Chapter Twenty Seven
Ketahuan
[POV: Hari] · [Hari ke-158]
Beasiswanya cair bulan Oktober.
SPP tahun terakhir ditanggung. Uang buku ditanggung. Dan ada bantuan tunai empat ratus ribu per bulan yang masuk ke rekening yang harus aku buka sendiri, di bank, dengan antre satu jam empat puluh menit.
Ibu menangis waktu aku bilang.
Bukan menangis besar. Dia sedang menjahit, dan mesinnya berhenti, dan dia diam sekitar sepuluh detik dengan punggung menghadap ke arahku, lalu bilang “ya udah, syukur” dengan suara yang tidak sepenuhnya keluar, lalu menjalankan mesinnya lagi.
Pesanan juga bertambah sejak bulan Juli.
Sebelas pelanggan baru dari komplek sebelah. Semuanya ibu-ibu. Semuanya datang dengan kalimat yang mirip: katanya di sini bagus.
Untuk pertama kalinya sejak ayah meninggal, ada bulan di mana kami tidak menghitung apa pun di akhir bulan.
Aku ingin mencatat bahwa aku seharusnya senang.
Aku ingin mencatat juga bahwa aku tidak.
Ada perasaan yang aku belum punya namanya waktu itu.
Bentuknya seperti ini: kamu sedang menjahit, dan semuanya berjalan lancar, dan tiba-tiba kamu merasa jalur benangnya tidak benar. Tidak ada yang salah dari hasilnya. Jahitannya lurus, jaraknya rata, kainnya tidak berkerut.
Tapi kamu sudah menjahit sepuluh tahun dan tanganmu bilang ada yang tidak beres.
Aku merasakan itu selama empat bulan, dan selama empat bulan aku memilih untuk tidak menariknya.
Aku punya alasan yang bagus. Aku menyusunnya baik-baik, seperti orang menyusun pembelaan sendiri: kalau kamu menemukan tarikan aneh di kain, jangan langsung ditarik. Kain yang ditarik di tempat yang salah bisa rusak permanen.
Itu benar.
Itu juga alasan yang sangat nyaman untuk orang yang sedang tidak mau tahu.
Kalau kamu penasaran apa saja yang aku lihat dan aku diamkan, ini daftarnya. Aku menyusunnya belakangan, di kepala, dan setiap kali menyusunnya aku merasa lebih bodoh.
Dua gelas di bak cuci, bulan Juli. Ibu bilang Bu Ningsih. Bu Ningsih sudah mengambil kebayanya tiga minggu sebelumnya, dan aku yang mengantarnya.
Plester besar di tempat sampah kamar mandi, bulan Agustus. Plester untuk lutut. Sekar tidak jatuh; aku memeriksa lututnya diam-diam dua hari kemudian.
Sekar berhenti minta ditemani hari Sabtu pagi. Sejak bulan Juli, setiap Sabtu, dia tidak pernah lagi merengek minta ikut mengantar pesanan. Selama dua tahun dia selalu merengek.
Bu Nur di warung, bulan September: “Har, temenmu yang tinggi itu rajin ya sekarang.”
Aku bilang “iya, Bu”, dan aku berjalan pulang, dan aku tidak bertanya siapa.
Aku tidak bertanya siapa.
Itu bagian yang paling sulit aku maafkan dari diriku sendiri, karena aku bukan orang yang tidak teliti. Aku bisa mendengar kancing longgar dari tiga meja jauhnya.
Aku memilih tidak menarik benangnya, empat bulan berturut-turut, dan aku menyebut itu kehati-hatian.
Namanya bukan kehati-hatian.
Namanya aku sedang menikmati sesuatu yang aku tahu tidak akan aku terima kalau aku tahu asalnya dari mana.
Hari Sabtu, tanggal delapan November, aku pulang jam satu.
Enam pesanan. Rumah keempat menahanku dua puluh menit lagi seperti biasa.
Ibu sedang di dapur. Sekar sedang di kamarnya.
Dan di ruang jahit, di kursi kecil di sudut, ada kain perca yang tertinggal.
Aku tidak langsung mengambilnya.
Aku menaruh tas dulu, mengganti baju dulu, minum dulu. Aku melakukan seluruh urutan pulang seperti biasa, dan sepanjang urutan itu aku sudah tahu ada kain perca di kursi kecil, dan aku sudah tahu kain perca tidak pernah ditinggal di kursi karena ibu selalu memasukkannya ke kaleng.
Aku mengambilnya jam setengah dua.
Sepuluh kali sepuluh senti. Putih. Sudah tua.
Penuh lubang bekas jarum — ratusan, mungkin lebih. Kalau diangkat ke cahaya kelihatan seperti langit malam yang jelek. Kain itu sudah dijahit dan dibongkar berpuluh-puluh kali sampai seratnya sendiri hampir menyerah.
Di sudut kanan bawah ada empat kancing dengan jarak yang rata.
Tusukan kelima meleset.
Dan di sebelahnya, satu titik coklat kecil, sebesar kepala jarum, yang dulu merah.
Aku berdiri di ruang jahit rumahku sendiri memegang kain perca itu selama mungkin dua menit.
Aku ingat tanggalnya. Hari kesembilan. Bulan Mei.
Aku ingat aku memegang tangannya dan menekan ujung telunjuknya dengan ibu jariku, dan dia bilang kamu belum lepas, dan aku melepasnya.
Aku ingat aku bilang rendam air dingin, jangan air panas.
Aku ingat dia melipat kain itu dan memasukkannya ke saku roknya sambil bilang aku yang berdarah, jadi ini punyaku.
Kain itu ada di tangan kananku, di ruang jahit rumahku, hari Sabtu, jam setengah dua siang.
“Sekar.”
Suaraku sendiri terdengar aneh di telingaku.
“Sekar.”
Dia keluar dari kamarnya dengan susu kotak di tangan.
Dan aku tahu semuanya dari cara dia berhenti di ambang pintu.
Sekar berumur sembilan tahun. Sekar tidak bisa berbohong. Sekar bisa mengumumkan seluruh isi rumah dalam empat menit dan tidak punya satu pun mekanisme untuk menyembunyikan apa pun.
Dia melihat kain perca di tanganku, dan wajahnya berubah, dan dia berkata terlalu cepat:
“Itu punya Ibu.”
“Sekar.”
“Itu bekas latihan Ibu.”
“Sekar.”
“Ibu latihan— Ibu latihan kancing—”
“Ibu udah tiga puluh tahun jahit,” kataku.
Sekar berdiri di ambang pintu dengan susu kotak di tangan dan mulai menangis tanpa suara, dengan cara anak kecil yang tahu dia baru saja merusak sesuatu tapi belum tahu apa.
“Kak Hari, aku janji,” katanya. “Aku janji sama Kak Kanaya.”
Dan begitu namanya keluar, seluruh empat bulan itu jatuh ke tempatnya sekaligus, seperti kain yang kamu lepas dari gantungan.
“Sekar.”
“Aku nggak boleh cerita.”
“Sekar, sini.”
“Kak Kanaya bilang kalau aku cerita dia harus berhenti.” Susu kotaknya sudah penyok karena dipegang terlalu keras. “Kak, dia bakal berhenti. Aku ngerusakin.”
Aku jongkok.
“Kamu nggak ngerusakin apa-apa.”
“Bohong.”
“Sekar.”
“Kakak selalu bilang nggak apa-apa.” Dia mengusap matanya dengan pergelangan tangan, gerakan yang persis sama seperti yang aku lakukan, gerakan yang mungkin dia contoh dariku bertahun-tahun lalu. “Kak, muka Kakak nggak nggak-apa-apa.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
“Kak Kanaya jarinya berdarah terus,” katanya, dan sekarang kalimatnya keluar semua sekaligus, karena begitulah anak sembilan tahun, karena begitu satu keluar semuanya ikut. “Tiap Sabtu. Aku yang nempelin plesternya. Yang plester lutut itu, yang kegedean, kayak yang Kakak pakein—”
“Sekar.”
“Dia nggak pernah nanya soal Kakak. Aku sumpah. Dia nggak pernah nanya sekali pun, Ibu yang bikin aturannya, terus dia patuh, terus—”
“Sekar.”
Dia berhenti.
“Masuk kamar,” kataku. “Habisin susunya.”
Aku tidak berteriak ke Sekar.
Aku mau menuliskan itu, karena itu satu-satunya hal dari sore itu yang tidak membuatku malu.
Aku jongkok, dan aku bilang tidak apa-apa, dan aku bilang dia tidak salah, dan aku menyuruhnya masuk kamar dan menghabiskan susunya.
Dia masuk.
Lalu aku berdiri, dan aku berjalan ke dapur, dan di situ semuanya rusak.
“Bu.”
Ibu sedang mengiris bawang.
“Hm?”
“Berapa lama.”
Pisaunya berhenti.
Dia tidak bertanya apa. Dia tidak berpura-pura tidak mengerti. Ibuku bukan orang seperti itu, dan aku bersyukur untuk itu selama kira-kira dua detik sebelum aku berhenti bersyukur untuk apa pun sore itu.
“Empat bulan,” katanya.
“Empat bulan.”
“Dua puluh dua hari Sabtu.”
Ada bunyi kipas. Ada bunyi tetesan dari keran yang memang sudah bocor sejak bulan Juli.
“Dia dateng ke rumah ini dua puluh dua kali,” kataku, “dan Ibu nggak bilang apa-apa.”
“Iya.”
“Dua puluh dua kali.”
“Iya, Har.”
“Ibu tahu aku nggak mau ketemu dia.”
“Ibu tahu.”
“Terus?”
Ibu menaruh pisaunya.
“Terus dia dateng hari Sabtu, dan kamu nganterin pesanan hari Sabtu,” katanya. “Jadi kalian nggak ketemu.”
Dan itu — kalimat itu, yang diucapkan dengan sangat tenang, sebagai penjelasan teknis — yang membuat sesuatu di dalam dadaku putus.
“Jadi Ibu ngatur jadwalnya.”
“Har—”
“Ibu ngatur jadwal biar aku nggak ketemu dia di rumah aku sendiri.”
“Ibu nggak ngatur apa-apa. Kamu emang nganterin Sabtu dari dulu—”
“IBU NGATUR.”
Aku belum pernah berteriak di rumah ini.
Aku benar-benar belum pernah, dan aku tahu itu karena aku bisa melihat wajah ibuku waktu suaraku keluar, dan wajah itu bukan wajah orang yang marah.
Itu wajah orang yang kaget.
“Pelanggan yang dari komplek itu,” kataku. “Sebelas orang. Dari Juli.”
Ibu tidak menjawab.
“Bu.”
“Ibu nggak tahu,” katanya. “Sumpah, Har, ibu nggak tahu awalnya. Ibu baru curiga bulan kedua.”
“Terus Ibu nanya?”
“Enggak.”
“Kenapa nggak nanya?”
“Karena kalau ibu nanya, ibu harus nyuruh dia berhenti,” katanya. “Dan ibu nggak mau nyuruh dia berhenti.”
“KENAPA?”
Dan ibuku, yang tiga puluh tahun menjahit, yang lima puluh dua tahun hidup, yang menguburkan suaminya sendiri di umur empat puluh delapan dan menjahit tanpa berhenti selama dua bulan setelahnya tanpa menangis sekali pun di depan anak-anaknya —
ibuku berdiri di dapur dan berkata:
“Karena ibu capek, Har.”
Aku diam.
“Ibu capek.” Suaranya rata dan itu yang paling buruk. “Sebelas pelanggan itu artinya ibu nggak usah mikir bulan depan bayar apa. Itu pertama kalinya sejak bapakmu meninggal.”
“Bu—”
“Dan ibu tahu itu dari mana,” katanya. “Ibu tahu, dan ibu terima, dan ibu diem.”
“Ibu nggak harus—”
“Ibu harus, Har.”
Dia mengambil pisaunya lagi dan menaruhnya di bak cuci, dan dia melakukannya dengan sangat pelan, dan tangannya gemetar sedikit.
“Kamu tahu kamu ngerjain berapa pesanan tiga hari setelah tanggal tiga puluh itu?” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Sebelas,” katanya. “Tiga hari. Kamu naruh tujuh ratus empat puluh ribu di kaleng ibu dan kamu nggak bilang apa-apa.”
“Bu—”
“Kamu pikir ibu nggak lihat kamu, Har?” Dia berbalik. “Kamu pikir ibu nggak lihat anak ibu jahit sampai jam dua pagi biar nggak usah mikirin apa-apa?”
Dapur itu sempit sekali.
“Ibu diem selama empat bulan,” katanya, “karena ibu udah nggak sanggup lihat kamu nanggung semuanya sendirian, dan ibu nggak punya cara lain.”
Dan di situ aku mengatakan hal yang paling jelek yang pernah aku ucapkan kepada siapa pun seumur hidupku.
Aku menuliskannya di sini lengkap, tanpa dipoles, karena kalau aku menghaluskannya berarti aku sedang melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan seumur hidup: menyembunyikan tambalan.
“Jadi Ibu jual aku.”
Dapur itu berhenti.
“Har.”
“Ibu terima bayaran dari orang yang bohongin aku selama tiga puluh hari,” kataku, “dan Ibu nggak bilang apa-apa ke aku, dan Ibu ngatur jadwal biar aku nggak tahu, selama empat bulan, di rumah aku sendiri.”
“Hari.”
“Aku nggak minta ditolongin, Bu.”
“Ibu tahu kamu nggak minta.” Suaranya naik untuk pertama kalinya. “Kamu nggak pernah minta apa-apa seumur hidup kamu. Itu masalahnya!”
“ITU BUKAN MASALAH.”
“ITU MASALAH, HAR.”
Kami berdiri di dapur berhadap-hadapan, ibu dan anak, dengan bawang yang sudah teriris setengah di talenan, dan tidak ada satu pun dari kami yang tahu bagaimana caranya berhenti.
“Kamu umur sebelas belajar nambal cabut benang sendirian,” katanya. “Sebelas, Har. Ibu ngasih tahu caranya sekali terus kamu ngulang-ngulang sampai jam berapa pun karena kamu nggak mau ada yang nanya.”
“Terus?”
“Terus sekarang kamu tujuh belas dan kamu masih ngelakuin hal yang sama,” katanya, “dan ibu nggak tahu harus gimana lagi, dan waktu ada orang yang mau bantu ibu diem, dan iya, ibu salah, dan ibu bakal salah lagi kalau diulang.”
Dia mengusap wajahnya dengan lengan.
“Ibu minta maaf,” katanya. “Tapi ibu nggak nyesel.”
Aku keluar dari dapur.
Aku masuk ke ruang jahit dan berdiri di depan mesin ayah dan tidak menyalakan lampunya.
Ada satu hal yang aku mengerti sore itu, dan aku mengerti dengan sangat jelas, dan sampai sekarang aku tidak bisa memutuskan apakah aku waktu itu benar atau tidak.
Semua orang di sekelilingku sedang mengurus aku.
Ibuku mengatur jadwal supaya aku tidak terluka. Kanaya menyusun map supaya aku dapat beasiswa. Bu Sari menolak menjawab pertanyaan supaya aku tidak tahu. Sekar berjanji kepada orang dewasa dan menangis di ambang pintu karena melanggarnya.
Empat orang.
Empat orang mengerjakan sesuatu di belakangku, dengan hati-hati, dengan niat baik, dengan koordinasi yang cukup rapi untuk bertahan empat bulan.
Aku bukan orang yang mereka tolong.
Aku proyeknya.
Aku duduk di kursi di depan mesin ayah dalam gelap sampai jam lima.
Dan aku menghitung — bukan hari, tidak ada hari yang perlu dihitung lagi — aku menghitung berapa hal yang selama empat bulan terakhir aku kira aku dapat sendiri.
Beasiswa: bukan.
Sebelas pelanggan ibu: bukan.
Bulan pertama sejak ayah meninggal di mana kami tidak menghitung apa pun di akhir bulan: bukan.
Dan aku sadar bahwa selama empat bulan aku berjalan di dunia dengan perasaan bahwa akhirnya, akhirnya, aku sanggup — dan perasaan itu bukan milikku.
Itu dibelikan orang.
Aku tidak marah karena dibohongi. Aku sudah pernah dibohongi tiga puluh hari dan aku bertahan dengan baik.
Aku marah karena selama empat bulan aku merasa berguna, dan ternyata aku sedang diurus.
Dan ada perbedaan yang sangat kecil dan sangat besar antara ditolong dan diurus, dan perbedaannya begini: orang yang ditolong tetap punya dirinya sendiri.
Aku memikirkan Pak Hasan di Pasar Lama, entah kenapa.
Aku memikirkan mesin ayah yang rodanya sudah dua tahun tidak diservis, dan uang di rekening baru yang bukan aku yang cari, dan seluruh bulan Oktober di mana aku berjalan pulang dari sekolah dengan perasaan yang aku kira namanya lega.
Perasaan itu ternyata punya harga, dan harganya sudah dibayar orang lain, dan aku memakainya selama tiga puluh hari tanpa tahu.
Persis seperti yang aku lakukan ke Kanaya, dari sisi sebaliknya.
Dan aku duduk di ruang jahit yang gelap dan aku mengerti — untuk pertama kalinya, dengan jelas, dengan sangat tidak nyaman — kenapa dia berteriak di kelas kosong sore itu dan minta dimarahi.
Karena tidak ada yang lebih menghancurkan daripada menerima sesuatu yang tidak bisa kamu bayar dari orang yang tidak menagih.
Aku baru saja menerimanya selama empat bulan.
Jam lima aku berdiri.
Ibu ada di ruang tengah. Sekar duduk di lantai dekat kakinya, tidak menggambar, cuma duduk.
Aku mengambil jaketku dari paku di dinding.
“Har.”
“Aku keluar.”
“Mau ke mana?”
Aku berdiri di ambang pintu dengan tangan di gagangnya.
“Aku mau nanya sesuatu ke orangnya,” kataku.
Dan aku keluar, dan aku berjalan ke arah jalan besar, dan aku tidak melihat ke belakang sekali pun — bukan karena marah, tapi karena aku tahu kalau aku menoleh dan melihat adikku duduk di lantai seperti itu, aku tidak akan sanggup berangkat.
Empat puluh menit jalan kaki ke komplek yang jalannya lebar dan pohonnya tinggi.
Aku sampai jam enam kurang.
Lampu terasnya sudah menyala.
Semua lampunya sudah menyala, di semua ruangan, seperti biasa, untuk tidak seorang pun.
- 1 Anak yang Tidak Dilihat
- 2 Pinjam Pulpen
- 3 Benang Merah
- 4 Bunyi yang Salah
- 5 Satu Payung
- 6 Garansi 30 Hari
- 7 Rumah yang Berisik
- 8 Ukuran Bahu
- 9 Gunting Kain
- 10 Yang Selama Ini Disembunyikan
- 11 Alasan Praktis
- 12 Operasi Pengintaian
- 13 Dua Jam
- 14 Yang Menangis Duluan
- 15 Sisa Delapan
- 16 Empat Hari Sebelum
- 17 Hari Terbaik
- 18 Sejak Hari Kelima
- 19 Yang Paling Memalukan
- 20 Harga Masuk
- 21 Seragam yang Kembali
- 22 Pertanyaan Bagas
- 23 Meja yang Kosong
- 24 Jari yang Tertusuk
- 25 Tanpa Nama
- 26 Setahun yang Lalu
- 27 Ketahuan reading
- 28 Aku Ngitung Maju
- 29 Halaman yang Dicoret
- 30 Yang Pertama Sungguhan
- 31 Panggilan Baru
- 32 Kencan yang Direncanakan Terlalu Rapi
- 33 Simpul di Luar
- 34 Gerbang Jam Setengah Tujuh
- 35 Saku Jaket yang Sama
- 36 Yang Dulu Kutambal
- 37 Rumah yang Kosong
- 38 Dapur
- 39 Menginap
- 40 Ukur Ulang
- 41 Malam Sebelum
- 42 Pensi
- 43 Mesin yang Hilang
- 44 Tanggal di Balik Kerah
- 45 Aku Cuma Niru Kamu
- 46 Hari Ke-11
- 47 Yang Tidak Bisa Kutata
- 48 Datang Tanpa Membawa Apa-apa
- 49 Tambalan yang Kelihatan
- 50 Seumur Hidup