Chapter Twenty One
Seragam yang Kembali
[POV: Hari] · [Hari ke-46]
Ternyata kamu tidak bisa kembali.
Itu hal pertama yang aku pelajari setelah semuanya selesai, dan aku mempelajarinya dengan cara yang paling membosankan: dengan mencoba.
Aku kembali duduk di pojok belakang dekat jendela. Aku kembali datang jam enam lima belas. Aku kembali tidak mengangkat tangan, tidak mengajukan diri, tidak menolak apa pun, dan berdiri sedikit di luar lingkaran waktu orang membagi kelompok.
Semua prosedurnya masih ada. Aku mengerjakannya dengan benar.
Yang tidak berfungsi cuma satu: sekarang orang tahu di mana aku duduk.
Tidak kelihatan itu bukan sesuatu yang bisa kamu pakai lagi setelah dilepas, ternyata. Sama seperti kain yang sudah dicuci air panas; kamu bisa merendamnya di air dingin sesudahnya sebanyak yang kamu mau, dan warnanya tidak akan kembali.
Orang jadi baik kepadaku.
Itu bagian yang paling sulit dijelaskan tanpa terdengar tidak tahu berterima kasih, jadi aku akan menjelaskannya sepelan mungkin.
Dimas menawari aku duduk di mejanya di jam kosong. Rania dari kelas sepuluh, yang namanya ada di buku catatanku dari bulan April, menyapa aku di koridor dua kali dalam seminggu. Ada anak perempuan yang tidak pernah aku ajak bicara seumur hidup menaruh roti di mejaku dan pergi tanpa bilang apa-apa.
Regita menangis waktu minta maaf. Di depan kelas, jam istirahat, dengan suara.
Aku bilang nggak apa-apa.
Aku bilang nggak apa-apa dua puluh tiga kali dalam dua minggu. Aku menghitungnya.
Dan aku ingin mencatat bahwa mereka semua tulus. Betul-betul tulus. Tidak ada satu pun dari mereka yang berpura-pura.
Cuma ada satu masalah, dan masalahnya ada di dalam kepalaku, jadi tidak bisa disalahkan ke siapa-siapa:
kebaikan mereka datang dari sumber yang sama.
Mereka baik karena mereka merasa bersalah, dan mereka merasa bersalah karena mereka pernah tertawa, dan mereka pernah tertawa karena selama dua tahun aku adalah orang yang boleh ditertawakan.
Jadi setiap kali seseorang menaruh roti di mejaku, yang aku terima bukan roti.
Yang aku terima adalah pengingat.
Dan yang paling buruk: aku tetap memakannya, dan aku tetap bilang terima kasih, dan aku tetap tidak bisa berhenti bersyukur, karena ternyata orang yang lapar itu tidak bisa memilih dari mana makanannya datang.
Vania satu-satunya yang tidak minta maaf.
Dia berhenti di sebelah mejaku suatu hari Kamis, menaruh buku catatan panitia yang harus aku tandatangani karena aku menggantikan sesuatu yang aku sendiri lupa apa, dan berkata:
“Aku nggak akan minta maaf ke kamu.”
“Oke.”
“Kamu nggak nanya kenapa?”
“Enggak.”
Vania menatapku beberapa detik.
“Karena kalau aku minta maaf, kamu bakal bilang nggak apa-apa,” katanya. “Dan aku bakal pulang ngerasa lega. Aku nggak mau lega.”
Aku menandatangani bukunya dan menyerahkannya kembali.
“Itu keputusan yang bagus,” kataku.
“Aku tahu.”
Dia mengambil bukunya dan pergi.
Dan itu, sejujurnya, adalah satu-satunya interaksi di seluruh dua minggu itu yang tidak membuatku lelah.
Kanaya duduk di barisan tengah sekarang.
Dia pindah sendiri, hari pertama dia kembali, tanpa ada yang menyuruh dan tanpa mengumumkan apa pun.
Kami tidak bertegur sapa.
Itu bukan permusuhan. Tidak ada adegan. Tidak ada yang membanting apa pun. Kami cuma dua orang yang ada di ruangan yang sama selama enam jam sehari dan tidak mengucapkan satu kata pun.
Aku tahu di mana dia setiap saat.
Itu yang tidak bisa aku matikan. Aku tahu kapan dia masuk dari bunyi kursi. Aku tahu dia berhenti mengikat rambutnya seperti dulu. Aku tahu dia tidak makan siang selama sembilan hari dari sebelas hari sekolah, karena aku menghitungnya, karena aku menghitung segala sesuatu, karena itu satu-satunya cara aku tahu di mana aku berdiri.
Dan aku tahu, di hari kesepuluh, bahwa kelim rok seragamnya lepas sepanjang delapan senti di sisi kanan belakang.
Aku melihatnya waktu dia berdiri untuk mengumpulkan tugas.
Kelim yang lepas itu tidak kelihatan dari depan. Dia mungkin belum tahu. Kelim bawah yang lepas itu tidak terasa apa-apa sampai kamu menginjaknya sendiri di tangga.
Aku duduk di pojok belakang dan melihat ke arah papan tulis selama sisa jam pelajaran, dan aku melakukan sesuatu yang aku pikir sudah aku tinggalkan.
Aku menghitung.
Delapan senti. Kelim bawah, sisi kanan belakang. Kalau dibiarkan, dalam tiga hari jadi lima belas senti. Kalau lima belas senti, kainnya menggantung dan terinjak, dan kalau terinjak, robeknya naik ke jahitan sisi, dan kalau robeknya naik ke jahitan sisi, roknya selesai.
Rok itu aku yang jahit.
Aku yang mengukur badannya di hari kesembilan dengan tangan yang gemetar. Aku yang memotong polanya jam sembilan malam dan bekerja sampai jam satu dan tidak merasa capek sedikit pun.
Aku tahu persis berapa kelim bawahnya, karena aku yang menentukan: dua setengah senti, lebih dari standar, supaya kalau dia tumbuh masih bisa diturunkan.
Roknya ada di kursinya waktu dia ikut praktikum di lab hari Jumat.
Bukan roknya. Jaketnya. Jaket olahraga yang dia sampirkan di sandaran kursi setiap hari, yang saku dalamnya punya lubang, yang aku tahu punya lubang karena aku pernah melihat pulpennya jatuh tembus ke bawah di hari keempat belas.
Aku tidak menyentuh jaketnya.
Aku menunggu.
Hari Senin, kelim roknya lepas jadi dua belas senti.
Hari Selasa, dia meninggalkan tas olahraganya di kelas waktu kelas kosong, dan di dalamnya ada rok seragam cadangan, karena semua anak perempuan di sekolah ini menyimpan rok cadangan di tas olahraga, dan karena aku tahu itu, dan karena aku tidak seharusnya tahu itu.
Aku duduk di kelas kosong selama tujuh menit dengan tas itu dua meja dari tanganku.
Lalu aku mengambilnya.
Aku mengerjakannya malam itu sampai jam sebelas.
Ibu masuk sekali, jam sembilan, membawa teh.
Dia melihat rok itu di bawah lampu. Dia melihat warnanya, potongannya, dan kelim bawahnya yang dua setengah senti, dan ibuku sudah tiga puluh tahun jadi penjahit, jadi dia tidak perlu bertanya milik siapa.
Dia menaruh gelasnya di sudut meja, jauh dari kain.
“Bu,” kataku.
“Ibu nggak nanya.”
“Bu.”
“Har.” Dia berdiri di ambang pintu dengan punggung menghadap ke lampu. “Ibu udah selesai nanya soal ini. Beneran.”
“Ibu marah?”
“Enggak.”
“Ibu kecewa?”
Ibu diam agak lama.
“Ibu takut,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kamu kerjain punya dia lebih rapi dari punya orang lain.” Dia mematikan lampu ruang tengah. “Dan kamu nggak sadar.”
Aku menunduk ke rok itu.
Aku tidak menjawab, karena aku menyadari — dengan jarum masih di tangan, di tengah kelim yang tinggal empat senti lagi — bahwa dia benar, dan bahwa aku sudah tahu dia benar sebelum dia selesai bicara.
Kelim bawah, dua setengah senti, jahitan sembunyi. Tusuk kelim yang benar itu cuma menangkap satu-dua serat dari kain luar, jadi dari sisi luar tidak ada apa-apa yang kelihatan. Butuh waktu tiga kali lebih lama daripada dijahit mesin.
Aku juga menurunkan kelimnya lima milimeter, karena dia lebih tinggi sedikit dari bulan lalu.
Aku juga mengganti satu kancing pinggangnya yang benangnya sudah menipis, walaupun belum lepas.
Aku juga menyetrikanya.
Dan waktu semuanya selesai, jam sebelas lewat dua puluh, aku duduk di depan mesin ayah memandangi rok itu tergantung di gantungan kayu, dan aku melakukan hal yang paling jujur yang aku lakukan sepanjang dua bulan itu.
Aku mengambil gulungan benang merah dari kotak paling bawah.
Aku memegangnya sekitar setengah menit.
Lalu aku mengembalikannya ke kotak tanpa memakainya, dan aku mengunci jahitanku dengan benang putih biasa, dan aku tahu persis kenapa, dan aku tidak mau menuliskannya.
Aku mengembalikan roknya ke tas olahraganya jam enam lima belas keesokan paginya, dilipat dengan cara yang sama, di posisi yang sama.
Fikri menghentikanku di parkiran hari Kamis.
“Har.”
“Hm.”
“Berhenti.”
Aku berhenti.
Fikri melepas earphone-nya, yang berarti ini serius, karena Fikri melepas earphone-nya kira-kira tiga kali per semester.
“Gue lihat lo,” katanya.
“Lihat apa.”
“Selasa. Kelas kosong. Tas olahraga.”
Aku tidak menjawab.
“Har, lo tahu itu apa?”
“Itu kelim lepas.”
“Bukan.” Fikri memasukkan HP-nya ke saku. “Itu bukan kelim lepas, Har. Itu senjata.”
“Fik—”
“Dia nggak bisa ngelawan itu.” Suaranya naik, dan Fikri tidak pernah menaikkan suaranya, dan itu yang membuatku berdiri diam. “Kalau lo maki dia, dia bisa nangis, dia bisa minta maaf, dia bisa ngelakuin sesuatu. Ada pintunya. Ada caranya.”
“Aku nggak lagi—”
“Lo benerin roknya diem-diem terus lo nggak ngomong sama dia enam jam sehari.” Dia menunjuk dadaku dengan dua jari. “Har, itu bukan baik. Itu ngehukum orang pake cara yang nggak ada lawannya.”
Parkiran itu sepi. Ada motor guru yang belum diambil. Ada anak-anak yang berteriak dari lapangan.
“Aku nggak sengaja,” kataku.
Dan itu bohong.
Fikri tahu itu bohong. Dia berdiri di sana dan membiarkan bohong itu menggantung di udara selama beberapa detik yang sangat panjang.
“Har, gue tanya satu hal.”
“Apa.”
“Lo mau dia ngerasa gimana?”
“Aku nggak mau dia ngerasa apa-apa.”
“Bohong.”
“Fik—”
“Lo mau dia tahu.” Fikri menatapku lurus. “Lo mau dia buka kelim roknya suatu hari nanti terus tahu itu lo. Itu yang lo mau.”
“Enggak.”
“Terus kenapa lo turunin kelimnya lima mili?”
Aku berhenti.
“Gue nggak ngerti jahit,” katanya. “Tapi gue ngerti kalau ada orang yang ngerjain lebih dari yang perlu, dia lagi ninggalin tanda tangan.”
Angin lewat di parkiran. Ada plastik bekas yang bergerak di bawah motor.
“Gue nggak nyuruh lo maafin dia,” katanya akhirnya. “Serius. Gue nggak akan pernah nyuruh lo maafin dia, itu bukan urusan gue dan bukan urusan siapa-siapa.”
“Terus apa?”
“Pilih satu, Har.” Dia memasang earphone-nya lagi. “Kalau lo mau berhenti, berhenti beneran. Kalau lo mau ngomong sama dia, ngomong.”
Dia berjalan ke gerbang.
Lalu berhenti, dan berbalik, dan mengatakan satu hal lagi yang membuatku tidak tidur sampai jam tiga:
“Yang lo lakuin sekarang itu namanya masih megang, Har. Cuma sambil pura-pura udah lepas.”
Aku pulang jalan kaki dua puluh menit dan sampai rumah dengan kepala yang tidak berhenti.
Ibu sedang menjahit. Sekar sedang mengerjakan PR di lantai dengan kaki bergoyang.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak makan?”
“Nanti.”
“Kakak selalu bilang nanti.”
“Sekar.”
“Aku catet, lho.”
“Kamu bilang bukunya udah kamu coret.”
Sekar berhenti menulis.
“Yang itu udah,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Ini buku baru.”
Aku masuk ke ruang jahit dan menyalakan lampu meja.
Aku membuka laci dan mengeluarkan buku catatan coklat itu.
Karet gelangnya dua putaran, seperti biasa. Punggungnya masih lepas dari halaman, seperti biasa.
Aku membukanya ke halaman yang tidak punya tanggal dan tidak punya nama barang.
TIDAK BISA DIPERBAIKI
Tiga baris sekarang.
Yang pertama namaku sendiri, empat tahun lalu, dengan tinta yang sudah pudar.
Yang kedua, ditulis di hari kedua puluh satu:
Larasati, Kanaya — rumah — (—)
Dan di sebelah kanannya, di luar kolom, dengan huruf yang lebih kecil dari yang lain:
coba.
Aku memandangi kata itu cukup lama.
Empat huruf. Ditulis oleh orang yang duduk di kursi ini sembilan hari sebelum semuanya selesai, yang baru pulang dari depan pagar rumah orang, yang tangannya masih ingat bentuk punggung seseorang yang menangis.
Aku mengambil pulpen.
Aku mencoretnya.
Satu garis, lurus, sekali tarik, dengan penggaris — karena aku tidak bisa membuat garis bengkok, karena tanganku tidak pernah gemetar untuk hal-hal yang bisa dikerjakan.
Lalu aku menutup bukunya dan melingkarkan karet gelangnya dua kali.
Dan aku duduk di depan mesin ayahku, di ruangan yang bau kain dan minyak mesin, jam sebelas malam, dan aku menyadari sesuatu yang membuat seluruh dadaku terasa salah:
mencoret satu kata di buku itu memakan waktu satu setengah detik.
Dan besok pagi jam enam lima belas, kalau ada kelim lepas lagi di rok siapa pun di sekolah itu, aku akan mengambilnya lagi.
Aku sudah tahu itu.
Aku sudah tahu itu sambil mencoret.
Fikri benar, dan yang paling menyakitkan dari kebenaran Fikri bukan bagian bahwa aku sedang menghukum seseorang.
Yang paling menyakitkan adalah bagian masih megang.
Karena kalau aku benar-benar sudah melepas, aku tidak akan tahu kelimnya lepas delapan senti.
Aku tidak akan tahu dia tidak makan siang sembilan hari dari sebelas.
Aku tidak akan tahu dia berhenti mengikat rambutnya seperti dulu.
Aku tidak akan menghitung apa pun tentang orang itu sama sekali.
Aku mematikan lampu meja dan naik ke kamar, dan aku berbaring di kasur, dan di kepalaku ada satu kalimat yang tidak mau pergi:
Yang bikin orang hancur itu bukan barangnya balik. Yang bikin hancur itu waktu dia sadar dia udah lupa itu bukan punya dia.
Ibuku yang bilang, hari ke dua puluh dua, sambil memegang gulungan benang di ambang pintu.
Aku baru mengerti maksudnya malam itu.
Barangnya sudah balik.
Aku yang belum.
Ada satu hal lagi yang tidak aku ceritakan ke siapa-siapa, termasuk ke Fikri, termasuk ke ibu.
Aku tidak masuk sekolah selama tiga hari setelah tanggal tiga puluh.
Ibu pikir aku sakit. Aku memang panas hari pertama, jadi tidak sepenuhnya bohong.
Yang aku lakukan selama tiga hari itu: aku menyelesaikan sebelas pesanan.
Sebelas. Dalam tiga hari. Termasuk dua kebaya yang seharusnya dikerjakan ibu.
Ibu tidak menyuruh. Ibu bahkan mencoba menghentikanku di hari kedua dan aku bilang aku nggak apa-apa, dan ibu berdiri di ambang pintu ruang jahit dan tidak berkata apa-apa lagi.
Aku tidak tidur lebih dari empat jam di ketiga malam itu.
Dan aku ingin mencatat, karena aku sudah berjanji jujur: itu bukan pelarian.
Aku tahu persis apa yang aku lakukan. Aku menukar satu hal dengan hal lain, dengan sadar, seperti orang yang menukar uang di tempat penukaran.
Kalau tanganmu mengerjakan sesuatu, kepalamu tidak bisa mengerjakan hal lain. Itu bukan filosofi, itu mekanik. Aku sudah tahu itu sejak umur delapan, sejak ayah meninggal dan ibu menjahit tanpa berhenti selama dua bulan dan tidak sekali pun menangis di depan kami.
Aku menghasilkan tujuh ratus empat puluh ribu dalam tiga hari.
Aku menaruh semuanya di kaleng biskuit di lemari ibu tanpa bilang apa-apa.
Dan di malam ketiga, jam dua pagi, dengan jarum di tangan dan kebaya orang di bawah lampu, aku menangis satu kali — pendek, tidak sampai satu menit, tanpa suara, sambil tetap menjahit — dan aku menyelesaikan jahitan itu dengan benar.
Itu satu-satunya kali.
Aku tidak menghitungnya, dan aku tidak menulisnya di buku mana pun, dan sampai sekarang cuma ada dua orang di dunia ini yang tahu bahwa itu terjadi.
Yang satu aku.
Yang satu lagi ibuku, yang pintunya berderit di ujung lorong jam dua pagi, lalu berhenti, lalu menutup lagi tanpa masuk.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali reading
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup