har? Aku baru mau—”
Aku mengeluarkan amplop dari kantong dalam tasku dan menyerahkannya.
Dengan dua tangan. Di tengah kelas. Dengan suara yang cukup keras untuk didengar sebelas orang, yang untuk ukuranku adalah teriakan.
“Ini buat kamu.”
Ruangan itu berubah bunyinya.
Kamu bisa mendengar momen di mana sebelas orang berhenti mengerjakan apa pun yang sedang mereka kerjakan.
“...Apa ini?”
“Surat.”
Kanaya tidak bergerak.
Tangannya di udara, setengah jalan, dan matanya turun ke amplop itu, lalu naik ke wajahku, lalu turun lagi.
“Har,” katanya. Suaranya sangat pelan. “Har, jangan sekarang.”
“Nggak apa-apa.”
“Har.”
“Aku cuma mau ngasih,” kataku. “Kamu nggak perlu jawab.”
Regita menutup mulutnya dengan dua tangan.
Dimas mengeluarkan bunyi yang bukan kata.
Dan seseorang di barisan belakang — aku sampai sekarang tidak tahu siapa, dan aku sudah lama berhenti ingin tahu — tertawa.
Bukan tawa jahat. Itu bagian yang harus aku jelaskan, karena kalau tidak dijelaskan orang akan membayangkan sesuatu yang lebih dramatis daripada yang sebenarnya.
Itu tawa kaget. Tawa refleks. Jenis tawa yang keluar waktu ada orang jatuh di depan kamu dan kamu belum sempat memutuskan apakah dia terluka.
Lalu ada yang ikut. Lalu ada yang bilang “anjir”. Lalu ada yang mengeluarkan HP.
Dan Kanaya berdiri di tengah semua itu dengan amplop di tangan yang belum dia genggam sepenuhnya.
Aku melihat wajahnya.
Aku tidak akan menuliskan bagaimana bentuknya. Itu satu-satunya hal dari seluruh cerita ini yang aku simpan untuk diriku sendiri.
Vania yang mengambil surat itu.
Dia berdiri, berjalan tiga langkah, dan mengambilnya dari tangan Kanaya — tidak kasar, hampir pelan — lalu membukanya.
“Van—”
“Buktinya harus tertulis, kan,” kata Vania. “Kata aku sendiri.”
Dia membacanya.
Ruangan itu ribut. Ada yang menyuruh dibacakan keras-keras. Ada yang tertawa. Bagas berdiri dengan wajah bingung dan bertanya “kenapa? kenapa?” ke tiga orang berbeda dan tidak ada yang menjawabnya.
Vania membaca sampai selesai.
Lalu dia berhenti.
Aku memperhatikan wajahnya, karena aku selalu memperhatikan wajah orang, karena itu satu-satunya keahlian yang aku punya selain menjahit.
Dan aku melihat sesuatu hilang dari wajahnya di baris terakhir.
Dia membaca baris itu dua kali. Aku tahu dari gerakan matanya.
Lalu dia melipat surat itu kembali, memasukkannya ke amplop, dan menyerahkannya kepada Kanaya dengan dua tangan.
“Udah,” kata Vania.
“Van?”
“Udah. Selesai.” Suaranya datar. “Kamu menang, Nay. Selamat.”
Lalu dia mengambil tasnya dan keluar kelas tanpa melihat siapa pun.
Aku pulang lewat pintu belakang supaya tidak melewati koridor depan.
Aku sampai di gerbang, lalu berhenti, lalu berbalik dan kembali ke kelas.
Bukan karena berubah pikiran.
Karena aku belum menyerahkan dua benda yang lain, dan aku tidak mau menyerahkannya di depan orang.
Kelas itu sudah kosong waktu aku kembali. Semua sudah pulang, kecuali satu orang yang duduk di mejanya sendiri, di barisan tengah, dengan amplop di depannya yang belum dibuka.
Aku duduk di pojok belakang dekat jendela.
Di kursiku sendiri.
Dan aku menunggu, karena aku sudah tahu sejak semalam bahwa dia akan tetap di sini, dan karena aku sudah menyiapkan kalimatnya, dan karena kalau ada satu hal yang aku bisa lakukan dengan benar seumur hidupku, itu adalah menyelesaikan pekerjaan sampai simpul terakhirnya.
[POV: Kanaya]
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di situ.
Aku tahu suaranya berhenti satu per satu. Aku tahu Bagas berdiri di sebelahku dan bertanya sesuatu dan aku menjawab sesuatu. Aku tahu Nadine memegang bahuku dan aku bilang aku nggak apa-apa.
Lalu ruangan itu kosong.
Lalu ada bunyi kursi digeser di pojok belakang.
Aku berbalik.
Dia duduk di sana. Di kursinya. Dengan tas di pangkuan dan punggung yang tidak bungkuk untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.
“Har—”
“Aku tahu.”
Dua kata.
Aku ingin menuliskan bahwa aku tidak mengerti. Aku ingin menuliskan bahwa aku bingung, bahwa aku bertanya apa maksudnya, bahwa ada proses.
Tidak ada.
Aku langsung mengerti. Seluruh tubuhku mengerti sebelum kepalaku selesai, seperti orang yang menginjak anak tangga yang tidak ada.
“Sejak kapan,” kataku.
Dan suaraku keluar dengan bentuk yang tidak aku kenali.
“Hari kelima,” katanya.
Dia menceritakannya dengan tenang.
Itu bagian yang paling tidak bisa aku maafkan dari seluruh sore itu, dan yang aku maksud tidak bisa aku maafkan adalah dari diriku sendiri.
Dia menceritakannya seperti orang melaporkan pekerjaan.
Depan minimarket. Hujan. Regita dan Nadine di jalur samping tempat parkir motor. Tiga puluh hari, bukti harus tertulis, tanggal tidak bisa diundur. Dia berdiri di sebelah lemari es krim yang berdengung dan mendengar semuanya, termasuk bagian di mana Regita bilang aku yang mengambil taruhan itu supaya bukan Vania.
“Aku dengar itu juga,” katanya. “Yang bagian kamu ngambil biar bukan Vania.”
“Har—”
“Aku tahu kamu nggak jahat, Nay.” Dia mengatakannya dengan sabar, seperti orang menjelaskan sesuatu yang sudah jelas. “Aku nggak pernah mikir kamu jahat. Sekali pun enggak.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Terus kamu—” Napasku patah. “Kamu tetep dateng? Dua puluh lima hari?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan Hari Baskara, yang selama tiga puluh hari cuma punya tiga jawaban, duduk di pojok belakang kelas 11 IPA-3 dan memberikan jawaban keempat.
“Kelas sembilan aku pernah dikasih surat palsu,” katanya. “Disuruh nunggu di belakang perpus. Aku nunggu empat puluh menit.”
“Har—”
“Empat puluh menit itu aku hitung ulang minggu lalu.” Dia melihat ke mejanya. “Dua menit terakhirnya jelek. Tiga puluh delapan menit sebelumnya aku berdiri di situ, pakai seragam yang aku setrika sendiri, dan aku percaya ada orang yang nungguin aku.”
Ruangan itu sunyi sekali.
“Mereka pikir mereka ngerusak empat puluh menit,” katanya. “Padahal cuma dua.”
Aku tidak bisa bernapas dengan benar.
“Kamu ngasih aku tiga puluh hari, Nay.” Dia mengangkat wajahnya. “Aku pernah hidup dari tiga puluh delapan menit.”
Aku mencoba mengaku.
Aku mencoba mengaku empat kali, dan dia menghentikanku empat kali, dan setiap kali dia menghentikanku dengan cara yang membuatku ingin merobek sesuatu.
“Har, aku mau jelasin—”
“Nggak usah.”
“Aku mau bilang kenapa aku—”
“Aku udah tahu kenapa.”
“Kamu nggak tahu semuanya.”
“Nay.” Dia menggeleng pelan. “Kalau kamu jelasin, kamu harus ngomongin bagian yang paling susah. Nggak usah. Aku nggak butuh denger itu.”
“AKU YANG BUTUH NGOMONG!”
Suaraku memantul di ruangan kosong itu.
Dia diam.
Lalu dia bilang, “Oke.”
Dan menunggu.
Dan aku berdiri di sana dengan mulut terbuka dan tidak ada satu pun kalimat yang keluar, karena ternyata aku tidak pernah menyiapkan kalimat untuk orang yang tidak marah.
Aku menyiapkan kalimat untuk orang yang berteriak. Untuk orang yang menuduh, membanting pintu, menyebut aku jahat. Aku punya seluruh naskahnya, aku menyusunnya berhari-hari, aku bahkan punya bagian di mana aku tidak membela diri.
Aku tidak punya apa-apa untuk ini.
“Aku bercanda soal aku bakal jadi orang jahat,” kataku akhirnya. Suaraku hancur di tengah. “Har, aku bercanda waktu itu.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa aku beneran jadi—”
“Kamu nggak jahat.”
“HAR.”
“Kamu bohong,” katanya. “Itu beda.”
Lalu dia melakukan dua hal, dan dua hal itu yang membunuhku.
Yang pertama: dia mengeluarkan kotak pensil abu-abuku dari tasnya.
Sudah diperbaiki. Aku menariknya waktu itu juga, refleks, dan resletingnya naik sampai ujung tanpa loncat sekali pun. Dan warnanya berubah — bersih, abu-abu betulan, bukan abu-abu kusam yang sudah aku pakai sejak kelas sepuluh.
“Kamu nyuci ini?”
“Sikat gigi bekas sama sabun cair.”
“Har.”
“Empat menit,” katanya. “Bukan lima.”
Yang kedua: dia menaruh satu gulungan benang merah di atas meja.
“Ini apa?”
“Buat kamu.”
“Har, aku nggak bisa jahit.”
“Kamu bisa masang kancing,” katanya. “Kemarin dua, jaraknya rata.”
Aku memegang gulungan itu.
Sepuluh ribu. Benang merah biasa. Yang dijual di semua toko kain di seluruh Indonesia.
“Kenapa merah?”
“Kebiasaan ayahku.” Dia berdiri dan menyampirkan tasnya. “Setiap kerjaan yang selesai dikunci pakai simpul merah di sisi dalam. Di tempat yang nggak keliatan.”
“Kenapa nggak keliatan?”
“Karena nggak semua yang ada harus keliatan.”
Dia menggeser kursinya masuk ke meja. Rapi. Sejajar dengan tepi.
“Har, tunggu—”
“Nay.”
“Apa.”
Dan dia mengucapkan kalimat yang aku putar ulang setiap malam selama empat bulan berikutnya, sampai aku bisa mendengarnya bahkan waktu tidak sedang memikirkannya:
“Makasih ya,” katanya. “Tiga puluh hari.”
Aku berteriak.
Aku tidak ingat kata-katanya. Aku ingat aku berteriak, dan aku ingat aku bilang jangan bilang makasih, dan aku ingat aku bilang marah aja, Har, marah aja sekali aja, dan aku ingat aku menangis dengan cara yang jelek sekali di ruang kelas kosong jam empat sore.
Dia berdiri di dekat pintu dan menunggu sampai aku selesai.
Lalu dia berkata:
“Kamu janji nggak akan bikin aku malu.”
Aku mengangkat wajahku.
“Kamu nggak ngelanggar,” katanya. “Aku yang bikin diriku sendiri malu. Aku yang jalan ke depan kelas. Aku yang ngasih suratnya di depan orang.”
“Har, itu—”
“Buktinya harus tertulis,” katanya pelan. “Kalau aku diem, kamu yang kalah di depan mereka.”
Aku merasakan lantai bergerak.
“Dan poniku,” lanjutnya, dan suaranya masih sama tenangnya, “aku udah mutusin buat dipotong sebelum kamu nanya. Aku bilang ‘potong aja’ sebelum kamu selesai ngomong. Kamu inget?”
Aku ingat.
Aku ingat setiap detiknya. Aku ingat aku merasa lega. Aku ingat aku merasa tersanjung.
“Kenapa,” bisikku.
“Karena kalau aku keliatan lebih bener,” katanya, “kamu lebih gampang menang.”
“Tanggal delapan.”
Dia sudah di ambang pintu waktu aku mengucapkannya.
“Ulang tahunku,” kataku. “Kamu bilang iya. Waktu itu, di mulut gang, kamu bilang iya.”
Hari berhenti.
Dan untuk pertama kalinya sore itu — untuk satu-satunya kalinya — ada sesuatu yang bergerak di punggungnya. Bahunya naik setengah senti, lalu turun lagi.
“Iya,” katanya, tanpa berbalik. “Itu bohong.”
“Har.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf.”
“Aku bohong ke kamu empat kali,” katanya. “Yang itu yang paling aku niatin.”
“HARI.”
“Aku nggak bisa bilang enggak waktu kamu lagi seneng.” Dia menoleh sedikit, cukup untuk aku lihat setengah wajahnya. “Itu satu-satunya hal yang aku nggak bisa.”
Lalu dia keluar.
Dan aku berdiri di kelas yang kosong sambil memikirkan hal paling konyol yang bisa dipikirkan orang di saat seperti itu:
bahwa daftar tamunya sudah aku tulis di catatan HP sejak malam itu juga.
Lima nama.
Namanya paling atas.
Dia pergi jam empat lewat sepuluh.
Aku tahu jamnya karena aku melihat jam dinding, karena aku selalu melihat jam, karena aku orang yang mengatur segalanya dan aku bahkan tidak bisa berhenti mengatur di sore itu.
Aku tidak mengejarnya.
Aku ingin menuliskan bahwa aku mengejarnya. Aku sudah menulis ulang sore itu ratusan kali di kepalaku, dan di semua versi yang aku karang, aku mengejarnya sampai gerbang.
Yang sebenarnya terjadi: aku duduk di lantai di antara barisan meja, dengan gulungan benang merah di satu tangan dan kotak pensil yang sudah dicuci di tangan yang lain, dan aku tidak bergerak sampai penjaga sekolah datang mengunci kelas jam lima.
Suratnya baru aku buka di rumah.
Di ruang tamu yang lampunya sudah menyala otomatis sejak jam enam.
Isinya tujuh baris. Kertasnya krem, agak tebal, permukaannya sedikit kasar — kertas yang biasa dipakai Tante Ratih untuk membungkus pesanan yang mahal. Aku tahu itu karena aku pernah melihat gulungannya di lemari ruang jahit dan bertanya itu untuk apa.
Tulisannya kecil-kecil, jaraknya sama semua.
Kayak dijahit.
Nay,
Aku nggak bisa ngomong, jadi aku tulis.
Kamu pernah nanya kenapa aku selalu nyiapin tempat buat diriku sendiri di bagian yang paling jelek. Aku nggak jawab waktu itu. Jawabannya: karena kalau aku udah di sana duluan, nggak ada yang bisa naruh aku di sana.
Aku suka kamu. Bukan yang versi depan kelas. Yang versi ngitung ulang dana konsumsi sampai ketemu selisih dua puluh ribu. Yang versi ketawanya bahu duluan baru suara. Yang versi jarinya ketusuk sebelas kali terus tetep nyoba yang kedua belas.
Kamu nggak perlu jawab. Beneran. Aku nulis ini bukan biar kamu jawab. Aku nulis ini biar ada.
Makasih ya, tiga puluh hari.
— Hari
Tidak ada tanggalnya.
Aku membaca tujuh baris itu mungkin dua puluh kali di lantai ruang tamu, dan setiap kali aku berhenti di baris yang sama, dan setiap kali baris itu makin sulit dibaca sampai akhirnya aku harus menaruh kertasnya karena air jatuh ke atasnya dan aku panik dan mengelapnya dengan lengan dan malah membuat tintanya melebar sedikit di huruf terakhir.
Aku nulis ini biar ada.
Bukan biar dijawab. Bukan biar dibalas. Bukan biar dia dapat apa-apa.
Biar ada.
Seperti simpul benang merah di sisi dalam yang tidak akan pernah dilihat siapa pun.
Baris terakhirnya:
Makasih ya, tiga puluh hari.
Dan di situ, di lantai ruang tamu rumahku sendiri, aku akhirnya mengerti kenapa Vania keluar kelas tanpa melihat siapa pun.
Vania sudah membaca baris itu satu jam sebelum aku.
Vania tahu duluan bahwa surat itu bukan pernyataan cinta.
Itu tanda terima.
Sekar menelepon jam delapan malam.
Dari nomor Tante Ratih. Aku hafal nomor itu karena disimpan sejak hari kedelapan, waktu Tante bilang simpen nomor ibu, Nak, siapa tahu perlu.
“Kak Kanaya.”
“...Sekar.”
“Kak Hari nggak makan.”
Aku menutup mata.
“Terus dia nggak nyalain lampu meja,” lanjut Sekar. “Dia nggak pernah nggak nyalain lampu meja. Bahkan pas sakit.”
“Sekar—”
“Kakak berantem, ya?”
“Iya.”
“Kakak yang salah?”
Ada anak umur sembilan tahun di ujung telepon, berdiri di ruang tengah rumah yang bau kain dan minyak mesin, bertanya dengan nada orang yang benar-benar ingin tahu jawabannya supaya bisa dicatat.
“Iya,” kataku. “Kakak yang salah.”
Sekar diam agak lama.
“Ya udah,” katanya akhirnya. “Nanti dibenerin.”
“Sekar, ini nggak bisa—”
“Kata Kak Hari, semua bisa dibenerin kalau bahannya masih ada.”
Dia menutup teleponnya sebelum aku sempat menjawab, karena dia sembilan tahun, karena baginya kalimat itu sudah menyelesaikan masalah.
Aku memegang HP yang sudah mati di telingaku selama mungkin dua menit.
Ada satu hal lagi, dan aku menyadarinya jam dua pagi, sambil duduk di lantai dengan lampu menyala di semua ruangan.
Kalender bunga di dinding ruang jahitnya.
Kotak tanggal yang kertasnya menipis, yang warnanya beda dari kotak-kotak di sekitarnya, yang dia bilang bocor atapnya padahal langit-langit di atasnya kering.
Aku sudah tahu waktu itu dia bohong. Aku memutuskan untuk tidak menariknya.
Aku duduk di lantai jam dua pagi dan menghitung mundur dari tanggal itu, dan angkanya cocok, dan aku menutup mulutku dengan dua tangan supaya tidak ada suara yang keluar di rumah yang tidak ada orangnya.
Setiap malam.
Selama dua puluh lima malam.
Sambil aku duduk di sebelahnya, sambil aku minta diajarin masang kancing, sambil aku tidur di bahunya selama dua jam empat menit — ada orang yang pulang ke rumahnya, menyalakan lampu meja, dan menyentuh satu kotak di kalender dengan ibu jarinya sampai kertasnya menipis.
Dan tidak sekali pun, tidak satu kali pun dalam dua puluh lima hari, dia menyuruhku berhenti.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima reading
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup