Chapter Twenty Five
Tanpa Nama
[POV: Kanaya] · [Hari ke-70 sampai ke-141]
Aku mau memperingatkan sesuatu sebelum menceritakan bagian ini.
Bagian ini membosankan.
Tidak ada adegan besar. Tidak ada yang berteriak, tidak ada yang menangis di depan pagar, tidak ada surat. Kalau ini film, bagian ini akan dipotong jadi montase tiga puluh detik dengan lagu yang bagus.
Yang sebenarnya terjadi adalah empat bulan.
Empat bulan dengan hari-hari yang isinya: menelepon orang yang tidak aku kenal, minta tolong ke orang yang tidak berutang apa-apa padaku, mengisi formulir yang bahasanya dibuat supaya orang menyerah, dan pulang ke rumah yang lampunya sudah menyala tanpa satu pun bukti bahwa aku mengerjakan sesuatu.
Kalau kamu mencari bagian yang mengharukan, lewati saja.
Aku juga sempat mencarinya.
Tidak ada.
Yang ada begini.
Bulan Juli: dua puluh tiga panggilan telepon, empat di antaranya diangkat orang yang salah. Satu perjalanan ke kelurahan yang sia-sia karena aku datang hari Jumat dan hari Jumat pelayanan tutup jam sebelas.
Bulan Agustus: satu kunjungan ke Pasar Lama yang gagal total. Enam Sabtu di ruang jahit. Nilai fisikaku turun dari delapan puluh delapan ke tujuh puluh sembilan, dan tidak ada satu pun orang di rumahku yang menyadarinya, dan itu bukan keluhan, itu cuma fakta.
Bulan September: aku salah menyusun urutan dokumen dan harus membongkar seluruh map dari awal. Empat hari kerja terbuang. Aku menangis di lantai kamar karena dokumen, yang menurutku sampai sekarang adalah cara paling bodoh untuk menangis.
Bulan Oktober: tidak ada apa-apa. Betul-betul tidak ada. Aku cuma mengulang hal yang sama setiap minggu, dan mengulang hal yang sama setiap minggu ternyata jauh lebih susah daripada melakukan sesuatu yang besar sekali.
Itu isinya.
Kalau kamu masih membaca, terima kasih. Aku sendiri sudah beberapa kali ingin melewati bagian ini.
Aku memulai dengan Mbak Yah.
Itu keputusan paling memalukan dari seluruh empat bulan itu, dan aku mau menuliskannya duluan supaya tidak ada yang mengira aku mulai dari tempat yang mulia.
Mbak Yah sudah bekerja di rumahku enam tahun. Enam tahun. Dan waktu aku duduk di kursi dapur untuk bicara dengannya, aku menyadari bahwa aku tidak tahu nama lengkapnya.
“Mbak.”
“Iya, Non?”
“Mbak... anaknya berapa?”
Dia berhenti mengelap meja.
“Dua, Non.”
“Umur berapa?”
“Yang gede kelas satu SMP, yang kecil TK.”
“Oh.”
Kami berdua diam beberapa detik, dan detik-detik itu memuat enam tahun.
“Non mau minta tolong, ya?” katanya akhirnya.
“...Iya.”
“Ya udah, bilang aja.” Dia mengelap lagi. “Nggak usah muter-muter, Non. Non kalau muter-muter kelihatan banget.”
Yang aku minta begini.
Ibu-ibu di komplek ini punya grup. Aku tahu itu karena mamaku ada di dalamnya, walaupun mamaku tidak pernah membalas apa pun di situ selama dua tahun.
Grup itu isinya tiga hal: jual-beli, informasi satpam, dan rekomendasi.
Rekomendasi itu yang paling kuat. Kalau satu orang di grup itu bilang tukang AC-nya bagus, tukang AC itu dapat delapan pelanggan dalam dua minggu.
“Mbak Yah bisa masuk grup itu?”
“Bisa, Non. Mbak diundang buat info sayur.”
“Kalau Mbak rekomendasiin penjahit, ada yang percaya nggak?”
Mbak Yah berpikir sebentar.
“Percaya, Non. Malah lebih percaya.”
“Kenapa?”
“Karena Mbak yang nyuciin baju mereka kalau ada acara.” Dia mengangkat bahu. “Ibu-ibu itu percaya sama orang yang tahu bahannya.”
Jadi begitulah caranya nama Tante Ratih masuk ke grup ibu-ibu komplek, di bulan Juli, dalam satu pesan pendek yang ditulis Mbak Yah dengan bahasanya sendiri, yang aku tidak periksa sekali pun sebelum dikirim.
Aku ingin memeriksanya. Aku hampir minta.
Aku menahan diri, karena kalau aku memperbaiki kalimatnya, itu jadi kalimatku.
Pesan itu ada tiga kesalahan ketik dan tidak menyebutkan alamat dengan jelas.
Dan dalam enam minggu, Tante Ratih dapat sebelas pelanggan baru.
Aku tidak melihat satu pun dari sebelas pelanggan itu.
Aku tahu angkanya dari Sekar, yang menghitung semuanya, karena Sekar menghitung semuanya.
“Kak Kanaya, Ibu sibuk banget.”
“Kenapa?”
“Banyak yang jahit.” Dia menggigit sedotannya. “Ibu bilang kayak dulu lagi.”
“Dulu kapan?”
“Waktu Ayah masih ada.”
Aku menusuk jariku pagi itu untuk yang kedua kalinya, dan kali ini bukan karena tidak fokus.
Bagian kedua jauh lebih susah, dan butuh dua bulan, dan hampir gagal tiga kali.
Aku menemukannya secara tidak sengaja di bulan Juli, waktu aku sedang mencari informasi tentang jalur masuk kuliah dan tersesat ke halaman yang tidak aku cari.
Beasiswa Yayasan Prestasi Daerah. Untuk siswa kelas dua belas. Menanggung biaya SPP tahun terakhir, uang buku, dan bantuan tunai bulanan.
Syaratnya sepuluh baris.
Aku membacanya tiga kali, dan aku sadar sesuatu yang membuatku marah dengan cara yang aneh, marah kepada sesuatu yang tidak punya wajah:
syarat-syarat itu dibuat supaya orang menyerah.
Surat keterangan tidak mampu dari RT, RW, kelurahan. Surat keterangan kematian orang tua, legalisir. Slip penghasilan — untuk penjahit rumahan yang tidak punya slip apa pun. Fotokopi KK, KTP, akta, rapor lima semester, semuanya legalisir, semuanya dalam dua rangkap.
Sembilan belas dokumen.
Dan tenggatnya empat puluh hari.
Aku duduk di kamarku jam sebelas malam dan menghitung: kalau orang mengurus ini sendiri, dengan sekolah pagi dan pesanan sore dan mengantar jahitan hari Sabtu, dia butuh minimal lima hari izin tidak masuk sekolah untuk bolak-balik kelurahan.
Dan orang itu tidak akan pernah minta izin lima hari.
Aku tidak bisa mengurusnya untuk dia.
Itu bagian pertama yang harus aku terima, dan aku menghabiskan tiga hari untuk menerimanya.
Aku tidak bisa datang ke kelurahan mengaku sebagai siapa pun. Aku tidak bisa memegang KK orang. Aku tidak bisa menandatangani apa pun.
Yang bisa aku lakukan cuma satu hal, dan itu hal yang paling aku kuasai di dunia, dan untuk pertama kalinya aku memakainya tanpa berdiri di depan siapa pun.
Aku menyusunnya.
Enam belas hari. Aku menelepon kelurahan tiga kali dan dua kali diputus. Aku menelepon yayasannya lima kali. Aku bertanya ke petugas TU sekolah dua kali sambil pura-pura menanyakan hal lain.
Dan aku membuat satu map.
Isinya: daftar sembilan belas dokumen, diurutkan bukan berdasarkan nomor di formulir, tapi berdasarkan urutan pengurusan yang paling efisien — yang mana harus diurus duluan karena jadi syarat yang lain, mana yang bisa diurus di hari yang sama, mana yang bisa diwakilkan.
Jam buka kelurahan, termasuk hari Sabtu, yang tidak tertulis di mana pun dan cuma aku tahu setelah menelepon.
Nama petugasnya. Karena kalau kamu menyebut nama petugasnya, urusannya lebih cepat.
Template surat pernyataan penghasilan untuk pekerja mandiri, yang aku salin formatnya dari contoh yayasan lain, karena penjahit rumahan tidak punya slip gaji dan tidak ada satu pun halaman resmi yang menjelaskan itu.
Dan satu halaman di depan, hasil hitunganku: kalau semuanya diurus mulai tanggal sekian, seluruhnya selesai dalam tiga hari kerja, bukan lima.
Tiga hari.
Aku menghitung ulang jadwal itu sebelas kali sampai angkanya jadi tiga.
Bu Sari menerimaku hari Kamis sore.
Aku menaruh map itu di mejanya dan tidak duduk.
“Bu, saya mau nitip sesuatu.”
Dia membukanya. Dia membaca halaman pertama, lalu kedua, lalu berhenti dan melihat ke arahku.
“Ini kamu yang bikin?”
“Iya, Bu.”
“Berapa lama?”
“Enam belas hari.”
Bu Sari melepas kacamatanya.
“Kanaya.”
“Bu, saya mau minta satu hal,” kataku cepat-cepat, karena aku takut kalau dia bicara duluan aku akan kehilangan keberanian. “Saya mau Ibu yang nawarin.”
“Maksudnya?”
“Ibu tawarin ke dia sebagai program sekolah.” Aku memegang tali tasku terlalu erat. “Jangan sebut nama saya.”
Ruang guru itu sepi. Ada kipas yang berputar. Ada guru lain di ujung ruangan yang sedang mengoreksi.
“Kalau dia nanya siapa yang nyusun?” tanya Bu Sari.
“Bilang aja wali kelas.”
“Itu bohong.”
“Iya, Bu.”
“Kamu minta ibu bohong.”
Aku menunduk.
“Iya, Bu,” kataku. “Saya minta Ibu bohong.”
Bu Sari memandangiku lama sekali.
Lalu dia melipat kacamatanya dan menaruhnya di meja, dan aku sudah cukup lama di sekolah ini untuk tahu apa artinya itu.
“Duduk,” katanya.
“Bu, saya—”
“Duduk, Kanaya.”
Aku duduk.
“Ibu nggak akan bohong,” katanya. “Ibu akan bilang ini program sekolah, karena mulai sekarang memang iya. Ibu bakal pakai map ini buat semua anak yang syaratnya masuk, bukan cuma satu.”
Aku mengangkat kepala.
“Dan kalau dia nanya siapa yang nyusun, ibu bakal bilang ibu nggak bisa jawab.” Dia menutup map itu. “Itu bukan bohong. Itu nolak jawab. Beda.”
“Makasih, Bu.”
“Jangan makasih dulu.” Bu Sari menarik map itu ke sisi mejanya. “Kanaya.”
“Iya, Bu?”
“Berapa anak di angkatan kamu yang syaratnya masuk beasiswa ini?”
“...Saya nggak tahu, Bu.”
“Sembilan,” katanya. “Ibu tahu karena ibu wali kelas selama sebelas tahun. Dan selama sebelas tahun, rata-rata yang daftar dua.”
Aku tidak mengerti selama satu detik.
“Tujuh anak per tahun, Kanaya.” Dia menepuk map itu sekali. “Selama sebelas tahun. Karena berkasnya bikin orang nyerah dan nggak ada yang pernah duduk dua minggu buat nyusun urutannya.”
Aku merasakan sesuatu yang aneh di dada, dan aku tidak tahu namanya sampai berhari-hari kemudian.
“Bu, saya nyusun ini bukan buat—”
“Ibu tahu kamu nyusun ini buat siapa,” katanya. “Ibu bukan mau muji kamu.”
“Terus?”
Bu Sari memakai kacamatanya lagi dan kembali ke tumpukan kertasnya.
“Ibu cuma mau kamu tahu,” katanya, “bahwa hal yang kamu bikin buat satu orang itu ternyata muat buat sembilan. Dan kamu nggak akan pernah ketemu tujuh di antaranya.”
Aku menangis di tangga belakang sekolah selama sepuluh menit setelah itu.
Bukan karena bangga. Aku sudah lama tidak bisa merasa bangga tentang apa pun yang berhubungan dengan ini.
Aku menangis karena tujuh anak per tahun selama sebelas tahun itu tujuh puluh tujuh orang, dan tujuh puluh tujuh orang itu berjalan keluar dari sekolah ini tanpa satu pun dari kami tahu, dan aku adalah orang yang selama dua tahun menyusun jadwal untuk semua acara di gedung ini dan tidak pernah sekali pun menyusun yang itu.
Karena tidak ada acaranya.
Karena tidak ada penontonnya.
Karena tidak ada yang bertepuk tangan untuk map berisi jam buka kelurahan.
Bu Sari memanggilnya hari Selasa berikutnya.
Aku ada di kelas waktu itu. Aku melihat dia berdiri, keluar, dan aku menghitung: dua puluh dua menit.
Waktu dia kembali, dia membawa map plastik bening.
Dia duduk di mejanya di dekat pintu, membelakangi seluruh ruangan seperti biasa, dan membuka map itu.
Aku tidak bisa melihat wajahnya.
Itu bagian yang harus aku tuliskan, karena itu satu-satunya hal yang aku ingat dengan jelas dari hari Selasa itu: aku duduk di barisan tengah, empat meja di belakangnya, dan aku tidak bisa melihat wajahnya sama sekali.
Dia pindah ke meja itu supaya tidak melihat siapa pun.
Dan efek sampingnya adalah tidak ada yang bisa melihat dia.
Aku duduk di situ selama sisa jam pelajaran sambil menatap punggung seseorang yang sedang membaca sesuatu yang aku susun selama enam belas hari, dan aku tidak tahu apakah dia lega, atau curiga, atau tidak merasa apa-apa.
Dan aku tidak boleh tahu.
Itu perjanjiannya. Aku yang membuat perjanjian itu sendiri, dengan diriku sendiri, di lapangan basket bulan Juni.
Dan hari Selasa itu adalah pertama kalinya aku benar-benar membayarnya.
Ada bagian ketiga, yang lebih kecil, dan yang paling sering aku pikirkan sampai sekarang.
Bulan Agustus aku ke Toko Pak Hasan di Pasar Lama.
Aku ke sana sendiri, hari Minggu, dan aku tersesat dua kali di gang kain sebelum menemukannya, karena ternyata aku tidak pernah benar-benar memperhatikan jalannya. Aku cuma memegang tangan seseorang.
“Cari apa, Non?”
“Pak, saya mau nanya soal mesin jahit.”
“Mau beli?”
“Bukan.” Aku menelan ludah. “Servis.”
Aku menjelaskan mesinnya: hitam, berat, meja kayu, pedal besi. Aku bilang rodanya sudah lama tidak diservis.
Pak Hasan langsung tahu.
“Oh, punya almarhum Pak Baskara.”
Aku hampir tidak bisa menjawab.
“Iya, Pak.”
“Nak Hari yang nyuruh?”
“...Bukan.”
Pak Hasan memandangiku dari balik meja kasirnya, laki-laki enam puluh tahun dengan kacamata baca yang melorot.
“Non ini yang waktu itu, ya,” katanya. “Yang tangannya—”
“Iya, Pak.”
“Oh.”
Dia diam agak lama.
“Pak, saya mau bayar di depan,” kataku. “Terus Bapak yang nawarin ke dia. Bilang aja promo, atau ada program, atau apa aja.”
“Non.”
“Berapa pun harganya, Pak. Saya—”
“Non.” Pak Hasan menaruh pulpennya. “Saya nggak bisa.”
Aku merasakan sesuatu jatuh.
“Kenapa, Pak?”
“Karena anak itu tahu harga semua barang di toko saya,” katanya. “Dia belanja di sini dari umur dua belas. Dia tahu servis roda itu berapa, dia tahu saya nggak pernah bikin promo, dan dia tahu saya nggak akan ngasih gratis ke siapa pun karena saya pelit.”
“Pak—”
“Non.” Dia mengangkat tangannya. “Kalau saya nawarin gratis, dia bakal tahu ada yang bayarin. Terus dia bakal cari tahu siapa.”
Aku berdiri di toko kain itu dengan uang di tas yang tidak bisa aku pakai.
“Terus saya harus gimana, Pak?”
Pak Hasan mengambil pulpennya lagi.
“Non, saya jualan kain empat puluh tahun,” katanya. “Ada satu hal yang saya pelajarin: nggak semua yang rusak itu urusan kita.”
“Tapi—”
“Mesin itu masih jalan,” katanya. “Kalau nanti rusak, dia bawa ke sini. Dia selalu bawa ke sini.”
Aku pulang dari Pasar Lama sore itu tanpa membeli apa pun, dan aku memikirkan kalimat Pak Hasan sepanjang jalan, dan aku memikirkannya lagi berbulan-bulan kemudian dalam keadaan yang sangat berbeda.
Waktu itu aku menganggapnya penolakan.
Ternyata itu satu-satunya nasihat yang benar yang aku terima sepanjang empat bulan itu, dan aku tidak mendengarkannya.
Empat bulan.
Sebelas pelanggan baru untuk Tante Ratih. Satu map beasiswa yang sekarang jadi milik sekolah dan dipakai untuk sembilan anak. Dua puluh dua Sabtu di ruang jahit. Jari yang tertusuk sampai aku berhenti menghitung.
Dan tidak ada satu pun percakapan.
Kami masih satu kelas. Enam jam sehari. Dia duduk di dekat pintu sekarang, membelakangi seluruh ruangan, dan aku duduk di barisan tengah, dan selama empat bulan itu kami bertukar total nol kata.
Aku menghitung.
Nol.
Kalau kamu bertanya apakah itu sepadan, aku tidak punya jawaban yang bagus.
Yang aku tahu cuma ini: di bulan keempat, aku berhenti mengecek.
Berhenti mengecek apakah dia melihat. Berhenti mencari perubahan di wajahnya waktu Bu Sari memanggilnya ke ruang guru. Berhenti berdiri di tempat yang bisa dilihat dari mejanya.
Bukan karena aku sudah jadi orang baik.
Karena mengecek itu melelahkan, dan aku sudah terlalu capek, dan capek itu ternyata satu-satunya hal yang berhasil membunuh kebiasaan yang tidak bisa dibunuh oleh niat.
Dan di bulan keempat itu juga, hari Minggu, waktu aku sedang membereskan lemari untuk memisahkan seragam kelas sebelas yang sudah kekecilan —
aku membalik kerah seragam lamaku.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama reading
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup