← Garansi Seumur Hidup

Chapter Forty One

Malam Sebelum

[POV: Kanaya] · [Hari ke-311]


Ada empat orang di rumahku hari Jumat malam.

Aku menuliskan angka itu duluan karena angka itu yang paling penting dari seluruh bab ini.

Empat.

Nadine, Regita, Sekar — yang diantar Hari jam enam dan dititipkan dengan kalimat “dia maksa” walaupun jelas dia sendiri yang membujuk ibunya — dan aku.

Rumah itu belum pernah berisi empat orang sejak lebaran tiga tahun lalu.


“Nay, ini rumah apa hotel.”

“Regit.”

“Aku serius. Ini ada lift?”

“Regita, ini dua lantai.”

“Ada tangga di dua tempat.”

“Yang satu tangga darurat.”

“KAMU PUNYA TANGGA DARURAT.”

Regita berjalan mengelilingi ruang tamu sambil memegang tas rias yang besarnya seperti tas travel, dan Nadine berdiri di dekat pintu memegang tas gaunnya, dan Sekar sudah duduk bersila di sofa dengan wajah orang yang sedang mengaudit.

“Kak Kanaya.”

“Hm?”

“Sofanya masih baru?”

“Enggak. Empat tahun.”

Sekar menekan sandaran tangannya dengan jari.

“Nggak turun,” katanya.

Dan aku berdiri di ruang tamu rumahku sendiri dan menyadari bahwa anak sembilan tahun itu baru saja melakukan hal yang persis sama dengan kakaknya di bulan Februari, dengan alat yang sama, tanpa satu pun dari mereka tahu.


Kami merias di kamarku.

Ini juga baru. Kamarku belum pernah berisi lebih dari satu orang.

Regita membuka tas riasnya di lantai dan isinya seperti isi apotek, dan dia mengumumkan dengan sangat serius bahwa dia sudah menonton empat puluh video tutorial dan sekarang “secara teknis” bisa merias empat orang.

Hasilnya: Nadine bagus. Aku lumayan. Regita sendiri sangat bagus karena dia mengerjakan dirinya sendiri tiga kali.

Sekar minta dirias.

Sekar berumur sembilan tahun.

“Sekar, kamu nggak ikut pensi.”

“Aku nganter.”

“Kamu nggak nganter, kamu dititip.”

“Aku nganter dalam hati.”

Regita meriasnya. Sedikit — bedak dan lip balm — dan Sekar duduk di depan cermin selama empat menit tanpa bergerak sama sekali, dengan punggung tegak, seperti orang yang sedang diukur.

Waktu selesai, dia melihat cermin itu lama sekali.

“Kak Kanaya.”

“Hm?”

“Aku kayak Ibu.”

Dan Regita, yang tadi berisik selama satu jam penuh, tidak berkata apa-apa selama sekitar sepuluh detik.

Lalu dia berkata, dengan suara yang jauh lebih kecil dari biasanya:

“Sekar, kamu mau difoto nggak?”

“Boleh.”

“Nanti aku kirim ke ibumu.”

“Ibu nggak punya WhatsApp.”

“...Ibumu nggak punya WhatsApp?”

“Punya,” kata Sekar. “Tapi cuma buat pesanan.”

Regita memotretnya dua belas kali dan memilih yang paling bagus dan mengirimnya ke Hari, dan Hari membalas dengan satu kata, dan Regita membaca kata itu keras-keras dengan nada kesal:

“‘Bagus.’ Cuma ‘bagus’.”

“Itu banyak buat dia,” kataku.

“Nay, aku ngirim dua belas foto.”

“Dia bales dalam berapa detik?”

Regita melihat layarnya.

“...Enam.”

“Nah.”

“Enam detik itu banyak?”

“Enam detik itu artinya dia berhenti ngejahit.”


Mama menelepon jam delapan.

Aku mengangkatnya di koridor.

“Nay.”

“Iya, Ma.”

“Besok jam berapa acaranya?”

Aku berhenti di tengah koridor.

“...Tujuh malem, Ma.”

“Mama usahain.”

“Ma—”

“Mama beneran usahain, Nay. Ada rapat Sabtu siang tapi Mama udah minta digeser.”

“Nggak apa-apa kalau nggak bisa.”

“Mama usahain.”

Dan kami mengucapkan hal-hal yang biasa, dan aku bilang aku baik, dan dia bilang jaga kesehatan, dan telepon itu selesai dalam dua menit empat puluh detik.

Aku berdiri di koridor lantai dua dengan HP di tangan.

Dan aku menyadari sesuatu yang membuatku duduk di lantai selama beberapa detik.

Aku tidak kecewa.

Aku sudah menghitung kemungkinannya sejak dua minggu lalu — aku menghitungnya dengan cara yang sama seperti aku menghitung anggaran konsumsi, dengan probabilitas, dengan rencana cadangan — dan angka yang aku dapat waktu itu sekitar dua puluh persen.

Dan aku sudah menyiapkan diriku untuk dua puluh persen, dan aku sudah selesai, dan sekarang aku duduk di lantai koridor tanpa merasa apa-apa.

Dan itu jauh lebih buruk daripada kecewa.


Bel berbunyi jam setengah sembilan.

“Nay, ada tamu.”

“Siapa?”

Nadine berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah yang aneh.

“...Vania.”


Dia berdiri di depan pagar dengan kaus dan celana pendek dan sandal jepit.

Bukan pakaian orang yang datang bertamu. Pakaian orang yang keluar rumah karena harus, bukan karena mau.

“Van.”

“Aku nggak lama.”

“Masuk dulu.”

“Aku nggak masuk.”

Kami berdiri di dua sisi pagar besi itu, dan aku menyadari bahwa ini persis posisi yang sama seperti bulan November, waktu ada orang lain yang berdiri di sisi luar dengan tujuh argumen di kepalanya.

“Aku nggak dateng buat minta maaf,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Kamu udah bilang di parkiran bulan Juni.”

Vania mengangguk sekali.

“Bagus,” katanya. “Berarti nggak usah diulang.”


“Aku pindah.”

“...Ke mana?”

“Bandung. Habis lulus.”

“Kuliah?”

“Kuliah.” Dia memasukkan tangan ke saku. “Sama tinggal sama tante aku.”

“Van—”

“Aku nggak dateng buat curhat juga.”

“Terus kamu dateng buat apa?”

Dan Vania Alessandra berdiri di depan pagar rumahku hari Jumat malam jam setengah sembilan, dengan sandal jepit, dan berkata:

“Aku dateng buat berhenti.”


Aku tidak mengerti selama beberapa detik.

“Berhenti apa?”

“Berhenti mikirin ini.”

“Van—”

“Nay, aku mikirin taruhan itu tiap hari selama sepuluh bulan.” Suaranya rata sekali. “Tiap hari. Nggak lebay. Aku bangun tidur terus dua menit kemudian kepikiran.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Dan aku nggak bisa berhenti sendiri,” katanya, “karena tiap kali aku hampir berhenti, aku ketemu kamu di koridor terus mulai lagi.”

“Kamu bisa bilang dari dulu.”

“Iya.”

“Kenapa nggak?”

“Karena kalau aku bilang, kamu bakal bantu.”

Dan aku menutup mulutku, karena dia benar, dan karena aku sudah menghabiskan sepuluh bulan belajar bahwa itu bukan pujian.


“Aku mau ngomong satu hal terus abis itu selesai,” katanya. “Kamu boleh nggak jawab.”

“Oke.”

“Kakak aku namanya Nadia.”

Aku mengangkat kepalaku.

Vania tidak pernah menyebut keluarganya. Sepuluh bulan, dan sebelum itu dua tahun sekelas, dan aku tahu nama anjing Regita dan nama pacar pertama Nadine dan tidak tahu Vania punya kakak.

“Umur dua puluh empat,” lanjutnya. “Kerja di Jakarta. Baik banget.”

“Van—”

“Aku serius. Baik banget.” Dia bersandar ke pagar. “Kalau ada acara keluarga, dia yang bantuin di dapur. Kalau ada yang sakit, dia yang nengokin. Kalau ada tetangga yang butuh, dia yang pertama.”

“Terus?”

“Terus di rumah dia nggak pernah ngomong sama aku selama enam tahun.”

Malam itu sepi. Ada suara TV dari rumah sebelah.

“Bukan berantem,” katanya. “Nggak ada kejadiannya. Dia cuma... nggak. Kalau ada orang lain, dia normal. Kalau berdua, nggak ada.”

“Vania.”

“Dan mamaku tiap kali bilang, ‘contoh kakakmu, Van. Dia baik sama semua orang.‘”

Dia mengucapkannya tanpa nada sama sekali.

“Enam tahun aku dengerin itu,” katanya. “Dan enam tahun aku tahu itu bohong, dan aku nggak bisa buktiin, karena buktinya cuma bisa dilihat kalau kamu tinggal di rumah itu.”


“Jadi itu yang aku bisa, Nay,” katanya. “Cuma itu.”

“Apa?”

“Lihat orang yang baiknya cuma di depan orang.” Dia mengangkat bahu. “Aku bisa lihat itu dari jauh. Aku bisa lihat dalam lima menit. Itu satu-satunya keahlian aku dan aku dapetnya dari tempat yang jelek.”

Aku memegang jeruji pagar.

“Dan kamu,” katanya, dan akhirnya menoleh ke arahku, “kamu itu yang paling gede yang pernah aku lihat.”

“Van—”

“Ketua panitia empat acara. Inget nama semua orang. Nolongin semua orang.” Dia tersenyum, dan senyumnya tidak sampai ke matanya, sama seperti bulan Mei. “Dan tiap kali kamu nolongin orang, kamu ngecek dulu ada yang lihat apa enggak.”

Aku tidak membantah.

Aku tidak membantah karena aku sudah membuktikan itu sendiri, di lantai kamar, bulan Juni, waktu aku sadar aku menaruh gulungan benang merah di tempat yang kelihatan dari pintu.

“Jadi aku bikin taruhan itu,” katanya. “Bukan buat dia. Buat kamu.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Aku tahu dari hari pertama, Van.”

Vania berdiri di situ agak lama.

“Nay.”

“Hm?”

“Aku bener soal kamu.”

“Iya.”

“Aku bener, dan itu nggak nolong siapa-siapa,” katanya. “Itu bagian yang aku baru ngerti bulan lalu.”


Dan aku bertanya sesuatu yang sudah aku simpan sepuluh bulan.

“Van.”

“Hm?”

“Kenapa kamu keluar kelas hari itu?”

Dia tahu hari yang mana. Aku tidak perlu menjelaskan.

“Karena aku baca suratnya,” katanya.

“Aku tahu. Kenapa?”

Vania memandangi jalan komplek yang lebar dan pohonnya yang tinggi.

“Aku bikin syaratnya harus tertulis,” katanya. “Kamu tahu kenapa?”

“Biar ada buktinya.”

“Bukan.” Dia menggeleng. “Biar ada barangnya.”

Aku menunggu.

“Aku pengen ada benda yang bisa aku pegang,” katanya. “Yang bisa aku tunjukin ke orang. Yang bisa disimpen. Aku pengen ada arsipnya, Nay, biar nggak bisa dibantah kayak kakak aku.”

“Van—”

“Terus aku pegang suratnya.” Suaranya berubah untuk pertama kalinya malam itu. “Dan di baris terakhirnya ada tulisan makasih ya tiga puluh hari.”

Dia berhenti.

“Dan aku sadar aku megang bukti yang salah.”

Aku memegang jeruji pagar itu dengan dua tangan.

“Bukti yang salah gimana?”

“Nay, aku bikin syarat itu buat mastiin kalau dia beneran suka kamu,” katanya. “Itu tujuannya. Biar ada bukti dia jatuh.”

“Iya.”

“Terus yang aku pegang di tanganku itu bukan bukti dia jatuh.” Vania menarik napas. “Itu bukti dia tahu.”

Aku tidak bisa mengeluarkan suara.

“Tiga puluh hari, Nay. Dia nulis ‘makasih ya, tiga puluh hari’ di surat yang dia serahin di depan sebelas orang.” Dia menggeleng pelan. “Cuma tiga orang di ruangan itu yang tahu angka tiga puluh artinya apa. Aku, kamu, sama Regita.”

“Regita nggak baca suratnya.”

“Regita nggak akan ngerti walaupun baca.”

“Van.”

“Jadi dia nulis itu buat aku,” katanya. “Bukan buat kamu.”

Aku berdiri di depan pagar rumahku sendiri jam setengah sembilan malam dan merasakan lantai bergerak untuk yang kesekian kali dalam sepuluh bulan.

“Apa?”

“Baris terakhirnya buat aku, Nay.” Suaranya sangat pelan. “Dia tahu aku yang bakal ambil suratnya duluan. Dia tahu aku juri. Dia tahu aku bakal baca sampai selesai.”

“Van, itu—”

“Aku mikirin itu sepuluh bulan,” katanya. “Dan aku cuma nemu satu penjelasan yang masuk akal.”

“Apa?”

“Dia ngasih tahu aku kalau dia udah tahu,” katanya. “Biar aku berhenti.”

Malam itu betul-betul sepi.

“Biar aku nggak bikin yang kedua,” lanjutnya. “Biar nggak ada anak lain di kelas itu yang aku ambil buat taruhan berikutnya.”

“Van—”

“Dia nggak lagi ngasih surat cinta, Nay.” Vania melepaskan pagar itu. “Dia lagi nutup toko.”


Dia sudah setengah berbalik waktu aku memanggilnya.

“Van.”

“Aku nggak akan bales pesan kalau kamu chat, ya.”

“Aku tahu.”

“Aku serius.”

“Van, aku cuma mau bilang makasih.”

Dia berhenti.

“Jangan.”

“Van—”

“Nay, jangan.” Dia menoleh, dan wajahnya untuk pertama kalinya kelihatan capek. “Kalau kamu bilang makasih, aku jadi orang yang udah bantu. Aku nggak bantu apa-apa. Aku ngerusak sepuluh bulan hidup dua orang.”

“Kamu nggak—”

“Aku ngerusak,” katanya. “Titik. Nggak usah diringanin.”

Dan dia berjalan tiga langkah, lalu berhenti lagi, dan berbalik.

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

“Ini bukan buat kamu,” katanya. “Ini cuma karena aku nggak mau bawa ini ke Bandung.”


“Anak itu lagi ngitung lagi.”

Aku berkedip.

“...Hari?”

“Iya.”

“Ngitung apa?”

“Nggak tahu.”

“Van—”

“Nay, aku nggak tahu.” Dia mengangkat tangannya. “Aku cuma tahu bentuknya. Aku merhatiin dia dari bulan Mei tahun lalu, ngerti? Aku merhatiin dia lebih lama dari kamu.”

Aku memegang pagar itu lebih erat.

“Dia beda gimana?”

“Bulan Mei tahun lalu dia jalan kayak orang yang tahu kapan berhenti,” katanya. “Terus bulan Desember sampai Februari dia nggak kayak gitu lagi. Dia jalan kayak orang biasa.”

“Terus?”

“Terus dua bulan terakhir dia balik lagi.”

Malam itu tidak ada angin sama sekali.

“Balik gimana?”

“Nay, aku nggak bisa jelasin,” katanya, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh bulan Vania Alessandra terdengar seperti orang yang frustrasi. “Cara dia naruh tas. Cara dia berdiri di antrean kantin. Orang yang lagi ngitung mundur itu berdiri beda sama orang yang enggak.”

“Van, dia lagi kelas dua belas. Semua orang—”

“Iya,” katanya cepat. “Bisa jadi itu. Bisa jadi aku salah.”

“Kamu emang salah.”

“Mungkin.”

“Kamu salah, Van.”

Dan Vania menatapku dari luar pagar dengan sandal jepit dan celana pendek, dan berkata:

“Ya udah. Aku salah.”

Dia mengangkat tangannya sekali — bukan melambai, cuma diangkat — dan berjalan ke ujung jalan.

Dan itu terakhir kalinya aku melihat Vania Alessandra sampai empat tahun kemudian.


Aku masuk ke rumah jam sembilan kurang.

“Nay, siapa?”

“Vania.”

“Ngapain?”

“Pamit.”

Nadine berhenti mengoles kuku Sekar.

“Pamit ke mana?”

“Bandung.”

“Dia nggak dateng besok?”

“Enggak.”

Regita mengeluarkan bunyi kecil dan tidak melanjutkan.

Dan kami berempat duduk di lantai kamarku selama beberapa detik tanpa ada yang tahu harus berkata apa, sampai Sekar — yang tidak tahu apa-apa, yang berumur sembilan tahun, yang kukunya baru dioles setengah — berkata:

“Kak, kukuku belum selesai.”

Dan Nadine tertawa, dan melanjutkan, dan malam itu kembali seperti semula.


Aku tidak bisa tidur sampai jam satu.

Aku berbaring di kasur dan memikirkan kalimat Vania dan aku memutarnya dari semua sisi, seperti orang yang membalik kain di bawah lampu.

Anak itu lagi ngitung lagi.

Dan aku menghitung sendiri, karena itu penyakitku:

Dia tidur setengah dua, lima hari seminggu. Dia mengaku waktu ditanya. Dia mengerjakan delapan belas pesanan bulan lalu. Dia menolak kain di rak belakang. Dia mencatat empat belas angka dan menambahkan enam yang tidak dia perlukan.

Semuanya ada penjelasannya.

Setiap satu punya penjelasan yang masuk akal, yang jujur, yang dia berikan tanpa aku paksa.

Dan aku berbaring di kamar jam satu pagi dan berpikir: kalau setiap potongan punya penjelasan, berarti tidak ada masalah.

Aku baru mengerti — jauh, jauh kemudian — bahwa itu justru caranya.

Kalau kamu mau menyembunyikan sesuatu dari orang yang menghitung segala hal, kamu tidak menyembunyikan potongannya.

Kamu memastikan setiap potongan punya penjelasan yang bagus.

Lalu kamu tidak pernah menaruhnya di halaman yang sama.


Jam satu lewat, aku mengirim pesan.

har

masih bangun?

Balasannya datang dalam empat puluh detik.

iya

ngerjain apa

kancing

har ini jam satu

iya

Aku memandangi layar itu beberapa saat.

nay

nay

Aku duduk tegak di kasur.

iya har

besok kamu bakal keliatan bagus banget

terus aku bakal nggak bisa ngomong apa-apa

jadi aku bilang sekarang aja

Aku membaca tiga baris itu mungkin sepuluh kali.

Dan aku mengetik lima balasan dan menghapus semuanya, dan yang akhirnya aku kirim cuma:

aku simpen ya

iya

simpen aja