Chapter Nineteen
Yang Paling Memalukan
[POV: Kanaya] · [Hari ke-31]
Kursi di pojok belakang dekat jendela kosong.
Aku sudah tahu sebelum masuk kelas. Aku tahu dari gerbang, sebenarnya — aku berdiri di sana dari jam enam kurang sepuluh, di tempat yang bisa melihat orang datang dari arah pasar lama, dan sampai bel pertama tidak ada yang datang dari arah itu.
Fikri masuk jam tujuh kurang lima.
“Fik.”
Dia lewat.
“Fikri.”
Dia berhenti, tapi tidak menoleh.
“Dia sakit?”
“Nggak tahu.”
“Fik—”
“Gue nggak tahu, Nay.” Dia menyampirkan tasnya. “Gue nggak nanya. Kalau orang nggak masuk, biasanya dia lagi nggak mau ditanya.”
Lalu dia duduk di kursinya di tengah dan memakai earphone-nya, dan itu pertama kalinya sejak aku mengenalnya Fikri memakai earphone di dalam kelas sebelum bel.
Berita itu sudah jalan sebelum aku sampai.
Aku tahu cara kerjanya. Aku sudah menghabiskan dua tahun di sekolah ini menjadi orang yang tahu segalanya lebih dulu, dan mekanismenya selalu sama: satu orang cerita ke dua orang, dua orang cerita ke empat, dan di jam istirahat pertama versi yang beredar sudah bukan versi yang terjadi.
Versi yang beredar pagi itu ada tiga.
Versi pertama: Hari menembak Kanaya di depan kelas dan ditolak.
Versi kedua: Hari menembak Kanaya di depan kelas dan diterima.
Versi ketiga — dan ini yang paling banyak beredar, karena ini yang paling enak diceritakan — ada taruhan, dan si cupu itu masuk perangkap, dan lucu banget kan.
Aku mendengar versi ketiga di koridor jam delapan lewat, dari dua anak kelas sebelas IPS yang bahkan tidak tahu wajahku.
Salah satunya bilang, “Kasihan sih, tapi ya lucu.”
Aku berdiri di koridor sambil memegang tali tasku dan menyadari sesuatu yang membuat perutku turun:
Kasihan sih, tapi ya lucu.
Aku pernah mengucapkan kalimat itu.
Bukan tentang dia. Tentang orang lain, tahun lalu, di kantin, sambil tertawa.
Aku punya waktu satu jam untuk menyusun rencana, dan aku menyusun tiga.
Rencana pertama: diam. Biarkan reda. Dalam dua minggu ada gosip baru, semua orang lupa, dan aku memperbaiki semuanya diam-diam dengan Hari, berdua, tanpa penonton.
Itu rencana terbaik. Itu rencana paling aman, paling efektif, dan paling tidak merugikan siapa pun.
Aku membuangnya karena satu alasan.
Kalau aku diam, versi ketiga yang menang. Dan versi ketiga punya satu tokoh yang bodoh dan satu tokoh yang pintar, dan yang bodoh bukan aku.
Rencana kedua: klarifikasi setengah. Bilang ada kesalahpahaman, bilang taruhannya cuma bercanda, bilang aku dan Hari baik-baik saja.
Itu rencana yang paling mungkin berhasil.
Aku membuangnya juga, dan alasannya butuh waktu lebih lama untuk aku akui: karena rencana itu masih menyisakan aku sebagai orang baik.
Rencana ketiga tidak punya keuntungan sama sekali.
Aku menulisnya di halaman belakang buku catatan panitia, dengan format yang sama seperti aku menulis rundown acara, karena itu satu-satunya cara aku bisa memikirkan sesuatu tanpa hancur di tengah jalan.
Tujuan: —
Aku berhenti di situ selama empat menit.
Karena kalau kamu menulis rundown, kolom pertama selalu tujuan. Dan aku tidak bisa mengisinya.
Tujuannya bukan supaya Hari memaafkan aku. Hari tidak ada di sekolah.
Tujuannya bukan supaya orang berhenti membicarakan. Orang tidak akan berhenti; mereka cuma akan mengganti topik.
Tujuannya bukan supaya aku merasa lebih baik. Aku sudah tahu, bahkan sebelum berdiri, bahwa aku akan merasa lebih baik, dan aku sudah curiga itu masalahnya.
Akhirnya aku menulis satu kata di kolom tujuan, dan aku menulisnya dengan tangan yang tidak stabil:
Nggak ada.
Lalu aku menutup bukunya.
Selama dua tahun aku tidak pernah sekali pun mengerjakan sesuatu yang tidak ada gunanya.
Aku pikir itu artinya aku efisien.
Ternyata itu artinya aku belum pernah membayar apa pun.
Aku berdiri di depan kelas jam sepuluh lewat, di jam kosong, waktu Pak Yudha tidak masuk dan seluruh kelas ada di dalam ruangan.
Aku sudah biasa berdiri di depan kelas. Aku sudah melakukannya ratusan kali. Aku tahu persis cara membuat tiga puluh dua orang diam dalam sepuluh detik.
Aku memakai cara itu.
“Aku mau ngomong sebentar.”
Kelas diam.
“Soal yang kemarin.”
Kelas diam lebih dalam.
Dan aku ingin mencatat, karena aku sudah berjanji untuk jujur di seluruh bagian ini: aku sempat merasakan sesuatu yang mirip lega di detik itu. Karena semua mata ke arahku, dan karena aku pintar berdiri di depan orang, dan karena sebagian kecil dari diriku sudah tahu bahwa aku bisa keluar dari ruangan ini dengan semua orang mengagumi kejujuranku.
Aku menyadarinya di detik itu juga.
Dan aku memutuskan untuk merusaknya.
“Ada taruhan,” kataku. “Aku yang ambil.”
Regita menutup mulutnya.
“Tiga puluh hari. Bikin Hari nembak duluan. Harus ada buktinya, harus tertulis. Aku yang ambil, aku yang jalanin, dari hari pertama sampai kemarin.”
Aku tidak melihat ke arah meja belakang. Aku sengaja tidak melihat ke sana.
“Itu bagian yang kalian udah tahu,” kataku. “Sekarang bagian yang belum.”
Aku menarik napas.
“Yang beredar itu bilang aku ngerjain dia. Itu bener. Tapi ada versi lain yang mungkin bakal keluar sendiri, dan aku mau ngeluarin duluan sebelum ada yang ngeluarin buat ngebelain aku.”
“Nay—” Nadine berdiri.
“Nad, duduk.”
Dia duduk.
“Versi itu bunyinya gini.” Aku memandangi papan tulis, bukan orangnya. “Aku ngambil taruhan itu biar bukan Vania yang ngambil. Karena kalau Vania yang ngambil, dia bakal ngelakuin sesuatu yang jauh lebih kejam. Jadi aku ngorbanin diri buat ngelindungin Hari.”
Aku berhenti.
“Itu juga bener,” kataku.
Kelas mulai bergerak sedikit. Ada yang menghela napas. Ada yang bersandar. Aku bisa mendengar ruangan itu mulai memutuskan bahwa aku tidak seburuk yang mereka kira.
“Dan itu yang aku pakai selama tiga puluh hari buat bikin diri aku sendiri bisa tidur,” kataku.
Ruangan itu berhenti bergerak.
“Aku mau kalian tahu satu hal yang aku nggak bisa bilang ke siapa-siapa selama sebulan ini.”
Suaraku mulai tidak stabil. Aku membiarkannya.
“Waktu Vania nawarin taruhan itu, aku lihat ke pojok belakang, dan hal pertama yang aku pikirin adalah jangan dia.”
Aku menelan ludah.
“Terus aku bilang ‘aku ambil’. Dan aku bilang ke diri aku sendiri itu karena aku mau ngelindungin dia.”
Aku melihat ke arah kelas untuk pertama kalinya.
“Tapi itu bukan satu-satunya alasan.”
Nadine sudah menangis. Aku melihat itu dan aku memaksa diriku untuk tidak berhenti.
“Aku ngambil dia,” kataku, “karena kasihan sama dia itu enak.”
Tidak ada yang bersuara.
“Kalian ngerti nggak maksudku? Ada orang yang duduk sendirian di pojok selama dua tahun, terus aku dateng, terus tiba-tiba dia punya temen.” Suaraku pecah. “Terus setiap kali dia keliatan seneng, aku ngerasa jadi orang baik. Gratis. Tanpa harus ngasih apa-apa yang beneran mahal.”
Aku mengusap wajahku dengan lengan seragam.
“Aku bukan malaikat yang kepeleset. Aku dapet sesuatu dari ini. Aku dapet ngerasa berguna, tiap hari, selama tiga puluh hari, dari orang yang nggak tahu dia lagi mbayarin aku.”
Ada yang mengangkat tangan di barisan tengah. Dimas.
“Nay, tapi kan kamu—”
“Jangan.”
“Aku cuma mau bilang—”
“Dimas, aku tahu kamu mau bilang apa.” Suaraku naik. “Kamu mau bilang tapi kan akhirnya kamu beneran suka sama dia. Kan?”
Dimas menutup mulutnya.
“Iya,” kataku. “Itu bener juga.”
Aku memegang tepi meja guru karena kakiku mulai tidak bisa diandalkan.
“Dan itu nggak ngebatalin apa-apa,” kataku. “Itu justru bagian yang paling jelek. Karena artinya aku tahu. Artinya dari hari ketujuh belas aku udah tahu ini salah, dan aku tetep jalan, karena berhenti artinya kehilangan.”
Aku melihat ke arah kursi kosong di pojok belakang dekat jendela.
Aku tidak berencana melihat ke sana. Mataku yang pergi sendiri.
“Aku milih diriku sendiri,” kataku. “Tiga belas hari terakhir itu bukan taruhan lagi. Itu aku milih diriku sendiri, tiap hari, tiga belas kali.”
Vania berdiri.
Aku sudah menyiapkan diri untuk ini. Aku sudah menyiapkan jawaban untuk delapan kemungkinan kalimat yang mungkin dia lempar.
Dia tidak melempar satu pun.
“Aku yang bikin taruhannya,” katanya, ke seluruh ruangan. “Aku yang nentuin syaratnya. Aku yang bilang buktinya harus tertulis.”
“Van—”
“Aku belum selesai.” Dia tidak melihat ke arahku. “Dan aku yang bilang ke Kanaya minggu kedua kalau dia nggak boleh setengah-setengah. Aku yang mendorong. Kalau ada yang mau nyalahin satu orang, salahin aku, karena aku yang mikirin semuanya duluan.”
Kelas itu betul-betul diam.
Lalu Vania menoleh ke arahku, dan matanya kering, dan wajahnya sama sekali tidak minta dikasihani.
“Tapi kamu yang jalanin, Nay,” katanya. “Tiga puluh hari. Aku cuma ngomong sekali di kantin.”
Dia duduk kembali.
Dan aku berdiri di depan kelas dan tidak punya satu pun kalimat yang bisa membantah itu, karena itu benar, karena itu paling benar dari semua yang diucapkan di ruangan itu hari itu.
Bagas berdiri paling akhir.
Dia sudah berdiri sejak tadi, sebenarnya. Dia berdiri dari tengah, sejak bagian “tiga puluh hari”, dan dia berdiri di situ tanpa bergerak sama sekali, dengan tangan di sisi badan.
“Nay.”
“Iya, Gas.”
“Aku salamin dia.”
“...Apa?”
“Waktu dia potong rambut.” Suaranya aneh sekali. “Aku salamin dia. Aku bilang aku seneng banget. Aku bilang aku dari dulu pengen ngajak dia tapi takut ganggu.”
“Bagas—”
“Terus dia bilang makasih.”
Bagas berhenti.
“Dia bilang makasih, Nay, dan aku ngacungin jempol dua kali kayak orang goblok, dan selama itu—” Napasnya berantakan. “Selama itu kalian lagi ngitung hari.”
Dia mengambil tasnya.
“Gas, tunggu—”
“Aku nggak marah sama kamu.” Dia sudah di pintu. “Aku marah sama diri aku sendiri karena aku seneng banget waktu itu. Aku seneng banget.”
Dia keluar.
Regita menangis dengan suara. Nadine menangis tanpa suara. Dua anak di barisan depan berbisik dan langsung berhenti.
Aku masih berdiri di depan kelas.
Aku menyelesaikan kalimat terakhirku, karena aku sudah menyiapkannya dan karena kalau aku tidak menyelesaikannya sekarang aku tidak akan pernah bisa.
“Aku nggak minta maaf ke kalian,” kataku. “Kalian bukan yang aku bohongin.”
Aku memandangi tiga puluh satu orang.
“Dan aku nggak mau ada yang bilang aku berani. Aku berdiri di sini bukan karena berani. Aku berdiri di sini karena kemarin dia berdiri di tempat yang sama dan ngasih surat di depan kalian semua, tahu persis bakal ditertawain, biar aku menang.”
Suaraku habis di kata terakhir.
“Aku cuma niru,” kataku. “Dan niruannya jelek.”
Aku keluar kelas dan langsung ke kamar mandi dan muntah.
Bukan kiasan. Aku benar-benar muntah, di bilik kedua dari kanan, dan aku duduk di lantai kamar mandi sekolah selama sepuluh menit dengan kepala menempel di dinding keramik.
Dan inilah bagian yang paling ingin aku hapus dari seluruh hari itu:
Aku merasa lebih baik.
Aku duduk di lantai kamar mandi dengan mulut yang pahit dan mata yang bengkak, dan ada bagian di dalam dadaku yang terasa jauh lebih ringan daripada tadi pagi.
Karena aku sudah mengaku. Karena aku sudah membayar. Karena aku sudah berdiri di depan tiga puluh satu orang dan menyebut diriku sendiri jahat, dan itu terasa seperti sesuatu yang selesai.
Aku menyandarkan kepalaku ke dinding dan berpikir: ya udah. Udah kok.
Dan lalu aku sadar apa yang sedang aku lakukan.
Aku baru saja memakai pengakuanku sendiri sebagai obat.
Aku merancang seluruh pagi itu — versi mana yang dibuang, kalimat mana yang dipakai, kapan berhenti, kapan menangis — dan hasil akhirnya adalah aku merasa lebih ringan dan Hari tidak ada di ruangan itu.
Dia tidak dengar. Dia tidak tahu. Dia tidak dapat apa-apa.
Yang dapat sesuatu dari pagi itu cuma satu orang.
Aku muntah untuk kedua kalinya.
Dan sambil duduk di lantai keramik itu, aku mulai mengerti sesuatu tentang diriku sendiri yang butuh berbulan-bulan lagi untuk aku terima sepenuhnya.
Aku pintar sekali menyelesaikan hal.
Itu keahlianku. Kasih aku ruangan berantakan, aku rapikan. Kasih aku jadwal bentrok, aku susun ulang. Kasih aku panitia yang tidak jalan, aku jalankan.
Dan pengakuan tadi pagi itu — kalau aku jujur, dan aku sudah janji untuk jujur — bukan permintaan maaf.
Itu penyelesaian.
Aku memperlakukan kesalahanku sendiri seperti acara yang harus selesai sebelum tenggat: identifikasi masalah, susun rundown, eksekusi, evaluasi, tutup.
Rapi. Efisien. Sekali jalan.
Dan yang paling menjijikkan: berhasil.
Semua orang di ruangan itu sekarang tahu versi yang benar, dan reputasiku hancur dengan cara yang aku pilih sendiri, dan bahkan kehancuranku pun aku yang mengatur.
Cuma satu orang yang tidak mendapat apa pun dari seluruh sistem itu.
Dan orang itu tidak masuk sekolah hari ini.
Nadine menungguku di depan kamar mandi.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma menyerahkan botol minumnya, dan aku minum, dan kami duduk di tembok rendah depan perpustakaan tempat semuanya dimulai.
“Nay.”
“Hm.”
“Kamu tahu yang paling nyakitin dari tadi apa?”
“Apa.”
“Waktu kamu bilang bagian kasihan itu enak.” Dia memandangi lututnya. “Karena aku juga.”
Aku menoleh.
“Aku keluar dari taruhan hari ketujuh belas dan aku bangga banget sama diri aku sendiri,” katanya. “Aku ngerasa aku orang bener. Padahal aku ikut delapan belas hari, terus aku pergi, terus aku nggak ngasih tahu dia apa-apa.”
“Nad—”
“Aku keluar buat diri aku sendiri, Nay. Bukan buat dia.” Dia mengusap matanya. “Sama persis.”
Kami duduk di situ agak lama.
“Nad.”
“Hm.”
“Kamu tahu nggak yang bikin aku nggak bisa napas dari kemarin?”
“Apa.”
“Dia tahu dari hari kelima.” Aku memegang botol minum Nadine dengan dua tangan. “Artinya semua yang aku pikir aku bikin, dia yang bikin.”
“Maksudnya?”
“Aku pikir aku yang deketin dia. Aku pikir aku yang bikin dia mau ngomong, mau ketawa, mau potong rambut.” Botolnya berbunyi kecil karena tanganku gemetar. “Padahal dia yang mutusin buat dateng. Tiap hari. Dua puluh lima kali. Sambil tahu semuanya.”
Nadine tidak menjawab.
“Aku nggak ngedapetin dia, Nad. Dia yang ngasih.”
Bel berbunyi.
Tidak ada dari kami yang berdiri.
“Nay.”
“Hm.”
“Kamu bakal ke rumahnya?”
“Iya.”
“Sekarang?”
“Sepulang sekolah.”
Nadine mengangguk pelan, lalu berkata sesuatu yang tidak dia maksudkan sebagai peringatan, dan yang aku ingat setiap hari selama empat bulan berikutnya:
“Nay, jangan bawa apa-apa, ya.”
“Kenapa?”
“Soalnya kamu selalu bawa sesuatu.” Dia mengangkat bahu. “Rundown, solusi, jadwal. Kamu selalu dateng bawa yang udah kamu siapin.”
“Terus salahnya di mana?”
“Nggak salah.” Nadine berdiri. “Cuma... orang yang dateng bawa solusi itu kelihatannya kayak lagi ngurusin, bukan lagi minta maaf.”
Sepulang sekolah aku ke Gang Melati.
Aku sampai di mulut gang jam empat lewat.
Tempat yang sama. Aspal yang sama. Ada kardus kosong yang masih tergeletak di pinggir selokan, dan aku tidak tahu apakah itu kardus yang sama atau bukan, dan aku berdiri di situ agak lama memikirkan kardus, karena memikirkan kardus lebih gampang daripada memikirkan empat rumah lagi ke dalam.
Kain jemuran masih tergantung di teras rumah keempat.
Lampu ruang jahit menyala.
Aku bisa melihatnya dari mulut gang — kuning, kecil, di balik jendela yang tirainya tidak pernah ditutup rapat.
Artinya dia di rumah. Artinya dia bangun. Artinya dia mungkin sedang duduk di depan mesin ayahnya sekarang, mengerjakan pesanan orang, dengan lampu meja menyala.
Aku berdiri di mulut gang selama dua puluh menit.
Aku menghitungnya. Aku selalu menghitung; itu penyakitku.
Aku tidak masuk.
Dan aku ingin menuliskan alasannya dengan jujur, karena aku sudah janji: aku tidak masuk bukan karena aku memberi dia ruang.
Aku tidak masuk karena aku takut kalau aku mengetuk pintu itu, dia akan membukanya, dan dia akan bilang nggak apa-apa.
Dan kalau dia bilang itu, aku tidak tahu apa yang tersisa dari diriku setelahnya.
Jadi aku pulang.
Hari ketiga puluh satu.
Aku pulang ke rumah yang lampunya sudah menyala semua, dan aku duduk di ruang tamu, dan aku mengeluarkan gulungan benang merah dari tas dan menaruhnya di meja di depanku.
Aku memandanginya sampai lewat tengah malam.
Sepuluh ribu. Benang merah biasa.
Cukup untuk mungkin dua ratus jahitan, dan aku bahkan tidak tahu cara memakainya.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan reading
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup